Portal Jurnal Malahayati (Universitas Malahayati)
Not a member yet
7304 research outputs found
Sort by
Perbedaan Teknik Homogenisasi Inversi 10 Kali, Teknik Angka Delapan Dan Blood Roller Mixer Terhadap Jumlah Trombosit Pada Alat Hematology Analyzer
Homogenisasi merupakan proses pencampuran secara merata antara darah dengan antikoagulan. Beberapa laboratorium melakukan homogenisasi secara otomatis akan tetapi tidak semua fasilitas kesehatan memiliki alat automatis blood roller mixer sehingga homogenisasi sampel masih dilakukan secara manual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan teknik homogenisasi inversi 10 kali, teknik angka delapan dan blood roller mixer terhadap jumlah trombosit pada alat hematology analyzer. Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Sampel yang digunakan sebanyak 30 mahasiswi semester delapan D4 Teknologi Laboratorium Medis Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta dengan teknik pengambilan purposive sampling sesuai kriteria inklusi. Analisis data menggunakan uji One way anova dan Paired Sample T test. Hasil penelitian didapatkan nilai rata-rata jumlah trombosit yang dihomogenkan dengan teknik angka delapan lebih besar yaitu sebanyak 350 x 103/mL dibandingkan dengan sampel darah yang dihomogenkan dengan teknik inversi 10 kali yaitu sebanyak 348,87 x 103/mL dan menggunakan blood roller mixer sebanyak 343,03 x 103/mL. Didapatkan nilai p > 0,05 baik dari hasil uji One way anova maupun Paired Sample T Test. Disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan hasil pemeriksaan jumlah trombosit dari sampel yang dihomogenisasi dengan teknik inversi 10 kali, angka delapan dan blood roller mixer
Gambaran Penderita Hipertensi Pada Lanjut Usia Di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang
Hipertensi secara signifikan dapat berkontribusi terhadap beban penyakit kardiovaskular, stroke dan gagal ginjal.Seseorang dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah sistolik pada tubuh > 140 mmHg dan tekanan darah diastolik > dengan 90 mmHg. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran penderita hipertensi berdasarkan usia, jenis kelamin, kolesterol total, kadar kolesterol LDL, kadar kolesterol HDL, kadar ureum dan kadar kreatinin. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini melibatkan 36 pasien hipertensi yang bergabung dalam kelompok Prolanis Hipertensi di Puskesmas Kedungmundu Semarang yang dilaksanakan pada bulan Februari 2024. Pengambilan data dilakukan dengan cara mengambil data sekunder yang telah dimiliki puskesmas yaitu berupa data demografi dan data klinis pasien. Teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Analisis univariat dalam penelitian digunakan untuk memberikan distribusi frekuensi dan pengelolaan data menggunakan aplikasi SPSS versi 25.0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penderita hipertensi lebih banyak ditemukan pada usia 60-74 tahun (58,3%) dan lebih banyak berjenis kelamin perempuan (72,2%). Penderita hipertensi memiliki kadar kolesterol total tinggi (41,7%), kadar kolesterol LDL pada abnormal (44,4%) dan kadar kolesterol HDL kategori normal (55,6). Kemudian ditemukan hampir seluruh penderita hipertensi memiliki kadar ureum yang tinggi (94,4%) sementara kadar kreatinin tetap dalam kategori normal (88,9%)
Pengaruh Edukasi Peningkatan Kesejahteraan Ibu dan Janin melalui Antenatal Care Berkualitas terhadap Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil
ABSTRAK Aka kematian Ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia saat ini masih tinggi. ANC merupakan salah satu upaya untuk percepatan penurunan AKI dan AKB dengan menjamin agar setiap ibu mampu mengakses pelayanan kesehatan yang berkualitas. Pengetahuan dan sikap ibu hamil akan berpengaruh terhadap kepatuhan ibu hamil dalam melakukan ANC. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang peningkatan kesejahteraan ibu dan janin melalui antenatal care berkualitas. Metode pengabdian masyarakat ini menggunakan metode edukasi tentang peningkatan kesejahteraan ibu dan janin melalui antenatal care berkualitas dengan sasaran ibu hamil sebanyak 15 orang, dilakukan di Desa Pasawahan Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut. Hasil pengabdian pada masyarakat ini menunjukan terdapat peningkatan pengetahuan dan sikap ibu hamil setelah diberikan edukasi dan terdapat pengaruh edukasi tentang peningkatan kesejahteraan ibu dan janin melalui antenatal care berkualitas.terhadap pengetahuan dan sikap ibu hamil, dengan p-value . masing-masing 0,001. Diharapkan petugas kesehatan bekerjasama dengan kader kesehatan untuk secara berkala memberikan edukasi pada ibu hamil tentang pentingnya antenatal care (ANC). Kata Kunci: Antenatal Care, Edukasi, Ibu Hamil. ABSTRACT Maternal mortality (MMR) and infant mortality (IMR) in Indonesia are currently still high. ANC is an effort to accelerate the reduction of MMR and IMR by ensuring every mother can access quality health services. The knowledge and attitudes of pregnant women will influence the compliance of pregnant women in carrying out ANC. This community service aims to increase the knowledge and attitudes of pregnant women regarding improving the welfare of the mother and fetus through quality antenatal care. This community service method uses educational methods about improving the welfare of mothers and fetuses through quality antenatal care targeting 15 pregnant women, carried out in Pasawahan Village, Tarogong Kidul District, Garut Regency. The results of this community service show that there is an increase in the knowledge and attitudes of pregnant women after being given education and there is an influence of education about improving the welfare of the mother and fetus through quality antenatal care on the knowledge and attitudes of pregnant women, with a p-value. 0.001 each. It is hoped that health workers will collaborate with health cadres to periodically educate pregnant women about the importance of antenatal care (ANC). Keywords: Antenatal Care, Education, Pregnant Wome
Pemberdayaan Karang Taruna dalam Pertolongan Pertama Kecelakaan Daerah Wisata
ABSTRAK Penyebab kecelakaan pada daerah wisata bisa disebabkan karena kondisi yang tidak aman dan tindakan yang tidak aman dari wisatawan. Kecelakaan dapat terjadi dimana pun dan pertolongan pertama yang tepat dan segera akan melindungi korban dari bahaya. Penanganan yang salah pada korban kecelakaan karena kurangnya pengetahuan penolong dapat memperburuk situasi dan keadaan korban. Sehingga pengetahuan tentang pertolongan pertama bagi masyarakat sekitar sangat penting. Pelatihan pertolongan pertama untuk mengatasi kecelakaan berbasis masyarakat memiliki dampak positif dalam mengurangi angka kesakitan dan kematian pada korban kecelakaan. Melalui pelatihan pertolongan pertama pada kecelakaan daerah wisata ini diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan karang taruna tentang pertolongan pertama pada kecelakaan di daerah wisata. Kegiatan menggunakanmetode pelatihan dengan penyampaian materi dengan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi dilanjutkan dengan praktik dengan metode simulasi dan demontrasi. Pengetahuan karang taruna pada nilai pretest didapatkan hasil rata-rata yaitu 29,09 dan hasil post test didapatkan nilai pengetahuan rata-rata menjadi 60,89. Hal ini menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang pertolongan pertama sebesar 31,8 poin. Keterampilan karang taruna sebelum dilakukan pelatihan pada katagori belum dapat melakukan sebanyak 82,86 % dan dapat melakukan dengan kurang baik sebanyak 17,14 %. Keterampilan sesudah dilakukan pelatihan berada pada katagori dapat melakukan dengan kurang baik sebanyak 41,14 % dan dapat melakukan dengan cukup baik sebanyak 58,86 %. Kegiatan pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan karang taruna dalam pertolongan pertama pada kecelakaan di daerah wisata. Kata Kunci: Daerah Wisata, Karang Taruna, Pertolongan Pertama ABSTRACT The causes of accidents in touristm can be caused by unsafe conditions and unsafe actions by tourists. Accidents can happen anywhere and proper and immediate first aid will protect victims from harm. Incorrect handling of accident victims due to a lack of knowledge of the helper can worsen the situation and condition of the victim. So knowledge about first aid for the local community is very important. Community-based first aid training for accidents has a positive impact in reducing morbidity and mortality among accident victims. Through this first aid training for accidents in touristm, it is hoped that there will be an increase in the knowledge and skills of karang taruna regarding first aid for accidents in touristm. Activities use training methods by delivering material using lecture, question and answer and discussion methods followed by practice using simulation and demonstration methods. Karang Taruna's knowledge in the pretest value obtained an average result of 29.09 and post test results obtained an average knowledge value of 60.89. This shows an increase in knowledge about first aid of 31.8 points. The skills of the karang taruna before training in the category were 82.86% unable to perform and 17.14 % were able to perform poorly. Skills after training were in the category of being able to do not well as much as 41.14% and being able to do quite well as much as 58.86%. Training activities can increase the knowledge and skills of karang taruna in first aid for accidents in touristm. Keywords: Touristm, Karang Taruna, First Ai
Sosialisasi Buku Saku Simpus di Puskesmas Setabelan Surakarta dan Heatlh Center di Timor Leste
ABSTRAK Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) adalah alat penting untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan kesehatan di Puskesmas. Namun, masih terdapat keterbatasan pemahaman dan partisipasi tenaga kesehatan dan masyarakat dalam penerapannya. Meningkatkan pemahaman dan partisipasi tenaga kesehatan serta masyarakat terhadap SIMPUS melalui sosialisasi buku saku. Kegiatan ini dilakukan di Puskesmas Setabelan, Surakarta, Indonesia, dan Health Center di Timor Leste. Metode yang digunakan meliputi pemberian informasi, distribusi buku saku, serta pelatihan penggunaan SIMPUS. Evaluasi dilakukan melalui survei dan analisis partisipasi masyarakat. Sosialisasi dan pelatihan yang dilakukan meningkatkan pemahaman dan partisipasi tenaga kesehatan dan masyarakat terhadap SIMPUS. Kegiatan ini berhasil membuka jalan bagi penggunaan SIMPUS yang lebih efektif dan luas dalam pengelolaan kesehatan masyarakat. Kata Kunci: SIMPUS, Buku Saku, Partisipasi Masyarakat, Pengelolaan Kesehatan ABSTRACT The Primary Health Care Management Information System (SIMPUS) is a crucial tool for enhancing the effectiveness of health management in primary healthcare centers (Puskesmas). However, there are still limitations in the understanding and participation of healthcare workers and the community in its implementation. To improve the understanding and participation of healthcare workers and the community in SIMPUS through the dissemination of pocket books. This activity was conducted at Puskesmas Setabelan, Surakarta, Indonesia, and Health Centers in Timor Leste. The methods used included information dissemination, distribution of pocket books, and training on the use of SIMPUS. Evaluation was carried out through surveys and analysis of community participation. The dissemination and training activities led to an increase in the understanding and participation of healthcare workers and the community in SIMPUS. This initiative successfully paved the way for more effective and widespread use of SIMPUS in public health management. Keywords: SIMPUS, Pocket Books, Community Participation, Health Management
Edukasi Akupresure Kombinasi Inhalasi Aromaterapi Lemon menggunakan Media Bantu Video untuk Menurunkan Mual Muntah bagi Ibu Hamil Trimester I
ABSTRAK Mual dan Muntah merupakan adaptasi fisiologis proses kehamilan yang disebabkan adanya perubahan sistem endokrin pada primigravida sekitar 60-80% dan multigravida 40-60%.(Rofi’ah et al., 2019) Peningkatan Hormon Chorionic Gonadotropin (HCG) dengan kadar tertinggi biasanya terjadi pada periode trimester I yaitu di usia kehamilan 12-16 minggu pertama. Masa kehamilan dapat terjadi masalah-masalah yang tidak diinginkan. (Handayani & Khairiyatul, 2019)Penatalaksanaan mual dan muntah pada kehamilan dilakukan tergantung berat ringannya gejala, pengobatan dilakukan dengan cara farmakologi maupun non farmakologi. Terapi farmakologi dengan pemberian antiemetik, antihistamin, anti kolinergik dan kortikosteroid, sedangkan terapi nonfarmakologi dilakukan dengan cara pengaturan diet, dukungan emosional, akupresure.(Rofi’ah et al., 2019) Tujuan untuk memberikan edukasi pengetahuan dan peningkatan keterampilan Akupresur dalam pengurangan frekuensi mual muntah pada ibu hamil trimester I. Metode yang digunakan dalam pengadian masyarakat ini adalah dengan pemberian materi, Diskusi, Pemutaran Video, Demonstrasi dan Praktek. Hasil kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini berjalan baik dan sesuai dengan tujuan. Edukasi Kesehatan dengan terapi komplementer yang diberikan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah diberikan dengan jumlah 12 responden ibu hamil dimana terjadi peningkatan skor pengetahuan sebelum diberikan media video dengan rata-rata nilai pengetahuan 7 sedangkan setelah diebrikan media video akupresure kombinasi inhalasi aromaterapi Lemon selama 7 hari terjadi peningkatan pengetahuan dengan nilai rata-rata 9 dari 10 dan mual muntah Ibu hamil trimester 1 berkurang. Kata Kunci: Akupresure, Kombinasi Inhalasi Aromaterapi Lemon, Media Video, Mual Muntah, Ibu Hamil ABSTRACT Nausea and Vomiting are physiological adaptations of the pregnancy process caused by changes in the endocrine system in primigravida around 60-80% and multigravida 40-60%. (Rofi'ah et al., 2019) Increased Chorionic Gonadotropin Hormone (HCG) with the highest levels usually occurs in the first trimester, namely in the first 12-16 weeks of pregnancy. During pregnancy, unwanted problems can occur. Management of nausea and vomiting in pregnancy is carried out depending on the severity of the symptoms, treatment is carried out pharmacologically and non-pharmacologically. Pharmacological therapy with the administration of antiemetics, antihistamines, anticholinergics and corticosteroids, while non-pharmacological therapy is carried out by regulating diet, emotional support, acupressure. (Rofi'ah et al., 2019) The aim is to provide education, knowledge and improve Acupressure skills in reducing the frequency of nausea and vomiting in pregnant women in the first trimester. The methods used in this community service are by providing materials, Discussion, Video Screening, Demonstration and Practice. The results of this community service activity went well and in accordance with the objectives. Health Education with complementary therapy provided can increase community knowledge before and after being given with a total of 12 pregnant women respondents where there was an increase in knowledge scores before being given video media with an average knowledge score of 7 while after being given acupressure video media combined with Lemon aromatherapy inhalation for 7 days there was an increase in knowledge with an average value of 9 out of 10 and nausea and vomiting of pregnant women in the first trimester decreased. Keywords: Acupressure, Combination of Lemon Aromatherapy Inhalation, Video Media, Nausea and Vomiting, Pregnant Wome
Edukasi melalui Video sebagai Upaya Preventif Diabetes Melitus pada Remaja di SMA Muhammadiyah 1 Kota Pontianak
ABSTRAK Tantangan dalam penerapan program pencegahan diabetes melitus di sekolah cukup besar. Banyak sekolah masih belum memiliki program edukasi kesehatan yang memadai, terutama yang terkait dengan pencegahan penyakit kronis seperti diabetes melitus. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk keterbatasan sumber daya, kurangnya tenaga pendidik yang kompeten di bidang kesehatan, serta kurangnya perhatian dari pihak sekolah dan orang tua terhadap pentingnya pencegahan DM sejak dini. Kegiatan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya diabetes melitus pada remaja. Metode yang dilakukan pada kegiatan ini adalah dengan pemberian video edukasi kesehatan tentang diabetes melitus dan upaya pencegahannya pada 36 siswa SMA Muhammadiyah 1 kota Pontianak. Tingkat pengetahuan siswa diukur sebanyak dua kali, yaitu sebelum pemberian edukasi (pre-test) dan setelah pemberian edukasi (post-test) menggunakan kuesioner pengetahuan diabetes melitus dan pencegahannya. Hasil menunjukkan adanya peningkatan tingkat pengetahuan siswa setelah pemberian edukasi, di mana jumlah siswa dengan pengetahuan baik meningkat dari 55,6% menjadi 77,8% dan tidak ada lagi siswa yang memiliki pengetahuan kurang mengenai pencegahan diabetes melitus pada remaja. Peningkatan ini menunjukkan bahwa penggunaan video edukasi efektif sebagai media untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang pencegahan diabetes melitus. Hasil ini menegaskan pentingnya pemberian edukasi interaktif di sekolah untuk mendorong kesadaran dan pemahaman siswa mengenai pencegahan penyakit kronis sejak dini. Dengan demikian, sekolah perlu memberikan perhatian lebih pada pengembangan program edukasi kesehatan yang komprehensif untuk mencegah diabetes melitus di kalangan remaja. Kata Kunci: Diabetes Melitus, Remaja, Edukasi Kesehatan, Video Edukasi ABSTRACT The implementation of diabetes prevention programs in schools presents several significant challenges. Many educational institutions lack comprehensive health education programs, particularly preventing chronic illnesses like diabetes mellitus. This is due to several factors, including limited resources, a lack of competent health educators, and insufficient attention from schools and parents on early diabetes prevention. One study sought to prevent the development of diabetes mellitus in adolescents through educational videos on diabetes and its prevention. The study involved 36 high school students from SMA Muhammadiyah 1 in Pontianak. The students' knowledge levels were assessed on two occasions: before the educational intervention (pre-test) and after the educational intervention (post-test), utilizing a questionnaire on diabetes mellitus knowledge and its prevention. The findings indicated a notable enhancement in the students' knowledge following the intervention, with the proportion of students demonstrating a comprehensive understanding of diabetes prevention increasing from 55.6% to 77.8%, and no students exhibiting a deficient comprehension of the subject matter. These observations imply that educational videos can be an efficacious approach to facilitating students' comprehension of diabetes prevention. These findings underscore the need to implement interactive education in schools to enhance kids' knowledge and comprehension of chronic illness prevention from an early age. Consequently, schools must prioritize the establishment of comprehensive health education programs to avert diabetes mellitus in adolescents. Keywords: Diabetes Mellitus, Adolescent, Health Education, Educational Vide
Edukasi Preventif Penyalahgunaan Napza Pada Remaja : Pendekatan Pengabdian Masyarakat Untuk Dampak Berkelanjutan di Desa Kademangan
ABSTRAK Kurangnya sosialisasi tentang dampak negatif NAPZA menjadi salah satu penyebab minimnya pengetahuan remaja tentang bahaya zat terlarang. Studi yang dilakukan oleh Marlatt dan Witkiewitz (2002) menunjukkan bahwa edukasi yang tepat di tingkat komunitas dapat membantu mencegah peningkatan penggunaan zat berbahaya pada remaja. Di Desa Kademangan, pemahaman tentang bahaya NAPZA masih rendah, dan sebagian besar remaja tidak memiliki keterampilan hidup untuk menghadapi tekanan lingkungan yang berisiko. Desa Kademangan memiliki angka penggunaan zat berbahaya (NAPZA) yang cukup tinggi, terutama di kalangan remaja yang berada pada fase rentan. Meningkatkan pengetahuan serta kesadaran remaja tentang dampak dan bahaya penyalahgunaan Napza. Metode pelaksanaan yang di gunakan yaitu pendekatan partisipatif dan edukatif. Hasil dari pengabdian kepada masyarakat ini dari 40 remaja menunjukan bahwa rata-rata remaja memiliki pengetahuan dan pemahaman dampak tentang penyalahgunaan Napza sebagian besar memiliki pengetahuan kurang sebanyak 15% dan sebanyak 18% remaja memiliki pemahaman kurang tentang dampak penyalahgunaan Napza, namun setelah diberikan edukasi pengetahuan dan pemahaman remaja meningkat menjadi 85% pengetahuan dan 80% pemahaman responden. Edukasi Preventif Penyalahgunaan Napza pada Remaja yang dilaksanakan di Desa Kademangan menunjukkan hasil yang signifikan dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman remaja terkait bahaya penyalahgunaan Napza. Kata Kunci: NAPZA, Remaja, Pengetahuan ABSTRACT Lack of socialization about the negative impacts of drugs is one of the causes of the lack of knowledge among teenagers about the dangers of illegal substances. A study conducted by Marlatt and Witkiewitz (2002) shows that appropriate education at the community level can help prevent an increase in the use of dangerous substances in adolescents. In Kademangan Village, understanding of the dangers of drugs is still low, and most teenagers do not have the life skills to face the pressures of a risky environment. Kademangan Village has a fairly high rate of use of dangerous substances (NAPZA), especially among teenagers who are in the vulnerable phase. Increase youth knowledge and awareness about the impacts and dangers of drug abuse. The implementation method used is a participatory and educational approach. The results of this community service from 40 teenagers show that on average teenagers have knowledge and understanding of the impact of drug abuse, most of them have less knowledge as much as 15% and as many as 18% of teenagers have less understanding about the impact of drug abuse, but after being given education Teenagers' knowledge and understanding increased to 85% knowledge and 80% understanding of respondents. Preventive education on drug abuse among teenagers carried out in Kademangan Village showed significant results in increasing teenagers' knowledge and understanding regarding the dangers of drug abuse. Keywords: NAPZA, Teenager, Knowledg
Hubungan Peran Perawat sebagai Edukator sengan Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Kota Sabang
ABSTRACT Diabetes mellitus (DM) is a complex chronic disease caused by continuously elevated blood sugar levels due to insulin deficiency involving carbohydrate, protein and lipid metabolism and the development of microvascular and neurological complications. The purpose of this study was to determine the relationship between the role of nurses as educators with medication compliance in patients with type 2 diabetes mellitus. The type of research used is an analytic descriptive survey with a Cross Sectional design. The population in this study were all patients with type 2 diabetes mellitus at Sabang City Hospital, totaling 168 people. The technique of taking subjects using simple random sampling as many as 63 people. The instrument used in this study was a questionnaire to measure the role of nurses as educators and compliance with taking medication in patients with type 2 DM. The research data analysis was univariate and bivariate analysis with chi square test. The results showed that the majority of nurses' roles were sufficient as many as 33 people (52.4%) and the minority of nurses' roles were good as many as 12 people (19%). The majority of respondents were not compliant with taking medication as many as 34 people (54%) and the minority were compliant with medication as many as 19 people (45.2%). Based on the chi-square test, it was found that there was a relationship between the role of nurses as educators with adherence to taking medication in patients with diabetes mellitus (p = 0.001). The conclusion of this study is that there is a relationship between the role of nurses as educators with adherence to taking medication in patients with diabetes mellitus type 2. Keywords: Nurse's Role, Educator, Medication Adherence, Diabetes Mellitus ABSTRAK Tingginya angka kejadian Diabetes Mellitus (DM) tidak terlepas dari banyaknya faktor yang memengaruhinya. Dalam menangani faktor risiko dibutuhkan pengetahuan yang memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan sikap dan perilaku seseorang. Selain itu, dukungan keluarga dan spritual juga tidak kalah penting dalam meningkatkan kualitas hidup penderita DM. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dan dukungan spiritual dengan kualitas hidup penderita diabetes mellitus. Jenis penelitian yang digunakan adalah survei bersifat deskriptif analitik dengan rancangan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien dengan penyakit DM di RSUD Kota Sabang sebanyak 168 orang. Teknik pengambilan subjek menggunakan simple random sampling sebanyak 63 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner untuk mengukur dukungan keluarga, dukungan spiritual dan kualitas hidup pasien DM. Analisa data penelitian adalah analisis univariat dan bivariat dengan uji chi square. Hasil penelitian menjelaskan terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien DM dengan nilai p= 0,0342 dan terdapat hubungan dukungan spiritual dengan kualitas hidup pasien DM dengan p= 0,024. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara dukungan keluarga dan dukungan spiritual dengan kualitas hidup pasien DM. Disarankan untuk mendorong pasien DM untuk aktif dalam kegiatan spiritual yang relevan, seperti doa bersama, konseling spiritual, atau komunitas keagamaan. Kata Kunci: Peran Perawat, Edukator, Kepatuhan Minum Obat, Diabetes Mellitu
Hubungan Faktor Sosiodemografi dengan Pengetahuan dan Perilaku Orangtua yang Memiliki Balita dalam Pencegahan Stunting
ABSTRACT Stunting remains a problem that has persisted despite various challenges and obstacles due to the low level of community participation. The participation of parents, particularly mothers, is crucial in the prevention of stunting, given their pivotal role in fostering healthy behaviors. Stunting prevention behaviors are influenced by a multitude of factors, including the level of knowledge and sociodemographic characteristics. To determine the relationship between sociodemographic factors and the knowledge and behavior of parents with toddlers in stunting prevention. This descriptive correlational study used a cross-sectional design with a purposive sampling technique involving 125 parents who have toddlers in Sukamulya Village, Rancaekek. The questionnaire instrument used to measure knowledge and behavior in stunting prevention consisted of 33 questions and its validity and reliability had been tested. Descriptive analysis related to sociodemographic factors was carried out using frequency distribution and cross tabulation. Meanwhile, data analysis with a contingency correlation test was used to determine the relationship between sociodemographic factors and knowledge and behavior in stunting prevention. Most parents in this study had good knowledge (59.2%) and behavior (52.0%) in efforts to prevent stunting. Sociodemographic factors are known to have no significant relationship to parental knowledge and behavior. However, there is a tendency that younger parents, with a nuclear family type, and having more than 4 family members, have better knowledge and behavior in preventing stunting.Health education and counselling program is essential to enhance parental knowledge and behavior, thereby increasing community participation in stunting control programs. Keywords: Knowledge, Behavior, Parent, Stunting Prevention ABSTRAK Stunting masih menjadi permasalahan yang hingga saat ini mengalami berbagai tantangan dan hambatan salah satunya diakibatkan oleh rendahnya partisipasi masyarakat. Partisipasi orangtua khususnya ibu sangat diperlukan mengingat peran penting mereka dalam menerapkan perilaku pencegahan stunting. Perilaku pencegahan stunting dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya tingkat pengetahuan dan aspek sosiodemografi. Mengetahui hubungan faktor sosiodemografi terhadap pengetahuan dan perilaku orangtua yang memiliki balita dalam pencegahan stunting. Penelitian deskriptif korelasional ini menggunakan desain cross-sectional dengan teknik purposive sampling yang melibatkan 125 orangtua yang memiliki balita di Desa Sukamulya, Rancaekek. Instrumen kuesioner yang digunakan untuk mengukur pengetahuan dan perilaku pencegahan stunting terdiri dari 33 butir pertanyaan dan sudah teruji validitas reliabilitasnya. Analisis deskriptif terkait faktor sosiodemografi dilakukan menggunakan distribusi frekuensi dan tabulasi silang. Sementara itu, analisis data dengan uji korelasi kontingensi digunakan untuk mengetahui hubungan antara faktor sosiodemografi dengan pengetahuan dan perilaku pencegahan stunting. Sebagian besar orangtua dalam penelitian ini memiliki pengetahuan (59,2%) dan perilaku (52,0%) yang baik dalam upaya pencegahan stunting. Faktor sosiodemografi diketahui tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap pengetahuan dan perilaku orangtua. Namun, terdapat kecenderungan bahwa orangtua yang lebih muda, dengan tipe keluarga inti, dan memiliki jumlah anggota keluarga lebih dari 4 orang, memiliki pengetahuan dan perilaku pencegahan stunting yang lebih baik. Pendidikan kesehatan dan konseling guna meningkatkan pengetahuan dan perilaku orangtua masih sangat diperlukan dalam rangka meningkatkat partisipasi masyarkat dalam program penanggulangan stunting. Kata Kunci: Pengetahuan, Perilaku, Orangtua, Pencegahan Stuntin