AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian
Not a member yet
    115 research outputs found

    Respon Perkecambahan Benih Jagung (Zea mays. L) Pada Kondisi Cekaman Garam: Respon Perkecambahan Benih Jagung (Zea mays. L) Pada Kondisi Cekaman Garam

    No full text
    Germination is first stepping propagation a plant especially of plants yielding seed.  Salinity effect during the germination phase can cause obstructed of seed grain because seed grain to experience plasmolysis. The aim of the research to know germination response seed grain of corn in the condition of a stress salt.  This experimental was arranged in randomized complete design (RCD) with five replication.  This research was done by germinated seed grain of corn in the seedling medium contained salt with the kind of concentration were 0 ppm (control),  2000 ppm,  4000 ppm,  6000 ppm,  8000 ppm then observation of germination seed process 14 days after seedling.  The average value was counted with the F test and continued Honestly significant different at the 0,05 significant level.  The result showed variable stress salt with concentration 4000 ppm not different significant with concentration 0 ppmPerkecambahan merupakan tahap awal perkembangan suatu tanaman khususnya tanaman berbiji. Pengaruh salinitas selama fase perkecambahan dapat menyebabkan terhambatnya perkecambahan pada benih karena benih mengalami plasmolisis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon perkecambahan benih jagung pada kondisi cekaman garam.  Penelitian disusun berdasarkan rancangan acak lengkap dengan 5 ulangan.  Perlakuan adalah 0 ppm (Kontrol), 2000 ppm, 4000 ppm, 6000 ppm, 8000 ppm kemudian mengamati proses perkecambahan benih 14 hari setelah semai.  Analisis data menggunakan uji F dan dilanjutkan dengan menggunakan uji Beda Nyata Jujur pada taraf 0,05.  Hasil analisis data menunjukkan bahwa  perlakuan cekaman garam dengan konsentrasi 4000 ppm berbeda tidak signifikan dengan perlakuan cekaman garam dengan konsentrasi 0 pp

    Kelimpahan dan Dominansi Lalat Buah (Diptera: Tephritidae) pada Pertanaman Cabai (Capsicum annuum L.), di Desa Paya Benua, Bangka: Kelimpahan dan Dominansi Lalat Buah (Diptera: Tephritidae) pada Pertanaman Cabai (Capsicum annuum L.), di Desa Paya Benua, Bangka

    No full text
    Fruit flies Bactrocera spp.  (Diptera: Tephritidae) is one of the major pests in chili plants. The information about abundance and dominance of fruit fly species in chili orchard was limited, especially in Bangka Island. The purpose of this study was to determine the abundance and dominance species of fruit flies found in the chili orchard. This field experiment was conducted in the three chili orchard, Paya Benua Village, Bangka. This research used survey method by placing traps with methyl eugenol on host plants, in which four traps were being placed for each location. Traps were set in the morning (06.00-10.00), noon (10.00-14.00), and afternoon (14.00-18.00). The fruit fly species from trapping were identified as Bactrocera carambolae, Bactrocera dorsalis, and Bactrocera umbrosa. A total of 899 individuals were captured, with abundance of 251, 546, 102 individuals for Bactrocera carambolae, Bactrocera dorsalis, and Bactrocera umbrosa, respectively. The results showed that fruit fly Bactrocera dorsalis as the most abundant and dominant species in chili orchard, Paya Benua Village, Bangka.Lalat buah Bactrocera spp. (Diptera: Tephritidae) merupakan salah satu hama penting pada tanaman cabai. Kelimpahan dan dominansi spesies lalat buah di pertanaman cabai masih terbatas informasinya, khususnya di Pulau Bangka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan dominansi spesies lalat buah yang terdapat di area pertanaman cabai. Penelitian  dilakukan di tiga kebun cabai yang berlokasi di Desa Paya Benua, Bangka. Koleksi lalat buah dilakukan dengan menggunakan perangkap steiner yang diberi metil eugenol dan pada tiap lokasi dipasang empat buah perangkap. Perangkap dipasang pada pagi (06.00-10.00 WIB), siang (10.00-14.00 WIB), dan sore (14.00-18.00 WIB). Lalat buah yang diperoleh dari perangkap telah teridentifikasi sebagai Bactrocera carambolae, Bactrocera dorsalis, dan Bactrocera umbrosa. Total lalat buah yang tertangkap selama penelitian adalah 899 individu,  dengan kelimpahan lalat buah Bactrocera carambolae, Bactrocera dorsalis, dan Bactrocera umbrosa berturut-turut yaitu 251, 546, dan 102 individu. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa lalat buah Bactrocera dorsalis  merupakan spesies yang memiliki kelimpahan tertinggi dan dominan pada pertanaman cabai di Desa Paya Benua, Bangka

    Keragaman Plasma Nutfah Pisang (Musa sp) di Pulau Bangka Berdasarkan Karakter Morfologi

    Get PDF
    Banana (Musa sp) is a plant that has good nutrion, mineral, vitamin A, B complex, vitamin C, and vitamin B6. Germplasm diversity of local banana in Bangka has never been identified. Research about germplasm diversity of banana in Bangka Island need to maintain germplasm of Bangka local banana. This research was conducted in Bangka Island. Characterization of banana fruit germplasm includes on qualitative and quantitative traits. Analysis of morphological relationship of banana fruit germplasm used UPGMA. Exploration result obtained 22 germplasms of Bangka local banana. The result of relationship analysis showed four clusters at 0,40 (40%) coefficient. Cluster one consists of Udang germplasm. Cluster two consists of Jernang and Rotan germplasm. Cluster three consists of Wei, Kapal and Abu germplasm. Cluster four consists of Madu Manis, Madu Keling, Gambur, Jambi, 40 Hari, Bawang, Geda, Tematu, Serindit, Masak Ijau, Rejang, Madu Pulau, Kecit Lantai, Susu, Gede and Lilin germplasm. Bangka local banana have wide variability in almost morphological character observed.Pisang (Musa sp) merupakan tanaman yang mempunyai kandungan gizi sangat baik, kaya akan mineral dan mengandung vitamin A, B kompleks, C dan B6. Plasma nutfah pisang di Bangka saat ini belum diketahui. Penelitian tentang keragaman plasma nutfah pisang di Pulau Bangka perlu dilakukan untuk mempertahankan plasma nutfah lokal Bangka. Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Bangka. Karakterisasi plasma nutfah pisang meliputi karakter kualitatif dan karakter kuantitatif. Analisis kekerabatan antar genotipe plasma nutfah pisang di Pulau Bangka berdasarkan metode UPGMA. Hasil eksplorasi dan karakterisasi plasma nutfah pisang di Pulau Bangka terdapat 22 plasma nutfah. Hasil analisis hubungan kekerabatan terdapat empat klaster pada koefeisien 0,40 (40%). Klaster satu terdiri dari plasma nutfah Udang. Klaster dua terdiri dari plasma nutfah Jernang dan Rotan. Klaster tiga terdiri dari plasma nutfah Wei, Kapal, dan Abu. Klaster empat terdiri dari plasma nutfah Madu Manis, Madu Keling, Gembur, Jambi, 40 Hari, Bawang, Geda, Tematu, Serindit, Masak Ijau, Rejang, Madu Pulau, Kecit Lantai, Susu, Gede dan Lilin. Variabilitas karakter kuantitatif relatif luas

    Pengaruh Iradiasi Sinar Gamma pada Karakter Kualitas Hasil Umbi Tiga Aksesi Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz) Asal Bangka: Pengaruh Iradiasi Sinar Gamma pada Karakter Kualitas Hasil Umbi Tiga Aksesi Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz) Asal Bangka

    No full text
    Cassava (Manihot esculenta Crantz) is a food crop plant carbohydrate after rice and corn. Bangka local cassava has different starch content at each accession. The purpose of this study was to know the effect of irradiation treatment on the quality of Bangka local cassava and national variety. This research had been conducted on October 2017 – January 2018, at experimental and research gardens, agrotechnology laboratory, and Science laboratory of the Faculty of Agriculture, Fishery and Biology, University of Bangka Belitung. This research used split-plot design with the main plot is irradiation treatment while the subplot is accession or variety of cassava. Data analyzed by using F test with 95% of significant levels. The observations results showed that irradiation treatment and accession varieties cassava affecting the tubers quality. Irradiation is the best treatment because this treatment has the best value on starch content, water content, and cyanide acid content. Type of accession affected the quality of the tubers. Rakit accession is the best accession which can make as flour because it has the best starch content, water content, flour rendemen, dan amylose content. There was an interaction between irradiation and accession on the value of ash content and cyanide acid content.Tanaman ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan tanaman pangan sumber karbohidrat setelah padi dan jagung. Ubi Kayu di Bangka masih memiliki kandungan Fitokimia yang masih tergolong sangat rendah. Tujuan penelitan untuk mengetahui pengaruh perlakuan iradiasi pada kualitas ubi kayu pada aksesi lokal dan varietas nasional. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan dimulai bulan Oktober 2017 – Januari 2018, di Kebun Percobaan dan Penelitian, Laboratorium Agroteknologi, dan Laboratorium Dasar Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi, Universitas Bangka Belitung. Penelitian ini menggunakan rancangan Split Plot Rancangan Acak Lengkap dengan Petak Utama adalah perlakuan radiasi sinar gamma dengan dosis 0 gray dan 15 gray sedangkan Anak Petak adalah aksesi atau varietas ubi kayu. Data kuantitatif dianalisis menggunakan uji F dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan iradiasi dan jenis aksesi mempengaruhi kualitas umbi. Perlakuan iradiasi mampu meningkatkan kadar pati, kadar air, dan kadar HCN. Aksesi rakit merupakan aksesi yang terbaik dari aksesi lainnya karena memiliki kualitas terbaik pada kadar pati, kadar air, kadar rendemen, dan kadar amilosa. Terdapat interaksi antara iradiasi dan aksesi seperti kadar abu dan kadar HCN

    Keragaan Tanaman Ubi Kayu Lokal Bangka dengan Pemberian Mikoriza di Tanah Masam

    Get PDF
    The local cassava plant of Bangka has not been utilized optimally because its production is still low compared to national varieties. There are several ways to create good  soil conditions to support plant growth in acid soils, such as the addition of mycorrhiza. The objective of the study was to increase the growth and production of Bangka local cassava in acid soils. The experiment had been conducted on acid soils with pH 4.4 (very acidic) and P-Bray 1 5.8 ppm (very low) in Balunijuk Village, Bangka Regency, from September 2016 - May 2017. This research used the experiment method with factorial randomized block design (FRBD) with two factors. The first factor was Bangka local cassava namely Sutera, Mentega, Batin, 3 Bulan and Malang variety (as the comparison) and second factor was mycorrhiza. The results showed Sutera accession had the highest plant height and production in acid soils. The addition of mycorrhiza as much as 50 g / plant can increase the growth and production of Bangka local cassava. The Bangka local cassava showed  better growth quality but still have lower production compared with national varieties. Conservation of local cassava plants Bangka in acid soils can be optimized its growth by using local clones Bangka, but the production of national varieties is higher compared local cassava of BangkaTanaman ubi kayu lokal Bangka belum dilakukan konservasi secara maksimal karena produksinya masih rendah dibandingkan produksi varietas nasional.  Salah satu cara untuk menciptakan kondisi lingkungan sehingga mampu di konservasi di tanah masam dengan pemberian mikoriza. Tujuan penelitian untuk meningkatkan optimalisasi pertumbuhan dan produksi ubi kayu lokal Bangka di tanah masam. Percobaan penelitian dilaksanakan di tanah masam dengan pH 4,4 (sangat masam) dan P-Bray 1 5,8 ppm (sangat rendah) Desa Balunijuk Merawang Kabupaten Bangka bulan September 2016 – Mei 2017. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial (RAKF) dengan 2 faktor yaitu faktor pertama ubi kayu lokal Bangka, yang terdiri : Sutera, Mentega, Batin, 3 bulan dan varietas Malang (sebagai pembanding) dan faktor kedua pemberian mikoriza. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon Sutera memiliki tinggi tanaman dan produksi terbaik di tanah masam. Pemberian mikoriza dengan dosis 50 g/tanaman mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman ubi kayu lokal Bangka. Tanaman ubi kayu lokal Bangka menunjukkan keragaan terhadap pertumbuhan dan produksi di tanah masam.  Konservasi tanaman ubi kayu lokal Bangka di tanah masam dapat di optimalisasi pertumbuhannya dengan  menggunakan klon lokal Bangka, namun produksi varietas nasional lebih tinggi dibandingkan dengan Ubi kayu lokal Bangka

    Peningkatan Kualitas Lada Putih dengan Kombinasi Lama Perendaman dan Penambahan Daun Karamunting (Melastoma malabathricum): Peningkatan Kualitas Lada Putih dengan Kombinasi Lama Perendaman dan Penambahan Daun Karamunting (Melastoma malabathricum)

    No full text
    Pepper submersion period with addition karamunting leaf (Melastoma malabathricum) is one expected postharvest to increasing white pepper quality. This research aims to know the influence of submersion period and karamunting leaf dose and also it is interaction to white pepper quality. This research was conducted at Balunijuk village, Bangka Regency and quality testing in UPTD Hall, Certification And Quality Control, Departement of Industry and Commerce Bangka Belitung Island. This research used Randomized Completely Design with 2 factors and F-test. The first factor (P) submersion period: (P0) as control 14 days, (P1) 9 days, (P2) 7 days and (P3) 5 days and two factor add karamunting leaf doses (K): (K0) as control without add karamunting leaf dose 0 g, (K1) 1 00 g, (K2) 150 g, and (K3) 200 g. Each unit of and using 2 kg of fruit pepper. Further testing used Duncan Multiple Range Test with 95% level of confidence. The result showed submersion periods have the significant effect for foreign object, white pepper level, and atsiri oil content. 5 days submersion had the best yield on atsiri oil content (2.44%). There is no interaction between submersion periods by adding karamunting leaf to the quality of white pepper.Perendaman lada putih dengan penambahan daun karamunting (Melastoma malabathricum) merupakan salah satu upaya penanganan pascapanen lada. Tujuan penelitian yaitu mempercepat proses perendaman dengan penambahan daun karamunting yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas lada putih. Penelitian ini dilakukan di Desa Balunijuk, Kabupaten Bangka Induk, pengujian kualitas di Balai UPTD Sertifikasi dan Pengendalian Mutu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kepulauan Bangka Belitung dan Lingkungan Hidup. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) dengan 2 faktor perlakuan. Faktor pertama (P) 4 taraf lama perendaman: (P0) kontrol 14 hari, (P1) 9 hari, (P2) 7 hari, (P3) 5 hari. Faktor kedua (K) penambahan dosis daun karamunting: (K0) kontrol tanpa pemberian dosis, (K1) 100 g, (K2) 150 g dan (K) 200 g. Setiap unit percobaan terdiri 2 kg buah lada. Uji lanjut menggunakan DMRT dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan lama perendaman berpengaruh terhadap peubah kadar benda asing, kadar biji kehitam-hitaman, dan kadar minyak atsiri. Perendaman selama 5 hari menghasilkan nilai minyak atsiri lebih tingggi yaitu 2,44%. Tidak ada interaksi antara lama perendaman dengan penambahan daun karamunting terhadap kualitas lada putih

    Karakterisasi Plasma Nutfah Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) Lokal Asal Bangka Berdasarkan Karakter Morfologi: Karakterisasi Plasma Nutfah Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) Lokal Asal Bangka Berdasarkan Karakter Morfologi

    No full text
    Groundnut production can be improved through the use of superior seeds derived from landrace germplasm. The aim of this research was to study the morphological characteristics of Bangka landrace groundnut and the relationship between landrace. This research was conducted in Experimental and Research Garden, Bangka Belitung University from March to August 2017. This research used RBD with 9 landrace accessions and 1 national variety as treatment. The 9 landraces are accession Bedeng Akeh, Lubuk kelik, Matras, Sungailiat, Arung Dalam, Belimbing, Jongkong, Air Ketimbai 1, and Air Ketimbai 2. National variety is Kancil variety. The analysis of genetic relationship was done by the UPGMA method. The result of morphological characterization shows many similarities in the character such as growth habit, number of branches, stem color, leaf color, standard petal color, pod beak, and seed color. The differences are leaflet shape, pod constriction, pod reticulation, and primary seed color. The result of relationship analysis based on morphological characterization showed 4 groups on 87% similarities. The first group consists of the accession of Belimbing, Jongkong, Air Ketimbai 2, Sungailiat, and Kancil varieties. The second group is accession Matras, Lubuk Kelik, and Bedeng Akeh. The third group is Air Ketimbai 1 and the fourth group is Arung Dalam accession.Produksi  kacang tanah  dapat  ditingkatkan  melalui penggunaan benih unggul yang berasal dari plasma nutfah lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfologi aksesi kacang tanah lokal Bangka serta hubungan kekerabatan antara berbagai aksesi kacang tanah lokal Bangka. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Penelitian, Universitas  Bangka  Belitung  dari bulan   Maret   sampai   Agustus   2017.   Penelitian   ini   menggunakan   RAK  dengan  perlakuan sembilan aksesi lokal dan satu varietas unggul nasional. Sembilan aksesi tersebut adalah aksesi Bedeng Akeh, Lubuk kelik, Matras, Sungailiat, Arung Dalam, Belimbing, Jongkong, Air Ketimbai 1, dan air Ketimbai 2.  Varietas  unggul  nasional  adalah  varietas  Kancil.  Analisis hubungan kekerabatan dilakukan dengan UPGMA.  Hasil  karakterisasi  morfologi  menunjukan  memiliki kesamaan dalam karakter yaitu bentuk tanaman, tipe percabangan, warna batang, warna daun, warna bunga, bentuk paruh, dan variasi warna biji. Adapun perbedaan yaitu bentuk daun, bentuk pinggang, jaringan kulit, dan warna biji. Hasil analisis kekerabatan karakterisasi morfologi menunjukan 4 grup pada kemiripan 87%. Grup pertama yaitu aksesi Belimbing, Jongkong, Air Ketimbai 2, Sungailiat, dan varietas Kancil. Grup kedua yaitu aksesi Matras, Lubuk Kelik, dan Bedeng Akeh. Grup ketiga aksesi Air Ketimbai 1 dan grup keempat aksesi Arung Dalam

    Pengaruh Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Caisim (Brassica juncea) Terhadap Pemberian Abu Dasar Batubara (Coal Bottom Ash) dan Bahan Organik

    Get PDF
    This study aims to determine the optimal dosage of bottom ash and organic matter which can increase the growth and yield of mustard plants. The study was carried out in the greenhouse of the Soil Physics Laboratory, Balai Penelitian Tanah, Laladon, Bogor from August 2015 to January 2016. The study used factorial complete randomized design (CRD). The first factor is the age of bottom ash (fresh, 4 months and 2 years). The second factor is the bottom ash dose with three levels, which are 0, 60 and 120 grams / pot (equivalent to 0, 40 and 80 tons / ha) and the third factor is the dose of organic matter with two levels, namely 0 and 15 grams / pot (equivalent to 0 and 10 tons / ha). The results showed that the addition of fresh bottom ash with a dose of 80 tons / ha and 10 tons / ha of organic matter significantly affected the plant height. While on the parameters of the number of leaves and fresh weight of mustard plant, the treatment that gives a significant effect is 10 tons / ha of organic matter. The best dose that can increase the growth and yield of mustard plants is fresh bottom ash with a dose of 80 tons / ha and 10 tons / ha of organic matter.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis pemberian abu dasar batubara dan bahan organik yang optimal sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman caisim. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Laboratorium Fisika Tanah, Balai Penelitian Tanah, Laladon, Bogor dari bulan Agustus 2015 sampai dengan Januari 2016. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah umur abu dasar (segar, 4 bulan dan 2 tahun). Faktor kedua adalah dosis abu dasar dengan tiga taraf  yaitu 0, 60 dan 120 gram/pot (setara dengan 0, 40 dan 80 ton/ha) dan faktor ketiga adalah dosis bahan organik dengan dua taraf yaitu 0 dan 15 gram/pot (setara dengan 0 dan 10 ton/ha). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian abu dasar segar dengan dosis 80 ton/ha dan bahan organik 10 ton/ha berpengaruh nyata terhadap peningkatan tinggi tanaman caisim. Sementara pada parameter jumlah daun dan bobot basah tanaman caisim, perlakuan yang memberikan pengaruh nyata adalah bahan organik 10 ton/ha. Dosis terbaik yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman caisim adalah abu dasar segar dengan dosis 80 ton/ha dan bahan organik 10 ton/ha

    Pemanfaatan Colopogonium mucunoides sebagai Pupuk Hijau terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Tomat di Media Tailing Pasir Pasca Penambangan Timah: Pemanfaatan Colopogonium mucunoides sebagai Pupuk Hijau terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Tomat di Media Tailing Pasir Pasca Penambangan Timah

    No full text
    Green manure (Colopogonium mucunoides) is one type of organic fertilizer derived from Leguminosae plants. Green manure has the potential to increase soil nutrients, especially N (nitrogen). Utilization of green manure on post-tin mining soil to improve soil organic matter and improve the physical, chemical and biological properties of tailing sand. The aim of this research is to find the growth and production response of tomatoes with the addition of Colopogonium mucunoides as green manure on post-tin mining media. The research had been conducted on March until June 2017  in  The Experimental And  Research  Garden,  Faculty of Agriculture, Fishery,  and  Biology, University of Bangka  Belitung.  This research used a Completely Randomized design single factor. The treatment level was: CM0 = 0 g/plant, CM1 = 200g/plant, CM2 = 400g/plant, CM3 600 g/plant, CM4 = 800 g/plant, CM5 = 1000g/plant.  Each treatment was replicated 3 times to obtain 18 experiment units. Each experiment unit consists of 4 samples. The result of the experiment showed that the tomato plant with green manure (Colopogonium mucunoides) provide various responses to the growth and production of tomato plants on post-tin mining media. Utilization of Colopogonium mucunoides as green manure has no significant effect on all observed parameters.Pupuk hijau (Colopogonium mucunoides) merupakan salah satu jenis pupuk organik yang berasal dari tanaman leguminosae. Pupuk hijau berpotensi meningkatkan unsur hara tanah, terutama unsur hara N (nitrogen). Pemanfaatan pupuk hijau pada lahan pasca penambangan timah bertujuan untuk memperbaiki bahan organik tanah dan memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi pasir tailing. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi tomat dengan penambahan Colopogonium mucunoides sebagai pupuk hijau pada media tailing pasca penambangan timah. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Juni 2017 di Kebun Percobaan dan Penelitian, Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Biologi Universitas Bangka Belitung. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap satu faktor. Tingkat perlakuannya adalah: CM0 = 0 g / tanaman, CM1 = 200g / tanaman, CM2 = 400g / tanaman, CM3 600 g / tanaman, CM4 = 800 g / tanaman, CM5 = 1000g / tanaman. Setiap perlakuan diulang 3 kali sehingga  diperoleh  18  unit  percobaan.  Setiap  unit  percobaan  terdiri  dari  4  sampel.  Hasil percobaan menunjukkan bahwa tanaman tomat dengan pupuk hijau (Colopogonium mucunoides) memberikan berbagai respon terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tomat pada media tailing pasca penambangan timah. Pemanfaatan Colopogonium mucunoides sebagai pupuk hijau tidak berpengaruh signifikan terhadap semua parameter yang diamat

    Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Melon (Cucumis melo L) di Tanah Ultisol dengan Penambahan Pupuk Organik Cair (POC) Kulit Nanas

    Get PDF
    Plant Growth and production of melon is affected by fertilizer so that alternative application of technology can be used liquid organic fertilizer (LOF) from pineapple peel. The purpose of this research is to know the effect ofliquid organic fertilizer on growth and production of melon plants in ultisol soil. Experimental methods used with single factor Randomized Block Design with 7 treatment levels were: inorganic fertilizer, 20 mL / 1 liter of water, 35 mL / 1 liter of water, 50 mL / 1 liter of water, P4 65 mL / 1 liter of water , P5 80 mL / 1 liter of water and 95 mL / 1 liter of water. The results of this study indicate the use of liquid organic fertilizer (LOF) does not gave a real effect on the growth and production of melon plants. Growth of melon plants treated 20 mL / 1 liter of water tend to be better while for production tend to be better at treatment 35 mL / 1 liter water.Pertumbuhan dan produksi tanaman dipengaruhi oleh penggunaan pupuk sehingga alternatif aplikasi teknologi yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan pupuk organik cair (POC) dari limbah nenas. Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui pengaruh POC pada pertumbuhan dan produksi tanaman melon di tanah ultisol. Metode eksperimen yang digunakan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal dengan 7 taraf perlakuan yaitu: pupuk anorganik, 20 mL/1 liter air, 35 mL/1 liter air, 50 mL/1 liter air, P4 65 mL/1 liter air, P5 80 mL/ 1 liter air dan 95 mL/ 1 liter air. Hasil penelitian ini menunjukkan penggunaan pupuk organik cair (POC) tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman melon.  Pertumbuhan tanaman melon perlakuan 20 mL/1 liter air cenderung lebih baik sedangkan untuk produksi cenderung lebih baik pada perlakuan 35 mL/ 1 liter air

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇