Jurnal Online Poltekkes Kemenkes Pontianak
Not a member yet
    742 research outputs found

    PENGARUH FLASHCARD TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA ANAK DI TK DHARUL KHAIR

    Get PDF
    Pada dasarnya perkembangan bahasa merupakan perkembangan kognitif, dimana perkembangan kognitif tersebut perlu distimulus. Untuk menciptakan kelas agar tidak membosankan, membuat siswa tertarik dan dapat menumbuhkan semangat motivasi belajar dengan menggunakan media pembelajaran permainan flashcard. Diharapkan siswa dapat lebih kreatif dan inovatif dalam pembelajaran, sehingga siswa memiliki kekuatan atau dorongan untuk belajar sehingga tidak langsung akan tumbuh motivasi belajar siswa.Mengidentifikasi pengaruh flashcard terhadap perkembangan bahasa anak di TK Dharul Khair tahun 2019.Desain penelitian yang digunakan yaitu dengan menggunakan metode rancangan pre test dan post test. Populasi dalam penelitian ini adalah TK Dharul Khair tahun 2019 sebanyak 64 siswa. Berdasarkan kriteria yang ditetapkan responden dengan menggunakan metode purposive sampling, maka sampel dalam penelitian ini yaitu sebanyak 20 orang.Dari tabel uji normalitas data maka dapat kita ketahui nilai Sig. Pre Test 0,449 dan Post Test 0,238 yang artinya nilai tersebut > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut berdistribusi normal. Berdasarkan keterangan pada persentase perubahan mengalami kenaikan terhadap hasil perilaku perubahan test yang dilakukan peneliti sebesar 52,96%. Kemudian dapat kita lihat pada kolom sig. yaitu sebesar 0,043 yang berarti bahwa nilai tersebut kurang dari nilai alpha yaitu sebesar 0,05. adanya pengaruh penggunaan media flascard terhadap perkembangan bahasa anak TK Dharul Khair. Adanya pengaruh penggunaan media flascard terhadap perkembangan bahasa anak TK Dharul Khair

    Analisis Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Pada Pengawai Negeri Sipil Di Lingkungan Instansi Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2014

    No full text
    Abstrak. Analisis Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) pada Pengawai Negeri Sipil di Lingkungan Instansi Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2014. Merokok kebiasaan yang ada di masyarakat Indonesia . Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif bagi Kesehatan tertuang dalam UU Kesehatan No. 36/ 2009. Peraturan Pemerintah bersama antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri yaitu: NOMOR 188/MENKES/PB/I/2011 dan NOMOR 7 TAHUN 2011 tentang kawasan  tanpa  rokok. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, sampai saat ini masih belum mempunyai peraturan daerah tentang kawasan bebas asap rokok. Tujuan untuk mengetahui pengetahuan, sikap, perilaku dan pendapat KTR pada PNS di wilayah kerja Pemda Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian menggunakan metode  observasi analitik dengan desain Cross Sectional. Populasi pegawai yang merokok/tidak umur > 15 tahun. Sampel non random sampling dari cluster unit pelayan teknis. Jumlah sampel 387 responden, yang dipilih secara accidental sampling. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%.  Hasil penelitian: Pengetahuan sebagian besar (>85%) mengetahui merokok menyebabkan penyakit; dan asap rokok membahayakan kesehatan wanita hamil (86,1%) serta anak (93%);  Kawasan Tanpa Rokok (KTR) bervariasi (59,5% - 94%). Sikap mendukung KTR 85,7%. Ada korelasi antara pengetahuan, sikap dengan perilaku kebiasaan merokok. KTR secara umum didukung oleh kelompok perokok dan non perokok. Dukungan implementasi KTR dari kelompok tidak merokok lebih kecil (38,6%) dibandingkan dengan kelompok yang merokok (93,7%).  Saran Perda KTR dimungkinkan  diterbitkan dan dalam proses penyusunan secara bersamaan dilakukan sosialisasi/advokasi/penyuluhan kepada masyarakat tentang rokok, KTR, dan disediakan tempat khusus untuk orang merokok. Abstract. Analysis of No Smoking Area (KTR) Policy Implementation in The Civil Service in The Civil Environment Agency Local Government of West Kalimantan Province 2014. Smoking is a habit that exist in Indonesian society. Tobacco Products Security as addictive substances for health contained in the Health Law No. 36/2009. Government Regulation between Ministry of Health and Ministry of Interior are: No. 188/Menkes/PB/I/2011 and No. 7 Year 2011 on the non-smoking area. Government of West Kalimantan Province, until today still do not have local regulations on smoke-free area. Aim to determine knowledge, attitudes, behaviors and opinions KTR on civil servants in the working area of West Kalimantan provincial administration. Research using analytic observation method with cross sectional design. Employee population that smoking/no age > 15 years. Non-random sample of cluster sampling unit technical waitress. Total sample of 387 respondents, chosen by accidental sampling. Data analysis using Chi-square statistical test with a confidence level of 95%. Result: Knowledge majority (> 85%) knew that smoking causes disease; smoke and endanger the health of pregnant women (86.1%) and children (93%); No Smoking Area (KTR) varies (59.5% - 94%). Attitude supports KTR 85.7%. There is a correlation between knowledge, attitude and behavior of the smoking habit. KTR is generally supported by the group of smokers and non-smokers. KTR implementation support of smaller groups of non-smokers (38.6%) compared with the group who smoked (93.7%). KTR regulation issued advice possible and in the process of drafting simultaneously conducted socialization/advocacy/outreach to the community about cigarettes, KTR, and provided a special place for people to smoke

    Efektivitas Cascade Aerator dalam Menurunkan Kadar Chemical Oxygen Demand (COD) Pada Air Limbah Tahu Di Kota Pontianak Tahun 2014

    No full text
    Abstrak. Efektivitas Cascade Aerator dalam Menurunkan Kadar Chemical Oxygen Demand (COD) pada Air Limbah Tahu di Kota Pontianak Tahun 2014. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas Cascade Aerator dalam menurunkan kadar COD pada instalasi pengolahan air limbah tahu di Kota Pontianak. Penelitian ini bersifat eksperimen semu dengan rancangan penelitian one group pre-test post-test design. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah variasi jumlah tangga Cascade Aerator, variabel terikat adalah kadar COD air limbah tahu dan variabel pengganggu adalah pH dan debit air limbah. Hasil penelitian kadar COD sebelum dilakukan aerasi, yaitu 2.236 mg/l. Kadar tersebut dapat diturunkan dengan Cascade Aerator. Pada tangga ke 14 kadar COD turun menjadi 391 mg/l, pada tangga ke 16 menjadi 334 mg/l, pada tangga ke 18 menjadi 286 mg/l dan pada tangga yang ke 20 menjadi 165 mg/l. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Variasi yang efektif pada Cascade Aerator untuk menurunkan kadar COD yang sesuai dengan baku mutu adalah dengan jumlah tangga sebanyak 18 tangga. Kadar COD pada influent adalah 2.236 mg/l, setelah melewati Cascade Aerator dengan variasi jumlah tangga sebanyak 18 tangga diperoleh hasil kadar COD pada efluent yaitu 286 mg/l yang hasil tersebut sudah memenuhi baku mutu dan aman bagi lingkungan. Abstract. The Effectiveness of Casade Aerator to Reduce Total of Chemical Oxygen Demand (COD) on Tofu Wastewater in Pontianak 2014. The purpose of research is to determine the effectiveness of Cascade Aerator to reduce total of COD on tofu wastewater of waste water treatment instalation in Pontianak. This research was aquasi-experimental research without group pre-test post-test design. Independent variablein this researchis avariation number of ladder in CascadeAerator, the dependent variableis thetotal COD of tofu waste waterand the confounding variable were pH and waste water discharge. Results of this research show that total of COD prior toaeration, is 2,236mg/l. The level scan be lowered by CascadeAerator. In 14th ladder, total of COD dropped to 391 mg/l, 16th ladder 334 mg/l, 18th ladder dropped to 286 mg/l and 165 mg/l in 20th ladder. The conclusion of this research is the most effective number of ladder in cascade aerator is 18. Total of COD in iffluent is 2236 mg/l, after passes Aerator Cascade with variation period ladder stairs as much as 18 findings effluent COD is 286 mg/l the results of these findings already meet the standard of quality and safe environment

    Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Umbi Talas (Colocasia Esculenta (L) Schott) Metode Dpph (2,2-Diphenyl-1-Picrylhydrazil)

    Get PDF
    Talas (Colocasia Esculenta (13 Schott) digunakan sebagai bahan pokok beberapa olahan makanan di Indonesia maupun di dunia. Selain itu Talas juga sering dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan obat-obatan dalam masyarakat Talas mengandung banyak senyawa kimia yang diperoleh dari proses metabolisme sekunder seperti alkaloid, glikosida, saponin, kalsium oksalat, dan senyawa organik lainnya. Metabolisme sekunder yang terdapat di dalam talas berpotensi sebagai antioksidan berdasarkan masing-masing mekanisme dari senyawa tersebut. Tujuan penelitian ini untuk menghitung nilai IC, ekstrak etanol umbi talas Dengan cara mengukur aktivitas antioksidan metode DPPH Desain penelitian menggunakan eksperimen semu dengan teknik pengambilan sampe menggunakan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan pelarut etanol sebagai pelarut polar untuk menarik senyawa sesuai dengan sifatnya dan menggunakn metode maserasi. Metode yang digunakan dalam mengukur aktivitas antioksidan adalah metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Sampel yang digunakan pada Penelitian ini yaitu ekstrak etanol umbi talas konsentrasi 500, 750, 1000, 1250 dan 1500 ppm dengan pengulangan sebanyak tiga kali sehingga banyaknya sampel adalah 15 sampel. Hasil skrinning fitokimia didapatkan ekstrak etanol umbi talas mengandung senyawa golongan alkaloid, glikosida, saponin, tanin, triterpenoid, flavonoid dan fenol. Dari hasil penelitian didapatkan nilai ICs ekstrak etanol sebesar 763 ppm. Disimpulkan bahwa ekstrak etanol umbi talas memiliki aktivitas antioksidan meskipun tergolong rendah karena nilai IC su 200 ppm

    Aktivitas Antioksidan Fraksi Metanol Daun Jeringau Merah (Acorus Sp.) Metode DPPH

    Get PDF
    Antioksidan merupakan suatu senyawa yang mampu menangkal atau merendam efek negatif dari radikal bebas dengan cara mendonorkan salah satu elektronnya sehingga radikal bebas bersifat lebih stabil dan mencegah terjadinya reaksi berantai. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antioksidan adalah jeringau merah. Jeringau merah merupakan salah satu tanaman endemic Kalimantan Barat yang terdapat di berbagai wilayah Sanggau, Ngabang, dan Kapuas Hulu yang telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat pedalaman suku Dayang dalam mengobati berbagai penyakit. Tanaman jeringau mengandung beberapa senyawa kimia antara lain flavonoid, fenol, saponin, tanin, dan stroid yang memiliki ptensi sebagai antioksidan.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan fraksi metanol daun jeringau merah. Proses ekstraksi dilakukan dengan maserasi menggunakan pelarut methanol selama 3 x 24 jam, dimana pelarutnya diganti setiap 24 jam sekali. Ekstraks metanol yang diperoleh selanjutnya di fraksinasi dengan pelarut berdasarkan tingkat kepolaran yaitu etil asetat dan metanol. Kemudian campuran dimasukkanke dalam corong pisah dan digojog kuat. Selanjutnya labu gojog didiamkan hingga terbentuk kedua lapisan yaitu lapisan atas fraksi metanol dan lapisan bawah fraksi etil asetat. Hasil fraksi metanol kemudian ditampung dan diuapkan. Metode yang digunakan untuk mengukur aktivitas antioksidan adalah metode DPPH (2,2-difenil-1- pikrilhidrazil).Sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu fraksi metanol daun jeringau merah konsentrasi 150, 125, 100, 75 dan 50 ppm dengan pengulangan sebanyak tiga kali. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi metanol daun jeringau merah memiliki kandungan metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, fenol, steroid, dan glikosida serta memiliki aktivitas antioksida yang kuat karena memiliki ICâ‚…â‚€ SEBESAR 77 PPM

    Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Metanol Biji Buah Bungli (Oroxylum Indicum) Dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli Metode Difusi

    Get PDF
    Sebagian besar dari ribuan jenis tanaman yang ada di Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai obat. Salah satunya yaitu tanman Bungli (Oroxylum Indicum) yang telah lama digunakan secara turun temurun di Asia Tenggara sebagai obat herbal untuk mengatasi tifus, batuk, hipertensi, panas dalam, demam dan diare. Kandungan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan tannin pada tanaman ini dikenal memiliki aktifitas antiinflamasi, antirematik, antijamru dan antibakteri.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskna pengarus konsentrasi ekstrak metanol biji buah bungli (Oroxylum Indicum) dalam menhambat pertumbuhan balteri Eschericia Coli metode difusi cakram.Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimental semu dengan teknik pengambilan sampel Purposive Sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah biji buah bungli yang dibuat ekstrak. Sampel yang digunakan adalah biji buah bungli dengan konsentrasi 25%, 50% dan 75% yang masing masing konsentrasi dilakukan 9 kali pengenceran.Berdasarka hasil analisis statistik uji Regresi Linier didapatkan p value =0,000 < α 0,005 sehingga dinyatakan terdapat pengaruh konsentrasi ekstrak metanol biji buah bungl (oroxylum indicum) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Eschericia Coli metode difusi.Â

    PENGARUH PEMBERIAN JUS JAMBU BIJI TERHADAP PENINGKATAN KADAR HB PADA IBU HAMIL ANEMIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGDADAP KOTA PEKALONGAN

    Get PDF
    Anemia pada kehamilan adalah kondisi dimana ibu hamil yang mempunyai kadar Hb < 11,00 gr% pada trimester I, II dan III atau kadar Hb < 10,50 gr% pada trimester II. Pada ibu hamil sangat rentan terjadi anemia defisiensi besi. Untuk menanggulangi masalah anemia di Indonesia, pemerintah telah mencanangkan pendistribusian tablet Fe ke pelayanan-pelayanan kesehatan keseluruh ibu hamil secara gratis. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pemberian jus jambu biji terhadap peningkatan kadar Hb pada ibu hamil anemia di Puskesmas Karangdadap kota Pekalongan. Penelitian ini merupakan miniriset dengan jenis penelitian deskriptif. Sampel sejumlah 3 orang ibu hamil dengan anemia, yang akan dikaji karakteristiknya serta pengukuran HB sebelum dan sesudah pemberian jus jambu biji. Hasil yang diperoleh pemberian jus jambu biji berpengaruh kadar Hb ibu hamil di Puskesmas Karangdadap kota Pekalongan

    Analisis Kesiapan Masyarakat Pengguna Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tentang Kawasan Tanpa Asap Rokok Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2014

    No full text
    Abstrak. Analisis Kesiapan Masyarakat Pengguna Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tentang Kawasan Tanpa Asap Rokok Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2014. Tujuan: Mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap masyarakat tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di fasilitas pelayanan kesehatan terhadap kesiapan  dalam kepatuhan terhadap penerapan KTR. Metodologi: Menggunakan desain penelitian Kuantitatif–Deskriptif, dengan metode potong lintang. Penelitian ini dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan dilingkungan Provinsi Kalimantan Barat yang ada di Pontianak. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara non probability sampling dari cluster unit pelayan kesehatan pemerintah daerah Provinsi Kalimantan Barat dan responden dipilih berdasar accidental sampling. Jumlah sampel 126 orang. Data dikumpulkan dengan  menggunakan kuesioner. Hasil: Responden yang merokok 37,3%. Sebanyak 54,8% pengetahuan responden tentang dampak asap rokok dalam katagori kurang baik. Kesiapan responden dalam penerapan Perda KTR sebanyak 88,89% mendukung. Analisis variabel: Ada hubungan antara pengetahuan  tentang dampak asap rokok dengan kesiapan responden dalam menerima penerapan perda KTR, dengan analisis chi-square, nilai p = 0,037. Tidak ada hubungan antara pengetahuan  tentang  KTR dengan kesiapan responden dalam menerima penerapan perda KTR, dengan analisis chi-square didapat nilai p= 0,949. Tidak ada hubungan antara sikap  penolakan paparan asap rokok dengan kesiapan responden dalam menerima penerapan perda KTR, dengan analisis chi-square didapat nilai p= 0,379 (nilai Fisher’s Exact Test). Kesimpulan: Sebagian besar pengetahuan responden tentang dampak asap rokok dalam katagori kurang baik. Kesiapan responden dalam penerapan Perda KTR sebagian besar juga mendukung.     Abstract. Analysis of Community Readiness Health Care Facilities Users about No Smoking Area in Region West Kalimantan 2014. Purpose: To determine the relationship between knowledge and attitudes about No Smoking Area (KTR) in health care facilities for preparedness in compliance with the application of KTR. Methodology: Using Quantitative-Descriptive study design, with a cross-sectional method. This research was conducted in health care facilities within the province of West Kalimantan in Pontianak. The sampling technique is done in a non-probability sampling of clusters of local government health care unit of West Kalimantan Province and respondents were selected based on accidental sampling. Total samples 126 people. Data was collected using a questionnaire. Results: Respondents who smoke 37.3%. A total of 54.8% of the respondents knowledge about the effects of smoke in the category of less well. Readiness of respondents in the application of Regulation KTR as much as 88.89% in favor. Analysis of variables: There is a relationship between knowledge of the effects of cigarette smoke with the readiness of respondents to accept the application of regulations KTR, the chi-square analysis, the value of p = 0.037. There is no correlation between knowledge of KTR with the readiness of respondents to accept the application of the regulations KTR, the chi-square analysis obtained p = 0.949. There is no relationship between cigarette smoke exposure rejection by the readiness of the respondents in accepting the application of regulations KTR, the chi-square analysis obtained p value = 0.379 (the value of Fisher's Exact Test). Conclusions: The majority of respondents' knowledge about the effects of cigarette smoke in the category of less well. Most of the readiness of respondents in the application of Regulation KTR also support

    Hubungan Kualitas Bakteriologis Air Sumur Gali (SGL) dengan Kejadian Diare pada Anak Balita Di Desa Seluas Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayangtahun 2014

    No full text
    Abstrak. Hubungan Kualitas Bakteriologis Air Sumur Gali (SGL) dengan Kejadian Diare pada Anak Balita di Desa Seluas Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang tahun 2014. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas bakteriologis air sumur gali (SGL) dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Seluas Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional, untuk mengetahui hubungan kualitas bakteriologis air sumur gali (SGL) dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Seluas Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang. Sampel penelitian berjumlah 91 orang dan dilakukan pemeriksaan air sumur gali yang terdapat pada rumah responden dengan pengambilan sampel secara proporsional random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas bakteriologis air sumur gali, yaitu keberadaan total coliform tidak memenuhi syarat sebanyak 73,6 %, konstruksi sumur gali yang tidak memenuhi syarat sebanyak 67 %, kejadian diare pada balita yang pernah mengalami diare sebanyak 72,5 %. Terdapat hubungan antara kualitas bakteriologis air sumur gali (SGL) dengan kejadian diare pada anak balita (p=0,000).Abstract. The Relationship Between Bacteriological Quality of Well Water (SGL) with Incidence of Diarrhea in Toddler Son in Seluas Village Kabupaten Bengkayang 2014. This study aimed to analyze the correlation between the bacteriological quality of well water and the incidence of diarrhea in children under five in Seluas Village Kabupaten Bengkayang. This type of research used in this study was cross sectional, to determine the relationship of the bacteriological water quality of dug well (SGL) and the incidence of diarrhea in children under five Seluas Village Kabupaten Bengkayang. These samples included 91 people. And examination dug well water contained in the respondent's house with proportional sampling random sampling. The results showed that the bacteriological quality of water wells, namely the presence of total coliform does not qualify as much as 73.6%, the construction of wells that do not qualify as much as 67%, the incidence of diarrhea in infants who had experienced diarrhea as much as 72.5%. There is a relationship between the bacteriological quality of water wells (SGL) and the incidence of diarrhea in children under five (p = 0.000).   Â

    PENGETAHUAN TENTANG PEDOMAN GIZI SEIMBANG DAN POLA MAKAN SISWA SMAN 1 PONTIANAK

    Get PDF
    Pedoman Gizi Seimbang adalah bagian dari acuan masyarakat terhadap gizi termasuk pada remaja, sehingga hal ini merupakan suatu upaya dalam peningkatan pengetahuan remaja dengan harapan untuk mengubah perilaku gizi tidak seimbang. Pengetahuan tersebut akan menimbulkan kesadaran, dan akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan tentang pedoman gizi seimbang dengan pola makan siswa SMAN 1 Pontianak. Jenis penelitian analitik dengan metode cross sectional dilakukan terhadap sampel sebanyak 87 orang pada bulan Desember 2018 di SMAN 1 Pontianak. Data pengetahuan diperoleh dengan wawancara menggunakan kuesioner dan data pola makan diperoleh menggunakan food recall 1x24 jam. Hasil Penelitian diperoleh sebanyak 78,2% sampel memiliki pengetahuan tidak baik mengenai Pedoman Gizi Seimbang dan sebanyak 79,3% sampel memiliki pola makan tidak baik. Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan pola makan pada sampel dibuktikan dengan p value sebesar 0,185. Perlu dilakukan edukasi tentang Pedoman Gizi Seimbang bagi anak sekolah

    605

    full texts

    742

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Poltekkes Kemenkes Pontianak
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇