Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
Not a member yet
    111 research outputs found

    Kualifikasi Kedewasaan Iman Dalam Pernikahan Kristen Untuk Meminimalkan Perceraian

    No full text
    Marriage is an institution that is considered sacred and essential in various faiths, including in the Christian perspective. However, the phenomenon of divorce is still a reality faced by many married couples. This phenomenon raises questions about the elements that influence the sustainability of marriage. This study offers a Christian perspective to minimize divorce by highlighting the importance of the maturity qualification of faith in Christian marriage. Through a literature study focusing on description, this article analyzes the relationship between the maturity of faith and Christian marriage and the protective factors of marriage against divorce. The findings show that the maturity of faith plays an essential role in building a strong marriage relationship. The implication of this paper is the importance of developing faith maturity in nurturing Christian marriage relationships as a preventive measure against divorce.Pernikahan merupakan institusi yang dianggap sakral dan penting dalam berbagai kepercayaan, termasuk dalam perspektif Kristen. Namun, fenomena perceraian masih menjadi kenyataan yang dihadapi banyak pasangan suami istri. Sehingga memunculkan pertanyaan mengenai elemen-elemen yang memengaruhi keberlangsungan pernikahan. Penelitian ini bertujuan menawarkan perspektif Kristen untuk meminimalisasi perceraian dalam rumah tangga, dengan menyoroti pentingnya kualifikasi kedewasaan iman dalam pernikahan Kristen. Melalui metode kualitatif dengan fokus pada deskripsi literatur, artikel ini menganalisis hubungan antara kedewasaan iman dan pernikahan Kristen, serta faktor-faktor pelindung pernikahan terhadap perceraian. Temuan menunjukkan bahwa kedewasaan iman memainkan peran penting dalam membangun hubungan pernikahan yang kuat. Implikasi dari tulisan ini adalah pentingnya pengembangan kedewasaan iman dalam memelihara hubungan pernikahan Kristen, sebagai langkah preventif terhadap perceraian

    NILAI-NILAI PANCASILA DALAM TRADISI KENDURI SEBAGAI SARANA MEMPERKUAT SOLIDARITAS ANTAR UMAT BERAGAMA

    No full text
    This study focuses on the Kenduri tradition in Serang Village, at the foothills of Mount Slamet, Purbalingga, Indonesia, as an effort to strengthen interfaith community solidarity. The research addresses the issue of intolerance and religion-based conflicts that contradict Pancasila's values. The study aims to analyze how the Kenduri tradition contributes to the implementation of Pancasila values in community life. The research employs a qualitative method with a realist ethnographic approach. Data were collected through direct observations of the Kenduri tradition and virtual interviews with residents. Secondary data were sourced from relevant literature. The analysis connects field findings with theories of interreligious engagement (Izak Lattu), social solidarity (Emile Durkheim), and religiosity (John Titaley). The findings reveal that the Kenduri tradition reflects Pancasila values, including divinity through interfaith collective prayers, humanity through equality and empathy, unity through interfaith cooperation, democracy through deliberation, and justice through equitable roles and benefits. This tradition strengthens mechanical solidarity through shared occupations and organic solidarity through the division of labour. In conclusion, the Kenduri tradition effectively enhances interfaith community solidarity in the foothills of Mount Slamet, supporting Pancasila's goal of fostering harmony. The study recommends preserving local traditions as a means to build solidarity within multicultural communities.Penelitian ini berfokus pada tradisi Kenduri di Desa Serang, kaki Gunung Slamet, Purbalingga, Indonesia, sebagai upaya memperkuat solidaritas masyarakat lintas agama. Masalah yang diangkat adalah intoleransi dan konflik bernuansa agama yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi tradisi Kenduri terhadap penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi realis. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap tradisi Kenduri dan wawancara virtual dengan masyarakat setempat. Data sekunder diperoleh dari literatur yang relevan. Analisis dilakukan dengan mengaitkan temuan lapangan dengan teori interreligious engagement (Izak Lattu), solidaritas sosial (Emile Durkheim), dan religiositas (John Titaley). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Kenduri mencerminkan nilai-nilai Pancasila, termasuk nilai ketuhanan melalui doa bersama lintas agama, nilai kemanusiaan dalam kesetaraan dan empati, nilai persatuan dalam kerja sama lintas agama, nilai kerakyatan dalam musyawarah, dan nilai keadilan dalam pembagian peran dan manfaat. Tradisi ini tidak hanya memperkuat solidaritas mekanik melalui kesamaan pekerjaan tetapi juga solidaritas organik melalui pembagian tugas. Kesimpulannya, tradisi Kenduri efektif memperkuat solidaritas masyarakat lintas agama di kaki Gunung Slamet, mendukung tujuan Pancasila dalam menciptakan keharmonisan. Penelitian ini merekomendasikan pelestarian tradisi lokal sebagai sarana membangun solidaritas masyarakat multikultural

    Karya Penyelamatan Yesus dan Kebebalan Manusia Pendosa Menurut Lukas 23:39

    No full text
    This article discusses human obstinacy towards sin and the blasphemy against Jesus Christ based on Luke 23:39, with the aim of providing a theological understanding of Jesus' crucifixion and its relevance to the lives of believers. The research employs a literature review method to examine theological literature, books, journals, and primary sources. The findings indicate that sin has a strong influence that causes human obstinacy, leading to blindness to truth and goodness, as seen in the criminal crucified alongside Jesus. This obstinacy prevents individuals from recognizing the salvation offered through Jesus Christ. The research emphasizes the importance of confessing sins and repentance as the path to salvation and peace with God. Jesus' crucifixion is a redemptive act that brings freedom, peace, and joy to those who believe and accept Him. In conclusion, believers must live in repentance and accept salvation from Jesus.Artikel ini membahas kebebalan manusia terhadap dosa dan penghujatan terhadap Yesus Kristus berdasarkan Lukas 23:39, dengan tujuan memberikan pemahaman teologis tentang penyaliban Yesus dan relevansinya bagi kehidupan orang percaya. Penelitian menggunakan metode studi pustaka untuk mengkaji literatur teologis, buku, jurnal, dan sumber-sumber pustaka utama terkait. Temuan penelitian menunjukkan bahwa dosa memiliki kuasa kuat yang menyebabkan kebebalan manusia, mengakibatkan buta terhadap kebenaran dan kebaikan, seperti yang terlihat pada penjahat yang disalibkan bersama Yesus. Kebebalan ini menghalangi manusia melihat keselamatan yang ditawarkan melalui Yesus Kristus. Penelitian menekankan pentingnya pengakuan dosa dan pertobatan sebagai jalan menuju keselamatan dan perdamaian dengan Allah. Penyaliban Yesus adalah tindakan penebusan yang membawa kebebasan, kedamaian, dan sukacita bagi mereka yang percaya dan menerima-Nya. Kesimpulannya, orang percaya harus hidup dalam pertobatan dan menerima keselamatan dari Yesus

    EVOLUSI METODE PENGAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

    No full text
    This study examines the evolution of teaching methods in Christian Religious Education within the digital era, marked by technological advancements. The research focuses on balancing the preservation of Christian faith traditions with the adoption of future technologies. A qualitative methodology with a thematic approach is employed to critically analyze the challenges and opportunities of integrating technology into religious education. Technologies such as online learning and artificial intelligence offer significant potential to enrich Christian religious education, yet they also present ethical and theological challenges. This article identifies innovative strategies that harmonize traditional pedagogical approaches with technological innovations without compromising spiritual depth and theological values. The findings reveal that the application of technology in Christian Religious Education must consider a balance between practical aspects and the essence of faith, ensuring the relevance of learning for the digital generation while maintaining the integrity of Christian teachings. These findings contribute to developing a holistic and transformative educational model in the modern era.Paper ini mengkaji evolusi metode pengajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam konteks era digital yang ditandai oleh perkembangan teknologi. Fokus penelitian adalah menyeimbangkan antara pelestarian tradisi iman Kristiani dengan adopsi teknologi masa depan. Penggunaan metode kualitatif dengan pendekatan tematik digunakan untuk menganalisis secara kritis tantangan dan peluang yang muncul dalam integrasi teknologi ke dalam pendidikan agama. Teknologi, seperti pembelajaran daring dan kecerdasan buatan (AI), menawarkan potensi besar untuk memperkaya proses pembelajaran PAK, namun juga memunculkan tantangan etis dan teologis. Artikel ini mengidentifikasi strategi inovatif yang mampu mengharmonisasikan pendekatan pedagogis tradisional dengan inovasi teknologi tanpa mengurangi kedalaman spiritual dan nilai-nilai teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknologi dalam PAK harus mempertimbangkan keseimbangan antara aspek praktis dan esensi iman, guna memastikan relevansi pembelajaran bagi generasi digital, sekaligus mempertahankan integritas ajaran kristiani. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan model pendidikan yang holistik dan transformatif di era moder

    HARMONI PREDATOR DAN MANGSA

    No full text
    This research examines the application of the concept of peace in Isaiah 11:6-8 to foster interfaith reconciliation in Indonesia, which faces various religious conflicts. The subjects of the study include the symbolism in the biblical text and its application in a modern context. The aim of the research is to explore the theological meaning of the text and its relevance in creating harmony among religious groups. The research employs hermeneutics and literature study methods to analyze the meaning of the text. Data collection techniques involve analyzing historical context, text structure, and theological perspectives. The findings reveal that the symbolism of predator and prey illustrates the potential for reconciliation and harmony that can be applied to address religious conflicts. The conclusion emphasizes that the message of peace in Isaiah 11:6-8 is highly relevant and can serve as a foundation for reconciliation initiatives, significantly contributing to theological studies and peace practices in a multicultural society.Penelitian ini mengkaji penerapan konsep perdamaian dalam Yesaya 11:6-8 untuk membangun rekonsiliasi antaragama di Indonesia, yang menghadapi berbagai konflik agama. Subjek penelitian mencakup simbolisme dalam teks Alkitab dan aplikasinya dalam konteks modern. Tujuan penelitian adalah untuk menggali makna teologis dari teks tersebut dan relevansinya dalam menciptakan harmoni antar kelompok agama. Metode penelitian yang digunakan adalah hermeneutik dan studi literatur untuk menganalisis makna teks. Teknik pengambilan data dilakukan melalui analisis konteks historis, struktur teks, dan pandangan teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol predator dan mangsa menggambarkan potensi rekonsiliasi dan harmoni yang dapat diterapkan untuk mengatasi konflik agama. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa pesan perdamaian dalam Yesaya 11:6-8 sangat relevan dan dapat berfungsi sebagai dasar untuk inisiatif rekonsiliasi, serta memberikan kontribusi signifikan bagi studi teologi dan praktik perdamaian dalam masyarakat multikultural

    Kajian Teologis Tentang Kepemimpinan Yang Berintegritas Serta Relevansinya Bagi Gereja Masa Kini

    No full text
    This study discusses the importance of integrity in church leadership and its impact on congregational trust, morality, and spiritual development. The main focus is understanding the essence of church leadership with integrity through analyzing biblical texts, Christian ethics, and spiritual values in Christian teachings. This research aims to identify the theological foundation that depicts honest leadership and explore its application to the contemporary church. The research method used is a literature review. The findings indicate that integrity is a primary aspect of successful church leadership. Leaders with integrity reflect the character of Christ, adhere to moral and spiritual values, and positively impact the congregation's spiritual growth. However, maintaining integrity amidst modern dynamics is a challenge that requires wise adaptation. In conclusion, integrity in church leadership is a crucial element for spiritual growth and congregational unity. Church leaders with integrity can maintain unity and trust and face modern challenges wisely, contributing valuable insights to developing relevant and effective church leadership models.Penelitian ini membahas pentingnya integritas dalam kepemimpinan gereja serta dampaknya terhadap kepercayaan jemaat, moralitas, dan perkembangan spiritual. Fokus utama penelitian adalah memahami hakikat kepemimpinan gereja yang berintegritas melalui analisis teks-teks alkitabiah, etika Kristen, dan nilai-nilai spiritual dalam ajaran Kristen. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi landasan teologis yang menggambarkan kepemimpinan yang jujur dan mengeksplorasi penerapannya bagi gereja masa kini. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integritas adalah aspek utama dari kepemimpinan gereja yang sukses. Pemimpin yang berintegritas mencerminkan karakter Kristus, memegang teguh nilai-nilai moral dan spiritual, serta memberikan dampak positif bagi pertumbuhan rohani jemaat. Namun, menjaga integritas di tengah dinamika modern adalah tantangan yang memerlukan adaptasi bijak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa integritas dalam kepemimpinan gereja adalah elemen kunci untuk pertumbuhan rohani dan kesatuan jemaat. Pemimpin gereja yang berintegritas dapat menjaga kesatuan, kepercayaan, dan menghadapi tantangan modern dengan bijaksana, serta memberikan kontribusi berharga dalam pengembangan model kepemimpinan gereja yang relevan dan efektif

    ABRAHAM DI TENGAH PLURALITAS

    No full text
    This study focuses on how Abraham's attitude in the narrative of Genesis 14:17-24 can serve as a theological example in addressing cultural and religious plurality, particularly in Indonesia's diverse context. The object of the research is the text of Genesis 14:17-24, analyzed to uncover its relevance to efforts in maintaining plurality in Indonesia. The research aims to highlight sympathetic narratives toward plurality in the Old Testament and how they can be applied in societal life. This study employs a qualitative method with narrative criticism and historical criticism approaches. Narrative criticism analyzes the structure and dynamics of the narrative, such as characters, symbols, and conflicts within the text. Meanwhile, historical criticism is used to understand the socio-historical context of the Israelites, including their interactions with the cultures and religions in Canaan. Data were collected from textual analysis of the Bible and literature on plurality in Indonesia, which were then analyzed interpretatively. The findings reveal that Abraham demonstrated a sympathetic and accommodative attitude toward plurality, such as receiving blessings from Melchizedek, using the name El Elyon, and refraining from confrontational behaviour toward Canaanite local culture. These attitudes reflect values of tolerance and moderation in diversity. In conclusion, this narrative is relevant to addressing the challenges of intolerance in Indonesia and inspires churches and society to promote harmony amidst plurality.Masalah penelitian ini berfokus pada bagaimana sikap Abraham dalam narasi Kejadian 14:17-24 dapat memberikan teladan teologis dalam menghadapi pluralitas budaya dan agama, khususnya dalam konteks Indonesia yang majemuk. Obyek penelitian adalah teks Kejadian 14:17-24, yang dianalisis untuk mengungkap relevansinya terhadap upaya merawat pluralitas di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menyoroti narasi simpatik terhadap pluralitas dalam Perjanjian Lama dan bagaimana hal tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kritik naratif dan kritik historis. Kritik naratif digunakan untuk menganalisis struktur dan dinamika narasi, seperti karakter, simbol, dan konflik dalam teks. Sementara itu, kritik historis membantu memahami konteks sosial-historis bangsa Israel, termasuk interaksi mereka dengan budaya dan agama di Kanaan. Data dikumpulkan dari analisis teks Alkitab serta studi pustaka mengenai pluralitas di Indonesia, yang kemudian dianalisis secara interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Abraham menunjukkan sikap simpatik dan akomodatif terhadap pluralitas, seperti menerima berkat dari Melkisedek, menggunakan nama El Elyon, dan tidak bersikap konfrontatif terhadap budaya lokal Kanaan. Sikap ini menunjukkan nilai-nilai toleransi dan moderasi dalam keberagaman. Kesimpulannya, narasi ini relevan untuk menjawab tantangan intoleransi di Indonesia dan memberikan inspirasi bagi gereja dan masyarakat untuk mempromosikan harmoni di tengah pluralitas

    Minat Remaja Di Jemaat Musafir Paisubololi Untuk Melanjutkan Pendidikan Di Program Studi Teologi

    No full text
    This research examines the interest of adolescents from the Musafir Paisubololi congregation in the Theology Study Program, focusing on six indicators: "enjoyment of the Theology Study Program", "motivation to enter the Theology Program", "encouragement from others", "interest in the Theology Program", "willingness to learn about religion and engage in service", and "belief in the excellence of the Theology Program". The subjects of the study were 38 adolescents aged 15-22 years. The research method was quantitative, utilizing a survey approach with data collection conducted through a Likert scale questionnaire. The findings indicate an average response of "agree" across all six indicators, with "enjoyment of the Theology Study Program" and "willingness to learn about religion and engage in service" scoring the highest. While support from parents and church leaders was significant, it needs improvement. Based on these findings, it can be concluded that there is significant potential for developing the interest of adolescents in the field of theology through increased socialization and information about career prospects and the advantages of the Theology Study Program to enhance their interest.Penelitian ini mengkaji minat remaja Jemaat Musafir Paisubololi terhadap Program Studi Teologi dengan fokus pada enam indikator: "senang terhadap Prodi Teologi", "motivasi masuk Prodi Teologi", "dorongan dari pihak lain", "tertarik tentang Prodi Teologi", "kemauan belajar agama dan terlibat pelayanan", serta "keyakinan tentang keunggulan Prodi Teologi". Subyek penelitian adalah 38 remaja berusia 15-22 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan survei dan teknik pengambilan data menggunakan angket skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tanggapan "setuju" terhadap keenam indikator tersebut, dengan indikator "senang terhadap Prodi Teologi" dan "kemauan belajar agama dan terlibat pelayanan" mendapat skor tertinggi. Dukungan dari orang tua dan pemimpin gereja, meskipun signifikan, perlu ditingkatkan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa terdapat potensi besar remaja untuk dikembangkan dalam bidang teologi dengan perluasan sosialisasi dan informasi mengenai prospek karier dan keunggulan program studi teologi untuk meningkatkan minat mereka

    Peran Gereja Masehi Injili di Halmahera dalam Pendidikan Politik Bagi Anggota Jemaat

    No full text
    This study examines the role of the Evangelical Christian Church in Halmahera (GMIH) in providing political education to its congregation ahead of the 2024 General Election in Tobelo District, focusing on how the church educates its members about politics following Christian values. The qualitative research method, with a case study approach, involves in-depth interviews with five GMIH synod leaders. Data were analyzed using thematic analysis techniques. The results indicate that GMIH has successfully implemented effective political education, emphasizing the understanding of rights and obligations in democracy, integrating Christian values, and using information technology. The church also plays a crucial role in maintaining the harmony of the congregation and avoiding practices of money politics. In conclusion, the political education provided by GMIH enhances the congregation's awareness and ethical political participation, supporting the church's goal of promoting justice and goodness in society.Penelitian ini mengkaji peran Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH) dalam memberikan pendidikan politik kepada jemaatnya menjelang Pemilihan Umum 2024 di Kecamatan Tobelo, dengan fokus pada bagaimana gereja mendidik jemaat tentang politik sesuai dengan nilai-nilai Kristiani. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan wawancara mendalam dengan lima pemimpin sinode GMIH. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GMIH telah berhasil melaksanakan pendidikan politik yang efektif, menekankan pemahaman hak dan kewajiban dalam demokrasi, integrasi nilai-nilai Kristiani, dan penggunaan teknologi informasi. Gereja juga memainkan peran penting dalam menjaga keharmonisan jemaat dan menghindari praktik politik uang. Kesimpulannya, pendidikan politik yang diberikan oleh GMIH meningkatkan kesadaran dan partisipasi politik jemaat secara etis, mendukung tujuan gereja dalam mempromosikan keadilan dan kebaikan dalam masyarakat

    RESILIENSI SPIRITUAL PASCABENCANA

    No full text
    This study explores the impact of a landslide disaster on the spiritual life of the Evangelical Christian Church in Timor (GMIT) Victory Noelmina congregation, which consists of members from Noelmina Village and its surrounding areas. The research focuses on the effects of the disaster on the congregation's spirituality, including the intensity of worship, involvement in church ministry, and spiritual resilience in facing trauma and loss. This study employs a qualitative method with a single case study approach. The research subjects are three families from the GMIT Victory Noelmina congregation directly affected by the disaster, selected through purposive sampling. Data collection techniques include in-depth interviews, participatory observation, and documentation, while data analysis was conducted thematically through data reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that the landslide disaster increased the congregation's spirituality. Worship attendance rose from 60% to 91%, and participation in church ministries such as prayer meetings and catechetical worship increased. Spiritual resilience became a key factor in trauma recovery, where the congregation interpreted the disaster as an opportunity to strengthen their relationship with God and others. In conclusion, the disaster brought negative impacts and catalyzed spiritual growth and community solidarity, relevant to Christian theology in addressing life's challenges.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh bencana tanah longsor terhadap kehidupan spiritual jemaat Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Victory Noelmina, yang terdiri dari jemaat di Desa Noelmina dan sekitarnya. Masalah penelitian berfokus pada dampak bencana terhadap spiritualitas jemaat, termasuk intensitas ibadah, keterlibatan dalam pelayanan gereja, dan resiliensi spiritual dalam menghadapi trauma dan kehilangan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus tunggal. Subjek penelitian terdiri dari tiga keluarga jemaat GMIT Victory Noelmina yang terdampak langsung oleh bencana, dengan sampel yang diambil melalui teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, sementara analisis data dilakukan secara tematik melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bencana tanah longsor memicu peningkatan spiritualitas jemaat. Kehadiran ibadah meningkat dari 60% menjadi 91%, keterlibatan dalam pelayanan gerejawi, seperti doa bersama dan kebaktian kategorial, mengalami peningkatan. Resiliensi spiritual menjadi faktor utama dalam pemulihan trauma, di mana jemaat memaknai bencana sebagai kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan dan sesama. Kesimpulannya, bencana tidak hanya membawa dampak negatif tetapi juga menjadi sarana pertumbuhan spiritual dan solidaritas jemaat, yang relevan dengan teologi Kristen dalam menghadapi tantangan hidup

    25

    full texts

    111

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇