eJournal Universitas Nusa Bangsa
Not a member yet
534 research outputs found
Sort by
EKSTRAKSI GELATIN DARI TULANG IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcarifer) DENGAN VARIASI KONSENTRASI ASAM HCl
Extraction of Gelatin from Fish White Bone (Lates Calcarifer) with HCl Concentration Variance Gelatin is a food added ingredient used in emulsifiers, thickeners, food stabilizers. Gelatin is a type of protein in the form of gel obtained from the denaturation of skin, bone and fish tissue collagen denaturation. The process of making gelatin from the bones of white snapper (Lates calcarifer) uses the HCl acid method with the parameters of yield, water content, ash content, and protein content. The immersion process carried out with varoius of HCl acid concentration 3%, 7% and 11%.The results show that the best value of% yield at a concentration of 7% of 1.90%, 10.16% water content. Ash content 3%. Protein content is 3.25%. FTIR spectrum revealed the presence of amida group at wave number 3269 cm-1, amide I; II; and Amida III sequentially at wave number 1656 cm-1; 1525.69 cm-1; 1161.15 cm-1.Keywords : Gelatin ; collagen ; Lates calcarifer ; FTIRABSTRAK Gelatin merupakan bahan tambah pangan yang digunakan dalam pengemulsi, pengental, penstabil makanan. Gelatin merupakan salah satu jenis protein yang berbentuk gel yang didapatkan dari hasil denaturasi kolagen kulit, tulang dan jaringan ikan. Proses ekstrak gelatin dari bahan tulang ikan kakap putih (Lates calcarifer) menggunakan asam HCl dengan parameter rendemen, kadar air, kadar abu, kadar protein dan analisis FTIR. Proses perendaman dilakukan variasi asam HCl 3%, 7% dan 11%. Dari hasil penelitian didapatkan nilai % rendemen tertinggi pada konsentrasi 7% sebesar 1,90%, dengan nilai kadar air 10,16%, kadar abu 3,00%, kadar protein 3,25%. Dari spektrum FTIR didapatkan gugus Amida A pada bilangan gelombang 3269 cm-1, amida I ; II ; dan amida III secara berturut-turut pada bilangan gelombang 1656 cm-1 ; 1525,69 cm-1 ; 1161,15 cm-1.Kata kunci : Gelatin ; ikan kakap putih ; FTI
APLIKASI KOMPOS KULIT BUAH KAKAO PADA BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.)
Tanaman kakao (Theobroma cacao L) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang dikembangluaskan dalam rangka peningkatan sumber devisa negara dari sektor non-migas. Penelitian ini mempelajari tentang pengaruh pemberian pupuk kompos berbahan baku kulit kakao terhadap pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L). Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah ada pengaruh pemberian pupuk kompos berbahan baku kakao, parameter yang di amati adalah tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter bibit tanaman kako, penelitian ini dilakukan dari bulan Januari – Juni 2019 di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Penyegar (BALITTRI). Dengan menggunakan Metode Rancangan Acak Lengkap (RAL). Terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan, dengan perlakuan pemberian kompos 100 g/polybag, 200 g/polybag, 300 g/polybag, dan 400 g/polybag. Data yang kemudian diperoleh selanjutnya dianalisa dengan sidik ragam (ANOVA) dan apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan’s Mutiple Range Test) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pupuk organik berbahan baku kakao dengan dosis 200g/ polybag memberikan hasil yang optimal namun setelah dilakuakan uji lanjut (DMRT) tidak memberikan pengaruh nyata pada tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah daun
MEKANISME AKSES MASYARAKAT ADAT DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA ALAM (Studi Kasus di Kasepuhan Karang Desa Jagaraksa Kecamatan Muncang Kabupaten Lebak Provinsi Banten)
Forest access is the ability to derive beneï¬ts from things. The purpose of this study is to analyze access mechanism (the right and the structure of access mechanism) the society of law force in the benefit natural resources in the Customary Forest Kasepuhan Karang. This study was held in Kasepuhan Karang Jagaraksa Viilage in November 2018 to January 2019 with observation method which is case study where the data was collected through interview and observation, data analysis conducted with likert scale as well. The result of research showed that the benefit of access natural resources was decided by custom law to the society of Kasepuhan Karang who has the heritage of right to organize the natural forest. Attribute of right based property to the society based on the natural law which is used for the interest of benefit of the society or people who lives around leuweung garapan territorial
ANALISIS PENERAPAN DAN PELAPORAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI TERHADAP TINGKAT KEPATUHAN WAJIB PAJAK (Studi Kasus pada Badan Arbitrase Nasional Indonesia)
Penelitian dilakukan di Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI), sebuah badan atau lembaga penyelesaian sengketa. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui Penerapan dan Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai Terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak. Jenis data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data yang digunakan yaitu dokumen-dokumen Faktur Pajak, penyetoran dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai Badan Arbitrase Nasional Indonesia dari masa Agustus 2018 sampai dengan masa Desember 2018. Data dikumpulkan melalui wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan untuk kemudian di analisa dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Pajak Pertambahan Nilai dan pelaporannya secara garis besar telah sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2009 Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah namun terdapat kekeliruan dalam penerbitan Faktur Pajak dan keterlambatan dalam penyetoran dan pelaporan pada masa tertentu yang berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan Wajib Pajak. Disarankan agar Badan Arbitrase Nasional Indonesia khususnya bagian Administrasi Perpajakan agar lebih memahami dan teliti dalam sistem penerapan dan meningkatkan kesadaran dalam pelaporan Pajak Pertambahan Nilai supaya Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak semakin meningkat
EFEKTIVITAS DOSIS PEMBERIAN PUPUK UREA TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT PEKING (Zoysia matrella (L) Merr)
Efektivitas pemberian pupuk urea terhadap gradasi warna dan kerapatan tumbuh rumput peking. Penelitian dilakukan selama tiga bulan. penelitian ini menggunakan Rancang Acak Lengkap (RAK) dengan enam perlakuan dan empat ulangan, sehingga terdapat 24 satuan percobaan pada masing-masing lahan berukuran 1 m2. Pemberian pupuk urea yaitu P0 dosis 0 g/m2, P1 dosis 10 g/m2, P2 dosis 20 g/m2, P3 dosis 30 g/m2, P4 dosis 40 g/m2 dan P5 dosis 50 g/m2. Pemberian pupuk urea diawal penanaman. Varabel uji coba yang diamati yaitu gradasi warna dan laju kerapatan tumbuh tanaman rumput peking. Pengamatan gradasi warna dilakukan pengukuran dengan menggunakan Bagan Warna Daun (BWD). Pengamatan persentase laju kerapatan tumbuh dilakukan pengukuran dengan menggunakan grid (alat ukur kerapatan tumbuh rumput), sebanyak lima kali per lima belas hari sejak penanaman pada setiap petak percobaan. Data dianalisis menggunakan Anova dan uji Duncan Multiple Range Tes (DMRT). Hasil pengamatan warna daun tanaman rumput peking yang sehat berdasarkan alat pengukur warna daun (Leaf Color Chart), berwarna hijau dengan nilai skor 3. Pemberian pupuk urea dengan dosis 20 g/m2 dan 30 g/m2 sangat efektif menghasilkan warna hijau. Hasil pengamatan menunjukkan laju kerapatan tumbuh rumput peking setiap lima belas hari paling efektif sebesar 27,92%, pada pengamatan lima belas hari ke-2, dengan perlakuan pupuk urea 20 g/m2
VIABILITAS PROBIOTIK Lactobacillus acidophilus DLBSD102 SETELAH MIKROENKAPSULASI
Viability of Lactobacillus acidophilus DLBSD102 after Microencapsulation   This study was aim to select the viability the Lactobacillus acidophilus DLBSD102 during the spray drying method, to produce a fermented milk powder containing probiotic. Since spray drying process use the high temperature, suitable encapsulation material will increase the vaibility of probiotic and the quality of the final product. Three different encapsulation materials which were maltodextrin, whey protein isolate, and inulin with several formulations were used. The spray drying temperature used in this study was 130°C (inlet) and 60°C (outlet). The quality of the fermented milk powder containing L.acidophilus DLBSD102 bacteria strain was evaluated by measure the bacterial viability, bacterial cell resistance from hot temperatures, bile salts (0.5%) low pH (pH 2.0), and the presence of possible pathogenic bacteria. The results showed that the additional encapsulation material of inulin yielded a good quality fermented milk powder, compared with a mixture of encapsulation materials of maltodextrin: whey protein isolate (3:1), based on viability of probiotics after spray drying was increased, bacterial cell resistance to hot temperature, bile salt (0.5%) low pH (pH 2.0), and resistance to the presence of pathogenic bacteria. The addition of encapsulation material in the form of inulin yielded viability of BAL bacteria with log decrease of 0.20 ± 0,01 log CFU/g whereas without inulin addition decreased by 0.51± 0.36 log CFU/g when dried. Therefore, the mixture of encapsulation materials :maltodextrin:whey protein isolate:inulin (3:1:1) is used in the microencapsulation process of BAL by yielding 8.93% heat resistance, bile salt resistance of 78.55%, resistance to pH 2 of 77.25%, total titrated acids by 2.38%, moisture content during storage of 4.33% (4°C) and 3.96% (25°), pH value during fermentation process was 3.59±0,35 and no pathogenic bacteria was detected during production, packaging and storage for 4 weeks.Keywords: L. acidophilus DLBSD102, microenkapsulation, enkapsulation material, spray dryingABSTRAK   Penelitian ini tentang viabilitas Lactobacillus acidophilus DLBSD102 menggunakan bahan enkapsulan yang sesuai dengan metode pengeringan semprot. Tujuannya menghasilkan sediaan produk probiotik berupa serbuk susu fermentasi. Efektivitas mikroenkapsulasi dapat ditingkatkan dengan pemilihan jenis bahan enkapsulan yang tepat saat akan dikeringkan. Suhu pengeringan semprot yang digunakan dalam penelitian ini adalah 130°C (inlet) dan 60°C (outlet). Bahan enkapsulan yang digunakan adalah campuran dari maltodekstrin:whey protein isolate:inulin (3:1:1). Kualitas serbuk susu fermentasi dari strain bakteri L.acidophilus DLBSD102 yang diperoleh dievalusi termasuk viabilitas bakteri, ketahanan sel bakteri terhadap suhu panas, garam empedu (0,5%) pH rendah (pH 2,0) dengan metode cawan tuang, dan evaluasi kemungkinan adanya bakteri patogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan enkapsulan tambahan berupa inulin menghasilkan serbuk susu fermentasi dengan kualitas yang baik, dibandingkan dengan campuran bahan enkapsulan berupa maltodekstrin:whey protein isolate (3:1), yang didasarkan pada viabilitas probiotik setelah pengeringan semprot dan meningkatkan, ketahanan sel bakteri terhadap suhu panas, garam empedu (0,5%) pH rendah (pH 2,0), dan ketahanan terhadap adanya bakteri patogen. Penambahan bahan enkapsulan berupa inulin menghasilkan viabilitas bakteri BAL dengan log penurunan sebesar 0,20±0,01 log CFU/g sedangkan tanpa penambahan inulin mengalami penurunan sebesar 0,51±0,36 log CFU/g saat dikeringkan. Oleh sebab itu, campuran bahan enkapsulan maltodekstrin:whey protein isolate:inulin (3:1:1) digunakan dalam proses mikroenkapsulasi BAL dengan menghasilkan ketahanan terhadap panas sebesar 8,93%, ketahanan terhadap garam empedu sebesar 78,55%, ketahanan terhadap pH 2 sebesar 77,25%, total asam tertirasi sebesar 2,38%, kadar air selama penyimpanan sebesar 4,33% (4°C) dan 3,96% (25°), nilai pH selama proses fermentasi sebesar 3,59±0,35 dan serbuk susu fermentasi tidak mengandung bakteri patogen selama proses produksi, pengemasan hingga penyimpanan selama 4 minggu.Kata kunci: Probiotik L. acidophilus DLBSD102, mikroenkapsulasi, bahan enkapsula
KARAKTERISASI DAN PROPORSI ABU TERBANG (FLY ASH) DALAM PEMBUATAN PCC (PORTLAND COMPOSITE CEMENT)
Batubara digunakan sebagai bahan bakar untuk membentuk klinker yang merupakan bahan dasar semen. Residu yang dihasilkan yaitu abu terbang/fly ash yang dapat mencemari udara. Fly ash bersifat pozzolan yang dapat bereaksi dengan kapur dan bersifat mengikat, sehingga dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan semen sebagai pengganti material yang selama ini digunakan yaitu trass. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian terhadap proporsi fly ash agar mendapat kualitas semen yang memenuhi persyaratan SNI 0302-2014. Metode penelitian yang dilakukan adalah karakterisasi oksida dalam fly ash menggunakan XRF, optimasi penggilingan sampel fly ash, pencampuran blanko semen dengan sampel fly ash, dan pengujian kimia dan fisika. Pengujian kimia meliputi uji kapur bebas, uji bagian tak larut, uji hilang pijar dan uji XRF. Sedangkan untuk pengujian fisika meliputi uji kehalusan, uji residu dengan ayakan 45 μm, uji kandungan air, uji pemuaian, uji nilai konsistensi, uji setting time, dan uji kuat tekan. Komposisi fly ash yang ditambahkan pada blanko semen adalah 0%, 10%, 20%, 30%, dan 40%. Hasil pengujian kimia dan fisika didapatkan semakin banyak penambahan fly ash maka akan mempengaruhi kualitas dari semen yang dihasilkan. Hasil pengujian kimia untuk uji kapur bebas mengalami penurunan, sedangkan untuk uji bagian tak larut dan uji hilang pijar mengalami kenaikan. Pengujian fisika meliputi uji kehalusan, uji kandungan udara, uji pemuaian, uji setting time, mengalami kenaikan sedangkan uji residu mengalami penurunan. Hal ini disebabkan semakin halus luas permukaan semen maka nilai residu yang dihasilkan semakin menurun. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan fly ash 10%-30% memenuhi persyaratan SNI 0302-2014
FERMENTASI BIJI KOPI ARABIKA (Coffea arabica L.) DENGAN PENAMBAHAN BAKTERI ASAM LAKTAT (Lactobacillus sp)
FERMENTATION OF ARABIC COFFEE SEEDS (Coffea arabica L.) WITH THE ADDITION OF LACTO ACID BACTERIA (Lactobacillus sp)Coffee bean fermentation is one of a series of processes for making ground coffee that can affect coffee quality. In this study the fermentation of Arabica coffee beans was carried out using lactic acid bacteria (Lactobaciilus sp) in the form of a starter. The analysis was carried out on five samples, namely brand a coffee samples (sample A), coffee samples processed without bacteria (sample B), coffee samples processed with the addition of bacteria and substrate as many as 10:90 (sample C), 20:80 (sample D ), 30:70 (sample E). The five coffee samples were analyzed for water content, pH, extract content, ash content, and caffeine content. Identification of caffeine was carried out by the UV-Vis spectrophotometric method at a wavelength of 275.0397 nm. The highest caffeine content was in sample C at 0.95% and the lowest caffeine content was in sample E 0.71%. The highest extract content was found in sample E at 27.72% and the lowest content in C at 24.60%. The highest water content results were found in sample C of 4.56% and the lowest in sample E of 4.26%. The highest ash content was found in coffee C samples at 4.98% and the lowest ash content in E at 4.43%. The highest value of the degree of acidity (pH) was found in sample B (6.19) and the lowest in sample A (5.41). The results showed that the Arabica ground coffee met the SNI 01-3542-2004 requirements on parameters of moisture content, extract content, ash content and caffeine content. Keywords: Arabica coffee, fermentation, Lactobacillus sp, CaffeineABSTRAKFermentasi biji kopi merupakan salah satu rangkaian proses pengolahan pembuatan kopi bubuk yang dapat mempengaruhi kualitas kopi. Pada penelitian ini fermentasi biji kopi Arabica dilakukan menggunakan bakteri asam laktat (Lactobaciilus sp) dalam bentuk starter. Analisis dilakukan terhadap lima sampel yaitu sampel kopi merk a (sampel A), sampel kopi yang diproses tanpa bakteri (sampel B) , sampel kopi yang diproses dengan penambahan bakteri dan substrat sebanyak  10:90 (sampel C), 20:80 (sampel D), 30:70 (sampel E). Kelima sampel kopi tersebut dianalisis kadar air, pH, kadar sari, kadar abu, dan kadar kafein. Identifikasi kafein dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 275,0397 nm. Kadar kafein tertinggi terdapat pada sampel C sebesar 0,95 % dan kadar kafein terendah pada sampel E 0,71%. Kadar sari tertinggi terdapat pada sampel E sebesar 27,72% dan kadar sari terendah pada C sebesar 24,60%. Hasil kadar air tertinggi terdapat pada sampel C sebesar 4,56% dan kadar terendah pada sampel E sebesar 4,26%. Kadar abu tertinggi terdapat pada sampel kopi C sebesar 4,98% dan kadar abu terendah pada E sebesar 4,43%. Nilai derajat keasaman (pH) tertinggi didapatkan pada sampel B yaitu sebesar 6,19 dan terendah pada sampel A yaitu 5,41. Hasil uji menunjukkan bahwa kopi bubuk arabika dengan proses fermentasi enggunakan bakteri asam laktat memenuhi syarat SNI 01-3542-2004 pada parameter kadar air, kadar sari, kadar abu dan kadar kafein.Kata kunci: Kopi arabika, fermentasi, Lactobacillus sp, Kafei
STUDY OF GELATIN FROM DUCK BONE AS AN ALTERNATIVE SOURCES OF HALAL GELATIN
Gelatin is an intermediate ingredient which is oftenly used in many field such as food, pharmacy, and cosmetics. It is usually extracted from pig and cow. Halal issue of gelatin sources and the outbreaks of mad cow diseases encouraged people to find an alternative sources of gelatin. One of the alternative sources of gelatin was duck bone. The aim of this research was to describe physicochemical properties of duck bone gelatin which is extracted by using acid extraction method as an alternative sources of halal gelatin. The extraction of duck bone gelatin used 5% concentration of HCl (hydrochloric acid). The extraction process consisted of four steps, they were degreassing, defating, demineralization, and acid extraction. The result showed that gelatin which was extracted from duck bone had these several characteristic: yield of 6.24%, pH 4.0, water content of 13.43%, ash content of 13.42%, protein content of 65.43%, and whiteness degree of 30.35%. Generally, gelatin which was extracted from duck bone had similar characteristic with commercial gelatin and SNI standard. Further researcher had been suggested to reoptimized extraction method in order to reduce ash content
AGRIBISNIS JAMBU METE DI WILAYAH PERBATASAN KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Jambu mete merupakan tanaman pilihan yang dapat dikembangkan di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) yang beriklim kering. Di sisi lain, permintaan pasar dunia cukup tinggi dan harga cenderung naik. Sampel penelitian ini adalah 30 petani dan 10 lembaga pemasaran. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan diskusi terfokus dalam kelompok, kemudian dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif (Kelayakan Usahatani: NPV, IRR, Sensitivity dan Margin Pemasaran) serta Analisis SWOT (IFAS, EFAS dan Matrik SWOT). Hasil analisis diperoleh agribisnis jambu mete di Kabupaten TTU terdiri dari subsitem agroinput, subsistem agroproduksi, subsistem agroindustri dan subsistem agroniaga serta lembaga penunjang (infrastruktur, kelompok tani; penyuluh; dan KUD).  Kelayakan usahatani memiliki nilai Net B/C 1,925; NPV Rp32.659.705,-; dan IRR 37,05. Terdapat 3 saluran tataniaga, dengan lembaga tataniaga terdiri dari pengumpul desa, pedagang besar kupang/atambua, besar/grosir dan pedagang pengecer. Hasil analisis IFAS dan EFAS dengan menggunakan metode SWOT, diperoleh alternatif strategi S – O dalam pengembangan jambu mete, yaitu meningkatkan produksi dengan dukungan kebijakan pemerintah dalam bantuan bibit unggul; integrase tanaman jambu mete – ternak sapi sebagai upaya perbaikan kesuburan tanah; menguatkan bargaining position melalui kelompok tani; dan penganekaragaman produk olahan kacang mete