Ejournal STKIP PGRI Pacitan (Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia)
Not a member yet
940 research outputs found
Sort by
Pemanfaatan Sampah Botol Bekas berbasis Ramah Lingkungan sebagai Media Tanam Sayuran di Kelurahan Antirogo
Garbage is a serious problem in Indonesia. It is not surprising that there is a lot of waste found in various places, such as used plastic bottles. To overcome this problem, the Collaborative KKN Team #2 237 invites the community to manage and utilize used bottle waste as a medium for growing vegetables in the Antirogo Village. This activity aims to minimize the volume of bottled waste in the surrounding environment and educate the public to utilize used bottled waste as a medium for growing vegetables. The method used in the implementation of this activity is through socialization and joint manufacturing practices. The results of this study indicate that the audience is enthusiastic in receiving the material provided and the results of the questionnaire indicate that the audience\u27s high desire to practice it at their homes on an ongoing basis. This is of course as one of the results of the successful activities received by the Collaborative KKN #2 237 team
Pelatihan Ecobrick Di SDN 2 Sanggrahan Kebonagung Pacitan
Pelatihan ecobrick di SDN 2 Sanggrahan Kebonagung Pacitan telah terlaksana dengan baik dan menghasilkan output berupa meja dan kursi berbahan sampah plastik non organik. Antusiasme peserta pelatihan terlihat jelas, tatkala mereka tengah menikmati semua proses pelatihan dan nampak sedih ketika jam pembelajaran telah berakhir. Tujuan pengabdian masyarakat ini ada tiga, yakni: (1) untuk mengedukasi warga sekolah, khususnya peserta didik akan pentingnya kepedulian lingkungan di sekolah; (2) untuk melatih dan membiasakan peserta didik dalam memilah-milah sampah organik dan non organik; (3) untuk melatih kecakapan peserta didik dalam membuat ecobrick berbahan limbah plastik. Pelaksanaan pelatihan Ecobrick di SDN 2 Sanggrahan Kebonagung Pacitan ini menggunakan empat tahapan, yakni: (1) tahap koordinasi; (2) tahap sosialisasi; (3) tahap pelatihan; (4) tahap pendampingan. Adapun objek pelatihan pembuatan ecobrick adalah keseluruhan peserta didik SDN 2 Sanggrahan. Pelatihan pembuatan ecobrick di SDN 2 Sanggrahan yang memanfaatkan limbah sampah plastik telah terlaksana dengan baik. Para peserta didik mulai mengetahui dan memahami betapa pentingnya menjaga lingkungan sekolah. Indikatornya, pengumpulan sampah plastik peserta didik dari pekan ke pekan selalu naik secara signifikan. Selain itu, peserta didik telah mampu dan dapat mempraktikkan pembuatan ecobrik secara baik dan benar. Produk yang dihasilkan pelatihan ini berupa meja dan kursi ecobrick yang siap digunakan dalam pembelajaran keseharian
Komentar Pengguna Facebook pada Akun Facebook Resmi Presiden Joko Widodo: Studi Analisis Ketidaksantunan Bahasa
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan menganalisis ketidaksantunan dari komentar para pengguna Facebook pada akun resmi Presiden Republik Indonesia ke tujuh, Joko Widodo. Data komentar pengguna Facebook didapatkan sebagai tanggapan dari video yang diunggah pada akun resmi Facebook Presiden RI, Joko Widodo dengan menggunakan metode pengumpulan bertingkat guna memperoleh subsampel yang memadai. Subsampel dari penelitian ini dikumpulkan sekitar empat ratus komentar terbaru pada video yang diposting untuk menemukan adanya ketidaksantunan. Selain itu, ketidaksantunan itu sendiri diusulkan oleh Grice (2010). Sementara itu, ahli lain mengkategorikan ketidaksantunan menjadi tujuh jenis, diantaranya yaitu (1) ejekan, (2) umpatan, (3) padanan kata pembohong, (4) hiperbola, (5) kata-kata tidak kooperatif, (6) ujaran untuk merendahkan, dan (7) perkataan kasar. Dengan menggunakan klasifikasi ketidaksantunan oleh Jamieson (1998), penelitian ini akhirnya menghasilkan temuan. Terdapat tiga jenis ketidaksantunan yang muncul dalam penelitian ini, yaitu (1) ejekan, (2) umpatan, dan (3) kata-kata tidak kooperatif. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap implikasi pedagogis dalam membangun karakter siswa agar beradab di lingkungan masyarakat
Pemanfaatan Media Youtube dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan media YouTube dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Fokus penelitian ini meliputi langkah-langkah pembelajaran bahasa Indonesia, dan pedoman peran guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi dan analisis konten. Data dianalisis secara deskriptif. Penelitian ini diambil dari sebuah channel youtube Arisa Nur Aini. Arisa Nur Aini merupakan alumni mahasiswi Universitas Negeri Semarang angkatan tahun 2007. Dengan konten video pertama berjudul anekdot kerbau yang dipublikasikan pada tanggal 15 Mei 2020. Konten ini merupakan cuplikan video praktik anekdot yang dilakukan oleh siswa-siswi SMA Negeri 1 Limbangan, Semarang, Jawa Tengah. Ia memulai konten dengan sangat sederhana hingga menarik. Tujuan pembuatan konten oleh Arisa Nur Aini mungkin waktu itu masa pandemi, jadi tidak bisa bertatap muka secara langsung di sekolah. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia terutama di kelas 10 merupakan tahap kritis dalam pendidikan, di mana siswa mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan akademik yang lebih tinggi di masa depan. Langkah- langkah pembelajaran yang terstruktur dan efektif sangat penting untuk membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan mencapai prestasi akademik yang optimal. Siswa harus mencakup tujuan pembelajaran yang jelas dan spesifik, mengidentifikasi materi pelajaran yang akan dipelajari, serta merencanakan kegiatan dan sumber daya yang dibutuhkan. Menyusun rencana pembelajaran yang terarah, berpartisipasi secara aktif, melibatkan siswa dalam beragam kegiatan, mengembangkan kebiasaan belajar yang efektif, dan merefleksikan pemahaman adalah uapaya yang dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman mereka dan mencapai prestasi akademik yang lebih baik di kelas 10 SMA
Teachers\u27 Difficulties in Teaching English to Young Learners in 5 Schools at Nias
Teaching English to young learners is not easy as English is not their mother tongue. So teachers find it difficult to teach young learners. Therefore, the researchers conducted a study to describe the problems faced by teachers in teaching English to young learners. The purpose of this study was to find out the difficulties faced by English teachers when teaching young learners and the researchers were motivated to conduct a descriptive qualitative research on teachers\u27 difficulties in teaching English to young learners in 5 schools in Nias. Data were collected, analyzed and interpreted using the interview method. Five English teachers were selected from different schools as participants for the interviews. The researcher used 2 weeks to conduct interviews with 5 teachers in different teaching locations. From some of the teachers\u27 opinions, it can be concluded that there are many difficulties they encounter when teaching, namely lack of facilities, lack of knowledge in using IT, limited time, and students\u27 lack of motivation in learning. Methods and strategies to overcome difficulties in teaching English, namely by using games, increasing vocabulary, and English songs for children.
 
Analisis Resepsi Folklor Lisan Pertanyaan Tradisional Cangkriman dan Wangsalan Pada Masyarakat Jawa
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran penulis terhadap keberadaan folklorlisan khususnya pertanyaan tradisional cangkriman dan wangsalan yang kurang eksispada sebagian masyarakat Jawa. Oleh karena itu, penulis berusaha menyajikan analisisresepsi folklor lisan pertanyaan tradisional cangkriman serta wangsalan. Penelitian initerfokus pada resepsi beberapa masyarakat Bandar dan Tulakan Kabupaten Pacitanyang dibedakan berdasarkan umur dan pengetahuan. Selain itu, penelitian ini jugaberupaya untuk mengenalkan dan menjelaskan folklor lisan, pertanyaan tradisionalseperti cangkriman dan wangsalan, serta memberitahukan upaya pelestarian yang dapatdilakukan para generasi muda untuk melestarikan folklor lisan khususnya bagimasyarakat Pacitan. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitiankualitatif yaitu dengan mengumpulkan data melalui beberapa sumber seperti buku,jurnal, situs internet dan hasil wawancara dengan beberapa generasi untuk mengetahuipengetahuan mereka terhadap pertanyaan tradisional sekaligus mengenalkancangkriman dan wangsalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resepsi masyarakatterhadap folklor lisan berbeda-beda. Ada yang sudah mengetahui dan ada yang belummengetahui folklor lisan (pertanyaan tradisional cangkriman dan wangsalan). Hal inidipengaruhi oleh usia serta pengetahuan mereka terhadap folklor lisan. Generasi mudamenunjukkan kurang mengetahui cangkriman dan wangsalan serta generasipendahulunya mengerti cangkriman dan wangsalan tetapi pada realitas zaman sekarangsudah jarang terdengar
Keterampilan Bertanya Siswa Kelas V pada Pembelajaran Tematik Materi IPA
This study aims to describe 1) the learning process of fifth grade students in the thematic learning of natural science material at SD Negeri 2 Jetak, 2) the questioning skills of fifth grade students in thematic learning of natural science material at SD Negeri 2 Jetak. This type of research is qualitative research using descriptive methods. The subjects of this study were fifth grade students at SD Negeri 2 Jetak. Data collection techniques, by way of observation, interviews, and documentation. Data analysis techniques use the Miles and Huberman models, namely data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study indicate that: 1) The learning process of fifth grade students during the thematic learning of science material has been carried out well, there has been good interaction between teachers and students. Thematic learning in class V uses two textbooks, namely thematic package books and thematic LKS books. 2) The questioning skills of fifth grade students in thematic learning vary greatly, some students feel happy when asking questions during class learning, because they can get rewards in the form of additional scores. As well as the skill of asking questions the teacher also participates in provoking and motivating students to ask questions, so that there is an increase in student activity in asking questions. So students who have good questioning skills tend to be more active during the learning process and have achievement, compared to students who don\u27t have questioning skills.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1) proses elajar siswa kelas V pada pembelajaran tematik materi IPA di SD Negeri 2 jetak, 2) keterampilan bertanya siswa kelas V pada pembelajaran tematik materi IPA di SD Negeri 2 jetak. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Subjek penelitian ini siswa kelas V SD Negeri 2 jetak. Teknik pengumpulan data, dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Proses belajar siswa kelas V saat pembelajaran tematik materi IPA sudah terlaksana dengan baik, sudah ada interaksi yang baik antara guru dan siswa. Pembelajaran tematik di kelas V menggunakan dua buku pelajaran, yaitu buku paket tematik dan buku LKS tematik. 2) Keterampilan bertanya siswa kelas V pada pembelajaran tematik sangat bervariasi, beberapa siswa merasa senang ketika bertanya saat pembelajaran di kelas, sebab bisa mendapatkan reward berupa nilai tambahan. Serta keterampilan bertanya guru juga ikut memancing dan memotivasi siswa untuk bertanya, sehingga mengalami peningkatan keaktifan siswa dalam bertanya. Jadi siswa yang memiliki keterampilan bertanya yang baik cenderung lebih aktif selama proses pembelajaran dan berprestasi, dibandingkan dengan siswa yang tidak memiliki keterampilan bertanya
Pengaruh adversity quotient terhadap kemampuan metakognitif siswa kelas x SMKN Kebonagung
This study aims to determine the effect of the adversity quotient (high, medium, and low) on students\u27 metacognitive abilities. This is an ex post facto study with a quantitative approach. The sample for this study was 76 students in class X of Kebonagung State Vocational School, taken with the Simple Random Sampling technique. Data collection techniques in this study use questionnaires and tests. Questionnaires are used to measure students\u27 adversity quotients, and tests are used to measure metacognitive abilities on trigonometric material. The data analysis technique in this study uses a non-parametric test, namely the Kuskall-Wallis H. Based on the calculation results using a non-parametric test (Kuskall Wallis H) and obtaining sig. = 0.329> = 0.05, then is accepted. This means that there is no difference between adversity quotient (high, low, low) and students\u27 metacognitive abilities. whereas based on then is accepted. This means that there is no difference between adversity quotient (high, low, low) and students\u27 metacognitive abilities. This shows that adversity quotient (high, medium, low) has no effect or effect on students\u27 metacognitive abilities.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara adversity quotient (tinggi, sedang, rendah) terhadap kemampuan metakognitif siswa. Metode penelitian ini merupakan ex post –facto dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian ini sebanyak 76 siswa pada kelas X SMK Negeri Kebonagung yang diambil dengan teknik simple random sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket dan tes. Angket digunakan untuk mengukur adversity quotient siswa, dan tes digunakan untuk mengukur kemampuan metakognitif pada materi trigonometri. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji non-parametrik yaitu Kruskall Wallis H. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan uji non parametrik (Kruskall Wallis H) diperoleh maka diterima. Artinya tidak terdapat perbedaan antara adversity quotient (tinggi, sedang, rendah) terhadap kemampuan metakognitif siswa. Sedangkan berdasarkan maka diterima. Artinya tidak terdapat perbedaan antara adversity quotient (tinggi, sedang, rendah) terhadap kemampuan metakognitif siswa. Hal ini menunjukkan bahwa adversity quotient (tinggi, sedang, rendah) tidak memiliki pengaruh atau efek sama terhadap kemampuan metakognitif siswa
Literasi matematis dan mathematical habits of mind peserta didik dalam menyelesaikan soal matematika berorientasi kemampuan 4C
This study aims to determine the mathematical habits of students and students\u27 mathematical literacy skills in solving 4c ability-oriented math problems. This research was a descriptive research with a qualitative approach. Data collection techniques were questionnaires, tests, and interviews. The sample of this research was eight grade students of MTs Negeri 1 Pacitan in academic year of 2021/2022. The total samples were 32 students by using purposive sampling technique. The instrument that used in this research were a mathematical habits of mind\u27s questionnaire and 4c ability-oriented mathematical literacy test. The data analysis technique used the Miles and Huberman model. The results of this study indicate that students of MTs Negeri 1 Pacitan produce data, namely 31% of students have high mathematical habits of mind, 31% of students have average mathematical habits of mind and 38% of students have low mathematical habits of mind, then the total number of participants in the low category was higher than in the high and medium categories. Based on the analysis of the results of the answers and interviews, it can be concluded that one sentence has not accomplished by the students were mathematical literacy to interpret the situation mathematically, the use of variables, and symbols, mathematical concepts, facts, procedures, and the reason in answering questions correctly. At low Mathematical habits of mind students were able to use communication skills and collaboration skills. Sstudents with average and high mathematical habits of mind were able to use critical thinking skills, mathematical communication skills and collaboration skillsPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui mathematical habits of mind peserta didik dalam menyelesaikan soal matematika berorientasi kemampuan 4c, dan mengetahui kemampuan literasi matematis peserta didik dalam menyelesaikan soal matematika berorientasi kemampuan 4c. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan angket, tes, dan wawancara. Sampel penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII MTs Negeri 1 Pacitan tahun pelajaran 2021/2022 sebanyak 32 peserta didik dengan teknik purposive sampling. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peserta didik MTs Negeri 1 Pacitan menghasilkan data yaitu 31% peserta didik memiliki mathematical habits of mind tinggi, 31% peserta didik memiliki mathematical habits of mind sedang dan 38% peserta didik memiliki mathematical habits of mind rendah, maka didapatkan jumlah partisipan pada kategori rendah lebih banyak dari pada kategori tinggi dan sedang. Berdasarkan analisis hasil jawaban dan wawancara dapat diketahui bahwa indikator yang belum memenuhi indikator literasi matematis yaitu mengiterpretasikan situasi secara matematis, menggunakan variabel, dan simbol, menggunakan konsep-konsep matematika, fakta, prosedur, dan penalaran, dan menafsirkan hasil penyelesaian masalah pada konteks nyata. Pada Mathematical habits of mind rendah peserta didik mampu menggunakan kemampuan komunikasi dan kemampuan kolaborasi, kemudian peserta didik dengan mathematical habits of mind sedang dan tinggi mampu menggunakan kemampuan berpikir kritis, kemampuan komunikasi matematis dan kemampuan kolaborasi
Motivasi berprestasi pada mata pelajaran matematika siswa kelas x SMK Negeri Kebonagung
Achievement motivation is an encouragement and goal from the individual to achieve something that is intended as well as possible. In this study, the achievement motivation studied was in mathematics. This study aims to determine how high the achievement motivation of students in class X mathematics at Kebonagung State Vocational School. This research is a type of descriptive quantitative research. The population in this study was all of class X at Kebonagung State Vocational School, a sample of 100 students was taken using the simple random sampling method. The instrument in this study used an achievement motivation questionnaire which was taken directly. The data analysis was used a quantitative descriptive analysis with percentages. The results showed that achievement motivation in class X mathematics at Kebonagung State Vocational School had a percentage value in the very low category of 5%, the low category of 23%, the medium category of 44%, the high category of 19%, and the very high category 9%.Motivasi berprestasi adalah dorongan dan tujuan dari dalam individu untuk mecapai suatu yang dituju dengan sebaik-baiknya. Dalam penelitian ini motivasi berprestasi yang diteliti adalah pada mata pelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa tinggi motivasi berprestasi siswa pada mata pelajaran matematika kelas X di SMK Negeri Kebonagung. Penelitian ini merupakan penelitian dengan jenis kuantitatif deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas X di SMK Negeri Kebonagung, sampel yang diambil sebanyak 100 siswa dengan metode simple random sampling. Instrument dalam penelitian ini menggunakan angket motivasi berprestasi yang diambil secara langsung. Analisis data yang digunakan merupakan analisis deskriptif kuantitatif dengan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi berprestasi pada mata pelajaran matematika kelas X di SMK Negeri Kebonagung, memiliki nilai persentase pada kategori sangat rendah sebanyak 5%, kategori rendah 23%, kategori sedang 44%, kategori tinggi 19% dan pada kategori sangat tinggi 9%