UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan
Not a member yet
2923 research outputs found
Sort by
Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Digital Terhadap Hasil Belajar Matematika
Perkembangan teknologi digital yang pesat telah mendorong transformasi signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran matematika yang kerap dianggap sulit dan abstrak oleh siswa. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan media digital terhadap hasil belajar matematika melalui pendekatan studi literatur. Proses analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan mengkaji efektivitas berbagai media digital, seperti Geogebra, Desmos, LMS, PowerPoint interaktif, dan lainnya terhadap peningkatan hasil belajar, minat, serta keterampilan berpikir matematis siswa. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar media digital berkontribusi positif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika, baik dari sisi hasil belajar maupun motivasi siswa. Simpulan dari kajian ini menegaskan pentingnya pemilihan media yang tepat dan relevan dengan kebutuhan siswa serta perlunya dukungan kebijakan dan pelatihan guru dalam integrasi teknologi ke dalam pembelajaran matematika. Kajian ini juga membuka peluang untuk pengembangan media digital berbasis kebutuhan siswa dan penelitian lebih lanjut mengenai integrasi soft skills dan personalisasi gaya belajar dalam pendidikan matematika digital.
 
Etnomatematika Pada Alat Pembuatan Batik Yogyakarta
Penelitian ini mengkaji peran wajan sebagai sumber etnomatematika dalam proses pembuatan batik sekaligus sebagai sarana pembelajaran matematika berbasis konteks budaya. Fokus utama kajian terletak pada aspek geometri dan pengukuran yang tampak pada bentuk wajan seperti jari-jari, diameter, kedalaman, dan volume ruang cekung, serta keterkaitannya dengan nilai-nilai budaya membatik dan penerapannya dalam kegiatan belajar matematika di sekolah. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi partisipatif, wawancara dengan pengrajin batik, dan analisis dokumen. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa wajan memiliki unsur-unsur geometri seperti bentuk lingkaran, simetri, dan juga mengandung konsep pengukuran linear (jari-jari, diameter, keliling, kedalaman) yang dapat dihubungkan dengan perhitungan matematis. Artikel ini juga menawarkan contoh penerapan pembelajaran yang menggunakan wajan untuk mengenalkan konsep jari-jari, diameter, keliling, luas permukaan, serta volume. Hal ini menunjukkan bahwa wajan sebagai bagian dari budaya membatik dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran matematika kontekstual yang tidak hanya memperdalam pemahaman konsep tetapi juga menumbuhkan apresiasi terhadap kearifan lokal
Eksplorasi Etnomatematika dalam Proses Pembuatan dan Penyajian Kupat Tahu Monjali 06
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil eksplorasi etnomatematika yang terkandung dalam proses pembuatan dan penyajian Kupat Tahu Monjali 06, sebagai salah satu kuliner tradisional khas Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi guna menggali konsep-konsep matematis yang muncul secara alami dalam aktivitas masyarakat. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi terhadap pelaku usaha Kupat Tahu Monjali 06 yang telah berdiri sejak tahun 1970-an dan diteruskan secara turun-temurun hingga generasi ketiga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam aktivitas pembuatan dan penyajian kupat tahu terdapat berbagai aktivitas yang mengandung konsep-konsep matematika, seperti geometri, pengukuran, perbandingan, proporsi, kesimetrian, dan estimasi waktu. Pada tahap pembuatan ketupat terdapat konsep geometri ruang dan pola simetri pada anyaman janur, serta konsep perbandingan volume dalam menentukan takaran beras agar ketupat tidak terlalu padat atau lembek. Tahap perebusan mengandung konsep pengukuran volume air, waktu, dan proporsi perebusan. Tahap peracikan kuah bumbu kacang mencerminkan konsep perbandingan dalam takaran bahan untuk menjaga konsistensi rasa. Sementara itu, tahap penyajian terdapat unsur pengukuran volume, dan bentuk ruang pada potongan tahu yang berbentuk kubus, takaran kuah, serta pola simetris dan proporsi seimbang dalam penataan hidangan. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Kupat Tahu Monjali 06 tidak hanya memiliki nilai ekonomi dan budaya, tetapi juga memiliki nilai-nilai matematis yang dapat dijadikan sumber belajar kontekstual berbasis kearifan lokal. Etnomatematika yang terkandung dalam kuliner tradisional ini dapat memperkuat pembelajaran matematika yang lebih bermakna, menarik, dan dekat dengan kehidupan nyata peserta didik
Etnomatematika Eksplorasi Etnomatematika: konsep Aritmetika Sosial serta Pola dan Hubungan terhadap Nasi Lengko makanan Khas Indramayu
Nasi Lengko adalah hidangan khas yang mencerminkan kesederhanaan dan kearifan lokal masyarakat Indramayu dan sekitarnya. Terdiri dari nasi putih yang disajikan dengan tahu, tempe, tauge, dan irisan timun, lalu disiram dengan bumbu kacang khas dan kecap manis, serta ditaburi kucai dan biasa di hidangkan pada pagi hari. Bagi pedagang Nasi Lengko, perhitungan modal dan untung sangat diperhatikan. Dengan adanya penelitian ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Etnomatematika sekaligus menganalisis keterkaitan antara budaya kuliner Nasi Lengko dengan konsep matematika; “aritmetika sosial”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung terhadap proses pembuatan, serta wawancara mendalam dengan penjual Nasi Lengko yang diperkuat dengan studi literatur. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa di balik keragaman cita rasa bumbu yang khas, Nasi Lengko juga memiliki hubungan yang kuat terhadap konsep aritmetika sosial dengan menentukan harga jual per porsi hingga analisis keuntungan harian. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa Nasi Lengko dapat dimodelkan dan dihitung secara matematis dalam proses pembuatannya yang membuktikan bahwa adanya integrasi matematika dalam budaya praktis masyarakat
Tolerance Education in Muslim Minority Educational Institutions in Cambodia, Thailand, and Indonesia
Purpose – This study aims to analyze tolerance education policies and their integration into the curriculum of Islamic educational institutions in Muslim-minority areas: Phnom Penh (Cambodia), Hat Yai (Thailand), and Mentawai (Indonesia). Highlighting good practices in tolerance education is essential to strengthen Islamic education and counteract negative stigmas of Muslim minorities as intolerant or extremist.
Design/methods/approach – Employing a mixed-methods approach with a cross-sectional design, this research prioritizes qualitative methods supported by quantitative data. Data were collected through in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGDs), documentation, and questionnaires.
Findings – Tolerance education is implemented contextually, shaped by each country’s socio-political environment. In Cambodia, it is promoted through harmonious intergroup relations, a flexible curriculum, and state support, particularly from the monarchy and the Mufti’s autonomy in developing Islamic schools. In Thailand, private Islamic schools implement tolerance by aligning with the royal education framework, encouraging interfaith student interaction, and emphasizing Islamic teachings as rahmatan lil \u27alamin. In Indonesia, state madrasas incorporate tolerance education systematically through national programs like Religious Moderation.
Research implications/limitations – The findings underscore the importance of context-responsive educational policies to foster social harmony and prevent early signs of intolerance. This research is limited to specific regions but offers transferable insights.
Originality/value – This study contributes original insights into how tolerance education can be effectively embedded within Islamic education curricula in minority Muslim contexts by adapting to local policies and cultural dynamics, fostering inclusive Islamic communities based on principles of mercy and coexistence
Analysis of Arabic Learning Methods: A Case Study at Madrasah Al-Yusufiyyah Al-Islamiyyah Chariyatham Suksa Foundation School, Thailand: Analisis Metode Pembelajaran Bahasa Arab: Studi Kasus Di Madrasah Al-Yusufiyyah Al-Islamiyyah Chariyatham Suksa Foundation School Thailand
Mastery of the Arabic language is a fundamental competence for students in Islamic educational institutions. However, at Madrasah Al-Yusufiyyah Al-Islamiyyah Chariyatham Suksa Foundation School in Thailand, some students still experience limitations in understanding texts and communicating in Arabic. This condition necessitates the implementation of more appropriate and contextual teaching methods. This study aims to analyse the Arabic language-teaching methods used in the school. Using a qualitative case study design, data were collected through classroom observations, interviews with Arabic language teachers, and the analysis of documents and learning materials. The findings indicate that the school employs an eclectic approach that combines the direct method, communicative approach, and grammar-translation method. This combination is suitable for students whose mother tongue is not Arabic. Its implementation has gradually improved students\u27 abilities in text comprehension and communication. Thus, the eclectic method is effective and relevant for Arabic language instruction in multilingual contexts such as Thailand.
Keywords: Al-Yusufiyyah Al-Islamiyyah Madrasah Thailand, Arabic Learning, Eclectic Approach, Learning Method
The Effectiveness of Telegram Quizzes in Enhancing Arabic Language Content Mastery Among Participants of the Sabilurrasyad Arabic Course in Bandung: Efektivitas Kuis Telegram dalam Meningkatkan Penguasaan Materi Bahasa Arab bagi Peserta Kursus Bahasa Arab di Sabilurrasyad Bandung
Purpose – This study aims to investigate the implementation, effectiveness, strengths, and limitations of the Telegram quiz feature as a learning medium in Arabic language instruction. The study adopts a quantitative descriptive approach with an experimental research design.
Design/methods/approach – The study employed a descriptive quantitative approach with an experimental design using a one-group pretest-posttest model. Data were collected through questionnaires and tests (pre-test and post-test) administered to 10 course participants. The results were then analyzed through hypothesis testing using a paired sample t-test.
Findings – The findings indicate a significant difference in participants\u27 mastery of Arabic language material after using the Telegram quiz. Based on data analysis from 10 course participants, a significant improvement in Arabic language mastery was observed following the use of Telegram quizzes, with mean scores rising from 89.90 (pre-test) to 94.60 (post-test) (Sig. = 0.027 < 0.05; t = 2.645 > tₜₐbₗₑ = 2.262). The Telegram quiz feature was found to be practical and user-friendly, offering a multiple-choice format that facilitates recall and comprehension of learning material. Its interface is engaging and enjoyable, and it provides immediate feedback on whether the selected answer is correct or incorrect. However, certain limitations were identified, including the small font size that can hinder readability, the inability of quiz creators to edit questions or answers once published, and the requirement for stable internet access or data availability for implementation.
Research implications/limitations – These findings suggest that Telegram quizzes can serve as an effective alternative instructional medium for non-formal Arabic language education. However, the study is limited by its focus on a single social media platform and a small sample size.
Originality/value – This study contributes to the expanding body of research on digital learning media by specifically addressing the pedagogical value of Telegram’s quiz feature, a tool that has received limited attention in the context of non-formal Arabic language instruction.
Abstrak
Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi, efektivitas, kelebihan, dan keterbatasan fitur kuis Telegram sebagai media pembelajaran dalam pengajaran bahasa Arab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain penelitian eksperimen.
Desain/metode/pendekatan – Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain eksperimen menggunakan model one-group pretest-posttest. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan tes (pre-test dan post-test) yang diberikan kepada 10 peserta kursus. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji hipotesis dengan teknik paired sample t-test.
Temuan – Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam penguasaan materi bahasa Arab peserta setelah menggunakan kuis Telegram. Berdasarkan analisis data dari 10 peserta kursus, terjadi peningkatan signifikan dalam penguasaan bahasa Arab setelah penggunaan kuis Telegram, dengan rata-rata skor meningkat dari 89,90 (pre-test) menjadi 94,60 (post-test) (Sig. = 0,027 < 0,05; t = 2,645 > tₜₐbₗₑ = 2,262). Fitur kuis Telegram dinilai praktis dan mudah digunakan, dengan format pilihan ganda yang memudahkan peserta dalam mengingat dan memahami materi pembelajaran. Antarmukanya menarik dan menyenangkan serta memberikan umpan balik langsung mengenai jawaban yang benar atau salah. Namun, terdapat beberapa keterbatasan, seperti ukuran huruf yang kecil sehingga mengganggu keterbacaan, tidak adanya opsi untuk mengedit soal atau jawaban setelah dipublikasikan, serta kebutuhan akan koneksi internet yang stabil atau ketersediaan data.
Implikasi/batasan penelitian – Temuan ini menunjukkan bahwa kuis Telegram dapat menjadi alternatif media pembelajaran yang efektif dalam pendidikan bahasa Arab non-formal. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya berfokus pada satu platform media sosial dan jumlah sampel yang kecil.
Orisinalitas/nilai – Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan kajian media pembelajaran digital dengan secara khusus menyoroti nilai pedagogis dari fitur kuis Telegram, sebuah alat yang masih jarang dibahas dalam konteks pengajaran bahasa Arab non-formal
Comparing the Effectiveness of Iqro’ and Tsaqifa Methods on Elderly Qur’anic Reading Skills at Nurul Iman Karanganyar : Perbandingan Efektivitas Metode Iqro’ dan Tsaqifa terhadap Kemampuan Membaca Al-Qur’an Lansia di Nurul Iman Karanganyar
Abstract
Purpose – This study aims to compare the effectiveness of the Iqro’ and Tsaqifa methods in improving the Qur\u27anic reading ability among elderly women at the Nurul Iman Islamic Boarding School for the Elderly in Karanganyar. The research is grounded in the reality that cognitive decline commonly occurs with advancing age, making the selection of an appropriate instructional method a critical factor in enhancing learning outcomes and spiritual motivation among elderly learners.
Design/methods/approach – A quantitative approach was employed using a quasi-experimental design. The sample consisted of 54 elderly female learners, divided into two groups: the Iqro’ method group (n=28) and the Tsaqifa method group (n=26). Data were collected through an oral reading test of Surah Al-Mulk verses 1–5 and analyzed using an independent sample t-test, following tests for normality and homogeneity of variance.
Findings – The results indicate that the Tsaqifa group achieved a higher mean score (59.27) compared to the Iqro’ group (53.75). Furthermore, the percentage of participants categorized as “very good” was higher in the Tsaqifa group (34.62%) than in the Iqro’ group (21.43%). The t-test revealed a statistically significant difference between the two methods (t = 2.253 > t₀.05 = 2.006; p < 0.05), indicating that the Tsaqifa method is more effective in enhancing Qur\u27anic reading skills among elderly learners.
Research implications/limitations – The study offers practical insights for Islamic educational institutions and Qur’an instructors in selecting pedagogical methods tailored to elderly learners. It also enriches the discourse on age-sensitive Qur’anic instruction methods. However, the study is limited by its scope, being conducted in a single pesantren and involving only female participants.
Originality/value – This study presents a novel contribution by quantitatively comparing two widely used Qur’anic reading methods among elderly learners—an area that has received limited scholarly attention within Islamic education research. The findings may inform curriculum development and teacher training programs based on andragogical principles and spiritual literacy for aging populations.
Abstrak
Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas metode Iqro’ dan Tsaqifa terhadap kemampuan membaca Al-Qur’an pada lansia perempuan di Pondok Pesantren Lansia Nurul Iman, Karanganyar. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi kognitif, sehingga pemilihan metode pembelajaran yang tepat menjadi faktor penting dalam meningkatkan hasil belajar dan motivasi spiritual lansia.
Desain/Metode/Pendekatan – Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu (quasi-experimental). Sampel penelitian terdiri dari 54 orang lansia perempuan yang dibagi ke dalam dua kelompok: kelompok metode Iqro’ (n=28) dan kelompok metode Tsaqifa (n=26). Data dikumpulkan melalui tes membaca lisan Surah Al-Mulk ayat 1–5 dan dianalisis menggunakan uji-t (independent sample t-test) setelah uji asumsi normalitas dan homogenitas terpenuhi.
Temuan – Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok Tsaqifa memperoleh rata-rata skor lebih tinggi (59,27) dibanding kelompok Iqro’ (53,75). Persentase kategori "sangat bagus" pada kelompok Tsaqifa (34,62%) juga lebih tinggi dibanding kelompok Iqro’ (21,43%). Hasil uji-t menunjukkan thitung = 2,253 > ttabel = 2,006 dengan p < 0,05, yang mengindikasikan perbedaan yang signifikan antara kedua metode. Dengan demikian, metode Tsaqifa terbukti lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an pada lansia.
Implikasi/batasan Penelitian – Penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi lembaga pendidikan Islam dan pengajar Al-Qur’an dalam memilih metode yang sesuai untuk lansia. Hasil ini juga memperkaya kajian tentang metode pembelajaran Al-Qur’an berbasis usia dan kondisi fisiologis pembelajar. Namun, keterbatasan penelitian terletak pada ruang lingkup yang terbatas pada satu pesantren dan satu jenis kelamin.
Orisinalitas/Nilai – Penelitian ini memiliki nilai kebaruan karena memberikan analisis perbandingan dua metode populer pembelajaran Al-Qur’an secara kuantitatif pada kelompok lansia, yang selama ini jarang menjadi fokus dalam kajian pendidikan Islam. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan kurikulum dan pelatihan guru berbasis pendekatan andragogi dan literasi spiritual lansia
Rice husk waste characterization: Absorption and absorbance properties for potential renewable energy applications
Purpose – This study aims to characterize rice husks as a renewable energy source. It measures the absorption and absorbance of rice husk waste. It determines the factors that affect the efficiency of rice husks (RHS) as a renewable energy source.
Design/methods/approach – Laboratory experiments and literature reviews were the methods used in this study. Material characterization was performed using a Vector Network Analyzer (VNA) to measure electromagnetic wave absorption and a UV-VIS spectrometer to measure UV absorption.
Findings – The results of the VNA measurement of RHS HCl 0M carbon = -3.80 dB; 1M = -13.28dB, and 3M = -12.28 dB. Absorbance measurements were then performed using UV-Vis. Based on the measurements performed, the absorbance values of each material were as follows: RH HCl 0M = 0.187 AU; 1M = 0.084 AU; 3M = 0.141 AU.
Research implications/limitations – Exploring the potential of rice husks as an environmentally friendly and sustainable renewable energy source. Analyzing the physical and chemical characteristics of rice husks, including their carbon content, to determine the energy efficiency that can be generated through various conversion technologies such as combustion, activation, and measurement.
Originality/value – This study focuses on the potential of rice husks as a renewable energy source
Whispers of Wisdom: A Qualitative Case Study on Character Education through Dodaidi Lullabies in Aceh’s Early Childhood
Purpose – This study explores the values of local wisdom embedded in Dodaidi lullabies as perceived by caregivers in Acehnese communities, with the aim of identifying and analyzing character values expressed through this traditional oral form. Rather than evaluating outcomes in children, the study focuses on how parents and community figures view Dodaidi as a cultural medium for transmitting values in early childhood. Dodaidi represents a unique combination of musical art, oral tradition, and cultural symbolism that reflects the moral and spiritual aspirations of Acehnese society.Design/methods/approach – A qualitative case study approach was employed, with data collected through interviews, observations, and document analysis to investigate how Dodaidi is practiced and interpreted within informal family education settings.Findings – The study identified key values that are embedded in Dodaidi lyrics according to parental and community perspectives: (1) unity and faith; (2) worship and religious practice; (3) reverence for parents and teachers (takzim); (4) social empathy and manners; and (5) responsibility and a strong work ethic.Research implications/limitations – This study presents Dodaidi as a cultural expression perceived by caregivers to support informal character education. However, it does not assess its actual impact on children’s development. The study relies on adult perspectives and does not examine how abstract values like faith or responsibility are internalized by young children, especially those who may not yet comprehend the lyrics. Thus, conclusions are limited to perceived functions rather than proven effectiveness.Practical implications – Dodaidi is typically sung by parents or grandparents during bedtime, blending affectionate interaction with the transmission of values and cultural identity. Its preservation can support cultural continuity in early childhood education.Originality/value – The research contributes to discourse on culturally rooted educational practices by documenting how traditional lullabies such as Dodaidi are understood as moral resources within family life. It encourages greater appreciation for oral traditions as part of local strategies for value-based education.Paper type Case stud