Jurnal Universitas Abdurrab
Not a member yet
1637 research outputs found
Sort by
MANAJEMEN TERAPI OKUPASI DALAM PENINGKATAN SELF CARE DAN LEISURE PADA LANSIA
Peningkatan jumlah penduduk lansia akan membawa dampak terhadap produktifitas dan sosial ekonomi baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam pemerintah. Kemandirian pada lansia dinilai dari kemampuannya untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Aktivitas tersebut harus dimanajemen dengan baik agar lansia memiliki derajat kesehatan yang terjaga. Kegiatan berupa aktivitas yang akan dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh terapi modalitas yang salahsatunya yaitu terapi okupasi. Kurangnya kegiatan dan aktivitas lansia yang menyebabkan penurunan kesehatan pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh terapi okupasi terhadap lansia dalam peningkatan perawatan diri (self care) dan penggunaan waktu luang (leisure). Penelitian ini menggunakan Quasy experimental dengan menggunakan rancangan pretest-posttest without control group design, dan kemudian dianalisis dengan univariat dan bivariat. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Khusnul Khotimah Provinsi Riau berjumlah 57 Orang. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh antara terapi okupasi dengan peningkatan self care pada lansia dengan Pvalue 0,000 dan ada pengaruh antara terapi okupasi dengan penggunan leisure pada lansia di PSTW Khusnul Khotimah Provinsi Riau dengan Pvalue 0,000. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi masukan dalam peningkatan kemandirian kesehatan pada lansia
PENGARUH BALLON BLOWING TERHADAP FATIQUE PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PUSKEMAS SIMPANG TIGA KOTA PEKANBARU
Diabetes mellitus is a non-communicable disease that causes the highest death in the world. The incidence of type 2 diabetes mellitus is quite high in the Simpang Tiga Health Center, Pekanbaru City. One of the complaints often experienced by people with diabetes mellitus is fatigue. Fatique in type 2 diabetes mellitus sufferers is influenced by physical and psychological factors, physical factors include complications, sleep quality, and pain while psychological factors are anxiety and depression. The purpose of this study was to determine the effect of balloon blowing on the fatigue of patients with type 2 diabetes mellitus. This research is quantitative in nature. This research was conducted at the Simpang Tiga Health Center in Pekanbaru City in May 2023 with 18 respondents. The research design used was a quasy experimental design, using the Fatique Serverity Scale questionnaire research instrument. The analysis used is the frequency distribution and the statistical test Paired-t test to see the effect on the variables. The results of the study concluded that there was a significant effect of balloon blowing on the fatigue of diabetes mellitus patients (p value 0.000 : a = 0.05). This researcher recommends to future researchers to conduct further research with a control group, and other interventions. So that the scope of discussion becomes wider
PERBEDAAN ACTIVE DYNAMIC BACK EXERCISE DAN MUSCLE ENERGY TECHNIQUE TERHADAP KEMAMPUAN AKTIVITAS FUNGSIONALLOW BACK PAIN NON SPECIFIC
Latar belakang: Low back pain non specific merupakan nyeri punggung bawah tidak spesifik, nyeri pada T12 dan lipatan gluteal dan tidak berhubungan dengan masala neurologi Tujuan: Untuk mengetahui apakah Ada perbedaan active dynamic back exercise dan muscle energy technique terhadap peningkatan kemampuan aktifitas fungsional low back pain non specific. Metode: Penelitian ini bersifat eksperimen dengan teknik purposive sampling, dengan two group pre-postest desain. Sampel penelitian ini adalah karyawan Pabrik Mie Lethek Garuda yang berjumlah 16 orang dengan usia 35-65 tahun dan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Hasil: Hasil data menggunakan paired sample t-test pada kelompok p I dan II nilai p=0,000 (p<0,05) yang artinya perlakuan yang diberikan pada kelompok I dan II berpengaruh pada peningkatan akitivitas fungsional low back pain non specific dan Dari hasil uji independent t-test menunjukkan nilai p=0,850 (p>0,05) yang artinya tidak ada perbedaan pengaruh secara signifikan antara kelompok perlakuan I dan II. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan pengaruh signifikan antara Active Dynamic Back Exercise Dan Muscle Energy Technique terhadap kemampuan aktivitas fungsional Low Back Pain Non Sepfific. Saran: Peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti dengan banyak jumlah responden serta mengontrol secara penuh aktivitas responden baik saat bekerja dan sesudah bekerja
RANCANG BANGUN ALAT UKUR KADAR GULA DALAM DARAH NON INVASIVE MENGGUNAKAN ESP32 DAN BLYNK
Kompabilitas microcontroller ESP32 dalam implementasi Internet of Thing (IoT) hampir mencakup segala bidang. Memiliki potensi dalam memonitoring kadar gula dalam darah secara non-invasive dengan adanya Sensor Photodioda dan lampu LED Infared serta jari tangan sebagai objek pengukuran tanpa perlu melukai pasien atau secara invasive dalam Tujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan Masyarakat terutama dalam Upaya mencegah diabetes melitus. microcontroller ESP32 juga memiliki kompabilitas dalam pemanfaatan Blynk yang mana dapat digunakan untuk menjadi media untuk memonitor kadar gula dalam darah dan dapat ditampilkan di monitor computer maupun smarphone dengan membuka private Blynk, juga dengan pemanfaatan intensitas Cahaya dengan menggunakan Sensor fotodioda dan lampu LED menjadi bahan utama dalam Rancang bangun Alat Ukur Kadar Gula Dalam Darah Non Invasive Menggunakan Metode Prototyping dengan memanfaatkan ESP32 dan Blynk serta dilakukan percobaan untuk melihat kinerja serta perbandingan akan akurasi dengan Glukometer pada umumnya dan pemanfaatan dalam penerapan di bidang Kesehatan. Dalam percobaan prototype Alat ukur Kadar Gula yang dilakukan, Perhitungan serapan Cahaya yang dihasilkan oleh kombinasi dari Sensor fotodioda dan Lampu LED dapat menjadi bahan pengukuran Kadar Gula dalam Darah tanpa perlu mengambil sampel darah pengguna secara langsung serta implementasi yang mudah diterapkan juga sistem memonitoring dengan menggunakan blynk yang juga mempermudah proses pemantauan kadar gula dalam darah dengan mudah serta dapat dilakukan di smarphone dan Komputer pengguna. Hasil Akurasi keseluruhan kinerja prototype Alat ukur Kadar Gula dalam darah Non-invasive didapatkan total sebesar 95% dari beberapa percobaan yang dilakukan.The compatibility of ESP32 microcontrollers in Internet of Things (IoT) implementations covers almost all fields. Has the potential to monitor blood sugar levels non-invasively with the presence of Fotodioda Sensors and Infared LED lights and fingers as measurement objects without the need to injure patients or invasively in the aim to improve public health services, especially in an effort to prevent diabetes mellitus. ESP32 microcontroller also has compatibility in the use of Blynk which can be used to be a medium to monitor blood sugar levels and can be displayed on a computer monitor or smartphone by opening Blynk private, also with the utilization of Light intensity using fotodioda sensors and LED lights will be designed Non-Invasive Blood Sugar Measuring Instruments Using Prototyping Methods by utilizing ESP32 and Blynk and conducted experiments to see performance and comparison of accuracy with Glucometers in general and utilization in applications in the Health sector. In the prototype experiment of the Blood Glucose Measurement Device, the light absorption calculation produced by the combination of photodiode sensors and LED lamps can be utilized for measuring blood glucose levels without the need for direct blood sampling from the user. The implementation is straightforward and includes a monitoring system using Blynk, facilitating the process of blood glucose monitoring via both smartphones and users' computers. The overall accuracy result of the non-invasive blood glucose measurement device prototype reached 95% based on multiple conducted experiments.  
PENERAPAN METODE ROTOSCOPING DAN FRAME ELIMINATION PADA ANIMASI 2D TARI ZAPIN
Pertumbuhan industri animasi di Indonesia diprediksi akan terus berkembang. Hal ini bisa dilihat dari perkembangan animasi di Indonesia yang didominasi dengan animasi 2 dimensi dan 3dimensi dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus ditandai dengan banyaknya animator asal Indonesia yang sukses di kancah internasional. Umumnya animasi diterapkan pada gerakan gerakan karakter baik itu gerakan sederhana seperti berjalan, hingga gerakan kompleks seperti pertarungan. Dalam penerapannya pun, berbagai metode dapat digunakan asalkan bisa mewujudkan gerakan animasi yang sesuai dengan gerakan aslinya. Umumnya hal ini berhasil dilakukan dikarenakan dalam gerakan yang kompleks, kecepatan gerakan seolah mengaburkan detail animasi dari gerakan tersebut. Namun hal ini tidak berlaku pada salah satu jenis gerakan yang sangat jarang diangkat daam animasi, gerakan ini adalah gerakan menari. Alasan mengapa gerakan menari sangat jarang dianimasikan, dikarenakan tarian adalah salah satu rangkaian gerakan yang memiliki kecepatan rendah, sehingga detail-detail dalam setiap perubahan gerak pada satu tarian, bisa menhasilkan ratusan bahkan ribuan frame ketika dirubah menjadi bentuk animasi. Dalam memvisualisasikan seni tari dengan visual animasi bukanlah hal yang mudah, karena banyakanya frame yang harus dibuat agar tarian tersebut terlihat natural. Apalagi dengan menggunakan teknik animasi seperti frame by frame dan cutout, tentunya justru menambah panjang waktu pengerjaan dan kuantitas gambar yang dihasilkan. Sebenarnya, selain frame by frame dan cutout, masih ada teknik animasi lainnya yang bisa saja diterapkan untuk mengatasi masalah banyaknya frame dalam gerkan tari. Salah satu solusi untuk memvisualisasikan tarian dalam bentuk animasi. Yaitu dengan teknik rotoscoping yang bisa menjembatani seni tari dengan animasi. Rotoscoping ini meniru setiap perubahan gerak pada tari, dan merubahnya menjadi frame. Namun jika hanya menggunakan teknik ini, maka gambar yang dihasilkan masih akan terlalu banyak, sehingga itu perlu ditambahkan satu teknik lagi yaitu frame elimination. Untuk itu, penulis ingin mengamplikasikan teknik rotoscoping dalam pembuatan animasi tari zapin. Untuk mengetahui apakah seni tari dapat divisualisasikan dengan baik dengan teknik rotoscoping dan Frame Elimination.The growth of the animation industry in Indonesia is predicted to continue to grow. This can be seen from the development of animation in Indonesia, which is dominated by 2-dimensional and 3-dimensional animation in recent years, as well as being marked by the large number of animators from Indonesia who are successful on the international stage. Generally, animation is applied to character movements, whether simple movements such as walking, to complex movements such as fighting. In its application, various methods can be used as long as they can create animated movements that match the original movements. Generally this is done successfully because in complex movements, the speed of the movement seems to obscure the animation details of the movement. However, this does not apply to one type of movement that is very rarely used in animation, this movement is dancing. The reason why dance movements are rarely animated is because dance is a series of movements that have low speed, so that the details in each change in movement in one dance can produce hundreds or even thousands of frames when converted into animation. Visualizing dance art with animated visuals is not an easy thing, because there are many frames that have to be created so that the dance looks natural. Moreover, using animation techniques such as frame by frame and cutout, of course, actually increases the processing time and quantity of images produced. Actually, apart from frame by frame and cutout, there are still other animation techniques that can be applied to overcome the problem of many frames in dance movements. One solution is to visualize dance in animated form. Namely the rotoscoping technique which can bridge dance with animation. This rotoscoping imitates every change in movement in dance, and converts it into a frame. However, if you only use this technique, the resulting image will still be too large, so one more technique needs to be added, namely frame elimination. For this reason, the author wants to apply the rotoscoping technique in making Zapin dance animations. To find out whether dance art can be visualized well using rotoscoping and Frame Elimination techniques
KLASIFIKASI HASIL MRI TUMOR OTAK DENGAN EKTRAKSI FITUR GRAY LEVEL CO-OCCURANCE MATRIX (GLCM)
Bagian penting dari tubuh adalah otak yang mana menjadi sumber dari semua alat tubuh yang terletak dalam rongga tengkorak, tumor otak merupakan salah satu penyakit yang dapat menyerangnya. Pendeteksian tumor otak adalah salah satu aspek yang dinilai penting dalam diagnosa medis. Pada penelitian ini memiliki tujuan melakukan implementasi ekstraksi fitur GLCM (Gray Level Co-occurence Matrix) pada citra MRI tumor otak serta mencari performa algoritma yang paling baik dari deteksi tumor otak menggunakan citra MRI ini. Data yang dipakai pada penelitian ini merupakan data public yang berasal dari kaggle.com. Proses ekstraksi fitur pada citra digunakan pada penelitian ini GLCM yang mana memiliki fungsi menghitung frekuensi dari nilai intensitas piksel yang berjarak antar citra dengan menggunakan parameter 0o, 45o, 90o, 135o. Tahap selanjutnya pada penelitian ini adalah dengan melakukan langkah preprocessing dengan selanjutnya mencari nilai klasifikasi dari hasil MRI menggunakan algoritma Naïve Bayes, C4.5 dan Neural Network. Hasil yang didapatkan memperlihatkan bahwa Naïve Bayes memiliki performa algoritma paling baik dibandingkan C4.5 dan Neural Network yaitu dengan akurasi algoritma Naïve Bayes sebesar 96.8%, sedangkan untuk algoritma C4.5 sebesar 41.5% dan Neural Network sebesar 38.25%. selain hal tersebut pada penelitian ini membuktikan bahwa dengan ekstraksi fitur GLCM terbukti efektif dalam menangkap informasi tekstur dari citra MRI yang sangat penting pada klasifikasi tumor otak.An important part of the body is the brain which is the source of all the body's organs in the skull cavity. Brain tumors are one of the diseases that can attack it. Detection of brain tumors is one aspect that is considered important in medical diagnosis. This research aims to implement GLCM (Gray Level Co-occurrence Matrix) feature extraction on MRI images of brain tumors and to find the best algorithm performance for detecting brain tumors using these MRI images. The data used in this research is public data originating from kaggle.com. The feature extraction process in pictures used in this research is GLCM, which has the function of calculating the frequency of pixel intensity values that are spaced between images using parameters 0o, 45o, 90o, and 135o. The next stage in this research is to carry out preprocessing steps and then look for classification values from the MRI results using the Naïve Bayes, C4.5, and Neural Network algorithms. The results obtained show that Naïve Bayes has the best algorithm performance compared to C4.5 and Neural Network, namely with an accuracy of the Naïve Bayes algorithm of 96.8%, while for the C4.5 algorithm it is 41.5% and the Neural Network is 38.25%. Apart from this, this study proves that GLCM feature extraction has proven effective in capturing texture information from MRI images which is very important in brain tumor classification
OPTIMALISASI PENGGUNAAN SUPERPLASTICIZER MASTERGLENIUM ACE 8595 DALAM IMPLEMENTASI PEKERJAAN BETON
Kemajuan teknologi dalam dunia konstruksi semakin berkembang pesat termasuk perkembangan material dan metode konstruksi. Penggunaan bahan aditif superplasticizer dalam pembuatan beton dapat meningkatkan kuat tekan dan viskositas dalam mencapai workability pekerjaan cor beton. Namun diperlukan optimalisasi proporsi penggunaan bahan aditif superplasticizer untuk mencapai workability terbaik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui workability terbaik pada penggunaan admixture superplasticizer campuran beton. Bahan aditif yang digunakan adalah MasterGlenium ACE 8595 dengan prosentase penggunaan sejumlah 0,25%, 0,28%, 0,31%, dan 0,34%. Hasil Penelitian mengungkapkan bahwa workability terbaik diperoleh pada penambahan admixture sebesar 0,31% dari berat semen dengan nilai slump sebesar 14 cm dan nilai kuat tekan 17,35 Mpa yang mengindikasikan beton cocok digunakan pada elemen non-struktural seperti beton siklop, trotoar dan pasangan batu kosong. Melalui hasil tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai acuan untuk mencari workability terbaik dari penggunaan superplasticizer MasterGlenium ACE 8595 terhadap implementasi konstruksi yang sesuaiTechnological advances in the construction world are growing rapidly, including the development of materials and construction methods. The use of superplasticizer additives in the manufacture of concrete can increase compressive strength and viscosity in achieving the workability of concrete cast work. Itis necessary to optimize the proportion of the use of superplasticizer additives to achieve the best workability. This study aims to determine the best workability in the use of concrete mixture superplasticizer admixture. The additive used is MasterGlenium ACE 8595 with a percentage of use of 0.25%, 0.28%, 0.31%, and 0.34%. The results revealed that the best workability was obtained in the addition of admixture of 0.31% of the weight of cement with a slump value of 14 cm and a compressive strength value of 17.35 Mpa which indicates that concrete is suitable for use in non-structural elements such as cyclope, pavement and masonry bare concrete. Through these results, it is hoped that it can be used as a reference to find the best workability from the use of MasterGlenium ACE 8595 superplasticizer for the implementation of appropriate construction
MODIFIKASI ALAT PERAGA IVA TES UNTUK MELAKUKAN KETERAMPILAN DETEKSI DINI KANKER SERVIKS
Background: The competence area that must be had by midwives is clinical skills in midwifery practice on women's reproductive health and sexuality services where midwife graduates must be able to know early detection, complications, and problems of women's reproductive health and sexuality. Phantom which is commonly used in IVA examination practice in the laboratory uses phantom that cannot describe the results of the examination interpretations. The phantom used only teaches the use of speculum and cannot show Squamo-columnar junction (SCJ), so it is necessary to develop a tool that can be used to perform IVA tests that can show portio before and after acetic acid. Research Objective: modify and utilize phantoms that are no longer feasible in a new teaching tool for the IVA Test practicum and test the feasibility of the developed tools. Method: This research is a development research that produces products with the One Shot Case Study method. Results: From the 35 respondents who participated in the field trial, the total questionnaire score obtained was 6,949 with a total ideal maximum score of 7,350. The percentage of eligibility obtained is 95%. Conclusion : Modification of IVA test examination props is Very Feasible to be used as IVA test props to perform cervix cancer early detection skills in a comprehensive application-based obstetric laboratory. It is recommended for all PLP in Indonesia to be able to develop creative and innovative ideas and ideas in the laboratory in utilizing teaching aids that are no longer suitable for use into new tools that increase the use value and benefits to support learning in the laboratoryLatar Belakang : Area kompetensi yang harus dimiliki oleh bidan adalah adalah keterampilan klinis dalam praktik kebidanan pada pelayanan kesehatan reproduksi dan seksualitas perempuan dimana lulusan bidan harus mampu melakukan deteksi dini, komplikasi dan masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas perempuan. Phantom yang biasa digunakan dalam praktik pemeriksaan IVA di laboratorium menggunakan phantom yang tidak dapat menggambarkan hasil interpretasi pemeriksaan. Phantom yang digunakan hanya mengajarkan penggunaan spekulum dan tidak dapat menunjukkan sambungan squamosa kolumnar, sehingga perlu dikembangkan alat yang dapat digunakan untuk melakukan pemeriksaan IVA Tes yang dapat menampakkan porsio sebelum dan sesudah diberikan asam asetat. Tujuan Penelitian : memodifikasi dan memanfaatkan phantom yang sudah tidak layak menjadi sebuah alat peraga baru untuk praktikum IVA Tes serta menguji Kelayakan dari alat yang dikembangkan. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menghasilkan produk dengan metode One Shot Case Study. Hasil : Dari 35 responden yang mengikuti pada uji coba lapangan, total skor kuesioner yang didapatkan sebesar 6.949 dengan total skor maksimal ideal 7.350. Prosentase kelayakan yang didapatkan sebesar 95%. Simpulan : Modifikasi alat peraga pemeriksaan IVA Tes Sangat Layak digunakan sebagai alat peraga IVA tes untuk melakukan keterampilan deteksi dini kanker serviks di laboratorium kebidanan yang komprehensif berbasis aplikasi. Direkomendasikan bagi seluruh PLP di Indonesia untuk dapat mengembangkan ide dan gagasan yang kreatif dan inovatif di laboratorium dalam memanfaatkan alat peraga yang sudah tidak layak pakai menjadi sebuah alat baru yang meningkatkan nilai guna dan manfaat untuk menunjang pembelajaran di laboratoriu
IMPLEMENTASI PROGRAM KETAHANAN PANGAN DALAM BIDANG PERTANIAN DI DESA MAYANG SARI
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan program ketahanan pangan, antara lain: pelaksanaan program ketahanan pangan bidang pertanian cabai merah di Desa Mayang Sari, penyebab belum optimalnya pelaksanaan program ketahanan pangan di desa tersebut. Berdasarkan penelitian pra penelitian diketahui bahwa Desa Mayang Sari merupakan desa yang pertama kali memulai program ketahanan pangan meskipun menggunakan dana dan tanah swasta serta tidak mendapat dukungan dari pemerintah desa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Jenis dan sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder yang sumbernya diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara kualitatif. Sedangkan teori yang digunakan adalah Teori Siagian mengenai hal-hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan suatu program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kriteria pelaksanaan program ketahanan pangan, yaitu: sasaran yang ingin dicapai, kebutuhan jangka waktu untuk menyelesaikan pekerjaan, biaya yang diperlukan, jenis kegiatan yang akan dilakukan, dan tenaga terampil dalam melaksanakan program ketahanan pangan. bidangnya masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa penerapannya belum efektif. Penyebab yang mempengaruhi pelaksanaan program ketahanan pangan sektor pertanian adalah pemerintah desa itu sendiri dan faktor alam.This research aims to examine the implementation of food resiliencecprograms, including: the implementation of food resilience programs in the field of red chili farming in Mayang Sari Village, the causes of not optimal implementation of food security programs in the village. Based on pre-research research, it is known that Mayang Sari Village was the village that started the food security program first even though it used private funds and land and did not receive support from the village government. This study used qualitative research methods. The types and sources of data in this research consist of primary data and secondary data whose sources were obtained through interviews and documentation, then analyzed qualitatively. Meanwhile, the theory used is Siagian Theory regarding things that must be considered in implementing a program. The results of the research show that there are criteria for implementing a food security program, namely: targets to be achieved, the need for a time period to complete the work, costs required, types of activities to be carried out, and skilled workers in their respective fields. This shows that it has not been implemented effectively. The causes that influence the implementation of food security programs in the agricultural sector are the village government itself and natural factors
Aktivitas Antibakteri Infusa Akar Bajakah (Spatholobus Littoralis Hassk) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus
Infectious diseases such as skin infections, respiratory tract infections and digestive tract infections are diseases caused by pathogenic microbes such as Staphylococcus aureus. Treatment for infectious diseases is by administering antibiotics and exploiting plants for alternative medicine. Bajakah root (Spatholobus littoralis Hassk) which has medicinal properties and has been used in traditional medicine. The aim of this research was to determine the potential of bajakah roots in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus. The research method used was to test the antibacterial activity of Bajakah root infusion using the dilution method by determining the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC). Bajakah root infusion was prepared with concentrations of 10 g/100 ml, 5 g/100 ml, 2.5 g/100 ml, 1.25 g/100 ml, 0.625 g/100 ml, 0.3125 g/100 ml, 0, 15625g/100ml. Research showed that the MIC test of Bajakah root infusion at various concentrations shows that turbidity due to the dark color of the infusion, so additional examination of the suspension using Gram staining was required. The results of Gram staining showed that the infusion at a concentration of 10; 5; 2.5 and 1.25 g/100 ml do not indicate the presence of bacteria. Meanwhile, the infusion concentration was 0.625; 0.3125 and 0.1625 g/100 ml contained bacteria. This shows that the MIC of Bajakah root infusion was 1.25 g/100 ml. MBC was carried out at a concentration of 10; 5; 2.5 and 1.25 g/100 ml however there ware colonies on solid media. It was indicated that MBC cannot be determined. The conclusion of this research is that Bajakah root infusion has activity to inhibit the growth of Staphylococcus aureus.Penyakit infeksi seperti infeksi kulit, infeksi saluran pernafasan, dan infeksi saluran pencernaan merupakan penyakit yang disebabkan oleh mikroba patogen seperti Staphylococcus aureus. Pengobatan penyakit infeksi adalah pemberian antibiotika dan juga dapat memanfaatkan tanaman untuk pengobatan alternatif. Salah satunya yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi penyakit infeksi adalah akar Bajakah (Spatholobus littoralis Hassk) yang memiliki khasiat obat dan telah digunakan dalam pengobatan tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi akar bajakah dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Metode penelitian yang digunakan adalah uji aktivitas antibakteri infusa akar bajakah metode dilusi melalui penentuan Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM). Infusa akar bajakah dibuat dengan konsentrasi 10 g/100 ml, 5 g/100 ml, 2,5 g/100 ml, 1,25 g/100 ml, 0,625 g/100 ml, 0,3125 g/100 ml, 0,15625 g/100 ml. Penelitian menunjukkan bahwa uji KHM infusa akar bajakah pada berbagai konsentrasi menunjukkan kekeruhan yang disebabkan oleh pekatnya warna infusa sehingga diperlukan pemeriksaan tambahan dari suspensi menggunakan Pewarnaan Gram. Hasil pewarnaan Gram menunjukkan bahwa infusa pada konsentrasi 10; 5; 2,5 dan 1,25 g/100 ml tidak menunjukkanadanya bakteri. Sedangkan pada konsentrasi infusa 0,625; 0,3125 dan 0,1625 g/100 ml terdapat bakteri yang tumbuh. Hal ini menunjukkan bahwa KHM infusa akar bajakah adalah 1,25 g/100 ml. Penentuan KBM dilakukan terhadap konsentrasi 10; 5; 2,5 dan 1,25 g/100 ml akan tetapi menunjukkan terbentuknya koloni bakteri pada media padat sehingga tidak dapat ditentukan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah infusa akar bajakah memiliki aktifitas untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus