Jurnal Online Poltekkes Kemenkes Pontianak
Not a member yet
742 research outputs found
Sort by
Pengaruh Dukungan Psikologis Dan Spritual Oleh Perawat Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Kanker Dengan Kemoterapi Di RSUD Dokter Soedarso
ABSTRAK Kanker adalah penyakit kronik dengan mortalitas tinggi. Penyakit kanker berdampak terhadap seluruh aspek kehidupan penderita, baik fisik, psikologis maupun spiritual. Kecemasan sering dialami oleh pasien kanker, satu diataranya adalah kecemasan tentang kematian akibat kanker, kurangnya informasi tentang kanker dan pengobatan yang dilakukan. Intervensi yang dapat menurunkan kecemasan adalah dukungan psikologis dan spiritual. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dukungan psikologis dan spiritual oleh perawat terhadap tingkat kecemasan pasien kanker dengn kemoterapi di RSUD dr. Soedarso.Jenis penelitian ini menggunakan quasy eksperimental design. rancangan penelitian yang digunakan adalah non randomized control group pretest posttest design, penelitian ini terdapat dua kelompok yaitu satu kelompok intervensi dengan dukungan psikologis dan spiritual sedangkan kelompok lainnya sebagai kelompok kontrol tidak diberikan dukungan psikologis dan spiritual. Sampling yang digunakan teknik non-probability sampling, sampel berjumlah 32 orang dengan jumlah sampel masing-masing kelompok sebesar 16 orang dengan analisa uji Shapiro Wilk.Ada pengaruh tingkat kecemasan pasien kanker dengan kemoterapi di RSUD dr. Soedarso Pontianak sebelum dan setelah diberikan dukungan psikologis dan spiritual dengan nilai p-value=0,000 (<0,05). Sebagian besar responden mengalami penurunan tingkat kecemasan dari cemas sedang sebesar 56,3% menjadi cemas ringan sebesar 50,0%. Penurunan tingkat kecemasan terjadi pada kelompok intervensi dengan penurunan nilai mean pada post test sebesar 19,16 menjadi 12,16. Kelompok kontrol kenaikan nilai mean dari 13,84 menjadi 20,84. Dukungan psikologis dan spiritual dapat menurunkan tingkat kecemasan pasien kanker dengan kemoterapi dibandingkan dengan hanya menggunakan leaflet. Diharapkan peneliti selanjutnya untuk dapat melakukan penelitian tentang dukungan psikologis dan spiritual pada pasien kemoterapi yang sudah lama menjalani kemoterap
PENERAPAN EVIDENCE BASED NURSING TERAPI MADU UNTUK PENYEMBUHAN LUKA DIABETIK DI RUMAH SAKIT KARTIKA HUSADA TAHUN 2023
ABSTRACTBackground: Diabetes mellitus (DM) is a disease characterized by an increase in blood sugar levels (hyperglycemia) due to a deficiency of the hormone insulin, both absolute and relative. Honey is one of the dressings for topical wound care that can inhibit bacterial colonization, such as Staphylococcus aureus and pseudomonas, so that it can accelerate the wound healing process. Purpose: The purpose of writing this final scientific work is to find out the application of honey therapy for healing diabetic wounds in Patients. With diabetes mellitus type II. Overview of Cases Managed: Patient with a diagnosis of diabetes mellitus. During the study, the main complaint was that there was a wound on the right foot, on the back of the foot, and between the middle and little fingers. There is a wound with a length of 7 cm, a wound area of 3 cm, and a wound depth of 3 cm. The wound looks reddish, and there is push. The patient's history of DM disease began a year ago. EBNP results: the results of the implementation After being given honey therapy, there were wounds that improved; namely, before being given honey therapy, the patient's wounds were dirty; there were necrotic and pus (pus). Based on the results above, it was found that giving honey therapy was effective in healing diabetic wounds. This is in line with the research conducted. The implementation of calliandra honey dressings for five days on the diagnosis of skin integrity disorders showed that honey dressings were effective in healing wounds and improving skin integrity where the client's wound was red and no longer smelly and the size of the wound had started to shrink. Conclusion: After the intervention of honey therapy in patients once every day for 15 minutes. The result was that the patient wound improved wound area by 2 cm, wound length by 5 cm, no necrosis, no push, granulation around the wound improved, and reduced hematoma. Keywords : Diabetes mellitus, honey therapy, diabetic ulcer ABSTRAK Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit yang ditandai dengan terjadinya peningkatan kadar gula dalam darah (hiperglikemi) akibat kekurangan hormon insulin baik absolut maupun relatif. Madu merupakan salah satu dressing untuk perawatan luka yang bersifat topical yang dapat menghambat kolonisasi bakteri seperti Staphylococcus aureus dan pseudomonas sehingga akan dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Tujuan: penulisan karya ilmiah akhir ini bertujuan untuk mengetahui Penerapan Terapi Madu Untuk Penyembuhan Luka diabetes melitus dengan ulkus. Gambaran Kasus Kelolaan: Pasien perempuan 55 terdiagnosa diabetes melitus dengan ulkus diabetes, saat pengkajian didapatkan keluhan utama terdapat luka di kaki sebelah kanan di bagian punggung kaki dan sela jari tengah dan jari kelingking. Terdapat luka dengan panjang luka 7 cm, luas luka 3 cm, kedalaman luka 3 cm, luka tampak kemerahan, terdapat push, pasien memiliki riwayat penyakit DM sejak 1 tahun yang lalu. Hasil EBNP: hasil implementasi setelah diberikan terapi madu terdapat luka yang membaik yaitu sebelum diberikan terapi madu luka pasien kotor terdapat nekrotik dan pus (nanah), Berdasarkan hasil di atas didapatkan bahwa pemberian terapi madu efektif dalam penyembuhan luka diabetik. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan. pelaksanaan implementasi dressing madu kaliandra selama lima hari pada diagnosa gangguan integritas kulit menunjukkan dressing madu efektif dalam penyembuhan luka dan memperbaiki integritas kulit dimana luka klien sudah memerah dan tidak berbau lagi dan ukuran luka sudah mulai mengecil. Kesimpulan: setelah dilakukan intervensi terapi madu pada pasien selama 1 hari sekali selama 15 menit. Di dapatkan hasil bahwa: luka pada NY. E membaik luas luka 2 cm,panjang luka 5 cm, tidak terdapat nekrotik, tidak terdapat push,granulasi di sekitar luka membaik, hematoma berkurang.Kata Kunci : Diabetes melitus, terapi madu, ulkus diabete
HUBUNGAN PATIENT SAFETY CULTURE DENGAN PENGALAMAN PERAWAT TERKAIT INSIDEN KESELAMATAN PASIEN DI INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD) RSUD dr. ABDUL AZIZ SINGKAWANG TAHUN 2023
ABSTRACT The Emergency Department is the entrance to the hospital where all patient services start here. Adverse Events (AE) are of particular concern at this time. From January to September, RSUD dr. Abdul Aziz in 2022 already has 12 reports. One of the shapers of patient safety was the Patient Safety Culture (PSC) where this PSC consists of twelve mutually sustainable dimensions. Through this research, it can be the basis for the development of patient safety in a better direction by knowing the relationship between patient safety culture (PSC) and Adverse Events (AE) in the emergency room (ER). This research design was in the form of observational analytic cross-sectional with quantitative methods. The study used the Hospital Survey On Patient Safety Culture (HSOPSC) questionnaire instrument from the Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ). The total sample was 18 nurses with the Total Sampling technique. Data analysis using Pearson Product Moment (PPM) was processed through SPSS 25. From this study, the results were obtained that the Patient Safety Culture in the Emergency Department nurses of dr Abdul Aziz Hospital was positive at 83.94%, and the nurses’ experience about adverse events (AE) was low at 29.3%. The relationship between PSC and Nurses’ Experience About Adverse Events (AE) was significant, with a p-value of 0.029 >0.05 and an rvalue = -0.514 with a negative correlation direction and variable contribution of 26.41%. There was a significant influence related to patient safety culture (PSC) with nurses’ experience about adverse events (AE) at the emergency department (ER) of RSUD dr. Abdul Aziz Singkawang in 2023Keywords : Patient Safety Culture, Nurses’ Experience, Adverse Events, Emergency Department ABSTRAK Instalasi Gawat Darurat merupakan pintu masuk rumah sakit dimana semua pelayanan pasien bermula disini. Insiden keselamatan pasien menjadi perhatian khusus saat ini. RSUD Abdul Aziz sendiri pada tahun 2022 dari bulan Januari sampai September sudah memiliki 12 laporan. Salah satu pembentuk dari keselamatan pasien adalah Patient Safety Culture (PSC) dimana PSC ini terdiri dari duabelas dimensi yang saling berkesinambungan. Melalui penelitian ini dapat menjadi dasar untuk pengembangan keselamatan pasien kearah yang lebih baik dengan mengetahui hubungan hubungan patient safety culture (PSC) dengan insiden keselamatan pasien di instalasi gawat darurat (IGD). Desain penelitian ini berupa observasional analytic crosssectional dengan metode kuantitatif. Penelitian menggunakan instrumen kuesionse Hospital Survey On Patient Safety Culture (HSOPSC) dari Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) untuk pengukuran Patient Safety Culture dan kuesioner dari Hilda et.al, 2018. Total sampel sebanyak 18 orang perawat dengan teknik pengambilan sampel Total Sampling. Analisa data menggunakan Pearson Product Moment (PPM) yang diolah melalui SPSS 25. Dari penelitian ini didapatkan hasil yaitu Patient Safety Culture pada perawat Instalasi Gawat Darurat RSUD dr. Abdul Aziz bernilai positif yaitu 83.94% dan Insiden Keselamatan Pasien rendah 29.3%. Hubungan antara PSC dan IKP signifikan dengan nilai p-value 0.029>0.05 dan nilai r = -0.514 dengan arah korelasi negatif serta kontribusi variabel sebesar 26.41%. Terdapat pengaruh yang signifikan terkait Patient Safety Culture (PSC) dengan insiden keselamatan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Abdul Aziz Singkawang tahun 202
PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG SASARAN KESELAMATAN PASIEN STROKE DI RUMAH SAKIT KOTA BANJARBARU
Di Indonesia, angka kejadian stroke masih cukup tinggi dengan prevalensi 10,9 per mil. Stroke merupakan penyakit yang memiliki ketergantungan yang tinggi dalam perawatan. Keselamatan pasien stroke adalah komponen penting yang digunakan untuk menilai kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit oleh perawat. Tingkat pengetahuan perawat mengenai keselamatan pasien stroke merupakan indikator penting yang mendasari pelaksanaan program keselamatan pasien. Indikator ini dapat diukur melalui pemahaman terhadap enam sasaran keselamatan pasien yang telah ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan perawat tentang sasaran keselamatan pasien stroke di rumah sakit Kota Banjarbaru. Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sampel 112 perawat di 5 ruang rawat inap pasien stroke RSD Idaman Kota Banjarbaru. Pengambilan data menggunakan kuesioner karakteristik responden dan kuesioner tingkat pengetahuan perawat tentang sasaran keselamatan pasien stroke. Analisis data menggunakan analisis univariat. Responden memliki pengetahuan yang baik terhadap sasaran keselamatan pasien stroke yaitu sebanyak 100% perawat. Perawat yang memiliki pengetahuan yang baik terhadap keselamatan pasien stroke berpeluang besar dalam meminimalkan terjadinya komplikasi pada pasien. Pengetahuan yang baik dalam menerapkan keselamatan pasien stroke dapat berdampak positif pada peningkatan kualitas mutu pelayanan rumah sakit dan kepercayaan masyarakat.
ANALISIS PERBEDAAN PERSEPSI PASIEN HIPERTENSI TENTANG PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA LANSIA
Hipertensi masih menjadi tantangan besar permasalahan kesehatan di Indonesia, di mana penyakit ini masih sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer. . Saat ini penggunaan obat antihipertensi sebagai terapi pengendalian tekanan darah pada penderita hipertensi belum terlaksana secara optimal. Pada kenyataannya, obat antihipertensi belum digunakan oleh semua pasien penderita hipertensi. Menurut data Riskesdas (2018), di provinsi NTT terdapat beberapa alasan pasien tidak menggunakan obat antihipertensi adalah ketidakterjangkauan pasien terhadap akses mendapatkan obat dan pasien lebih memilih untuk menggunakan obat tradisional (terapi komplementer). Tujuan penelitian ini adalah menganalisa perbedaan persepsi penggunaan antihipertensi berdasarkan kelompok umur lansia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan. Metode penelitan yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kuantitatif dengan pendekatan uji komparatif menggunakan analisa statistik sign test . Sampel dalam penelitian sejumlah 50 orang lansia denga teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini terdapat perbedaan signifikan antara persepsi penggunaan antihipertensi berdasarkan karakteristik variabel kelompok umur 0.000 (Ï<0.05), jenis kelamin 0.011 (Ï<0.05), tingkat pendidikan 0.000 (Ï<0.05), tingkat pendidikan (Ï<0.05) dan tingkat pengetahuan 0.000 (Ï<0.05)
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP REMAJA GEN Z TENTANG POST TRAUMATIC STRESS DISORDER AKIBAT KEKERASAN SEKSUAL
Kekerasan seksual menyebabkan korban mengalami masalah kesehatan mental yaitu Post Traumatic Stress Disorder. Namun, pengetahuan remaja tentang kesehatan mental masih kurang dan masih banyak dijumpai sikap menyalahkan korban yang mempengaruhi mental korban. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan sikap remaja gen Z tentang Post Traumatic Stress Disorder akibat kekerasan seksual. Penelitian ini dilakukan di SMKN Tutur kabupaten Pasuruan pada bulan Mei 2022 menggunakan desain analitik korelasi dan pendekatan cross sectional. Populasi berjumlah 875 siswa dengan 90 responden sebagai sampel. Teknik sampling menggunakan purposive sampling dengan kriteria inklusi remaja gen Z umur 16-19 tahun dan pernah mengakses kasus kekerasan seksual. Variabel independen yaitu pengetahuan dan variabel dependen yaitu sikap. Analisa data menggunakan uji univariate dan bivariate dengan spearman rank menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pengetahuan baik dengan sikap positif. Hasil uji menunjukkan p value 0.000 ada hubungan pengetahuan dengan sikap remaja gen Z tentang Post Traumatic Stress Disorder akibat kekerasan seksual. Kesimpulan penelitian, ada hubungan signifikan antara pengetahuan dengan sikap remaja gen Z tentang Post Traumatic Stress Disorder akibat kekerasan seksual karena beberapa factor mempengaruhi. Remaja gen Z disarankan meningkatkan pengetahuan mengenai Post Traumatic Stress Disorder akibat kekerasan seksual untuk mencegah sikap negative berupa victim blaming.Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Remaja Gen Z, Post Traumatic Stress Disorder, Kekerasan Seksua
HUBUNGAN KOPING STRES PERAWAT PERIOPERATIF MENURUT TEORI LAZARUS DAN FOLKMAN DENGAN RISIKO CEDERA PADA PASIEN INTRA OPERASI
Koping stres adalah perilaku yang tersembunyi dan terlihat yang dilakukan dalam situasi stres untuk mengurangi ketegangan psikologis. Risiko cedera adalah setiap kejadian yang berpotensi menyebabkan bahaya. Tujuan dari penelitian untuk membuktikan apakah ada hubungan koping stres perawat dengan risiko cedera pada pasien. Metode penelitian menggunakan pendekatan cross sectional. Jumlah populasi sebanyak 26 orang dengan teknik pengambilan sampel seluruh populasi. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi dan kuisioner ways of coping dari Lazarus dan Folkman. Pengolahan data menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian sebagian besar responden menggunakan koping stres Emotion Focus Coping sebanyak 15 orang (57,7 %) dan sebagian besar responden pada kategori risiko cidera rendah sebanyak 18 orang (69,2%). Hasil analisis data menunjukkan nilai signifikan 0,024 dan koefisien korelasi -0,441 dengan interpretasi ada hubungan diantara kedua variabel dengan kekuatan hubungan cukup dan arah hubungan tidak searah. Dapat diambil kesimpulan yaitu ada hubungan koping stres perawat perioperatif dengan risiko cedera pada pasien intra operasi. Semakin banyak perawat yang menggunakan koping stres emotion focused coping maka semakin rendah risiko cedera pada pasien. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya yaitu dapat membahas lebih luas koping stres menurut teori Lazarus dan Folkman dan mencari faktor lain yang mempengaruhi risiko cedera pada pasien intra operas
CORRELATION BETWEEN PRENATAL GENTLE YOGA AND THE ANXIETY LEVEL OF PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III PREGNANT WOMEN IN FACING LABOR
Anxiety is a common condition felt by pregnant women, especially third trimester primigravida pregnant women, if anxiety is felt excessively and is not immediately overcome, it can cause various complications to trauma for pregnant women and their fetuses. Physical exercise is proven to reduce anxiety felt during pregnancy, one of the recommended physical exercises is Prenatal Gentle Yoga. The purpose of this study was to determine the relationship between prenatal gentle yoga and the anxiety level of third trimester primigravida pregnant women in facing childbirth. The type of research used is correlative analytic with a cross-sectional approach. The sample was 38 pregnant women with data collection using a questionnaire. Data analysis using univariate test and bivariate test. The results of data analysis using rank spearman showed that there was a relationship between prenatal gentle yoga and the anxiety level of pregnant women (p = 0.001), the less the frequency of participation of pregnant women in following prenatal gentle yoga, the higher the level of anxiety that will be felt. For pregnant women primigravida trimester III is expected to follow prenatal gentle yoga more often so that it can help reduce anxiety levels in the face of childbirth.Anxiety is a common condition felt by pregnant women, especially third trimester primigravida pregnant women, if anxiety is felt excessively and is not immediately overcome, it can cause various complications to trauma for pregnant women and their fetuses. Physical exercise is proven to reduce anxiety felt during pregnancy, one of the recommended physical exercises is Prenatal Gentle Yoga. The purpose of this study was to determine the relationship between prenatal gentle yoga and the anxiety level of third trimester primigravida pregnant women in facing childbirth. The type of research used is correlative analytic with a cross-sectional approach. The sample was 38 pregnant women with data collection using a questionnaire. Data analysis using univariate test and bivariate test. The results of data analysis using rank spearman showed that there was a relationship between prenatal gentle yoga and the anxiety level of pregnant women (p = 0.001), the less the frequency of participation of pregnant women in following prenatal gentle yoga, the higher the level of anxiety that will be felt. For pregnant women primigravida trimester III is expected to follow prenatal gentle yoga more often so that it can help reduce anxiety levels in the face of childbirth
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Tekanan Darah Tinggi Pada Usia 25 – 60 Tahun
Tekanan darah tinggi adalah salah satu penyakit yang ditandai dengan tekanan darah yang melebihi batas normal, yaitu sistolik 140 mmHg dan diastolik 90 mmHg, dijuluki sebagai pembunuh diam – diam (silent killer) karena tidak memberikan gejala yang khas, tetapi bisa meningkatkan terjadinya stroke, penyakit jantung, ginjal kronik, kebutaan dan mengancam jiwa. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menganalisi hubungan aktivitas fisik, status gizi, asupan zat gizi makro dan natrium dengan tekanan darah tinggi pada usia 25 – 60 tahun di Kampung Tenjojaya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan Kampungin studi cross-sectional dan menggunakan teknik Purposive Sampling. Data aktivitas fisik diperoleh dari wawancara IPAQ-SF, status gizi dari pengukuran antropometri, asupan zat gizi makro dan natrium melalui wawancara SQ-FFQ dengan sampel penelitian yaitu 66 orang usia 25 – 60 Tahun Di Kampung Tenjojaya. Proporsi yang mengalami kejadian tekanan darah tinggi sebesar 66.7%. Berdasarkan hasil analisis data penelitian, menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan karbohidrat (p value = 1,000) dan asupan natrium (p value = 0,600) dengan tekanan darah tinggi pada usia 25 – 60 tahun di Kampung Tenjojaya. Terdapat pula hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik (p value = 0,025), obesitas (p value = 0,030), asupan energi (p value = 0,042), asupan protein (p value = 0,028), dan asupan lemak (p value = 0,047) dengan tekanan darah tinggi pada usia 25 – 60 tahun di Kampung Tenjojaya
Analisis Kadar Protein, Kadar Zat Besi dan Sifat Organoleptik pada Mi Kering dengan Substitusi Kacang Tolo (Vigna unguiculata)
Mi kering berasal dari tepung terigu yang bukan tanaman asli Indonesia. Penambahan bahan lain dapat menggantikan tepung terigu dan memperkaya kandungan gizinya. Salah satunya adalah kacang tolo (Vigna unguiculata) yang memiliki kandungan tinggi protein dan zat besi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar protein, kadar zat besi dan sifat organoleptik pada mi kering yang disubstitusi dengan tepung kacang tolo. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan teknik Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 2 kali ulangan. Perbandingan tepung terigu dan tepung kacang tolo yaitu 100%:0%; 89%:11%; 86,25%:13,75%; 83,5%:16,5%. Metode analisis uji kadar protein dan kadar zat besi menggunakan analisis deskriptif, sedangkan sifat organoleptik menggunakan uji Kruskall Wallis dengan α=0,05 dan dilanjutkan dengan uji Mann Whitney. Kadar protein mi kering dengan penambahan kacang tolo (Vigna ungiculata) pada tiap formulasi yaitu F0 sebesar 11,77%, F1 sebesar 12,52%, F2 sebesar 12,68%, dan F3 sebesar 12,54%. Kadar zat besi mi kering dengan penambahan kacang tolo pada tiap formulasi yaitu F0 sebesar 3,025 mg/100gr, F1 sebesar 2,55 mg/100gr, F2 sebesar 2,75 mg/100gr, dan F3 sebesar 2,78 mg/100gr. Terdapat perbedaan sifat organoleptik indikator rasa (p=0,006) dan warna (p=0,001). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada penambahan kacang tolo terhadap sifat organoleptik indikator aroma (p=0,654) dan tekstur (p=0,399)