Warta Adhia - Jurnal Perhubungan Udara
Not a member yet
281 research outputs found
Sort by
Persaingan Airbus dan Boeing di Industri Jasa Angkutan Udara Indonesia
Airbus and Boeing are the largest aircraft industry in the world today. Competition between the two companies has been characterized as a duopoly , particularly in the jetliner market since 1990. Aircraft market is usually divided into two categories of products , namely narrow -body aircraft and wide-body aircraft. Indonesia is one of potential market for Airbus and Boein . This study aims to determine the map competition between Airbus and Boeing in Indonesian airline by calculating market share of those two companies . The calculations show that In the period of 2001 to 2013 , Airbus began to enter the market of Indonesia airline , by taking 38.8 % market share of sales of single aisle aircraft , while the res , 61.2 % , was taken by Boein . For selling twin-aisle aircraft , Airbus dominates with a market share of 87.8 %. Airbus dan Boeing merupakan dua raksasa industri pesawat terbang di dunia pada saat ini. Persaingan antara kedua perusahaan tersebut telah ditandai sebagai duopoli, khususnya di pasar pesawat jet sejak tahun 1990. Pasar pesawat terbang biasanya dibagi menjadi dua kategori produk, yaitu pesawat berbadan sempit dan pesawat berbadan lebar. Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi pasar yang potensial bagi Airbus dan Boeing untuk memasarkan pesawat-pesawat produksinya. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui peta persaingan antara Airbus dan Boeing di pasar industri jasa angkutan udara Indonesia dengan menghitung pangsar pasar ke dua perusahaan tersebut di Indonesia. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Pada kurun waktu 2001 sampai dengan 2013, Airbus mulai memasuki pasar perusahaan jasa angkutan udara Indonesia, dengan mengambil 38.8% pangsa pasar penjualan pesawat udara berlorong tunggal, sedangkan sisanya, 61.2%, diambil oleh Boeing. Untuk penjualan pesawat udara berlorong ganda, Airbus mendominasi dengan pangsa pasar sebesar 87.8%
Pangsa Pasar Penumpang Maskapai Lion Air di Bandara Pattimura Ambon
Increasing number of Airline companies in Indonesia result in increasing domestic market share competition. One of the airline in Indonesia is Lion Air which has a large fleet. One of the airport that has a growth rate of air transport demand is Pattimura airport in Ambon. The aim of this research was to determine the Strenght, Weaknesses, Opportunities and Threat (SWOT) of Lion Air in Pattimura Airport, Ambon. The goal is to provide an input to Lion Air in order to maintain and increase the air transport services in Pattimura Airport. This research used Diskriptif Quantitative analysis and SWOT method. From the calculation and rating for each of the IFAS and EFAS seen that the position of Lion Air is located in Quadrant II, namely quadrants strategy Strength - Threat at coordinates (0.67 ; 0.52). It means that Lion Air has an internal strength as a strong factor to take advantage of existing opportunities. Perusahaan penerbangan yang berjumlah 16 semakin meningkatkan persaingan dalam pangsa pasar domestik. Salah satunya adalah maskapai Lion Air dengan jumlah armada yang besar. Salah satu bandara yang mempunyai tingkat pertumbuhan permintaan angkutan udara cukup tinggi adalah bandar udara Pattimura-Ambon.Maksud kajian adalah untuk mengetahui keunggulan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dimiliki oleh perusahaan penerbangan Lion Air. Tujuannya adalah memberikan bahan masukan kepada Lion Air dalam upaya mempertahankan penyediaan layanan jasa angkutan udara di Bandara Pattimura-Ambon. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini Diskriptif Kuantitatif analisis dan SWOT. Dari hasil perhitungan pembobotan dan rating untuk masing-masing IFAS dan EFAS terlihat bahwa posisi PT. Lion Mentari Air terletak pada Kuadran II, yaitu kuadran yang menerapkan strategi Strength-Threat, pada koordinat (0,67; -0,52), di mana hal ini berarti bahwa Lion Air memiliki kekuatan sebagai faktor internal yang kuat untuk memanfaatkan peluang yang ada
Pengembangan Model Manajemen Untuk Optimasi Pendapatan Penjualan pada Penerbangan Multi-Leg dengan Mempertimbangkan Jarak Tempuh dan Biaya Operasional
This study is aimed at applying yield management to optimize the airlines selling income by determining or allocating the number of passengers in multi-leg flight in which each leg has two fares classes. Basically, yield management is one of allocating and controlling passenger’s seats methods to optimize the airlines income. Normally, the existing yield management model will only consider the fare, demands and capacity variables. Other variables such as operational and distance will not be covered. When those variables are covered, they are considered as constant variables that will not affect the income optimization. The development of yield management model in this study is applying the linear program model approach, in order to obtain an optimum solution in the multi-leg flight. The approach will produce a decision variable; i.e. the number of passengers that will be allocated in each leg for business and economy fares; and objective function; i.e. maximum income and multi-leg flight route being served. The result of the study is a smaller solution, both for the decision variable and objective function. However, the solution is more valid because it considers more aspects, which are ideally more suitable to the actual condition of the flight operational.Penelitian ini bertujuan mengaplikasikan model yield management untuk mengoptimasikan pendapatan penjualan perusahaan penerbangan dengan cara pengalokasian jumlah penumpang pada penerbangan multileg dimana masing-masing leg mempunyai dua jenis kelas tarif. Pada dasarnya, yield management adalah metode pengalokasian dan pengendalian kursi penumpang untuk mengoptimasikan pendapatan perusahaan penerbangan.. Pengembangan model yield management dalam studi ini menggunakan pendekatan model programa linier, untuk mendapatkan solusi optimum dalam penerbangan multileg. Pendekatan ini akan menghasilkan suatu variabel keputusan yaitu jumlah penumpang yang akan dialokasikan pada setiap leg untuk harga tiket bisnis dan ekonomi; dan fungsi tujuannya adalah memaksimumkan pendapatan dan rute penerbangan multileg yang dilayani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa solusi yang lebih kecil, baik untuk variabel keputusan maupun untuk fungsi tujuan. Meskipun demikian, solusi ini lebih valid karena mempertimbangkan banyak aspek, dimana idealnya lebih sesuai dengan kondisi aktual dari operasi penerbangan
Penentuan Tebal Perkerasan Lentur Berdasarkan Nilai CBR (California Bearing Ratio) dan ESWL (Equivalent Single Wheel Load) Pesawat Rencana Pada Perencanaan Pembangunan Bandar Udara Baru di Karawang
Construction of a new airport in Karawang until now has not been located. However, to simplify the process of land acquisition, the airport might be located in the coastal area so it does not interfere agricultural land and forestry. This study intends to support the construction of a new airport in Karawang which aims at adjusting procedure of California Bearing Ratio (CBR) in the cilamaya area to pavement thickness on the airport planning development. The study concluded that the minimum thickness of pavement layers in Karawang new airport is 118 cm. The construction carried out in accordance with the value of CBR in the cilamaya area and consider the value of ESWL (Equivalent Single Wheel Load) Boeing 737-900 ER. Rencana pembangunan bandar udara baru Karawang yang banyak mendapatkan dukungan pengguna jasa penerbangan, hingga saat ini belum ditentukan lokasinya. Tetapi, untuk mempermudah proses pembebasan lahan, dimungkinkan pembangunan bandar udara ini akan dilaksanakan di area pantai agar tidak mengganggu lahan pertanian dan Perhutani. Penelitian ini bermaksud untuk mendukung pembangunan bandar udara baru di Karawang, yang bertujuan menyesuaikan prosedur CBR (California Bearing Ratio) di area Cilamaya terhadap perkerasan pada perencanaan pembangunan bandar udara baru di Karawang. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa tebal lapisan perkerasan minimum bandar udara baru di Karawang adalah 118 cm, pembangunan dilaksanakan di area Cilamaya sesuai dengan nilai CBR (California Bearing Ratio), dan memperhatikan nilai ESWL (Equivalent Single Wheel Load) pesawat Boeing 737-900 ER adalah 118 cm
Faktor-Faktor Penyebab Tingginya Tingkat Kecelakaan Pesawat Udara di Pulau Papua
Aircraft accident in Papua Island is one of the highest accident according to the venue in Indonesia. During five years period, from 2007 to 2011 there were 28 accident. During the year 2013, it has noted aircraft accident in Papua Island tend to increase. Analysis method that’s used in research is fish bone analysis, which has purpose to know what are the factors that affect high level of aircraft accident in Papua Island. The result is human factor, aircraft factor, airport factor, environment and technical flight are the factors that give contribution to the high of aircraft accident level in Papua Island. Kecelakaan pesawat udara di Pulau Papua salah satu kecelakaan yang tertinggi menurut tempat kejadian di Indonesia. Selama kurun waktu lima tahun yaitu dari tahun 2007 sampai 2011 sebanyak 28 kejadian. Sepanjang tahun 2013 tercatat kecelakaan pesawat udara di Pulau Papua cenderung meningkat. Metode Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis fish bone atau metode analisis tulang ikan, yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingginya tingkat kecelakaan pesawat di Pulau Papua. Hasilnya adalah faktor manusia, faktor pesawat, faktor bandara, faktor lingkungan dan faktor teknik penerbangan adalah faktor yang turut mempengaruhi tingginya tingkat kecelakaan pesawat udara di Pulau Papua
Pangsa Pasar (Market Share) Logistik /Kargo oleh Perusahaan Jasa Angkutan Udara yang Beroperasi di Bandar Udara Internasional Sepinggan Balikpapan
Growth of air freight logistics/ cargo in Indonesia, especially in East Kalimantan is very high in the 5 (five) years so that the need for air freight logistics services company is also very high. At this time, cargo/ logistics from and to the outside Balikpapan are served by air cargo transportation service/ logistics services company and scheduled commercial air transport. The purpose of this study is to look at the market share of air freight logistics / cargo in Sepinggan Balikpapan International Airport. 87.08% to 95.15% market share is still dominated by scheduled commercial air transport services, namely Garuda Indonesia, Lion Air and Sriwijaya. While freight logistics services company/cargo has only 59.09% to 72.62% market share which are Tri MG Airline namely, Megantara Water, Water Mark and Garuda Indonesia.Pertumbuhan angkutan udara logistik/kargo di Indonesia khususnya wilayah Kalimantan Timur dalam 5 (lima) tahun belakangan ini sangat tinggi sehingga kebutuhan akan perusahaan jasa angkutan udara logistik juga sangat tinggi. Pada saat ini, kargo/logistik yang diangkut dari dan ke luar Balikpapan dilayani oleh perusahaan jasa angkutan udara kargo/logistik dan perusahaan jasa angkutan udara komersial berjadwal. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pangsa pasar angkutan udara logistik/kargo di Bandar Udara Internasional Sepinggan Balikpapan. Pangsa pasar 87,08% sampai 95,15% masih didominasi oleh perusahaan jasa angkutan udara komersial berjadwal yaitu PT. Garuda Indonesia, PT. Mentari Lion Air dan PT. Sriwijaya Air. Sedangkan perusahaan jasa angkutan logistik/kargo memiliki pangsa pasar 59,09% sampai dengan 72,62% yaitu Tri MG Airline, Megantara Air, Air Mark dan Garuda Indonesia
Hubungan Budaya Pengamanan dan Kinerja Bandar Udara dengan Kepuasan Penumpang Angkutan Udara di Bandar Udara Internasional Soekarno - Hatta
This study examined the association of security culture (X1) and the performance of airport services (X2) with air transport passenger satisfaction (Y), either individually or jointly.This study with a sample of 100 respondents passenger air transport, the distribution of questionnaires to terminal 2F domestic at Soekarno Hatta International Airport Cengkareng.Calculation results show a positive and significant relationship shown in securing cultural relations (X1) to the satisfaction of passenger air transport (Y). Airport service performance (X2) to the satisfaction of passenger air transport (Y). The relation security culture and performance of airport service to the satisfaction of the air transport of passengers together.The final results of this study have a strong positive relationship between security culture in air transport passenger satisfaction. Strong positive relationship between performance of airport services in air transport passenger satisfaction. And a strong positive relationship between culture security and performance of airport services to the satisfaction of the air transport of passengers together.Penelitian ini untuk mengetahui hubungan budaya pengamanan (X1) dan kinerja pelayanan bandar udara (X2) dengan kepuasan penumpang angkutan udara (Y), baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Penelitian ini dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden penumpang angkutan udara, dengan melakukan sebaran kuesioner di terminal 2F domestik Bandar Udara International Soekarno Hatta Cengkareng. Hasil perhitungan menunjukkan hubungan yang positif dan signifikan pada budaya pengamanan (X1) dengan kepuasan penumpang angkutan, hubungan positif dan signifikan antara kinerja pelayanan bandar udara (X2) dengan kepuasan penumpang angkutan udara (Y), serta menghasilkan hubungan positif dan signifikan antara budaya pengamanan (X1) dan kinerja pelayanan Bandar udara (X2) dengan kepuasan penumpang angkutan udara (Y) secara bersama-sama. Hasil akhir penelitian ini mempunyai hubungan positif dan kuat antara budaya pengamanan dengan kepuasan penumpang angkutan udara. Hubungan positif dan kuat antara kinerja pelayanan Bandar udara dengan kepuasan penumpang angkutan udara. Hubungan positif dan kuat antara budaya pengamanan dan kinerja pelayanan Bandar udara dengan kepuasan penumpang angkutan udara secara bersama-sama. Implikasi bagi penyelenggara bandar udara dalam tercapainya kepuasan penumpang angkutan udara dengan memberikan rasa aman, lancar, tertib, dan selamat dalam suatu penerbangan, serta jasa pelayanan bandar udara dengan kebersihan terminal dan ketersediaan fasilitas yang cukup dan baik
Simulasi Perancangan Drainase Muka Tanah pada Bandar Udara Achmad Yani Semarang Sebagai Salah Satu Usaha Pencegahan Banjir
Drainage is defined as surface water drainage, either by gravity or by pump which aims to prevent inundation, maintain and lower the water level im order to avoid the amount of water. Ahmad Yani Airport has a poor drainage systems. Furthermore, land subsidence in Semarang area potential for experiencing flooding when the rainy season with a fairly high rainfall. Based on the results of processing the data showed that it is needed the land surface drainage channel with a cross-sectional shape of a trapezium. When the width of the base of the cross section is 3 meters , then the required channel depth is 3.9 meters with a hydraulic radius is 0.82-meter, and hydraulic depth is 3.05 meters. Drainase didefinisikan sebagai pembuangan air permukaan, baik secara gravitasi maupun dengan pompa yang bertujuan untuk mencegah terjadinya genangan, menjaga dan menurunkan permukaan air sehingga genangan air dapat dihindarkan. Bandar Udara Ahmad Yani dengan kondisi sistem drainase yang kurang baik dan penurunan permukaan tanah di wilayah Semarang, maka bila musim penghujan tiba dengan curah hujan yang cukup tinggi selalu berpotensi untuk mengalami banjir. Berdasarkan hasil pengolahan data juga didapatkan hasil bahwa untuk menyesuaikan antara curah hujan di wilayah Semarang dengan luas area Bandar udara Achmad Yani diperlukan saluran drainase muka tanah berupa saluran dengan bentuk penampang trapezium. Bila lebar dasar dari penampang trapezim tersebut adalah 3 meter, maka diperlukan saluran sedalam 3,9 meter dengan Jari-jari hydraulic 0,82 meter, dan kedalaman hydraulic 3,05 meter
Pelayanan Informasi Meteorologi Penerbangan Di Bandara Fatmawati Bengkulu
Guidelines assesment for aviation meteorological information services is expected to be useful to improve aviation meteorological information services at the airport and will directly improve aviation safety. This assessment will evaluate the guidelines for aviation meteorological information services in order to figure out the obstacles encoutered in the services and part or elements of services that need further improvements, and to make recommendations related to the aviation meteorological information services.Pengkajian pelayanan informasi meterologi penerbangan di Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu diharapkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan pelayanan informasi meteorologi penerbangan di bandar udara dan secara langsung akan meningkatkan keselamatan penerbangan. Pengkajian ini akan mengevaluasi pelayanan mana yang perlu dilakukan penyempurnaan. Pada akhir analisis akan disusun suatu rekomendasi peningkatan pelayanan informasi meteorologi penerbangan dib bandar udara Fatmawati Soekarno Bengkulu
Kebutuhan Kapasitas Fasilitas Land Side Untuk Tahun 2015 Sebagai Upaya Meningkatkan Kenyamanan Penumpang Di Bandar Udara Pattimura Ambon
In accordance to the Acceleration and Extension of Indonesian Economy Development (MP3EI) in Maluku from 2011 to 2025, PT (Persero) Angkasa Pura I is going to extend the terminals and aprons in Pattimura Airport, Ambon. The extension of passenger terminals is necessairily important because terminal area in an international airport has to be wide enough to improve passengers’ convenience along with the increasing passengers’ movement every year. In relation, in order to figure out the minimum land side capaicty needs of Pattimura Airport Ambon in 2015 that complies to the passengers’ movement development prediction in the same year, it is necessary to conduct a study on the landside facility needs as an effort to improve passengers’ convenience.From the sum result of passengers’ number at peak hour as predicted in 2015 which is 848 passengers, the minimum size of the departure hall area is 1993 m2, check in area is 297 m2, boarding room is 1329 m2 and baggage claim area is 845 m2.
Berdasarkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) di Maluku Tahun 2011-2025, PT. (Persero) Angkasa Pura I akan melakukan pengembangan terminal dan apron Bandar Udara Pattimura Ambon. Perluasan terminal penumpang sangat diperlukan karena sebagai bandar udara internasional, luas terminal akan meningkatkan kenyamanan penumpang mengimbangi meningkatnya jumlah pergerakan penumpang pertahun.terkait dengan hal tersebut di atas, untuk mengetahui kebutuhan kapasitas landside minimal Bandar Udara Pattimura Ambon pada tahun 2015 sesuai dengan perkiraan perkembangan pergerakan penumpang pada tahun tersebut, maka perlu dilakukan pengkajian terkait dengan kebutuhan fasilitas landside sebagai upaya meningkatkan kenyamanan penumpang.Dari hasil perhitungan dengan jumlah penumpang pada waktu sibuk yang diperkirakan pada tahun 2015 sebanyak 848 penumpang maka luas hall keberangkatan minimal 1993 m2 , check in area minimal 297m2 , luas ruang tunggu keberangkatan minimal 1329 m2 , luas baggage claim area minimal 845m2 , dan luas ruang tunggu keberangkatan minimal 1329 m2