Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
Not a member yet
125 research outputs found
Sort by
EFEKTIFITAS GEL DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum) PADA PERAWATAN PERIODONTITIS KRONIS
ABSTRAK Periodontitis merupakan penyakit jaringan pendukung gigi yang disebabkan oleh bakteri patogen yang terdapat dalam plak gigi. Eliminasi bakteri plak dapat dilakukan secara mekanis, ataupun dikombinasikan dengan bahan kemoterapeutik yang pemberiannya dapat secara lokal maupun sistemik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh gel daun sirih merah (Piper crocatum) sebagai terapi tambahan dari skeling dan penghalusan akar pada perawatan periodontitis kronis. Penelitian ini bersifat randomized controlled trial, single blind, split mouth dengan metode sebelum dan sesudah perawatan. Delapan belas orang penderita periodontitis kronis, berusia 30-62 tahun berpartisipasi dalam penelitian ini. Penelitian dilakukan dengan membagi rahang subyek menjadi 2 sisi, yaitu sisi uji dan sisi kontrol. Kedua sisi diberikan perawatan skeling dan penghalusan akar, dengan sisi uji diberi tambahan aplikasi topikal gel daun sirih merah. Evaluasi parameter klinis (kedalaman poket dan perdarahan gingiva) dilakukan 1 bulan paska perawatan. Data dianalisa secara statistik menggunakan uji t berpasangan untuk perbandingan sebelum dan sesudah perawatan pada masing-masing sisi, serta uji t tidak berpasangan untuk membandingkan sisi uji dan sisi kontrol. Terdapat perbaikan seluruh parameter klinis di semua permukaan pada kedua sisi dengan permukaan distobukal sisi uji menunjukkan rata-rata perbaikan paling besar, yaitu masing-masing sebesar 43,7% periodontal probe depth (PPD) dan 92,3% bleeding on probing (BOP). Kesimpulanna bahwa aplikasi topikal gel daun sirih merah pada penderita periodontitis kronis dapat mengurangi kedalaman poket dan perdarahan gingiva.  Kata Kunci: gel daun sirih merah; periodontitis kronis; skeling; penghalusan akar.  ABSTRACT  Periodontitis is a disease of the supporting tissues of the teeth caused by pathogenic bacterial plaque. Elimination of bacterial plaque can be done mechanically, or in combination with chemotherapeutic agents that can use locally or systemically. The purpose of this study was to determine the effect of red betel leaf (Piper crocatum) gel as adjunctive therapy of scaling and root planing in the treatment of chronic periodontitis. This study is a randomized control trial, single-blind, split mouth method before and after treatment. Eighty patients with chronic periodontitis, aged 30-62 years participated in the study. The study was conducted by dividing the subjects into 2 sides of the jaw, test side and control side. Both sides were treated scaling and root planing, with the test side given an additional topical application of red betel leaf gel. Evaluation of clinical parameters (pocket depth and gingival bleeding) was performed 1 month after treatment. The data were statistically analyzed using the paired t test for comparison before and after treatment on each side, and the unpaired t test to compare the test side and the control side. There is an improvement of all parameters in both two side whereas distobuccal test side shows average greatest improvement for all clinical parameters, each 43,7% (PPD) and 92,3% (BOP). Topical application of red betel leaf gel in patients with chronic periodontitis can reduced pocket depth, increasing the epithelial attachment, and reduces gingival bleeding.  Keywords: Red betel leaf gel, topical applications, scaling and root planing, chronic periodontitis
Uji aktivitas gel ekstrak daun pohpohan (Pilea trinervia W.) terhadap penyembuhan luka bakar pada kelinci (Oryctolagus cuniculus)
Abstrak Masyarakat Indonesia mengenal dan memanfaatkan tanaman berkhasiat obat sebagai salah satu upaya dalam penanggulangan masalah kesehatan. Salah satu tanaman berkhasiat untuk menyembuhkan luka bakar adalah daun pohpohan (Pilea trinervia W.). Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas gel ekstrak daun pohpohan (Pilea trinervia W.) terhadap penyembuhan luka bakar pada kelinci. Pembuatan gel dilakukan pada beberapa konsentrasi ekstrak daun pohpohan, yaitu 0,5, 1, dan 2%, Setelah dilakukan pembuatan gel, maka dilakukan evaluasi gel untuk mengetahui kualitas sediaan, meliputi uji organoleptis, homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat, dan uji aktivitas luka bakar. Uji aktivitas luka bakar dilakukan pada 3 ekor kelinci jantan dengan 5 sisi perlakuan pada tiap kelinci, dan diinduksi dengan logam panas dengan alat uji Rafiky’sTool Pressure Test. Sebagai pembanding digunakan Bioplacenton®. Pemberian gel pada pengobatan luka bakar dilakukan 2 kali sehari. Parameter yang diukur adalah diameter luka bakar selama 10 hari. Data hasil uji aktivitas luka bakar diuji statistik menggunakan uji non parametric Kruskal-Wallis dan uji lanjut Mann Whitney. Hasil evaluasi gel menunjukkan bahwa gel yang mengandung ekstrak daun pohpohan konsentrasi 0,5, 1, dan 2% memenuhi persyaratan homogenitas, pH, daya penyebaran dan daya lekat. Hasil uji aktivitas luka bakar menunjukkan bahwa gel dengan konsentrasi ekstrak pohpohan 0,5, 1, dan 2% mampu menurunkan diameter luka bakar lebih cepat dibandingkan kontrol. Kelompok ekstrak daun pohpohan 2% memiliki aktivitas penyembuhan luka bakar paling cepat dan hampir sama dengan kontrol positif Bioplacenton®. Dapat disimpulkan bahwa gel yang mengandung ekstrak pohpohan mempunyai aktivitas menyembuhkan luka bakar. Kata kunci:    Daun pohpohan (Pilea trinervia W.), Gel, Luka bakar Wound healing activity of pohpohan (Pilea trinervia W.) extract gel on rabbit Abstract Indonesian people recognize and utilize nutritious crops as one of the efforts in the prevention of health problems. One of the nutritious plants to heal burns is the leaves of pohpohan (Pilea trinervia W.). This study aims to test the activity of pohpohan leaf extract (Pilea trinervia W.) on the healing of burns in rabbits. Preparation of gel is done on some concentration of pohpohan leaf extract, that is 0,5, 1, and 2%. After gel making, gel evaluation is done to know the quality of preparation, including organoleptic test, homogeneity, pH test, spreading test, sticky, and burn activity test. Burning activity test was performed on 3 male rabbits with 5 treatment sides on each rabbit, and induced with hot metal by Rafiky'sTool Pressure Test. For comparison use Bioplacenton®. Gels on the treatment of burns done 2 times a day. Parameters measured were burn diameter for 10 days. Data on burn activity test results were tested statistically using non-parametric Kruskal-Wallis test and further test of Mann Whitney. The results of gel evaluation showed that the gel containing pohpohan leaves extract concentration of 0.5, 1, and 2% fulfilled the homogeneity, pH, dispersion and stickiness requirements. The result of burn activity test showed that gel with concentration of 0,5, 1, and 2% extract pohpohan able to reduce burn burn diameter faster than control. The 2% pohpohan leaf extract group has the fastest burn healing activity and almost equal to the positive control of Bioplacenton®. It can be concluded that gel containing pohpohan extract has activity to heal burns. Keywords: Pohpohan (Pilea trinervia W.), Gel, Wound healin
Aktivitas ekstrak etanol daun singawalang (Petiveria alliacea L.) dan fraksinya sebagai antidiabetes
Abstrak Diabetes melitus (DM) adalah sekelompok gangguan metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia. Salah satu tanaman yang mempunyai efek antidiabetes adalah daun singawalang (Petiveria alliacea L.). Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antidiabetes dengan model hewan defisiensi insulin dan penghambatan enzim alfa glukosidase. Pengujian defisiensi insulin dilakukan menggunakan mencit induksi aloksan. Mencit dikelompokkan menjadi 11 kelompok, yaitu normal, kontrol negatif, kontrol positif (glibenklamid 0,65 mg/kgbb), ekstrak etanol (dosis 80 dan 160 mg/kgbb), fraksi n-heksana (dosis 80 dan 160 mg/kgbb), fraksi etil asetat (dosis 80 dan 160 mg/kgbb), dan fraksi air (dosis 80 dan 160 mg/kgbb). Pemberian bahan uji dilakukan berulang setiap hari selama 14 hari dan kadar glukosa darah diukur pada hari ke-7, 14, 17, dan 19. Kemudian hewan dikorbankan, dilakukan isolasi pankreas, dan dihitung luas pulau Langerhans, jumlah sel alfa dan beta pankreas. Pada uji hambat enzim alfa glukosidase, dilakukan penentuan nilai IC50 tiap fraksi terhadap aktivitas enzim, dan akarbose digunakan sebagai pembanding. Hasil uji defisiensi insulin menunjukkan bahwa ekstrak etanol dosis 80 dan 160 mg/kgbb memiliki kemampuan untuk menurunkan kadar glukosa darah. Berdasarkan hasil histologi pankreas juga menunjukkan bahwa ekstrak etanol dosis 80 dan 160 mg/kgbb mengurangi jumlah sel alfa pankreas, diperkirakan dapat menurunkan sekresi glukagon. Pada metode penghambatan enzim alfa glukosidase fraksi n-heksana dan fraksi air menunjukkan adanya penghambatan aktivitas enzim alfa glukosidase yang lebih baik dibandingkan akarbose. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ektrak etanol daun singawalang dan fraksinya mempunyai aktivitas sebagai antidiabetes. Kata kunci:    Daun singawalang, defisiensi insulin, enzim alfa glukosidase.  In vivo and in vitro activity of ethanol extracts from the leaves of singawalang (Petiveria alliacea l.) and its fractions as antidiabetic Abstract Diabetes mellitus (DM) is a group of metabolic disorders characterized by hyperglycemia. One of the plants that has antidiabetic effect is the leaves of singawalang (Petitiia alliacea L.). This study aims to examine antidiabetic activity with animal model of insulin deficiency and inhibition of alpha glucosidase enzyme. Tests of insulin deficiency were performed using alloxan induction mice. The mice were grouped into 11 groups, normal, negative control, positive control (glibenclamide 0.65 mg/kgbw), ethanol extract (doses 80 and 160 mg/kgbw), n-hexane fractions (doses 80 and 160 mg/kgbw), ethyl acetate doses 80 and 160 mg/kgbw), and water fractions (doses of 80 and 160 mg/kgbw). Testing was performed daily for 14 days and blood glucose was measured on days 7, 14, 17, and 19. Later animals were sacrificed, isolated pancreas, and calculated the area of Langerhans Island, the number of alpha and beta cells of the pancreas. In the alpha glucosidase enzyme inhibition test, IC50 values were determined for each fraction of enzyme activity, and the acarbose was used as a comparison. Insulin deficiency test results showed that ethanol extract dose 80 and 160 mg/kg bw has the ability to lower blood glucose levels. Based on histological results of the pancreas also showed that ethanol extract dose 80 and 160 mg/kgbw reduce the number of pancreatic alpha cells, is expected to decrease glucagon secretion. In the inhibition method of alpha glucosidase enzyme n-hexane fraction and water fraction showed the inhibition of alpha glucosidase enzyme activity better than akarbose. The conclusion of this research is the ethanol extract of singawalang leaves and fraction has activity as antidiabetes. Keywords:     Diabetes mellitus, leaf singawalang, insulin deficiency, the enzyme alpha-glucosidase
ISOLASI SENYAWA AKTIF ANTIJAMUR Fusarium oxysporum Schlecht DARI DAUN CENGKEH
ABSTRAK Pada penelitian ini telah dilakukan isolasi dan identifikasi senyawa aktif antijamur dari ekstrak n-heksan, etil asetat ,methanol dan minyak atsiri tanaman obat daun cengkeh ( Syzygium aromaticum (L.) Merrill and Perry), terhadap pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum Schlecht. Uji aktivitas antijamur menggunakan metode difusi agar dengan menghitung prosentase penghambatan pertumbuhan radial miselium jamur pada hari ke tujuh. Konsentrasi ekstrak yang digunakan untuk uji aktivitas antijamur, yaitu 2,5%, 5%, dan 10%. Ekstrak n-heksan dan minyak atsiri daun cengkeh memiliki aktivitas antijamur tinggi, yaitu 76-100%. Selanjutnya, ekstrak n-heksan difraksinasi menggunakan kromatografi cair vakum, kromatografi kolom dan kromatotron. Identifikasi senyawa dianalisis dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (KG-SM). Pada ekstrak n-heksan yang didapatkan 2 subfraksi. Subfraksi 1 memiliki aktivitas antijamur 32,72% pada konsentrasi 5% dan subfraksi 2 dengan aktivitasnya 90,90% pada konsentrasi 2,5%. Data KG-SM menunjukkan kandungan utama subfraksi 1 adanya senyawa karyofilen (BM 204) dan subfraksi 2 eugenol (BM 164). Kata kunci : Antijamur, Fusarium oxysporium, tanaman obat ABSTRACT This research has been performed, the isolation and identification the antifungal activity of extracts of n-hexane, ethyl acetate, methanol and essential oils from medicinal plant cloves (Syzygium aromaticum (L.) Merrill and Perry), against the growth of the fungus Fusarium oxysporum Schlecht. Antifungal activity test, using the jelly diffusion method by calculating the percentage inhibition of radial growth of fungal mycelium on the seventh day. Concentration of extract used to test the antifungal activity was 2.5%, 5% and 10%. N-hexane extracts and essential oils of clove leaf has a high antifungal activity, which is 76-100%. Further, n-hexane extract was fractionated using vacuum liquid chromatography, chromatography columns and chromatotron. Identification of the compound was analyzed by Thin Layer Chromatography (TLC) and Gas Chromatography-Mass Spectroscopy (GC-MS). In the n-hexane extract obtained 2 subfractions. Subfraction 1 has antifungal activity of 32.72% at concentration of 5% and subfraction 2 has antifungal activity of 90.90% at concentration of 2,5%. GC-MS data shows that the major component of subfraction 1 was caryophyllene (M = 204) and subfraction 2 was eugenol (M =164). Keywords : Antifungal, Fusarium oxysporium, medicinal plant cloves.Â
KOMBINASI EKSTRAK BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) DAN DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) DALAM MENGHAMBAT BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus
ABSTRAK Penelitian ini tentang pemanfaatan bahan herbal yang sudah diketahui khasiat dan nilai terapinya dengan cara melakukan kombinasi dua macam bagian tanaman herbal dimana secara empiris masing-masing bagian tanaman tersebut sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat luas dalam pengobatan penyakit. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui daya hambat kombinasi ekstrak buah mengkudu dan daun sirsak pada konsentrasi efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri E.coli dan S.aureus. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96 %. Pengujian daya hambat dilakukan dengan metode difusi agar (difusi Kirby dan Bauer) dengan cara sumuran dan menggunakan ciprofloxacin sebagai kontrol positif serta aquadest sebagai kontrol negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak buah mengkudu dan daun sirsak pada konsentrasi 1000 µg menghasilkan zona hambat bakteri E.Coli dan S.Aureus sebesar 22, 625 dan 25,5 mm dengan kontrol positif sebesar 43,625 dan 46, 375 mm. Berdasarkan hasil penelitian, dapat dsimpulkan bahwa kombinasi ekstrak buah mengkudu dan daun sirsak dapat menghambat pertumbuhan bakteri E.coli dan S.aureus.           Kata kunci : daya hambat, ekstrak, bakteri ABSTRACT The research about utilization the known herbal of its efficacy and therapy value by combinated two part of herbal plant while it has been used by society in disease medication empirically. This research was carried out for know inhibitory at combination of mengkudu fruits and sirsak leaves extract by effective concentration in inhibited growth E.coli and S. Aureus. Extraction was done by maceration with ethanol 96%. The test of inhibitory was carried out by agar difussion (Kirby and Bauer difussion) by pitting method and ciprofloxacin as positive control and aquadest as negative control. The result showed that combination of mengkudu fruits and sirsak leaves extract at 1000 µg produced inhibitory zone of E. Coli and S. Aureus as 43,625 and 46, 375 mm. Based on the result,its concluded that combination of mengkudu fruits and sirsak leaves extract at 100% concentration could inhibited the E. coli and S. aureus growth.           Keywords : Inhibitory, extract, bacter
PRODUKSI PENISILIN OLEH Penicillium chrysogenum L112 DENGAN VARIASI KECEPATAN AGITASI PADA FERMENTOR 1 L
ABSTRAKPenisilin merupakan golongan antibiotika β-laktam yang memiliki nilai komersial tinggi karenadigunakan secara luas untuk memproduksi antibiotik semisintetik lain (amoksilin, ampisilin) sertamempunyai kemampuan mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Proses produksi penisilinpada skala industri dilakukan dalam skala besar memerlukan kondisi agitasi optimum. Penelitian inidilakukan untuk mengetahui pengaruh agitasi terhadap pembentukan penisilin dari Penicilliumchrysogenum L112, yang mempunyai aktivitas antibiotika tertinggi terhadap beberapa bakteri uji. P.chrysogenum L112 yang telah diregenerasi pada suhu 30°C selama 7 hari disuspensikan dengan airsuling steril. Suspensi ini diinokulasikan ke dalam media vegetasi sebanyak 2% (v/v). Selanjutnyadiaktivasi pada 120 rpm dan 28°C selama 60 jam. Hasil aktivasi diinokulasi ke dalam mediafermentasi sebanyak 10% (v/v), fermentasi menggunakan fermentor skala 1 L dengan kondisi pH 7,aerasi 1 vvm, suhu 28°C selama 240 jam. Kecepatan agitasi divariasikan pada 100, 150 dan 200 rpm.Setiap 24 jam dilakukan pengambilan contoh untuk keperluan analisa yang meliputi pengukuran pH,berat kering sel, uji aktivitas antibiotika dan konsentrasi glukosa. Hasil penelitian menunjukkanbahwa agitasi dan waktu inkubasi berpengaruh terhadap kemampuan Penicillium chrysogenum L112dalam menghasilkan penisilin. Setiap bakteri uji memberikan respon yang berbeda terhadap aktivitasantibiotika penisilin yang dihasilkan. Aktivitas antibiotika penisilin terbaik ditunjukkan pada agitasi150 rpm pada waktu inkubasi 192 jam dengan aktivitas penghambatan tertinggi terhadap Escherichiacoli dengan zona bening 37 mm.Kata Kunci: penisilin, antibiotika, Penicillium chrysogenum, fermentasiABSTRACTPenicillin refers to a group of β-lactam antibiotics with high commercial value because it is precursorfor semi synthetic antibiotics such as amoxicillin and ampicillin. It also has high antibacterialactivity. Penicillin production in industrial scale uses large fermentation reactor which requireoptimum agitation. The present study was conducted to investigate the effect of agitation speed onpenicillin production using Penicillium chrysogenum L112, which have high antibiotics activityagainst some bacteria. P. chrysogenum L112 which regenerated at 30°C for 7 days was suspendedwith distilled water. The suspension was inoculated to vegetation media to reach 2% (v/v) finalconcentration. It was then followed by activation at 28°C for 60 hours with 120 rpm agitation speed.The activated culture was inoculated to fermentation media to give 10% (v/v) final concentration in a1 L fermenter at pH 7 and 28°C, aeration of 1 vvm, for 240 hours. Agitation speed was varied at 100,150 and 200 rpm. Sample was collected every 24 hours and checked for its pH, dry cell weight, andantibiotics activity. The results of the present study indicate that agitation speed and time ofincubation affected the P. chrysogenum ability to produce penicillin. The crude extract showeddifferent effect when tested against different bacteria, which indicate different amount of penicillinproduced. The best antibiotics activity was found at 150 rpm agitation speed, incubation time of 192hours. The highest inhibition was found for Escherichia coli which showed 37 mm clear zone.Keywords: penicillin, antibiotics, Penicillium chrysogenum, fermentatio
UJI EFEK BRONKODILATOR EKSTRAK AIR BUNGA KECUBUNG GUNUNG (Brugmansia suaveolens Bercht & Presl)
ABSTRAK Bunga kecubung gunung secara tradisional telah di pakai sebagai antiasmatik. Napas marmot yang diinduksi oleh histamin dihidroklorida secara inhalasi dan diberikan ekstrak air bunga kecubung gunung. Diuji dengan menggunakan cara vogel, dengan modifikasi metode perekaman pola pernapasan. Kemudian direkam pola pernapasannya selama 5 menit sampai diperoleh pola pernapasan marmot yang diinduksi asma. Ekstrak air bunga kecubung gunung dosis 40 mg/kg bb memiliki efek yang paling baik dibandingkan kedua dosis yang lainnya pada P<0,05 dengan uji t-student, dan setara dengan pembanding salbutamol sulfat 0,16 mg/kg bb. Kata kunci:    bunga kecubung gunung, bronkodilator, ekstrak air, histamin dihidroklorida ABSTRACT Brugmansia suaveolens leaves have traditionally been in use as antiasthmatic. Shortness of guinea pig induced by histamine dihydrochloride administered by inhalation and aqueous extract of leaves Brugmansia suaveolens. Tested using the method Vogel, with modification of the method of recording breathing patterns. Then the breathing pattern was recorded for 5 minutes until a guinea pig respiratory pattern induced asthma. Brugmansia suaveolens leaves aqueous extract dose of 40 mg / kg bw had a most excellent effect compared to the other two doses at P < 0.05 by Student 's t-test , and as well as a comparison of salbutamol sulphate equivalent to 0.16 mg / kg bw. Keywords : Brugmansia suaveolens leaves, bronchodilators, extract water, Histamine dihydrochloride
PENGARUH KEPUASAN TERHADAP KEMAUAN MEMBAYAR (WILLINGNESS TO PAY) JASA PELAYANAN KONSELING OLEH APOTEKER DI APOTEK
ABSTRAK Konseling merupakan salah satu pelayanan farmasi klinik yang dilakukan oleh apoteker di apotek. Konseling bertujuan memberi edukasi tentang pemahaman pasien terhadap terapi yang dijalaninya, meningkatkan kepatuhan, memotivasi pasien untuk ikut ambil bagian dalam kesehatannya serta meningkatkan cost effectiveness. Kebutuhan masyarakat terhadap konseling meningkat seiring dengan perkembangan penyakit dan permasalahan di bidang kesehatan, khususnya bidang kefarmasian. Hal ini merupakan tantangan bagi apoteker untuk memberikan pelayanan konseling yang berkualitas, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada masyarakat. Kepuasan dan kemauan membayar (Willingness to Pay / WTP) dapat menggambarkan kualitas konseling berdasarkan preferensi masyarakat. Hubungan antara WTP dan kepuasan berlangsung sepanjang waktu sehingga memberikan dampak positif terutama dari aspek bisnis. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional melalui survei. Data diperoleh dari kuisioner yang diberikan kepada 82 pasien yang berkunjung ke apotek di wilayah Sukoharjo dan telah mendapatkan pelayanan konseling oleh apoteker. Kepuasan diukur berdasarkan 4 dimensi, yaitu : tangible, reliability, responsiveness dan assurance. WTP jasa konseling apoteker di apotek diukur menggunakan metode payment card. Pengaruh kepuasan terhadap WTP jasa pelayanan konseling oleh apoteker di apotek dianalisis menggunakan pearson correlation (p-value < 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan tidak berpengaruh terhadap WTP jasa pelayanan konseling oleh apoteker di apotek (p-value = 0,943). Kata Kunci: kepuasan, konseling apoteker, kemauan membayar, willingness to pa
ANALISIS MASALAH TERKAIT OBAT PADA PASIEN LANJUT USIA PENDERITA OSTEOARTRITIS DI POLI ORTOPEDI DI SALAH SATU RUMAH SAKIT DI BANDUNG
ABSTRAK Osteoartritis (OA) adalah penyakit nyeri sendi yang paling sering ditemukan dan menjadi penyebab kecacatan, terutama pada usia lanjut. Masalah medis yang kompleks yang umumnya ditemui pada pasien lanjut usia, menyebabkan golongan usia ini rentan terhadap timbulnya masalah-masalah yang berkaitan dengan obat yang dapat mempengaruhi hasil terapi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menilai kejadian masalah terkait obat pada pasien lanjut usia penderita osteoartritis. Penelitian ini bersifat deskriptif, meliputi penetapan kriteria pasien, penetapan kriteria obat, kriteria penggunaan obat, pengumpulan data dari rekam medik secara retrospektif, dan analisa data. Hasil penelitian ditemukan jumlah pasien osteoartritis adalah 34 pasien, pasien terbanyak adalah perempuan sebesar 70.6 %. Jumlah pasien berdasarkan penggunaan obat terbanyak adalah golongan NSAID yaitu natrium diklofenak sebanyak 58.8 %. Masalah terkait obat yang terjadi adalah adanya potensi interaksi obat antara obat golongan NSAID (Diklofenak, AsamMefenamat) terhadap obat golongan H-2 bloker (Ranitidin) yaitu 11.7%. Kata kunci : Masalah Terkait Obat, Lanjut Usia, Osteoartritis ABSTRACT Osteoarthritis (OA) is a disease of joint pain is most commonly found and the cause of disability, especially in the elderly. Complex medical problems commonly seen in elderly patients, causing this age group is vulnerable to the onset of the problems related to drugs use (Drug Related Problems) which may affect the outcome of therapy. The purpose of this study is to identify and assess the incidence of Drug Related Problems in elderly patients of osteoarthritis. The study was descriptive, covering the establishment of criteria for patients, criteria of drugs, drug use criteria, collecting data from medical records retrospectively, and data analysis. The research found the number of patients with osteoarthritis is 34, women 70.6%. The number of patients is based on the use of drugs is the highest class of NSAIDs is diclofenac sodium as much as 58.8%. DRPs is happening is the potential for drug interactions between drugs known as NSAIDs (Diclofenac, Mefenamic Acid) to the class of drugs H-2 blockers (Ranitidine) is 11.7%. Keywords   : Drug related problems (DRPs), the elderly, osteoarthriti
SERBUK KULIT PISANG TANDUK (Musa)â€horn†IJUK ENAU DAN SERBUK SABUT KELAPA SEBAGAI BIOADSORBEN LOGAM BERAT Cd (II) DAN PENJERNIH AIR
ABSTRAK Kadmium Cd(II) merupakan salah satu logam berat berbahaya yang mencemari lingkungan khususnya di perairan. Bioadsorben merupakan salah satu cara pengolahan limbah cair logam berat. Bioadsorben yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit pisang tanduk (Musa)â€hornâ€, sabut kelapa dan ijuk enau untuk dapat mengadsorpsi logam berat kadmium.Kulit pisang tanduk (Musa)â€horn†mengandung senyawa pektin sedangkan sabut kelapa dan Ijuk mengandung selulosa dan lignin untuk mengikat unsur logam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi optimal kulit pisang tanduk (Musa)â€hornâ€, sabut kelapa dan ijuk enau dalam mengadsorpsi logam berat Cd(II) dalam limbah cair buatan. Penelitian ini diawali dengan analisa kualitatif dan kuantitatif. Serbuk kulit pisang tanduk sebanyak 1 gram dimasukkan ke dalam 200 mL limbah Cd(II) 5 ppm buatan dengan koagulasi dan flokulasi pada 120 Rpm, 20 Rpm dan 0 Rpm selama 24 jam. Kemudian dilanjutkan penyaringan pada kolom berisi serbuk sabut kelapa dan ijuk enau. Sampel diukur kandungan logam Cd(II) dengan menggunakan alat Spektofotometer Serapan Atom (SSA). Dari hasil penelitian didapat Persentase (%) maksimum kemampuan adsorpsi kulit pisang tanduk (Musa Horn) terhadap logam berat Cd (II) pada limbah cair buatan sebesar 61,63 % dengan ukuran partikel (-60+80) mesh, dan Penurunan kadar Cd(II) pada limbah buatan dengan serbuk kulit pisang tanduk dan penyaringan oleh serbuk sabut kelapa dan ijuk dengan kondisi optimal perbandingan konsentrasi sabut kelapa dan enau ijuk sebesar 2:1 menghasilkan persentase penurunan konsentrasi kadmium Cd(II) sebesar 97,32% dan nilai kekeruhan sebesar 6,54. Kata kunci: SSA, Kadmium, Kulit pisang tanduk, bioadsorben, adsorpsi, sabut kelapa, ijuk enau ABSTRACT Cadmium Cd(II) is one of the hazardous heavy metals in the environment, especially in the waters. Bioadsorben is one of wastewater treatment. The Bioadsorben be used in this study is a tanduk banana’s peel (musa)â€hornâ€, coconut fiber and enau ijuk fiber . Tanduk banana’s peel (musa)â€horn†compounds containing pectin while coconut fiber and enau ijuk fiber contain cellulose and lignin to bind the metal element. Studies conducted to obtain the optimal concentration of tanduk banana’s peel (musa)â€hornâ€, coconut fiber and enau ijuk in adsorbing heavy metals Cd (II) in artificial wastewater. The study begins with an analysis of qualitative and quantitative . Horn banana skin powder as much as 1 gram packed into 200 mL of waste Cd (II) 5 ppm artificial wastewater using the jar test tool. The jar test tool occurs coagulation and flocculation occurs at 3 speeds : 120 rpm, 20 rpm and 0 rpm. For the 0 rpm will be deposited for 24 hours.  . The next step is  filtration using the column that contain coconut fibers and enau ijuk. Kadmium Cd (II)concentration calculated by Atomic Absorption spectrophotometer (AAS). The result is Percentage (%) of maximum adsorption capacity banana peel powder musa “horn†to heavy metals Cd (II) on the artificial waste is  61.63% with a particle size (-60 + 80) mesh. The optimum concentration ratio in a filtration column between coconut fiber and enau ijuk fiber is 2:1. The percentage (%) decrease Cd(II) concentration after column filtration is as much as 97.32% and Turbidity is 6.54. Keywords: AAS, Cadmium, tanduk banana,s peel, bioadsorben, adsorption, coconut fiber, enau ijuk fiberÂ