Andalas University

eSkripsi Universitas Andalas
Not a member yet
    74254 research outputs found

    Analisis Pengaruh Sektor Pariwisata Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Barat

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sektor pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerja di kabupaten/kota Provinsi Sumatera Barat selama periode 2019–2023, dengan fokus pada empat variabel utama yaitu jumlah hotel, restoran, objek wisata, dan wisatawan. Menggunakan data panel yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan dianalisis dengan metode regresi Fixed Effect Model (LSDV), penelitian ini menemukan bahwa perkembangan sektor pariwisata memiliki kontribusi signifikan dalam mendorong penciptaan lapangan kerja, meskipun terdapat perbedaan dampak antar wilayah. Hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan jumlah fasilitas akomodasi, usaha kuliner, daya tarik wisata, serta arus kunjungan wisatawan mampu meningkatkan aktivitas ekonomi lokal dan memperluas kesempatan kerja, dengan variasi pengaruh yang dipengaruhi oleh karakteristik daerah. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan pariwisata yang terencana, merata, dan berbasis potensi lokal sebagai strategi untuk memanfaatkan momentum bonus demografi dan mengurangi pengangguran di Sumatera Barat

    Fungsi Sosial dari Tradisi Maanta Bubua dalam Perkawinan Masyarakat Nagari Cupak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok

    No full text
    Niswatul Khomelia, NIM. 2110821008, Departemen Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas, Padang, 2025. Skripsi ini berjudul: “Fungsi Sosial dari Tradisi Maanta bubua Dalam Perkawinan Masyarakat Nagari Cupak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi sosial dari tradisi maanta bubua dalam perkawinan masyarakat Nagari Cupak serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat Nagari Cupak masih mempertahankan pelaksanaan tradisi maanta bubua sampai sekarang. Tradisi maanta bubua merupakan salah satu bentuk upacara adat manjalang mintuo yang dilakukan oleh pihak keluarga anak daro mengunjungi pihak keluarga marapulai setelah akad nikah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara, studi pustaka dan dokumentasi terhadap tokoh adat, masyarakat setempat, serta pihak keluarga yang terlibat langsung dalam tradisi tersebut. Sedangkan metode analisis data yang digunakan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi maanta bubua terbagi atas maanta bubua marapulai barampek dan maanta bubua marapulai baduo. Pelaksanaan pada prosesinya diawali dengan persiapan oleh keluarga pihak anak daro, sanak famili, dan masyarakat setempat melalui kegiatan memasak bersama, setelah seluruh makanan selesai dipersiapkan, dilanjutkan dengan melakukan arakan menuju rumah pihak marapulai. Setibanya di sana, mereka disambut dengan pidato pasambahan, lalu dipersilakan masuk untuk makan bersama. Acara diakhiri dengan doa penutup sebelum rombongan kembali ke rumah. Tradisi maanta bubua ini masih dilaksanakan oleh masyarakat Nagari Cupak karena memiliki fungsi sendiri terhadap masyarakat, seperti dalam tradisi maanta bubua memiliki fungsi terhadap adat, fungsi tradisi maanta bubua terhadap hubungan kekerabatan, dan fungsi tradisi maanta bubua terhadap masyarakat. Meskipun terjadi perubahan bentuk dan penyederhanaan akibat faktor ekonomi dan sosial, nilai-nilai inti dari tradisi maanta bubua tetap terjaga dan dipertahankan sehingga menjadikannya sebagai bagian penting dalam pelestarian adat Minangkabau. Keberlangsungan tradisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti identitas kelompok, hubungan kekerabatan dan tuntutan adat, serta status sosial yang melekat pada masyarakat Nagari Cupak

    Pengaruh Penambahan Persentase Serbuk MoS2 Pada Cairan Pendingin Dromus Terhadap Kekasaran Permukaan Hasil Proses Membubut Baja Karbon Rendah Menggunakan Pahat HSS.

    No full text
    Dalam industri pemesinan, penggunaan cairan pendingin yang efektif sangat diperlukan untuk meningkatkan efisiensi pemesinan dan memperpanjang umur pahat. Pahat yang digunakan adalah High Speed Steel (HSS). Pengujian yang dilakukan adalah kekasaran permukaan. Tujuannya untuk mengeksplorasi bagaimana variasi persentase penambahan serbuk Molybdenum Disulfide (MoS₂) mempengaruhi kekasaran permukaan baja karbon rendah yang dibubut dengan menggunakan pahat High-Speed Steel (HSS). Kemudian, membandingkan hasil kekasaran permukaan antara penggunaan cairan pendingin Dromus tanpa penambahan MoS₂ dan dengan variasi penambahan serbuk MoS₂ pada persentase 0%, 2%, 4%, dan 6%. Salah satu tantangan utama dalam proses pemesinan adalah pengendalian kekasaran permukaan hasil pemesinan. Kekasaran permukaan yang tinggi dapat mempengaruhi kualitas produk akhir dan umur pahat. Kekasaran permukaan merupakan parameter penting dalam teknik dan manufaktur yang mempengaruhi kualitas produk akhir. Metode penelitian dimulai dengan proses pembubutan baja karbon rendah ST37 sepanjang 210 mm menggunakan pahat High Speed Steel (HSS) hingga mencapai batas kekasaran permukaan 0,5 mm. Selama proses ini, dilakukan dalam sekali pengujian digunakan untuk mengalirkan campuran antara MoS2 dengan dromus. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan MoS₂ mampu menurunkan nilai kekasaran permukaan dibandingkan penggunaan Dromus murni. Konsentrasi MoS₂ sebesar 6% terbukti paling efektif dalam menghasilkan permukaan dengan kekasaran terendah, yakni 2,2637 μm, dibandingkan variasi lainnya. Validitas data diuji melalui analisis statistik ANOVA dan Tukey, yang membuktikan adanya perbedaan signifikan antar variasi konsentrasi dan posisi pengujian

    Identifikasi Timbulan dan Komposisi Sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari Fasilitas Pendidikan di Kota Padang

    No full text
    Sampah yang mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) atau limbah B3 (sampah B3) dihasilkan dari berbagai aktivitas, diantaranya fasilitas pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis timbulan dan komposisi sampah B3, mengidentifikasi pengelolaan sampah B3 eksisting dan memberikan rekomendasi pengelolaan sampah B3 di fasilitas pendidikan di Kota Padang meliputi TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan perguruan tinggi. Analisis timbulan dan komposisi sampah B3 berdasarkan jenis dan karakteristik dilakukan dengan pengukuran terhadap 20 Unit sampel sampah B3 dengan keandalan survei 97,8%. Dari pengukuran didapatkan satuan timbulan sampah B3 dari fasilitas pendidikan Kota Padang sebesar 0,60 ± 0,16 g/o/h (0,07 ± 0,02 g/m2/h) dalam satuan berat atau 12,35 ± 2,33 ml/o/h (1,74 ± 0,31 ml/m2/h) dalam satuan volume. Timbulan sampah B3 yang dihasilkan sebesar 172,93 kg/h atau 2.302,43 l/h dengan persentase dalam total sampah fasilitas pendidikan sebesar 1,8%. Komposisi sampah B3 terbanyak berdasarkan jenis berupa kemasan B3 47,7% dan sampah elektronik 33,1%. Sementara berdasarkan karakteristik berupa karakteristik beracun 49,4%. Hasil wawancara dan pengamatan lapangan didapatkan sudah dilakukan pengurangan sampah di sumber dengan kegiatan membeli produk dengan kemasan besar dan umur pakai yang lama. Namun dalam penanganan, sampah B3 masih bercampur dengan sampah kota lainnya mulai dari pewadahan sampai ke pemrosesan akhir di TPA. Rekomendasi yang diberikan kepada pengelola sekolah/kampus adalah melakukan pemilahan dan pewadahan sampah B3 di sumber dengan melibatkan partisipasi masyarakat sekolah/kampus. Rekomendasi untuk Pemerintah Kota adalah melakukan kegiatan pengumpulan, penyimpanan, pendaur ulangan dan pemanfaatan, pengolahan, pengangkutan dan pemrosesan akhir sampah B3 yang bekerjasama dengan pihak ketiga yang telah memiliki izin

    Pengaruh E-Wom, Citra Destinasi Dan Motivasi Wisatawan Terhadap Keputusan Berkunjung Ke Pusat Dokumentasi Dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (Pdikm) Di Kota Padang Panjang

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Electronic Word of Mouth (E-WOM), citra destinasi, dan motivasi wisatawan terhadap keputusan berkunjung ke Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) di Kota Padang Panjang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan explanatory research. Sampel penelitian berjumlah 225 responden yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, dan analisis data menggunakan Partial Least Square-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan software SmartPLS 4.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa E-WOM tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan berkunjung, citra destinasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan berkunjung, serta motivasi wisatawan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan berkunjung ke PDIKM. Temuan ini mengindikasikan bahwa penguatan strategi pemasaran digital, peningkatan citra destinasi, dan pemahaman motivasi wisatawan merupakan faktor penting untuk menarik kunjungan wisatawan ke PDIKM. Kata kunci: E-WOM, citra destinasi, motivasi wisatawan, keputusan berkunjung, PDIK

    Pola Keterlambatan Utilisasi Pelayanan Kesehatan pada Pasien Tuberkulosis Berdasarkan Patient Pathway Analysis (PPA) Terhadap Kejadian TBC RO di Kota Padang

    No full text
    Tuberkulosis resistan obat (TBC RO) menjadi tantangan besar dalam pengendalian TBC. Keterlambatan utilisasi pelayanan kesehatan berkontribusi pada hasil pengobatan buruk dan risiko resistensi. Angka keterlambatan masih tinggi secara global (35–60%), nasional (20–50%), maupun di Kota Padang. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola keterlambatan dalam utilisasi pelayanan kesehatan pasien TBC melalui Patient Pathway Analysis (PPA), serta faktor yang berhubungan dengan kejadian TBC RO di Kota Padang tahun 2024. Penelitian menggunakan desain case control pada 42 responden (14 kasus, 28 kontrol) dengan data primer (wawancara) dan sekunder (SITB, rekam medis), dianalisis univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil menunjukkan mayoritas kasus TBC RO mengalami keterlambatan (71,4%), berkunjung pertama kali ke faskes non-layanan TBC (71,4%), tidak mendapat pemeriksaan diagnosis (71,4%), berpendidikan tinggi (57,1%), serta menikah (57,1%). Proporsi pendapatan dan jarak rumah relatif seimbang (50%). Kelompok kasus memiliki durasi keterlambatan lebih panjang dibanding kontrol. Variabel keterlambatan total (p=0,005), jenis faskes pertama (p=0,005), dan tindakan awal faskes (p=0,011) terbukti berhubungan dengan kejadian TBC RO. Disimpulkan bahwa keterlambatan utilisasi pelayanan kesehatan berkontribusi terhadap TBC RO. Dinas Kesehatan perlu memperkuat edukasi deteksi dini serta mendorong tenaga kesehatan aktif dalam skrining, penanganan awal, dan pelacakan kasus

    RESPONS TANAMAN KEDELAI (Glicyne max (L.)Merril) EDAMAME PADA PEMBERIAN BEBERAPA KONSENTRASI PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria)

    No full text
    Kedelai edamame merupakan jenis tanaman polong-polongan yang kaya akan manfaat. Banyaknya manfaat pada kedelai edamame menjadikannya digemari masyarakat dan memiliki peluang ekspor yang cukup tinggi. Namun, Indonesia belum dapat mencukupi kebutuhan tersebut karena lahan yang digunakan memiliki unsur hara yang terbatas. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut salah satunya dengan penggunaan PGPR (Plant Growth Promothing Rhizobacteria). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai edamame. Penelitian ini telah dilaksanakan di Rumah Kawat dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat pada Desember 2024 sampai Maret 2025. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan konsentrasi PGPR 0 ml/l, 10 ml/l, 20 ml/l, 30 ml/l dan 40 ml/l. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan uji F pada taraf nyata 5%. Nilai F yang berbeda nyata (F hitung > F tabel) dilanjutkan uji lanjut Duncan’s New Multipe Range Test (DNMRT) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PGPR 20 ml/l memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik pada tanaman kedelai edamame

    Uji Aplikasi Herbisida Glufosinat dan Sulfentrazon Terhadap Gulma di Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Belum Menghasilkan

    No full text
    Keberadaan gulma menjadi salah satu penghambat utama produktivitas di perkebunan kelapa sawit. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian gulma agar meningkatkan pertumbuhan tanaman dan mencegah dampak ekonomi yang besar terhadap produksi kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui vegetasi gulma sebelum aplikasi herbisida, serta mengetahui efikasi herbisida Glufosinat dan Sulfentrazon secara tunggal dan campuran terhadap tanaman kelapa sawit belum menghasilkan. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Juni 2022 yang bertempat di perkebunan rakyat di Sungai Dareh, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 taraf perlakuan, yaitu perlakuan Glufosinat 4000 ml/ha, Sulfentrazon 2000 ml/ha, serta Glufosinat 3000 ml/ha + Sulfentrazon 1500 ml/ha, penyiangan manual, dan tanpa herbisida. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan Duncan’s New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian mengidentifikasi 12 spesies gulma sebelum aplikasi herbisida. Temuan menunjukkan bahwa terdapat 4 spesies gulma yang terpengaruh herbisida Glufosinat dan Sulfentrazon yaitu Asystasia gangetica, tanaman pengganggu Hevea brasiliensis Muell. Arg., Ottochloa nodosa, dan Mikania micrantha Kunth. Aplikasi tunggal herbisida Glufosinat 4000 ml/ha, Sulfentrazon 2000 ml/ha dan campuran Glufosinat 3000 ml/ha + Sulfentrazon 1500 ml/ha efektif mengendalikan gulma hingga 8 Minggu Setelah Aplikasi (MSA). Aplikasi herbisida Glufosinat 4000 ml/ha lebih efektif dalam menekan bobot kering gulma dibandingkan dengan herbisida Sulfentrazon 2000 ml/ha. Sedangkan aplikasi campuran herbisida Glufosinat 3000 ml/ha + Sulfentrazon 1500 ml/ha merupakan aplikasi terbaik dalam menekan bobot kering gulma. Hasil penelitian ini diharapkan dapat sebagai bahan informasi mengenai efikasi herbisida Glufosinat dan Sulfentrazon secara tunggal dan campuran terhadap gulma di perkebunan kelapa sawit (Elais guineensis Jacq.) belum menghasilkan

    Objek Wisata Aie Angek Bukik Gadang Pincuran 7 Koto Anau, Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok (2008-2023)

    No full text
    Pemandian Aie Angek Bukik Gadang yang terletak di Nagari Koto Anau, Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok, awalnya merupakan pemandian umum yang dimanfaatkan masyarakat tanpa adanya unsur komersial. Sejak tahun 2008, pemandian ini mulai berkembang menjadi objek wisata. Skripsi ini membahas tentang perkembangan Pemandian Aie Angek Bukik Gadang serta dinamika sosial ekonomi masyarakat dalam merespons keberadaannya. Fokus penelitian diarahkan pada meningkatnya kunjungan wisatawan pada masa pandemi COVID-19, dampak berdirinya warung-warung yang menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat, serta perbedaan pandangan masyarakat terhadap penetapan pemandian sebagai objek wisata yang memunculkan pro dan kontra. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data diperoleh melalui studi pustaka, arsip, serta wawancara dengan pengelola, pelaku usaha, dan masyarakat sekitar. Selain itu, pendekatan deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis dampak sosial ekonomi serta pandangan masyarakat terhadap objek wisata tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kunjungan wisatawan pada masa pandemi COVID-19 memberikan peluang ekonomi baru, terutama melalui berdirinya warung-warung di sekitar lokasi pemandian. Namun, perbedaan pandangan masyarakat menimbulkan dinamika tersendiri: sebagian mendukung pemandian dijadikan objek wisata karena membuka lapangan usaha dan meningkatkan ekonomi lokal, sementara sebagian lainnya menilai perubahan tersebut membawa tantangan baru dalam kehidupan sosial masyarakat. Peneliti menyimpulkan bahwa keberadaan Pemandian Aie Angek Bukik Gadang sebagai objek wisata memberikan dampak ganda bagi masyarakat, baik dari aspek ekonomi maupun sosial. Oleh sebab itu, diperlukan pengelolaan yang berkelanjutan serta melibatkan partisipasi masyarakat agar keberadaan objek wisata ini dapat memberi manfaat secara lebih merata. Kata Kunci: Aie Angek Bukik Gadang, Pemandian, Objek Wisata, Dinamika Sosial Ekonomi, Pengelolaan Wisata

    Kajian Life Cycle Assessment Pada Sistem Pengelolaan Sampah Kota Payakumbuh

    No full text
    Sistem pengelolaan sampah di Kota Payakumbuh saat ini masih menghadapi tantangan dalam penerapan prinsip keberlanjutan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008, khususnya terkait teknologi pengolahan dan metode pemrosesan akhir. Penelitian ini bertujuan menentukan skenario terbaik dalam sistem pengelolaan sampah melalui pendekatan Life Cycle Assessment (LCA), dengan batasan sistem yang dikaji cradle to grave menggunakan metode CML-IA dengan kategori dampak yang dikaji mencakup Global Warming Potential (GWP) yang menggambarkan potensi pemanasan global, Acidification Potential (AP) menunjukkan potensi pengasaman, dan Eutrophication Potential (EP) menggambarkan potensi eutrofikasi. Penelitian ini dilakukan terhadap tiga skenario: skenario 0 (kondisi eksisting, dengan rotary kiln manual di TPS 3R dan pengomposan bokashi di rumah kompos), skenario 1 (mengacu pada Perencanaan Teknik dan Manajemen Persampahan/PTMP 2023, menggunakan rotary kiln dengan mesin pemutar di TPS 3R dan rumah kompos), dan skenario 2 (modifikasi skenario 1 dengan mengganti rotary kiln menjadi metode takakura). Proyeksi timbulan sampah tahun 2025 digunakan secara seragam untuk memastikan perbandingan setara. Hasil menunjukkan skenario 2 mempunyai dampak lingkungan terendah: 1.445.933.938,34 kg CO₂-eq (GWP), 3.303.107,55 kg SO₂-eq (AP), dan 2.734.861,71 kg PO₄-eq (EP). Hal ini dikarenakan penggunaan pengomposan takakura yang hemat energi, lebih sederhana, dan berbasis masyarakat sehingga memberikan kontribusi dalam menurunkan dampak lingkungan. Dampak terbesar bersumber dari landfill, terutama pada skenario 0 yang menggunakan sistem open dumping dan menghasilkan emisi CH4 serta lindi tinggi, sedangkan skenario 1 dan 2 diterapkan sistem controlled landfill. Pemilihan metode pengolahan yang minim emisi dapat menjadi salah satu upaya dalam menurunkan dampak sistem pengelolaan sampah secara keseluruhan

    58,132

    full texts

    74,254

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eSkripsi Universitas Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇