74254 research outputs found
Sort by
Pengaruh Bentuk Susunan Dari Sonic Crystals Terhadap Penurunan Intensitas Kebisingan ( Insertion Loss )
Kebisingan yang dihasilkan oleh aktivitas lalu lintas adalah susunan harmonis yang tidak teratur dari berbagai elemen akustik yang menyatu menjadi satu komposisi yang kompleks. Ini dapat mencakup suara deru mesin yang terdengar secara terus menerus, dentuman klakson yang tiba-tiba, dan getaran aspal. Untuk meredam kebisingan suara lalu lintas yang tidak diinginkan, diperlukan sebuah peredam suara yang disebut sebagai Sonic Crystals, yaitu susunan periodik dari suatu benda yang berbahan homogen. Pada penelitian ini akan dikembangkan sistem peredam suara dari Sonic Crystals dengan memvariasikan bentuk jarak antar pusat bilah pada rentang frekuensi yang telah ditetapkan. Dengan memvariasikan bentuk jarak antar pusat bilah ini, diharapkan mampu menemukan nilai Insertion Loss terbaik pada rentang frekuensi 1000 Hz – 2000 Hz. Pada penelitian ini akan dilakukan uji eksperimental melalui pemodelan ruangan yang berbentuk balok berisi udara dengan memasang 2 mikrofon didalamnya. Dimana masing-masingnya sebagai penerima suara yang datang dari sumber suara dan penerima suara yang telah dipantulkan. Kedua mikrofon ini akan menghasilkan output berupa tekanan suara. Setelah nilai tekanan suara didapatkan dari masing – masing mikrofon, nilai – nilai tersebut akan diolah untuk mendapatkan nilai pemantulan tekanan suara. Kemudian nilai Insertion Loss dapat diperoleh dari hasil pengolahan nilai pemantulan tekanan suara. Kondisi dari Sonic Crystals yang berbentuk silinder pada eksperimen ini dirancang sebagai benda kaku. Kemudian eksperimen dilakukan pada ruangan kedap suara dimana tidak adanya gangguan gelombang suara dari luar dan susunan dari Sonic Crystals menggunakan material berbahan Epoxy Resin Rod. Hasil menunjukkan bahwa nilai maksimum penurunan intensitas kebisingan (Insertion Loss) terjadi pada rentang frekuensi 1600 Hz dengan nilai Insertion Loss sebesar 11,65 dB pada susunan Sonic Crystals berbentuk gabungan. Kemudian untuk urutan susunan terbaik dapat ditentukan bahwa susunan berbentuk gabungan menjadi susunan yang terbaik dalam hal nilai Insertion Loss yang dapat mendominasi pada rentang frekuensi 1100 Hz – 1600 Hz. Kemudian disusul oleh susunan berbentuk persegi. Terakhir, disusul oleh susunan berbentuk segitiga
Optimasi Perencanaan Produksi pada UMKM Kerupuk NH Jambi
Industri makanan dan minuman di Indonesia umumnya didominasi oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Produksi kerupuk kari udang dan kerupuk kue bawang UMKM Kerupuk NH sering-kali lebih besar dibandingkan dengan jumlah penjualannya yang menunjukan adanya overstock, namun
terkadang terdapat permintaan saat produk sudah habis yang menunjukkan adanya stockout. Proses produksi UMKM Kerupuk NH sering kali berlangsung melebihi jam kerja reguler, sehingga UMKM Kerupuk NH memberlakukan jam kerja lembur bagi karyawan produksi.
Tujuan penelitian ini adalah merancang perencanaan produksi pada produk UMKM Kerupuk NH untuk mendapatkan jumlahproduksi optimal sehingga dapat memaksimasi keuntungan dan meminimasi jam kerja lembur. Metode yang digunakan yaitu goal programming untuk menangani masalah yang melibatkan beberapa tujuan yang perlu dicapai secara bersamaan. Kemudian diperlukan penentuan prioritas di antara tujuan-tujuan tersebut. Metode pairwise comparison digunakan untuk menentukan bobot atau tingkat kepentingan setiap tujuan berdasarkan penilaian subjektif.
Hasil fungsi tujuan maksimasi keuntungan diperoleh nilai deviasi negatif sebesar nol dan deviasi positif sebesar 2% selama 24 periode. Hal ini menunjukkan bahwa hasil keuntungan aktual melebihi target keuntungan sebesar 2% dari nilai target keuntungan perusahaan sebesar Rp 391.288.014,67 menjadi Rp 397.683.129,79 selama 24 periode. Terdapat kenaikan keuntungan sebesar Rp 6.395.115,13 selama 24 periode atau sekitar Rp 266.463,13 per periode. Fungsi tujuan minimasi jam kerja lembur hanya terjadi lembur pada stasiun kerja pengemasan berkisar sebesar 8-27% dari kapasitas lembur sebesar 1.440 menit per periode
Pengaruh Perilaku Fear Of Missing Out Terhadap Social Media Fatigue Pada Generasi Z Di Kota Padang
Era digital dan pesatnya perkembangan media sosial telah mengubah cara berkomunikasi, terutama bagi Generasi Z yang lahir dan besar di tengah transformasi teknologi. Salah satu gejala yang muncul adalah Fear of Missing Out (FoMO), yakni kecemasan akan tertinggal informasi atau momen penting di dunia maya. FoMO yang berlebihan dapat berujung pada social media fatigue, kondisi ketika seseorang merasa jenuh, lelah, dan terbebani akibat penggunaan media sosial yang intensif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh FoMO terhadap social media fatigue pada Generasi Z di Kota Padang. Lewat pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari 100 responden pengguna aktif media sosial melalui kuesioner, lalu dianalisis dengan regresi linear sederhana. Penelitian ini menggunakan kerangka teori Theory of Compensatory Internet Use (TCIU), yang menjelaskan kecenderungan individu menggunakan media digital untuk meredakan perasaan negatif, meskipun pada akhirnya dapat menimbulkan efek samping berupa kelelahan digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat FoMO pada Generasi Z di Kota Padang berada pada kategori sedang, sedangkan tingkat SMF juga berada pada kategori sedang. Nilai koefisien regresi sebesar 0,772 menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara FoMO dan SMF. Kontribusi FoMO memengaruhi social media fatigue sebesar 34,3%, sementara sisanya dipengaruhi oleh variabel lain di luar kajian ini
PENGARUH INTERDEPENDENSI KOMPLEKS ANTARA VIETNAM DAN PERUSAHAAN MULTINASIONAL TERHADAP KEBIJAKAN INVESTASI ASING LANGSUNG VIETNAM
Penelitian ini menganalisis pengaruh interdependensi kompleks antara Vietnam dan Perusahaan Multinasional (MNC) terhadap kebijakan investasi nasional periode 2018-2025. Perekonomian Vietnam menunjukkan ketergantungan yang tinggi pada Investasi Asing Langsung, dengan MNC seperti Samsung, Intel, dan LG menjadi pendorong utama PDB dan menyumbang lebih dari 70% total ekspor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka konseptual Interdependensi Kompleks dari Keohane dan Nye. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan ini bersifat asimetris. Vietnam berada dalam posisi sensitivity dan vulnerability yang tinggi terhadap keputusan MNC, yang memberikan MNC daya tawar signifikan untuk memengaruhi kebijakan. Pengaruh ini dilembagakan melalui saluran ganda (multiple channels) seperti lobi langsung dan forum bisnis VBF dan kamar dagang. Hasil nyata dari interdependensi ini adalah lahirnya reformasi kebijakan yang transformasional. Undang-Undang Investasi 2020 memperluas insentif untuk R&D, dan Dekrit 19/2025 menciptakan prosedur "jalur cepat" yang memangkas birokrasi perizinan. Kebijakan ini merupakan respons reaktif langsung terhadap tuntutan kolektif MNC dan kegagalan mempertahankan investasi besar, seperti kasus Intel dan LG Chem. Penelitian ini menyimpulkan bahwa interdependensi asimetris telah memberikan MNC pengaruh dominan dalam membentuk arah kebijakan investasi Vietnam
Peran Usaha Pemeliharaan Ternak dalam Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja Keluarga Petani Peternak di Kabupaten Padang Pariaman
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaan tenaga kerja keluarga serta menganalisis produktivitas ekonomi tenaga kerja keluarga petani peternak di Kabupaten Padang Pariaman. Kajian ini difokuskan pada pengukuran produktivitas berdasarkan curahan waktu kerja (jam kerja) yang dikonversi ke dalam satuan Hari Orang Kerja (HOK) dan kemudian dinilai secara ekonomi dalam rupiah mengacu pada Upah Minimum Kabupaten (UMK) Padang Pariaman. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga Mei 2025 menggunakan metode survei dengan teknik Multistage Purposive Sampling terhadap 90 responden rumah tangga petani peternak. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik sosial ekonomi keluarga petani peternak, curahan waktu kerja, jenis dan sistem pemeliharaan ternak. Analisis dilakukan secara deskriptif kuantitatif dengan mengonversi curahan waktu kerja ke dalam satuan Hari Orang Kerja (HOK) dan dinilai secara ekonomi berdasarkan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Padang Pariaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan ternak keluarga yang dominan adalah semi-intensif dengan kombinasi ternak sapi potong, kambing, kerbau, ayam kampung, dan itik. Rata-rata curahan waktu kerja tenaga kerja keluarga sebesar 1,01 jam per hari atau 0,13 HOK, dengan nilai produktivitas ekonomi tenaga kerja keluarga mencapai Rp279.795,38 per bulan. Kontribusi terhadap total nilai produktivitas ekonomi tenaga kerja keluarga didominasi oleh pria dewasa sebesar 62%, wanita dewasa 36%, serta anak laki-laki dan anak perempuan masing-masing 1%. Usaha pemeliharaan ternak berperan penting dalam meningkatkan pemanfaatan tenaga kerja keluarga secara produktif dan memberikan kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga petani peternak. Namun, Nilai produktivitas yang masih rendah menunjukkan belum optimalnya pemanfaatan tenaga kerja keluarga, sehingga perlu upaya penyuluhan dan dukungan pemerintah untuk meningkatkan efisiensi serta produktivitas usaha ternak di pedesaan
PENGARUH DOSIS PUPUK KANDANG SAPI DAN JENIS MULSA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN LENGKUAS (Alpinia galanga L.) PANEN MUDA
Lengkuas (Alpinia galanga L.) merupakan tanaman rempah yang berasal
dari Asia Tropis yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional,
jamu, kosmetik, dan bumbu masakan. Tanaman lengkuas diketahui memiliki zat
aktif yang berfungsi mengobati gangguan pencernaan, meredakan kolik, sebagai
penawar keracunan, antikejang, serta memiliki aktivitas sebagai antiartrithis.
Pupuk kandang sapi merupakan salah satu pupuk organik yang memiliki
kandungan hara dan bahan organik yang tinggi sehingga dapat berpengaruh pada
pertumbuhan dan hasil tanaman. Pemberian mulsa juga dapat menunjang
keberhasilan budidaya lengkuas. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui
interaksi antara pupuk kandang sapi dan jenis mulsa, mendapatkan dosis pupuk
kandang dan jenis mulsa terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman
lengkuas. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Lahan Atas, Fakultas
Pertanian, Universitas Andalas, Padang dari bulan Maret sampai Juli 2024.
Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dalam dua faktor
yaitu faktor pertama dosis pupuk kandang sapi yang terdiri atas 3 taraf yaitu 10,
20, 30 ton/ha dan faktor kedua jenis mulsa yang terdiri atas 3 taraf yaitu tanpa
mulsa, mulsa jerami padi, dan mulsa plastik. Data hasil pengamatan dianalisis
dengan uji F taraf 5% dan apabila F hitung lebih besar daripada F tabel, maka
dilanjutkan dengan uji DNMRT taraf 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak
ada interaksi antara pupuk kandang sapi dan jenis mulsa terhadap pertumbuhan
dan hasil tanaman lengkuas. Dosis pupuk kandang sapi 30 ton/ha memberikan
pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman lengkuas, sedangkan
perbedaan jenis mulsa memberikan pengaruh yang sama
PENGARUH PENAMBAHAN SURFAKTAN OLEIC ACID DAN MoS2 TERHADAP SIFAT FISIK DAN TRIBOLOGI DARI MINYAK SAWIT PADA PENGUJIAN PIN ON DISC
Sebagai opsi pengganti pelumas berbasis mineral dan sintetis, digunakan biolubricant dari minyak nabati, seperti minyak sawit. Keunggulan penggunaan minyak sawit melibatkan aspek ramah lingkungan dan sifat diperbaharui. Namun, beberapa kelemahan minyak sawit, seperti kemudahan teroksidasi dan keterbatasan dalam menahan gesekan, memerlukan penambahan nano partikel dan surfaktan untuk meningkatkan sifat tribologinya. Nano partikel, seperti MoS2, yang memiliki dimensi kecil, berguna dalam mengurangi gesekan dan meningkatakan oksidasi pelumas. Sementara itu, surfaktan seperti oleic acid, berperan dalam mencegah penggumpalan pada campuran pelumas karena memiliki kemampuan untuk menurunkan tegangan pada permukaan partikel. Pengujian dilakukan untuk mengevaluasi sifat fisik pelumas dan sifat tribologinya, seperti tingkat keausan, koefisien gesek, dan struktur permukaan dari pelumas pada temperatur dan kecepatan putaran yang bervariasi pada alat uji pin on disc. Pada pengujian akan divariasikan temperatur pada temperatur kamar, 60°C, dan 100°C serta variasi kecepatan putaran pada 500 rpm dan 1400 rpm. Setiap pengujian dilakukan selama 60 menit dengan tiga kali pengulangan pada permukaan disc yang berbeda. Setelah dilakukan pengujian, selanjutnya akan diamati keausan dengan mengukur scar width dan scar diameter, dengan diamati pada mikroskop optik.
Penambahan 0,1%wt MoS2 dan 1%wt surfaktkan oelic acid pada minyak sawit nilai viskositas kinematik meningkat setelah adanya penambahan surfaktan merubah nilai dari viskositas indeks pada pelumas yang telah ditambahkan surfaktan juga meningkat, begitu juga nilai densitas dan flash point. Sedangkan untuk nilai pour point mengalami penurunan. Untuk pengujian koefisien gesek penambahan 0,1wt MoS2 dan 1%wt surfaktkan oelic acid mengurangi nilai koefisien gesek dibandingkan pelumas yang tidak ditambahkan surfaktan. Begitu juga dengan nilai keausannya juga berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan 0,1%wt MoS2 dan 1%wt surfaktkan oleic acid pada minyak sawit dapat memperbaiki kualitas dari pelumas
PENGARUH MULTISKALA TERHADAP VARIASI DIURNAL CURAH HUJAN DI KEPULAUAN MENTAWAI
Kepulauan Mentawai, terletak di timur Samudera Hindia memiliki pola curah hujan yang dipengaruhi oleh faktor multiskala, yaitu musim, Madden Julian Oscillation (MJO), dan Indian Ocean Dipole (IOD). Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh multiskala terhadap variasi diurnal curah hujan menggunakan data IMERG dan GSMaP selama 2000–2022 serta model WRF untuk 2013–2015. Analisis dilakukan terhadap precipitation accumulation (PA), precipitation frequency (PF), dan precipitation intensity (PI). Secara klimatologi, pola diurnal sangat dipengaruhi oleh ukuran pulau. Siberut yang mempunyai ukuran lebih besar mempunyai puncak hujan yang terjadi siang dan dini hari, hal ini dipengaruhi oleh offshore propagation dari Sumatera dan konveksi lokal. Di tiga pulau lainnya, hanya terjadi waktu puncak dini hari. Secara musiman, rata-rata curah hujan lebih tinggi dan waktu puncak hujan terjadi lebih lambat selama NDJFM dibandingkan MJJAS. Amplitudo diurnal lebih tinggi selama fase 2–3 daripada fase 6–7 MJO, dengan waktu puncak dini hari terjadi lebih cepat sekitar dua jam dari kondisi klimatologi. Rata-rata curah hujan mengalami peningkatan selama fase negatif dan penurunan selama fase positif dengan waktu puncak diurnal terjadi lebih cepat satu jam pada fase positif IOD. Penelitian ini menunjukkan pentingnya memahami pengaruh multiskala terhadap variasi diurnal curah hujan di Kepulauan Mentawai. Hasil ini berkontribusi terhadap peningkatan model iklim global di pulau-pulau kecil yang dipengaruhi oleh offshore propagation
Implementasi Risk Communication RRI Padang dalam Upaya Mitigasi Bencana Alam
Sumatera Barat merupakan daerah dengan risiko tinggi terhadap bencana alam seperti gempa bumi, dan tsunami, untuk itu RRI Padang sebagai lembaga penyiaran publik stasiun daerah bertanggungjawab menyampaikan pesan dan informasi risiko dalam upaya mitigasi bencana alam untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat melalui program-program siarannya. Untuk itu perlu diperhatikan bagaimana penerapan komunikasi risiko yang dilakukan RRI padang dalam upaya tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi komunikasi risiko oleh RRI Padang dalam upaya mitigasi bencana alam. Penelitian ini dianalisis menggunakan Model Komunikasi Risiko. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivisme. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, serta divalidasi melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RRI Padang mengimplementasikan komunikasi risiko dengan memulai pengumpulan data awal dari aduan masyarakat, yang kemudian diolah dan dikemas sesuai segmentasi demografis audiens. Informasi ini kemudian disebarluaskan melalui siaran terestrial dan platform daring seperti artikel berita, filler kebencanaan, dan kanal Youtube RRI Pro 1 Padang, dengan membangun dan menjalin sinergi dengan pihak terkait seperti BPBD Sumbar dan KOGAMI. Kemudian dalam proses komunikasi risiko, RRI Padang juga melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi secara rutin melalui rapat agenda setting harian untuk menentukan isu yang akan diangkat selanjutnya serta mengevaluasi siaran sebelumnya. Dalam proses pengimplementasian komunikasi risiko ini, RRI Padang menjumpai beberapa kendala, seperti jarak tempuh pencarian informasi awal, keterbatasan anggaran, dan rendahnya kepedulian masyarakat terhadap informasi risiko yang disampaikan
PERBANDINGAN EFEK PEMBERIAN COENZYME Q10 DAN CITICOLINE TERHADAP DENSITAS SEL GANGLION RETINA PADAETHAMBUTOL INDUCED OPTIC NEUROPATHY
Pendahuluan: Neuropati optik etambutol merupakan neuropati optik yang muncul
akibat efek toksik etambutol. Gejala dapat ringan hingga berat yang mengancam
penglihatan. Terapi definitif berupa menghentikan etambutol serta adjuvan untuk
mencegah kerusakan sel ganglion retina. Coenzyme Q10 sebagai anti oksidan dan
citicoline sebagai neuroprotektor dapat diberikan untuk melindungi sel ganglion retina.
Tujuan: Mengetahui perbandingan efek pemberian coenzyme Q10 dan citicoline
terhadap densitas sel ganglion retina pada neuropati optik etambutol.
Metode: Merupakan suatu studi eksperimental terhadap 32 tikus putih galur wistar yang
dikelompokkan menjadi empat kelompok: tanpa perlakuan, induksi etambutol 35
mg/kgBB, induksi etambutol 35 mg/kgBB dan coenzyme Q10 100 mg/kgBB, serta
induksi etambutol 35 mg/kgBB dan citicoline 1 g/kgBB selama 4 minggu. Densitas sel
ganglion retina dihitung berdasarkan jumlah sel ganglion retina secara histopatologi dan
analisis data dilakukan dengan uji one-way ANOVA dilanjutkan uji post hoc Bonferroni.
Hasil: Rerata densitas sel ganglion retina paling tinggi didapatkan pada kelompok tanpa
perlakuan (32,08 8,72), diikuti kelompok perlakuan induksi etambutol dan coenzyme
Q10 (29,28 7,18), etambutol dan citicoline (27,37 5,39) dan paling rendah pada
kelompok induksi etambutol saja. (20,53 4,25). Pemberian coenzyme Q10 dan
citicoline pada kelompok induksi etambutol meningkatkan densitas sel ganglion retina
secara signifikan dibandingkan kelompok yang hanya diinduksi etambutol (p < 0,05).
Densitas sel ganglion retina pada kelompok coenzyme Q10 lebih tinggi dibandingkan
kelompok citicoline, meskipun tidak signifikan secara statistik (p > 0,05).
Kesimpulan: Coenzyme Q10 dan citicoline berpotensi protektif terhadap kerusakan sel
ganglion retina akibat etambutol, dengan efek yang lebih menojol daripada Coenzyme
Q1