74254 research outputs found
Sort by
Pengaruh Suhu Pemanggangan Terhadap Karakteristik Fisikokimia dan Organoleptik Jagung Titi
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu pemanggangan terbaik terhadap karakteristik fisikokimia dan organoleptik jagung titi berdasarkan analisis kimia, analisis fisik, dan uji organoleptik. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Data penelitian dianalisis secara statistik menggunakan Analisis of Varians (ANOVA) dan dilanjutkan dengan analisis Duncan’s New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh suhu pemanggangan jagung titi berpengaruh nyata pada taraf 5% terhadap analisis kadar protein, kadar lemak, kekerasan, organoleptik aroma, organoleptik tekstur, organoleptik rasa dan organoleptik warna. Perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan suhu 140oC dengan nilai rata-rata kadar air 10,97%, kadar abu 0,27%, kadar protein 8,85%, kadar lemak 3,71%, angka lempeng total 1,56 x 103, kekerasan 17,80 N/cm2
, uji porositas 32,480% serta penerimaan organoleptik terhadap jagung titi dengan skor warna 3,96 (suka), aroma 3,84 (suka), tekstur 3,80 (suka), dan rasa 3,76 (suka)
Korelasi Panjang Tulang Femur dan Tibia dengan Tinggi Badan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Suku Minangkabau
Tinggi badan merupakan salah satu parameter penting dalam antropometri yang dapat menggambarkan proporsi dan pertumbuhan tubuh manusia. Dalam kondisi tertentu, seperti pada kasus forensik atau penelitian antropologi, tinggi badan dapat diperkirakan dari ukuran tulang panjang, terutama femur dan tibia. Setiap populasi suku memiliki karakteristik morfometri yang berbeda, sehingga diperlukan rumus estimasi tinggi badan spesifik berdasarkan kelompok etnis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara panjang tulang femur dan tibia dengan tinggi badan serta menentukan rumus estimasi tinggi badan berdasarkan kedua tulang tersebut pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas suku Minangkabau.
Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian terdiri dari 130 mahasiswa (65 laki-laki dan 65 perempuan) yang memenuhi kriteria inklusi. Data tinggi badan, panjang femur, dan panjang tibia diukur secara langsung menggunakan alat antropometri. Uji normalitas dilakukan dengan metode Kolmogrov-Smirnov, sedangkan analisis korelasi menggunakan uji Pearson dan dilanjutkan uji regresi linier sederhana.
Hasil penelitian didapatkan hubungan sangat kuat antara panjang tulang femur dan tinggi badan pada laki-laki (r = 0,866-0,868) dan perempuan (r = 0,869-0,872), serta hubungan kuat antara panjang tibia dengan tinggi badan pada laki-laki (r = 0,749-0,752) dan perempuan (r = 0,623-0,625) (p<0,001). Persamaan regresi menunjukkan bahwa panjang femur memberikan estimasi tinggi badan yang lebih akurat dibandingkan tibia
Gambaran Pola Sensitivitas Antibiotik dan Luaran Klinis pada Pasien Terinfeksi Pseudomonas aeruginosa dengan Gen mexA
Pseudomonas aeruginosa ditetapkan WHO sebagai patogen kritis utama yang
memerlukan penelitian segera untuk pengobatan terbaru, karena tingginya kejadian
resistensi antibiotik, salah satu mekanisme resistensi yang paling penting adalah
pompa efluks MexAB-OprM. Pompa efluks merupakan mekanisme resistensi
intrinsik yang mengeluarkan berbagai agen antimikroba dari dalam sel bakteri
sehingga mengurangi sensitivitas terapi antibiotik. Tujuan penelitian ini untuk
menggambarkan pola sensitivitas antibiotik dan luaran klinis pada pasien terinfeksi
Pseudomonas aeruginosa dengan gen mexA.
Penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional dilakukan pada 45 sampel
klinis dengan kultur dan pemeriksaan RT-PCR positif Pseudomonas aeruginosa, 44
diantaranya memiliki gen mexA.
Hasil menunjukkan bahwa distribusi kasus berdasarkan jenis kelamin hampir
sama, sering ditemukan pada usia golongan dewasa (18–59 tahun), dan komorbid
tersering yaitu diabetes melitus. Fokus infeksi terbanyak pada saluran pernapasan
dengan spesimen dominan berupa sputum. Aminoglikosida merupakan golongan
antibiotik paling sensitif, sementara sensitivitas menurun pada fluorokuinolon dan
tetrasiklin, dan sebagian masih sensitif terhadap !-laktam. Sebanyak 59,09%
pasien menunjukkan perbaikan klinis, sementara lama rawatan cenderung
memanjang.
Sebagian besar sampel yang diperiksa memiliki gen mexA dan masih sensitif
terhadap antibiotik amikasin, disertai kecenderungan perbaikan klinis dan durasi
rawatan yang memanjang
EKSPRESI HIF-1α PADA KANKER OVARIUM EPITELIAL: PERBEDAAN ANTARA KASUS DENGAN ENDOMETRIOSIS DAN TANPA ENDOMETRIOSIS
Latar Belakang: Kanker ovarium adalah kanker yang tumbuh di ovarium dimana jenis karsinoma
ovarium epitelial merupakan jenis yang terbanyak. Endometriosis merupakan salah satu faktor
risiko terjadinya kanker ovarium. Pemahaman terhadap lingkungan mikro dan mekanisme
karsinogenesis kanker ovarium terkait endometriosis ini diperlukan agar talalaksan dan prognosis
pasien lebih baik. Hipoksia merupakan salah satu lingkungan mikro pada endometriosis yang
dapat mendorong terjadinya kanker ovarium melalui aktivasi HIF-1α. Pengaktivasian HIF-1α.
dapat menginduksi gen target yang terlibat dalam karsinogenesis serta jalur pensinyalan
intraseluler lainnya. Penelitian mengenai HIF-1α dengan kanker ovarium terkait endometriosis ini
masih sangat terbatas dan belum ada yang membandingkannya antara kelompok dengan
endometriosis dan kelompok tanpa endometriosis penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui perbedaan ekspresi HIF-1α pada kanker ovarium epitelial dengan endometriosis
(EAOC) dan tanpa endometriosis (non-EAOC). Metode: Rancangan penelitian analitik
observasional dengan desain cross sectional. Populasi penelitian ini adalah semua kasus kanker
ovarium epitelial yang telah didiagnosis di laboratorium Patologi Anatomik RS M. Djamil Padang
periode Januari 2024 - Juni 2025. Sampel digunakan sebanyak total 34 kasus kanker ovarium
epitelial dengan proporsi 17 kasus EAOC dan 17 kasus non-EAOC diambil secara consecutive
sampling. Slaid yang telah terwarnai hematoxyline dan eosine (HE) direevaluasi klasifikasi, tipe,
grading dan staging-nya. Blok parafin dikumpulkan untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan
imunohistokimia (IHK) HIF-1α untuk menganalisis ekspresi protein secara semikuantitatif
(Immunoreactivity score) Ekspresi tinggi HIF-1α jika skor IRS 4-12. Analisis data secara statistik
menggunakan uji Chi-square.
Hasil: Hasil penelitian mendapatkan mayoritas pasien EAOC berusia 41-50 tahun dengan rerata
usia 45 tahun, status paritas terbanyak multipara, jenis endometriosis yang paling bannyak adalah
kista coklat, tipe histopatologis terbanyak adalah tipe I, derajat histopatologis terbanyak adalah
high grade, stadium terbanyak adalah early stage. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara
ekspresi HIF-1α pada EAOC dan non-EAOC (p=1,000), begitupun juga dengan staging (p=0,086).
Tetapi terdapat hubungan yang bermakna antara ekspresi HIF-1α dengan tipe histopatologis
(p=0,034) dan grading (p=0,001) kanker ovarium epitelial. Kesimpulan: Ekspresi tinggi HIF-1α
lebih berperan pada progresivitas dan agresivitas pada kanker ovarium epitelial, sedangkan
perannya pada tumorigenesis dan karsinogenesis masih memerlukan penelitian lebih lanjut
Pengaruh Informasi Arus Kas dan Laba Bersih terhadap Volume Perdagangan Saham (Studi Kasus pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2020-2024)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh informasi arus kas dan laba bersih terhadap volume perdagangan saham serta perbedaan volume perdagangan saham antara sebelum dan sesudah tanggal publikasi laporan keuanagan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2020 – 2024. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Data diperoleh dari laporan keuangan dan Indonesian Capital Market Directory (ICMD) yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia. Sampel dipilih berdasarkan metode purposive sampling. Berdasarkan kriteria yang ada, terdapat 20 perusahaan yang menjadi sampel penelitian. Metode penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif dan analisis regresi linear berganda serta uji beda dengan program SPSS versi 26. Pengujian hipotesis menggunakan uji tdan uji F serta Uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil penelitian menunjukkan arus kas berpengaruh signifikan terhadap volume perdagangan saham sementara laba bersih tidak berpengaruh terhadap volume perdagangan saham. Sedangkan secara simultanarus kas dan laba bersih berpengaruh terhadap volume perdagangan saham. Hasil uji beda menunjukkan terdapat perbedaan volume perdagangan saham antara sebelum dan sesudah tanggal publikasi laporan keuangan.
Kata kunci: Arus Kas, Laba Bersih, Volume Perdagangan Saha
PENGARUH PERCEIVED VALUE TERHADAP PURCHASE INTENTION PADA GREEN PERSONAL CARE EARTH LOVE LIFE DENGAN ETHICAL CONCERN SEBAGAI MEDIASI (Studi Pada Masyarakat Milenial Kota Padang)
PENGARUH PERCEIVED VALUE TERHADAP PURCHASE INTENTION PADA GREEN PERSONAL CARE EARTH LOVE LIFE DENGAN ETHICAL CONCERN SEBAGAI MEDIASI
Skripsi oleh Nadilla Salsabilla
Pembimbing : Dr. Ma’ruf, S.E., M.Buss., M.Phil.
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi karena adanya peningkatan penggunaan produk green personal care di Indonesia terlebih di Kota Padang. Dasar teori yang digunakan adalah green consumer behavior karena dapat menjelaskan keterkaitan antara nilai, kesadaran, dan tanggung jawab moral konsumen yang mendorong perilaku sustainability. Menggunakan metode kuantitatif yang didapatkan melalui persebaran kuesioner kepada 120 milenial di Kota Padang dan diolah menggunakan SmartPLS 4.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceived value berpengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention serta ethical concern, sementara ethical concern juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention, serta ethical concern secara signifikan memediasi hubungan antara perceived value dan purchase intention. Hasil dari penelitian ini menegaskan bahwa untuk memasarkan produk yang mengusung value ramah lingkungan diperlukan kondisi dimana konsumen sudah memiliki pemahaman dan kepedulian terhadap isu keberlanjutan. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat menambah variabel-variabel lain yang lebih relevan serta memperluas karakteristik dari responden penelitian.
Kata kunci : Perceived Value, Purchase Intention, Ethical Concern
Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Fungsi Paru pada Remaja Perokok di Sekolah Menengah Kejuruan Kota Padang
Sebagian besar perokok memulai perilaku merokoknya saat remaja yang merupakan fase penting pertumbuhan fungsi paru. Data terbaru menunjukkan pergeseran usia pertama kali merokok menjadi kelompok usia remaja yang lebih muda, yang akan meningkatkan lamanya paparan asap rokok sehingga memicu kerusakan jaringan paru kronis dan penurunan fungsi paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang memengaruhi fungsi paru pada remaja perokok di SMK Kota Padang.
Penelitian ini merupakan studi analitik dengan pendekatan potong lintang yang dilaksanakan dari bulan Desember 2024 hingga bulan November 2025. Sampel penelitian diperoleh dengan metode consecutive sampling dengan kriteria inklusi yaitu perokok konvensional berusia 12-19 tahun dari tiga SMK. Partisipan mengisi kuesioner terkait karakteristik merokok dan ketergantungan nikotin yang diukur dengan kuesioner MFTQ versi bahasa Indonesia. Pengukuran IMT menggunakan kurva WHO 2007. Fungsi paru diukur dengan spirometer (Spirolab MIR) dengan hasil z-score menggunakan referensi GLI-South East Asia. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat dengan regresi linear berganda.
Terdapat 42 partisipan yang memenuhi kriteria penelitian. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas remaja perokok memiliki orang tua yang merokok (85,7%), usia pertama kali merokok 10-14 tahun (40,5%), durasi merokok 2-4 tahun (38,0%), jumlah konsumsi rokok kurang dari 5 batang per hari (57,1%), tidak ketergantungan nikotin (54,8%), dan IMT normal (66,7%). Rerata nilai z-score parameter fungsi paru adalah -1,0367 ± 0,49565 untuk VEP1, 0,0587 ± 0,79439 untuk KVP, dan -1,5066 ± 0,72405 untuk rasio VEP1/KVP. Durasi merokok berhubungan signifikan dengan VEP1 (p=0,006) dan KVP (p=0,032). IMT berhubungan dengan KVP (p=0,0005) dan rasio VEP1/KVP (p=0,001). Rasio VEP1/KVP juga berhubungan dengan status merokok orang tua (p=0,035). IMT merupakan faktor dominan yang memengaruhi KVP (p=0,0005, B=0,642) dan rasio VEP1/KVP (p=0,0005, B=-0,539).
VEP1 dipengaruhi oleh durasi merokok. KVP dipengaruhi oleh durasi merokok dan IMT, dengan faktor dominan IMT. Rasio VEP1/KVP dipengaruhi oleh status merokok orang tua dan IMT, dengan faktor dominan IMT
KARAKTERISTIK DAN RESPON ESTRUS KAMBING PERANAKAN ETAWA (PE) DARA SETELAH SINKRONISASI MENGGUNAKAN CIDR DAN KOMBINASI CIDR - PGF2α
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan karakteristik respon
estrus kambing Peranakan Etawa (PE) dara setelah sinkronisasi menggunakan
Controlled Internal Drug Release (CIDR) dan kombinasi CIDR dengan
Prostaglandin F2α (PGF2α). Empat belas ekor kambing PE dara dengan bobot rata
rata 25,70 ± 2,69 kg dibagi menjadi dua kelompok perlakuan: (P1) implantasi CIDR
selama 12 hari, dan (P2) implantasi CIDR selama 12 hari dengan injeksi PGF2α
pada hari ke-10. Parameter yang diamati meliputi gejala klinis estrus (perubahan
vulva, lendir, tingkah laku), suhu vagina, gambaran kristalisasi lendir vagina
(ferning), dan sitologi ulas vagina. Pengamatan dilakukan setiap 12 jam selama 54
jam setelah pencabutan CIDR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100%
kambing pada kedua kelompok menunjukkan respon estrus. Analisis statistik
menggunakan repeated measure ANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan
signifikan (P > 0,05) pada intensitas skor estrus antara perlakuan P1 dan P2 , namun
terdapat perbedaan yang sangat signifikan dari waktu ke waktu (P < 0,05).
Gambaran ferning mulai teramati pada jam ke-24 dan mencapai 100% pada kedua
kelompok pada jam ke-48 setelah pencabutan CIDR. Analisis sitologi vagina
menunjukkan peningkatan proporsi sel superfisial yang mencapai puncaknya pada
jam ke-48 pada kedua kelompok, menandakan fase estrus. Disimpulkan bahwa
kedua protokol sinkronisasi, baik menggunakan CIDR tunggal maupun kombinasi
CIDR-PGF2α, sama-sama efektif dalam menyerentakkan estrus pada kambing PE
dara, meskipun tidak ditemukan perbedaan efektivitas yang signifikan antara
keduanya.
Kata Kunci: Kambing Peranakan Etawa, Sinkronisasi Estrus, CIDR, PGF2α,
Respon Estrus, Ferning, Sitologi Vagin
GAMBARAN PASIEN TUMOR HIPOFISIS YANG MENJALANI RESEKSI TUMOR DENGAN PENDEKATAN TRANSSPHENOID DI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2020-2024
Tumor hipofisis adalah salah satu jenis tumor yang sering ditemukan pada sistem saraf pusat, dengan gejala klinis yang bervariasi tergantung pada ukuran dan jenis tumor tersebut. Tumor ini dapat dibagi menjadi tumor hipofisis fungsional dan non-fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik pasien tumor hipofisis yang menjalani reseksi tumor dengan pendekatan transsphenoid di RSUP Dr. M. Djamil Padang berupa keluhan utama, usia, jenis kelamin, asal daerah pasien, kondisi penglihatan setelah operasi, pemeriksaan patologi anatomi, ukuran tumor, dan keterlibatan saraf kranial pada periode 2020-2024.
Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data rekam medis pasien tumor hipofisis yang menjalani reseksi tumor dengan pendekatan transsphenoid periode 2020-2024 dengan teknik pengambilan total sampling. Pada periode ini tercatat 13 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, kemudian diolah dan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan hasil distribusi pasien tumor hipofisis terbanyak yaitu: keluhan utama berupa gangguan penglihatan (61,5%), kelompok usia 40-60 tahun (53,8%), jenis kelamin laki-laki (53,8%), asal daerah dari luar kota padang (84,6%), adanya perbaikan penglihatan setelah dilakukan operasi (61,5%), jenis adenoma adalah adenoma hipofisis (92,3%), ukuran tumor makroadenoma (100%), dan adanya keterlibatan saraf kranial (84,6%).
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai karakteristik pasien tumor hipofisis yang menjalani reseksi tumor dengan pendekatan transsphenoid di RSUP Dr. M. Djamil Padang, serta memberikan dasar bagi pengembangan pedoman klinis dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Rekurensi Kanker Serviks pada Pasien di Rumah Sakit Umum Pusat Dr.M.Djamil Padang
Kanker serviks merupakan salah satu masalah kesehatan yang signifikan di Indonesia. Meskipun tatalaksana telah berkembang, rekurensi atau kekambuhan pasca-terapi masih menjadi tantangan serius. Di RSUP Dr. M. Djamil Padang, data tahun 2024 menunjukkan prevalensi rekurensi kanker serviks mencapai 18,35%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian rekurensi kanker serviks pada pasien di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Penelitian ini merupakan studi analitik dengan rancangan case control. Pengambilan data dilakukan secara sekunder dari rekam medis elektronik pasien kanker serviks di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2023 sampai Agustus 2025. Total sampel penelitian adalah 63 pasien, yang terdiri dari 21 pasien kelompok kasus (mengalami rekurensi) dan 42 pasien kelompok kontrol (tidak mengalami rekurensi). Analisis data bivariat dilakukan menggunakan uji Independent Samples T-Test untuk variabel usia dan uji regresi logistic sederhana untuk variabel kategorik lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan rerata usia keseluruhan sampel adalah 50,14 ± 8,87 tahun. Karakteristik pasien didominasi oleh jenis histopatologi Karsinoma Sel Skuamosa, terdiagnosis pada Stadium II, serta mayoritas menerima tatalaksana berupa Radioterapi Tunggal. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara usia , jenis histopatologi, dan jenis tatalaksana dengan kejadian rekurensi kanker serviks. Namun, ditemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara stadium FIGO dengan rekurensi. Pasien dengan Stadium II memiliki risiko 10,15 kali lebih tinggi untuk mengalami dan pasien Stadium IV memiliki risiko 24 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien Stadium I.
Kesimpulan dari penelitian ini menemukan bahwa stadium FIGO merupakan satu-satunya faktor dalam penelitian ini yang terbukti memiliki hubungan signifikan dengan kejadian rekurensi kanker serviks. Stadium yang lebih lanjut saat diagnosis meningkatkan risiko rekurensi secara bermakna