Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
Not a member yet
    125 research outputs found

    REVIEW: POTENSI BOREH USADA BALI BERBASIS KEARIFAN LOKAL DENGAN BAHAN UTAMA MELATI PUTIH SEBAGAI ANTIBAKTERI PROPIONIBACTERIUM ACNES

    Full text link
    Boreh Usada Bali merupakan sarana pengobatan masyarakat Hindu Bali terbuat dari kombinasi tumbuh-tumbuhan yang memiliki khasiat obat. Berdasarkan Usada Taru Pramana tanaman melati putih (Jasminum sambac) memiliki potensi untuk mengurangi jerawat. Boreh Usada Bali dibuat dengan bahan utama khasiat daun melati putih dikombinasikan dengan bahan pendukung khasiat seperti beras, kulit batang kayu manis, kayu cendana, rimpang lempuyang, rimpang kunyit, buah pala, dan garam. Review dilakukan terhadap sediaan boreh dengan komposisi bahan melati putih dan bahan alam lainnya sebagai pendukung khasiat antibakteri terhadap Propionibacterium acnes. Penyusunan artikel ini menggunakan metode studi literatur yang tergolong dalam penelitian deskriptif kualitatif secara sistematis. Potensi boreh Usada Bali melati putih didukung oleh beberapa penelitian tentang antibakteri dari komponen di dalam boreh. Hal ini karena, melati putih dilaporkan memiliki senyawa tanin dan flavonoid dan untuk bahan pendukung khasiat boreh lainnya mengandung senyawa aktif utama seperti kulit batang kayu manis (sinamaldehid dan eugenol), kayu cendana (alfa-santalol, beta-santalol, dan epi-beta-santalen), lempuyang (zerumbon), kunyit (kurkuminoid), dan pala (monoterpen) dengan mekanisme masing-masing yang berperan sebagai antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Sediaan boreh dengan bahan utama khasiat melati putih dan bahan pendukung khasiat boreh (kulit batang kayu manis, kayu cendana, rimpang lempuyang, rimpang kunyit, buah pala) berpotensi sebagai antibakteri terhadap Propionibacterium acnes.   Kata kunci: Antibakteri, boreh, jasminum sambac, propionibacterium acnes, usada bali.   Abstract Boreh Usada Bali is a Balinese Hindu community healing tool made from a combination of plants that have medical efficacy. White jasmine (Jasminum sambac), is a plant in Usada Taru Pramana, that potentially reduces acne. Boreh Usada Bali is made by leaf white jasmine’s efficacy combined with supporting ingredients such as rice, cinnamon, sandalwood, bitter ginger, turmeric, nutmeg, and salt. Review boreh preparations with a composition of white jasmine’s and other natural ingredients as supporting antibacterial properties against Propionibacterium acnes. Review article was conducted with a literature review method which is classified as a systematic qualitative descriptive study. Potentially of boreh Usada Bali white jasmine’s is supported by several studies on the antibacterial properties of the components in boreh. This is because, white jasmine is reported to have tannins and flavonoids compounds and supporting efficacy ingredients boreh contain active compounds with cinnamon (cinnamaldehyde and eugenol), sandalwood (alpha-santalol, beta-santalol, and epi-beta-santalen), bitter ginger (zerumbon), turmeric (curcuminoid), and nutmeg (monoterpen) with their respective mechanisms which act as antibacterial agents against bacteria Propionibacterium acnes. Boreh with the main ingredient of white jasmine and combined with supporting ingredients (cinnamon, sandalwood, bitter ginger, turmeric, nutmeg) potentially to antibacterial activity of Propionibacterium acnes.   Keywords: Antibacterial, boreh, jasminum sambac, propionibacterium acnes, usada bali

    PENAMBATAN MOLEKUL SENYAWA AKTIF CURCUMA XANTHORRHIZA ROXB KANDIDAT ANTI KANKER KOLOREKTAL TERHADAP RESEPTOR LYMPHOCYTE-SPECIFIC PROTEIN TYROSINE KINASE

    Full text link
    Background: Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) contains essential oils and curcuminoid compounds which have anti-cancer activity. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) can increase colorectal cancer chemotherapy agents against Lck receptors on colon epithelial cells. Purpose(s): The aim of this research is to identify active compounds that have the potential to act as colorectal anticancer contained in Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) against Lck receptors through in silico studies using molecular docking methods. Methods: This study was carried out of molecular docking using software AutoDock Tools-1.5.6., Lipinski predictions with LigandScout, and visualitation using Biovia Discovery Studio 2021 Client. Results: Xanthorrizol has hydrogen bonds with the same amino acid residues as native ligand and reference compound, namely GLU317 and MET319. The results of the molecular binding energy of the native ligand are -10.12 kcal/mol. Conclusion: Based on research results, the xanthorrizol compound has the best potential to be a colorectal anticancer candidate and qualified of Lipinski's rules so it is safe to be administered orally.  Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) mengandung minyak atsiri dan senyawa kurkuminoid yang bersifat antikanker. Metabolit pada temulawak dapat menjadi kandidat agen kemoterapi kanker kolorektal terhadap reseptor Lck pada sel epitel kolon. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi senyawa aktif yang berpotensi sebagai antikanker kolorektal yang terkandung dalam Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) terhadap reseptor Lck melalui studi in silico metode penambatan molekuler. Studi ini dilakukan dengan cara prediksi Lipinski dengan LigandScout, Molecular docking melalui perangkat lunak AutoDock Tools 1.5.6., visualisasi menggunakan Biovia Discovery Studio 2021 Client, prediksi sifat ADMET menggunakan pkCSM. Hasil studi menunjukkan keempat senyawa memenuhi Lipinski's rule of five, hasil pengujian molecular docking dan visualisasi interaksi menunjukkan xanthorrhizol memiliki interaksi terbaik dengan energi -6,26 kkal/mol dan Ki 25,71 µM, terdapat dua ikatan hidrogen pada interaksi xanthorrhizol dengan reseptor Lck dan interaksi ini sama dengan ligan alami dan obat pembanding doxorubicin. Senyawa lainnya seperti curcumin dan bisdemethoxycurcumin pada memiliki potensi yang baik namun hanya memiliki satu kesamaan interaksi dengan ligan alami. Studi ADMET menunjukkan xanthorrhizol memiliki karakter absorpsi dan distribusi yang baik, metabolisme yang rendah, tidak mutagenik dan tidak karsinogenik pada mencit. Berdasarkan hasil penelitian, senyawa xanthorrhizol memiliki potensi yang paling baik, namun belum melampaui ligan alami untuk menjadi kandidat antikanker kolorektal dan memenuhi aturan Lipinski sehingga aman untuk diadministrasikan secara oral. Modifikasi struktur kimia diperlukan agar memiliki potensi yang lebih baik dibandingkan ligan alami. Kata kunci:  Curcuma xanthorrhiza Roxb, kanker kolorektal, Lck, in silico, penambatan molekuler   Abstract Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) contains essential oils and curcuminoid compounds that have anticancer properties. Metabolites in temulawak can be candidates for colorectal cancer chemotherapy agents against Lck receptors in colonic epithelial cells. The purpose of this study was to identify active compounds that have the potential to be colorectal anticancer agents contained in Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) against Lck receptors through in silico studies of molecular docking methods. Methods: This study was conducted using the Lipinski prediction method with LigandScout, Molecular docking using AutoDock Tools 1.5.6 software., visualization using Biovia Discovery Studio 2021 Client, prediction of ADMET properties using pkCSM. The results of the study showed that the four compounds met Lipinski's rule of five, the results of molecular docking and visualization of interactions showed that xanthorrhizol had the best interaction with an energy of -6.26 kcal/mol and Ki 25.71 µM, there were two hydrogen bonds in the interaction of xanthorrhizol with the Lck receptor and this interaction was the same as the natural ligand and the reference drug doxorubicin. Other compounds such as curcumin and bisdemethoxycurcumin had good potential but only had one similarity in interaction with the natural ligand. The ADMET study showed that xanthorrhizol had good absorption and distribution characteristics, low metabolism, was non-mutagenic and non-carcinogenic in mice. Based on the results of the study, the xanthorrhizol compound had the best potential, but had not surpassed the natural ligand to become a candidate for colorectal anticancer and met Lipinski's rule so that it was safe to be administered orally. Modification of the chemical structure is needed to have better potential than the natural ligand. Keywords: Curcuma xanthorrhiza Roxb, colorectal cancer, Lck, in silico, molecular dockin

    PENGGUNAAN OBAT KARDIOVASKULAR PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER DI RUANG RAWAT INAP SALAH SATU RUMAH SAKIT DI KOTA CIMAHI

    Full text link
    Telah dilakukan penelitian pola penggunaan obat kardiovaskular pada pasien penyakit jantung koroner (PJK) di ruang rawat inap salah satu rumah sakit di Kota Cimahi dengan menggunakan desain penelitian analisis deskriptif, yang dilakukan secara retrospektif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui obat-obatan yang digunakan pada pasien jantung koroner di rumah sakit tersebut. Sumber data penelitian adalah rekam medik pasien ruang rawat inap periode Oktober – Desember 2017. Hasil menunjukkan pasien kasus PJK sebanyak 42,04% berusia >60 tahun. Obat-obat dengan frekuensi penggunaan yang tinggi pasien PJK yaitu antithrombosis (ticagrelor 75,16%, fondaparinux 64,97%, dan asam asetil salisilat 29,30%), obat manajemen lipid (atorvastatin 70,06%), beta blocker (bisoprolol 70,70%), ditambah obat golongan diuretik (furosemid 72,61%) yang diberikan untuk penyakit penyerta. Studi ini menunjukkan bahwa penggunaan obat-obatan pada pasien sesuai dengan tatalaksana terapi PJK dari PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) Tahun 2018. Kata kunci:  Obat kardiovaskular, pjk, retrospektif.   Abstract The research about uses pattern of cardiovascular drugs for coronary artery disease patients at in-patient department one hospital in Cimahi City was done retrospectively use descriptive analysis design. The aim of this study was to determine the drugs used in coronary artery disease. Data source was medical record of patient who treated at in-patient department period October – December 2017. Result show that 42,04% CAD patients were over 60 years old. The most common drugs that administered to CAD patients were antithrombosis (ticagrelor 75,16%, fondaparinux 64,97%, and acetyl salicylic acid 29,30%), lipid management (atorvastatin 70,06%), beta blocker (bisoprolol 70,70%), and also diuretics (furosemid 72,61%) for co-morbidities. This study shows that the patient's medication use is in accordance with the CHD therapy management from PERKI (Indonesian Heart Association) in 2018. Keywords: Cardiovascular drugs, chd, retrospective

    MASKER WAJAH DENGAN BAHAN AKTIF EKSTRAK CEMPAKA KUNING

    Full text link
    Sediaan kosmetika masker wajah yang mengandung bahan alami saat ini telah banyak beredar dipasaran, namun belum ada sediaan masker wajah dengan bahan aktif ekstrak bunga cempaka kuning. Adanya aktivitas antioksidan bunga cempaka kuning telah dilaporkan dari ekstrak dengan nilai IC50 5,12 µg/mL dan dari masker gel peel off yang mengandung ektrak bunga dengan nilai persen peredaman sebesar 51,75% mengandung 2 x IC50 (F2)  dan 54,5% mengandung 3 x IC50 (F3). Namun sediaan masker gel tersebut belum diketahui keamanan dan kestabilan fisik sediaannya. Studi literatur ini bertujuan untuk melihat dan mengetahui potensi ekstrak cempaka kuning dalam pengembangan pada sediaan masker wajah dan beberapa pengujian kualitas dan kestabilan sediaan masker wajah. Metode dalam kajian literatur ini adalah pencarian artikel jurnal dan buku yang bersumber dari database PubMed, Sciencedirect dan Google Scholar. Hasil penelusuran pustaka diperoleh 99 artikel dipilih untuk skrining awal. Berdasarkan kajian literatur dapat disimpulkan bahwa ekstrak cempaka dapat memungkinkan untuk dikembangkan menjadi bentuk sediaan masker wajah, baik masker peel off atau sediaan masker lainnya. Kata kunci: Antioksidan, ekstrak bunga cempaka kuning, masker wajah Abstract Face mask as cosmetic preparations containing natural ingredients are currently widely distributed in the market, but there is no face mask preparation with the active ingredient yellow champaka flower extract. Antioxidant activity of yellow champaka flower has been reported from extract with an IC50 value of 5.12 µg/mL and from a peel off gel mask containing this extract with a percent inhibition of 51.75% containing 2xIC50 (F2) and 54.5% containing 3xIC50 (F3). However, this gel mask preparation is not yet known for its safety and physical stability. This literature study aims to know the potential of yellow champaka extract in the development of facial mask preparations and its several quality and stability tests. The method in this literature review is the search for journal articles and books sourced from the PubMed, Sciencedirect and Google Scholar databases. The results of the literature search obtained 99 articles selected for initial screening. Based on the literature review, it can be concluded that champaka extract can allow it to be developed into a face mask dosage form, either a peel off mask or other mask preparations. Keywords: Antioxidant, yellow champaka flower extract, face mas

    KARAKTERISASI MASSA CETAK DAN TABLET VITAMIN C DENGAN KOMBINASI PATI PREGELATINASI UMBI TALAS PRATAMA DAN AVICEL PH 102 SEBAGAI FILLER-BINDER

    Full text link
    Making vitamin C tablets using felt directly because this material is very sensitive to heat.. However, direct felting is difficult to do due to the poor flow of vitamin C, so it is necessary to add excipients such as starch and Avicel PH 102. This study aims to evaluate vitamin C tablets with a combination of pregelatinized starch of primary taro tubers and Avicel PH 102 as a filler-binder. The study was conducted in a laboratory experiment with five different formulas: F1 (1:0), F2 (0:1), F3 (1:1), F4 (1:3), and F5 (3:1). Flow rate results F2, F3, F4, and F5 are eligible, while F1 is not. All formulas meet the requirements of break angle, uniformity of weight, size, and crushing time. F2 meets the requirements of compressibility and hausner ratio, as well as hardness and brittleness. The results of the F1, F2, F4, and F5 solutions are eligible, while F3 is not. The conclusion of this study is that Avicel PH 102 is better at increasing the flow rate, compressibility, and hausner ratio than the pregelatinized starch of primary taro tubers. The five, requirements are met by this formula, including uniformity in weight, size and disintegration time. The use of Avicel PH 102 results in high hardness and low brittleness, while pregelatinized starch results in low hardness and high brittleness. F1, F2, F4, and F5 qualify for resolution, while F3 does notTablet vitamin C dibuat secara kempa langsung karena sensitif terhadap panas, tetapi sulit dilakukan karena sifat alir yang kurang baik, sehingga perlu penambahan eksipien untuk meningkatkan sifat alirnya seperti pati dan Avicel PH 102. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik massa cetak dan tablet vitamin C yang diformulasikan dengan kombinasi pati pregelatinisasi umbi talas pratama dan Avicel PH 102 sebagai filler-binder. Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratorium menggunakan lima formula berbeda dengan perbandingan pati pregelatinasi dan Avicel PH 102 berturut-turut: F1 (1:0), F2 (0:1), F3 (1:1), F4 (1:3), dan F5 (3:1). Hasil laju alir F2, F3, F4, dan F5 memenuhi syarat, sedangkan F1 tidak. Semua formula memenuhi syarat sudut istirahat, keseragaman bobot, ukuran, dan waktu hancur. F2 memenuhi syarat kompresibilitas dan hausner ratio, serta kekerasan dan kerapuhan. Hasil disolusi F1, F2, F4, dan F5 memenuhi syarat, sementara F3 tidak. Kesimpulan penelitian ini adalah Avicel PH 102 lebih baik dalam meningkatkan laju alir, kompresibilitas, dan hausner ratio dibandingkan pati pregelatinasi. Semua formula memenuhi keseragaman bobot, ukuran, dan waktu hancur. Avicel PH 102 menghasilkan tablet lebih keras, sedangkan pati pregelatinasi menghasilkan tablet lebih rapuh. Disolusi F1, F2, F4, dan F5 memenuhi syarat, sementara F3 tidak. Kata kunci: Avicel PH 102, pregelatinasi, umbi talas pratama, vitamin C.   Abstract Vitamin C tablets are produced by direct felting due to their sensitivity to heat, but this is difficult to do due to poor flow properties, so it is necessary to add excipients to improve their flow properties such as starch and Avicel PH 102. The objective of this study was to evaluate the characteristics of printed mass and vitamin C tablets formulated with a combination of pregelatinized taro tuber starch and Avicel PH 102. The research was conducted in the laboratory using five different formulations with sequential ratios of pregelatinized starch and Avicel PH 102: F1 (1:0), F2 (0:1), F3 (1:1), F4 (1:3) and F5 (3:1). The flow rate results of F2, F3, F4, and F5 were qualified, while F1 was not. All formulas met the requirements for angle of repose, uniformity of weight, size, and disintegration time. F2 met the requirements for compressibility and hausner ratio, as well as hardness and friability. The disintegration results of F1, F2, F4 and F5 met the requirements, while F3 did not. The conclusion of this study is that Avicel PH 102 is better than pregelatinized starch in improving flow rate, compressibility and Hausner ratio. All formulations were consistent in weight, size and disintegration time. Avicel PH 102 produced harder tablets, whereas pregelatinized starch produced more brittle tablets. The disintegration of F1, F2, F4 and F5 met the requirements, while F3 did not. Keywords: Avicel PH 102, pregelatinized, pratama taro tuber, vitamin C

    KAJIAN POLA PERESEPAN DAN POTENSI INTERAKSI OBAT ANTIHIPERTENSI DI SALAH SATU APOTEK KOTA CIMAHI

    Full text link
    Hipertensi merupakan kondisi tekanan darah di atas normal dimana tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan diastolik > 90 mmHg. Tekanan darah yang tidak  terkendali  pada  pasien  hipertensi  dapat  meningkatkan  risiko  terjadinya penyakit  kardiovaskular. Pengunaan obat hipertensi yang tidak tepat akan menyebabkan masalah yang serius terhadap pelayanan kesehatan dikarenakan akan menyebabkan dampak yang negatif kepada pasien sehingga pola peresepan menjadi hal yang penting. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pola peresepan obat antihipertensi, sehingga dapat diketahui obat yang diresepkan pada pasien hipertensi berdasarkan umur, jenis kelamin, golongan obat dan jenis obat yang diresepkan. Desain yang digunakan pada penelitian ini yaitu deskriptif observasional.  Penelitian dilakukan di salah satu Apotek Kota Cimahi periode Januari-Desember 2019. Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah pasien yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 89 pasien pada rentang usia 51-60 tahun (58.43%), dengan jenis kelamin terbanyak laki-laki sebesar 59 pasien (66,3%). Penggunaan monoterapi yang terbanyak pada peresepan obat ramipril sebanyak 17 pasien (19,1%), kombinasi 2 golongan obat furosemide dan ramipril sebanyak 6 pasien (3,4%) dan penggunaan 3 kombinasi obat hidroklortiazid, kaptopril dan nebivolol sebanyak 1 pasien (1,25%). Potensi mekanisme interaksi obat secara farmakodinamik terjadi sebanyak 7 pasien (87,5%) dan tidak diketahui sebanyak 1 pasien (12,5%). Berdasarkan tingkat keparahan dapat terjadi potensi interaksi secara major sebanyak 3 pasien (37,5%) pada penggunaan kombinasi obat kandesartan dan rampiril, interaksi obat secara moderate sebanyak 5 pasien (62,5%) pada penggunaan kombinasi obat furosemid dan rampiril; hidroklortiazid dan nebivolol; hidroklortiazid, nebivolol dan kaptopril. Kata kunci: antihipertensi, pola peresepan, interaksi obat   Abstract Hypertension is a condition where blood pressure is above normal, where systolic blood pressure is > 140 mmHg and diastolic > 90 mmHg. Uncontrolled blood pressure in hypertensive patients can increase the risk of cardiovascular disease. Inappropriate use of hypertension medication will cause serious problems for health services because it will have a negative impact on patients, so prescribing patterns are important. The aim of this research is to determine the pattern of antihypertensive drug prescribing, so that we can find out the drugs prescribed to hypertensive patients based on age, gender, drug class and type of drug prescribed. The design used in this research is descriptive observational. The research was conducted at one of the Cimahi City pharmacies for the period Januar-December 2019. The results of the study showed that the number of patients who met the inclusion criteria was 89 patients in the age range 51-60 years (58.43%), with the largest gender being male at 59 patients (66.3%). The highest use of monotherapy was the prescription of the drug ramipril as many as 15 patients (16.9%), a combination of 2 classes of drugs furosemide and ramipril as many as 6 patients (3.4%) and the use of 3 combinations of hydrochlorthiazide, captopril and nebivolol as many as 1 patient (1, 25%). The potential mechanism for pharmacodynamic drug interactions occurred in 7 patients (87.5%) and was unknown in 1 patient (12.5%). Based on the level of severity, there could be a potential for major interactions in 3 patients (37.5%) when using the combination of kandesartan and rampiril, moderate drug interactions in 5 patients (62.5%) when using the combination of furosemide and rampiril; hydrochlorthiazide and nebivolol; hydrochlorthiazide, nebivolol and captopril. Keywords: antihypertensives, prescribing patterns, drug interactions

    KONSENTRASI HAMBAT MINUMUM ENZIM BROMELIN DARI KULIT DAN BONGGOL NANAS (Ananas comosus (L.) Merr) TERHADAP Staphylococcus aureus

    Full text link
    Enzim bromelin adalah enzim proteolitik yang memiliki kemampuan menghidrolisis protein sehingga bisa berperan sebagai antibakteri. Enzim bromelin dapat diisolasi dari kulit, buah, bonggol Nanas (Ananas comosus (L.) Merr ). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi enzim bromelin dari kulit dan bonggol buah Nanas dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus. Bromelin diisolasi dengan cara ekstraksi dengan buffer pospat, dipurifikasi dengan ammonium sulfat 60%. Uji aktivitas antibakteri enzim bromelin dari kulit dan bonggol Nanas terhadap bakteri Staphylococcus aureus dilakukan secara invitro menggunakan difusi cakram dengan mengukur zona hambat.  Konsentrasi enzim bromelin yang digunakan adalah 1 %, 2%, 3% dan 4% dengan antibiotik kloramfenikol sebagai kontrol positif. Enzim bromelin dari kulit dan bonggol Nanas pada konsentrasi 4% menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dengan zona hambat masing masing 19,23 mm dan 18,30 mm. Konsentrasi hambat minimum enzim bromelin dari kulit dan bonggol Nanas adalah 1% dengan zona hambat masing-masing 11,45 mm dan 12,24 mm. Enzim bromelin dari kulit dan bonggol Nanas memberikan aktivitas yang sama dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Kata kunci : Bromelin; Kosentrasi Hambat Minumum; Presipitasi Amonium Sulfat.   ABSTRACT The Bromelains are proteolytic enzymes that have the ability to hydrolyze proteins so they can act as antibacterial. Bromelain enzymes can be isolated from the peel, fruit, and stem of pineapple (Ananas comosus (L.) Merr). The purpose of this study was to obtain the concentration of bromelain enzymes from the peel and stem of Pineapple in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus. Bromelain was isolated by extraction with phosphate buffer, purified with 60% of ammonium sulfate. Antibacterial activity tests of bromelain enzymes from the peel and stem of pineapple against Staphylococcus aureus were carried out in vitro using disc diffusion by measuring clear zones. The bromelain enzyme concentration used was 1%, 2%, 3% and 4% with chloramphenicol antibiotics as a positive control. The results showed that bromelain enzymes from peel and stem of pineapple at 4% concentration inhibited the growth of Staphylococcus aureus with inhibition zones of 19.23 mm and 18.30 mm respectively. The minimum inhibitory concentration of bromelain enzymes from peel and stem of pineapple was 1% with inhibition zones of 11.45 mm and 12.24 mm respectively. Bromelain enzymes from the peel and stem of pineapple provide the same activity in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus bacteria. Keywords : Bromelain; minimum inhibition concentration; ammonium sulfate precipitatio

    AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN INHIBITOR NITRIT OKSIDA EKSTRAK ETANOL KULIT BIJI KACANG HIJAU (Vigna radiata L.)

    Full text link
    Kulit biji kacang hijau (Vigna radiata L.) saat ini tidak dimanfaatkan dan menjadi limbah sisa produksi makanan, salah satunya sebagai limbah dari tauge. Kulit biji kacang hijau diketahui kaya akan flavonoid sehingga besar peluang untuk memanfaatkan limbah menjadi salah satu komponen yang baik untuk kesehatan tubuh yaitu sebagai sumber antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan dan potensi inhibisi nitrit oksida dari ekstrak etanol kulit biji kacang hijau. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96% dengan rendemen sebesar 0,9947%. Aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil), sedangkan potensi inhibisi nitrit oksida diukur melalui penguraian SNP menjadi NO yang diukur dengan pereaksi Griess. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit biji kacang hijau memiliki aktivitas antioksidan yang kuat dengan nilai IC50 sebesar 91,36 ug/mL terhadap radikal bebas DPPH. Selain itu, ekstrak juga menunjukkan kemampuan yang signifikan dalam menghambat pembentukan nitrit oksida dengan nilai IC50 sebesar 88,05 ug/mL. Aktivitas ini diduga berkaitan dengan kandungan senyawa flavonoid dalam ekstrak, terutama vitexin dan luteolin. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa ekstrak etanol kulit biji kacang hijau berpotensi sebagai sumber antioksidan alami dan dapat dikembangkan lebih lanjut untuk pencegahan penyakit degeneratif terkait stres oksidatif. Kata kunci :  Antioksidan, dpph, nitrit oksida, Vigna radiata (L.)   Abstract Mung bean (Vigna radiata L.) seed coats are currently underutilized and become waste from food production, including as a waste product of bean sprouts. Mung bean seed coats are known rich in flavonoids compound. It was presenting a significant opportunity to utilize this waste as a beneficial component for human health as antioxidant. This study aimed to evaluate the antioxidant activity and potential nitric oxide inhibition of ethanol extracts from mung bean seed coats. The extract was obtained through maceration using 96% ethanol, yielding 0.9947%. Antioxidant activity was assessed using the DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) method, while nitric oxide inhibition potential was measured through the decomposition of SNP into NO, quantified using  Griess  reagent. Results showed that the ethanol extract of mung bean seed coats exhibited strong antioxidant activity with an IC50 91.36 ug/mL against DPPH free radicals. Additionally, the extract demonstrated significant ability to inhibit nitric oxide formation with an IC50 88.05 ug/mL. This activity is likely related to the flavonoid content in the extract, particularly vitexin and luteolin. These findings indicate that the ethanol extract of mung bean seed coats has potential as a natural antioxidant source and could be further developed for the prevention of degenerative diseases associated with oxidative stress. Keywords: Antioxidant, dpph, nitrite oxide, Vigna radiata (L.

    POTENSI EKSTRAK JAHE MERAH (Zingiber officinale Roscoe var. sunti), PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urb.) DAN KAYU MANIS (Cinnamomum Burmanni (C.Ness & T.Ness)) SEBAGAI HERBAL PENUNDA KEPIKUNAN

    Full text link
    Demensia atau kepikunan merupakan sindrom yang disebabkan oleh gangguan di otak. Sebanyak 60-70% demensia disebabkan oleh penyakit alzheimer. Penyakit alzheimer disebabkan oleh adanya penurunan asetilkolin (ACh) karena dihidrolisis oleh enzim asetilkolinesterase (AChE). Penghambatan aktivitas enzim AChE digunakan sebagai terapi penyakit alzheimer. Tanaman herbal memiliki potensi untuk menghambat enzim asetilkolinesterase karena memiliki banyak kandungan kimia. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan aktivitas peghambatan enzim AChE dari 3 jenis tumbuhan yang ada di Indonesia yaitu jahe merah (Zingiber officinale Roscoe var. sunti), pegagan (Centella asiatica (L.) Urb.), dan kayu manis (Cinnamomum burmanni (C.Ness & T.Ness)) serta kombinasi masing-masing ekstrak. Proses ekstraksi simplisia menggunakan metode maserasi dalam etanol 96%. Pengujian aktivitas penghambat  asetilkolinesterase (AChE) menggunakan metode Ellman. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol herba pegagan, dan kulit kayu manis berturut-turut sebesar 818,011 ug/mL dan 186,737 ug/mL, sedangkan ekstrak etanol jahe merah memiliki nilai IC50 > 1000 ug/mL. Nilai IC50 zat aktif donepezil adalah 0,277 ug/mL. Ekstrak etanol kulit kayu manis menunjukkan aktivitas penghambatan enzim AChE paling baik. Kombinasi ekstrak rimpang jahe merah dan kulit kayu manis dengan nilai IC50 293,166 ug/mL lebih lemah dari ekstrak tunggalnya, diduga sifat kombinasi kedua ekstrak tersebut antagonis. Ekstrak etanol kulit kayu manis paling berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai herbal penunda kepikunan. Kata kunci : Kepikunan, jahe merah, pegagan, kayu manis.   Abstract Dementia is a syndrome caused by a variety of brain disorder. About 60-70% dementia is caused by alzheimer disease. Decrease in acetylcholine level led by the hydrolysis of acetylcholinesterase enzym (AChE) has been the common cause of Alzheimer disease. Inhibitory activity of AChE enzyme is used in the alzheimer disease therapy. Herbal plants have the potential as the AChE inhibitor because it contains a lot of chemical compounds. This study aims at studying the inhibitory activity of acetylcholinesterase enzyme of three plants existing in Indonesia, namely Red Ginger (Zingiber officinale Roscoe var. sunti), Gotu Kola (Centella asiatica (L.) Urb.) and Cinnamon (Cinnamomum burmanni (C.Ness & T.Ness)) as well as the combination of their respective extracts. Simplicia was extracted with maceration method using ethanol 96%. AChE inhibitory activity was tested using Ellman method. The results show that IC50 value of ethanolic extracts of Gotu Kola and Cinnamon herbs are 818.011 ug/mL and 186.737 ug/mL respectively, while for red ginger is > 1000 ug/mL. The IC50 value of donepezil active substance is 0.277 ug/mL. Ethanolic extract of Cinnamon was found to have the best inhibitory activity of AChE enzyme. Combined extracts of red ginger and cinnamon with the IC50 value of 293.166 ug/mL has been the most effective inhibitor of AChE enzyme. Cinnamon ethanolic extract has the greatest potential for further development in the herbal extracts for dementia prevention. Keywords : dementia, red ginger, gotu kola, cinnamon

    Pengembangan Ekstrak Etanol Kulit Jeruk Lemon (Citrus limon (L.)) sebagai Antidiabetes Oral

    Full text link
    Diabetes melitus merupakan penyakit yang ditandai oleh tingginya kadar gula darah akibat dari terganggunya fungsi pankreas dalam menghasilkan insulin. Terganggunya fungsi pankreas dapat berdampak pada turunnya produksi insulin atau pankreas tidak dapat lagi memproduksi insulin, hal ini dapat menyebabkan adanya komplikasi atau gangguan metabolisme lainnya dan kematian karena diabetes melitus. Tingginya privalensi diabetes melitus yang menyebabkan kematian menduduki peringkat terbesar ketiga di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi dan dosis ekstrak etanol kulit jeruk lemon sebagai antidiabetes alternatif dengan metode preventif. Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi. Proses pembentukan model tikus diabetes dilakukan dengan induksi aloksan 175 mg/kgBB pada tikus Sprague-Dawley. Setelah tikus diabetes dalam 3 sampai 4 hari, kemudian tikus dipisahkan dan diberikan sediaan uji sesuai kelompoknya masing-masing kontrol positif (Na CMC), pembanding (Glibenklamid 5 mg), dan 3 varian dosis ekstrak etanol kulit jeruk lemon ( EEKJL 82 mg/kgBB, 164 mg/kgBB dan 328 mg/kgBB). Setelah 1 jam pemberian sediaan, kemudian dilakukan uji toleransi glukosa pada tikus jantan diabetes Sprague-Dawley. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit jeruk lemon efektif menghambat kenaikan kadar gula darah pada tikus jantan diabetes Sprague-Dawley. Dosis 328 mg/kgBB EEKJL menunjukkan hasil terbaik yang berbeda bermakna (p<0,05) terhadap kelompok kontrol dan tidak berbeda bermakna atau setara dengan glibenklamid 5 mg (p>0,05). Percobaan ini membuktikan bahwa EEKJL memiliki potensi sebagai antidiabetes alternatif.Kata kunci: Diabetes melitus, Kulit Lemon (Citrus limon (L.) Burm.f.), Aloksa

    121

    full texts

    125

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇