Jurnal Online Poltekkes Kemenkes Pontianak
Not a member yet
742 research outputs found
Sort by
Determinan yang Mepengaruhi Kejadian Anemia pada Mahasiswi Kebidanan
Abstract: Determinants That Affect The Incidence Of Anemia In Midwifery Students. Anemia is a condition where the hemoglobin (Hb) level is lower than the normal value, which is characterized by lethargy, dizziness, dizzy eyes, and pale face. The purpose of this study was to determine the relationship eat patterm, menstrual pattern and body mass index (BMI) with the incidence of anemia in female students of Midwifery Level II. This research was a quantitative research with cross-sectional approach. Data collection techniques used structured questionnaires. Total sampling was used, 82 respondents. Data analysis with univariate and bivariate using chi-square test. The results showed that there was a significant relationship eat pattern (p-value = 0,016 and OR=1,01), menstrual pattern (p-value = 0,023 and OR=4,34), BMI (p value= 0,034 and OR=2,57) with the incidence of anemia in midwifery students.Abstrak: Determinan Yang Mepengaruhi Kejadian Anemia Pada Mahasiswi Kebidanan. Anemia adalah keadaan kadar hemoglobin (Hb) lebih rendah dari nilai normal, yang ditandai dengan lesu, pusing, mata berkunang-kunang, dan wajah pucat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan pola makan, pola menstruasi dan indeks masa tubuh (IMT) dengan kejadian anemia pada mahasiswi Kebidanan Tingkat II. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur. Pengambilan sampel menggunakan total sampling sebanyak 82 responden. Analisis data secara univariat dan bivariat menggunakan Uji Chi Square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan (nilai p=0,016 dan OR=1,01), pola menstruasi (nilai p=0,023 dan OR=4,34), IMT (nilai p=0,034 dan OR=2,57) dengan kejadian anemia pada mahasiswa kebidana
Perbedaan Kadar Asam Lemak Bebas Pada Minyak Goreng Yang Mengalami Pemanasan Ulang Dengan Penambahan Bawang Merah (Allium Cepa) Dan Bawang Putih (Allium Sativum)
Abstract: Cooking oil generally can be used for 3-4 times frying. If it used repeatedly, oil will be changed in color. When frying process, double bonds in unsaturated fatty acids will break and formed saturated fatty acids. A qualified oil was contained unsaturated fatty acid more than its saturated fatty acids. The use of oil many times will lead the oil double bond oxidized and form the peroxide group and cyclic monomer, such oil reported damage and harm our health. A higher temperature and a longer time of heating, saturated fatty acids level will be increased. Beside repeatedly frying, oil can be damaged by wrong storage for certain period, consequently triglyceride bond broke and form into glycerol and free fatty acids (FFA). Red onion and garlic contain high antioxidant. The benefits that make them become phenomenal in medical research is their potency in against cancer and other dangerous diseases. They also can be used as crucial antioxidant sources in the fight against free radicals in body. Based on study results showed that the average of free fatty acids (FFA) in used cooking oil that added by garlic was 5,29% and red onion was 5,22%. Statistical test gained by computerized data processing with t-test p value>0,05 so it can be concluded that Ha refused by meaning that there was not a difference between number of FFA in used cooking oil which added garlic and red onion. Abstrak: Minyak goreng biasanya bisa digunakan hingga 3 - 4 kali penggorengan. Jika digunakan berulang kali, minyak akan berubah warna. Saat penggorengan dilakukan, ikatan rangkap yang terdapat pada asam lemak tak jenuh akan putus membentuk asam lemak jenuh. Minyak yang baik adalah minyak yang mengandung asam lemak tak jenuh yang lebih banyak dibandingkan dengan kandungan asam lemak jenuhnya. Penggunaan minyak berkali-kali akan membuat ikatan rangkap minyak teroksidasi membentuk gugus peroksida dan monomer siklik, minyak yang seperti ini dikatakan telah rusak dan berbahaya bagi kesehatan. Suhu yang semakin tinggi dan semakin lama pemanasan, kadar asam lemak jenuh akan semakin naik. Selain karena penggorengan berkali-kali, minyak dapat menjadi rusak karena penyimpanan yang salah dalam jangka waktu tertentu sehingga ikatan trigliserida pecah menjadi gliserol dan asam lemak bebas. Bawang merah dan bawang putih sangat tinggi akan kandungan antioksidannya. Manfaat bawang merah dan bawang putih yang membuatnya fenomenal di dunia medis adalah kemampuannya dalam memerangi kanker dan berbagai penyakit berbahaya. Ia juga dapat dijadikan sumber antioksidan yang sangat ampuh untuk memerangi radikal bebas di dalam tubuh. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kadar rata-rata kadar asam lemak bebas pada minyak goreng bekas yang ditambahkan bawang putih sebesar 5,29% dan bawang merah sebesar 5,22%. Hasil uji statistic diperoleh pengolahan data secara komputerisasi melalui uji-t diperoleh nilai p > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha ditolak yang artinya tidak terdapat perbedaan kadar bilangan asam lemak bebas pada minyak goreng bekas yang ditambahkan bawang putih dan bawang merah
Hubungan Kadar Kolesterol Total Dan Hipertensi Dengan Kejadian Penyakit Jantung Koroner DI RSUD dr. Soedarso Pontianak
Abstract: Coronary heart is a disease that offense to blood vessels and heart attack due to constriction of blood vessels. A high level of cholesterol in blood or exceeds the normal limit can form sediment in wall of blodd vessels which cause blood vessels constriction or blockage. This research object to determine whether there is a correlation between cholesterol level total and hypertension with coronary heart disease in patients who hospitalized in Regional Public Hospital of dr. Soedarso Pontianak. This study was used cross sectional design, purposive sampling technique, it gained 50 people as samples. The measurement of blood pressure was done in heart poly and cholesterol total level in clinic laboratory of Regional Public Hospital of dr. Soedarso by using enzymatic CHOD-PAP method. It can be obtained that 10 people had hypertension and 40 people did not.the average of total cholesterol was 224 mg/dl. Maximum value of total cholesterol was 224 mg/dl and 152 mg/dl as minimum value. Data has been analyzed by using statistical test, Chi-Square, to determine the correlation of total cholesterol wit coronary heart disease, obtained p value=0,024 (less than α=0,05). Correlation of hypertension and coronary heart disease gained p value=0,923 (more than α=0,05), it can be concluded that total cholesterol correlated with coronary heart disease, and there was not a correlation between hypertension and coronary heart disease.Abstrak: Jantung koroner adalah penyakit yang menyerang pembuluh darah dan serangan jantung, karena penyempitan pada pembuluh darah. Kadar kolesterol yang tinggi dalam darah melebihi normal dapat membentuk endapan pada dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan penyempitan dan tersumbatnya pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar kolesterol total dan hipertensi dengan penyakit jantung koroner pada pasien di RSUD dr. Soedarso Pontianak. Disain penelitian ini menggunakan cross sectional, teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling, didapat jumlah sampel 50 orang. Pengukuran Tensi Darah dilakukan di poli Jantung dan pemeriksaan kadar kolesterol total di laboratorium klinik RSUD dr. Soedarso Pontianak dengan metode enzimatik CHOD-PAP. Hasil penelitian didapatkan 10 orang mengalami hipertensi dan 40 orang non hipertensi. Rata-rata kadar kolesterol total 224 mg/ dl. Nilai maksimum kadar kolesterol total yaitu 224 mg/dl dan nilai minimum yaitu 152 mg/dl. Analisa data dengan uji statistik Chi-square untuk mengetahui hubungan kolesterol total dengan penyakit jantung koroner didapatkan nilai p = 0,024 (lebih kecil dari α 0,05). Uji hubungan hipertensi dengan penyakit jantung koroner didapat nilai p = 0,923 (lebih besar dari α 0,05), dapat disimpulkan terdapat hubungan kadar kolesterol total dengan penyakit jantung koroner dan tidak ada hubungan hipertensi dengan penyakit jantung koroner
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Di Rumah Tangga Di Wilayah Kerja Upk Puskesmas Telaga Biru Kelurahan Siantan Hulu Pontianak Utara
Abstrak: Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pelaksanaan Perilaku Hidup  Bersih dan Sehat (PHBS) Rumah Tangga di Wilayah Kerja UPK Puskesmas Telaga Biru Kelurahan Siantan Hulu Pontianak Utara.Jenis penelitian ini Observasional dengan pendekatan Crossectional. Hasil Penelitian adalah untuk variable Pendidikan dan status ekonomi tidak ada hubungan yang signifikan dengan pelaksanaan PHBS di Rumah Tangga di Wilayah Binaan Puskesmas Telaga Biru (p=0.295). sedang untuk variable Pengetahuan, Sikap, Petugas kesehatan dan Tokoh masyarakat diperoleh hasil ada hubungan yang signifikan terhadap Pelaksanaan PHBS di Rumah Tangga. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut: Pada institusi/ Petugas kesehatan untuk berupaya meningkatkan lagi penyuluhan kesehatan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam lingkungan rumah.  Abstract: Factors Related to The Implementation of Behavior and Healthy Living in Household Work in The Health UPK Telaga Blue Village North Pontianak Siantan Hulu. The study is observational with cross sectional approach. The results are for education and economic status variables no significant association with the implementation of PHBs in Households in Blue Lake Regional Health Center Patronage (p = 0295). being for variable Knowledge, Attitude, Health care workers and public figures obtained from the result is a significant relationship to the Implementation of PHBs in Household.Based on the research suggested some of the following: At the institution/health officer to attempt to further increase health education regarding Behavior Clean and Healthy Lifestyle (PHBs) in a home environment.Abstrak: Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pelaksanaan Perilaku Hidup  Bersih dan Sehat (PHBS) Rumah Tangga di Wilayah Kerja UPK Puskesmas Telaga Biru Kelurahan Siantan Hulu Pontianak Utara.Jenis penelitian ini Observasional dengan pendekatan Crossectional. Hasil Penelitian adalah untuk variable Pendidikan dan status ekonomi tidak ada hubungan yang signifikan dengan pelaksanaan PHBS di Rumah Tangga di Wilayah Binaan Puskesmas Telaga Biru (p=0.295). sedang untuk variable Pengetahuan, Sikap, Petugas kesehatan dan Tokoh masyarakat diperoleh hasil ada hubungan yang signifikan terhadap Pelaksanaan PHBS di Rumah Tangga. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut: Pada institusi/ Petugas kesehatan untuk berupaya meningkatkan lagi penyuluhan kesehatan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam lingkungan rumah. Abstract: Factors Related to The Implementation of Behavior and Healthy Living in Household Work in The Health UPK Telaga Blue Village North Pontianak Siantan Hulu. The study is observational with cross sectional approach. The results are for education and economic status variables no significant association with the implementation of PHBs in Households in Blue Lake Regional Health Center Patronage (p = 0295). being for variable Knowledge, Attitude, Health care workers and public figures obtained from the result is a significant relationship to the Implementation of PHBs in Household.Based on the research suggested some of the following: At the institution/health officer to attempt to further increase health education regarding Behavior Clean and Healthy Lifestyle (PHBs) in a home environment
Pendidikan Gizi Melalui Permainan Wayang terhadap Peningkatan Konsumsi Sayur dan Buah
Abstract: Nutrition Education Through Puppet Game To Increase Consumption Of Vegetables And Fruits In Children Kindergarten.The consumption of vegetables and fruit is one indicator of nutritional balance. The statistical data show there are 60.44% of Indonesia that are less consuming vegetables and fruit. Fiber on vegetable and fruit are very useful for the body. Efforts to improve nutritional knowledge can preserve out through media which are suitable for children, that are attractive and easy to understand such as puppet and ladders game. This research aims to analyze the influence of the nutritional education through the game puppet to increase vegetable and fruit consumption for kindergarten children (TK). This is a pre-research experiment. One group pre-post test. Data analysis in this study uses the sample of this research is the Mina Muda kindergarten children from Kabupaten Kubu Raya that accounted 33 people in accordance with population. The technique of data collection from the questionnaire is based on the direct interviews, it aims to investigate the difference in vegetable consumption on kindergarten children before nutrition education is 5,64 while after nutrition is increase to 10,85. Whereas for fruit consumption for kindergarten children before education is 5,18 whereas after education is significantly increase to 15,00. The result revealed that there is an increment of vegetable and fruit consumption after nutrition education through puppet game (p =0,000) it concludes that nutritional education through puppet gameplay on an important role to increase the consumption of fruit and vegetables for kindergarten childrenAbstrak: Pendidikan Gizi Melalui Permainan Wayang Terhadap Peningkatan Konsumsi Sayur Dan Buah. Konsumsi sayur dan buah yang cukup merupakan salah satu indikator gizi seimbang. Masyarakat Indonesia (60,44%) kurang mengkonsumsi sayur dan buah. Kandungan serat pada sayur dan buah sangat berguna bagi tubuh. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan gizi dapat dilakukakan dengan media yang tepat, menarik, dan mudah dipahami bagi anak diantaranya permainan wayang. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pendidikan gizi melalui permainan wayang untuk meningkatkan konsumsi sayur dan buah pada anak taman kanak-kanak (TK). Penelitian ini merupakan pre-eksperimen. one group pre-post test. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji Paired Sample T-test. Subjek penelitian ini adalah anak taman kanak-kanak Mina Muda Kabupaten Kubu Raya berjumlah 33 sesuai dengan total populasi. Teknik pengumpulan pengisian kuesioner dipilih dengan wawancara langsung, untuk melihat perbedaan konsumsi sayur dan buah. Rata-rata konsumsi sayur pada anak taman kanak-kanan sebelum pendidikan gizi 4,64 sesudah pendidikan gizi 10,85. Konsumsi buah pada anak taman kanak-kanak sebelum pendidikan 5,18 sesudah pendidikan mengalami kenaikan menjadi 15,00. Menyatakan bahwa ada perbedaan konsumsi sayur sesudah pendidikan gizi melalui permainan wayang (p=0,000). Terdapat pengaruh signifikan konsumsi buah melalui permaianan wayang f (p=0,000). Pendidikan gizi melalui permaianan wayang mampu meningkatkan konsumsi sayur dan buah pada anak taman kanak-kanak
Perbedaan Hasil Pemeriksaan Mikro Hematokrit Menggunakan Makrosentrifus Dengan Mikrosentrifus
Abstract: Hematocrit measurement is one of the most commonly special blood examination in laboratory to help in diagnosing various kind of diseases. Determination of hematocrit value can be done by macro and micro method. Macrocentrifus is multi function centrifuge with rotation speed reach to 3000 rpm for 30 minutes. Microcentrifus is a centrifuge for hematocrit only that used microcapiler tube with rotation speed of 1600 rpm for 5 minutes. This study aimed to identify the different hematocrit measurement micro method between macrocentrifus and microcentrifus. This study was type of analytical observation with research design was cross sectional approach. The study was done in June 2013. Sampling technique that has been applied was total population technique. Result in 48 samples accomplished the average of hematocrit measurement micro method in macrocentrifus was 43,33% meanwhile in microcentrifus was 42,85%. Data of study result analyzed by using t test in statistical program in order to determine whether there was a difference between those variables or not. Result analysis gained p value=0,000 (0,001) in 95% confidential interval due to p value 0,001< 0,05 consequently H0 refused and Ha accepted meaning that there was a significant difference between micro hematocrit result by using macrocentrifus and microcentrifus.Abstrak: Pemeriksaan hematokrit merupakan salah satu pemeriksaan darah khusus yang sering dikerjakan di laboratorium berguna untuk membantu diagnosa berbagai penyakit. Penetapan nilai hematokrit dapat dilakukan dengan cara makro dan mikro. Makrosentrifus adalah sentrifus multi fungsi dengan kecepatan pemusingan 3000 rpm selama 30 menit. Mikrosentrifus adalah sentrifus yang hanya digunakan untuk hematokrit yang menggunakan tabung mikrokapiler dengan kecepatan pemusingan 16000 rpm selama 5 menit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan hematokrit metode mikro menggunakan makrosentrifus dan mikrosentrifus. Jenis penelitian ini adalah observasi analitik dengan desain penelitian pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan bulan Juni 2013. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik total populasi. Hasil penelitian pada 48 sampel didapatkan rata-rata hasil pemeriksaan hematokrit metode mikro menggunakan makrosentrifus adalah 43,33% dan dengan mikrosentrifus adalah 42,85%. Data hasil penelitian dianalisa dengan uji t menggunakan program SPSS yang bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan pada kedua variabel tersebut. Hasil analisis didapatkan nilai p = 0,000 (0,001) pada tingkat kepercayaan 95% Karena nilai p 0,001< 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima  artinya ada perbedaan yang bermakna antara hasil pemeriksaan mikro hematokrit menggunakan makrosentrifus dengan mikrosentrifus
Rancangan Ovitrap Mix Sticky-Autocidal Untuk Menurunkan Densitas Larva Dan Virus Dengue Di Wilayah Endemis DBD Kota Pontianak
Abstrak: Rancangan Ovitrap Mix Sticky-Autocidal untuk Menurunkan Densitas Larva dan Virus Dengue di Wilayah Endemis DBD Kota Pontianak. Jenis penelitian ini rancangan ekperimental quasi yaitu Control group, pree and pos test design Control group, pree and pos test design.. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah kelurahan endemis DBD yakni kelurahan Sungai Bangkong sebagai lokasi intervensi dan Kelurahan Sungai beliung sebagai pembanding. Jumlah sampel sebanyak 200, masing-masing kelurahan sebanyak 100 rumah. Hasil dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan rerata indeks kepadatan larva House Index (HI) nilai  p:0,014, larva Container Index (CI) dg nilai p:0,026 dan Breteu Index (BI) dengan nilai p:0,007 antara sebelum dan sesudah pemasangan rancangan Ovitrap Mix Sticky-Autocidal. Namun tidak terdapat perbedaan rerata indeks transmsi transovarial (ITT) sebelum dan sesudah intervensi menggunakan rancanagan ovitrap Mix Sticky-Autocidal dengan nilai p:1,0.Abstract: Design of Ovitrap Mix Sticky-Autocidal to Lower Larva Density and Dengue Virus in Endemic DBD Region of Pontianak City. This research type is quasi experimental design that is Control group, pree and post test design. Control group, pree and post test design. Population and sample in this research is dengue endemic village that is Sungai Bangkong as the location of intervention and Sungai Beliung urban village as comparison. The number of samples is 200, each kelurahan is 100 houses. The result of this research is there is difference of mean of House Index (HI) larvae density index p value: 0,014, Container Index (CI) larva with p value: 0,026 and Breteu Index (BI) with p value: 0,007 between before and after installation of Ovitrap Mix Sticky-Autocidal. However, there was no difference in the mean of transovarial transmision index (ITT) before and after intervention using sticky-autocidal Mix ovitrap plan with p value: 1.00
Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tuberkulosis (TB) Paru Di Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang
Abstrak. Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Penderita Penyakit TB Paru di Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang . Penelitian berdesain case control dengan jumlah kasus 30 dan kontrol 30. Untuk melihat kecenderungan pengaruh variabel bebas dengan variabel terikat digunakan Uji Chi-Square (α 0,05). Hasil penelitian menyatakan beberapa faktor sanitasi rumah berpengaruh dengan kejadian penyakit TB paru, yaitu faktor pencahayaan (OR 5,675), faktor suhu (OR 13) dan kepadatan hunian (OR 6,417), sedangkan faktor perilaku penghuni tidak berpengaruh dengan kejadian penyakit TB paru. Saran yang dapat diberikan yaitu masyarakat harus memperhatikan kondisi pencahayaan rumah agar rumah tidak lembab sehingga kuman TBC tidak dapat bertahan. Penghuni juga harusnya tidak menempati rumah jika jumlah penghuni melebihi standar, terlebih jika terdapat penderita TB parudi dalamnya.Abstract: Risk Factors Associated with Incident of Pulmonary Tuberculosis (Tb) in Seluas District Bengkayang. Case control The research design is a number of cases 30 and 30 control. To see the trend of the effect of the independent variable and dependent variable used chi-square test (α 0.05). The results stated several factors of home sanitation influenced to pulmonary TB disease incidence, the lighting factor (OR 5.675), the temperature factor (OR 13) and population density (OR 6.417), while the occupant behavioral factors did not influenced the incidence of pulmonary TB disease. The suggestion that people must noticed the lighting conditions keep a home not humid so TB germs can not survive. Residents also should not occupy the home if the number of occupants exceeds the standards, especially if there is pulmonary tuberculosis patients in it
Perbedaan Kadar Glukosa Darah pada Plasma Edta dan Serum dengan Penundaan Pemeriksaan
Abstract: Differences Of Blood Glucose Conditions In Plasma Edta And Serum With Delay Inspection. Blood glucose examination in the laboratory is used to determine blood glucose levels in the body. The delay in the examination can cause a decrease in blood glucose levels, so the results obtained do not match the actual state of the body. This study aims to determine the difference between blood glucose levels in EDTA (Ethylenediaminetetraacetic acid) and serum plasma samples that are directly examined and delayed for two hours. This research was conducted using experimental observation method that is an observation of clinical laboratory by measuring blood glucose level using photometer and GOD-PAP (glucose oxidase) method. The statistical test was performed using Z test for two free samples. The results of serum and plasma blood glucose examination in this study showed an average value of glucose levels with EDTA plasma directly examined 89.18 mg/ dl delayed 86.60 mg/ dl and serum directly examined 92.20 mg/ dl delayed 89, 54 mg/ dl. Decreased blood glucose levels delayed two hours in plasma 2.9%, serum 2.7%. The data concluded that there was no significant difference between blood glucose levels using EDTA and serum plasma samples.Abstrak: Perbedaan Kadar Glukosa Darah Pada Plasma Edta Dan Serum Dengan Penundaan Pemeriksaan. Pemeriksaan glukosa darah di Laboratorium digunakan untuk mengetahui kadar glukosa darah di dalam tubuh. Penundaan waktu pemeriksaan dapat menyebabkan penurunan kadar glukosa darah, sehingga hasil yang didapat tidak sesuai dengan keadaan tubuh yang sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara kadar glukosa darah pada sampel plasma EDTA (Ethylenediaminetetraacetic acid) dan serum yang langsung diperiksa dan ditunda selama dua jam. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode observasi eksperimental yaitu pengamatan laboratorium klinik dengan mengukur kadar glukosa darah menggunakan fotometer dan metode GOD-PAP (Glukosa Oksidase). Uji statistik dilakukan dengan menggunakan uji Z untuk dua sampel bebas. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah serum dan plasma dalam penelitian ini menunjukan nilai rata-rata kadar glukosa dengan plasma EDTA yang langsung diperiksa 89,18 mg/dl ditunda 86,60 mg/dl dan serum yang langsung diperiksa 92,20 mg/dl ditunda 89,54 mg/dl. Penurunan kadar glukosa darah yang ditunda dua jam pada plasma 2,9%, serum 2,7%. Data tersebut menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan kadar glukosa darah pada serum dan plasma antara yang ditunda dengan yang langsung diperiksa
Status Kesehatan Gigi dan Gingiva Siswa Sekolah Luar Biasa Yayasan Dharma Asih
Abstract: Dental Health Studies And Gingiva Student Outstanding Schools Dharma Asih Foundation. The importance of regular dental examination of the dentist is still lacking which can be caused by economic problems. Patients with disability disorders such as patients with nephrotic syndrome have a bad of oral hygiene and there is a mucosal lesion or aphthae, this is because respondents do not routinely perform the examination and oral care regularly. The aim of the study was to analyze dental and gingival stages in SLB/B and SLB/C. Type of research using survey method, conducted at Dharma Asih Foundation in Pontianak Municipality, September to November 2017. The research population is the respondents of Special School students (SLB/B and SLB/C) and the sample of research is 120 respondents. Sampling technique with purposive nonrandom sampling. The conclusions obtained were OHIS students of SLB/B and SLB/C were in the most moderate group. Based on the OHIS index that the education level of kindergarten, male gender, age group ≤ 5 years, 6-10 years and 11-15 years most experienced a bad OHIS index. Based on the DMF-T / deft index the students of SLB/B and SLB/C are in the lowest group at most. level of education, that the level of primary education, male gender and age group 6-10 years highest. It is recommended that dental and oral health care get more attention, so as not to have an adverse effect on the health of organs.Abstrak: Status Kesehatan Gigi Dan Gingiva Siswa Sekolah Luar Biasa Yayasan Dharma Asih. Pentingnya memeriksakan gigi secara teratur kedokter gigi masih kurang yang dapat diakibatkan karena masalah ekonomi. Penderita yang mengalami gangguan dis-abilitas seperti penderita neprotik syndrome mengalami keberihan mulut buruk dan terdapat lesi mukosa atau sariawan, hal ini dikarenakan responden tidak rutin melakukan pemeriksaan dan perawatan gigi mulut secara berkala. Tujuan Penelitian adalah untuk menganalisis stautus gigi dan gingiva di SLB/B dan SLB/C. Jenis penelitian menggunakan metode survei yang dilakukan pada Yayasan Dharma Asih di Kotamadya Pontianak pada bulan september sampai nopember 2017. Populasi penelitian adalah responden siswa Sekolah Luar Biasa (SLB/B dan SLB/C) dan sampel penelitian berjumlah 120 responden. Teknik pengambilan sampel dengan purposive non random sampling. Simpulan yang diperoleh berupa indeks OHIS siswa SLB/B dan SLB/C sama berada pada kelompok sedang paling banyak. Berdasarkan indeks OHIS bahwa jenjang pendidikan TK, jenis kelamin laki-laki, kelompok umur ≤ 5 tahun, 6–10 tahun dan 11–15 tahun paling banyak mengalami indeks OHIS yang buruk. Berdasarkan indeks DMF-T/def-t siswa SLB/B dan SLB/C sama berada pada kelompok rendah paling banyak. jenjang pendidikan, bahwa jenjang pendidikan SD, jenis kelamin laki-laki dan kelompok umur 6–10 tahun paling tinggi. Disarankan bahwa penanganan kesehatan gigi dan mulut lebih mendapatkan perhatian, agar tidak mempunyai efek buruk terhadap kesehatan organ tubuh