Syntax Literate - Jurnal Ilmiah Indonesia
Not a member yet
12667 research outputs found
Sort by
Analysis of the Relationship Between Digital Transformation Influenced by Technology, Artificial Intelligence Diagnosis, Legal Basis and Challenges to Health Services in Hospitals
The rapid adoption of digital technologies and artificial intelligence (AI) is transforming hospital healthcare services, offering opportunities to improve diagnostic accuracy, operational efficiency, and patient-centered care. Previous studies indicate that AI-powered diagnostic tools, cloud computing, electronic health records, and IoT systems significantly enhance clinical decision-making and resource management. However, legal, ethical, and operational challenges including patient data privacy, liability ambiguity, staff skill gaps, interoperability issues, and high implementation costs pose significant barriers to effective adoption. This study aims to investigate the relationship between digital transformation driven by emerging technologies, AI-assisted diagnostics, legal frameworks, and operational challenges in hospital services. A systematic literature review (SLR) was conducted, analyzing peer-reviewed articles published between 2021 and 2025 from major databases including PubMed, Scopus, ScienceDirect, and Google Scholar. Key themes were extracted and synthesized across five dimensions: technology and infrastructure, AI implementation, legal and regulatory considerations, operational challenges, and healthcare outcomes. Findings reveal that while digital transformation and AI adoption enhance hospital efficiency and diagnostic precision, their success depends on coordinated attention to regulatory compliance, staff training, system integration, and organizational readiness. Hospitals must adopt multidimensional strategies to balance technological innovation with ethical, legal, and operational considerations for sustainable healthcare delivery
Analisis Integrasi Sistem Informasi Rumah Sakit dan Elektronik Rekam Medik Sebagai Respon Terhadap Permenkes Nomor 24 Tahun 2022
Transformasi digital di sektor kesehatan Indonesia semakin diperkuat melalui penerbitan Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis, yang mewajibkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengimplementasikan Rekam Medis Elektronik (RME) dan mengintegrasikannya dengan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) serta platform nasional SATUSEHAT. Perubahan regulasi ini menuntut rumah sakit untuk meningkatkan interoperabilitas, efisiensi alur layanan, dan standarisasi data secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam proses integrasi SIMRS dan RME sebagai respons organisasi terhadap regulasi tersebut, serta mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang mempengaruhi keberhasilan implementasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan analisis dokumentasi pada rumah sakit yang sedang melaksanakan integrasi SIMRS–RME. Analisis dilakukan menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola temuan yang berkaitan dengan kesiapan teknis, kebijakan, sumber daya manusia, dan tata kelola data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas integrasi sangat dipengaruhi oleh kesiapan infrastruktur TI, kualitas modul SIMRS, pemahaman SDM terhadap alur digital, dan tingkat kesesuaian sistem dengan standar interoperabilitas seperti HL7–FHIR. Penelitian juga menemukan bahwa sebagian besar hambatan muncul pada aspek kesenjangan kompetensi digital tenaga kesehatan, ketidaksiapan modul lama SIMRS, dan minimnya koordinasi antara rumah sakit dan vendor teknologi. Regulasi Permenkes 24/2022 terbukti menjadi katalis penting dalam percepatan transformasi digital, namun implementasinya membutuhkan pendekatan strategis, investasi berkelanjutan, serta penguatan tata kelola data dan keamanan informasi
Strategi Implementasi Konsep Green Hospital Melalui Pengelolaan Limbah Cair Non-Medis untuk Mendukung Manajemen Lingkungan di Rumah Sakit Umum Daerah Koja
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja sebagai salah satu rumah sakit rujukan di Jakarta Utara menghadapi tantangan dalam pengelolaan limbah cair non-medis yang berkelanjutan. Pengelolaan limbah cair non-medis seperti dari dapur, laundry, dan sanitasi belum sepenuhnya terintegrasi dengan prinsip Green Hospital, sehingga berpotensi mencemari lingkungan dan meningkatkan beban operasional. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi implementasi konsep Green Hospital melalui pengelolaan limbah cair non-medis guna mendukung manajemen lingkungan dan pemenuhan standar akreditasi rumah sakit. Pendekatan yang digunakan adalah mixed method dengan kombinasi analisis kualitatif dan kuantitatif, serta analisis SWOT untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama meliputi keterbatasan teknologi IPAL, rendahnya efisiensi penggunaan air, dan belum optimalnya pemanfaatan kembali air limbah. Strategi implementasi yang disarankan mencakup penguatan regulasi internal, penerapan teknologi pengolahan limbah berkelanjutan, pelibatan seluruh pemangku kepentingan, serta integrasi kebijakan lingkungan dengan sistem manajemen rumah sakit. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan rumah sakit ramah lingkungan dan dapat dijadikan acuan dalam penerapan konsep Green Hospital di rumah sakit lain di Indonesia
Rehabilitasi Lahan Pertanian Pascabanjir Sebagai Upaya Pemulihan Fungsi Agroekosistem
Bencana alam di Indonesia didominasi oleh bencana hidrometeorologi. Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang disebabkan oleh iklim atau cuaca seperti curah hujan, kelembaban, temperatur, dan angin yang disebut sebagai parameter-parameter meteorologi. Informasi dari data Geoportal Data Bencana Indonesia di laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan dalam setahun terakhir ini sudah terjadi sekitar 3.000 lebih bencana di Indonesia, dimana mayoritas bencana yang terjadi adalah banjir dan cuaca ekstrem. Banjir merupakan salah satu bencana alam yang berdampak negatif di sektor pertanian. Lahan pertanian yang terdampak banjir mengalami gangguan fungsi agroekosistem, ditandai dengan perubahan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah yang berpotensi menurunkan produktivitas tanaman. Genangan banjir dapat menyebabkan kerusakan struktur tanah, pencucian unsur hara, serta gangguan pertumbuhan tanaman budidaya. Artikel ini bertujuan mengkaji rehabilitasi pertanian bagi lahan yang terdampak banjir. Pembahasan difokuskan pada karakteristik lahan pertanian terdampak banjir, dampak banjir terhadap fungsi lahan dan sistem budidaya, serta strategi pemulihan yang meliputi pengelolaan tanah, tanaman, dan air yang berkelanjutan. Rehabilitasi pertanian yang terintegrasi diharapkan dapat memulihkan fungsi lahan pertanian dan dapat meningkatkan ketahanan agroekosistem terhadap bencana alam, terutama banjir
Analisis Perbandingan Hasil Riksa Uji Tahanan Pentanahan Menggunakan Earth Clamp dan Pengukuran Langsung Menggunakan Earth Tester Pada Sistem Grounding Instalasi Penyalur Petir di Ruang Kelas PLN UPDL Makassar
PLN UPDL Makassar merupakan unit pelaksana pendidikan dan pelatihan ketenagalistrikan, dimana gedung-gedung termasuk gedung kelas dilengkapi dengan instalasi penyalur petir yang terhubung ke sistem pentanahan. Salah satu bagian penting dari sistem proteksi di gedung adalah instalasi penyalur petir yang berfungsi melindungi bangunan dan peralatan dari sambaran petir dengan menyalurkan arus lebih ke bumi melalui sistem pentanahan. Pentanahan adalah penghubung suatu titik rangkaian listrik dengan bumi dengan cara tertentu. Untuk memastikan keandalan tahanan pentanahan tersebut, maka dilakukan pengukuran tahanan pentanahan secara berkala melalui kegiatan riksa uji oleh pihak ketiga. Dalam praktiknya, pengukuran di PLN UPDL Makassar kadang menggunakan Earth Clamp karena sifatnya yang praktis dan tidak memerlukan pemutusan sistem. Dan dengan metode pengukuran langsung yang menggunakan alat Earth Tester dengan prinsip Fall Of Potensial. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisa efektivitas dan akurasi kedua metode pengukuran, sehingga dapat memberikan rekomendasi metode yang paling tepat dalam pengujian sistem pentanahan penyalur petir di lingkungan PLN UPDL Makassar
Anxiety Management Penderita Covid-19: Studi Fenomenologis
Covid-19 disease has led to various psychological problems faced by sufferers. Previous studies have found anxiety as one of the most common symptoms in sufferers. This study aims to determine the description of the experience of anxiety and anxiety management experienced by Covid-19 sufferers who have been declared cured. A total of 4 participants were interviewed in depth. Data analysis in this study used the phenomenological method to obtain essential experiences in all participants. Participants after being diagnosed with Covid-19 expressed anxiety and worry during the self-isolation or treatment process. The results of the study obtained 6 themes regarding the experience of anxiety, including: (1) External conditions or threats, (2) Cognitive and affective responses, (3) Physical responses, (4) Social responses, (5) Coping strategies, and (6) Aftereffects
Peran Dukungan Organisasi dan Efikasi Diri Untuk Berubah Terhadap Komitmen untuk Berubah pada Karyawan Grup X
Perkembangan bisnis yang cepat dan dinamis menuntut perusahaan untuk dapat beradaptasi dengan cepat namun tetap mempertahankan keunggulan kompetitifnya. Salah satu kunci keberhasilan suatu perubahan organisasi adalah komitmen dari anggota organisasinya untuk berubah. Komitmen karyawan untuk berubah tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan banyak faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara dukungan organisasi dan efikasi diri untuk berubah terhadap komitmen untuk berubah. Penelitian ini dilakukan menggunakan teknik convenience sampling dan melibatkan 132 karyawan Grup X, sebuah perusahaan agribisnis di Indonesia. Instrumen yang digunakan adalah alat ukur Commitment to Change (Herscovitch & Meyer, 2002), Survey of Perceived Organizational Support (Eisenberger et al., 1986), dan alat ukur Change Related Self-Efficacy (Ashford, 1988). Analisis korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan positif antara dukungan organisasi dan komitmen untuk berubah, demikian pula dengan efikasi diri untuk berubah dan komitmen untuk berubah. Artinya, semakin tinggi dukungan organisasi yang dipersepsikan dan semakin besar keyakinan karyawan akan kemampuan dirinya dalam menghadapi perubahan, maka semakin kuat komitmen mereka untuk berubah. Dengan demikian, penelitian ini menekankan pentingnya keberadaan dukungan organisasi, efikasi diri dan komitmen untuk berubah di kalangan karyawan selama perubahan organisasi berlangsung.  
Strategi Peningkatan Maturitas Kinerja Keselamatan Pertambangan Dengan Menggunakan Metode Fmea di Perusahaan Pertambangan Batubara
Industri pertambangan batubara memiliki tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi, sehingga peningkatan kinerja keselamatan menjadi aspek krusial dalam keberlanjutan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi peningkatan maturitas kinerja keselamatan pertambangan dengan mengintegrasikan penilaian regulatif dan analisis risiko menggunakan metode Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). Penilaian tingkat pencapaian kinerja keselamatan dilakukan berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Nomor 10.K/MB.01/DJB.T/2023. Data dikumpulkan melalui tinjauan dokumen, kuesioner, wawancara, observasi, dan Focus Group Discussion (FGD), kemudian dianalisis menggunakan Risk Priority Number (RPN) untuk menentukan prioritas perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat maturitas kinerja keselamatan pertambangan masih berada pada kategori reaktif, dengan indikator partisipasi pekerja sebagai faktor pembatas utama. Analisis RPN mengindikasikan bahwa risiko keselamatan tertinggi terkonsentrasi pada aspek internalisasi nilai keselamatan dan partisipasi substantif pekerja. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa pendekatan strategis berbasis prioritas risiko untuk mendorong peningkatan maturitas keselamatan pertambangan secara bertahap
Management Transformation in Family Businesses in Palm Oil Plantations: From Independent Management to Professional and Structured Organizations
The family owned industry is still very strong in the agribusiness industry in Indonesia, especially in the palm oil industry. Although they are economically important, there are structural and managerial problems in most family-run plantations that are due to traditional and informal forms of managing them. This paper explores how job analysis and human capital management (HCM) may be used to achieve management change and sustainability of succession in a palm oil plantation owned by a family in North Sumatra. The study bases its methodology on the qualitative case study, and was backed with scanty quantitative data concerning productivity and workforce structure. In-depth interviews with the owners of the plantations, family members, and key employees were used as primary data collection methods where field observation and analysis of documents were also used as supplementary methods. Based on the structure in Braun and Clarke (2006) framework, thematic analysis was used to extract common themes in terms of job roles, leadership succession, and professionalization initiatives. Results indicate that unplanned job analysis translates to lack of clarity of job responsibilities, duplication of duties, and inconsistency in resolution of duties at various levels. The combination of job analysis and HCM models like competency-based job design, performance appraisal framework, and talent management will greatly improve organizational performance and equip the organization with the transition to generational leadership. The succession planning is also recognized by the study as a decisive factor of sustainable change, which correlates with theoretical approaches in the family business theory, socioemotional wealth, and development of human capital. The study is helpful in comprehending how family-run agribusiness can be transformed into professionally run enterprises without losing socioemotional and legacy values of such enterprises. As shown in the proposed framework, job analysis is an effective framework on which to base the restructuring of human capital systems, leadership succession, and competitiveness in the long term in the palm oil industry owned by families in Indonesia
Kajian Kapasitas Momen dengan Variasi Letak Tulangan Tarik pada Beton Kondisi Under Reinforment, Balance, Over Reinforment Menggunakan Software Abaqus
This study evaluates the impact of tensile reinforcement placement variations on nominal moment capacity, deformation, and crack patterns of reinforced concrete blocks. Using blocks measuring 300 mm × 600 mm with concrete quality f'c = 25 MPa and steel quality fy = 400-550 MPa, the study was conducted on three conditions: under reinforced, balance, and over reinforced. The methodology includes manual analysis based on SNI 2847:2019 and numerical simulation using ABAQUS CAE with a Concrete Damage Plasticity (CDP) approach. Variations focus on the location of the tensile reinforcement without changing the reinforcement ratio or cross-sectional dimensions. Research Results: Under Reinforced: Nominal moment capacity (Mn) ranges from 264.43-275.84 kNm with an increase of 4.31%. Exhibits greater maximum deflection and more flexible collapse with gradual tensile crack initiation. Balance: There is a balance between the compressed concrete strain (εc = 0.003) and the tensile steel yield strain (εy), resulting in optimal bending performance with an increase in Mn of 9.48%. Over Reinforced: Significant moment capacity increase (1164.04-1277.51 kNm) with an increase of 9.75%, but experienced brittle and brittle concrete compressive collapse with smaller deflection. Conclusion: Variations in tensile reinforcement placement, although the reinforcement ratio remains the same, have a significant effect on the moment capacity and collapse mechanism. The over reinforced condition, although it produces the highest strength, is less recommended for structures that require high ductility due to the nature of sudden collapse. These findings can be the basis for optimizing the design of flexible reinforcement to improve the safety and performance of reinforced concrete structures