Warta Adhia - Jurnal Perhubungan Udara
Not a member yet
281 research outputs found
Sort by
Pengkajian Pelaksanaan dan Pengembangan Kapasitas Pengolahan Limbah Padat Dan Limbah Cair Di Bandara Sultan Thaha-Jambi
Assessment of the implementation and development of the processing capacity of solid waste and liquid waste in an airport provides an overview of wastewater treatment systems generated from airport operations. This study takes a case study at Sultan Taha Jambi as airports are managed by PT Angkasa Pura II (Persero) that each year the relative increase in the number of aircraft movements, passenger, baggage and cargo transport. This study uses qualitative descriptive method and forecasting. The results of the analysis in the form of recommendations and the action carried out by the organizers of the airport is the expansion of the TPS (Disposal meantime), completing the construction of the WWTP (Waste Water Treatment Plant), and to separate waste into organic and non-organic at polling locations.Pengkajian tentang pelaksanaan dan pengembangan kapasitas pengolahan limbah padat dan limbah cair di bandar udara memberikan gambaran tentang sistem pengolahan limbah yang dihasilkan dari pengoperasian bandar udara.Pengkajian ini mengambil studi kasus di Bandara Sultan Thaha-Jambi sebagai bandar udara yang dikelola PT Angkasa Pura II (Persero) yang setiap tahun relatif mengalami peningkatan dalam jumlah pergerakan pesawat, penumpang, bagasi dan angkutan kargonya.Pengkajian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan peramalan.Hasil analisis berupa rekomendasi dan program aksi yang dilaksanakan oleh penyelenggara bandar udara yaitu perluasan TPS (Tempat Pembuangan Sementara), menyelesaikan pembangunan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), dan melakukan pemisahan sampah menjadi sampah organik dan non-organik di lokasi TPS
Kajian Perbaikan Apron Bandar Udara Ahmad Yani Semarang
Increasing the number of air traffic flow at airports must be accompanied by an increase in the capability and capacity of the air side facilities and land side of airport. Collapse accident of apron number 6 on January 8, 2014 at Ahmad Yani airport indicate a need for maintenance, repair and improvement of the facilities and continous oversight. So that, it need to increase capability of runway and apron to support increasing number of aircraft. The purpose of this research was to determine the strength of the airport apron Ahmad Yani Semarang before and after reconstruction by the airport management. PCN value obtained from the calculation before breakage is need to be increased from 27 F/D/X/T to 34 F / C / X / T or need to overlay for 8 cm thick. Adding a concrete slab and the addition of asphalt over concrete with a total thickness of 40 cm is already eligible.
Peningkatan jumlah arus lalu lintas penerbangan di bandar udara harus diiringi dengan peningkatan kemampuan dan kapasitas fasilitas Sisi udara dan Sisi darat. Kejadian amblesnya apron nomor 6 pada tanggal 8 Januari 2014 di bandar udara Ahmad Yani menunjukkan bahwa perlu dilakukan perawatan, perbaikan dan peningkatan pengawasan serta kemampuan fasilitas Sisi udara secara terus menerus dan berkesinambungan seiring dengan peningkatan arus lalu lintas yang berkembang dengan pesat. Peningkatan kemampuan landas pacu dan apron dalam mendukung beban pesawat yang terus berkembang perlu terus dilakukan. Tujuan dari kajian ini adalah mengetahui kekuatan apron bandar udara Ahmad Yani Semarang sebelum dan setelah dilakukan oleh pihak manajemen bandara. Dari perhitungan didapatkan nilai PCN perekerasan flexible sebelum terjadi kerusakan adalah perlu ditingkatkan dari 27 F/D/X/T menjadi 34 F/C/X/T atau dioverlay setebal 8 cm. Hasil perbaikan dengan menggunakan plat beton dan penambahan aspal diatas beton dengan tebal total 40 cm sudah memenuhi syarat karena melebihi dari tebal hasil perhitungan yaitu 35,56 cm
Pengukuran Tingkat Kepuasan Pengguna Jasa Angkutan Udara Terhadap Kinerja Penanganan Bagasi pada Maskapai Penerbangan PT.X di Bandara Husein Sastranegara – Bandung
Ground handling is the activity of the airline in term of service to passengers, baggage, cargo, and post, using certain supporting equipments for aircraft movement in the airport (origin and destination). This study aimed to measure the level of satisfaction (perception and expectation) of the passengers of airline X to its performance on baggage handling in the airport based on the attributes of service quality. Importance Performance Analysis (IPA) was used in the study and the results indicate that there are 4 attributes in Quadrant I which are the speed of ground handling operator when serving the arrival baggage of passengers, operator service in response of complaints, the punctuality for baggage claim schedule, and the guarantee of security of passengers’ baggage which are kept by the airline. The biggest value of gap is the security guarantee of passengers’ baggage (-2,52) and the value of CSI is 56,879% which means that the index of passenger satisfaction is at unsatisfactory criterion.
Ground handling merupakan suatu aktivitas perusahaan penerbangan yang berkaitan dengan penanganan atau pelayanan terhadap penumpang berikut bagasi, kargo, pos, peralatan bantu pergerakan pesawat di darat selama berada di bandar udara (keberangkatan dan kedatangan). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat kepuasan (persepsi dan harapan) dari penumpang Maskapai Penerbangan PT. X terhadap kinerja penanganan bagasi di bandara berdasarkan atribut-atribut kualitas pelayanan. Analisis data yang digunakan adalah Analisis Kepentingan dan Kinerja (IPA). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kuadran I terdapat empat atribut yaitu kecepatan petugas ground handling pada saat penanganan kedatangan bagasi penumpang, pelayanan petugas dalam menangani komplain, ketepatan waktu informasi pengambilan bagasi sesuai jadwal, dan jaminan keamanan bagasi penumpang yang dititipkan ke airlines. Nilai kesenjangan (gap) terbesar adalah jaminan keamanan bagasi penumpang (-2,52). Nilai CSI sebesar 56,879%, artinya indeks kepuasan penumpang pada kriteria tidak memuaskan.  
Telaah Literatur Mencegah Kecelakaan Landas Pacu di Bandar Udara di Indonesia
Assessment literature to prevent accidents Landing Runway at airport in Indonesia is important because the high level of accidents runway in Indonesia. Presentation accident on the runway is also increasing every year. This study attempted to parse the things that can happen as one of the factors that influence the occurrence of the accident off pacudi Indonesia.Pengkajian literature untukmencegah Kecelakaan Landas Pacu di Bandar Udara di Indonesia penting dilakukan karena masih tingginya tingkat kecelakaan landas pacu di Indonesia. Presentasi kecelakaan di landas pacu juga semakin meningkat setiap tahunnya. Kajian ini mencoba mengurai hal-hal yang dapat terjadi sebagai salah satu factor yang turut mempengaruhi terjadinya kecelakaan landas pacudi Indonesia
Pengembangan Aerospace Park di Indonesia berdasarkan Potensi Pergerakan Pesawat Udara
One of the supporting industries that has high development in line With the rapid growth of aviation services in Indonesia the business Of aircraft including the procurement and production of spare parts and overhaul including the procurement and production of spare parts and the provision of supporting human resources. In 2012, there were 30 business entities engaged in the business of and aircraft is incorporated in IAMSA (Indonesian Aircraft Maintenance Shop Association). The purpose of this research was to obtain an overview of potential development of the Aerospace Park in Indonesia and find alternative airport that could be developed as an Aerospace Park in Indonesia. Based on the potential movement of aircraft and land availability, it is proposed to develop Aerospace Park in Soekarno Hatta Jakarta, Hussein Sastranegara Bandung, Kertajati Majalengka, Juanda Surabaya, Sultan Hasanuddin Makassar, Sam Ratulangi Manado, Sentani Jayapura, Segun Sorong, Hang Nadim Batam, Raja Fisabilillah Tanjung Pinang. Smarinda Baru, Tjilik Riwut Palangkaraya dan BIL Lombok. Salah satu industri pendukung yang sangat berkembang sejalan dengan pesatnya pertumbuhan jasa penerbangan di Indonesia adalah bisnis pemeliharaan dan perawatan pesawat udara termasuk pengadaan dan produksi suku cadangnya serta penyediaan SDM pendukungnya. Pada tahun 2012, tercatat 30 badan usaha yang bergerak dalam bisnis perneliharaan dan perawatan pesawat udara yang tergabung dalam IAMSA (Indonesian Aircraft Maintenance Shop Association). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran pengembangan Aerospace Park di Indonesia dan mengetahui alternatif bandar udara yang bisa dikembangkan sebagai Aerospace Park di Indonesia. Berdasarkan potensi pergerakan pesawat udara dan faktor ketersediaan lahan diusulkan pengembangan Aerospace Park di Bandar Udara Soekarno Hatta Jakarta, Hussein Sastranegara Bandung, Kertajati Majalengka, Juanda Surabaya, Sultan Hasanuddin Makassar, Sam Ratulangi Manado, Sentani Jayapura, Segun Sorong, Kualanamu Medan, Hang Nadim Batam, Raja Fisabilillah Tanjung Pinang_ Samarinda Baru, Tjilik Riwut Palangkaraya dan BIL Lombok. 
Tingkat Kelelahan Pilot Indonesia dalam Menerbangkan Pesawat Komersial Rute Pendek
This study attempts to examine the fatigue of pilots who fly the commercial aircraft on short route since they have to make several take-off and landing during their duty time for short route flight. The method of paired t-test was used to measure the condition of the pilots before and after their duty time. In addition, the factors that the pilots most felt in contributing to the level of fatigue were also explored in this study. The results indicate that the pilots experience fatigue when flying short routes in their duty time and the factor that contributes the most to the pilots’ fatigue is the external factor related to their duty as a pilot. Penelitian ini berusaha menggali kelelahan pilot yang menerbangkan pesawat komersial rute pendek, karena pilot yang menerbangkan rute pendek dalam menjalankan flight duty time membutuhkan beberapa kali dalam melakukan take off maupun landing. Penelitian ini menggunakan metode uji t secara berpasangan dengan mengukur kondisi pilot sebelum bertugas dengan kondisi sesudah bertugas, selain itu penelitian ini juga berusaha menggali faktor-faktor terbesar yang dirasakan oleh pilot dalam menyumbang tingkat kelelahan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat kelelahan yang dirasakan oleh pilot dalam melaksanakan rute pendek dan faktor terbesar yang menyumbang kelelahan adalah faktor eksternal yang berkaitan dengan tugas mereka sebagai pilot
Pelayanan Kargo Udara di Bandar Udara Soekarno-Hatta
Increasing the volume of air cargo in Indonesia showed increasing national economic growth. airport is the first system for cargo movement. Therefore, airport has to provide adequate facility of cargo terminal. The second system is a flight network system. Flight network needs to be optimized to approach the concept of hubs and spokes for cargo airports. This study uses a GAP analysis. Result shows, there is the biggest gap for parking areas in the cargo area attribute. This indicates that the main priority of the increase in air cargo transportation services according to the respondents regulated agent is the indicator of the parking facility in the cargo area.
Peningkatan volume kargo udara di Indonesia tahunan menunjukkan adanya geliat pertumbuhan ekonomi secara nasional. Indonesia memiliki konsep perekonomian berupa MP3EI. kebandarudaraan adalah sistem yang pertama menjadi titik simpul pergerakan kargo. Tindakan yang harus dilakukan pada bandar udara adalah menyiapkan fasilitas terminal kargo udara yang memadai. Sistem kedua adalah sistem jaringan penerbangan. Jaringan penerbangan perlu dioptimalkan dengan pendekatan konsep hub dan spoke bandar udara kargo. Metodologi dilakukan dengan melakukan analisis GAP. Berdasarkan data nilai gap, dapat dilihat bahwa gap terbesar terdapat pada atribut ketersediaan area parkir yang memadai di area gedung kargo (No. atribut 5) dengan nilai gap sebesar 1,50. Hal ini menandakan bahwa prioritas utama peningkatan pelayanan angkutan kargo udara menurut responden regulated agent adalah pada indikator fasilitas parkir di area kargo. Dengan nilai gap sebesar 1,50; 1,35 dan 1,34 (nilai gap ≥ 1,00), maka ketiga atribut ini masuk Kategori 5 (pelayanan buruk)
Pemberdayaan Industri dan Pengembangan Teknologi Penerbangan Nasional
Development of Indonesian aerospace industry into the determination of urgency Empowerment Government Regulation of Industry and Technology Development. In this research, an analysis of the potential economic value and mapping of potential national (local industry) in order to meet airport facilities and air navigation. Mapping the potential of the local indust0\u27 is important to know the strentgh and weakness of local industry. From these information it is expected that the government can formulate a roadmap and action plan that can protect local industry. when the products have been used. In addition, how can stimulate the local industry to participate and meet the needs of facilities that still have to be imported from abroad.
Pengembangan industri kedirgantaraan Indonesia menjadi urgensi penetapan Peraturan Pemerintah tentang Pemberdayaan Industri dan Pengembangan Teknologi Penerbangan. Untuk menjawab tantangan dalam pengembangan industri dirgantara nasional tersebut, diperlukan dukungan regulasi dan kebijakan pemerintah. Dalam penelitian ini dilakukan analisa mengenai potensi nilai ekonomi (skala ke-ekonomian) dan pemetaan potensi nasional (industri lokal) dalam rangka pemenuhan fasilitas bandar udara dan navigasi penerbangan. Pemetaan potensi industri lokal penting untuk diketahui agar pemerintah dapat mengetahui gambaran fasilitas apa saja yang bisa disuplai dari dalam negeri dan fasilitas apa saja yang masih bergantung pada pihak luar negeri. Dari gambaran ini diharapkan pemerintah dapat menyusun roadmap dan rencana aksi yang dapat melindungi pengusaha lokal bila produk yang dihasilkan telah dapat digunakan. Selain itu juga bagaimana caranya dapat merangsang pihak industri lokal dapat turut serta memenuhi kebutuhan fasilitas yang selama ini masih harus didatangkan dari luar negeri
Emisi Gas Kaca Pesawat Udara di Indonesia
One of the environmental problrms facing the world today is the phenomenon of global warming that is caused by greenhouse gas emissions. Many human activities that cause greenhouse gas emissions that cause global warming, among others, is the consumption of energy derived from fossil fuels, including fuels for the transport sector, particularly air transport. This research conducted the calculation of greenhouse gas emissions produced by aircraft operation in Indonesia in 2012 and the predictions of greenhouse gases up to 2030. The calculation refers to the emission inventory Guidebook 2013, and following the procedure has been set by the International Civil Aviation Organization (ICAO). Based on the calculation results showed that aircraft greenhouse gas emissions in Indonesia in 2012 dominated by C02 gas that is equal to 8145 kTon (99.7%) while the hydrocarbon gas emissions of 1.04 kTon. By 2030, greenhouse das emissions aircraft in Indonesia is expected to reach 16814 kTon.Salah satu permasalahan lingkungan yang dihadapi dunia Saat ini adalah adanya fenomena pemanasan global yang antara lain disebabkan oleh emisi gas rumah kaca. Aktifitas manusia yang banyak menyebabkan emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global antara lain adalah konsumsi energi yang berasal dari bahan bakar fosil termasuk bahan bakar untuk sektor transportasi khususnya transportasi udara. Dalam penelitian ini dilakukan perhitungan emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan pesawat udara di Indonesia pada tahun 2012 dan prediksi gas rumah kaca sampai dengan tahun 2030. Perhitungan dan prediksi emisi gas rumah kaca pesawat udara pada penelitian ini mengacu pada emission inventory guidebook 2013 dan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh Civil Aviation Organization (ICAO). Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan hahwa emisi GRK pesawat udara di Indonesia pada tahun 2012 didominasi oleh gas CO2 yaitu sebesar 8.145 kTon (99.7%) sedangkan emisi gas hidrokarbon sebesar 1,04 kTon Pada tahun 2030, emisi gas rumah kaca pesawat udara di Indoneisa diprediksikan mencapai 16.814 kTon
Pengaruh Fasilitas Bandar Udara Terhadap Kinerja Ketepatan Waktu Maskapai Penerbangan
The airport plays an important role in air transport activity. The airlines carry out their activities of pre-flight and post-flight at the airport. The punctuality of flight schedule determined by the time that required in the process of pre- flight and post- flight of the airlines. This study aimed to determine the influence of airport facilities to the on-time performance of the airlines. The method of ANOVA (Analysis of Variance) was excercised in this study. Based on the results, it can be concluded that the facilities of origin airport have significant influence on the airlines’ on-time performance. This indicates that the airport facilities and performance have role and contribute in reducing the rate of delays in the scheduled flight departure. Thus, on-time performance assessment at each airport can be applied to manage the airport performance in supporting the operation of airlines. Bandar udara memiliki peran penting dalam aktifitas transportasi udara. Maskapai penerbangan melakukan seluruh kegiatan pre-flight dan post-flight di bandar udara. Ketepatan waktu jadwal penerbangan ditentukan dengan ketepatan waktu proses pre-flight dan post-flight maskapai penerbangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fasilitas bandar udara terhadap kinerja ketepatan waktu maskapai penerbangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu ANOVA (Analysis of Varians). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan yaitu fasilitas bandar udara keberangkatan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja ketepatan waktu maskapai penerbangan. Hal ini mengindikasikan bahwa kinerja dan fasilitas bandar udara memiliki peran dan berkontribusi dalam menekan tingkat keterlambatan jadwal keberangkatan pesawat terbang. Penilaian kinerja ketepatan waktu jadwal penerbangan disetiap bandar udara dapat diterapkan untuk mengontrol kinerja bandar udara dalam mendukung operasional maskapai penerbangan