Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
Not a member yet
125 research outputs found
Sort by
PENGARUH KADAR TRIGLISERIDA TERHADAP KEKAKUAN ARTERI PADA MODEL HEWAN TIKUS WISTAR JANTAN
ABSTRAK Hasil studi epidemiologi diketahui bahwa trigliserida merupakan salah satu factor resiko independent terjadinya penyakit kardiovaskular walaupun target kadar low density lipoprotein (LDL) telah tercapai dengan obat statin. Diduga terdapat hubungan antara kadar trigliserida dengan elastisitas arteri. Kekakuan arteri telah diakui berkaitan erat dengan penyakit kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek hipertrigliseridemia terhadap tingkat kekakuan arteri pada model hewan tikus Wistar yang diinduksi pakan tinggi lemak dan fruktosa 25%. Sejumlah 10 ekor tikus dikelompokkan secara acak menjadi 2 kelompok terdiri dari kelompok control normal menerima pakan normal dan kelompok control positif menerima pakan tinggi lemak dan air minum fruktosa 25% selama 28 hari. Pengukuran pulse wave velocity (PWV), denyut jantung, dan kadar trigliserida serum dilakukan pada hari ke 28. Hasil menunjukkan, kelompok kontrol positif mengalami kenaikan kadar trigliserida serum yang disertai dengan meningkatnya nilai PWV dan denyut jantung yang menunjukkan terjadinya kekakuan arteri yang berbeda bermakna secara statistik terhadap kelompok kontrol normal (p<0.05). Hasil dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara kadar trigliserida dengan kekakuan arteri. Semakin tinggi kadar trigliserida meningkatkan kekakuan arteri sehingga resiko kardiovaskular semakin meningkat. Kata kunci : trigliserida, kekakuan arteri, denyut jantung, kardiovaskular   ABSTRACT Epidemiological studies report that triglycerides are an independent risk factor for cardiovascular disease even though the target level of low density lipoprotein (LDL) has been achieved with statin drugs. It is suspected that there is a relationship between triglyceride levels and arterial elasticity. Arterial stiffness has been recognized as being closely related to cardiovascular disease. This study aims to determine the effect of hypertriglyceridemia on arterial stiffness in animal models of Wistar rats induced by a high-fat diet and 25% fructose in drinking water. A total of 10 rats were randomly divided into 2 groups consisting of a normal control group receiving normal feed and a positive control group receiving a high-fat diet and 25% fructose in drinking water for 28 days. Measurements of pulse wave velocity (PWV), heart rate, and serum triglyceride levels were carried out on day 28. The positive control group experienced an increase in serum triglyceride levels accompanied by an increase in PWV and heart rate that was statistically significantly different (p <0.05) compared to the group normal. The results concluded that there was a positive relationship between triglyceride levels and arterial stiffness. Higher triglyceride levels increase arterial stiffness. it increases the risk of cardiovascular disease. Keywords : triglyceride, arterial stiffness, heart rate, cardiovascula
SENYAWA BIOAKTIF KROMEN PADA GENUS PEPEROMIA
Senyawa kromen memiliki aktivitas farmakologi yang beragam. Senyawa kromen ditemukan diberbagai genus tanaman. Peperomia merupakan genus terbesar kedua dalam keluarga Piperaceae. Berbagai aktivitas farmakologis Peperomia telah diketahui seperti antidiabetes, antibakteri, antijamur, dan analgesik. Peperomia mengandung metabolit sekunder salah satunya adalah senyawa kromen. Hasil penelusuran pustaka diketahui beberapa spesies Peperomia yang memiliki senyawa kromen antara lain Peperomia pellucida, Peperomia dindygulensis Miq, Peperomia sui, Peperomia villipetiola, Peperomia serpens dan Peperomia oreophila Hensch. Beberapa isolat kromen pada spesies Peperomia telah diuji aktivitas farmakologi antara lain antijamur, antidiabetes dan antiangiogenik
Kajian penggunaan obat misoprostol sebagai off-label pada pelaksanaan persalinan di Klinik Utama Al-Islam Bandung
Abstrak Misoprostol sebagai off-label sering digunakan dalam tindakan persalinan baik untuk induksi persalinan maupun untuk pencegahan perdarahan pasca persalinan. Perdarahan pasca persalinan merupakan peyebab terbanyak pada kasus kematian akibat persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketepatan penggunaan obat misoprostol sebagai off-label berdasarkan kriteria penggunaan medis dan ketepatan dosis yang diberikan kepada pasien. Penelitian ini merupakan penelitian observasional data rekam medis pasien yang dilakukan secara retrospektif di Klinik Utama Al-Islam Bandung. Penelitian dilakukan terhadap 87 data rekam medik pasien selama periode bulan Januari-Desember 2016. Hasil menunjukkan bahwa 100% penggunaan misoprostol sebagai off-label sesuai dengan kriteria penggunaan medis dan tepat dosis. Terdapat 64% dari total pasien yang diberikan misoprostol dengan total dosis sebesar 800 μg. Kata kunci: Misoprostol, Off-Label, Persalinan  Abstract As off-label misoprostol is the most used in labor either for labor induction or for prevention of postpartum hemorrhage. Postnatal bleeding is the most common cause of death due to childbirth. The purpose of this research is to identify the accuracy of misoprostol used as off-label based on the criteria of medication and the dose accuration for the patient. An observational retrospective research on medical record data of patients at Al-Islam Main Clinic Bandung. During 2016 had 87 patient's data from January to December was obtained. The results showed that 100% of misoprostol is used as off-label following the criteria of medication and dose accuration. Therefore 64% of total patients had given misoprostol for 800 μg each. Keywords: Labor, Misoprostol, Off-Labe
Pengaruh Fermentasi Umbi Suweg (Amorphophallus campanulatus) Terhadap Kadar Makronutrien Dan Nilai Indeks Glikemik Mencit
Bahan pangan berindeks glikemik rendah makin diminati masyarakat. Salah satu karbohidrat sebagai bahan pangan adalah umbi suweg. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh fermentasi bakteri asam laktat pada kadar makronutrien (protein, lemak, karbohidrat) dan indeks glikemik tepung umbi suweg (Amorphophallus campanulatus). Umbi suweg diiris tipis, difermentasi dengan 10% isolat bakteri asam laktat T1-2,isolat bakteri dari penelitian sebelumnya, kemudian diinkubasi pada suhu ruangan selama 4 hari. Hasil fermentasi kemudian dibuat tepung. Tepung suweg terfermentasi diuji untuk menentukan indeks glikemik menggunakan mencit percobaan. Kadar makronutrien karbohidrat, lemak dan protein ditentukan secara kimia.Hasil pengujian menunjukkan selama proses fermentasi BAL 0-4 hari terjadi peningkatan viabilitas BAL dari hari ke-0 sampai hari ke-2 (3,64x108- 20,38x108 sel/ml) dan mengalami penurunan setelah hari ke-2 (14,63x108-7,91x108 sel/ml), jumlah total asam semakin meningkat (0,2066%-1,2599%) seiring dengan pH yang menurun (5,43-4,37). Hasil penetapan kadar protein tepung suweg terfermentasi BAL 7,41% dan tanpa fermentasi BAL 6,05%. Kadar lemak tepung suweg terfermentasi BAL 0,46% dan tanpa fermentasi BAL 0,38%. Kadar karbohidrat tepung suweg terfermentasi BAL 81,7% dan tanpa fermentasi BAL 82,15%. Nilai indeks glikemik tepung suweg terfermentasi BAL 64,6 dan tanpa fermentasi BAL 69,4. Berdasarkan uji statistik, kadar makronutrien (lemak, karbohidrat, protein) dan indeks glikemik menunjukkan tidak beda nyata (P>0,05).Fermentasi BAL 10% pada tepung suweg selama 4 hari dengan tidak berpengaruh pada nilai indeks glikemik dan kadar makronutrien karbohidrat, lemak dan protein. Kata kunci: Fermentasi, Bakteri Asam Laktat, umbi suweg, makronutrien, indeks glikemik
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIKANKER EKSTRAK BATANG MURBEI (MORUS ALBA L.) TERHADAP SEL KANKER WIDR SECARA IN VITRO
Abstrak Murbei merupakan salah satu obat yang penting didalam pengobatan tradisional Cina. Murbei mengandung berbagai macam senyawa diantaranya fenol dan flavanoid yang umunya berfungsi sebagai antioksidan alami dan juga memiliki fungsi antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fenolik, aktivitas antioksidan dan antikanker ekstrak batang murbei (Morus alba L.). Pembuatan ekstrak dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol. Penetapan kadar fenolik menggunakan reagen Folin-Ciocalteu, pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode ABTS dan pengujian aktivitas antikanker menggunakan metode MTT terhadap sel kanker WIDR dan sel vero. Hasil pengujian menunjukkan kadar total fenolik ekstrak batang murbei sebesar 35,9%. Nilai aktivitas antioksidan ekstrak batang murbei adalah  83,18 µg/mL. Aktivitas antikanker pada sel WIDR menunjukkan nilai IC50 71,24 µg/ml dan pada sel vero memiliki nilai IC50 154,241 µg/ml. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol batang murbei (Morus alba L.) memilki aktivitas antioksidan yang kuat dan berpotensi sebagai antikanker alami yang bekerja selektif terhadap sel kanker. Kata kunci : Murbei (Morus alba L.), batang, IC50, antioksidan, antikanker Antioxydant and anticancer effect of murberry (Morus alba L.) stem extract in vitro Abstract Mulberry is one of the important medicines in traditional Chinese medicine. Mulberry contains a variety of compounds including phenols and flavonoids which generally function as natural antioxidants and also have anticancer functions. This study aims to determine phenolic levels, antioxidant activity and anticancer of mulberry stem extract (Morus alba L.). Extracts were made by maceration using ethanol as a solvent. Determination of phenolic levels using the Folin-Ciocalteu reagent, testing of antioxidant activity using the ABTS method and testing of anticancer activity using the MTT method against WIDR cancer cells and vero cells. The test results showed total phenolic levels of mulberry stem extract amounted to 35.9%. The antioxidant activity value of mulberry stem extract was 83.18 µg / mL. Anticancer activity in WIDR cells showed IC50 values 71.24 µg / ml and vero cells had IC50 values 154.224 µg / ml. It can be concluded that the ethanol extract of mulberry stem (Morus alba L.) has a strong antioxidant activity and has the potential as a natural anticancer that works selectively against cancer cells. Keywords: Mulberry (Morus alba L.), stem extract, IC50, antioxidant, anticance
Potensi buah okra (Abelmoschus esculentus (L.) Moench) sebagai inhibitor alfa-glukosidase
Buah okra (Abelmoschus esculentus (L.) Moench) termasuk dalam suku Malvaceae, kini menjadi primadona dalam pengobatan tradisional khususnya untuk menangani diabetes mellitus tipe 2. Masyarakat menggunakan air rendaman buah okra untuk diminum sebagai obat tradisional. Buah okra berasal dari Afrika, dan kini tersebar luas di seluruh dunia. Penderita diabetes mellitus harus mengkonsumsi obat antidiabetes sepanjang hidupnya, dan sering menimbulkan beberapa efek samping, diantaranya kembung, mual, dan diare. Pencarian obat yang berasal dari alam masih terus dilakukan dengan tujuan dapat memperbaiki kualitas hidup penderita, mengurangi efek samping dan menjaga kadar gula darah dalam kondisi normal. Buah okra diekstraksi dengan dua metode, yaitu secara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan dilakukan perendaman dalam air suling selama 4 jam. Pengujian aktivitas inhibitor alfa-glukosidase dilakukan secara in vitro menggunakan metode kolorimetri pada panjang gelombang 400,5 nm, akarbose digunakan sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak air dan ekstrak etanol buah okra mampu menghambat aktivitas enzim α-glukosidase dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 32,607 mg/ml, dan 57,502 mg/ml. Nilai IC50 zat aktif Akarbose adalah 10,95 mg/ml. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak air dan ekstrak etanol buah okra berpotensi dikembangkan sebagai obat herbal penurun kadar gula darah
Formulasi Sediaan Mikroemulsi Gel Anti Jerawat Mengandung Kombinasi Minyak Jinten Hitam (Nigella sativa L.) dan Minyak Zaitun (Olea europaea L.)
Abstrak Jerawat adalah penyakit kulit yang paling sering terjadi dan timbul akibat penyumbatan atau inflamasi pada kelenjar pilosebasea. Propionibacterium acnes diketahui merupakan bakteri utama pemicu terjadinya inflamasi pada jerawat. Minyak jinten hitam dan minyak zaitun diketahui memiliki aktivitas antibakteri sehingga dapat dikembangkan untuk pengobatan jerawat karena infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri kombinasi minyak jinten hitam dan minyak zaitun terhadap P. acnes dan memformulasikannya ke dalam bentuk sediaan mikroemulsi gel. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar pada konsentrasi kombinasi minyak 0,25; 0,5; dan 1%. Formulasi sediaan mikroemulsi gel dilakukan dengan menggunakan cremophor RH 40 sebagai surfaktan, gliserin sebagai kosurfaktan, dan viscolam mac 10 sebagai gelling agent. Karakterisasi sediaan meliputi pengujian organoleptis, pH, viskositas, sifat alir, ukuran globul, dan stabilitas termodinamik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi minyak 0,5% sudah memberikan aktivitas antibakteri terhadap P. acnes dengan diameter hambat 12,47±1,07mm. Formula optimum mikroemulsi gel adalah formula yang mengandung minyak (6%), cremophor RH 40 (35%), gliserin (35%), dan gel viskolam 20%. Sediaan mikroemulsi gel memiliki rata rata ukuran globul 120 nm yang memenuhi persyaratan ukuran globul mikroemulsi. Sediaan mikroemulsi gel stabil berdasarkan hasil uji stabilitas termodinamik dengan tidak terlihat adanya pemisahan fase. Kata kunci :  Minyak jinten hitam, Minyak zaitun, P. acnes, Mikroemulsi gel Formulation of anti acne microemulsion gel containing combination of black seed oil (Nigella sativa L.)  and olive oil (Olea europaea L.)  Abstract Acne vulgaris is the most common skin disease involving blockage and/or inflammation of pilosebaceous unit. Propionibacterium acnes has been recognized as pus-forming bacteria triggering an inflammation in acne. Black seed and olive oil are herbal medicines that known have antibacterial activity, that could be develop for acne treatment. This research was conducted to determine antibacterial activity of black seed and olive oil combination against P. acnes and develop the microemulsion gel preparation containing of the oil. Antibacterial activity test was conducted by agar diffusion method at concentration at 0,25; 0,5; and 1% of oil combination. Microemulsion gel was made using cremophor RH 40 as surfactant, glycerine as cosurfactant, and viscolam mac 10 as gelling agent. Microemulsion gel was evaluated by organoleptic, pH, rheologycal properties, spreadability, droplet size, and  thermodinamic stabilitiy test. The result showed that concentration 0,5% of oil combination has antibacterial activity towards P. acnes with inhibitory diameter 12,47 ± 1,069 mm. Optimum formula microemulsion gel with the finest characteristic, containing the oil combination (6%), cremophor RH 40 (35%), gliserin (35%), and  viscolam gel  20%. The average of droplet size microemulsion gel is 120 nm and those size are qualify with the droplet size of microemulsion. The microemulsion gel was stabile based on thermodinamic stability tests without phase separation. Keywords:      black seed oil, olive oil, P. acnes, microemulsion ge
Pengaruh Gel Ekstrak Daun Kerehau (Callicarpa longifolia Lam.) Terhadap Penyembuhan Luka Pada Model Tikus Diabetes
Abstrak Luka diabetes adalah infeksi, luka dan destruksi pada penderita diabetes melitus. Daun kerehau secara empiris digunakan oleh suku Dayak Tunjung sebagai obat luka dan bengkak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gel ekstrak daun kerehau terhadap penyembuhan luka pada model tikus diabetes. Induksi diabetes dilakukan menggunakan aloksan dosis 75 mg/kg BB intravena. Model hewan diabetes dibuat luka dengan kedalaman 0,3 cm menggunakan scalpel steril pada bagian punggung. Hewan uji dibagi menjadi lima kelompok dan mendapatkan sediaan basis gel, Prontosan® gel, sediaan gel ekstrak daun kerehau konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10%. Pengolesan gel dilakukan dua kali sehari selama 13 hari. Parameter penyembuhan luka dilakukan dengan mengukur panjang luka dan dinyatakan dengan persentase penyembuhan luka. Hasil pengujian menunjukkan bahwa dengan pemberian gel ekstrak daun kerehau dapat mempercepat penyembuhan luka pada model tikus diabetes dimana sediaan gel ekstrak daun kerehau konsentrasi 2,5% memberikan kesembuhan pada hari ke-13, sediaan gel konsentrasi 5% pada hari ke-12, dan sediaan gel konsentrasi 10% pada hari ke-9. Hasil juga menunjukkan rata-rata persentase penyembuhan luka pada kelompok konsentrasi 10% lebih tinggi dibandingkan konsentrasi 2,5% dan 5%. Dapat disimpulkan bahwa pemberian gel ekstrak daun kerehau dapat menyembuhkan luka pada model tikus diabetes. Kata kunci:   Luka diabetes, daun kerehau, penyembuhan luka Effect of Kerehau Leaves Extract Gel to Wound Healing Process  in Diabet Rats Model Abstract Diabetic wounds are infection, injury and destruction in people with diabetes mellitus. Kauhau leaves are empirically used by the Tunjung Dayak tribe as a medicine for wounds and swelling. The aim of this study was to determine the effect of Kerehau leaf extract gel on wound healing in diabetic mouse models. Induction of diabetes is done using alloxan dose of 75 mg / kg BW intravenously. The diabetic animal model was made with a 0.3 cm depth wound using a sterile scalpel on the back. The test animals were divided into five groups and obtained base gel preparations, Prontosan® gel, preparations of Kerehau leaf extract gel concentrations of 2.5%, 5%, and 10%. Gel application is done twice a day for 13 days. Wound healing parameters were performed by measuring the length of the wound and expressed by the percentage of wound healing. The test results showed that administration of Kerehau leaf extract gel could accelerate wound healing in diabetic mouse models where the preparations of Kerehau leaf extract gel with a concentration of 2.5% gave healing on the 13th day, preparations for 5% gel on 12th day, and preparations gel concentration of 10% on day 9. The results also showed that the average percentage of wound healing in the concentration group was 10% higher than the concentration of 2.5% and 5%. It can be concluded that administration of Kerehau leaf extract gel can heal wounds in diabetic mouse models. Keywords: Diabetic ulcer, kerehau leaf, wound healin
Aktivitas ektrak etanol Lansau, ramuan tradisional suku etnis Muna, terhadap perbaikan fungsi ginjal
Abstrak Lansau adalah ramuan tradisional masyarakat Suku Muna Sulawesi Tenggara yang terdiri dari 44 jenis tanaman yang dipercaya oleh masyarakat setempat berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit. Lansau telah digunakan selama ratusan tahun secara turun temurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol ramuan lansau terhadap histopatologi organ ginjal pada model hewan yang mengalami kerusakan fungsi ginjal dengan induksi kombinasi injeksi gentamisin 3,6 mg/kgbb dan suspensi oral piroksikam 100 mg/kgbb. Hewan uji tikus dikelompokkan menjadi 6 kelompok, yaitu normal, kontrol negatif, kontrol positif, ekstrak etanol lansau dosis 6,90; 13,81 dan 27,62 mg/kg bb. Pemberian bahan uji dilakukan secara oral setiap hari selama 4 minggu. Pada minggu kelima hewan dikorbankan, dilakukan pembedahan dan diamati histopatologi organ ginjal meliputi tubulus normal, degenerasi sel tubulus, nekrosis sel tubulus, penyempitan lumen tubulus, adhesi dan atrofi glomerulus. Hasil pengamatan menunjukkan ektrak etanol lansau dosis 6,90; 13,81 dan 27,62 mg/kgbb memiliki kemampuan dalam menghambat kerusakan fungsi ginjal. Berdasarkan histopatologi organ ginjal pemberian ekstrak etanol lansau dosis 13,81 mg/kgbb lebih efektif dalam menghambat kerusakan organ ginjal dengan tidak ditemukannya sel yang mengalami degenerasi dan nekrosis. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ektrak etanol lansau mempunyak aktivitas untuk perbaikan fungsi ginjal. Kata kunci: Lansau, suku Muna, histopatologi, perbaikan fungsi ginjal.  The ethanol extract activity of Lansau, a traditional Muna ethnic concoction, on improving kidney function AbstractLansau is a traditional concoction of the Southeast Sulawesi Muna Tribe community which consists of 44 types of plants that are believed by local people to be efficacious for treating various diseases. Lansau has been used for hundreds of generations. The aim of this study was to determine the activity of ethanol extract of elderly herbs against the histopathology of kidney organs in animal models that have impaired kidney function by induction of a combination of gentamicin injection of 3.6 mg / kgbb and oral suspension of piroxicam 100 mg / kgbb. Rat test animals were grouped into 6 groups, namely normal, negative control, positive control, ethanol extract, or 6.90; 13.81 and 27.62 mg / kg bw. Provision of test material is carried out orally every day for 4 weeks. In the fifth week the animals were sacrificed, performed surgery and observed histopathology of kidney organs including normal tubules, tubular cell degeneration, tubular cell necrosis, tubular lumen constriction, adhesion and glomerular atrophy. The observation results showed an ethanol extract of a dose of 6.90; 13.81 and 27.62 mg / kg have the ability to inhibit damage to kidney function. Based on histopathology of kidney organs, the administration of ethanol extract at a dose of 13.81 mg / kg is more effective in inhibiting kidney organ damage with the absence of degenerated and necrotic cells. The conclusion of this study is the ethanol extract of the elderly has activity to improve kidney function.  Keywords: Lansau, Muna ethnic, histopathology, improvement of kidney function
Profil fitokimia selada laut (Ulva lactuca) dan mikro alga filamen (Spirogyra sp) sebagai bahan alam bahari potensial dari perairan Indonesia
AbstrakPerairan Indonesia merupakan habitat bagi berbagai spesies makro dan mikro alga. Selada laut (Ulva lactuca) adalah salah satu makroalga hijau yang secara empiris digunakan sebagai makanan oleh masyarakat Indonesia yang hidup dipesisir pantai. Pada perairan tawar, ganggang hijau (Spirogyra porticalis) merupakan mikroalga filamen yang berperan penting sebagai bioindikator dalam sistem akuatik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil fitokimia dari selada laut dan ganggang hijau yang tumbuh di perairan Indonesia. Hasil pengujian kualitatif pada selada laut (Ulva lactuca)  menunjukkan kandungan metabolit primer  dan sekunder berturut-turut adalah karbohidrat, alkaloid, flavonoid, mono dan seskuiterpenoid. Sementara itu ganggang hijau (Spirogyra porticalis) mengandung karbohidrat, protein, alkaloid, flavonoid, fenolik, tannin, kuinon, mono dan seskuiterpenoid. Pola kromatogram selada laut (Ulva lactuca) dan ganggang hijau (Spirogyra porticalis) mendeteksi aktivitas antioksidan yang dimiliki oleh senyawa- metabolit sekunder seperti fenol, tannin, flavonoid, mono dan seskuiterpenoid yang memiliki variasi kepolaran dari semi hingga polar. Hasil uji pendahuluan aktivitas antioksidan menggunakan metode dinamolisis menunjukkan selada laut (Ulva lactuca) dan  ganggang hijau (Spirogyra porticalis) memiliki aktivitas antioksidan dan berpotensi dikembangkan sebagai obat, suplemen, eksipien farmasi dan makanan nutrisi. Kata kunci: selada laut (Ulva lactuca), ganggang hijau (Spyrogyra porticalis), antioksidan, bahari, Indonesia. AbstractIndonesian waters are habitat for various macro and micro algae species. Sea lettuce Ulva lactuca is one of the green macroalgae that is empirically used as food by Indonesian people. In freshwater, green algae Spirogyra porticalis is filament microalgae that play an important role as bioindicators in the aquatic system. The aim of this research was to profiling the chemical constituent from native Indonesian sources, Ulva lactuca  and Spirogyra porticalis. The results of  Ulva lactuca  qualitative analysis showed the content of primary and secondary metabolites are carbohydrates, alkaloids, flavonoids, mono, and sesquiterpenoids, respectively. On the other hand, green algae Spirogyra porticalis carbohydrates, proteins, alkaloids, flavonoids, phenolics, tannins, quinones, mono, and sesquiterpenoids, respectively. The chromatogram pattern of sea lettuce Ulva lactuca and  Spirogyra porticalis showed the antioxidant activity caused by secondary metabolites such as phenol, tannin, flavonoids, mono and sesquiterpenoids which were various polarity. Preliminary test results of antioxidant activity with the dinamolysis method showed sea lettuce Ulva lactuca  and and green algae Spirogyra porticalis have antioxidant activity. It potentially developed as drugs, supplements, pharmaceutical excipients and nutritional foods. Keywords: sea lettuce Ulva lactuca, green microalgae Spyrogyra porticalis, antioxidant, marine, Indonesia