Jurnal Universitas Abdurrab
Not a member yet
1637 research outputs found
Sort by
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Metanol Kulit Buah Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Dengan Metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrail)
The current developments affect many unhealthy lifestyles, such as smoking, lack of sleep, lack of exercise, environmental pollution, radiation, etc. If left unchecked, it will cause several diseases, one of which is cancer and coronary heart disease. Antioxidants are divided into two parts, natural antioxidants and synthetic antioxidants. Synthetic antioxidants in the form of BHA, BHT, PG when consumed continuously will cause side effects to the body, so natural antioxidants are needed which are easy to obtain and relatively inexpensive. We encounter many lime peels in Indonesia, but the processing is not optimal. This study aims to see whether the peel of lime fruit (Citrus aurantifolia) contains antioxidants. Determination of antioxidant levels in this study using the spectrophotometric method. This study used a quantitative descriptive analysis method, namely to calculate the levels of antioxidants in the peel of lime (Citrus aurantifolia). The maceration process was carried out three times for 24 hours. After that, filter the liquid to obtain the methanol extract by separating the thick extract using filter paper. Then, after examination using the Microplate reader LB-941, it was found that the concentration of antioxidants needed to inhibit free radicals by 50% is known as the IC50 value. Lime peel has an IC50 value of 88.2346 ppm. If the IC50 value is less than 50 ppm, a substance shows a very strong antioxidant. If the IC50 value is between 50 and 100 ppm, there will be strong antioxidant activity; if it is between 100 and 150 ppm, there will be moderate antioxidant activity; and if it is more than 150 ppm, the antioxidant activity is weak. This further shows the strong antioxidant activity of the methanol extract of lime peel which has an IC50 value of 88.2346 ppm.Perkembangan zaman saat ini banyak mempengaruhi pola hidup yang tidak sehat, seperti merokok, kurang tidur, kurang olahraga, polusi lingkungan, radiasi, dll. Dimana apabila dibiarkan akan menyebabkan beberapa penyakit salah satunya kanker dan jantung koroner. Antioksidan terbagi menjadi dua bagian antioksidan alami dan antioksidan sintetis. Antioksidan sintetis berupa BHA, BHT, PG apabila dikonsumsi secara terus menerus akan menimbulkan efek samping bagi tubuh, sehingga dibutuhkanlah antioksidan alami yang mudah didapat dan relatif murah. Kulit buah jeruk nipis banyak kita jumpai di indonesia namun pengolahannya belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah pada kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terdapat antioksidan. Penentuan kadar antioksidan pada penelitian ini menggunakan metode spektrofotometri. Penelitian ini menggunakan metode analisa deskriptif kuantitatif yaitu untuk menghitung kadar antioksidan pada kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia). Dilakukan proses maserasi selama tiga kali 24 jam Setelah itu, saring cairan untuk mendapatkan ekstrak metanol dengan cara memisahkan ekstrak kentalnya menggunakan kertas saring. Kemudian, setelah dilakukan pemeriksaan menggunakan Microplate reader LB-941 didapatkan konsentrasi zat antioksidan yang diperlukan untuk menghambat radikal bebas sebesar 50% dikenal dengan nilai IC50. Kulit jeruk nipis memiliki nilai IC50 sebesar 88,2346 ppm. Jika nilai IC50 kurang dari 50 ppm, suatu zat menunjukkan antioksidan yang sangat kuat. Jika nilai IC50 antara 50 dan 100 ppm, akan terjadi aktivitas antioksidan yang kuat; jika antara 100 dan 150 ppm, akan ada aktivitas antioksidan sedang; dan jika lebih dari 150 ppm, aktivitas antioksidannya lemah. Hal ini semakin menunjukkan kuatnya aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol kulit jeruk nipis yang memiliki nilai IC50 88,2346 ppm
Perbandingan Kadar Air dan NaCl Buah Nenas dan Keripik Nenas
Pineapple (Ananas comosus L.) is a tropical fruit that is widely grown in the village of Kualu Nanas, Kampar, Riau. Pineapple chips are foods made from ripe pineapple flesh, cut or sliced and fried using oil in a vacuum. This study aims to obtain organoleptic test results and water content and NaCl content in pineapple fruit and pineapple chips. The method of determining the water content is gravimetric while the NaCl content uses the argentometric titration method. The organoleptic test on pineapple chips complied with the requirements of SNI 01-4304-1996, namely characteristic odor, sweet-sour taste, normal color, crunchy texture, while the integrity of pineapple chips was only 80%. The average water content of pineapple is 88.68%, while the average pineapple chips is 3.88% and this fulfills the requirements of SNI 01-4304-1996. The average NaCl level in pineapple is 0.0481%, and in pineapple chips the average NaCl level is 0.9359%.Nanas (Ananas comosus L.) merupakan buah tropis yang banyak ditanam di desa Kualu Nanas, Kampar, Riau. Keripik nanas adalah makanan yang terbuat dari daging buah nanas masak, dipotong atau disayat dan digoreng menggunakan minyak secara vakum. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh hasil uji organoleptik dan kadar air serta kadar NaCl pada buah nanas dan keripik nanas. Metode penetapan kadar air secara gravimetri sedangkan kadar NaCl menggunakan metode titrasi argentometri. Uji organoleptik pada keripik nanas memenuhi persyaratan SNI 01-4304-1996 yaitu bau khas, rasa manis asam, warna normal, tekstur renyah, sedangkan keutuhan keripik nanas hanya sebesar 80%. Kadar air buah nanas didapatkan rata-rata 88,68%, sedangkan rata-rata pada keripik nanas 3,88% dan ini memenuhi persyaratan SNI 01-4304-1996. Rata-rata kadar NaCl pada buah nanas sebesar 0,0481%, dan pada keripik nanas kadar NaCl rata-rata 0,9359%
Pengaruh Pemberian Seduhan Serbuk Kayu Manis (Cinnamomun burmani Bi) Terhadap Penurunan Glukosa Darah Sewaktu
Cinnamon (Cinnamomun burmanii BI) can treat diabetes mellitus because it contains flavonoid compounds. The efficacy of flavonoids has been widely studied and scientifically proven to have a significant effect on lowering blood sugar levels. This study aims to determine the effect of steeping cinnamon powder (Cinnamomun Burmanii BI) on decreasing blood glucose levels while. The method used is pre and post sampling method. The results of research that have been conducted on the effect of steeping cinnamon powder (Cinnamomun burmani BI) on blood glucose reduction while at the PUSTU Cinta Damai Village, Tapung Hilir District, Kampar Regency, which was given for 14 days, the average blood glucose results before giving cinnamon powder steeping (Cinnamomum burmani BI) was 500.90 mg/dL and after infusion of cinnamon powder (Cinnamomun burmani BI) was 448.40 mg/dL. The average difference in blood glucose before and after the administration of cinnamon powder (Cinnamomun burmani BI) was 52,500 mg/dL. The results of the dependent paired t test (t test) obtained a P-value of 0.000 (P-value <0.05), this means that statistically there is an effect of steeping cinnamon powder (Cinnamomun burmani BI) on decreasing blood glucose while at PUSTU Cinta Damai Village, District Tapung Hilir, Kampar Regency.Tanaman kayu manis (Cinnamomun burmanii BI) dapat mengatasi diabetes melitus karena mengandung senyawa flavonoid. Sudah banyak diteliti khasiat dari flavonoid dan terbukti secara ilmiah memiliki pengaruh yang bermakna pada penurunan kadar gula darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh seduhan serbuk kayu manis (Cinnamomun Burmanii BI) terhadap penurunan kadar glukosa darah sewaktu. Metode yang digunakan adalah metode pre dan post sampling. Hasil penelitian yang telah dilakukan tentang pengaruh pemberian seduhan serbuk kayu manis (Cinnamomun burmani BI) terhadap penurunan glukosa darah sewaktu di PUSTU Desa Cinta Damai Kecamatan Tapung Hilir Kabupaten Kampar yang diberikan selama 14 hari didapatkan hasil rerata glukosa darah sewaktu sebelum pemberian seduhan serbuk kayu manis (Cinnamomun burmani BI) yaitu 500,90 mg/dL dan sesudah sesudah pemberian seduhan serbuk kayu manis (Cinnamomun burmani BI) yaitu 448,40 mg/dL. Selisih rerata glukosa darah sewaktu sebelum dan sesudah pemberian seduhan serbuk kayu manis (Cinnamomun burmani BI) yaitu adalah 52,500 mg/dL. Hasil uji dependent paired t test (uji t) diperoleh Pvalue sebesar 0.000 (Pvalue < 0,05), hal ini berarti secara statistik terdapat pengaruh pemberian seduhan serbuk kayu manis (Cinnamomun burmani BI) terhadap penurunan glukosa darah sewaktu di PUSTU Desa Cinta Damai Kecamatan Tapung Hilir Kabupaten Kampar
Penerapan Metode Story Telling dalam Peningkatan Meaning Of Life pada Lansia di Day Care Aisyiyah Pekanbaru
Increasing Life Expectancy resulted in a significant increase in the number of elderly people. This condition requires quality elderly, namely elderly who are healthy, independent, active and productive. The older you get, the more likely a person is to experience physical and psychosocial problems. The psychosocial crisis experienced by the elderly can also cause an elderly person to experience a decrease in the meaning of his life. Even though the meaning of life is a fundamental need for everyone, including the elderly. One of the non-pharmaceutical intervention methods used to increase happiness and well-being in the elderly is storytelling. This study aims to apply the story telling method in increasing the meaning of life in the elderly. This type of quantitative research is one group pre-test post-test experiment with a cross-sectional approach. The population of all elderly people in Aisyiyah Riau Day Care March-April 2023 is 17 people. Data were collected using a questionnaire and analyzed univariately and bivariately with the Wilcoxon Signed Rank Test. Based on the research, it is known that there is an increase in the mean value (average value) of respondents in the pretest is 53.776 and the average value of respondents in the posttest is 60.7776. Based on bivariate analysis using the Wilcoxon sign rank test, it is known that there is a significant difference between the pretest and posttest results with a Z value: -2.731 with a P value (A-symp.Sig 2 tailed) 0.006
.Meningkatnya Umur Harapan Hidup (UHH) mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) secara signifikan. kondisi ini membutuhkan lansia berkualitas, yaitu lansia yang sehat, mandiri, aktif dan produktif. Makin bertambah usia, makin besar kemungkinan seseorang mengalami permasalahan fisik dan psikososial. Krisis psikososial yang dialami lansia juga dapat mengakibatkan seorang lansia mengalami penurunan dalam memaknai hidupnya. Padahal kebermaknaan hidup (meaning of life) merupakan suatu kebutuhan fundamental bagi setiap orang termasuk lansia. Salah satu metode intervensi non farmasi yang digunakan untuk meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan pada lansia adalah story telling (mendongeng). Penelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan metode story telling dalam peningkatan meaning of life pada lansia. Jenis penelitian kuantitatif eksperimen one group pre-test post test dengan pendekatan cross sectional. Populasi seluruh Lansia di Day Care Aisyiyah Riau Maret-April 2023 sebanyak 17 orang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisa secara univariate dan bivariate dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa terjadi peningkatan nilai mean (nilai rata-rata) responden pada pretest adalah 53.776 dan pada nilai rata-rata responden pada posttest adalah 60.7776. Berdasarkan analisa bivariate dengan menggunakan uji Wilcoxon sign rank test, diketahui bahwa terdapat perbedaan bermakna antara hasil pretest dan posttest dengan nilai Z: -2.731 dengan P value (A-symp.Sig 2 tailed) 0,006.
 
OPTIMALISASI TUMBUH KEMBANG BALITA DENGAN MEMANFAATKAN BUKU KIA DAN PENERAPAN METODE SDIDTK DI KECAMATAN ABUNG SELATAN LAMPUNG UTARA
Stunting is a health problem due to insufficient nutritional intake during the first thousand days of life (HPK). One of the causes of stunting in Lampung Province is not optimal balanced nutritional intake and low coverage of Stimulation for Early Detection and Intervention of Growth and Development in Toddlers. North Lampung Regency is one of the six stunting locus districts in Lampung Province. The high stunting rate and low SDIDTK coverage in North Lampung Regency are caused by the low nutritional intake of toddlers and the lack of knowledge of cadres and mothers of toddlers about SDIDTK. This community service activity aims to empower the community (health cadres) to optimize the growth and development of toddlers by using the KIA Book and essential nutrition during the Golden Age Period. The community service activity method uses a process approach starting from planning, implementation, and evaluation which is carried out intercollaborative. Activities include specific promotive and preventive efforts to increase SDIDTK coverage and the nutritional status of children under five. The results of this activity increased the understanding of Posyandu cadres in monitoring the growth and development of toddlers, the existence of Posyandu cadres' efforts to overcome nutritional problems for toddlers, and good use of yard land by families to support food security.Stunting merupakan masalah kesehatan yang terjadi akibat kurangnya asupan gizi pada seribu hari pertama kehidupan (HPK). Salah satu penyebab terjadinya stunting di Provinsi Lampung adalah belum optimalnya asupan gizi seimbang dan rendahnya cakupan Stimulasi Deteksi Dini dan Intervensi Tumbuh Kembang (SDDITK) pada Balita. Kabupaten Lampung Utara merupakan salah satu dari enam kabupaten lokus stunting di Provinsi Lampung. Tingginya angka stunting dan rendahnya cakupan SDIDTK di Kabupaten Lampung Utara disebabkan oleh rendahnya asupan gizi balita dan kurangnya pengetahuan kader dan ibu balita tentang SDIDTK. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memberdayakan masyarakat (kader kesehatan) dalam mengoptimalkan tumbuh kembang balita dengan memanfaatkan Buku KIA dan gizi esensial pada Masa Golden Age. Metode kegiatan pengabdian kepada masyarakat menggunakan pendekatan proses mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang dilakukan secara interkolaboratif. Kegiatan yang dilakukan meliputi: upaya promotif dan preventif khusus untuk meningkatkan cakupan SDIDTK dan status gizi balita. Hasil dari kegiatan ini meningkatkan pemahaman kader Posyandu dalam memantau tumbuh kembang balita, adanya upaya kader Posyandu dalam melakukan langkah-langkah mengatasi masalah gizi pada balita dan pemanfaatan lahan pekarangan oleh keluarga dengan baik untuk menunjang ketahanan pangan
Benarkah Empati dapat menurunkan Bystander Effect Pada Remaja?
Bystander Effect adalah pengurangan perilaku menolong yang disebabkan adanya kehadiran orang lain. Faktor yang mempengaruhi bystander effectadalah empati. Empati adalah kemampuan untuk memahami kondisi dan ikut merasakan sebagian emosional orang lain. Penelitian ini ingin melihathubungan antara empati dengan bystander effect pada remaja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan analisis regresi berganda. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 200 remaja yang berusia 10- 21 tahun (41 laki-laki dan 159 perempuan) dengan menggunakan teknik quota sampling. Penelitian menemukan terdapat hubungan yang signifikan antara empati dengan bystander effect yang menunjukkan bahwa semakin tinggi empati makan semakin rendah bystander effect dan bila empati rendah maka bystander effect akan tinggi. Penelitian ini dapat menjadi masukkan untuk menurunkan perilaku bystander effect dengan cara meningkatkan empati baik dari aspek afektif maupun aspek kognitif
Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Dengan Perilaku Pencegahan Covid-19 Pada Pengendara Ojek Online Di Kota Pekanbaru
COVID-19 is a disease that attacks the respiratory tract which was first discovered in December 2019 to April 2022with a total of 6,046,0467 cases of people experiencing COVID-19, as many as 156,240 people died from COVID-19. This preventive behavior is influenced by the knowledge and attitudes of online motorcycle taxi drivers. Onlinemotorcycle taxi drivers are at high risk of experiencing COVID-19, this is due to mobilization and the high risk ofcontact with passengers. The knowledge, attitude, and behavior of online motorcycle taxi drivers regarding theprevention of COVID-19 is still the main thing to prevent transmission of COVID-19 during this pandemic.Objective: To find out the relationship between knowledge and attitudes to COVID19 prevention behavior amongonline motorcycle taxi drivers in Pekanbaru City.Methods: This study used an observational study design. analyticwith cross-sectional research design. The sampling technique was carried out by accidental sampling on onlinemotorcycle taxi drivers in Pekanbaru and statistically tested using a sperm test. The population of this studyamounted to 59 respondents.Results: There was a relationship between knowledge and COVID-19 prevention behavior among onlinemotorcycle taxi drivers in Pekanbaru in 2022 (p-value 0.000; r 0.444), with a moderate strength of relationship and apositive direction of association. There was a relationship between attitude and COVID-19 prevention behavioramong online motorcycle taxi drivers in Pekanbaru in 2022 (p-value 0.000; r 0.605), with a strong strength ofrelationship and a positive direction of association.COVID-19 merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan yang ditemukan pertama kali pada bulanDesember 2019 hingga bulan April 2022. Terhitung sebanyak 6.046.0467 kasus orang mengalami COVID-19,dimana sebanyak 156.240 orang meninggal dunia akibat COVID-19. Perilaku pencegahan COVID-19 dipengaruhioleh pengetahuan dan sikap pengendara ojek online. Pengendara ojek online, di kota Pekanbaru berisiko tinggimengalami COVID-19, hal ini dikarenakan mobilisasi dan besarnya risiko kontak dengan penumpang. Pengetahuan,sikap dan perilaku pengendara ojek online terhadap pencegahan COVID-19 masih menjadi hal yang utama untukmencegah penularan COVID-19 di masa pandemi ini. Tujuan: Mengetahui hubungan pengetahuan dan sikapdengan perilaku pencegahan COVID-19 pada pengendara ojek online di Kota Pekanbaru. Metode: Penelitian inimenggunakan desain studi observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Teknik pengambilansampel dilakukan dengan cara accidental sampling pada pengendara ojek online di Pekanbaru dan diuji secarastatistik menggunakan uji sperman. Populasi penelitian ini berjumlah 59 responden. Hasil: Terdapat hubunganpengetahuan dengan perilaku pencegahan COVID-19 pengendara ojek online di Pekanbaru Tahun 2022 (p-value 0,000; r 0,444) dengan kekuatan hubungan sedang dan arah hubungan positif. Terdapat hubungan sikap dan perilakupencegahan COVID-19 pengendara ojek online di Pekanbaru Tahun 2022 (p-value 0,000; r 0,605) dengan kekuatanhubungan kuat dan arah hubungan positif
DERMATITIS ATOPI FASE INFATIL: SEBUAH LAPORAN KASUS
Atopic dermatitis (DA) is skin inflammation in the form of recurrent inflammation, accompanied by itching, and affecting certain parts of the body, especially the face in babies (infantile phase) and the flexural parts of the extremities (in childhood phase). Atopic dermatitis often occurs in babies and children, and around 50% disappear by adolescence, sometimes it can persist, or even only start to appear in adulthood. The disorder can occur at any age, and is one of the most common diseases in infants and children, as many as 45% occur in the first 6 months of life. Atopy is a genetically determined condition manifested by a familial predisposition to allergic disorders such as asthma, hay fever, and urticaria. The case of a 6-month-old baby boy has been reported with symptoms of reddish spots accompanied by itching on the left cheek, both groins, and on the left hand. The patient has been given appropriate treatment.Dermatitis atopik (DA) adalah peradangan kulit berupa peradangan residif, disertai rasa gatal, dan mengenai bagian tubuh tertentu terutama di wajah pada bayi (fase infantil) dan bagian fleksural ekstremitas (pada fase anak). Dermatitis atopik kerap terjadi pada bayi dan anak, sekitar 50% menghilang pada saat remaja, kadang dapat menetap, atau bahkan baru mulai muncul saat dewasa. Kelainan dapat terjadi pada semua usia, merupakan salah satu penyakit tersering pada bayi dan anak, sebanyak 45% terjadi pada 6 bulan pertama kehidupan. Atopi adalah kondisi yang ditentukan secara genetis dan dimanifestasikan oleh kecenderungan keluarga untuk mengalami kelainan alergi seperti asma, demam, dan urtikaria. Telah dilaporkan kasus seorang bayi laki-laki berusia 6 bulan dengan gejala bercak kemerahan disertai rasa gatal di pipi kiri, kedua lipat paha, dan di tangan kiri. Pada pasien telah diberikan tatalaksana yang sesuai
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN JENIS MAKANAN YANG DI KONSUMSI UNTUK MENCEGAH ANEMIA PADA REMAJA DI PEKANBARU
Adolescence requires a balanced nutritional intake for growth and development, one of which is iron. Teenage girls really need iron during menstruation. Iron deficiency can increase the risk of anemia, namely a lack of red blood cells or hemoglobin (Hb), this condition makes people with anemia look pale, tired and weak, and can continue into adulthood and affect conditions during pregnancy. This study aims to determine the relationship between knowledge and the type of food consumed to prevent anemia in adolescents in Pekanbaru. This research is quantitative analytic with a cross-sectional research design. This research was conducted at SMAN 8 Pekanbaru, the sample was taken by purposive sampling. The number of samples as many as 65 respondents. The analysis was carried out univariate and bivariate. The results of the study showed that the majority of young women's knowledge was good as many as 40 people (61.5%), the majority consumed foods containing a lot of heme iron as many as 49 people (75.4%). The results of the univariate analysis of the majority of respondents have good knowledge about anemia as many as 40 people (61.5%) and the majority of young women consume foods that contain a lot of iron as many as 49 people (75.4%). The results of bivariate analysis using chi square obtained P value = 0.01 < 0.05, this means that there is a relationship between knowledge about anemia and the type of food consumed by young women. It is recommended for schools to work together with the Health and often conduct counseling and distribution of free Fe tablets and disseminate information about anemia in school maddings so that all young girls always remember the importance of consuming foods containing iron to avoid anemiaUsia remaja membutuhkan asupan gizi yang seimbang unuk masa pertumbuhan dan perkembangan, salah satu nya adalah zat besi. Remaja putri sangat membutuhkan zat besi pada saat menstruasi. Kekurangan zat besi dapat berisiko anemia yaitu kurangnya sel darah merah atau hemoglobin (Hb), kondisi ini membuat penderita anemia terlihat pucat, lelah dan lemah, serta dapat berlanjut hingga dewasa dan berpengaruh pada kondisi saat hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan jenis makanan yang dikonsumsi untuk mencegah anemia pada remaja di pekanbaru. Penelitian ini bersifat kuantitatif analitik dengan desain penelitian Crosssectional, Penelitian ini dilakukan di SMAN 8 Pekanbaru, sampel diambil dengan cara purposive sampling. Jumlah sampel yang sebanyak 65 orang responden. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil dari penelitian diperoleh bahwa pengetahuan remaja putri mayoritas baik sebanyak 40 orang (61,5%), mayoritas mengkonsumsi makanan mengandung banyak zat besi heme sebanyak 49 orang (75,4%). Hasil analisis univariat mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik tentang anemia sebanyak 40 orang (61,5%) dan mayoritas remaja putri mengkonsumsi jenis makanan mengandung banyak zat besi sebanyak 49 orang (75,4%). Hasil anlaisis bivariat menggunakan chi square di dapatkan nilai P value = 0,01 < 0,05, maka ini berarti terdapat hubungan antara pengetahuan tentang anemia dengan jenis makanan yang dikonsumsi remaja putri. Di rekomendasikan kepada pihak sekolah untuk bekerja sama dengan pihak Kesehatan dan sering melakukan penyuluhan serta pembagian tablet Fe gratis dan menyebarkan informasi seputar anemia di madding sekolah agar seluruh remaja putri selalu mengingat akan pentingnya mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi agar terhindar dari anemia
EFEKTIFITAS BREAST CARE TERHADAP PRODUKSI ASI DI KOTA PEKANBARU
Breastfeeding is the best investment for survival and improving the health, social, economic development of individuals and nations. Post partum breast care is breast care for mothers after giving birth as early as possible. The benefits of post partum breast care include launching the milk expulsion reflex or let down reflex, effective ways to increase the volume of expressed breast milk, and preventing dams in the breasts/swollen breasts. The purpose of this study was to determine the effectiveness of Breastcare in breastfeeding mothers on milk production.This type of research is quantitative with a quacy experimental research design with a two group pretest-posttest design where this design measures the amount of breast milk that is massaged with those who are not massaged (pretest) and reassessed after the massage (pretest). This research will be conducted in the Work Area of the Rumbai Health Center. The time of the study was carried out from February to June 2022. . the sample group to be taken is 11 people with a total of 22 people. The study was conducted for 7 days by giving breastcare for 7 times and then the milk production was seen on the 8th day. The results of data analysis using independent t test in table 6 above show that the average milk production in the postpartum breast care group is smoother than the group without postpartum breast care, namely 6.84 > 3.72 and the thit value > ttab (16.47 > 1.691) or the value of : 0.000 <0.05, which means that Postpartum Breastcare is effective in increasing breast milk production in breastfeeding mothers. Breastcare can be used as a recommendation as an addition to routine care for postpartum and breastfeeding mothers to help succeed in exclusive breastfeeding.Menyusui merupakan investasi terbaik untuk kelangsungan hidup serta meningkatkan kesehatan, perkembangan sosial, ekonomi individu dan bangsa. Breast care post partum adalah perawatan payudara pada ibu setelah melahirkan sedini mungkin. Manfaat breast care post partum antara lain melancarkan refleks pengeluaran ASI atau refleks let down, cara efektif meningkatkan volume ASI peras/perah, serta mencegah bendungan pada payudara/payudara bengkak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas Breastcare pada ibu menyusui terhadap produksi ASI. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian quacy eksperiment dengan rancangan two group pretest-posttest design mana rancangan ini dilakukan pengukuran jumlah banyak ASI yang dilakukan pemijatan dengan yang tidak dilakukan pemijatan (pretest) dan dinilai kembali setelah dilakukan pemijatan (pretest). Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Rumbai. Waktu penelitian dilaksanakan di bulan Februari sampai bulan Juni 2022. kelompok sampel yang akan diambil adalah 11 orang dengan jumlah total menjadi 22 orang. Penelitian dilakukan 7 hari dengan memberikan breastcare selama 7 x lalu dilihat babagaimana produksi ASInya pada hari ke-8. Hasil analisis data dengan independent t test pada tabel 6 di atas menunjukkan bahwa rata –rata produksi ASI pada kelompok breastcare postpartum lebih lancar dibandingkan dengan kelompok tanpa breast care postpartum yaitu 6.84 > 3.72 serta nilai thit > ttab (16.47 > 1.691) atau nilai ρ : 0,000 < 0,05 yang artinya Breastcare Postpartum efektif meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui. Breastcare dapat dijadikan rekomendasi sebagai tambahan perawatan rutin bagi ibu nifas dan menyusui untuk membantu keberhasilan dalam pemberian ASI Ekslusif