Syntax Literate - Jurnal Ilmiah Indonesia
Not a member yet
12667 research outputs found
Sort by
The Effect of Perceived Usefulness and Perceived Ease of Use on Interest in Using Telemedicine Moderated by the Level of Technological Skills
The use of telemedicine continues to develop as it facilitates access to healthcare services. However, its utilization rate at PT. X remains low, even though the company has provided an internal application as part of the digitalization of clinic services. This study aims to analyze the influence of perceived usefulness and perceived ease of use on the intention to use telemedicine, with technological skill level as a moderating variable. The study employs a descriptive method with a quantitative approach. This quantitative observational research was conducted at PT. X using a cross-sectional design. The study was carried out from June to August 2025 at PT. X. The population consisted of all PT. X employees, totaling 8,000 individuals. The sample size was determined using the Slovin formula, resulting in 99 respondents. The sampling technique used was non-probability sampling with accidental sampling. The sample criteria were determined based on inclusion and exclusion criteria. The independent variables in this study were perceived usefulness and perceived ease of use, the dependent variable was the intention to use telemedicine, and the moderating variable was the level of technological skills. The research instrument employed was a questionnaire using a Likert scale. The data analysis technique used in this study employs the Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) approach, which is conducted through outer model and inner model testing with the assistance of SmartPLS 4.1.0.0. The results of the study indicate that: (1) Perceived usefulness has a positive and significant effect on employees’ intention to use telemedicine at PT. X; (2) Perceived ease of use does not affect employees’ intention; (3) Technological skill level does not successfully moderate the relationship between perceived usefulness and intention; (4) Technological skill level negatively moderates the relationship between perceived ease of use and intention; (5) Technological skill level does not have a direct effect on employees’ intention to use telemedicine at PT. X
Evaluation of Information Quality on the Instagram Social Media of Bekasi Regency General Hospital
Abstract - This study aims to evaluate the quality of information on the Instagram social media of the Bekasi Regency General Hospital (RSUD), focusing on two main aspects, namely brand awareness and education. The method used in this study is Importance-Performance Analysis (IPA) which maps the gap between user expectations and reality on information quality. The data was obtained through a questionnaire survey that was distributed to Instagram social media visitors of the Bekasi Regency General Hospital. The results of the study show that the dimensions of timeliness and completeness require the highest improvement priority to increase brand awareness and education. The dimensions of credibility and accuracy have good performance and need to be maintained. This research provides practical recommendations for the management of Bekasi Regency Hospital to improve the quality of information presented on their Instagram social media
Sustainable Neighborhood Pada Kawasan Transit Perkotaan (Studi Kasus: Kawasan Blok M - Jakarta)
Kawasan Blok M merupakan salah satu kawasan transit perkotaan dengan tingkat kompleksitas aktivitas yang tinggi, ditandai oleh intensitas pergerakan, keberagaman fungsi, serta perannya sebagai simpul transportasi dan pusat kegiatan ekonomi dan sosial. Dalam konteks keberlanjutan perkotaan, kawasan semacam ini tidak dapat dinilai hanya dari kinerja mobilitas, tetapi perlu dipahami sebagai satu kesatuan sistem kawasan atau neighborhood yang mencakup dimensi spasial, sosial, dan lingkungan secara terpadu. Namun, hingga kini, penilaian kawasan transit yang telah terbentuk masih sering dilakukan secara parsial dan belum menggunakan kerangka evaluasi kawasan yang operasional dan berbasis pembacaan spasial internal kawasan. Penelitian ini bertujuan menyusun kerangka penilaian kawasan berkelanjutan yang bersifat sistematis dan aplikatif, serta menerapkannya untuk membaca kondisi keberlanjutan Kawasan Blok M berdasarkan pembagian zona kawasan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif melalui telaah literatur, studi dokumen, dan analisis kondisi eksisting kawasan. Kerangka penilaian disusun berdasarkan tiga aspek utama, yaitu aspek kawasan, infrastruktur, dan bangunan, dengan mengintegrasikan variabel fisik dan non-fisik ke dalam matriks penilaian yang diterapkan pada setiap zona kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja keberlanjutan Kawasan Blok M sangat dipengaruhi oleh kualitas konektivitas jalur pejalan kaki, keterpaduan ruang publik dan ruang hijau aktif, efisiensi pengelolaan sumber daya seperti energi dan air, serta kualitas tata kelola kawasan dan perilaku pengguna. Analisis berbasis zonasi memperlihatkan adanya perbedaan karakter, tingkat permasalahan, dan potensi pengembangan pada setiap bagian kawasan, yang menegaskan bahwa keberlanjutan Blok M terbentuk dari keterkaitan antara aspek kawasan, infrastruktur, dan bangunan sebagai satu sistem yang tidak terpisahkan. Kerangka penilaian yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai alat bantu untuk membaca kondisi kawasan secara lebih terstruktur sekaligus sebagai dasar perumusan arah penataan kawasan transit perkotaan yang lebih berkelanjutan
Perencanaan Strategis Sistem Informasi pada PT. Masterban Berkat Indonesia Palembang
Perkembangan teknologi informasi telah mendorong perusahaan untuk melakukan transformasi digital guna meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing. PT Masterban Berkat Indonesia, sebuah perusahaan ritel otomotif roda dua yang memiliki 11 outlet di Palembang, menghadapi tantangan dalam pengelolaan sistem informasi yang belum terintegrasi. Permasalahan utama meliputi pencatatan stok manual antar outlet, ketidaksesuaian data inventory, dan proses pendataan barang yang memakan waktu lama. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun perencanaan strategis sistem informasi menggunakan metode Ward and Peppard agar teknologi informasi dapat selaras dengan strategi bisnis perusahaan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan wawancara, observasi, dan studi literatur. Teknik analisis data menggunakan SWOT Analysis, PESTEL Analysis, Five Forces Porter, Value Chain Analysis, Balanced Scorecard, dan McFarlan Strategic Grid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT Masterban membutuhkan pengembangan sistem informasi terintegrasi berbasis website dan mobile application yang mencakup sistem penjualan, inventory, keuangan, dan kepuasan pelanggan. Portofolio aplikasi strategis yang diusulkan meliputi Website Penjualan dan Promosi Terintegrasi, Aplikasi Mobile Penjualan, Sistem Informasi Inventory, dan Sistem Informasi Keuangan dengan estimasi biaya implementasi sekitar Rp 70.000.000 dalam waktu 6-8 bulan. Perencanaan strategis ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat proses bisnis, mengurangi kesalahan pencatatan, serta memperkuat daya saing perusahaan dalam industri otomotif roda dua melalui transformasi digital yang terukur dan berkelanjutan
Analisis Yuridis Kontradiksi Perlindungan Konsumen dalam Konflik Kepentingan Ekonomi Aplikasi Shopee Terhadap Pertanggungjawaban Hukumnya
The development of digital technology has created electronic trading platforms such as Shopee, which now dominates the e-commerce market in Indonesia with 53.22% of users. However, this has also raised legal issues related to consumer protection in online transactions. This study aims to analyze Shopee's non-compliance as a platform provider with its legal obligations under the Consumer Protection Law (UUPK) No. 8 of 1999 in guaranteeing consumer rights. In addition, this study also seeks to formulate Shopee's legal responsibility to ensure that consumers' rights to compensation and damages are fulfilled. The method used is normative juridical with a case study approach. The analysis is conducted on laws and regulations, particularly UUPK No. 8 of 1999 and Article 1367 of the Civil Code, as well as literature related to consumer protection and the theory of vicarious liability from Philipus M. Hadjon. The data was obtained through a literature study covering primary, secondary, and tertiary legal materials, as well as analysis of real cases from Media Konsumen Indonesia (Indonesian Consumer Media) that show a systematic pattern of responsibility avoidance by the platform. The research findings reveal that Shopee is not in compliance with the UUPK. This is evident from the lack of supervision of sellers, complicated and opaque refund procedures, and an internal dispute resolution system that tends to be unfair. These conditions violate Article 4 paragraph 8, Article 7, Article 8, and Article 19 of the UUPK. The contradiction between economic interests based on transaction commissions and consumer protection responsibilities causes platforms to tend to evade responsibility, even though they have full control over their operational systems. This study recommends the application of the principle of vicarious liability, based on Article 1367 of the Civil Code, with tiered sanctions. In addition, it is recommended to strengthen seller verification, establish a guarantee fund system, an independent dispute resolution mechanism, and proactive supervision. These steps are expected to balance digital economic innovation with effective consumer protection
Analisis Pengaruh E-Govqual Terhadap Kepuasan Pengguna Melalui Persepsi Manfaat Pada Layanan Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) Provinsi Kalimantan Tengah
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kalimantan Tengah, namun partisipasi penggunaan layanan digital UPT PPA masih minim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh E-GovQual terhadap kepuasan pengguna dengan persepsi manfaat sebagai variabel mediasi pada layanan digital UPT PPA Provinsi Kalimantan Tengah. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif survei dengan total 116 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling dari populasi pelapor periode 2022-2024. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Model (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa E-GovQual tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap kepuasan pengguna. Namun, E-GovQual berpengaruh signifikan terhadap persepsi manfaat. Selanjutnya, persepsi manfaat berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pengguna. Temuan penting dalam penelitian ini adalah persepsi manfaat terbukti memediasi hubungan antara E-GovQual dan kepuasan pengguna secara signifikan. Hal ini menyimpulkan bahwa kualitas layanan digital hanya dapat menciptakan kepuasan jika pengguna merasakan manfaat nyata dari sistem tersebut
Hubungan Karakteristik Demografis (Usia dan Jenis Kelamin) dan Kualitas Tidur dengan Risiko Terjadinya Gerd pada Masyarakat Perkotaan Rt 001/Rw 016 dan Rt 06/Rw 006 Kelurahan Cililitan, Jakarta Timur dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam
Gastro-esophageal reflux disease (GERD) is a digestive disorder characterized by the backflow of stomach acid into the esophagus, causing symptoms such as heartburn and acid regurgitation. The prevalence of GERD shows a significant upward trend. In Indonesia, the prevalence of GERD in urban populations is reported to reach 9,35%. Demographic characteristics, such as age and gender, are known to influence GERD risk. In addition, poor sleep quality, which is common in urban communities, is thought to contribute to GERD incidence. This study employed a quantitative cross-sectional design using primary data. Data were collected through questionnaires assessing respondents’ demographic characteristics, sleep quality, and GERD. Data analysis was conducted using the chi-square test to determine the relationships between variables. Sleep quality was the only variable significantly associated with the risk of GERD (p = 0,004). In contrast, age (p = 0,451) and gender (p = 0,627) showed no significant association. Poor sleep quality may increase esophageal sensitivity to gastric acid, thereby increasing the risk of GERD. This study shows a significant relationship between sleep quality and the risk of GERD in the urban communities of RT 001/RW 016 and RT 006/RW 006, Cililitan Subdistrict, East Jakarta. Meanwhile, age and gender do not have a significant association. From an Islamic perspective, maintaining health is the responsibility of every individual regardless of age or gender, which can be achieved through the implementation of regular eating and sleeping patterns as a preventive measure to reduce the incidence of GERD
Implementasi Kebijakan Penyaluran Obat Keras di Apotek Wilayah Kabupaten Sanggau
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis implementasi kebijakan penyaluran obat keras di apotek wilayah Kabupaten Sanggau, berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan teori kebijakan publik Van Metter dan Van Horn. Sumber informasi dipilih melalui purposive sampling dan incidental sampling, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan penyaluran obat keras di apotek Kabupaten Sanggau belum optimal. Beberapa faktor penghambat meliputi belum jelasnya standar penyerahan obat keras, terbatasnya sumber daya manusia dan anggaran BPOM Sanggau, serta beban kerja petugas yang meningkat. Komunikasi antar organisasi tidak berjalan konsisten, dan pemahaman stakeholder serta masyarakat terkait ketentuan obat keras masih rendah. Sosialisasi yang terbatas dan ketidakselarasan antara peraturan lama dengan kebutuhan situasi terkini turut menghambat implementasi kebijakan. Selain itu, belum ada kebijakan baru di luar ketentuan yang ada, yang menyebabkan peraturan lama tetap menjadi acuan hukum meski sudah kurang relevan
Budaya Lokal sebagai Cultural Capital dalam Strategi Branding: Studi Fenomenologi pada Visual Kemasan Teh Botol Sosro "Wajah Asli Kebaikan Indonesia"
Latar belakang penelitian ini berangkat dari meningkatnya kebutuhan diferensiasi merek di tengah kompetisi pasar yang semakin intens, khususnya pada produk FMCG di Indonesia. Budaya lokal sebagai cultural capital menawarkan potensi strategis untuk membangun identitas merek yang autentik dan emosional. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana budaya lokal dimanifestasikan sebagai modal kultural dalam visual kemasan Teh Botol Sosro seri “Wajah Asli Kebaikan Indonesia” serta bagaimana strategi tersebut berfungsi dalam konstruksi identitas dan diferensiasi merek. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi dan analisis semiotika dua tahap Roland Barthes. Data diperoleh melalui observasi visual kemasan, dokumentasi ilustrasi resmi, serta kajian literatur terkait teori cultural capital, branding, dan identitas nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemasan berfungsi sebagai medium konversi budaya melalui tiga mekanisme utama: konstruksi mitos keaslian terdistribusi, re-placement nilai budaya dalam konteks konsumsi modern, dan kemasan sebagai antarmuka ritual yang mengubah konsumsi harian menjadi praktik kultural. Strategi ini efektif membangun keterikatan emosional, memperkuat posisi merek, serta menciptakan makna berkelanjutan berbasis identitas kolektif Indonesia. Secara teoretis, penelitian ini memperluas konsep cultural branding dengan menegaskan peran kemasan sebagai ruang ritual simbolik dalam konteks masyarakat kolektivis Indonesia. Implikasinya, integrasi budaya lokal secara reflektif dan inklusif dapat menjadi strategi branding yang relevan secara sosial sekaligus berdaya saing tinggi di pasar nasional.
 
Exploring the Meaning Behind Social Stigma Towards Mental Disorders in Javanese Culture
The social stigma surrounding mental disorders in Javanese culture is a major barrier preventing sufferers from accessing professional healthcare services. This study aims to explore the deeper meaning behind this stigma and examine the process by which it forms within the values of Javanese society. The research method used was qualitative, employing a phenomenological approach. Participants consisted of three Javanese individuals living in a Javanese cultural environment, selected using purposeful sampling with specific criteria (criterion sampling). Data analysis was conducted systematically using thematic analysis. The results indicate that the meaning of stigma in Javanese culture is deeply rooted in mystical and spiritual interpretations, where mental disorders are considered the result of supernatural interference, karma, or lack of worship. Stigma is formed through a process involving family neglect, cultural assessments of abnormality, and a lack of medical understanding, leading to negative labeling such as bento or gendeng (terms used to describe someone as mentally unwell) and acts of discrimination. This study recommends the implementation of sociocultural-based mental health interventions involving community and religious leaders. Further research should be expanded to include participants across generations to obtain a broader picture of this reality