Warta Adhia - Jurnal Perhubungan Udara
Not a member yet
    281 research outputs found

    Implementasi Automatic Dependent Surveillance Broadcast (ADS-B) di Indonesia

    No full text
    Teknlologi ADSB is a new technology in the observation plane which is a combination of global positioning system (GPS), so that the aircraft can be traced to the position, velocity, wind direction, and altitude. This tool can be installed in the aircraft or ground stations and more superior than the radar.ADS-B is indeed a revolutionary look, start with only the antenna and the tool less than for a small refrigerator can detect aircraft and air traffic displays.Automatic Dependent Surveillance- Broadcast (ADS-B) is a detection technology where each plane passing owned transponder emits every two times per second information altitude, position, speed, direction, and other information to ground stations and other aircraft. This information is obtained from the information the Global Positioning System (GPS) or backup Flight Management System (FMS) in each plane. Teknlologi ADSB adalah teknologi baru dalam pengamatan pesawat terbang yang merupakan kombinasi global positioning system (GPS), sehingga pesawat bisa terlacak posisi, kecepatan, arah angin, dan ketinggian. Alat ini bisa dipasang di pesawat atau stasiun darat dan lebih unggul dari radar. ADS-B ini memang terlihat revolusioner, dengan hanya berbekal antenna dan alat kurang dari sebesar lemari es kecil dapat mendeteksi pesawat terbang dan menampilkan lalu lintas udara.Automatic Dependent Surveillance- Broadcast (ADS-B) adalah teknologi pendeteksi dimana setiap pesawat lewat transponder yang dimiliki memancarkan setiap dua kali dalam tiap detik informasi ketinggian, posisi, kecepatan, arah, dan informasi lainnya ke stasiun darat dan pesawat lainnya. Informasi ini didapat dari informasi Global Positioning System (GPS) atau backup Flight Management System (FMS) yang ada di pesawat masing-masing

    Metode Pengukuran Peralatan Localizer di Bandar Udara (Studi Kasus Bandar Udara Sam Ratulangi-Manado)

    No full text
    In accordance with the Rules of DGCA number: 83 2005, about the testing procedures on the ground (ground inspection) equipment electronics and electrical facilities, the cost of all existing facilities at the airport including ILS localizer testing should be carried out on land with parameters determined in order to maintain the operational performance of equipment in accordance with the standards and operational requirements that have been set. And in accordance with ICAO Annex 10 Document 8071, then to determine the performance of the localizer equipment mandatory calibration flight. This calibration flight periodically for localizer equipment provisions must be implemented four months in which the airport in cooperation with the Ministry of Transportation calibration.Sesuai dengan Peraturan dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara nomor : 83 tahun 2005, tentang prosedur pengujian di darat ( ground inspection ) peralatan fasilitas elektronika dan listrik penerbangan maka semua fasilitas yang ada di Bandara termasuk ILS, Localizer harus dilaksanakan pengujian di darat dengan parameter yang telah ditentukan guna mempertahankan kinerja operasional peralatan sesuai dengan standard dan persyaratan operasional yang telah ditetapkan. Dan sesuai dengan annex 10 Document 8071 ICAO, maka untuk mengetahui kinerja dari peralatan localizer maka wajib dilakukan penerbangan kalibrasi. Penerbangan kalibrasi ini berkala untuk peralatan localizer ketentuannya harus dilaksanakan 4 bulan sekali dimana pihak Bandar udara bekerja sama dengan Balai kalibrasi Kementerian Perhubungan

    Analisis Fasilitas dan Pelayanan Cacat dan lanjut Usia di Bandar Udara Supadio - Pontianak

    No full text
    Facilities and services for disabled and elderly passengers have to be provided by the airport. This research was conducted to provide an overview of facilities and services for disabled accessibility in the airport. The study took a case studyin Supadi Airport-Pontianak. The method used in this research is descriptive qualitative analysis and policy analysis. The results showed Supadio-Pontianak airport has been equipped with facilities for disabled accessibility and elderly in accordance with the requirements in the Minister of Transportation Decree No, 71 Year 1999 on Accessibility For People with Disabilities and Hospitals In Transportation Infrastructures and the Minister of Public Works of the Republic Indonesia Number 468 / Kpts / 1998 on Technical Requirements Accessibility In Public Buildings and the Environment.Fasilitas dan pelayanan penyandang cacat dan lanjut usia di bandar udara merupakan suatu hal yang harus dipenuhi oleh pengelola bandar udara, Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran tentang penyediaan fasilitas dan pelayanan bagi aksesibilitas penyandang cacat yang akan melakukan perjalanan menggunakan pesawat udara. Penelitian mengambil studi kasus di Bandar Udara Supadio-Pontianak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis adalah deskriptif kualitatif dan analisis kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan Bandar udara Supadio - Pontianak telah dilengkapi dengan fasilitas bagi aksesibilitas penyandang cacat dan lanjut usia sesuai dengan yang disyaratkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 71 Tahun 1999 tentang Aksesibilitas Bagi Penyandang Cacat dan Orang Sakit Pada Sarana dan Prasarana Perhubungan dan Keputusan Menteri Pekerjaan IJmum Republik Indonesia Nomor 468/KPTS/199B tentang Persyaratan Teknis aksesibilitas Pada Bangunan Umum dan Lingkungan

    Alternatif Pengembangan Rencana Induk Bandr Udara Cut Nyak Dien Aceh

    No full text
    Cut Nyak Dien Airport in Nagan Raya district as general airport do not have a Master Plan in accordance with the provisions in the Act No. 1 of 2009 on Aviation and Transportation Minister Decree No. 48 Year 2002 on the Implementation of Public Airport The purpose of this study is to provide the technical information necessary for the construction/development of Cut Nyak Dien Airport in Nagan Raya District arranged in an Airport Master Plan. This study resulted in the master plan concept consisting of stages of the development plan, airport facilities requirement, which consist of basic facilities requirement, air navigation facilities requirement, and supporting facilities requirement. It also resulted in the concept of the airport master plan layouts. Bandara Cut Nyak Dien di Kabupaten Nagan Raya sebagai bandar udara umum belum mempunyai Rencana Induk sesuai dengan ketentuan yang diamanatkan dalam Undang-Undang No.l Tahun 2009 Tentang Penerbangan dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 48 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Bandar Udara Umum. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi teknis yang diperlukan bagi pembangunan/pengembangan Bandara Cut Nyak Dien di Kabupaten Nagan Raya yang disusun dalam suatu Rencana Induk Bandar Udara. Penelitian ini menghasilkan konsep rencana induk yang terdiri dari rencana tahapan pengembangan, kebutuhan fasilitas bandar udara, yang terdiri dari kebutuhan fasilitas pokok, kebutuhan fasilitas navigasi penerbangan, dan kebutuhan fasilitas penunjang. Selain itu juga menghasilkan konsep layout rencana induk Bandar Udara Cut Nyak Dien

    Evaluasi Jasa Angkutan Udara Pada Masa Mudik Lebaran Tahun 2014 (Studi Kasus: Pelayanan Adi Sumarmo-Solo)

    No full text
    The increase of air transport demand during Eid always occurs in every year. However, air transport still has not met the expectation of its user, especially the aspect of services. The aim of study is to provide the overview of air transport services during the period of 2014 Eid. Quantitative method was used to determine the number of passengers and the capacity of aircrafts, whilst Importance Performance Analysis (IPA) was conducted to measure the services of destination airport of traveler during Eid period which is Solo Adi Sumarmo Airport. The results indicate that the peak of homecoming period occurred at three days (H-3) before Eid and the peak of returning period occurred at four days (H+4) after Eid. Service categories that perceived good at Solo Adi Sumarmo Airport are comfort and security of the airport, and the speed of officer in informing delay, while service categories that still need improvement are the attitude of officer in delivering services, x-ray scanning process, and the number of trolley, toilet, and disable facility. Permintaan jasa angkutan udara pada masa lebaran setiap tahun selalu mengalami peningkatan. Sarana transportasi yang memadai belum dapat memenuhi harapan masyarakat terlebih menyangkut aspek pelayanan. Kajian ini bertujuan untuk memberikan gambaran pelayanan jasa angkutan udara pada masa lebaran tahun 2014. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif untuk mengetahui jumlah penumpang dan kapasitas pesawat, sedangkan untuk mengukur pelayanan di bandara dilakukan dengan metode Importance Performance Analisis yang dilakukan di salah satu bandara yang menjadi tujuan pemudik yaitu bandara Adi Sumarmo, Solo. Hasilnya dapat diketahui bahwa puncak arus mudik terjadi pada H-3 sedangkan arus balik terjadi pada H+4. Pelayanan yang dirasakan baik di bandara Adi Sumarmo adalah Keamanan dan kenyamanan di bandara, Kecepatan petugas dalam memberikan informasi keterlambatan/delay pesawat, sedangkan yang masih memerlukan peningkatan adalah Sikap Petugas bandara dalam memberikan pelayanan, Proses pemeriksaan X-ray, dan Kecukupan jumlah troley, toilet, fasilitas penyandang cacat

    Kebutuhan Pengembangan dan Keterampilan Khusus Personil dalam Bidang Penerbangan Indonesia

    No full text
    Mitigation action towards aviation occurrence in Indonesia, according to number of aviation accident of the National Transport Safety Commitee, have not been showing a significant results. It can be caused by two things. First, the continuous development of aviation knowledge and technology. Second, the gaps between knowledge and skills that acquired during training phases and those required in the working environment This research is aimed to identify these gaps. The lack of understanding of Air Traffic Controllers on the concept of separation and how to implement it, minimum English speaking skills, and no training on RNA V and RNP are findings related to training solution. Whilst the malfunction of communication and monitoring devices, and no callibration to those devices are findings related to non-training solution. Pemecahan permasalahan kecelakaan penerbangan di Indonesia, berdasarkan data jumlah kecelakaan pesawat dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi, dapat dikatakan belum optimal. Masalah tersebut dapat dilihat dari dua hal, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan maupun kesenjangan yang terjadi antara kebutuhan pengetahuan dan keterampilan personil di lapangan dengan pengetahuan dan keterampilan yang diberikan pada masa pendidikan dan pelatihan. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi kesenjangan tersebut. Kurangnya pemahaman personil Pemandu Lalu Lintas Udara terhadap konsep pemberian separation dan implementasinya, kurangnya keterampilan bahasa Inggris dan belum terprogramnya program pelatihan RNAV dan RNP merupakan temuan yang bersifat pelatihan. Sementara tidak optimalnya fungsi peralatan komunikasi dan monitoring bahkan tidak dapat dioperasikannya peralatan monitoring serta tidak adanya program kalibrasi terhadap peralatan tersebut merupakan hasil temuan yang bersifat non-pelatihan dari penelitian ini

    Pemilihan Tipe Pesawat Udara Berdasarkan Estimasi Biaya Operasional untuk Pesawat Udara Jarak Menengah

    No full text
    Domestic aviation industry is currently in a growing state. This year, some airlines make a purchase of new aircraft to strengthen its fleet. Some types of aircraft procured by the Indonesian airline is Sukhoi Superjet 100, the Boeing 737 Next Generation aircraft, the Airbus A330-200 and MA-60. Those aircraft type is the medium range aircraft that could potentially become competitors to each other. This research aims to determine the type of medium range aircraft with has most efficient operational costs in serving a particular route. Operating costs calculation for 7 (seven) types of aircraft i.e. Airbus 1319, A320, 8737-300, B737-400, 13737-500, 13737-800 and 13737- 900ER showed that Boeing 737-900 ER aircraft operated by Lion Air has the most efficient direct operating costs ( 0.07981 USD / seat- nmi) followed by Boeing 737-400 aircraft with a seating capacity of 170 seats operated by Citilink Garuda Indonesia (0.08636 USD / seat-nmi). Industri penerbangan dalam negeri saat ini semakin berkembang. Mulai tahun ini, banyak perusahaan jasa angkutan udara yang melakukan pembelian pesawat baru untuk memperkokoh armadanya. Beberapa tipe pesawat udara yang didatangkan oleh perusahaan jasa angkutan udara Indonesia adalah pesawat Sukhoi SuperJet 100, Boeing 737 Next Generation, Airbus A330-200 dan MA-60. Tipe pesawat udara tersebut merupakan tipe pesawat udara medium range yang berpotensi menjadi kompetitor satu sama lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tipe pesawat udara medium range dengan biaya operasional paling hemat dalam melayani rute tertentu. Dari 7 (tujuh) tipe pesawat yang dihitung biaya operasionalnya yaitu Airbus A319, A320, B737-300, 18737- 400, B737-500, B737-800 dan B737-900ER, pesawat tipe Boeing 737-900ER yang dioperasikan oleh Lion Air menjadi pesawat udara dengan biaya operasional langsung paling hemat yaitu 0,07981 US/seatnmi,diikutiolehBoeing737400dengankapasitaskursisebanyak170kursiyangdioperasikanolehCitilinkGarudaIndonesia.sebesar0,08636US/seat-nmi, diikuti oleh Boeing 737-400 dengan kapasitas kursi sebanyak 170 kursi yang dioperasikan oleh Citilink Garuda Indonesia. sebesar 0,08636 US/seat-nmi

    Pengembangan Sisi Udara Bandar Udara Nunukan sebagai Bandar Udara untuk Pertahanan Nasional

    No full text
    Nunukan airport is one of the pioneer airports in the border region. Aside from being a pioneer airports, this airport has important role for the defense and security interests of the territory of the Republic Of Indonesia. The purpose of this research is to analyze the readiness of the airport airside facilities as defense side of the border area. The method used in this study is quantitative by comparing the calculation with facilities available as needed. From the calculation showed that runway needed for the Hercules C-1300 B is 1.455 m and Hercules C-1300 H 30 is 1.862m. Airport organizers need to increase the velue of the runway PCN from 12 / F/ C / T to 37 / F / C / Y / T with surface thickness is 10 cm layer of pavement, base course 18 cm, 41 cm and subbase course. Bandar Udara Nunukan merupakan salah satu bandar udara perintis di wilayah perbatasan. Selain sebagai bandar udara perintis, Bandar udara Nunukan sekaligus sebagai bandar udara perbatasan yang mempunyai nilai strategis untuk kepentingan pertahanan dan keamanan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menganalisa kesiapan fasilitas Sisi udara Bandar Udara Nunukan sebagai bandar udara pertahanan diwilayah perbatasan. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah kuantitatif dengan membandingkan antara fasilitas yang tersedia dengan hasil perhitungan sesuai dengan kebutuhan. Dari perhitungan didapatkan hasil bahwa penjang landas pacu yang dibutuhkan untuk pesawat Hercules C-1300 H 30 adalah 1.455 m dan Hercules C-1300 H 30 adalah 1.862 m. Penyelenggara bandar udara perlu juga melakukan peningkatan nilai PCN landas pacu dari 12/F/C/Y/T menjadi 37/F/C/Y/T dengan tebal lapisan perkerasan surface 10 cm, base course 18 cm, dan subbase course 41 Cm

    Perhitungan Emisi Gas Buang Harian Mesin Pesawat Udara di Bandar Udara Husein Sastranegara-Bandung

    No full text
    Air transport contributes significantly to air pollution. Based on the reports of the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), by 1992 the air transport accounted for 3.5% of the total anthropogenic radiative forcing of the atmosphere. It is expected to rise to 12.2%, in 2050. Furthermore, the airport is one area that has been the concentration of aircraft engine emissions. In this research, aircraft engines emission is calculated using actual data flights in airports (hybrid approach). This study aims to determine the amount of Carbon Monoxide (CO) and nitrogen oxides (NOx) generated daily from aircraft engine and then compared with the levels of CO and NOx are allowed. The result shows that the levels of CO and NOx generated daily from aircraft engines in Husein Sastranegara Airport- Bandung is still within normal limits. Transportasi udara memberikan kontribusi yang signifikan terhadap polusi udara. Berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), pada tahun 1992 transportasi udara menyumbang 3,5% dari total anthropogenic radiative forcing di atmosfer. Hal ini diperkirakan akan meningkat menjadi sebesar 12,2%, pada tahun 2050. Selanjutnya, bandar udara merupakan salah satu area yang menjadi tempat terkonsentrasinya emisi gas buang pesawat udara. Dalam penelitian ini dilakukan perhitungan emisi gas buang mesin pesawat udara dengan menggunakan data aktual penerbangan di bandar udara (pendekatan hibrid). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran Karbon Monoksida (CO) dan Nitrogen Oksida (NOx) harian yang dihasilkan dari mesin pesawat udara yang kemudian dibandingkan dengan kadar CO dan NOx yang diperbolehkan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kadar CO dan NOx harian yang dihasilkan dari mesin pesawat udara di Bandar Udara Husein Sastranegara-Bandung masih dalam batas normal

    Analisis Pelayanan Maskapai Penerbangan PT “X” Rute Jakarta-Batam Berdasarkan Persepsi Penumpang

    No full text
    The complexity of competition in the air transport industry causing any company or airlines have to improve the quality of service to the customer. This study uses the variable consists of 23 attributes of services that includes 5 SERVQUAL dimensions namely reliability, responsiveness , empathy , assurance and tangibles . Importance Performance Analysis Methods and Customer Satisfaction Index is used to analyze the primary data . The results showed that there are three (3 ) service attributes that are in quadrant priorities for improved / enhanced service which are ( A4 ) on-time performance of airline service, (Re5) ease of reservation and ( Rs3 ) ease of buying a ticket and check -in service at the airport . Customer Satisfaction Index of PT " X " airline Jakarta - Batam route amounted to 85.61 % which is very good. Kompleksitas persaingan dalam industri angkutan udara atau penerbangan menyebabkan setiap perusahaan harus selalu meningkatkan kualitas pelayanan agar kepuasan pelanggan dapat terwujud. Penelitian ini menggunakan variabel yang dalam terdiri dari 23 Atribut jasa yang meliputi 5 dimensi model Servqual yaitu reliabilitas, daya tanggap, empati, jaminan dan bukti fisik.Metode Importance Performance Analysis dan Customer Satisfaction Index digunakan untuk menganalisis data primer tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 (tiga) atribut jasa yang berada pada kuadran prioritas untuk diperbaiki/ ditingkatkan pelayanannya yaitu (A4) kinerja tepat waktu pelayanan penerbangan, (Re5) kemudahan reservasi dan (Rs3) membeli tiket dan pelayanan check in di Bandar Udara. Nilai Customer Satisfaction Index pelayanan maskapai penerbangan PT “X” rute Jakarta-Batam adalah sebesar 85.61%. Pelayanan maskapai penerbangan PT “X” rute Jakarta-Batam tersebut mempunyai nilai indek kepuasan penumpang yang sangat baik (very good)

    0

    full texts

    281

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Warta Adhia - Jurnal Perhubungan Udara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇