Syntax Literate - Jurnal Ilmiah Indonesia
Not a member yet
12667 research outputs found
Sort by
Kepemilikan Korporasi dan Ukuran Dewan Terhadap Kinerja Perusahaan: Peran Moderasi Leverage
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepemilikan korporasi dan ukuran dewan terhadap kinerja perusahaan dengan leverage sebagai pemoderasi pada perusahaan sektor basic material yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2019–2024. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data panel sebanyak 372 observasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan data panel. Pengujian hipotesis dilakukan melalui analisis regresi data panel untuk menguji pengaruh individual serta peran moderasi leverage. Model regresi panel yang digunakan adalah Fixed Effect Model (FEM), sebagaimana ditetapkan berdasarkan hasil uji Chow dan uji Hausman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan korporasi berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan, yang mengindikasikan bahwa peningkatan kepemilikan korporasi belum tentu diikuti oleh peningkatan kinerja. Sementara itu, ukuran dewan tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Lebih lanjut, leverage terbukti mampu memoderasi hubungan antara kepemilikan korporasi dan kinerja perusahaan dengan memperkuat pengaruh positifnya. Sebaliknya, leverage memoderasi hubungan antara ukuran dewan dan kinerja perusahaan dengan arah pelemahan. Temuan ini menunjukkan bahwa struktur kepemilikan dan mekanisme governansi perusahaan tidak berdiri sendiri dalam memengaruhi kinerja, melainkan sangat dipengaruhi oleh kebijakan pendanaan perusahaan. Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi manajemen, investor, dan regulator dalam merancang struktur governansi dan kebijakan leverage yang optimal guna meningkatkan kinerja perusahaan
Fenomenologi Transformasi Ruang Hidup Masyarakat Suku Duano di Pesisir Indragiri Hilir
Suku Duano merupakan komunitas Proto-Melayu yang dikenal sebagai orang laut, dengan sejarah kehidupan maritim yang kuat. Secara historis, masyarakat Suku Duano menjalani pola hidup nomaden dengan bermukim di atas perahu dan menjadikan laut sebagai ruang utama kehidupan. Ketergantungan pada ekosistem perairan menjadikan sumber daya laut sebagai basis penghidupan, yang selanjutnya membentuk struktur ruang, pola aktivitas, dan sistem sosial budaya masyarakat. Namun, sejak dekade 1970-an, Suku Duano mengalami transformasi ruang hidup yang signifikan. Berbagai faktor, termasuk kebijakan pemerintah dan perubahan sosial-ekonomi, mendorong komunitas ini beralih dari kehidupan nomaden di laut menuju pola bermukim yang lebih menetap di wilayah pesisir Kabupaten Indragiri Hilir. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam dan kontekstual proses transformasi permukiman tersebut serta perubahan makna ruang yang menyertainya, melalui pendekatan fenomenologi ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi permukiman Suku Duano tidak hanya ditandai oleh pergeseran dari perahu ke hunian permanen, tetapi juga oleh perubahan tata ruang hunian, pola melaut, pengetahuan lokal, serta pergeseran objek tangkapan. Ruang hidup masyarakat Suku Duano di kawasan pesisir saat ini terbentuk melalui relasi yang erat antara manusia, air, muara, dan sumber daya laut, yang merefleksikan pengalaman historis sekaligus strategi adaptasi mereka dalam menghadapi perubahan lingkungan dan sosial
Pengaruh Kinerja Rumah Sakit Terhadap Penerimaan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dengan Metode Technology Acceptance Model (TAM) Systematic Literature Review (SLR)
Implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) telah menjadi kebutuhan mendasar dalam pengelolaan layanan kesehatan modern. Namun, keberhasilan penerapannya sangat dipengaruhi oleh tingkat penerimaan pengguna. Penerimaan sistem informasi, menurut Technology Acceptance Model (TAM), dipengaruhi oleh persepsi kegunaan (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan (perceived ease of use). Dalam konteks rumah sakit, faktor-faktor kinerja organisasi seperti efisiensi operasional, kualitas layanan, dan kinerja sumber daya manusia juga berperan penting. Kajian literatur ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis hubungan antara kinerja rumah sakit dan penerimaan SIMRS dengan pendekatan TAM. Penelusuran literatur dilakukan melalui Google Scholar, ScienceDirect, PubMed, dan repositori universitas Indonesia dengan rentang tahun 2018–2025. Sebanyak 246 artikel teridentifikasi, 62 artikel disaring melalui peninjauan judul dan abstrak, dan 18 artikel memenuhi kriteria inklusi. Hasil analisis menunjukkan bahwa kinerja rumah sakit berpengaruh terhadap penerimaan SIMRS baik secara langsung maupun melalui konstruk TAM. Faktor-faktor seperti dukungan manajemen, pelatihan, dan kualitas sistem terbukti memperkuat hubungan tersebut. Kesimpulan dari tinjauan ini menegaskan perlunya penguatan faktor organisasi untuk meningkatkan penerimaan SIMRS dan keberlanjutan kinerja rumah sakit
Analysis of the Effects of Employee Creativity Antecedents and Organizational Innovation with Initiative Culture as a Moderating Variable (Study on Employees of BPJS Kesehatan)
The underlying motivation for innovation in public sector organizations is to improve service and problem-solving. Creativity can be considered an important prerequisite for organizational innovation. This research is quantitative confirmatory, which aims to analyze the influence of employee creativity (knowledge sharing, person-organization fit, and business ethics) on organizational innovation with friendly-initiative culture as a mediating variable. Data collection in this study used non-probability sampling with a purposive sampling technique, with a total sample of 530 employees from the BPJS Kesehatan Head Office and six Regional Deputies who had been working for more than one year. Questionnaires were distributed online using the www.surveymonkey.com application. Data were analyzed using Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) with SmartPLS® version 3.2.8. The results showed that business ethics significantly influenced employee creativity, which in turn impacted organizational innovation, whereas knowledge sharing, person-organization fit, and initiative-friendly culture did not demonstrate significant effects in this research model
Pengembangan Metodologi Six Sigma Berbasis Dmaic dengan Pendekatan Internet of Things (IOT) Untuk Meningkatkan Pengendalian Mutu di Industri Manufaktur
In the manufacturing industry, quality control is a crucial factor in ensuring high-quality products that meet established standards. This study aims to develop a Six Sigma (SS) methodology with an Internet of Things (IoT) approach to enhance quality control effectiveness in the acrylic manufacturing industry. The method used in this study follows the DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) approach, combined with IoT technology to detect, analyze, and optimize the production process in real-time. This study employs a quantitative and qualitative (mixed-method) approach, collecting data through IoT sensor installations, production data analysis, and quality inspection. The collected data is analyzed using statistical methods and Six Sigma techniques to identify the main factors causing defects in acrylic production. Subsequently, an IoT system is implemented to improve automatic quality monitoring, reduce process variation, and optimize production efficiency. The research findings indicate that the integration of Six Sigma and IoT can significantly reduce product defect rates compared to conventional methods. Furthermore, the application of an IoT-based monitoring system enhances the speed of anomaly detection in the production process, allowing corrective actions to be taken more quickly and accurately. In conclusion, implementing this methodology can be an effective solution for the manufacturing industry to improve operational efficiency, reduce waste, and ensure consistent product quality
Substitusi Tepung Komposit Ubi Jalar Kuning (Ipomea Batatas L) Dan Tepung Kedelai Pada Pembuatan Snack Bar Bagi Balita Terhadap Mutu Protein, Mutu Fisik Dan Mutu Organoleptik
Snack bar merupakan salah satu camilan padat energi yang mudah dikonsumsi balita dan dapat menjadi sumber nutrisi tambahan dalam pemenuhan kebutuhan harian. Kombinasi bahan lokal seperti tepung ubi jalar kuning (Ipomea batatas L) dan tepung kedelai memungkinkan pengayaan kandungan protein, serat, serta peningkatan kualitas fisik dan karakteristik organoleptik produk. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh substitusi tepung ubi jalar kuning dan tepung kedelai terhadap mutu protein, mutu fisik, dan mutu organoleptik snack bar yang diformulasikan khusus untuk balita. Parameter mutu protein merujuk pada metode evaluasi kualitas protein. termasuk kandungan protein total dan potensi ketersediaan hayatinya. Selain itu, mutu organoleptik dianalisis dengan pendekatan sensoris berbasis panelis terlatih, sebagaimana direkomendasikan dalam penelitian-penelitian terkait persepsi sensorik makanan dan dinamika flavor. Hasil penelitian diharapkan menghasilkan formulasi snack bar alternatif yang lebih bergizi, aman, dan diterima oleh balita
Analisis Klasterisasi Spasial Penyakit Lepra Berbasis Indikator Makroekonomi Kabupaten/Kota di Indonesia
Penyakit lepra masih menjadi tantangan kesehatan strategis di Indonesia yang ditandai dengan disparitas antarwilayah yang signifikan dan berkaitan erat dengan determinan sosial-ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkomparasi kinerja algoritma K-Means dan Hierarchical Clustering dalam memetakan zonasi risiko lepra berbasis indikator makroekonomi (kapasitas fiskal, kemiskinan, keterbelakangan, dan pengeluaran) di 514 kabupaten/kota di Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif Data Mining yang meliputi normalisasi Euclidean, metode Elbow untuk penentuan klaster optimal, dan validasi model menggunakan Silhouette Coefficient. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Hierarchical Clustering memiliki nilai validitas statistik lebih tinggi (0.5357) dibandingkan K-Means (0.4354), K-Means dipilih sebagai model terbaik karena mampu menghasilkan distribusi spasial yang lebih proporsional dan menghindari pengelompokan outlier yang ekstrem. Penelitian ini mengidentifikasi tiga klaster berbeda: Zona Endemis Tinggi-Fiskal Kuat, Zona Tertinggal dengan potensi masalah kurang deteksi (under-detection), dan Zona Moderat. Kesimpulan penelitian mengungkap paradoks di mana beban lepra tertinggi justru ditemukan pada wilayah yang mapan secara ekonomi, mengindikasikan adanya ketimpangan internal, sementara wilayah tertinggal membutuhkan perbaikan infrastruktur deteksi. Temuan ini menjadi landasan bagi intervensi kebijakan yang berdiferensiasi.
Penyakit lepra masih menjadi tantangan kesehatan strategis di Indonesia yang ditandai dengan disparitas antarwilayah yang signifikan dan berkaitan erat dengan determinan sosial-ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkomparasi kinerja algoritma K-Means dan Hierarchical Clustering dalam memetakan zonasi risiko lepra berbasis indikator makroekonomi (kapasitas fiskal, kemiskinan, keterbelakangan, dan pengeluaran) di 514 kabupaten/kota di Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif Data Mining yang meliputi normalisasi Euclidean, metode Elbow untuk penentuan klaster optimal, dan validasi model menggunakan Silhouette Coefficient. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Hierarchical Clustering memiliki nilai validitas statistik lebih tinggi (0.5357) dibandingkan K-Means (0.4354), K-Means dipilih sebagai model terbaik karena mampu menghasilkan distribusi spasial yang lebih proporsional dan menghindari pengelompokan outlier yang ekstrem. Penelitian ini mengidentifikasi tiga klaster berbeda: Zona Endemis Tinggi-Fiskal Kuat, Zona Tertinggal dengan potensi masalah kurang deteksi (under-detection), dan Zona Moderat. Kesimpulan penelitian mengungkap paradoks di mana beban lepra tertinggi justru ditemukan pada wilayah yang mapan secara ekonomi, mengindikasikan adanya ketimpangan internal, sementara wilayah tertinggal membutuhkan perbaikan infrastruktur deteksi. Temuan ini menjadi landasan bagi intervensi kebijakan yang berdiferensiasi
Penyitaan Aset Digital (Crypto) Tersimpan dalam Cold Wallet dalam Tindak Pidana Pencucian Uang (Studi Putusan Nomor 1240/Pid.Sus/2022/PN TNG)
Permasalahan penelitian ini berangkat dari semakin meluasnya penggunaan aset digital (cryptocurrency) dalam tindak pidana pencucian uang, namun mekanisme penyitaan yang diatur dalam hukum positif Indonesia belum mampu menjangkau karakteristik aset digital, khususnya ketika aset tersebut tersimpan dalam cold wallet. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan kendala penyitaan aset kripto dalam cold wallet dan menjelaskan urgensi pembaruan regulasi serta paradigma hukum acara pidana agar dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan studi kasus. Data diperoleh melalui studi pustaka terhadap literatur hukum acara pidana, aset digital, teknologi blockchain, serta putusan pengadilan yang berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi khusus penyitaan aset kripto dalam cold wallet belum efektif meskipun secara formil sah menurut KUHAP, dan dapat menyebabkan ketidakharmonisan antara kebutuhan penegakan hukum dengan batasan normatif yang ada, karena aparat tidak dapat mengakses aset tanpa private key dan tidak memiliki pedoman teknis penyitaan aset digital. Penyitaan aset kripto dalam cold wallet menghadapi hambatan teknis dan yuridis akibat ketiadaan pengaturan eksplisit dalam KUHAP serta keterbatasan akses terhadap private key, sehingga diperlukan pembaruan paradigma dan regulasi yang mencakup aspek normatif, kelembagaan, dan teknologis guna menjamin efektivitas pemulihan aset, kepastian hukum, dan keadilan di era digital
Biko's edge: reimagining black critique
Tendayi Sithole shows just how original and radical Steve Biko's (1946–1977) thinking really was.
Sithole's Black Critique approach highlights how Biko's work tears apart comfortable liberal assumptions and forces us to think in new ways, to push boundaries and question what we take for granted. A focus of his analysis is what he calls Biko's generativity — how the South African activist's ideas keep sparking fresh insights and fresh challenges to conventional wisdom.
Examining Biko's edgy ideas of power and resistance, Sithole provides new insights into struggles in South Africa over land ownership, media control, shared resources, and even the historical record.
Tendayi Sithole is professor of political science at the University of South Africa.
The utilization of the concept of profession to understand social problems: sharing preliminary results from systematic review
The nature of work has experienced steady shifts that have accelerated over the last three decades, raising important sociological questions; for instance, what does this mean for individuals and groups, and their relation to society, markets and the political systems that contextualize attempts and opportunities for different forms of livelihood? The concept of profession has been a key construct for sociological analysis to understand, study and theorize the implications of such shifts in different countries, workplaces and even particular occupational groups. Studies of professions have thus contributed to knowledge in many ways, not only by highlighting the implications for individuals and groups within work contexts but also illustrating importantly how this relates or not to wider societal phenomena. However, there are strong contentions that because its function as a mechanism of social structure formation has weakened significantly over time, as a sociological category and construct, the concept of profession is no longer relevant in contemporary times. This paper shares preliminary results from a systematic review of literature on the application and conceptualization of the term profession between 2022 and 2023 to start engaging with the question of whether it has exhausted its sociological relevance. The findings suggest firstly that while there has been an overall decline in the utilization of profession-related terms, a slight increase in the utilization of profession is apparent. Secondly, in the reviewed papers, limited engagement with the conceptual underpinning of the construct exists. Finally, while critical engagement with the concept is not always apparent, most papers recognize a clear link between social phenomena and the role of the profession/s toward maintaining or dismantling such challenges in society.