Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
Not a member yet
125 research outputs found
Sort by
VALIDASI METODE ANALISIS VITAMIN C PADA BUAH DAN KERIPIK NANAS SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis
Vitamin C ini banyak ditemukan dalam buah-buahan seperti pada buah nanas. Buah nanas dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan olahan, salah satunya keripik nanas. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh hasil validasi metode analisis vitamin C yang terdapat pada buah nanas dan keripik nanas. Penelitian ini menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Metode ini memiliki nilai validitas yang memenuhi parameter validasi sehingga dapat diterima yaitu pada uji stabilitas pengukuran diperoleh pada menit ke 10 sampai 20. Rata-rata hasil uji akurasi buah nanas segar yaitu 98,4765%, sedangkan pada keripik nanas sebesar 80,7633%. Pada uji presisi dengan konsentrasi 5 ppm nilai SD = 0,0265 dan RSD = 5,8434%, konsentrasi 7 ppm nilai SD = 0,0173 dan RSD = 3,0647%, dan konsentrasi 9 ppm nilai SD = 0,02 dan RSD = 3,0520%. Pada uji linearitas didapatkan hasil regresi linear y = 0,0809 x – 0,1239 dan koefisien korelasinya r = 0,9980. Nilai batas deteksi (LOD) = 0,3708 ppm dan batas kuantitasi (LOQ) = 1,2361 ppm. Rata-rata kadar vitamin C pada buah nanas segar 0,4331%, pada keripik nanas 0,2827%. Metode analisis vitamin C pada buah nanas dan keripik nanas secara spektrofotometri UV-Vis sudah tervalidasi
FICI Value Determination of Combination of Aquilaria microcarpa Baill. Ethanolic Extract with Amoxicillin against Salmonella typhi
Karas (Aquilaria microcarpa Baill.) adalah tanaman yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap beberapa bakteri patogen. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui nilai FICI dari kombinasi ekstrak etanol daun karas (Aquilaria microcarpa Baill.) dengan amoksisilin terhadap bakteri Salmonella typhi. Metode yang digunakan adalah metode difusi cakram Kirby-Bauer. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk mengetahui karakteristik kombinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai FICI kombinasi ekstrak etanol daun karas (Aquilaria microcarpa Baill.) dengan amoksisilin terhadap Salmonella typhi adalah 4. Sehingga dapat disimpulkan bahwa karakteristik kombinasi terhadap bakteri Salmonella typhi bersifat indifferent atau tak berbeda.Kata kunci : Aquilaria microcarpa Baill., ekstrak etanol, amoksisilin, Salmonella typhi , Fractional Inhibitory Concentration Index (FICI
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK AIR DAUN KECUBUNG GUNUNG (Brugmansia candida Pers) TERHADAP DEPRESIASI KATALEPSI
Katalepsi merupakan tanda efek ekstrapiramidal dari obat-obatan yang menghambat transmisi dopaminergik atau meningkatkan pelepasan histamin di otak. Salah satu tanaman yang memiliki efek menurunkan kadar histamine adalah kecubung gunung. Metode yang di gunakan adalah pencegahan di mana hewan diuji di bagi dalam beberapa kelompok, yang terdiri atas kelompok kontrol yang diberikan Natrium CMC 10 mL/kg bb secara oral, kelompok pembanding di berikan difenhidramin hidroklorida 1 mg/kg bb mencit secara intraperitoneal, dan 3 kelompok terakhir di berikan ekstrak air daun kecubung gunung 0,315 mg/20g bb mencit ; 0,63 mg/20 g bb mencit ; serta dosis 1,26 mg/20g bb mencit secara per oral. Semua kelompok di induksi oleh obat klonidin 1 mg/kg bb mencit secara subkutan setelah 30 menit pemberian sediaan uji, kemudian di ukur durasi katalepsinya pada rentang waktu 5, 30, 60, 90, 120, 150 dan 180 menit. Parameter yang digunakan adalah durasi katalepsi. Hasil penelitian yang diperoleh, yaitu kelompok ekstrak air daun kecubung gunung dosis 0,63 mg/20 g bb mencit merupakan ekstrak yang paling sedikit durasi katalepsinya dibandingkan dengan kelompok kontrol, pembanding dan dua dosis ekstrak yang lain. Rata –rata kumulatif durasi katalepsinya yaitu 1,5s + 1,1 ; 3,0s + 1,5; 4,3s +1,9 ; 7,2s + 2,9 ; 9,4s + 3,1 ; 11,9s + 3,1 dan pada menit terakhir 14,7s + 3,4. Hasil yang didapatkan berbeda bermakna secara statistik pada P<0,05 di bandingkan dengan kelompok kontrol dengan uji T-student. Kesimpulan yang didapatkan bahwa ekstrak air daun kecubung gunung memiliki efek menurunkan durasi katalepsi yang di induksi oleh klonidin
EFEK HEPATOTOKSIK PEMBERIAN SUBAKUT TRITERPEN TOTAL DARI Centella asiatica Linn. PADA TIKUS PUTIH JANTAN DEWASA GALUR WISTAR
Senyawa aktif utama dari Centella asiatica Linn. adalah triterpen total. Centella asiatica dilaporkan dapat menyebabkan nekrosis sel hati. Telah diteliti efek hepatotoksik pemberian subakut triterpen total dari Centella asiatica pada tikus putih jantan dewasa galur Wistar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pemberian dosis tunggal triterpen total dari Centella asiatica terhadap gambaran histopatologi dan fungsi hati tikus.Dari hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas SGOT dan SGPT yang berbeda bermakna (ANOVA one way, p<0,05) pada setiap kelompok perlakuan. Peningkatan dosis pemberian triterpen total menunjukkan korelasi positif yang bermakna (Pearson Correlation, p <0,05) dengan peningkatan aktivitas SGOT dan SGPT. Peningkatan aktivitas SGOT dan SGPT tidak melebihi pada batas rentang normal. Dari gambaran histopatologi, pada kelompok kontrol dan perlakuan tidak ditemukan kerusakan histopatologi sel hati.Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian subakut triterpen total pada dosis 21, 42, 84 mg/kgBB/hari selama 6 minggu dapat meningkatkan aktivitas SGOT dan SGPT dan belum ditemukan kelainan histopatologi sel hat
Telaah Potensi Interaksi Obat Resep Polifarmasi Klinik Jantung pada Salah Satu Rumah Sakit di Bandung
Reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROM) adalah salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Sekitar sepertiga kasus ROM yang dapat dicegah merupakan interaksi obat. Obat kardiovaskular yang diresepkan secara tidak tepat bertanggung jawab atas hampir 25% dari semua ROM yang dapat dicegah, Saat ini, polifarmasi adalah hal biasa dijumpai dalam praktik kefarmasian. Studi observasional retrospektif dilakukan pada pasien rawat jalan klinik jantung salah satu rumah sakit di Bandung. DIlakukan identifikasi potensi interaksi obat pada resep dengan tujuh atau lebih obat (polifarmasi), untuk memberikan gambaran terkait frekuensi interaksi obat, obat yang terlibat dalam interaksi, dan tingkat keparahan interaksi obat. Terdapat 41 potensi interaksi obat dengan keparahan berat yang penting secara klinis, yang teridentifikasi pada 30 (22,06%) resep polifarmasi di klinik jantung. Sebanyak 8 (26,67%) resep diantaranya memiliki 2 potensi interaksi obat yang penting secara klinis, dan 1 (3,33%) resep memiliki 4 potensi interaksi obat yang penting secara klinis. Selain itu teridentifikasi pula 8 (19,51%) interaksi obat dengan indeks terapi sempit yaitu warfarin [5 (12,19%)] dan digoksin [3 (7,32%)]. Apoteker di rumah sakit harus berperan aktif dalam mengidentifikasi interaksi obat dan memberikan informasi terkait interaksi obat beserta rekomendasi manajemen terapi yang terbukti secara klinis
Aktivitas Analgetik Ekstrak dan Fraksi-fraksi Akar Pakis Tangkur (Polypodium feei., METT) Dari Gunung Talaga Bodas Secara In Vivo
Pakis tangkur merupakan tanaman obat tradisional yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati penyakit reumatik. Tanaman ini tumbuh di area pegunungan talaga bodas, Garut. Penelitian sebelumnya, melaporkan bahwa senyawa Shellegueain A yang terkandung dalam akar pakis tangkur yang berasal dari pegunungan Tangkuban Perahu efektif sebagai analgetik. Namun, dalam bentuk sediaan ekstrak yang secara umum merupakan sediaan yang paling banyak digunakan secara tradisional oleh masyarakat belum dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas analgetik ekstrak etanol dosis 100, 200 dan 400 mg/kg serta fraksi n-heksan, etil asetat dan air dosis 50, 100 dan 200 mg/kg dengan metode geliat (siegmund) dan metode panas (hot plate). Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak etanol menghasilkan jumlah geliat hewan sebesar 85,5; 68,45 dan 77,35 kali dengan nilai persen proteksi 71,78; 77,4 dan 74,5 %. Sediaan fraksi n-heksan sebesar 90,45; 78,7 dan 85,95 kali (nilai persen proteksi 70,14; 74,03 dan 71,63 %); fraksi etil asetat sebesar 58,5; 102,5 dan 55,5 kali (nilai persen proteksi 80,05; 66,17 dan 79,68 %) serta fraksi air sebesar 205,2; 65,2 dan 60,5 kali (nilai persen proteksi sebesar 32,28; 78,48 dan 80,03 %). Aktivitas analgetik kuat hanya ditunjukkan oleh fraksi etil asetat dengan lama waktu respon 136,5; 147,5 dan 128,75 detik (nilai persen peningkatan 59,01; 55,4 dan 74,3 %) serta fraksi air sebesar 153; 144,75 dan 146 detik (persen peningkatan 57,39; 66,77 dan 71,47 %). Fraksi yang terbaik sebagai obat pereda nyeri adalah fraksi etil asetat terutama dosis 200 mg/kgbb. Â Â
REVIEW : TUMBUHAN BERKHASIAT UNTUK MENGATASI DISMENOREA
Banyak tumbuhan yang telah dilaporkan dapat meredakan gejala dismenorea. Sebagian besar tumbuhan tersebut memiliki aktivitas dalam menurunkan jumlah prostaglandin atau menghambat pembentukan prostaglandin, sehingga gejala dismenorea (nyeri haid) berkurang atau bahkan hilang. Dari 18 jenis tumbuhan yang telah ditelaah berdasarkan sumber review jurnal, ada khasiat lain yang dimiliki tiap tumbuhan untuk mendukung aktivitas penurunan gejala dismenorea seperti, sedatif, antiansietas dan relaksasi otot. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tumbuhan terbaik untuk meredakan gejala dismenorea adalah adas, lavender, mint, mawar, pepaya, serai dan zataria
KAJIAN LITERATUR DAN KROMATOGRAFI UNTUK HERBA KESUM
ABSTRAK Spesis Polygonum (misalnya P. aviculare) dilaporkan mempunyai kandungan alkaloid. Begitu juga dengan daun kesum (P. minus Huds), yang terbukti sebagai sumber molekul perubatan semulajadi. Masalah yang diidentifikasi dari kajian kesum termasuklah di dalam aspek fitokimia genus Polygonum ini, yang belum pernah disiasat secara mendalam. Oleh itu, sasaran kajian ini adalah untuk mengulas data biokimia tumbuhan tersebut melalui metode literatur serta menjalankan telaah analisis kimia terhadap ekstrak kesum. Dari artikel dan jurnal penerbitan, bahagian daun dan akar dipelajari melalui kaedah kromatografi kolom. Tambahan itu, sebatian kimia dari kesum dicirikan dengan teknik spektroskopi resonans magnetik nuklear. Temuan signifikan diperolehi apabila senyawa indol dan alkaloid diterpen C20 berjaya dikarakterisasi. Secara kesimpulannya, projek di masa hadapan boleh ditumpu kepada ujikaji antikanser dan anti-penuaan dari herba kesum ini.   Kata kunci : herba, kesum, literatur, Polygonum ABSTRACT Polygonum species (e.g. P. aviculare) were reported to consist of alkaloidal nature. Likewise, the kesum leaves (P. minus Huds) is proven as a source of natural medicinal compound.  The identified problem in the kesum research would include the phytochemistry aspects of this Polygonum genus, which is not yet thoroughly investigated, via literature search.  Therefore, the aim of this study is to accumulate and review the biochemical data of this herb. From the articles and published journals, the leaves and root extracts were analysed by using liquid chromatographic technique. In addition, the chemical substance from kesum could be elucidated via nuclear magnetic resonance spectroscopy. The significant findings could be obtained when the indole and and C20-diterpene alkaloids were successfully characterised. In summary, future directions of the project could focus on anticancer and anti-aging experiments of this kesum herb.  Keywords    : herb, kesum, literature, Polygonu
PROFIL KERACUNAN DI FASILITAS KESEHATAN TERSIER KOTA YOGYAKARTA PERIODE 2016 – 2017
Berdasarkan beberapa studi yang dilakukan sebelumnya, angka kejadian keracunan di Indonesia masih tergolong tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil keracunan di fasilitas kesehatan tersier Kota Yogyakarta. Penelitian dilakukan dengan metode observasional deskriptif dengan rancangan cross sectional. Bahan penelitian adalah rekam medis pasien. Subjek penelitian adalah seluruh pasien dengan diagnosa keracunan yang terdata mulai Januari 2016 – Desember 2017 di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit tersier Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan jumlah kasus keracunan sebanyak 97 kasus. Berdasarkan karakteristik pasien diketahui pasien keracunan laki-laki 62 (64%) dan perempuan 35 (36%). Rentang usia 0 – 11 tahun 18 (19%); 12 – 25 tahun 37 (38%); 26 – 45 tahun 24 (25%); 46 – 65 tahun 15 (15%) dan usia >65 tahun sebanyak 3 (3%). Berdasarkan karakteristik latar belakang pendidikan, pasien tidak pernah sekolah sejumlah 26 (27%); SD 14 (14%); SMP 10 (10%); SMA 36 (37%); Diploma II 1 (1%) dan Sarjana 10 (10%). Berdasarkan pekerjaan kategori pelajar/mahasiswa sebanyak 37 pasien (38%); tidak bekerja 28 (29%); pegawai swasta 10 (10%); petani 6 (6%); buruh 5 (5%); wiraswasta 4 (4%); PNS 4 (4%); ibu rumah tangga 2 (2%); dan TNI/POLRI 1 (1%). Berdasarkan penyebab keracunan dikategorikan karena gigitan hewan 41 kasus (42%); obat 23 (24%); alkohol 14 (14%); produk rumah tangga 10 (10%); pestisida 5 (5%); makanan 2 (2%); minuman, hidrokarbon dan racun tanaman masing – masing 1 kasus (1%). Hasil analisis bivariate menunjukkan bahwa pendidikan berhubungan dengan kejadian keracunan (p<0,05). Kesimpulan penelitian ini diketahui bahwa laki – laki usia remaja dengan tingkat pendidikan SMA pelajar merupakan karakteriktik pasien paling dominan yang mengalami keracunan. Sedangkan berdasarkan kategori penyebab keracunan paling tinggi karena gigitan ular
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS GEL TABIR SURYA DARI EKSTRAK BUAH BLACKBERRY (Rubus fruticosus) SECARA IN VITRO DENGAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VISIBEL
Abstrak Buah Blackberry (Rubus fruticosus) merupakan buah yang mengandung senyawa fenolik dan antosianin yang tinggi yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Aktivitas antioksidan berkaitan dengan aktivitas fotoprotektif sehingga dapat dimanfaatkan dalam bentuk sediaan tabir surya seperti sediaan gel. Maka dilakukan penelitian untuk mengembangkan ekstrak blackberry menjadi gel tabir surya. Penelitian diawali dengan tahapan formulasi gel dengan menggunakan ekstrak blackberry sebagai zat aktif dengan variasi 5 konsentrasi masing-masing 0,25%; 0,5%; 0,75%; 1%; dan 1,25%. Zat tambahan yang digunakan adalah karbopol (gelling agent) 0,5%, gliserin (humectant) 10%, trietanolamin (neutralizing agent) secukupnya, nipagin (preservative) 0,18%, nipasol (preservative) 0,02% dan aquadest (solvent). Hasil formulasi gel ekstrak buah blackberry dilakukan uji kualitas sediaan meliputi uji organoleptis, pH, uji viskositas, dan daya sebar. Aktivitas tabir surya ditentukan menggunakan metode spektrofotometri uv-visibel berdasarkan serapan pada panjang gelombang yang dapat menimbulkan eritema dan pigmentasi yaitu 292,5 nm – 372,5 nm. Parameter yang digunakan berdasarkan persen transmisi eritema (%Te) ,persen Transmisi pigmentasi (%Tp) dan nilai sun protecting factor (SPF) terhadap 5 formulasi gel. Hasil formulasi sediaan gel menunjukkan kualitas yang baik untuk empat formula (I-IV) sedangkan formula V menunjukan nilai viskositas yang kurang baik. Sedangkan hasil dari aktivitas tabir surya formula IV dan V memiliki aktivitas tabir surya tertinggi dengan nilai SPF kategori ultra dan nilai persen transmisi eritema (%Te) dan persen transmisi pigmentasi kategori total block atau sunblock. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa formula IV (ekstrak 1%) merupakan formula terbaik dengan kualitas sediaan dan aktivitas tabir surya terbaik dengan nilai SPF 31,2 termasuk kategori ultra sedangkan persen eritema (%Te) 0,24% dan persen pigmentasi (%Tp) 0,35% termasuk kategori sunblock. Kata Kunci : Buah Blackberry, Gel Tabir Surya , Spektrofotometri UV-Visibel.  Abstract Blackberry (Rubus fruticosus) is a fruit that contains high phenolic and anthocyanin compounds that have antioxidant activity. Antioxidant activity is related to a photoprotective activity so that it can be utilized in the form of sunscreen preparations such as gel preparations. Then researched to develop blackberry extract into a sunscreen gel. The study began with the stages of gel formulation using blackberry extract as an active substance with a variation of 5 concentrations of 0.25% each; 0.5%; 0.75%; 1%; and 1.25%. Additional substances used are carbopol (gelling agent) 0.5%, glycerin (humectant) 10%, triethanolamine (neutralizing agent) to taste, nipagin (preservative) 0.18%, nipasol (preservative) 0.02% and aquadest (solvent) ). The results of the formulation of blackberry extract gel were carried out the quality test of the preparations including organoleptic test, pH, viscosity test, and spreadability. Sunscreen activity is determined using the uv-visible spectrophotometry method based on absorption at wavelengths that can cause erythema and pigmentation of 292.5 nm - 372.5 nm. The parameters used are based on percent erythema transmission (% Te), percent transmission of pigmentation (% Tp), and the value of sun protecting factor (SPF) on 5 gel formulations. The results of gel formulations showed good quality for four formulas (I-IV) while formula V showed poor viscosity values. While the results of the sunscreen activity of formula IV and V have the highest sunscreen activity with the SPF value of the ultra category and the percentage value of erythema transmission (% Te) and the percentage of pigmentation transmission in the total block or sunblock category. Based on the results of the study it can be concluded that formula IV (extract 1%) is the best formula with the best quality preparations and sunscreen activity with an SPF value of 31.2 including the ultra category while the percent of erythema (% Te) is 0.24% and percent pigmentation (% Tp ) 0.35% included in the sunblock category. Keywords: Blackberry Fruit, Sunscreen Gel, Spectrophotometry UV-Visibl