E-Journal STIESIA Surabaya (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia)
Not a member yet
918 research outputs found
Sort by
PENGELOLAAN RESIKO SEBAGAI FAKTOR KUNCI DALAM PENINGKATAN PRODUKTIFITAS DAN KOMERSIALISASI INOVASI DI BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Kajian ini mengulas peran manajemen risiko sebagai elemen kunci dalam meningkatkan produktivitas dan mempercepat komersialisasi inovasi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Permasalahan yang diangkat mencakup pentingnya pengelolaan risiko untuk mengatasi tantangan dalam menciptakan ekosistem inovasi yang produktif dan tangguh, serta mempercepat pemanfaatan hasil riset untuk masyarakat. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi kasus, yang melibatkan analisis laporan kinerja BRIN serta wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan utama. Hasil kajian menunjukkan bahwa manajemen risiko yang terstruktur dan proaktif telah membantu BRIN mencapai target dalam perlindungan kekayaan intelektual, peningkatan lisensi, dan komersialisasi inovasi. Penguatan dilakukan melalui kemitraan strategis, pengembangan sistem pemantauan berbasis data, dan penerapan standar internasional (ISO 31000, ERM COSO) dalam manajemen risiko. Kesimpulannya, manajemen risiko berperan vital dalam mendorong keberlanjutan ekosistem inovasi BRIN serta pencapaian target pembangunan berkelanjutan. Untuk memperkuat implementasi ini, BRIN mengoptimalkan pelatihan internal, memperluas kolaborasi dengan mitra global, serta menerapkan teknologi berbasis data dan kecerdasan buatan (AI) guna memantau dan mengelola risiko secara real-time. Langkah-langkah ini membangun ekosistem inovasi yang lebih adaptif, inklusif, dan mampu mendorong pemanfaatan produk riset yang lebih luas bagi masyarakat dan industri
BRIDGING GAPS: ANALYZING FINTECH ADOPTION AND ITS CONTRIBUTION TO OVERCOMING SOCIAL EXCLUSION IN THE INDONESIAN FINANCIAL LANDSCAPE
Financial Technology, a component of the technological revolution in the financial industry, has a significant impact on both the micro and macro finance sectors. Significant investment is fueling the growth of the FinTech sector on a global scale. The mobile payment and transfer industry experienced the most rapid growth, increasing by 75% in 2019. Indonesia has emerged as a significant hub for digital economic growth, with 203 million users and a transaction value of US 99.1 miliar pada tahun 2022, menjadikan Indonesia menjadi salah satu episentrum perkembagan ekonomi digital. Namun tren positif ini masih belum memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Tingkat inklusi keuangan di Indonesia masih menjadi salah satu yang terendah dibandingkan negara lain di ASEAN. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi faktor penggunaan FinTech di Indonesia serta implikasinya terhadap inklusi keuangan. Analisis kuantitatif dengan metode SEM-PLS digunakan dalam menguji secara statistik 369 data responden. Hasil penelitian ini mengungkap keempat variabel laten (digital literacy, financial literacy, acceptance model dan use of technology) secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap intention to use FinTech payment. Penggunaan secara berkelanjutan juga terbukti secara positif mendorong perilaku exploitative use dan explorative use oleh pengguna. Pada akhirnya, penggunaan FinTech payment dengan pola exploitative dan explorative terbukti secara statistik dapat meningkatkan inklusi keuagan di Indonesia
ESG, CSR, AND COMPANY CHARACTERISTICS IN FORMING INVESTOR REACTIONS
This study aims to determine whether investors use non-financial disclosures in their investment activities, such as firm characteristics within companies indexed in IDX ESG Leaders during the 2020–2022 period and ESG (Environmental, Social, and Governance) and CSR (Corporate Social Responsibility). Investor responses are evaluated using Stocks Abnormal Return (SABR) and Trading Volume Activity (TVA). At the same time, non-financial disclosures are analyzed through ESG Score from Morningstar Sustainalytics, CSR Index from GRI Indicator, and firm factors including age and industry type. Results from a study of 45 data points, including 15 companies included in IDX ESG Leaders, suggest a notable inverse connection between ESG disclosure and SABR and TVA. However, the disclosure of CSR does not demonstrate a substantial effect. Company attributes, particularly age, benefit the level of trade activity, whereas the kind of industry has a notable adverse effect. To some extent, investors view ESG disclosure as a negative indication because of the risks that come with companies that perform in terms of ESG. On the other hand, a company's advanced age can be used by management to gain a competitive edge and demonstrate stability to investors, thanks to the long-standing ties with stakeholders that result in steady financial performance. In addition, investors tend to favor companies in low-risk industries while avoiding high carbon-emitting areas.Penelitian bertujuan mengidentifikasi lebih lanjut apakah investor memanfaatkan pengungkapan non-keuangan berupa ESG, CSR, dan karakteristik perusahaan pada emiten terindeks IDX ESG Leaders periode 2020-2022 dalam kegiatan berinvestasi mereka. Reaksi investor diukur melalui Stocks Abnormal Return (SABR) dan Trading Volume Activity (TVA), sedangkan pengungkapan non-keuangan diukur melalui ESG Score dari Morningstar Sustainanalytics, CSR Index dari GRI Indicator, dan karakteristik perusahaan berupa umur serta jenis industri. Hasil peneliti melalui 45 sampel yang terdiri dari 15 perusahaan terindeks IDXESGL menunjukkan pengungkapan ESG berhubungan negatif signifikan terhadap SABR dan TVA, akan tetapi CSR tidak ada pengaruhnya. Karakteristik perusahaan melalui umur memiliki efek positif terhadap volume perdagangan saham, sedangkan jenis industri menguasai efek negatif signifikan. Dapat disimpulkan, pengungkapan ESG dianggap sebagai sinyal negatif oleh investor karena melekatnya risiko pada perusahaan berperforma ESG. Namun, semakin tua sebuah perusahaan dapat dimanfaatkan oleh manajemen untuk mencapai keunggulan kompetitif dan sebagai sinyal positif kepada investor karena perusahaan telah memiliki hubungan kuat dengan pemangku kepentingan sehingga mampu menghasilkan kinerja keuangan yang terus stabil. Selain itu, investor cenderung lebih tertarik pada perusahaan yang beroperasi di industri dengan risiko rendah, sehingga mereka menghindari sektor-sektor tinggi emisi karbon
PELATIHAN PENGGUNAAN MESIN EKSTRUSI DAN PENGADUK LIMBAH IKAN PADA UMKM DI KENJERAN
Mengingat potensi sumber daya laut dan air yang dimiliki Kota Surabaya khususnya di wilayah pesisir Kenjeran, tentunya perlu adanya pelatihan terkait strategi pengembangan dan pemeliharaan untuk menjaga kondisi lingkungan yang memberikan dampak positif. Melihat mayoritas penduduk pesisir adalah nelayan dan lebih banyak melakukan pengolahan hasil tangkapan ikan secara mandiri ataupun kelompok maka potensi limbah ikan, limbah jeroan ikan membutuhkan perlakuan khusus, dengan melihat kondisi tersebut maka dibutuhkan mesin pengolah limbah ikan dan jeroan yang bisa diolah menjadi pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk kesuburan tanaman . Bertitik tolak pada kondisi yang demikian maka tim pengabdian Universitas Muhammadiyah Surabaya membuat mesin pengolahan limbah jeroan ikan dengan kapasitas 8 kg/jam dan sekaligus sebagai pengaduk adonan pupuk organik yang terdiri dari 100 gram jeroan ikan yang sudah digiling, 660 sekam padi, 660 gram arang halus, 1liter air, tanah dan 100 ml bakteri EM4 kemudian difermentasi di tempat/wadah yang kedap udara selama 5 sampai dengan 10 hari. Dari hasil pengabdian berupa pelatihan pemanfaatan mesin ekstrusi dan pengaduk jeroan ikan pada UMKM di Kenjeran didapat hasil awal berupa fermentasi adonan yang kemudian dikeringkan dengan kadar air 11 persen, selama kurang lebih 1 hari penuh dan pupuk siap untuk dikemas serta dipasarkan
ANALISIS KUALITAS PELAYANAN, HARAPAN PELANGGAN, DAN CITRA PERUSAHAAN TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas pelayanan, harapan pelanggan dan citra perusahaan terhadap kepuasan pelanggan pada PT Andalan Pasifik Samudra. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Populasinya adalah pelanggan PT Andalan Pasifik Samudra berjumlah 30 responden yaitu pelanggan yang menggunakan jasa PT Andalan Pasifik Samudra. Teknik pengambilan sampel yang dipakai oleh peneliti adalah sampling jenuh, berjumlah 30 responden. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Sebelum data dianalisis, kualitas data diuji dengan menggunakan uji validitas dan reliabilitas. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif responden, dengan memberikan gambaran menyeluruh terhadap deskripsi responden pada PT Andalan Pasifik Samudra. Variabel harapan pelanggan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pelanggan, hal ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan bukan merupakan faktor utama dalam meningkatkan kepuasan pelanggan. Variabel kualitas pelayanan tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen, hal tersebut menunjukkan kualitas pelayanan bukan merupakan faktor utama dalam meningkatkan kepuasan konsumen. Variabel citra perusahaan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pelanggan. Hipotesis yang menyatakan bahwa diduga berpengaruh secara parsial terhadap kepuasan pelanggan adalah benar dan dapat diterima. Hasil olah data menunjukkan item kuesioner bersifat valid dan semua variabel bersifat reliable
PENGARUH LINGKUNGAN KERJA, KEPUASAN KERJA, DAN KOMITMEN ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT WANGTA AGUNG
Manajemen sumber daya manusia memegang peran kunci dalam mempertahankan tingkat produktivitas yang efisien dalam suatu perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh lingkungan kerja, kepuasan kerja, komitmen organisasi terhadap kinerja karyawan pada PT Wangta Agung Surabaya. Jenis penelitian ini tergolong sebagai penelitian dengan pendekatan kuantitatif yang bersifat kausal komporatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner menggunakan skala likert. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel jenuh dan didapatkan sampel yang berjumlah delapan puluh responden. Adapun analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis linier berganda dengan menggunakan alat bantu SPSS (Statistic Product and Service Solution) versi 27. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan pada PT Wangta Agung Surabaya, kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan PT Wangta Agung Surabaya, dan komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan pada PT Wangta Agung Surabay
CYBER-PHENOMENOLOGY'S VERSION OF NON-FUNGIBLE TOKEN (NFT) MARKETING STRATEGY
The non-fungible token (NFT) issue motivates this research as it presents a great opportunity for talented creators to support creative businesses in Indonesia, increase art's exposure to local and international markets, and earn royalties for their works of art. This research focuses on how a non-fungible token (NFT) digital object can be sold out and what strategy is used to sell the NFT? using a cyberphenomenology approach. Informant criteria: The informant must have sold NFTs at least three times themselves. Have a minimum of 1000 followers on social media and one year of experience. The focus areas for online media research include Facebook, Instagram, and the Indonesian NFT community. We collected the data through in-depth media interviews, direct observation of social media, and manual data analysis procedures, which involved triangulating sources and theories. The findings indicate that the NFT marketing strategy involves SFS, consistent promotion, regular product posting, Twitter retweets, targeting a specific market, and celebrity endorsement. The price of a resale product is typically higher than its original price. NFT products are animations. GIFs are difficult to steal. Products are animated GIFs. Marketplace (Opensea): NFTs are a source of income. Direct transfers of NFTs are possible without the need for purchase transactions. Cryptocurrency: Smart Contract System: Low Crypto Prices NFTs will end.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh isu Non-Fungible Token (NFT) yang akan menjadi peluang besar bagi para kreator berbakat untuk menyalurkan semangat dan kreativitasnya, dalam mendorong bisnis kreatif di Indonesia dan memperluas paparan seni hingga pasar lokal dan internasional serta peluang menerima royalti karya seni. berfokus pada bagaimana suatu barang tak kasat mata (objek digital) NFT bisa terjual habis, strategi apa yang digunakan untuk menjual NFT tersebut? dengan menggunakan pendekatan cyberphenomenology. Kriteria informan: Telah menjual NFT sendiri, minimal 3x penjualan; Memiliki minimal 1000 pengikut di media sosial; Pengalaman minimal 1 tahun; Penelitian dilakukan melalui media online Facebook, IG, X Komunitas NFT Indonesia. Pengumpulan Data: wawancara mendalam melalui media; pengamatan langsung terhadap penggunaan media sosial; Dokumentasi, analisis data menggunakan prosedur analisis data manual dengan triangulasi sumber dan teori. Temuan : Strategi Pemasaran NFT adalah SFS (Share For Share), Promosi yang Konsisten, Posting produk secara rutin, Retweet Twitter, Target pasar, Celebrity endorsement, Harga produk yang dijual kembali lebih tinggi dari harga aslinya. Produk NFT adalah Animasi, GIF Sulit untuk dicuri, Produk dalam bentuk animasi, GIF, Marketplace (Opensea), NFT adalah sumber pendapatan, NFT dapat ditransfer langsung tanpa transaksi pembelian apapun, Mata Uang Kripto, Sistem Kontrak Cerdas, Harga Kripto rendah NFT akan mati
Mekanisme Good Corporate Governance Dan Financial Distress Pada Manajemen Laba Perusahaan Asuransi
Kecurangan akademik masih menjadi masalah serius dalam dunia pendidikan, khususnya di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh faktor tekanan, kesempatan, rasionalisasi, kemampuan, dan arogansi terhadap kecurangan akademik di kalangan mahasiswa akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, data primer dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada 115 mahasiswa angkatan 2020 yang dipilih secara acak. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif, uji kualitas data, uji asumsi klasik, dan uji regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi memiliki pengaruh signifikan terhadap kecurangan akademik. Sebaliknya, faktor kemampuan dan arogansi tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap perilaku kecurangan akademik di kalangan mahasiswa. Temuan ini memberikan wawasan penting bagi pengembangan kebijakan pendidikan dan program pencegahan kecurangan akademik, dengan menekankan pentingnya pengelolaan tekanan akademik dan kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa. Penelitian ini juga memberikan kontribusi bagi literatur terkait kecurangan akademik di tingkat perguruan tinggi, khususnya dalam konteks mahasiswa akuntansi.Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh faktor tekanan, kesempatan, rasionalisasi,kemampuan, dan arogansi terhadap kecurangan akademik di kalangan mahasiswaAkuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (FEBUKSW). Menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini mengumpulkan dataprimer melalui penyebaran kuesioner kepada 115 mahasiswa angkatan 2020 yangdipilih secara acak. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknikanalisis statistik deskriptif, uji kualitas data, uji asumsi klasik, dan uji regresi linearberganda dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 26. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi memiliki pengaruhsignifikan terhadap kecurangan akademik, sementara kemampuan dan arogansitidak menunjukkan pengaruh yang signifika
GREEN INNOVATION PRACTICE ON CORPORATE’S SUSTAINABLE GROWTH IN NON-FINANCIAL: THE MEDIATING EFFECT OF ENVIRONMENTAL MANAGEMENT ACCOUNTING
This research explores the role of Environmental Management Accounting (EMA) as a mediator in the relationship between green innovation and sustainable growth. This research utilized the STATA 14 program to test hypotheses using the path analysis test and the Sobel test. The analysis was conducted on 2,716 observations from 539 non-financial corporates listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) between 2013 and 2020. The path analysis findings indicate that (1) green innovation positively influences EMA; (2) green innovation positively affects sustainable growth; (3) EMA does not have a significant impact on sustainable growth; and (4) EMA does not operate as a mediator between green innovation and sustainable growth. Additionally, the present research conducted a rigorous robustness test, which yielded results that aligned with those obtained from the path analysis test. Incorporating environmentally focused innovation into company plans provides substantial benefits for achieving sustainable growth, including cost reduction, improved competitive advantage, compliance with regulations, and exploring new market opportunities.Dalam memahami bagaimana inovasi hijau dan pertumbuhan berkelanjutan terkait, penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki fungsi Akuntansi Manajemen Lingkungan (Environmental Management Accounting-EMA) sebagai mediator. Dengan menggunakan 539 korporasi non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2013-2020 dengan total 2.716 hasil observasi, dengan menggunakan uji analisis jalur dan uji Sobel dalam penelitian ini untuk menguji hipotesis menggunakan software STATA 14. Menurut temuan analisis jalur, jelas bahwa (1) inovasi hijau berpengaruh terhadap EMA; (2) inovasi hijau berdampak pada pertumbuhan berkelanjutan; (3) EMA tidak berdampak pada pertumbuhan berkelanjutan; dan (4) EMA tidak mampu memediasi hubungan antara inovasi hijau dan pertumbuhan berkelanjutan. Last but not least, penelitian ini juga melakukan uji ketahanan dan mendapatkan hasil yang sesuai dengan tes analisis jalur. Harapannya perusahaan menginovasikan berbasis lingkungan ke dalam strateginya yang menawarkan keuntungan signifikan untuk pertumbuhan berkelanjutan dengan mengurangi biaya, meningkatkan keunggulan kompetitif, memastikan kepatuhan terhadap regulasi, dan membuka peluang pasar baru
DIRECTOR'S NATIONALITY DIVERSITY AND COMPANY PERFORMANCE: THE EVIDENCE FROM EMERGING MARKET
This study describes the diversity of directors' nationality from company attributes: company leverage, growth, size, age, and sub-sector. This study also analyses the association between directors' nationality diversity and the performance of Indonesia's listed companies using two measurements: ROA and ROS (accounting performance) and Stock return and Tobin’s Q (market performance). This study used 3,290 observations in 235 companies (from 2004 to 2017). As a result, the level of director nationality diversity varies based on the company size (large vs. small), company age (old vs. young), company growth (high vs. low), company leverage (high vs. low), company sub-sector (central vs. manufacturing vs. trading & service sub-sector). In addition, the diversity of the supervisory board nationality is negatively related to the ROA and Tobin’s Q and positively associated with stock return. The company breaks the negative effect of supervisory board nationality diversity by reducing the periods foreign directors need to familiarise themselves with newly discovered circumstances, such as culture, systems, and language. The company suggests increasing the supervisory board nationality diversity regarding the stock return as detailed theoretical and practical implications.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keragaman dewan komisaris dan direksi dari atribut perusahaan: leverage perusahaan, pertumbuhan, ukuran, usia, dan sub-sektor. Penelitian ini juga menganalisis hubungan antara keragaman kewarganegaraan dewan komisaris dan direksi dengan kinerja perusahaan publik di Indonesia. Dalam hal ini, sebagian besar studi menggunakan satu proxy untuk kinerja. Penelitian ini menggunakan kinerja akuntansi dan pasar; masing-masing memiliki dua pengukuran: ROA dan ROS (kinerja akuntansi) dan Return saham dan Tobin’s Q (kinerja pasar). Dengan menggunakan 3.290 obervasi (235 perusahaan dengan periode 2004 sd. 2017), penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat keragaman kewarganegaraan dewan komisaris dan direksi bervariasi berdasarkan ukuran perusahaan (besar vs kecil), usia perusahaan (tua vs muda), pertumbuhan perusahaan (tinggi vs rendah), leverage perusahaan (tinggi vs rendah), dan sub-sektor perusahaan (subsektor utama vs manufaktur vs perdagangan & jasa). Selain itu, keragaman kewarganegaraan dewan komisaris berhubungan negatif dengan ROA dan Tobin’s Q, dan berhubungan positif dengan return saham. Perusahaan bisa menurunkan efek negatif dari keragaman kewarganegaraan dewan komisaris dengan mengurangi waktu yang diperlukan anggota komisaris asing untuk membiasakan diri dengan lingkungangan baru, seperti budaya, system, dan bahasa baru. Implikasi praktis dan teoritis dibahas mendalam dalam artikel ini