Jurnal Online Poltekkes Kemenkes Pontianak
Not a member yet
    742 research outputs found

    Personal Hygiene terhadap Infeksi Pityriasis Versikolor pada Nelayan Di Desa Penjajap Kecamatan Pemangkat

    Get PDF
    Abstract: Pityriasis versicolor or better known as “panu†is a superfcial fungal infection characterized by changes in skin pigment due to Stratum corneum colonization by dimorphic lipophilic fungi from normal skin flora. Pitiriasis versicolor is an infectious disease that is estimated occur due to poor sanitation (personal hygine) and lack of clean water. This research was aimed to determine factors related to Pityriasis versicolor infection. It used retrospective design where researcher tried to looking back about the incident of Pitiriasis versicolor on 76 fshermen who choosen by using simple random sampling. Based on the result of reseach, it was determine that bath habit (p = 0,000), clothing hygiene (p = 0,839), towels cleanliness (p = 0,699), clean water supply (p = 0,000), home environment hygiene (p = 0,588), for p<0,05 then these factors were related to the occurrence of Pitiriasis versicolor infection on fshermen in Penjajap Village Pemangkat. Thus, it could be conclude that there was signifcant correlation between bath habit and clean water supply with the incidence of Pityriasis versicolor infection. While the cleanliness of clothing, cleanliness of towels, and cleanliness of the home environment is not associated with the incidence of Pityriasis versicolor infection. Abstrak: Pityriasis versikolor atau lebih dikenal dengan panu adalah infeksi jamur superfsial yang ditandai perubahan pigmen kulit akibat kolonisasi stratum korneum oleh jamur lipoflik dimorfk dari flora normal kulit. Pityriasis versikolor merupakan penyakit menular yang diperkirakan terjadi karena sanitasi (personal hygiene) yang buruk dan kurangnya air bersih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor personal hygiene terhadap infeksi pityriasis versikolor. Penelitian ini menggunakan rancangan retrospektif dimana peneliti berusaha melihat ke belakang (backward looking) terhadap kejadian pityriasis versikolor pada 76 nelayan yang terpilih sebagai responden dengan teknik simple random sampling. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kebiasaan mandi (p = 0,000), kebersihan pakaian (p = 0,839), kebersihan handuk (p = 0,699), persediaan air bersih (p = 0,000), kebersihan lingkungan rumah (p = 0,588), untuk p < 0,05 maka faktor-faktor tersebut berhubungan terhadap terjadinya infeksi pityriasis versikolor pada nelayan di Desa Penjajap Kecamatan Pemangkat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifkan antara kebiasaan mandi dan persediaan air bersih dengan kejadian infeksi pityriasis versikolor. Sedangkan kebersihan pakaian, kebersihan handuk, dan kebersihan lingkungan rumah tidak berhubungan dengan kejadian infeksi pityriasis versikolor

    Perbedaan Kadar Glukosa Darah 2 Jam Post Prandial

    Get PDF
    Abstract: One of the simple carbohydrates is glucose that acts as the main energy producer. The function of the body will be felicitous when blood glucose levels are within normal limits. Glucose removal levels are considered normal if glucose levels return to normal within 2 hours after it rises in the first hour. If the blood glucose level within 2 hours after given fed is abnormal, it can be done by Oral Glucose Tolerance Test to get additional information about the presence of carbohydrate metabolism disorders. This study was aimed to determine the difference of blood glucose levels within 2 hours postprandial between samples who given fed with loads of 75 grams glucose. The type of research used in this research was analytic observational with comparative study approach. Samples obtained 33 samples with treatment 4 times in each sample. The method used in this research was an enzymatic method. The results of this study showed the average blood glucose level within 2 hours postprandial which given fed with loads was 10.10% while the average measurement of blood glucose level within 2 hours postprandial loaded with 75 grams glucose was 7.61%. T-test obtained t value of 1.092 with a significant level at p = 0.284 (p> 0.05) so the conclusion there was no difference of blood glucose level within 2 hours postprandial between who given fed with loads of 75-gram glucose.Abstrak: Salah satu karbohidrat sederhana adalah glukosa yang berperan sebagai penghasil energi utama. Fungsi dari tubuh akan menjadi sangat baik apabila kadar glukosa darah berada pada batas yang normal. Kadar pembuangan glukosa dianggap normal jika kadar glukosa kembali normal dalam waktu 2 jam setelah kenaikan pada 1 jam pertama. Apabila kadar glukosa darah dalam waktu 2 jam setelah makan abnormal, maka dapat dilakukan Tes Toleransi Glukosa Oral untuk mendapatkan keterangan tambahan tentang adanya gangguan metabolisme karbohidrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar glukosa darah 2 jam post prandial antara yang diberi beban makanan dengan beban glukosa 75 gram. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan comparative study. Sampel didapatkan 33 sampel dengan perlakuan 4 kali pada setiap sampelnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode enzimatik. Hasil penelitian ini menunjukan rata-rata kadar glukosa darah 2 jam post prandial yang diberi beban makanan yaitu 10,10% sedangkan hasil pengukuran rata-rata kadar glukosa darah 2 jam post prandial yang diberi beban glukosa 75 gram yaitu 7,61%. Uji T-test didapatkan nilai t hitung sebesar 1,092 dengan tingkat signifkan pada p = 0,284 (p>0,05) sehingga Ha ditolak dengan kesimpulan tidak ada perbedaan kadar glukosa darah 2 jam post prandial antara yang diberi beban makanan dengan beban glukosa 75 gram

    Pengaruh Ekstrak Bunga Cengkeh (Syzygium Aromaticum) terhadap Zona Hambat Jamur Tricophyton Rubrum

    Get PDF
    Abstract: Clove flower (Syzygium aromaticum) is one type of traditional medicine. The active substance in clove flower is used as antimicrobial and cure skin diseases caused by Trichophyton rubrum fungus such as Tinea capitis, Tinea barbae and Tinea corporis. This study was aimed to determine the effect of various concentrations of clove flower extract (Syzygium aromaticum) with Trichophyton rubrum inhibition zone by the diffusion method. The method of this research was quasi-experimental. Sampling technique by purposive sampling. The sample used was n-hexane extract of clove flower obtained from maceration process made in 9 concentrations and dilution was done by using dimethyl sulfoxide 15%. Each consisted of clove flower extract with concentrations of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80% and 90%. The influence test using disc method or diffusion method then analyzed with Linear Regression Test. Based on the result of research from 9 concentrations, it can be seen that the widest obstacle zone was 11 mm at 10% concentration whereas the widest zone of resistance was 40 mm at 90% concentration. Statistical analysis showed the results (p = 0,000 <a 0.005) so it can be concluded there was the effect of various concentrations of clove flower extract (Syzygium aromaticum) to Trichophyton rubrum inhibition zone by the diffusion methodAbstrak: Bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) merupakan salah satu jenis obat tradisional. Zat aktif dalam bunga cengkeh digunakan sebagai antimikroba dan menyembuhkan penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur Trichophyton rubrum seperti Tinea kapitis, Tinea barbae dan Tinea korporis. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi ekstrak bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap zona hambat jamur Trichophyton rubrum dengan metode difusi. Metode penelitian ini adalah eksperimental semu. Teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Sampel yang digunakan adalah ekstrak n-heksana bunga cengkeh diperoleh dari proses maserasi yang dibuat dalam 9 konsentrasi dan dilakukan pengenceran menggunakan dimetil sulfoksida 15%. Masing-masing terdiri atas ekstrak bunga cengkeh dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80% dan 90% . Uji pengaruh menggunakan metode cakram atau metode difusi kemudian dianalisis menggunakan uji Regresi Linier. Berdasarkan hasil penelitian dari 9 konsentrasi dapat diketahui bahwa luas zona hambatan yang terendah yaitu 11 mm pada konsentrasi 10% sedangkan luas zona hambatan yang tertinggi yaitu 40 mm pada konsentrasi 90%. Analisis statistik menunjukkan hasil (p = 0,000 < a 0,005) sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh berbagai konsentrasi ekstrak bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap zona hambat jamur Trichophyton rubrum dengan metode difusi

    Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Anak Usia 6-59 Bulan

    Get PDF
    Abstract: Analyze Factors Related To The Nutrional Status On Children Aged 6-59 Months. Nutritional problem among infants is considered as the main health issue. Children under the age of 5 regarded to vulnerable age group. This study aimed at figuring out the  factors related to nutritional status of children aged 6-59 months at publich health centre in North Singkawang in Singkawang city. Cross sectional approach was carried out in this study. As many as 96 children aged 6-59 months were employed as the samples.  This study was conducted from March to may 2014. Meanwhile, proportional random sampling was utilized as the data collection technique. Then, the data were statistically analyzed by using chi square test.The study revealed were significant correlation of maternal education (p value=0,000), maternal nutritional knowledge (p value=0,022), parenting styles (p value=0,000), infectious disease (p value=0,000), energy intake (p value=0,000), protein consumption (p value=0,000), and nutritional status of children aged 6-59 months at publich health centre in Singkawang Utara. There were correlation of maternal age during pregnancy (p value= 0,877), number of children (p value=0,938), eating pattern p value=0,688), and nutritional status of children. Suggestion As a result, local institutions and public health centers are encouraged to enhance  health information, particularly infants nutrition. Therefore, mothers with children under the age of 5 become aware of the nutritional status of their children.Abstrak: Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Anak Usia 6-59 Bulan. Masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan terutama anak balita, karena balita merupakan kelompok rawan. Penelitian bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi anak usia 6-59 bulan di Puskesmas Kecamatan Singkawang Utara Kota Singkawang. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 96 balita usia 6-59 bulan yang dilaksanakan bulan Maret sampai dengan Mei 2014. Teknik pengambilan sampel proporsional random sampling. Pengolahan dan analisa data menggunakan komputerisasi. Uji statistik yang digunakan uji chi square.Ha sil penelitian menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu (p value=0,000), pengetahuan gizi ibu (p value=0,022), pola asuh (p value=0,000), penyakit infeksi (p value=0,000), asupan energi (p value=0,000) dan asupan protein (p value=0,000) dengan status gizi balita di Puskesmas Kecamatan Singkawang Utara Kota Singkawang dan tidak ada hubungan yang bermakna antara umur ibu saat hamil (p value=0,877), jumlah anak (p value=0,938) dan pola makan (p value=0,668) dengan status gizi balita.Disarankan pada ibu yang memiliki balita untuk bisa lebih meningkatkan pengetahuan melalui membaca buku menu seimbang dan media informasi seperti televisi, majalah, internet dll. Serta meningkatkan konsumsi Energi sebanyak 1600 gr/hr, Protein sebanyak 35 gr/hr (AKG, 2013).Â

    Faktor Frekuensi Kunjungan Lansia Ke Posyandu Lansia Di Kecamatan Pontianak Timur

    Get PDF
    Abstract: Factor Of Elderly Frequency Visits In Elderly Integrated Service Post Of East Pontianak District. Indonesia’s elderly population has increased but their health condition is still considered low. In this regard, the government has conducted a special program, namely IHC for elderly, in certain areas and run by the local community, so that they can get health care easily. However, the frequency of the elderly health visit still lows with an average visit of 41.76%. This number is still far from the target that has been set by the Health Department (80%). This study aimed to determine factors of elderly frequency visit the in integrated health care centre of East Pontianak district. Using cross-sectional approach, 75 respondents participated as the samples. They were selected by using purposive sampling technique. The data were statistically analyzed by using chi-square test. The study revealed that there was a correlation of elderly knowledge (p=0,035), family support (p= 0,024) with elderly frequency in visiting the integrated service post centre of East Pontianak district. The variables that didn’t correlate with elderly frequency in visiting the integrated service post centre were elderly perception and distance. From the findings, health workers need to encourage the elderly to be more active in visiting the health center.Abstrak: Faktor Frekuensi Kunjungan Lansia Ke Posyandu Lansia Di Kecamatan Pontianak Timur. Jumlah penduduk lansia di Indonesia telah meningkat dan kesehatan lansia masih rendah, pemerintah mengadakan program khusus yaitu Posyandu Lansia di daerah tertentu yang telah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat di mana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Namun, frekuensi kunjungan lansia ke Posyandu di beberapa posyandu masih rendah dengan rata-rata kunjungan yaitu, 41,76% hal ini masih jauh dari target yang telah di tetapkan oleh dinas kesehatan yaitu 80%. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan frekuensi kunjungan lansia ke posyandu lansia di Kecamatan Pontianak Timur. Metode penelitian dengan desain Cross Sectional, Sampel sebanyak 75 responden diambil dengan teknik purposive sampling. Teknik analisis data dengan menggunakan uji statistik chi-sqaure. Hasil penelitian ada hubungan antara pengetahuan lansia (p=0,035, dukungan keluarga (p= 0,024) dengan frekuensi (keteraturan) kunjungan lansia ke posyandu lansia. faktor yang tidak berhubungan antara lain persepsi lansia, jarak. Disarankan kepada petugas kesehatan atau Puskesmas untuk terus meningkatkan sosialisasi dan motivasi untuk para lansia agar lebih aktif berkunjung ke posyandu lansia

    Efektivitas Pemanfaatan Sampah Merang Padi (Oryza Sativa} sebagai Pengawet Mie Tiaw Basah

    No full text
    Abstract: Effectiveness Of Rice Straw Waste As Wet Tiaw Noodle Preservative. One of common food in community of West Kalimantan is wet noodles. Wet noodles moisture content can reach 52% so that the endurance or durability is quite short. This research was aimed to analyze the effectiveness of the concentration of ki water as a natural preservative in wet tiaw noodles by looking at the number of bacteria. This research is an experiment with a completely randomized design (CRD) for homogeneous study group. Sampling was done by purposive sampling (30 samples) with concentration 0,5 %, 1 %, 1,5 %, 2 % and 2,5 %. The data were analyzed by using one way ANOVA and benferony to identify the most effective concentration. Results of statistical analysis showed no difference in the number of germs on wet noodles that do not use and use ki water for wet tiaw noodles with p value of 0.000. But there are also results of statistical tests showed no difference in the number of germs in ki water concentration 0.5% and 1%, 1.5% and 2% and 2% and 2.5%. The most effective of ki water concentration was 2.5%.Abstrak: Efektivitas Pemanfaatan Sampah Merang Padi Sebagai Pengawet Mie Tiaw Basah. Salah satu produk pangan yang umum di kalangan masyarakat Kalimantan Barat adalah mie tiaw. Kadar air mie tiaw dapat mencapai 52% sehingga daya tahan cukup singkat. Tujuan penelitian adalah menganalisis efektivitas konsentrasi air ki sebagai pengawet alami pada mie tiaw basah dengan melihat angka kuman. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) karena kelompok penelitian homogen. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah sampel 30 sampel dengan konsentrasi air ki 0,5 %, 1 %, 1,5 %, 2 % dan 2,5 %. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik one way anova dilanjutkan uji bonferroni untuk megetahui konsentrasi yang paling efektif. Hasil penelitian ada perbedaan angka kuman antara mie tiaw yang tidak menggunakan dan menggunakan air ki (p value <0,05). Namun terdapat juga hasil uji statistik yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan angka kuman pada mie tiaw konsentrasi air ki 0,5% dan 1%, 1,5% dan 2% serta 2% dan 2,5%. Konsentrasi air ki yang paling efektif adalah 2,5%

    Pengaruh Promotional Mix terhadap Loyalitas Pasien Poliklinik Obstetri dan Ginekologi RSIA Annisa

    Get PDF
    Abstract: Analysis Of Promotional Mix Effect On Patient Loyalty In Obstetrics And Gynaecology Outpatient Unit In RSIA Annisa. The decrease in the number of patient visits reinforces the indication of patient loyalty in Obstetric and Gynecology Polyclinics at RSIA Annisa Jambi decreased. This study aims to determine the value of promotional mix (marketing communication) associated with patient loyalty. This type of observational research with a cross sectional approach. The variables studied include personal communication, advertising, publicity and public relations, learning materials, corporate design and patient satisfaction. The data were analyzed quantitatively with univariate, bivariate and multivariate methods with logistic regression analysis test with qualitative analysis (content analysis). The result of the research shows that less perception at personal communication 62%, less perception at advertising 55%, less perception at publicity and public relation equal to 63%, less perception at learning material equal to 54%, less perception at corporate design 53% and less perception on patient satisfaction of 72%. The results of the analysis show that personal communication, advertising, publicity and public relations, learning materials, corporate design and patient satisfaction affect patient loyalty. Personal communication has the strongest influence while publicity and public relations have the weakest effect on patient loyalty. Suggested management RSIA Annisa Jambi to improve personal communication of midwife and sms gateway.Abstrak: Pengaruh Promotional Mix Terhadap Loyalitas Pasien Poliklinik Obstetri Dan Ginekologi RSIA Annisa. Penurunan jumlah kunjungan pasien memperkuat indikasi loyalitas pasien di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi di RSIA Annisa Jambi menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai promotional mix (bauran komunikasi pemasaran) dikaitkan dengan loyalitas pasien. Jenis penelitian observasional dengan pendekatan Cross-sectional. Variabel yang diteliti meliputi komunikasi personal, periklanan, publisitas dan hubungan masyarakat, materi pembelajaran, rancangan korporat dan kepuasan pasien. Data dianalisis secara kuantitatif dengan metode univariat, bivariat dan multivariate dengan uji analisis regresi logistik dilengkapi dengan analisis secara kualitatif (content analysis). Hasil penelitian didapat persepsi kurang baik pada komunikasi personal sebesar 62%, persepsi kurang baik pada periklanan sebesar 55%, persepsi kurang baik pada publisitas dan hubungan masyarakat sebesar 63%, persepsi kurang baik pada materi pembelajaran sebesar 54%, persepsi kurang baik pada rancangan korporat sebesar 53% dan persepsi kurang baik pada kepuasan pasien sebesar 72%. Hasil analisis menunjukkan bahwa komunikasi personal, periklanan, publisitas dan hubungan masyarakat, materi pembelajaran, rancangan korporat dan kepuasan pasien berpengaruh terhadap loyalitas pasien. Komunikasi personal memiliki pengaruh yang paling kuat sedangkan publisitas dan hubungan masyarakat memiliki pengaruh yang paling lemah terhadap loyalitas pasien. Disarankan manajemen RSIA Annisa Jambi untuk meningkatkan komunikasi personal bidan dan sms gateway

    Faktor-Faktor Individu yang Berhubungan dengan Pelaksanaan Manajemen Terpadu Balita Sakit Di Sambas

    Get PDF
    Abstract: Individual Factors Related To Implementation Of Integrated Management Of Childhood Illness (IMCI) In Sambas. Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) is one of the government programs aimed at improving officer skills, strengthening health systems and improving care capabilities by families and communities. A public health centre is said to have implemented IMCI if it meets the criteria of carrying out IMCI at least 60% of the number of visits. Achievement of Implementation of IMCI at the public health centre in Sambas district in 2014 is still below 60%. Conducted research to determine the correlation between knowledge factor, performance and motivation toward the implementation of IMCI in public health centre Sambas District. This research was analytical descriptive with the cross-sectional design. The subjects of the study were the staff of the public health centre in Sambas district were 40 respondents. Data collection was done by using primary data through a checklist. Data were analyzed using univariate analysis with frequency distribution table and bivariate analysis using chi-square test. The result of bivariate analysis with chi-square test and significance of alpha 0,05 found no correlation between age (p-value = 0,905), knowledge (p-value = 0,064) and performance (p-value = 0,057) with IMCI implementation. Motivation factor (p-value = 0,013) had significant relation with IMCI implementation.Absrak: Faktor-Faktor Individu Yang Berhubungan Dengan Pelaksanaan Manajemen Terpadu Balita Sakit Di Sambas.Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan petugas, memperkuat sistem kesehatan serta meningkatkan kemampuan perawatan oleh keluarga dan masyarakat. Puskesmas dikatakan sudah menerapkan MTBS apabila memenuhi kriteria melaksanakan MTBS minimal 60% dari jumlah kunjungan. Pencapaian Pelaksanaan MTBS pada puskesmas di wilayah Kecamatan Sambas tahun 2014 masih di bawah 60 %. Dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan faktor-faktor individu berupa pengetahuan, kinerja dan motivasi terhadap pelaksanaan MTBS di Puskesmas Wilayah Kecamatan Sambas. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah petugas Puskesmas wilayah kerja Puskesmas Sambas berjumlah 40 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan data primer melalui cheklist. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dengan tabel distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil analisis bivariat dengan uji chi-square dan kemaknaan alpha 0,05 didapatkan tidak ada hubungan antara umur (p value = 0,905), pengetahuan (p value=0,064) dan kinerja (p value=0,057) dengan pelaksanaan MTBS. Faktor motivasi (p value= 0,013) mempunyai hubungan signifikan dengan pelaksanaan MTBS

    Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Gangguan Fungsi Paru pada Pekerja Pengelasan Di Kota Pontianak

    Get PDF
    Abstract:  One of the wastes material from the welding process is particulate that has exposure potential to workers. This study was aimed to measure pulmonary function disorders on welding workers and factors influencing it in Pontianak City. This research was an observational research using cross-sectional design, with 78 samples of worker were taken by random sampling. Data of respirable welding dust levels were obtained by measurement using personal dust sampler, while pulmonary function disorder data obtained by examining the pulmonary function of workers using spirometry, and other data obtained by interview. Data analyzed by univariate and bivariate analysis with Kendall-tau and chi-square (α = 0,05). Result of study showed that respirable dust still below threshold limit value (TLV = 3 mg/m3), the highest = 2,791 mg/m3, the lowest = 0,085 mg/m3, mean = 0,83 mg/m3 and SD = 0,70, and 59 respondents (75.6%) had pulmonary function disorders. Statistical test results showed there was significant association between level of respirable dust (p-value = 0,001), and working hour/day (p-value = 0,008, OR = 6,321, 95%CI = 1,663-24,026 with pulmonary function disorders. Conclusion of this study was respirable dust level and duration of exposure were potential factors of pulmonary function disorders in welding workers in Pontianak City.Abstrak: Salah satu bahan buangan dari proses pengelasan adalah partikulat yang berpotensi menimbulkan paparan pada pekerjanya. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengukur gangguan fungsi paru pada pekerja pengelasan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di Kota Pontianak. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional, dengan jumlah sampel 78 pekerja diambil secara random sampling. Data kadar debu las terhirup diukur menggunakan personal dust sampler, sedangkan data fungsi paru pekerja diukur menggunakan spirometri, dan untuk data lain diperoleh melalui wawancara. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Kendall-tau dan Chi-square (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan kadar debu terhirup masih dibawah Nilai Ambang Batas (NAB = 3 mg/m3), tertinggi = 2,791 mg/m3, terendah = 0,085 mg/m3, rata-rata = 0,83 mg/m3 dengan standar deviasi 0,70 dan sebanyak 59 responden (75,6%) mengalami gangguan fungsi paru. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara kadar debuterhirup (p-value = 0,001) dan lama paparan (p-value = 0,008, OR = 6,321, 95%CI = 1,663-24,026) dengan gangguan fungsi paru. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kadar debu terhirup dan lama paparan merupakan faktor potensial terjadinya gangguan fungsi paru pada pekerja pengelasan di Kota Pontianak

    Perbedaan Teknik Relaksasi dan Terapi Musik terhadap Kecemasan Pasien Operasi Sectio Caesarea

    Get PDF
    Absract: The Difference Between Relaxation Techniques And Music Therapy To The Anxiety Of Patiens Of Sectio Caesarean Surgery. Surgery provides a stressor for the patient because it can bring potential and actual threats to body, integrity and soul of a person. The cause of anxiety in patients with sectio caesarean pre surgery is more specific that concerns on themselver and babiesto be born. One of the actions to overcome anxiety problems in patients can be self-directed actions by nurses such as relaxation techniques and distractions. This study was aimed to determine the difference between the provision of relaxation techniques and music therapy to anxiety of patients of sectio caesarean surgery at RSU PKU Yogyakarta. It used quasi experimental method with pre test and post test design, in 74 population of pre surgery section cesarean, with purposive sampling technique. Obtained results, effective relaxation decreases anxiety of patients with cesarean section surgery with significance (p=0.000). Similarly, effective music therapy decreased anxiety with significance (p=0.000), so there was no difference in decreased anxiety after giving deep breathing relaxation technique and music therapy with significance (p=0.317). Concluded that deep breathing relaxation and music therapy alike can decreaseanxiety of patients undergoing cesarean section surgery but there was no difference in decreased anxiety after giving deep breathing relaxation techniques and music therapy.Abstrak: Perbedaan Teknik Relaksasi Dan Terapi Musik Terhadap Kecemasan Pasien Operasi Sectio Caesarea. Tindakan pembedahan memberikan stressor tersendiri bagi pasien karena dapat mendatangkan ancaman potensial dan aktual terhadap tubuh, integritas dan jiwa seseorang. Penyebab kecemasan pada pasien pre-operasi sectio caesarea lebih spesifik yakni kekhawatiran akan diri dan bayi yang akan dilahirkan. Salah satu tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah kecemasan pada pasien dapat berupa tindakan mandiri oleh perawat seperti teknik relaksasi dan distraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara pemberian teknik relaksasi dan terapi musik terhadap kecemasan pasien operasi sectio caesarea di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Digunakan metode kuasi eksperimen dengan pre-test and post-test design, pada 74 populasi pre-operasi sectio caesarea, dengan teknik pengambilan purposive sampling. Diperoleh hasil penelitian, relaksasi efektif menurunkan kecemasan pasien operasi sectio caesarea dengan signifikansi (p=0,000). Demikian juga terapi music efektif menurunkan kecemasan dengan signifikansi (p=0,000), sehingga tidak ada perbedaan penurunan kecemasan sesudah pemberian teknik relaksasi nafas dalam dan terapi musik dengan signifikansi (p=0,317). Dapat disimpulkan relaksasi nafas dalam dan terapi musik sama-sama dapat menurunkan kecemasan pasien yang menjalani operasi sectio caesarea namun tidak terdapat perbedaan penurunan kecemasan sesudah pemberian teknik relaksasi nafas dalam dan terapi musik.Â

    605

    full texts

    742

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Poltekkes Kemenkes Pontianak
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇