Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
Not a member yet
    125 research outputs found

    PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK AIR KAYU AKWAY (Drymis piperita Hook. f.) PADA PERTUMBUHAN Plasmodium falciparum PENYEBAB MALARIA

    Full text link
    ABSTRAKIndonesia merupakan salah satu daerah endemik malaria. Resistensi obat malaria menjadi salah satu masalah dalam pengobatan malaria, oleh karen itu diperlukan pencarian obat malaria baru. Kulit kayu akway (Drimys piperita Hook. f) secara empiris digunakan oleh Suku Sogb Manokwari Papua sebagai antimalaria  dan  afrodisiaka. Penelitian  ini  diawali  dengan  proses  pembuatan  ekstrak  air  kulit  kayu akway  dengan  metode  perebusan  menggunakan  pelarut  air  suling.  Pengujian  aktivitas  antimalaria menggunakan Plasmodium falciparum 3D7 secara in vitro. Ekstrak air kulit kayu akway menunjukan aktivitas antimalaria yang baik dengan nilai IC 50  sebesar 0,013 µg/mL.Kata kunci : Akway, Drimys piperita Hook. f., Antimalaria, Plasmodium falciparum ABSTRACTIndonesia is one of malaria endemic areas. Malaria drug resistance is one of the problems in malaria treatment, therefore  it  is  necessary  to  search for  new  malaria  drugs.  Drimys  piperita  stem bark  is empirically used by the Sogb tribe, Manokwari Papua as antimalarial and aphrodisiac. This research begins made water extract of Drimys piperita stem bark by boiling method using distilled water as solvent. Testing of antimalarial activity using Plasmodium falciparum 3D7 in vitro. water extract of Drimys piperita stem bark showed good antimalarial activity with IC 50  value of      0,013 μg / mL.Keywords : Drimys piperita stem bark, Antimalarial, Plasmodium falciparu

    Aktivitas antioksidan ekstrak daun tiga genus Artemisia sp dengan metode DPPH serta penetapan kadar total flavonoid, fenol dan karotenoid

    Full text link
    Abstrak Tumbuhan adalah salah satu penghasil bahan berkhasiat obat salah satunya sebagai antioksidan. Senyawa pada tumbuhan yang bisa berfungsi sebagai antioksidan adalah flavonoid, fenol, dan karotenoid. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan aktivitas antioksidan dan  kadar flavonoid, fenol dan karotenoid total pada ekstrak daun  Artemisia vulgaris L., Artemisia annua  L. dan  Artemisia dracunculus L. Ekstraksi terhadap masing-masing bahan dilakukan secara bertingkat menggunakan alat refluks, pemantauan kandungan senyawa dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT), pengujian aktivitas antioksidan menggunakan DPPH, penetapan kadar flavonoid total menggunakan metode Ordon, penetapan kadar fenol total menggunakan reagen Folin-Ciocalteu dan penetapan kadar karotenoid total menggunakan pelarut n-heksana. Hasil menunjukkan ekstrak etanol daun Artemsia darcunculus L. paling tinggi dalam menghambat radikal bebas dengan nilai IC50 terkecil (32,10±0,10µg/mL), Ekstrak etanol daun Artemisia vulgaris L. (77,19±0,13µg/mL) dan Ekstrak etanol daun Artemisia annua L. (99,46±0,16 µg/mL). Kadar total flavonoid, fenolat dan karotenoid tertinggi pada ekstrak etil asetat daun Artemisia vulgaris L. berturut-turut 12,83 mg QE/100 mg ekstrak, 68,72 mg GAE/100 mg ekstrak dan 10,01 mg BE/100 mg ekstrak. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun Artemisia darcunculus L. memiliki aktivitas antioksidan paling kuat dan ekstrak etanol daun Artemisia vulgaris L. memiliki kadar flavonoid total, fenolat total dan karotenoid total tertinggi. Kata Kunci: Artemisia sp, antioksidan, flavonoid, fenol, karotenoid. Antioxidant Activities of Leaves Extract Three Genus Artemisia sp Using DPPH Method and Total Content of Flavonoid, Fenol And Carotenoid Abstract Plant is the natural product medicine such as antioxidant. Natural compounds as antioxidants are flavonoids, phenols, and carotenoids. This research was conducted to determinethe antioxidant activities and the levels of total flavonoids, phenols and carotenoids content in Artemisia vulgaris L., Artemisia annua L. and Artemisia dracunculus L. extract. Each sample was extracted gradual reflux method, monitoring of extracts compounds with Thin Layer Chromatography (TLC), antioxidant activities were test using DPPH, determination of total flavonoids content with Ordon method, total phenol content with Folin-Ciocalteu reagent and total carotenoids using n-hexane. Ethanol extract of Leaves Artemisia dracunculus L. was highest in inhibiting free radicals with the smallest IC50 value (32.10±0.10μg / mL), ethanol extract of leaves Artemisia vulgaris L. (77.19 ± 0.13μg / mL) and ethanol extract of leaves Artemisia annua L. (99.46±0.16 μg / mL). The highest total content of flavonoid, phenolate and carotenoid in ethyl acetate extract of leaves Artemisia vulgaris L. were 12.83 mg QE / 100 mg extract, 68.72 mg GAE / 100 mg extract and 10.01 mg BE / 100 mg extract. Ethanol extract of Leaves Artemisia darcunculus L. has the strongest antioxidant activity, ethanolic extract of leaves Artemisia vulgaris L. has highest total flavonoid content, total phenolate and total carotenoid. Keywords:              Artemisia sp, antioxidant, flavonoid, phenolic, carotenoi

    ANALISIS TINGKAT KEPUASAN PELANGGAN TERHADAP PELAYANAN DI APOTEK KIMIA FARMA GATOT SUBROTO BANDUNG

    Full text link
    ABSTRAK Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian yang tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh apoteker. Pelayanan yang berbeda akan memberikan dampak yang sangat berarti bagi suatu apotek. Salah satu indikator untuk mengukur keberhasilan pelayanan kefarmasian di apotek adalah dengan studi kepuasan pelanggan.Kepuasan tercapai apabila jasa dan produk yang dipilih dapat memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. Tujuan  penelitian  adalah  untuk  mengetahui atribut dari seluruh dimensi kualitas pelayanan dan memilih yang mana yang akan  diprioritaskan untuk memperbaiki layanan di Apotek Kimia Farma Gatot Subroto Bandung. Penelitian menggunakan metode cross sectional dengan pengambilan sampel secara purposive sampling terhadap 50 orang pasien yang membeli resep dan Upaya pengobatan Diri Sendiri (UPDS) di Apotek Kimia Farma Gatot Subroto Bandung. Skala Likert digunakan sebagai instrumen penelitiaan.Tingkat kepuasan pelanggan diukur menggunakan model SERVQUAL (Service Quality) terhadap 5 dimensi kualitas layanan yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty. Dimensi yang memiliki tingkat kepuasan tertinggi adalah dimensi responsiveness (kesenjangan -0,244 atau tingkat kepuasan 94,58 %); atribut yang memiliki tingkat kepuasan tertinggi adalah karyawan mengucapkan selamat datang di Apotek Kimia Farma saat konsumen memasuki apotek  (kesenjangan -0,092 atau tingkat kepuasan (97,87 %). Dimensi assurance merupakan dimensi yang paling memerlukan perbaikan karena tingkat kesesuaiannya terendah diantara yang lain yaitu 88,045 % dengan nilai kesenjagan -0,552. Dari seluruh dimensi atribut yang menjadi prioritas utama yang perlu diperbaiki adalah pada dimensi 4 assurance yaitu  obat yang dibutuhkan oleh konsumen selalu tersedia di apotek dengan gap (-1,000) dan tingkat kesesuaian 78,11%). Atribut yang terpetakan pada diagram Kartesius terbanyak adalah pada kuadran II yang menunjukkan kualitas layanan Apotek Kimia Farma Gatot Subroto menunjukkan cukup baik. Kata kunci : Apotek, dimensi kualitas layanan, kepuasan pelangga

    UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK ETANOL DAUN KARUK (Piper sarmentosum Roxb.) TERHADAP Streptococcus mutans DAN Candida albicans

    Full text link
    ABSTRAKPenggunaan antibiotik dengan intensitas yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan dan merupakan ancaman global bagi kesehatan terutama resistensi bakteri terhadap antibiotik. Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati, menjadi potensi besar bagi pengembangan obat-obatan dari tanaman, termasuk tanaman yang berkhasiat sebagai antimikroba. Salah satu tanaman tersebut adalah karuk  (Piper sarmentosum  Roxb.).  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  aktivitas antimikroba dari  ekstrak  etanol  daun  karuk  (Piper  sarmentosum  Roxb.)  terhadap  Streptococcus  mutans  dan Candida  albicans.  Ekstraksi  dilakukan  dengan  metode  maserasi  menggunakan  pelarut  etanol  96%. Pengujian aktivitas antimikroba menggunakan metode difusi agar perforasi dan metode mikrodilusi. Hasil  menunjukkan  dari  3  konsentrasi  ekstrak  uji,  konsentrasi  ekstrak  etanol  daun  karuk  80% menghasilkan diameter hambat terbesar terhadap Streptococcus mutans dan Candida albicans yaitu 19,87 mm dan 15,13 mm. Konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak etanol daun karuk terhadap Streptococcus  mutans  sebesar  4096  µg/mL,  sedangkan  KHM  tetrasiklin  sebesar  256  µg/mL.  Nilai KHM ekstrak etanol daun  karuk terhadap Candida albicans sebesar 4096 µg/mL, sedangkan KHM ketokonazol sebesar 100 µg/mL.Kata kunci  :  Antimikroba,  Daun  Karuk  (Piper  sarmentosum  Roxb.),  Streptococcus  mutans, Candida albicansABSTRACT The use of antibiotics with relatively high intensity raises variety of problems and is a global threat to health, especially of bacterial resistance to antibiotics. Indonesia is rich in biodiversity, being a huge potential for development of medicines from plants, including plants that are useful as antimicrobials. One  of  that  plants  is  karuk  (Piper  sarmentosum  Roxb.).  The  aim  of  this  research  was  to  study antimicrobial activity of ethanolic extract from karuk leaf against Streptococcus mutans dan Candida albicans. Extraction  was  done  by  maceration  method  using  ethanol  96%  as  solvent.  Antimicrobial activity test was  done  by  agar  diffusion  method  and microdilution  method. The  result  showed  that among 3 concentration of testesd extract,  extract concentrations 80% produce the biggest inhibition diameter 19,87 mm and 15,13 mm. The minimum inhibitory concentration (MIC) of ethanolic extract from  karuk  leaf  against  Streptococcus  mutans  was  4096  µg/mL,  while  MIC  of  tetracycline  was  8 µg/mL. MIC value of ethanolic extract from karuk leaf against Candida albicans was 4096 µg/mL, while MIC of ketokonazole was 100 µg/mL. Keywords  : Antimicrobial,  Karuk  Leaf  (Piper  sarmentosum  Roxb.),  Streptococcus  mutans, Candida albican

    Pengaruh kombinasi ekstrak etanol herba cecendet (Physalis angulata l.) dengan beberapa antibiotik terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Klebsiella pneumonie

    Full text link
    The effect of a combination of ethanol extract of Physalis angulata L. with antibiotic against Staphylococcus aureus and Klebsiella pneumonie                                                                                           Abstract Infectious disease is one of the biggest health problems not only in Indonesia, but worldwide. Bacteria are important agents in causing infectious diseases. Indonesian people often use antibiotics along with herbal medicines. Cecendet (Physalis angulata L.) is one of the traditional plants that have antibacterial activity and widely used by the Indonesian community. This study aims to test the antibacterial activity of cecendet herbs and their effects when used in combination with various antibiotics. The preparation of P.angulata extract was carried out using reflux method with ethanol 50%. The characteristic examination and phytochemical screening are examined on simplicia and the extract. Determination of antibacterial activity from P.angulata extract was done by microdilution test method by assessing minimum inhibitory concentration (MIC). Determination of the effectiveness of combination of antibiotics with herbal cecendet against test microbes Staphylococcus aureus and Klebsiella pneumoniae was done by using checkerboard method. The results of phytochemical screening showed that simplicia and P.angulata extract contained alkaloids, flavonoids, saponins, polyphenols, monoterpenoids, sesquiterpenes, steroids and triterpenoids. The result of antibacterial activity test showed that P.angulata extract had antibacterial activity against S.aureus and K.pneumoniae with the MIC was 128 μg/mL, 256 μg/mL. The synergistic interaction of S.aureus is demonstrated by the combination of P.angulata herb extract with tetracycline. The additive/indifferent interaction of S.aureus is demonstrated by the combination of P.angulata extracts with ampicillin, and against K.pneumoniae shown by the combination of P.angulata extract of cecendet with ampicillin or tetracycline. Ethanol extract of P.angulata has antibacterial activity and and combination with antibiotics (ampicillin/tetracyclin) can give synergistic effect or additive of S.aureus and K.pneumoniae bacteria. Keywords:  Cecendet, Physalis angulata L., MIC, antibiotic combinatio

    Pengaruh edukasi apoteker terhadap pengetahuan dan sikap masyarakat terkait teknik penggunaan obat

    Full text link
    Abstrak Tidak semua masyarakat paham tentang obat dan teknik penggunaan obat, sehingga menjadi penyebab pengobatan tidak optimal atau kegagalan pengobatan. Hal ini dapat disebabkan minimnya pengetahuan dan kemampuan masyarakat terkait teknik penggunaan obat. Oleh karena itu dibutuhkan edukasi dan optimalisasi kemampuan masyarakat berkaitan dengan teknik penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi apoteker terhadap pengetahuan dan sikap masyarakat terkait teknik penggunaan obat. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pamijen Kecamatan Baturaden Purwokerto pada bulan Mei 2017. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan pengambilan sampel secara simple random sampling. Jumlah sampel yang didapat sebesar 30 responden yang merupakan kader PKK dan kader POSYANDU Desa Pamijen Baturaden Purwokerto. Teknik pengumpulan data melalui pretest-postest design menggunakan kuesioner. Parameter yang dinilai adalah pengetahuan dan sikap masyarakat terkait penggunaan obat. Analisis data dilakukan menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test dan Uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada pengetahuan responden sebelum dan sesudah edukasi oleh apoteker, dibuktikan dengan nilai p sebesar 0,004 (p≤ 0,05). Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya peningkatan sikap responden sebelum pemberian edukasi dengan sikap responden sesudah pemberian edukasi terkait teknik penggunaan obat, dibuktikan dengan nilai sebesar 0,284 (p≥ 0,05). Dapat disimpulkan bahwa edukasi apoteker mempengaruhi pengetahuan masyarakat terkait teknik penggunaan obat, tetapi tidak mempengaruhi sikap masayarakt terhadap teknik penggunaan obat. Kata Kunci:    Obat, edukasi, penggunaan obat Effect of pharmacist education of knowledge and public attitudes related to use of medicine Abstract Not all people understand about drugs and techniques of drug use, so the cause of treatment is not optimal or treatment failure. This can be due to the lack of knowledge and ability of the community related to drug use techniques. Therefore, it is necessary to educate and optimize the ability of the community related to drug use techniques. This study aims to determine the effect of educational pharmacists on knowledge and attitude of the community related to drug use techniques. This research was conducted in Pamijen Village, Baturaden Subdistrict Purwokerto in May 2017. This research is a cross sectional study with simple random sampling. The number of samples obtained by 30 respondents who are PKK cadres and cadres POSYANDU Pamijen Village Baturaden Purwokerto. Data collection techniques through pretest-postest design using questionnaires. Parameters assessed were community knowledge and attitude related to drug use. Data analysis was performed using Wilcoxon Sign Rank Test and T paired test. The results showed that there were significant differences in the knowledge of respondents before and after education by pharmacists, evidenced by the p value of 0.004 (p 0.05). The result of the research showed that there was no increase of respondent attitude before giving of education with respondent attitude after giving of education related to technique of drug usage, proved with value equal to 0,284 (p≥ 0,05). It can be concluded that pharmacists' education influences the community's knowledge of drug use techniques, but does not affect the attitude of masayarakt on drug use techniques. Keywords:       Drugs, Education, Drug Use

    Optimasi Hidroksipropil Metilselulosa K-4M dan Carbopol® 940 pada Sediaan Patch Dispersi Padat Piroksikam

    Full text link
    Abstrak Piroksikam merupakan anti inflamasi non steroid (AINS) turunan oksikam yang berkhasiat sebagai analgesik dan antiinflamasi digunakan untuk pengobatan rheumatoid arthritis dan osteoarthritis. Piroksikam menyebabkan masalah pada saluran cerna dan first pass metabolism yang dapat dihindari dengan cara pemberian transdermal patch. Salah satu komponen patch yaitu polimer yang berfungsi untuk mengontrol kecepatan pelepasan obat dari sediaan. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan komposisi terbaik dari kombinasi polimer hidroksipropil metilselulosa (HPMC) dan Carbopol terhadap % moisture content (MC) dan flux pelepasan sediaan transdermal patch dispersi padat piroksikam dengan rancangan formula Simplex Lattice Design. Piroksikam dibuat dalam bentuk dispersi padat dengan pembawa PEG 4000 untuk meningkatkan kelarutannya. Rancangan formula patch dispersi padat piroksikam dibuat dengan menggunakan tiga polimer Etil selulosa:HPMC:carbopol dimana yang divariasikan adalah perbandingan HPMC : Carbopol yaitu 1 : 0 ; 0,5 : 0,5 ; 0 : 1. Hasil uji menunjukkan ketiga formula memenuhi persyaratan keseragaman kadar dengan rentang keseragaman 3,735 – 97,349 %. Hasil juga menunjukkan formula 3 menghasilkan patch yang lebih tebal, pH permukaan patch lebih rendah, nilai % moisture content lebih besar dan nilai flux lebih tinggi dibandingkan formula 2 dan formula 3, Formula 3 mempunyai nilai % moisture content yang memenuhi persyaratan sebesar 6,613% dan nilai flux pelepasa yang paling bagus sebesar 32,562 µg/cm2.menit1/2. Hasil penelitian juga menunjukkan formula 1 memiliki keseragaman bobot lebih baik dibandingkan formula 2 dan formula 3. Dapat disimpulkan bahwa komposisi optimum dari kombinasi polimer HPMC dan Carbopol pada sediaan patch dispersi padat piroksikam yaitu formula dengan komposisi polimer HPMC sebanyak 0 mg dan Carbopol sebanyak 75 mg. Kata kunci:     Dispersi padat, patch piroksikam, HPMC, Carbopol Optimization of Hydroxypropyl Methylcellulose K-4M and  Carbopol® 940 in Solid Dispersion Piroxicam Patch Abstract Piroxicam is a non-steroidal anti-inflammatory (NSA) oxysmic derivative as an analgesic and anti-inflammatory agent used for the treatment of rheumatoid arthritis and osteoarthritis. Piroxicam causes problems in the gastrointestinal tract and first pass metabolism that can be avoided by giving transdermal patches. One of the patch components is a polymer that serves to control the speed of drug release from the preparation. The present study was conducted to determine the best composition of the combination of hydroxypropyl methylcellulose (HPMC) and Carbopol polymers against% moisture content (MC) and fluxes release of the pyroxicam dispersion transdermal patch dispersion with the design of the Simplex Lattice Design formula. Piroxicam is prepared in the form of a solid dispersion with a PEG 4000 carrier to increase its solubility. The design of a pyroxicam solid dispersion patch formulation was prepared using three ethyl cellulose polymers: HPMC: carbopol wherein the HPMC ratio is computed: Carbopol is 1: 0; 0.5: 0.5; 0: 1. The test results show the three formulas meet the requirements of uniformity of the content with a uniformity range of 3.735 - 97.349%. the results also show formula 3 resulting in thicker patches, lower patch pH surfaces, greater moisture content values and higher flux values than formula 2 and formula 3, Formula 3 has a moisture content value of 6.613% the finest fl ux flux of 32,562 μg / cm2.menit1 / 2. The results also show that formula 1 has better weight uniformity than formula 2 and formula 3. It can be concluded that the optimum composition of HPMC and Carbopol polymer combinations in the preparation of piroxicam solid dispersion patch is a formula with HPMC polymer composition as 0 mg and Carbopol as much as 75 mg.. Key words:      solid dispersion, piroxicam patch, HPMC, Carbopo

    UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI BEBERAPA MADU ASLI LEBAH ASAL INDONESIA TERHADAP Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

    Full text link
    ABSTRAK Bakteri  yang  resisten  terhadap  antibiotik  menimbulkan  ancaman  serius,  sehingga  diperlukan  obat alternatif  untuk  mengganti  dengan  beralih  ke  bahan  alam  yang  ketersediaannya  melimpah  di Indonesia,  salah  satunya  adalah  madu.  Madu  “Manukaâ€Â  dilaporkan  efektif  mengatasi  infeksi  kulit yang  sudah  resisten  terhadap  antibiotik  serta  efektif  untuk  gangguan  pencernaan,  sehingga  fakta tersebut telah mendorong dilakukannya penelitian untuk menguji dan membuktikan efek antibakteri madu  jenis  lainnya.  Pada  penelitian  ini,  enam  madu  asli  lebah,  asal  Indonesia  diuji  aktivitas antibakterinya  terhadap  strain  Staphylococcus  aureus  mewakili  golongan  bakteri  Gram  positif  dan strain Escherichia coli mewakili golongan bakteri Gram negatif. Diawali pengumpulan dan penyiapan enam  sampel  madu  uji,  kemudian  diuji  secara  organoleptik  dan  uji  fisikokimia  untuk  menentukan mutu dari madu, meliputi uji aktivitas enzim diastase, hidroksimetilfurfural (HMF) dan kadar air yang dilakukan  untuk  menguji  apakah  madu  yang  diuji  asli  asal  lebah  dan  dalam  kualitas  yang  baik. Selanjutnya  dilakukan  pengujian  aktivitas  antibakteri  madu  asli  lebah  tersebut  terhadap  bakteri penyebab  infeksi  saluran  pernapasan  yang  diwakili  oleh  Staphylococcus  aureus  yang  merupakan bakteri Gram positif dan bakteri penyebab infeksi saluran pencernaan yang diwakili oleh Escherichia coli  yang  merupakan  bakteri  Gram  negatif,  menggunakan  metode  difusi  agar  perforasi.  Uji organoleptik yang dilakukan terhadap enam sampel madu asli lebah, asal Indonesia (S1, S2, S3, S4, S5, S6) memberikan hasil yang memenuhi persyaratan mutu madu yang baik. Hasil pengujian enzim diastase dan uji kadar air memenuhi persyaratan SNI 3545:2013 tentang madu. Hasil uji HMF tidak memenuhi syarat,  pada sampel S1 dan S6 karena HMF melebihi kadar yang dipersyaratkan. Sampel  S1  dan  S6  memberikan  kadar  HMF  berturut-turut  62,22  mg/kg  dan  50,97  mg/kg,  sehingga  tidak memenuhi  persyaratan  kadar  HMF  maksimum  50%  b/b.  Uji  aktivitas  antibakteri  madu  dengan konsentrasi 100% terhadap bakteri Staphylococcus  aureus  memberikan diameter hambat 21,33 mm pada sampel S4, menunjukkan kategori antibakteri sangat kuat, karena masuk dalam kisaran 20-35 mm,  sedangkan  pengujian terhadap  bakteri  Escherichia  coli  pada  sampel  S4  memberikan  diameter hambat 19,67 mm termasuk kategori antibakteri kuat karena masuk dalam kisaran 10-20 mm. Kata kunci  : Madu, uji aktivitas antibakteri, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, metode difusi agar perforasi, HM

    KEMAMPUAN Aspergillus wentii DALAM MENGHASILKAN ASAM SITRAT

    Full text link
    ABSTRAK Kegunaan  asam  sitrat  dalam  industri  makanan,  minuman  dan  farmasi  sangat  besar  salah  satunya adalah sebagai pengawet. Beberapa mikroorganisme diketahui dapat menghasilkan asam sitrat melalui proses fermentasi, diantaranya adalah Aspergillus wentii dengan memanfaatkan glukosa yang berasal dari  karbohidrat  sebagai  bahan  utama.  Berdasarkan  hal  ini  maka  telah  dilakukan  penelitian  untuk melihat kemampuan Aspergillus wentii dalam menghasilkan asam sitrat dengan menggunakan kulit singkong sebagai sumber karbohidrat. Hasil fermentasi antara Aspergillus wentii dan kulit singkong dilakukan uji keberadaan asam sitrat secara reaksi kimia. Untuk mengetahui jumlah asam sitrat yang dihasilkan  digunakan spektrofotometer  UV-Vis.  Analisis  kualitatif  menunjukan  bahwa  supernatan hasil fermentasi mengandung asam sitrat. Secara kuantitatif asam sitrat dapat dihasilkan pada masa inkubasi selama enam hari sebesar 0,312 % b/v.  Kata Kunci : Asam sitrat, Aspergillus wentii, fermentasi, kulit singkong. ABSTRACT  The usef of citric acid in the food, beverage and pharmaceutical industries is wide, one of them is as a preservative.  Some  microorganisms  are  known  to  produce  citric  acid  through  the  fermentation process,  such  as  Aspergillus  wentii.  Aspergillus  wentii  uses  carbohydrate  as  glucose  source  in fermantation.This research is conducted toevaluate the ability of Aspergillus wentii to produced citric acid  using  cassavaskin  as  carbohydrate.  The  level  of  citric  acid  is  tested  using  UV-Vis spectrophotometer. The result showed that citric acid is found in supernatant. Optimal incubation of fermentationis in six days and the level of citricacid is 0,312 % b/v  Keywords : citric acid, Aspergillus wentii, fermentation, cassava ski

    Uji efektivitas gel ekstrak etanol daun kelor (Moringa oleifera L.) sebagai antijamur Malassezia furfur

    Full text link
    Abstrak Kandungan daun kelor (Moringa oleifera L) diketahui dapat berkhasiat sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi dan mengetahui aktivitas antijamur gel yang mengandung daun kelor terhadap jamur Malasezia furfur. Ekstraksi daun kelor dilakukan menggunakan etanol 70% dengan metode maserasi. Formulasi gel yang mengandung ekstrak etanol daun kelor dilakukan menggunakan hidroksi propil metil selulosa (HPMC) dengan berbagai konsentrasi, yaitu 2, 3, dan 4%., Evaluasi gel yang dilakukan adalah uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, dan viskositas. Kemudian dilakukan uji aktivitas antijamur dengan menggunakan metode difusi padat dengan kertas cakram, dan digunakan gel ketokonazol sebagai pembanding. Parameter yang diukur adalah zona hambat antijamur. Hasil kemudian dianalisis statistik Kruskall Wallis dan Mann Withney. Berdasarkan evaluasi gel, diperoleh bahwa peningkatan  konsentrasi basis HPMC 2, 3, dan 4% dalam sediaan gel  ekstrak etanol daun kelor dapat meningkatkan viskositas gel, daya lekat gel, menyebabkan penurunan daya sebar gel, dan mempengaruhi peningkatan konsistensi sediaan gelpada uji organoleptik tanpa mempengaruhi uji pH gel dan homogenitas gel. Formula yang memiliki sifat fisik gel yang yang baik jika dilihat dari hasil  uji sifat fisik gel yang meliputi uji organoleptik,homogenitas, pH, daya sebar daya lekat dan viskositas   yaitu formula  gel ekstrak etanol daun kelor dengan konsentrasi basis HPMC 2 % karena hampir dari semua uji memenuhi persyaratan literatur. Dari penelitian ini dapat disimpulkan  gel ekstrak etanol daun kelor mempunyai aktivitas antijamur M.furfur dan gel yang mengandung HPMC 2% memiliki sifat fisik gel dan aktivitas antijamur lebih baik jika dibandingkan dengan gel konsentrasi HPMC 3 dan 4%. Kata Kunci: Daun Kelor, Moringa oleifera L, gel, antijamur, Malassezia furfur.  The effectiveness test of gel of ethanol extract of Moringa oleifera leaves as antifungal of Malassezia furfur Abstract Moringa leaf content (Moringa oleifera L) is known to be efficacious as an antifungal. The aim of this research is to formulate and to know gel antifungal activity containing moringa leaf against Malasezia furfur fungus. Moringa leaf extraction was done using 70% ethanol by maceration method. The gel formulation containing ethanol extract of moringa was conducted using hydroxy propyl methyl cellulose (HPMC) with various concentrations, ie 2, 3, and 4%. Evaluation of gel performed was organoleptic, homogeneity, pH, spreading, and viscosity. Then the antifungal activity was tested using solid diffusion method with paper disc, and used ketoconazole gel as comparison. The measured parameter was the antifungal block zone. The results were then analyzed statistically using Kruskall Wallis and Mann Withney. Based on the gel evaluation, it was found that the increased concentrations of HPMC 2, 3, and 4% base concentrations in the gel preparation of ethanol extract of moringa leaf can increase gel viscosity, gel adhesiveness, decrease the gel power, and influence the consistency of preparation for organoleptic test without affecting the test pH gel and gel homogeneity. Formula which have good physical properties of gel when viewed from the test results of physical properties of gel which include organoleptic test, homogeneity, pH, viscosity sticky power and viscosity is gel gel ethanol extract leaf kelor with 2% HPMC base concentration because almost of all test meet the literature requirements. From this study, it can be concluded that leaf extract gel ethanol gel has antifungal activity of M.furfur and gel containing HPMC 2% has gel physical properties and antifungal activity is better when compared with HPMC 3 and 4% concentration gel Keywords: Moringa olifera L.,gel,  antifungal, Malasezia furfu

    121

    full texts

    125

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇