Universitas Negeri Manado, Jurusan Kimia: Open Journal Systems
Not a member yet
270 research outputs found
Sort by
Analisis Pemerangkapan radikal bebas ekstrak etanol buah beringin (Ficus benjamina Linn.)
Fruit is a source of natural antioxidants are most plentiful. This research aims to analyze the ability of fig fruit (Ficus benjamina Linn.) to scavenge 2.2-diphenyl-1-pikrilhidrazil. Ripe fig fruit macerated with ethanol for 3 × 24 hours and evaporated. Ethanol extract of fig fruit then tested for free radical scavenging activities and changes colour is measured by Spectrophotometer UV-Vis. Ethanol extracts of Ficus Benjamina. Linn. shows IC50 of 40.36 μg/mL.Buah merupakan sumber antioksidan alami yang paling banyak dijumpai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan pemerangkapan 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil oleh buah beringin (Ficus benjamina Linn.). Buah beringin yang sudah matang dimaserasi dengan etanol selama 3 × 24 jam dan dievaoprasi. Ekstrak kental etanol buah beringin kemudian diuji aktivitas pemerangkapan radikal bebas dan perubahan warnanya diukur dengan Spektrofotometer UV-Vis. Ekstrak etanol Ficus Benjamina Linn. menunjukkan IC50 sebesar 40.63 μg/mL. 
Screening Senyawa Pandu Inhibitor Endositosis dengan Metode Molecular Modelling
The purpose of this research is to search for compound inhibitor endocytosis by using Molecular Modeling program. Screening is performed on approximately 800,000 compounds derived from several commercial companies. From the results of virtual screening obtained 320 hits, and of this number only 175 compounds that can be obtained to test its biological activity. Biological tests showed that there were 7 compounds with moderate endocytosis inhibition capability (IC50 = 50-170 μM) to good inhibition (IC50 <50 μM). The compounds are: compound 1 (IC50 = 42 ± 4 μM), compound 2 (IC50 = 83 ± 8 μM), compound 3 (IC50 = 135 ± 58 μM), compound 4 (IC50 = 151 ± 18 μM) compound 5 (IC50 = 144 ± 18 μM), compound 6 (IC50 = 13 ± 4 μM), and compound 7 (IC50 ~ 170 μM).Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari senyawa pandu inhibitor endositosis dengan menggunakan program Molecular Modelling. Screening dilakukan terhadap kurang lebih 800.000 senyawa yang berasal dari beberapa perusahaan komersil. Dari hasil virtual screening didapatkan 320 hits, dan dari jumlah ini hanya 175 senyawa yang bisa didapatkan untuk diuji keaktifan biologisnya. Uji biologis menunjukkan terdapat 7 senyawa dengan kemampuan inhibisi endositosis yang moderat (IC50 = 50 – 170 µM) sampai kemampuan inhibisi yang baik (IC50 < 50 µM). Senyawa-senyawa tersebut adalah : senyawa 1 (IC50 = 42 ± 4 µM), senyawa 2 (IC50 = 83 ± 8 µM), senyawa 3 (IC50 = 135 ± 58 µM), senyawa 4 (IC50 = 151 ± 18 µM), senyawa 5 (IC50 = 144 ± 18 µM), senyawa 6 (IC50 = 13 ± 4 µM), dan senyawa 7 (IC50 ~ 170 µM)
Analisis Proksimat Tepung Jonjot Buah Labu Kuning
The purpose of this study was to measure the levels of protein, fat, fiber, carbohydrates, water and ash, in jumpy flour from pumpkin. Pumpkin strands are part of the pumpkin fruit where the pumpkin seeds are attached to the inside of the fruit flesh. In processing pumpkin as a food, strands often used as waste or waste and is considered as a fruit that is not useful. Pumpkin plants as a minor food commodity, it turns out, are very rich in bioactive compounds which act as anti-oxidants which are very useful for human health, including spikes that have not been maximized until now due to the lack of scientific information on nutrient content and bioactive compounds in pumpkin fruit jots. This research was carried out using laboratory analysis methods with the following stages, determination and sampling, sample preparation, protein content analysis of the gunning method, fat content, fiber content, carbohydrate content and water and ash content by oven drying method. The results of the study showed that jumpy flour from pumpkin had protein content of 1.09%, fat of 5.15%, fiber of 1.27%, carbohydrate of 73.38%, water of 14.68% and ash of 4.45%. The results of this study concluded that pumpkin fruit pumpkin flour can be used as food fortification material to increase nutritional value.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur kadar protein, lemak, serat, karbohidrat, air dan abu, pada tepung jonjot dari buah labu kuning. Jonjot labu kuning adalah bagian dalam dari buah labu kuning tempat dimana biji buah labu kuning melekat dan menyatu dengan bagian dalam daging buah. Dalam pengolahan buah labu kuning sebagai bahan pangan, jonjot sering dijadikan limbah atau buangan dan dianggap sebagai bagian buah yang tidak bermanfaat. Tanaman labu sebagai komoditas pangan minor, ternyata sangat kaya dengan senyawa bioaktif yang berperan sebagai antiokisidan yang sangat berguna bagi kesehatan manusia, termasuk jonjot yang sampai saat ini pemanfaatannya belum dimaksimalkan dikarenakan minimnya informasi ilmiah dari kandungan zat gizi dan senyawa bioaktif didalam jonjot buah labu kuning. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode analisis laboratorium dengan tahapan-tahapan sebagai berikut, penentuan dan pengambilan sampel, preparasi sampel, analisis kadar protein metode gunning, kadar lemak, kadar serat, kadar karbohidrat dan kadar air dan abu dengan metode oven pengeringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung jonjot dari buah labu kuning memiliki kadar protein 1,09 %, lemak 5,15 %, serat 1,27 %, karbohidrat 73,38 %, air 14,68 % dan Abu 4,45 %. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tepung jonjot buah labu kuning dapat dijadikan sebagai bahan fortifikasi pangan untuk meningkatkan nilai gizi
Produksi enzimatis Virgin Coconut Oil (VCO) dengan enzim bromelin serta pemurniannya menggunakan adsorben zeolit
One of the processed coconut products that is beneficial to health and has been widely used as an industrial raw material is VCO. Traditional rural communities and households have produced their own VCO for personal consumption because of its health benefits. However, the production process of VCO which still traditionally produces VCO products with a standard of quality and yield that has not been maximized. The research was carried out by enzymatic method, which added the enzyme bromelain contained in pineapple stem extract into coconut milk. The VCO product obtained was then purified by zeolite adsorbent, and water content and free fatty acid levels were tested. The results showed the highest VCO yield was found at a concentration of 20%, which was 36% and the purification of VCO with adsorbent zeolite was proven to reduce water content and free fatty acid levels with the highest percentage decrease in water content by 66%, and the highest percentage decrease in free fatty acid 63%. From the results of the study it can be concluded that the addition of pineapple stem extract containing the enzyme bromelain in the production of VCO can increase the yield of VCO to a maximum of 35.9% and purification of VCO samples with adsorbent zeolite proven to help reduce water content and free fatty acid levels.Salah satu produk olahan buah kelapa yang bermanfaat bagi kesehatan dan telah banyak dijadikan sebagai bahan baku industri adalah VCO. Masyarakat tradisional pedesaan dan rumah tangga telah memproduksi sendiri VCO untuk konsumsi pribadi karena khasiatnya bagi kesehatan. Akan tetapi proses produksi VCO yang masih tradisional menghasilkan produk VCO dengan standar kualitas dan rendemen yang belum maksimal. Penelitian dilakukan dengan metode enzimatis, yaitu menambahkan enzim bromelain yang terkandung dalam ekstrak batang buah nanas ke dalam santan kelapa. Produk VCO yang diperoleh selanjutnya dimurnikan dengan adsorben zeolit, dan dilakukan pengujian kadar air dan kadar asam lemak bebas. Hasil penelitian menunjukkan rendemen VCO tertinggi terdapat pada konsentrasi 20%, yaitu sebesar 36% serta pemurnian VCO dengan adsorben zeolit terbukti dapat menurunkan kadar air dan kadar asam lemak bebas dengan persentasi penurunan kadar air tertinggi sebesar 66%, dan persentasi penurunan kadar asam lemak bebas tertinggi sebesar 63%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan ekstrak batang buah nanas yang mengandung enzim bromelain dalam produksi VCO dapat meningkatkan rendemen VCO maksimal sebesar 35,9 % dan pemurnian sampel VCO dengan adsorben zeolit terbukti dapat membantu menurunkan kadar air dan kadar asam lemak bebas
Analisis Residu Pestisida dalam Tomat, Cabai Rawit dan Wortel dari Beberapa Pasar Tradisional di Sulawesi Utara
One method to eradicate plant pests carried out by farmers in the North Sulawesi area is to use pesticides because they are considered easy to obtain, the price is still affordable, and very effective at killing plant pests. However, improper use of pesticides results in the loss of pesticide residues in plants which causes environmental pollution, health problems in humans and inhibits trade. Therefore, it is necessary to monitor the use of pesticides through the fulfillment of the maximum residual limit (BMR). This study aims to analyze pesticide residues in tomatoes, cayenne pepper, and carrots using the method of High Performance Liquid Chromatography (HPLC) which was previously optimized and validated. The research samples were tomatoes, cayenne pepper, and carrots, taken from Pasar Bersehati Tomohon, Pasar Karombasan Manado, and Pasar Kawangkoan Minahasa, then taken to the Chemistry Laboratory of Manado State University to be extracted and analyzed. The results of this study indicate that pesticides with chlorpyrifos active ingredients were detected in almost all samples analyzed, although the levels were still below the specified BMR value, ie 1 mg/kg sample. The highest chlorpyrifos level was found in tomato samples taken from Pasar Kawangkoan Minahasa, which was 0.3150 mg/kg. The results of this study also showed that samples that were washed before extraction caused a decrease in the residual content of the petisides.Salah satu cara memberantas hama tanaman yang dilakukan oleh para petani di daerah Sulawesi Utara adalah menggunakan pestisida karena dianggap mudah didapat, harganya masih bisa dijangkau, dan sangat efektif membunuh hama tanaman. Namun, penggunaan pestisida yang tidak tepat mengakibatkan tertinggalnya residu pestisida tersebut pada tanaman sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan pada manusia dan menghambat perdagangan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengawasan terhadap penggunaan pestisida melalui pemenuhan nilai batas maksimum residu (BMR). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis residu pestisida dalam tomat, cabai rawit, dan wortel dengan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC) yang telah dioptimasi dan divalidasi sebelumnya. Sampel penelitian berupa tomat, cabai rawit, dan wortel, diambil dari Pasar Tomohon, Pasar Karombasan, dan Pasar Kawangkoan, kemudian dibawa ke laboratorium Kimia Universitas Negeri Manado untuk diekstraksi dan dianalisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pestisida dengan bahan aktif klorpirifos terdeteksi hampir pada semua sampel yang dianalisis, walaupun kadarnya masih berada di bawah nilai BMR yang ditetapkan, yaitu 1 mg/kg sampel. Kadar klorpirifos tertinggi dijumpai pada sampel tomat yang diambil dari Pasar Kawangkoan, yakni 0,3150 mg/kg sampel. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa sampel yang dicuci terlebih dahulu sebelum diekstraksi menyebabkan terjadinya penurunan kadar residu petisidanya
Penurunan konsentrasi logam kromium dengan fotokatalis titanium dioksida (TiO2), dan absorben SiO2-CFA
Decrease in the concentration of chromium metal by photocatalysis process, and adsorption has been done on river water samples. Photocatalysis using TiO2 photocatalyst, while adsorption using SiO2 CFA adsorbent was done with the aim of obtaining a picture of the effectiveness between the use of photocatalysis process and the adsorption process to reduce the concentration of chromium metal. The decrease of chromium metal concentration after photocatalysis, and adsorption for 6 hours was analyzed by AAS. Result of analysis showed decrease of chromium metal concentration through bigger photocatalysis that is 79,30% compared through adsorption only equal to 39,4%.Penurunan konsentrasi logam kromium dengan proses fotokatalisis, dan adsorpsi telah dilakukan pada sampel air Sungai. Fotokatalisis menggunakan fotokatalis TiO2, sedangkan adsorpsi menggunakan adsorben SiO2 CFA dilakukan dengan tujuan memperoleh gambaran efektifitas antara penggunaan proses fotokatalisis dan proses adsorpsi untuk menurunkan konsentrasi logam kromium. Penurunan konsentrasi logam kromium setelah fotokatalisis, dan adsorpsi selama 6 jam dianalisis dengan AAS. Hasil Analisis menunjukkan penurunan konsentrasi logam kromium melalui fotokatalisis lebih besar yaitu 79,30 % dibandingkan melalui adsorpsi hanya sebesar 39,4 %
Penggunaan metode ekstraksi maserasi dan partisi pada tumbuhan cocor bebek (kalanchoe pinnata) dengan kepolaran berbeda
Has conducted research of the preparation Cocor Bebek plants as raw materials for corrosion test by using two methods of extraction are maceration and partition. Maceration process is done by using methanol, which will then be concentrated by using a rotary evaporator to produce concentrated methanol extract. The next stage is the process of partitioning using a solvent n-hexane and ethyl acetate, and of the steps that have been made, from the fresh leaves Cocor Bebek generated as much as 10.3 kg of concentrated methanol extract as much as 65.7442 g, n-hexane extract as much as 36.1452 g, and the ethyl acetate extract as much as 15.2711 g.Telah dilakukan penelitian mengenai preparasi Tumbuhan Cocor Bebek sebagai bahan baku untuk uji korosi dengan menggunakan dua metode ekstraksi yaitu maserasi dan partisi. Proses maserasi dilakukan dengan menggunakan pelarut metanol, yang kemudian akan dipekatkan dengan menggunakan rotary evaporator sehingga dihasilkan ekstrak pekat metanol. Tahap selanjutnya adalah proses partisi dengan menggunakan pelarut n-heksan dan etil asetat, dan dari tahapan yang telah dilakukan, dari daun segar Cocor Bebek sebanyak 10,3 kg dihasilkan ekstrak pekat metanol sebanyak 65,7442 g, ekstrak n-heksan sebanyak 36,1452 g, dan ekstrak etil asetat sebanyak 15,2711 g
Pemanfaatan karbon aktif dari sabut kelapa sebagai elektroda superkapasitor
In this study, coconut fiber based activated carbon has been used for fabrication of supercapacitors. Iodine absorption test is performed to measured absorption level porous activated carbon sample size is relatively small (microporous). Characteristics of the activated carbon material covering the surface morphology and structure were tested using SEM and XRD. Electrode materials with composition (Activated charcoal: PVDF = 9: 1 (w / w)), the current collector and separator has been assembled to be tested its performance as an electrical charge storage device. The test results by cyclic voltammetry method was to look at the performance supercapacitor devices at once to obtain the value of the capacitance curve obtained voltammograms. Based on the results of the calculation of the capacitance, the highest capacitance values ​​obtained in the supercapacitor with activated carbon electrodes in coconut fiber steam 50 mL / bar with a capacitance value is 50.73 F / g.Pada penelitian ini, karbon aktif berbasis sabut kelapa telah digunakan untuk pembuatan superkapasitor. Uji daya jerap iodin dilakukan untuk mengukur tingkat serapan pori sampel karbon aktif yang ukurannya relatif kecil (mikropori). Karakteristik bahan karbon aktif yang meliputi struktur kristal dan morfologi permukaannya diuji dengan menggunakan SEM dan XRD. Bahan elektroda dengan komposisi (Karbon aktif : PVDF = 9:1 (b/b)), kolektor arus dan separator telah dirangkai untuk diuji kinerjanya sebagai perangkat penyimpanan muatan listrik. Metode siklik voltametri digunakan untuk melihat kinerja perangkat superkapasitor dengan mengukur nilai kapasitansi spesifik berdasarkan kurva voltammogram. Berdasarkan hasil perhitungan nilai kapasitansi spesifik diperoleh nilai kapasitansi spesifik tertinggi pada superkapasitor dengan elektroda sabut kelapa yang diaktivasi dengan steam 50 mL/bar yaitu sebesar 50.73 F/g
Tingkat Kesadahan Air Sumur di Dusun Gelaran 01 Desa Bejiharjo Karangmojo Gunungkidul, Yogyakarta
Hard water is a term known for water with high content of Calcium (Ca) and Magnesium (Mg) mineral. This type of water determines social-environment quality as well as people health in an area. Water with high degree of hardness could harm people health as it deteriorates people kidneys. The residence of Dusun Gelaran 01, Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul use a 10-to-20 meter wells to obtain ground water for drinking and other household needs. The soil of Dusun Gelaran 01 is dominated by the red mediterranean association and black grumusol with limestone, so that the ground water has high amount of Ca and Mg minerals. Throughout the study, it can be determined the level of water hardness of 40 samples of Dusun Gelaran 01 well water by complexometry titration method. Out of all the samples tested 6 (15%) samples were hard water, and 34 (85%) samples were very hard water. The highest levels of total hardness was 490,2 mg/L. Total hardness levels have not exceeded the threshold according to Regulation of the Ministry of Health Republic of Indonesia No. 492/MENKES/PER/IV/2010.Air dengan konsentrasi mineral Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg) yang tinggi disebut dengan air sadah. Jenis air ini menentukan kualitas lingkungan sosial dan kesehatan masyarakat di suatu daerah. Air sangat penting untuk kehidupan manusia, akan tetapi air dengan tingkat kesadahan yang tinggi berbahaya untuk kesehatan karena dapat menyebabkan gangguan ginjal. Masyarakat Dusun Gelaran 01 yang berada di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul menggunakan air tanah untuk minum dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Air tanah di daerah ini diperoleh dengan cara membuat sumur, dengan kedalaman sumur berkisar antara 10-20 meter. Jenis tanah di daerah ini didominasi oleh asosiasi mediteran merah dan grumusol hitam dengan bahan induk batu kapur, sehingga air tanah di daerah tersebut mengandung mineral Ca dan Mg dalam jumlah yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesadahan air dari 40 sampel air sumur yang digunakan masyarakat di Dusun Gelaran 01 dengan metode titrasi kompleksometri. Hasil penelitian menunjukkan dari 40 sampel yang diuji, 6 sampel (15 %) memiliki tingkat kesadahan tinggi dan 34 sampel (85%) dengan tingkat kesadahan sangat tinggi. Kadar kesadahan total tertinggi yaitu sebesar 490,2 mg/L. Kadar kesadahan total masih dalam batas kadar maksimal sesuai dengan PERMENKES RI Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010
Sintesis ferrat dari Fe(NO3)3 dan NaOCl sebagai pendegradasi zat pewarna makanan tartrazine
This investigation was carried out in order to synthesize ferrate (FeO42-) and was applied to the degradation of the food coloring agent of tartrazine. The synthesis of ferrate is carried out by the reaction of Fe(NO3)3 and NaOCl as oxidants in alkaline conditions. The synthesis was monitored using a UV-Vis spectrophotometer and resulted in a wavelength of 510 nm. The resulting ferrate is crystallized using KCl. The resulting crystals are potassium ferrate of 0.977 g. The angle of potassium ferrate 2q is measured with X-ray diffraction (XRD), which produces an angle of 2q of 28,480. Potassium ferrate was applied to degrade the tartrazine dye that was controlled using the UV-Vis spectrophotometer. The effect of several parameters on the tartrazine dye that degrades the reaction, such as the pH and the molar ratio of ferrate and tartrazine, was also studied in this study. The results showed that ferrate can degrade tartrazine at pH 9.6 with the highest degradation present in the molar ratio of ferrate and tartrazine 1: 5 which is 98.45%. This suggests that ferrate are an alternative and environmentally friendly substance that can be used to degrade tartrazine dye.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mensintesis ferrat (FeO42-) dan diaplikasikan pada pendegradasian zat pewarna makanan tartrazine. Sintesis ferrat dilakukan dengan mereaksikan Fe(NO3)3 dan NaOCl sebagai oksidator pada kondisi alkalis. Sintesis dimonitor dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan menghasilkan panjang gelombang 510 nm. Ferrat yang dihasilkan kemudian dikristalisasi menggunakan KCl. Kristal yang dihasilkan yaitu kalium ferrat sebanyak 0,977g. Sudut 2q kalium ferrat diukur menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), yang menghasilkan sudut 2q yaitu 28,480. Kalium ferrat diaplikasikan untuk mendegradasi zat pewarna tartrazine yang dimonitor dengan menggunakan spektofotometer UV-Vis. Pengaruh beberapa parameter dalam reaksi mendegradasi zat pewarna tartrazine seperti pH dan rasio molar dari ferrat dan tartrazine juga dipelajari pada penelitian ini. Hasil penelitian menujukan bahwa ferrat dapat mendegradasi tartrazine pada pH 9,6 dengan presentasi degradasi terbesar terdapat pada rasio molar ferrat dan tartrazine 1:5 yaitu 98,45%. Hal ini menunjukan bahwa ferrat merupakan bahan alternatif dan ramah lingkungan yang dapat digunakan untuk mendegradasi zat pewarna tartrazine