Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
Not a member yet
125 research outputs found
Sort by
PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN TEH HIJAU (Camellia sinensis L) SEBAGAI BAHAN AKTIF PEMBUATAN SEDIAAN KRIM TABIR SURYA
ABSTRACTSenyawa yang mampu menghambat oksidasi molekul lain adalah senyawa antioksidan. Daun teh hijau dikenal sebagai tanaman yang mengandung senyawa katekin. Senyawa katekin diketahui merupakan antioksidan. Dari penelitian yang dilakukan, daun teh hijau diketahui memiliki IC50 sebesar 3,17µg/mL. Penelitian ini ditujukan untuk memanfaatkan daun teh hijau sebagai zat aktif dalam sediaan krim antioksidan. Dibuat 4 Formulasi sediaan krim antioksidan yaitu F0 yang berisi basis krim tanpa ekstrak daun teh hijau dan F1, F2 serta F3 yang masing-masing berisi 0,5%; 1% dan 5%. Evaluasi sediaan meliputi pemeriksaan organoleptis, pengukuran pH, viskositas dan stabilitas antioksidan selama penyimpanan 28 hari. Hasil menunjukkan baik F0, F1, F2 maupun F3 tidak mengalami perubahan secara organoleptis, pengukuran pH dan viskositas dapat dikatakan stabil. Hasil pengukuran persen peredaman pada formulasi F0, F1,F2 dan F3 pada hari ke 28 menunjukkan nilai persen peredaman masing-masing yaitu 50,44%; 88,92%; 92,86%; 94,46%.  Kata Kunci: Camellia sinensis L, Ekstrak daun Teh Hijau, krim, antioksidan
PENGARUH PEMBENTUKAN KO-KRISTAL PIRIMETAMIN-ASAM FUMARAT TERHADAP KELARUTAN DAN LAJU DISOLUSINYA
ABSTRAK Pirimetamin (PIR) adalah suatu obat antimalaria dengan kelarutan yang buruk di dalam air, sehingga ketersediaan hayatinya rendah. Pembentukan ko-kristal dapat mempengaruhi kelarutan dan laju disolusi bahan aktif farmasi tanpa mengubah aktivitas farmakologinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembentukan ko-kristal pirimetamin (PIR) dengan asam fumarat(FUM) terhadap kelarutan dan laju disolusi pirimetamin. Ko-kristal PIR-FUM dibuat dalam perbandingan stoikiometri ekuimolar menggunakan metode penggilingan basah dengan menggunakan campuran pelarut aseton:air(1:1). Karakterisasi ko-kristal dilakukan dengan metode difraksi sinar-X serbuk, spektrofotometri infra merah, dan mikroskopik. Uji kelarutan dan uji laju disolusi dilakukan di dalam media air dan larutan dapar pH 1,2; 4,5; dan 6,8. Pola difraksi sinar-X serbuk hasil penggilingan basah berbeda dengan pola difraksi komponen-komponen murninya yang mengindikasikan terbentuknya ko-kristal PIR-FUM. Ko-kristal PIR-FUM mempunyai kelarutan dan laju disolusi lebih tinggi daripada pirimetamin murni. Kata kunci : Pirimetamin, asam fumarat, penggilingan basah, ko-kristal. ABSTRACT Pyrimethamine (PIR) is an antimalaria drug with poor solubility in water, so its bioavailability is low. Co-crystal formation can affects solubility and dissolution rate of active pharmaceutical ingredient without altering its pharmacological activity. The aim of this study was to investigate the influence of co-crystal formation between pyrimethamine (PIR) and fumaric acid (FUM) on the solubility and dissolution rate of pyrimethamine. PIR-FUM co-crystal was prepared in equimolar stoichiometric ratio by a solvent-drop grinding method. Characterization of co-crystal was conducted by powder X-ray diffractometry, infrared spectroscopy, and microscopy methods. X-ray powder diffraction pattern of the solvent-drop grinding result was different from diffraction pattern of pure components that indicate the formation of PIR-FUM co-crystal. PIR-FUM co-crystal has solubility and dissolution rate higher than pure pyrimethamine. Keywords:      Pyrimethamine, fumaric acid, solvent drop grinding, co-crystal
POTENSI DAUN RUMPUT BELANG SEBAGAI OBAT TRADISIONAL YANG BERKHASIAT ANTIMIKROBA
ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang pengujian ekstrak etanol dari daun rumput belang terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Shigella dysenteriae. Rumput belang (Zebrina pendula Schnizl.) merupakan tanaman hias yang budidayanya sangat mudah sehingga tanaman ini dapat ditemukan didataran rendah maupun dataran tinggi. Secara empiris memiliki rumput belang memiliki khasiat antara lain untuk mengatasi disentri dan bisul. Hasil pengujian ekstrak etanol 96 % terhadap Staphylococcus aureus memberikan hambatan terbesar pada konsentrasi 60% = 11,69±0,57 (mm), Escherichia coli memberikan hambatan terbesar pada konsentrasi 80% = 12,83±0,68 (mm), Shigella dysenteriae memberikan hambatan terbesar pada konsentrasi 80% = 12,81±0,43 (mm). Hasil pemeriksaan golongan kandungan kimia pada ekstrak daun rumput belang terdapat flavonoid, polifenol, kuinon, monoterpenoid-seskuiterpenoid dan senyawa steroid-triterpenoid.  Kata kunci  : daun rumput belang, Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Shigella dysenteriae ABSTRACT A research on the testing of the ethanol extract of the leaves of rumput belang on the growth of Staphylococcus aureus, Escherichia coli and Shigella dysenteriae. Striped grass (Zebrina pendula Schnizl.) Is an ornamental plant cultivation is very easy so that the plant can be found in lowland and highland. Empirically the leaves of rumput belang have properties among others, to overcome dysentery and ulcers. Results of testing the 96% ethanol extract against Staphylococcus aureus provide the biggest obstacle at a concentration of 60% = 11.69 ± 0.57 (mm), Escherichia coli provide the biggest obstacle at a concentration of 80% = 12.83 ± 0.68 (mm), Shigella dysenteriae provide the biggest obstacle at a concentration of 80% = 12.81 ± 0.43 (mm). Class examination results of chemical constituents in the leaves of rumput belang extracts are flavonoids, polyphenols, quinones, monoterpenoid-sesquiterpenoids and steroid-triterpenoid compounds. Keywords : the leaves of rumput belang, Staphylococcus aureus, Escherichia coli and Shigella dysenteria
ANALISIS KANDUNGAN FENOLFTALEIN PADA JAMU PELANGSING
ABSTRAK Penambahan Bahan Kimia Obat (BKO) ke dalam jamu dapat membahayakan kesehatan penggunanya. Fenolftalein merupakan salah satu senyawa kimia yang berpotensi ditambahkan ke dalam jamu pelangsing karena sifat laksatifnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis keberadaan fenolftalein pada lima jamu pelangsing lokal (A,B,C,D,E) dan lima jamu pelangsing impor (F,G,H,I,J). Pengujian meliputi: pemeriksaan keabsahan registrasi dan kemasan, analisis kualitatif dan kuatitatif fenolftalein. Analisis kualitatif dilakukan dengan reaksi warna menggunakan NaOH 0,1 N, membandingkan kromatogram hasil KCKT dan spektrum UV sampel dengan pembanding. Analisis kuantitatif dilakukan dengan spektrofotometri UV. Hasil penelusuran di situs BPOM dari kesepuluh sampel hanya sampel E yang teregistrasi. Hasil reaksi warna, analisis kromatogram dengan HPLC dan analisis dengan Spektrofotometri UV-visible menunjukkan bahwa sampel F positif mengandung fenolftalein dengan kadar 47,133±0,0058%. Penggunaan fenolftalein jangka panjang dapat memicu kanker dan menyebabkan mutasi pada DNA. Kata kunci : jamu pelangsing, fenolftalein, bahan kimia obat ABSTRACT The addition of chemicals compounds into herbal medicine may be harmful to the health of users. Phenolphthalein is one of the chemical compounds that potentially is added into the herbal slimming because it's laxative effect. This study aimed to analyze the presence of phenolphthalein in five local herbal slimming (A, B, C, D, E) and five import herbal slimming (F, G, H, I, J). The tests included examination of the validity of registration and packaging, qualitative and quantitative analysis of phenolphthalein. Qualitative analysis method that was used is color reaction using NaOH 0.1 N, comparing the results of the HPLC chromatogram and UV spectrum of the sample with reference standard. Quantitative analysis was performed by UV spectrophotometry. The result of searching on website BPOM, from ten samples only E samples were registered. The results of testing with the color reaction, HPLC and UV spectrophotometry showed that the sample F positive contain phenolphtalein with concentration 47,133 ± 0.005% b/b. Long-term use of phenolphthalein may cause cancer and cause mutations to DNA. Keywords   : herbal slimming, phenolptalein, chemical compound
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA MELALUI PERIKSA PAYUDARA SENDIRI DI SMA PASUNDAN 8 BANDUNG TAHUN 2016
ABSTRAK Penyakit kanker merupakan permasalahan kesehatan karena menjadi salah satu penyebab kematian utama diseluruh dunia. SADARI membantu mengecek kondisi payudara apakah terdapat benjolan atau perubahan lain yang dapat menjadi tanda terjadinya tumor yang membutuhkan perhatian medis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja putri tentang deteksi dini kanker payudara melalui SADARI di SMA Pasundan 8 Bandung tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah proportionate stratified random sampling dengan subjek penelitian sejumlah 100 siswi yang berasal dari kelas X dan XI SMA Pasundan 8 Bandung. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner. Analisis uji statistik yang digunakan adalah uji Chi Square. Hasil uji Chi Square menunjukkan hubungan pengetahuan dan sikap memiliki p value = 0,003. Kesimpulan: ada hubungan pengetahuan dan sikap remaja putri tentang deteksi dini kanker payudara melalui SADARI di SMA Pasundan 8 tahun 2016. Saran: kepada pihak sekolah yakni meningkatkan peran serta guru dengan melakukan konseling tentang kesehatan terutama kesehatan payudara. Kata kunci : Pengetahuan, Sikap, SADAR
KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN RAWAT JALAN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA PROF. DR. SOEROJO MAGELANG
ABSTRAK Skizofrenia adalah gangguan mental yang menyebabkan seseorang menjadi disfungsional secara fisiologis untuk dirinya sendiri maupun interaksi secara sosial. Kepatuhan minum obat dapat dideteksi melalui pengisian beberapa jenis kuisioner kepatuhan minum obat antara lain Medication Adherence Rating Scale (MARS). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat kepatuhan pasien rawat jalan skizofrenia dan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik pasien dengan tingkat kepatuhan minum obat pasien rawat jalan skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang. Rancangan penelitian ini menggunakan metode observasional yang memakai desain penelitian Cross Sectional. Analisa data dilakukan dengan uji Cross tabulation. Hasil penelitian menunjukkan 40 pasien rawat jalan skizofrenia yang memenuhi kriteria inklusi terdiri dari 60% laki-laki dan 40% perempuan. Pasien dengan tingkat kepatuhan rendah sebanyak 2,5%, 90% pasien memiliki tingkat kepatuhan sedang, dan 7,5% pasien memiliki tingkat kepatuhan tinggi. Untuk melihat hubungan karakteristik pasien (usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan) dengan tingkat kepatuhan minum obat pasien digunakan analisis bivariat dengan uji Cross tabulation dan diperoleh nilai signifikansi berturut-turut 0,723; 0,066; 0,595; dan 0,078 (p>0,05). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara karakteristik pasien dengan tingkat kepatuhan pasien rawat jalan skizofrenia tersebut. Kata kunci: Skizofrenia, kepatuhan pasien, MARS, rawat jalan ABSTRACT Schizophrenia is a mental disorder that makes someone physiologically dysfunctional both on interaction with himself and with people around him. The medication adherence can be measured by some questioners, one of them is Medication Adherence Rating Scale (MARS). The study is aimed to know the picture of the medication adherence level of the Schizophrenia outpatients and the relationship between the patients’ characteristic and the medication adherence at Prof. Dr. Soerojo Mental Hospital Magelang. The research design applied on the study is observational method which is applied Cross Sectional research design. The analysis was carried out with Cross tabulation test. The result shows that from 40 Schizophrenia outpatients who achieved inclusion criteria is consist of 60% man and 40% woman. The patients with low level medication adherence are 2.5%, medium level are 90%, and high level are 7.5%. The test to analyze the relationship between the patients characteristic (age, gender, education, occupation) with the medication adherence level is bivariat analysis with Cross tabulation test. The result shows significance value consecutively 0.723; 0.066; 0.595; and 0.078 (p>0.05). It can be concluded from the result that there is no relationship between the patients characteristic and the patients medication adherence level. Keywords: Schizophrenia, patients adherence, MARS, outpatient
OPTIMASI INDUKSI KALUS TANAMAN CABE JAWA (Piper retrofractum Vahl) DENGAN BERBAGAI VARIASI ZAT PENGATUR TUMBUH
ABSTRAK Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl) merupakan tanaman obat yang berpotensi untuk dikembangkan dengan metode kultur jaringan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh (ZPT) yaitu 2,4 dichlorophenoxiacetic asam (2,4-D), 6-benzilaminopurin (BAP) dan kinetin terhadap pertumbuhan kalus dan produksi metabolit sekunder dari cabe jawa. Penelitian ini menggunakan rancangan dengan dua perbandingan ZPT yaitu 2,4-D : BAP (0 : 0,5ppm, 0,5 : 0,5ppm, 0,5 : 0ppm) dan 2,4 : Kinetin (0 : 0,5ppm, 0,5 : 0,5ppm, 0,5 : 0 ppm). Data yang dikumpulkan adalah data kualitatif (morfologi kalus termasuk tekstur, warna kalus dan metabolisme sekunder) dan data kuantitatif (kalus berat basah dan berat kering). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ZPT 2,4-D:BAP (0,5ppm:0,5ppm) sebagai konsentrasi optimum untuk menginduksi kalus. Metabolit sekunder dari kalus cabe jawa dianalisis dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT) mengguakan fase gerak n-heksan : etil asetat (3:7) dan toluen : etil asetat (1:1). Berdasarkan hasil KLT tersebut menunjukkan pola kromatogram kalus cabe jawa yang menunjukkan senyawa steroid, triterpenoid dan flavonoid. Kata Kunci : Daun Cabe Jawa, Kultur Jaringan, Zat Pengatur Tumbuh, Kromatografi Lapis Tipis. ABSTRACT Piper retrofractum Vahl is a medicinal plant potentially to be developed with in vitro culture method. The objectives of the research were to study the effect of 2,4-dichlorophenoxiacetic acid (2,4-D), 6-benzilaminopurin (BAP) and kinetin on callus growth and secondary metabolism production from Piper retrofractum Vahl. The research used factorial completely randomized design with two factors 2,4-D : BAP (0 : 0,5ppm, 0,5 : 0,5ppm, 0,5 : 0ppm) and 2,4:Kinetin (0 : 0,5ppm, 0,5 : 0,5ppm, 0,5 : 0 ppm). Data that be collected were qualitative data (callus morphology included texture, colour of callus and secondary metabolism from Thin Layer Chromatography’s method) and quantitative data (callus wet weight and callus dry weight). The result of the research indicated that the treatment with addition plant regulation 2,4-D : BAP (0,5 ppm : 0,5 ppm) on MS medium as an optimum combination concentration to induce callus. Secondary metabolites was analyzed by qualitative methods for callus and cabe jawa leaves without in vitro culture using Thin Layer Chromatography (TLC) eluted by n-hexane : acetate etil (3:7) and toluene : acetate etil (1:1). Based on TLC results show that callus cabe jawa containing steroid, triterpenoids and flavonoid. Keyword : Cabe Jawa leaves, Plant Tissue Culture, Growth Hormone, Thin Layer Chromatography
PENGARUH EDUKASI TERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP, DAN KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI ATAS INFORMASI OBAT
ABSTRAK Pengetahuan masyarakat tentang informasi obat akan mendukung pengobatan yang rasional agar terhindar dari kesalahan penggunaan obat (medication error), penyalahgunaan (abused), dan penggunaan obat yang salah.(misuse). Minimnya pengetahuan masyarakat tentang informasi obat dan kemampuan berkomunikasi dalam pelayanan informasi obat mendorong untuk diadakannya suatu usaha edukasi dan optimalisasi kemampuan masyarakat berkaitan dengan informasi obat. Tujuan dari kegiatan edukasi tersebut adalah untuk mendukung pengobatan yang rasional dan membentuk masyarakat yang berdaya, serta memahami informasi obat dan pengobatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi terhadap pengetahuan, sikap, dan kemampuan berkomunikasi atas informasi obat. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental dengan jumlah sampel sebesar 31 responden yang merupakan penduduk Desa Kutasari Baturaden Purwokerto. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang dibagikan kepada responden sebelum dan sesudah edukasi. Teknik sampling menggunakan simple random sampling. Data dianalisis menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test dan hasilnya menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada pengetahuan responden sebelum dan sesudah edukasi dengan nilai p ≥ 0,05, sedangkan untuk sikap, hasil menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah edukasi dengan nilai p ≤ 0,05. Kata kunci : Obat, Edukasi, Informasi Obat, Kemampuan Komunikasi ABSTRACT The knowledge of drugs information will support optimal treatment and prevent the medication error, abuse of drugs, and misuse of drugs. The lack of knowledge of drug information and communication skills on drugs information services lead to held an drugs education on society. The drugs education has a purpose to support optimal treatment and to understand about drugs information. The aim of this study was to determine the effect of education to knowledge, attitude, and ability of drug information. This study used an experimental design with 31 respondents who are the village residents of Kutasari, Baturaden Purwokerto. The research instrument was a questionnaire which were distributed to respondents before and after drugs education. Simple random sampling was used as a sampling method in this study. Data were analyzed with Wilcoxon Sign Rank Test, the results showed that there were no significant differences in the respondents' knowledge variable before and after education with p ≥ 0.05, while for the attitude variable, the results showed a significant difference before and after education with p value ≤ 0 05. Keywords : Drug, Education, Drug Information, Communication Capabilitie
EVALUASI PELAKSANAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) FARMASI KATEGORI LAMA WAKTU TUNGGU PELAYANAN RESEP PASIEN RAWAT JALAN DI RSUD KOTA SALATIGA
ABSTRAK Salah satu standar pelayanan farmasi di rumah sakit adalah waktu tunggu. Waktu tunggu pelayanan obat adalah tenggang waktu mulai pasien menyerahkan resep sampai dengan menerima obat. Waktu tunggu berpengaruh pada kualitas pelayanan dan kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit dengan jenis pelayanan farmasi kategori lama waktu tunggu pelayanan resep rawat jalan di RSUD Kota Salatiga. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif (penelitian survey) terhadap pasien rawat jalan yang menebus resep di Instalasi Farmasi  RSUD Salatiga dan pengambilan sampel dengan menggunakan metode purposive sampling. Waktu penelitian yaitu pada bulan Januari – Maret 2016. Dilakukan penghitungan waktu tunggu pelayanan resep obat jadi dan obat racikan kemudian dilakukan analisis terhadap kesesuaian dengan standar pelayanan minimal kategori lama waktu tunggu. Jumlah resep yang diteliti dalam penelitian ini sebanyak 225 resep dengan 78 resep obat racikan dan 147 merupakan resep obat jadi atau non racikan. Waktu tunggu rata-rata obat racikan adalah 9,18 menit dan rata-rata waktu tunggu obat jadi atau obat non racikan adalah 5,70 menit. Hal tersebut sudah sesuai dengan standar pelayanan minimal yang dipersyaratkan oleh Kepmenkes No 129/ Menkes/SK/II/2008 tentang pelayanan resep baik obat jadi maupun obat racikan yaitu lama waktu tunggu obat jadi ≤30 menit dan obat racikan ≤60 menit , dan dari semua sampel yang diteliti tidak ada yang melebihi lama waktu tunggu seperti yang dipersyaratkan. Kata Kunci    : standar pelayanan minimal, waktu tunggu, obat jadi, obat racikan ABSTRACT One of the pharmaceutical care standard in hospital is waiting time. Waiting time is counted from patients give the prescription until get medicines in pharmacy department. Waiting time influences quality of health care and patients’ satisfy. This research is due to evaluate implementation of minimum health care standard at hospital categorize waiting time for concoction medicines and non concoction medicines in outpatients at RSUD Kota Salatiga. This is a non experimental experiment with descriptive design. Samples were collected with purposive sampling method. Research was done on January until March 2016. The numbers of samples are 225 prescriptions consist of 78 concoction medicines and 147 non concoction medicines. Result showed that the average of waiting time for concoction medicines was 9.18 minutes and the average of waiting time for non concoction medicines was 5.70 minutes. These were proper the regulation of Indonesian health ministry No 129/Menkes/SK/II/2008, which is for concoction medicines is less than or equal to 60 minutes and non concoction medicines is less than or equal to 30 minutes. All of the samples were proper to the regulation. Keywords: minimum health care standard, waiting time, concoction medicines, non concoction medicine
EFEK ANTIKOLESTEROL EKSTRAK ETANOL DAUN CERME (Phyllanthus acidus (L.) Skeels) PADA TIKUS WISTAR BETINA
oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/1Cerme (Phyllanthus acidus (L.) Skeels) merupakan salah satu tumbuhan yang oleh sebagian masyarakat Indonesia digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi, diabetes mellitus, dan kadar kolesterol tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antikolesterol ekstrak etanol daun cerme pada tikus Wistar betina, dan menguji salah satu mekanisme kerjanya melalui uji efek penghambatan penyerapan kolesterol di saluran cerna. Ekstrak etanol dibuat dengan menggunakan seperangkat alat Soxhlet. Induksi kolesterol pada hewan uji dilakukan dengan pemberian kolesterol murni 400 mg/kg bb per oral dan 0,01% propiltiourasil dalam air minum ad libitum. Ekstrak etanol daun cerme diberikan pada dosis 22,5 dan 45 mg/kg bb, dan sebagai pembanding digunakan ezetimibe 0,9 mg/kg bb. Parameter yang diukur adalah bobot badan, kadar kolesterol dalam serum dan kadar kolesterol dalam feses. Hasil pengujian dianalisis statistik menggunakan Uji-t. Hasil uji persen relatif kadar kolesterol dalam serum menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun cerme dosis 22,5 da n 45 mg/kg bb mampu menghambat pembentukkan kolesterol jika dibandingkan terhadap kontrol pada hari ke-14, dimana efek penghambatan pembentukkan kolesterol terbaik ditunjukkan oleh ekstrak etanol dosis 45 mg/kg bb. Hasil uji persen relatif kadar kolesterol dalam feses menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun cerme dosis 22,5 dan 45 mg/kg bb memiliki efek penghambatan penyerapan kolesterol jika dibandingkan terhadap kontrol mulai hari ke 3 sampai hari ke 14. Hasil pengujian bobot badan hewan yang diberi sediaan uji ekstrak etanol cerme dan pembanding ezetimibe tidak menunjukkan peningkatan mulai hari ke 3 sampai hari ke 14. Berdasarkan hasil pengujian, dapat disimpulkan bahwa efek antikolesterol dari ekstrak etanol daun cerme berkaitan dengan kemampuannya menghambat penyerapan kolesterol di saluran cerna