AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian
Not a member yet
115 research outputs found
Sort by
Peningkatan Kualitas Fisika Tanah Guna Efisiensi Air Melalui Pengkayaan Media Tanam Dengan Kompos Plus Pada Budidaya Tanaman Jagung Manis: Peningkatan Kualitas Fisika Tanah Guna Efisiensi Air Melalui Pengkayaan Media Tanam Dengan Kompos Plus Pada Budidaya Tanaman Jagung Manis
Soil physical characteristics play an important role in nutrient and water availability for plants. Dryland consist of marginal land has the potential to use as corn cultivation area. This research conducted in the shade house of PT. Pupuk Kujang Cikampek. Research started with producing of compost plus by using fungus cultivation medium enriched with Azotobacter sp. and Pseudomonas sp. Research designed using Factorial RBD. The first factor was doses of organic fertilizer consisting of without compost plus (0 tons compost plus ha-1), 50% recommended dosage (10 tons compost plus ha-1) and 100% recommended dosage (20 tons plus compost ha-1). The second factor was water volume with 4 levels of treatment consist of 25% volume of water field capacity, 75% volume of water field capacity, 100% volume of water field capacity and 50% volume of water field capacity. Calculation of water field capacity will be carried out with the gravimetric method. Physical characteristics of the soil were analyzed by referring to the analysis method of the Indonesian Center for Agricultural Research and Development in 2006. The results showed that the use of compost plus improved the quality of soil physical characteristics of corn cultivation in dry land such as water content, bulk density, soil porosity. The use of compost plus is able to substitute the water needs of corn plants was seen by the growth and yield of corn plants under water stress conditions with the addition of compost plus still have good performance and yield.Sifat fisik tanah memegang peranan penting dalam ketersediaan unsur hara dan air bagi tanaman. Tanah kering adalah salah satu tanah marginal yang memiliki potensi untuk digunakan sebagai lahan budidaya Jagung. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kasa PT. Pupuk Kujang Cikampek. Penelitian diawali dengan pembuatan kompos plus dengan menggunakan limbah media tanam jamur merang yang diperkaya dengan Azotobacter sp dan Pseudomonas sp. Penelitian dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial. Faktor pertama adalah dosis pupuk organik dengan taraf O1 = tanpa kompos plus (0 ton kompos plus ha-1), O2 = 50 % dosis anjuran (10 ton kompos plus ha-1) dan O3 = 100 % dosis anjuran (20 ton kompos plus ha-1). Faktor kedua adalah volume air dengan 4 taraf perlakuan yaituV1 = 25% volume air kapasitas lapang, V2 = 75% volume air kapasitas lapang, V3 = 100% volume airkapasitas lapang dan V4 = 150% volume air kapasitas lapang. Perhitungan kebutuhan air kapasitas lapang akan dilakukan dengan metode gravimetri. Sifat fisika tanah dianalisa dengan mengacu pada metode analisa Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian tahun 2006. Hasil penelitian menunjukan penggunaan kompos plus dapat meningatkan kualitas sifat fisik tanah pada kegiatan budidaya tanaman jagung dilahan kering, seperti kadar air, bulk density, porositas tanah. Penggunaan kompos plus mampu mensubtitusi kebutuhan air tanaman Jagung terlihat dengan pertumbuhan dan hasil tanaman Jagung pada kondisi cekaman air namun diberikan kompos plus tetap memberikan performa dan hasil yang baik
Determinasi Pengaruh Populasi Walang Sangit (Leptocorisa oratorius Fabricius) terhadap Hasil Gabah Padi Sawah di Desa Kimak, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka
Rice crops are the main source of staple food for the Indonesian people, as well as in the Bangka Belitung province. The cultivation of rice crops is still through various obstacles, such as the attack of Leptocorisa oratorius Fabricius, which attacks the rice plants after flowering by sucking the grain. The aim of this study was to know the effect of L.oratorius population on the rice yield, to know the number of L. oratorius that can decrease the 15% paddy yield and to know the percentage of rice loss based on the number of L. oratorius population in the Kimak village, Merawang district, Bangka regency. The research was conducted on November 2017 to January 2018 on paddy field in Kimak village. This research used experimental method with Completely Randomized Design (CRD) wich consist of 8 treatments and 2 replications. The treatment was the differences L.oratorius population. Consist of: without L.oratorius, 2 L.oratorius, 3 L.oratorius, 4 L.oratorius, 5 L.oratorius, 6 L.oratorius, 7 L.oratorius and 8 L.oratorius. The result showed that the number of L. oratorius has significant effect on rice yield, 3 population of L. oratorius per 50 cm x 50 cm able to reduce the rice yield by 15% and the percentage of yield loss at the treatment of 2 - 8 L.oratorius is about 10.97% up to 28.98%.Tanaman padi merupakan sumber utama makanan pokok bagi masyarakat Indonesia, begitu pula di Provinsi Bangka Belitung. Budidaya tanaman padi masih melalui berbagai kendala, salah satunya adalah hama walang sangit (Leptocorisa oratorius Fabricius), yang menyerang tanaman padi setelah berbunga dengan mengisap gabah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh populasi L.oratorius terhadap hasil padi, untuk mengetahui jumlah L. oratorius yang dapat menurunkan hasil padi 15% dan untuk mengetahui persentase kehilangan beras berdasarkan jumlah populasi L.oratorius di desa Kimak, Kabupaten Merawang, Kabupaten Bangka. Penelitian dilakukan pada bulan November 2017 sampai Januari 2018 di sawah di desa Kimak. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 8 perlakuan dan 2 ulangan. Perlakuannya adalah perbedaan populasi L.oratorius. Terdiri dari: tanpa L.oratorius, 2 L.oratorius, 3 L.oratorius, 4 L.oratorius, 5 L.oratorius, 6 L.oratorius, 7 L.oratorius dan 8 L.oratorius. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah L.oratorius berpengaruh nyata terhadap hasil padi, 3 populasi L.oratorius per 50 cm x 50 cm mampu menurunkan hasil padi sebesar 15% dan persentase kehilangan hasil pada perlakuan 2 - 8 L. oratorius sekitar 10,97% sampai dengan 28,98%
Penampilan Beberapa Genotip Kedelai Hasil Seleksi pada Lingkungan Ternaungi di Bawah Tegakan Karet
Research was aimed to evaluate performance of new genotypes of soybean selected in shaded environment under rubber stands and compare it with superior soybean varieties. Field experiment was arranged in a simple Randomized Block Design. Treatments comprised five levels namely four soybean genotypes selected in artificial shade and one shade tolerant superior soybean variety as a check. Each treatment was replicated 5 times. Experimental unit was a plot with size 3 m x 2 m with 100 plant population. Ten plants were used as samples. Observations were made on growth and yield variables. Such variables were plant height, number of branches, and stem diameter, while the observed yield variables included number of pod per plant, 100 seed weight, and seed weight of 10 plants. Observed data were analyzed by Analysis of Variance and continued by Duncan Multiple Range Test at α 5% level to compare the tested genotypes. Results showed that all the tested soybean genotypes gave the same performance with superior varieties of Anjasmoro in terms of stem diameter, number of branches, number of pods per plant, weight of 100 seeds, and seed weight of 10 stems of the plant. The difference was seen in of plant height where the selection genotypes were significantly shorter than Anjasmoro Variety.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penampilan genotip-genotip baru kedelai hasil seleksi pada lingkungan ternaungi di bawah tegakan karet serta membandingkannya dengan penampilan varietas kedelai unggul. Percobaan lapang disusun dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok satu faktor yaitu genotip yang terdiri dari 4 genotip kedelai hasil seleksi pada naungan buatan dan 1 varietas kedelai unggul toleran naungan sebagai perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Unit percobaan berupa petakan dengan ukuran 3 m x 2 m dengan populasi tanaman 100 batang per petakan. Sepuluh tanaman digunakan sebagai tanaman sampel. Pengamatan dilakukan terhadap variabel-variabel pertumbuhan dan hasil. Variabel pertumbuhan yang ukur adalah tinggi tanaman, jumlah cabang, dan diameter batang, sedangkan variabel hasil yang diamati meliputi jumlah polong per tanaman, bobot 100 biji, dan bobot biji 10 tanaman. Data hasil pengamatan dianalisis dengan Sidik Ragam dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α 5 % untuk membandingkan genotip-genotip yang diuji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua genotip kedelai hasil seleksi yang diuji memberikan penampilan yang sama dengan varietas kedelai unggul Anjasmoro dalam hal diameter batang, jumlah cabang, jumlah polong per tanaman, bobot 100 biji, serta bobot biji 10 batang tanaman. Perbedaan penampilan terlihat dalam hal tinggi tanaman dimana genotip-genotip hasil seleksi memperlihatkan penampilan yang nyata lebih pendek dibandingkan dengan Varietas Anjasmor
Uji Analisis Tingkat Kematangan dan Metode Perendaman terhadap Aspek Fisik dan Kimia Lada Putih (Muntok White Pepper)
One of the problems an industrial pepper in Indonesia is the lower quality of production by the farmers. To overcome these problems we must have to do research to get a good technique in pepper processing and the good quality of pepper in accordance Indonesian National Standard. This research using a factorial randomized block design with three replications of two treatment factors. The first factor is physiologic mature (M) and the second factor is the soaking method (P). The research phase includes the preparation of tools and materials. Soaking pepper, cleaning the skin and stems, drying and analysis of pepper quality test. Changes observed in this research is the content of water, the level of colored pepper, and the levels of mold contamination. The result of this research shown the mature physiologically significant effect on the levels of pepper blackish in color and content of seeds lightly. Pepper levels blackish color shown on the highest passing phase that is optimum ripe 0.12% and the lower passing phase optimum ripe is 0.01%. The highest levels of seed lightly on shown at the mature phase towards optimum ripe 1.66% and the lower it show through the mature phase that is 0.71%. White pepper research results both in treatment and in the treatment of physiologically mature immersion method meet the Indonesian National Standard.Salah satu masalah perindustrian lada di Indonesia adalah rendahnya kualitas yang diproduksi oleh petani. Untuk mengatasi masalah ini perlu dilakukan penelitian untuk mendapatkan teknik yang baik dalam memproses lada dan menghasilkan kualitas lada sesuai Standar Nasional Indonesia. Penelitian ini menggunakan rancangan acak faktorial dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah matang fisiologis (M) dan faktor kedua adalah metode perendaman (P). Tahap penelitian meliputi persiapan alat dan bahan, Perendaman lada, membersihkan kulit dan batang, pengeringan dan analisis uji mutu lada. Peubaha yang diamati dalam penelitian ini adalah kadar air, kadar warna lada, dan tingkat kontaminasi jamur. Hasil penelitian ini menunjukkan efek matang fisiologis memberikan pengaruh yang nyata pada kadar lada kehitam-hitaman dan biji enteng. Kadar lada kehitam-hitaman menunjukan tertinggi pada fase lewat matang optimum 0,12% dan terendah saat menjelang matang optimum 0,01%. Kadar biji enteng menunjukan tertinggi pada saat menjelang matang optimum 1,66% dan terendah pada saat lewat matang optimum 0.79%. Hasil penelitian lada putih baik dalam perlakuan metode perendaman dan perlakuan matang fisiologis untuk memenuhi Standar Nasional Indonesia
Respon Antera Lilium longiflorum Thunb. dengan Berbagai Stadium Perkembangan Mikrospora pada Kombinasi Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh
The right stage of microspore development to be used as explants become the critical factor for the successful of anther culture. Anther containing microspores at the pollen mother cell to binucleate stages were cultured on Murashige and Skoog (MS) media supplemented with various plant growth regulators. The media of 7.5 mM NAA + 0.75 mM BAP with bud size of 0.6-2.0 cm (pollen mother cell stage) are a combination that fits in callus, indirect shoot and direct shoot initiation with the percentage growth of each 30%; 16.6%; and 14.8%. Chromosome counts of root-tip cell of 89 regenerant revealed that 85 regenerant were diploids (95.5%) and 4 regenerant aneuploids (4.5%), but the haploid regenerants didn’t obtain. This result suggests that regenerants were derived from a somatic cells division.Tingkat perkembangan mikrospora yang tepat untuk dijadikan eksplan menjadi faktor penentu keberhasilan kultur antera. Antera yang mengandung mikrospora dengan stadium sel induk hingga binukleat dikultur pada media Murashige dan Skoog (MS) dengan beberapa kombinasi zat pengatur tumbuh. Media NAA 7,5 mM + BAP 0,75 mM dengan ukuran kuncup 0,6-2,0 cm (stadium sel induk mikrospora) merupakan kombinasi yang cocok dalam inisiasi kalus, tunas tidak langsung dan tunas langsung dengan persentase pertumbuhan masing-masing 30%; 16,6%; dan 14,8%. Penghitungan jumlah kromosom pada sel ujung akar terhadap 89 regeneran hasil kultur antera didapatkan 85 regeneran (95,5%) dengan tingkat ploidi diploid dan 4 regeneran aneuploid (4,5%), namun tidak didapatkan regeneran yang haploid. Hasil ini menunjukkan bahwa regeneran yang dihasilkan berasal dari pembelahan sel-sel somatik
Karakterisasi Morfologi dan Potensi Hasil Durian Lokal Bangka: Karakterisasi Morfologi dan Potensi Hasil Durian Lokal Bangka
oai:ojs.agrosainstek.ubb.ac.id:article/1Durian is a plant that susceptible to genetic erosion. Exploration and characterization of Bangka local durian need to be protected germplasm of Bangka local durian. This research aims to characterize the morphology, determine the relationship, and yield of Bangka local durian. The research had been conducted in December 2011 to February 2012 in West Bangka, Central Bangka, and South Bangka regency. The research methods were exploration, identification, and characterization. The result shows there are 11 accessions from West Bangka, 11 accessions from South Bangka and 5 accessions from Central Bangka. Similarity analysis using quantitative and qualitative characteristics divides into five groups at 60% similarity level. The average yield of Bangka local durian about 40-250 fruits/year. Sigajah accession has the highest yield potency with average fruit weight of 2.3 kg and 60-140 fruits/plant.Durian adalah tanaman yang mudah mengalami erosi genetik. Eksplorasi dan karakterisasi harus dilakukan untuk melindungi plasma nutfah durian lokal Bangka.Penelitian ini bertujuan untuk karakterisasi morfologi, menentukan hubungan kekerabatan dan potensi hasil aksesi durian lokal Bangka. Penelitian dilaksanakan bulan Desember 2011 sampai Februari 2012 di Kabupaten Bangka Barat, Bangka Tengah dan Bangka Selatan. Penelitian terbagi dalam kegiatan yaitu ekplorasi, identifikasi dan karakterisasi. Berdasarkan hasil eksplorasi didapatkan 11 aksesi berasaldari bangka barat, 7 aksesi dari bangka selatan dan lima aksesi dari bangka tengah. 23 aksesi yang didapatkan mengelompok membentuk 5 kelompok pada tingkat kesamaan 60%. Potensi hasil rata-rata buah durian lokal Bangka mencapai 40-250 buah/tahun. Durian dengan potensi hasil tertinggi adalah aksesi Sigajah dengan rata-rata berat buah 2.3 kg dan hasil 60-140 buah/pohon
Respons Beberapa Kultivar Kacang Hijau (Vigna radiata L. Wilczek) terhadap Pemupukan Nitrogen Kedua Pada Awal Fase Reproduktif
Research aimed to know responses of several mungbean cultivars to second nitrogen fertilization at early reproductive stage and find the best dose for each cultivar, was conducted in experimental station of Faculty of Agriculture, Jambi University started from January 2016 until March 2016. This was a factorial experiment arranged in randomized block design with two replications. The first factor was mungbean cultivars comprised four levels namely ‘Betet’,’Walet’, ‘Parkit’, ‘Perkutut’ and the second factor was second nitrogen fertilization comprised three levels namely without second fertilization, 30 kg N ha-1 , 40 kg N ha-1 , 50 kg N ha-1 . Variables observed were period of reproductive stage (days), number of pod per plant, number of filled pod per plant, seed weight per plant (g), and 1000 seed weight (g). Data were analyzed by using analysis of variance continued with LSD test with significance level of 5%. Results indicated that there were different responses among four mungbean cultivars to second nitrogen fertilization at early reproductive stage, especially on variables of filled pod number per plant and seed weight per plant. Best dose for each cultivar was 40 kg N ha-1 for ‘Walet’ and 30 kg N ha-1 for Parkit, whereas on cultivar ‘Betet’ and ‘Perkutut’, second N fertilization seemed to have no significant effect.Penelitian yang betujuan mengetahui respons beberapa kultivar kacang hijau terhadap pemupukan nitrogen kedua pada awal fase reproduktif dan mendapatkan dosis terbaik pada tiap kultivar, telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jambi mulai dari bulan Januari sampai dengan Maret 2016. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok pola faktorial dengan dua faktor yang diulang dua kali. Faktor pertama adalah kultivar kacang hijau yang terdiri atas empat kultivar, yaitu ‘Betet’,’Walet’, ‘Parkit’, ‘Perkutut’, dan faktor kedua adalah dosis pupuk nitrogen lanjutan yang terdiri atas empat taraf yaitu tanpa pemupukan 30 kg N ha-1 , 40 kg N ha-1 , 50 kg N ha-1. Variabel yang diamati yaitu Periode reproduktif (hari), Jumlah polong per tanaman, Jumlah polong berisi per tanaman, Bobot biji per tanaman (g), Bobot 1000 biji (g). Data diolah dengan analisis varians yang dilanjutkan dengan uji BNT dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan respons empat kultivar kacang hijau terhadap pemupukan nitrogen kedua pada awal fase reproduktif, khususnya pada variabel jumlah polong berisi per tanaman dan bobot biji per tanaman. Dosis terbaik pada tiap-tiap kultivar yang dapat meningkatkan hasil adalah kultivar walet 40 kg ha-1, kultivar parkit 30 kg ha-1, pada kultivar betet dan perkututpemupukan tidak memberikan pengaruh.  
Uji Efikasi Ekstrak Daun Mengkudu, Kemangi dan Jambu Biji dalam Menghambat Pertumbuhan Cendawan Colletotrichum gloeosporioides pada Buah Pepaya
Anthracnose disease is a crucial problem in the cultivation of papaya. It is caused by C.gloesporioides. one way to overcome this problem was by using natural fungicides. Some of the natural substances that have natural fungicides as their property are noni, basil, and guava. The research was conducted at the Microbiology laboratory of the Faculty of Agriculture, Fisheries, and Biology of Universitas Bangka Belitung January to April 2016. The research utilizes Randomized Analysis Complete Design with Factorial structure. The first factor are the extracts (E), consists of noni leaves (E1), basil leaves (E2), and guava leaves (E3). The second factor are the concentrations of the extract, consists of 0% (K0), 10% (k1), 20% (K2), 30% (K3), 40% (K4), 50%(K5), and 60% (K6). The data was analysed using analysis of variance at α 5%, with the used of SAS Program (Statistical Analytic System), if the effect was found significant, the data was further analysed using DMRT (Duncan Multiple Range Test). The research result showed that the extract of guava leaves at 30% concentration provided the best result in inhibiting the growth of C.gloesporioides in papaya.Penyakit antraknosa merupakan salah satu masalah penting dalam budidaya pepaya, yang disebabkan oleh C.gloesporioides. Salah satu cara penanggulangannya menggunakan fungisida nabati. Bahan alami yang mempunyai khasiat sebagai fungisida nabati adalah mengkudu, kemangi dan jambu biji. Penelitian dilakukan dilaboratorium Mikrobiologi Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Biologi Universitas Bangka Belitung pada bulan Januari sampai April 2016. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF), faktor pertama ekstrak (E) yaitu ekstrak daun mengkudu (E1), kemangi (E2) dan jambu biji (E3), faktor kedua yaitu konsentrasi yaitu 0% (K0), 10% (K1), 20% (K2), 30% (K3), 40% (K4), 50% (K5) dan 60% (K6). Data dianalisis menggunakan analisis varian pada α 5% dengan menggunakan program SAS (Statistical Analitic System), jika berpengaruh nyata dilakukan uji lanjut DMRT (Duncan Multiple Range Test). Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun jambu biji konsentrasi 30% paling baik menghambat pertumbuhan C.gloesporioides pada buah pepaya
Potensi Pseudomonas sp. untuk Mengendalikan Penyakit Hawar Daun Bakteri (Xanthomonas oryzae pv. Oryzae) Secara In Vitro
This research was aimed to determine the potential of Pseudomonas sp. in controlling bacterial leaf blight disease (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) in vitro. This research was conducted at the Laboratory of Agroecology, Faculty of Agriculture, University of Sultan Ageng Tirtayasa on June to September 2014. This research implemented experimental one factor that arranged in Completely Randomized Design with five replications. The treatment consisted of 6 isolates of Pseudomonas sp. (Ps 6, Ps 29, Ps 39, Ps 40, Ps 45, dan Ps 46) which was screened from the rhizosphere of roots of paddy plants. The inhibition of Pseudomonas sp. bacteria isolates was tested and showed that the results were not significantly different neither it was between each isolate nor against control (without treatment bacteria). Ps 39 isolate tend to had higher clear zone compare to other isolates.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui potensi Pseudomonas sp. asal rhizosper padi sebagai agen hayati untuk mengendalikan penyakit hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) secara in vitro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa pada bulan Juni-September 2014. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap non faktorial dengan lima ulangan. Perlakuan terdiri dari 6 isolat Pseudomonas sp. (Ps 6, Ps 29, Ps 39, Ps 40, Ps 45, dan Ps 46) yang memiliki kemampuan antagonis dan 1 kontrol air (tanpa bakteri) sebagai pembanding, sehingga terdapat 35 satuan percobaan. Isolat-isolat bakteri Pseudomonas sp. yang diuji daya hambatnya secara analisis tidak memiliki pengaruh, baik antar isolat maupun terhadap kontrol (tanpa bakteri perlakuan). Namun, secara keseluruhan mempengaruhi yaitu dengan terbentuknya zona bening menunjukkan adanya tingkat pengendalian. Isolat-isolat bakteri Pseudomonas sp. memiliki kemampuan yang relatif sama dalam mengendalikan bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Meski demikian, isolat Ps 39 dan memiliki zona bening yang cenderung lebih tinggi
Seleksi Aksesi Padi Lokal Bangka Melalui Pengujian Variabilitas dan Heritabilitas
Selection of parent plant is the first step in hybridization activities. The parent plant usually come from germplasms because it has a high diversity and good potential. Testing the potential of germplasm can be done by variability and heritability test. The purpose of this research was to selection of parent plant for plant breeding activity based on the value of variability and heritability. The research was conducted at the Experimental Garden of Faculty of Agriculture, Fisheries, and Biology, Bangka Belitung University. The research used experimental methods by was Randomized Block Design (RBD) with 3 blocks. The treatment are 7 accessions is Grintil, Balok Runti, Mukud Besak, Mayang Curui, Payang Tebing, Balok Lutong and Balok Lukan Jintan. The results showed that there were character differences between 7 local rice accessions of Bangka. The 7 local rice accessions of Bangka have high heritabilities value on The results showed that there were character differences between 7 local rice accessions of Bangka. The 7 local rice accessions of Bangka have high heritabilities values for plant height, flowering time, long panicle, total empty grain, harvest time, long seed, seed width, weight of 1000 seeds, total seeds, and weight seed/plant. Wide variability was found in long seed character. Balok Runti and Payak Tebing were recommended as the parent plants for further breeding activities.Seleksi tanaman tetua merupakan tahapan awal kegiatan persilangan. Tanaman tetua biasanya berasal dari plasma nutfah karena memiliki diversitas yang tinggi dan potensi yang bagus. Pengujian plasma nutfah yang potensial bisa dilakukan memlalui uji variabilitas dan heritabilitas. Tujuan penelitian ini yaitu menyeleksi tanaman tetua padi untuk kegiatan pemuliaan tanaman berdasarkan nilai variabilitas dan heritabilitas. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Biologi, Universitas Bangka Belitung. Penelitian menggunkan metode ekperimental Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Perlakuan yang digunakan berupa tujuh aksesi padi lokal, yaitu Grintil, Balok Runti, Mukud Besak, Mayang Curui, Payang Tebing, Balok Lutong and Balok Lukan Jintan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat perbedaan karakter antara tujuh aksesi padi lokal Bangka yang diuji. Heritabilitas tinggi untuk tujuh padi lokal Bangka diperoleh pada karakter karakter tinggi tanaman, waktu berbunga, panjang malai, jumlah biji hampa, waktu panen, panjang biji, lebar biji, berat 1000 biji, jumlah biji total, dan hasil biji/rumpun. Variabilitas luas diperoleh pada karakter panjang biji. Aksesi Balok Runti dan Payak Tebing direkomendasikan sebagai tanaman tetua untuk kegiatan pemuliaan selanjutnya.