Warta Adhia - Jurnal Perhubungan Udara
Not a member yet
    281 research outputs found

    Studi Analisis Penyebab Runway Excursion di Indonesia Berdasarkan Data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tahun 2007-2016

    No full text
    Aircraft accidents can occur either on the air or the land, the accidents can occur inside or around the airport and also outside the airport. The aircraft accident inside the airport that often happens is in the runway area when the plane take off or landing. In this research will be discussed the incident of runway excursion that investigated by KNKT during 2007-2016 period. The purpose of this study is to identify and analyze the characteristics of runway excursion events investigated by KNKT. This study is a retrospective study of secondary data from aircraft accident reports collected by KNKT and the results are analyzed descriptively. The analysis show that the highest flying phase of runway excursion occurred in the landing phase of 95 cases, with the highest occurrence was the incidence of veers off was 73 cases, and the highest runway excursion type was AOC 121 of 48%. The most frequent area of ​​runway excursion accidents is the region of Papua was 38 cases. The analysis also shows that the highest accidental runway excursion rate occurred in 2011, while the lowest occurred in 2009. Kecelakaan pesawat dapat terjadi baik di udara maupun di darat, untuk kejadian di darat kecelakaan dapat terjadi di dalam atau disekitar bandara maupun diluar bandara. Lokasi kecelakaan pesawat yang berada di dalam bandara yang sering terjadi adalah di daerah landas pacu atau runway baik pada saat pesawat akan melakukan lepas landas maupun pada saat melakukan pendaratan. Pada penelitian ini akan dibahas kejadian runway excursion kecelakaan pesawat terbang yang diinvestigasi oleh KNKT selama kurun waktu 2007-2016. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisa karakteristik kejadian runway excursion yang diinvestigasi oleh KNKT. Penelitian ini adalah penelitian retrospektif data sekunder dari laporan kecelakaan pesawat terbang yang dihimpun oleh KNKT  dan hasilnya dianalisa secara deskriptif. Dari hasil penelitian didapatkan hasil untuk fase terbang kejadian runway excursion tertinggi terjadi pada fase landing sebesar 95 kasus, dengan kejadian tertinggi adalah kejadian veer off sebesar 73 kasus, dan tipe operasi yang tertinggi mengalami runway excursion adalah AOC 121 sebesar 48%. Wilayah yang paling sering terjadi kecelakaan runway excursion adalah wilayah Papua sebesar 38 kasus. Hasil analisa juga menunjukkan bahwa tingkat kecelakaan (rate of accident) kejadian runway excursion tertinggi terjadi pada tahun 2011, sedangkan yang terendah terjadi pada tahun 2009

    Telaahan Pengembangan Bandar Udara Baru di Pantai Pakis Jaya Karawang Sebagai Reliever Bagi Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta

    No full text
    Bandar Udara Soekarno Hatta Jakarta merupakan Bandar Udara terbesar dan tersibuk di Indonesia. Selama 15 tahun ke depan, pergerakan penumpang di Bandar Udara Soekarno Hatta diperkirakan akan mencapai 70 – 100 juta penumpang/tahun. Dengan adanya kondisi tersebut, dibutuhkan bandar udara baru di wilayah metropolitan DKI untuk mengakomodasi lonjakan pertumbuhan transportasi udara. Pada kajian ini dilakukan telaahan kelayakan lokasi Pantai Pakis Jaya sebagai lokasi bandar udara baru. Telaahan ini dilakukan berdasarkan 8 kriteria, yaitu ruang udara, keselamatan, aksessibilitas dan infrastruktur, lahan, kondisi alam, obstacle, biaya serta dampak sosial dan lingkungan. Berdasarkan analisis lahan dan obstacle, area Pantai Pakis Jaya Karawang layak dijadikan sebagai lokasi bandar udara baru karena tidak membutuhkan pembebasan lahan tidak terdapat obstacle yang menghalangi pesawat udara untuk melakukan pendaratan dan lepas landas. Namun, apabila ditinjau dari sisi ruang udara, keselamatan, aksessibilitas dan infrastruktur, kondisi alam, biaya serta dampak sosial dan lingkungan, Pantai Pakis Jaya ini kurang layak untuk dijadikan lokasi bandar udara baru. [New Airport Development Analysis in Pantai Pakis Jaya Karawang as a Reliever for Soekarno -Hatta International Airport] Jakarta Soekarno-Hatta International Airport is the biggest and the busiest airport in Indonesia. It is forecasted that passengers movement in this airport will reach 70 – 100 million passenger/year for the next 15 years. Seeing the condition of this airport as a concern, new airport in the area around DKI Jakarta is required to accomodate the surge of air transportation growth that Soekarno-Hatta itself already in overcapacity state. One of possible area to be set for the new airport development namely Pantai Pakis Jaya Karawang is analyzed in this study. The analysis was conducted based on 8 criteria; airspace, safety, accessibility and infrastructure, land, natural condition, obstacle, cost, social and environmental impact. The results of land and obstacle analysis indicate that Pantai Pakis Jaya Karawang is feasible as the new airport location due to it does not require land acqusition and there are no obstacles that can block the aircraft movement. However, the analysis results for airspace, safety, accessibility and infrastructure, natural condition, cost, and social and environmental impact show that Pantai Pakis Jaya Karawang is less feasible as the location for the new airport

    Perkembangan Perekonomian Wilayah dan Kargo Udara: Korelasi atau Kausalitas?

    No full text
    Transportasi sebagai permintaan turunan berada dalam perdebatan yang mengemukakan peranannya yang vital dalam perkembangan perekonomian di berbagai tingkatan. Paper ini berupaya untuk meneliti peranan tersebut, apakah kargo udara sebagai bagian dari transportasi udara memberikan stimulus dalam perkembangan perekonomian wilayah atau sebaliknya. Analisis yang dilakukan tidak hanya menguji korelasi tetapi juga kausalitas antara variabel-variabel perekonomian, yaitu tenaga kerja, kesejahteraan wilayah, dan pendapatan, dengan kargo udara. Kesimpulan yang diperoleh adalah adanya indikasi pengaruh sebab akibat dalam beberapa bagian dari hubungan antara keduanya yang diharapkan dapat mendukung penyusunan kebijakan terkait.[The Development of Regional Economic and Air Freight: Correlation or Causality?] Transportation as derived demand is on debate that it plays important role in multi-level economic development. This paper examines that role whether air freight, as a part of air transportation, stimulates regional economic development or vice versa. The analysis examines not only correlation but also causality of trends between economic variables; employment, regional welfare, and income, with air freight transportation. The conclusions discusses on the indications of influence in the parts of relationship between variables that to be expected to support related policy-making

    Karakteristik Aerodinamika Flying Boat pada Ketinggian Ground Effect (Studi Kasus Model Remote Control Flying Boat Pada Ketinggian 0,2 m dan 1 m)

    No full text
    The paper presents an analysis of the flight performance and stability and control of a Flying Boat remote control model on the ground effect altitude. It begins with a three dimensional measurement of a Flying Boat remote control model by using a laser tracking photo camera and a drawing software. The 3 D model was drawn by solid drawing on the CATIA software. The 3 D model was analyzed by using computational fluid dynamics CFx AnSys due to the rectangular wing with dihedral configuration with NACA 23012 airfoil. The maximum takeoff weight is around 25.0 kg powered with a single engine propeller, 5.5 HP. The surface effect phenomena of the Flying Boat remote control model was simulated by using CFx omputational Fluid Dynamics software, AnSys with the airspeed, V = 35.0 knots and shows a good results at the altitude of 20.0 cm. The longitudinal static stability analysis provides a good result at 1.0 meter altitude. Simulations were performed to the PUNA “Alap alap” flight performance test during cruise at 7800 feet as data verification. The adaptive ground effect control system is solved by transfer function equation matrix. Keywords: Flying Boat, remote control model, ground effect altitude. Makalah ini berisikan analisis prestasi terbang dan kestabilan dari pesawat remote control model jenis Flying Boat pada ketinggian terbang ground effect. Pada awalnya, dilakukan pemotretan 3 D terhadap pesawat model Flying Boat menggunakan kamera laser beserta piranti lunak pendukung dan kemudian menggunakan solid drawing pada program CATIA. Model 3D dianalisis dengan menggunakan piranti lunak CFx AnSys untuk keseluruhan badan dan sayap dengan airfoil jenis NACA 23012. Karakteristik dinamik dari pesawat model dengan MTOW = 25.0 kg dengan power 5.5 HP terlihat dengan baik pada ketinggian terbang 20.0 cm dengan kecepatan, V = 35.0 knots. Sedangkan, analisis kestabilan statik matra longitudinal terlihat dengan respons waktu (t) yang baik pada ketinggian terbang 1.0 meter. Simulasi terbang menampilkan uji prestasi terbang pesawat nir awak PUNA “Alap alap” saat cruise pada ketinggian 7800 feet sebagai data verifikasi. Model matematika sistem Kendali Terbang Adaptif Ground Effect dianalisis dengan matriks persamaan fungsi transfer. Kata kunci: Flying Boat, remote control model, ketinggian terbang ground effect

    Konsep Politik Hukum Pengembangan Sumber Daya Manusia Transportasi Udara Nasional dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

    No full text
    Legal policy in developing and providing air transportation’s human resources is the sub system of national transportation policy. There are two problems in this research, first, how is the regulation of Indonesia’s legal policy in air transportation’s human resources development? Second, how is the concept of legal policy of Indonesia’s air transportation human resources development? Regulation scope in providing and developing of air transportation human resources development consists of manpower planning, education and training, working opportunity and surveillance, monitoring as well as evaluation. Legal policy of regulation in providing and developing human resources that is conducted through delegated legislation requires sustainable policy such as the enactment of three Minister Regulations, namely the Minister of Transportation Regulation on The Development and Providing of Air Transportation Human Resources, the Minister of Transportation Regulation on The Implementation of Air Transportation Education and Training, and the Minister of Transportation Regulation on certificate of competency and license as well as arrangement of training program. The writer suggests the Ministry of Transportation to ratify immediately the three of the Minister of Transportation Regulations that have a basic delegated legislation as an answer to face ASEAN open sky policy. Keywords: legal policy, human resources, delegated legislation. Politik hukum pengembangan dan penyediaan SDM penerbangan merupakan sub-sistem dari kebijakan transpotasi nasional. Terdapat dua permasalahan dalam tulisan ini, pertama, bagaimana kebijakan politik hukum nasional Indonesia dalam pengembangan SDM transportasi udara nasional? kedua, bagaimana konsep kebijakan hukum pengembangan SDM transportasi udara nasional? Ruang lingkup pengaturan penyediaan dan pengembangan SDM penerbangan meliputi perencanaan sumber daya manusia (manpower planning), pendidikan dan pelatihan, perluasan kesempatan kerja, serta pengawasan, pemantauan, dan evaluasi. Politik legislasi pengaturan pengembangan dan penyediaan SDM yang dilakukan melalui delegated legislation di atas memerlukan kebijakan lanjutan berupa diundangkannya tiga peraturan menteri yaitu peraturan menteri perhubungan tentang penyediaan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang penerbangan, peraturan menteri perhubungan tentang penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan di bidang penerbangan, dan peraturan menteri perhubungan tentang sertifikat kompetensi dan lisensi serta penyusunan program pelatihan. Penulis menyarankan kepada Kementerian Perhubungan RI untuk segera mengundangkan ketiga peraturan menteri perhubungan yang telah memiliki dasar delegated legislation sebagai jawaban untuk menghadapi ASEAN open sky policy. Kata kunci: politik hukum, sumber daya manusia, delegated legislation

    Analisis Kesehatan Kerja Personel di Lingkungan Bandar Udara Tjilik Riwut - Palangkaraya

    No full text
    Air transportation demand is continously increase. Therefore airports as air transport infrastructure has a significant function in providing the facilities and human resources for the operation of air transport services. This research concern to analyse the personnel occupation health for human resources and personnel involved in the airport operation. This assessment uses a qualitative approach, which at the end of the analysis produces conclusions and recommendations addressed to the personne / officers and airport organizer related to the development of occupational health personnel, especially the activity at the air side of the airport. From the results of data collection and direct observations the peronnel health conditions in the area airside and equipment / protective equipment are pretty well. From the analysis of the factor analysis, there are four (4) factors from (10) existing indicators to explain 66.203% of the total variance. This presentage is quite high because it is able to explain more than 50% of the variance of the ten (10) existing indicators. Keywords: airport, personnel health, factor analysis. Transportasi udara pada saat ini semakin banyak diminati masyarakat. Oleh karena itu bandar udara sebagai prasarana penerbangan memiliki fungsi yang sangat penting dalam menyediakan fasilitas dan SDM untuk pengoperasian angkutan udara. Banyaknya SDM dan petugas yang terlibat pekerjaan di lingkungan bandara menjadikan masalah kesehatan kerja di lingkungan bandara sangat perlu diperhatikan. Tujuan pengkajian ini adalah untuk mengetahui kondisi kesehatan kerja personel yang bekerja di bandar udara. Pengkajian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dimana pada akhir analisis menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi yang ditujukan kepada personel/ petugas dan penyelenggara bandar udara terkait peningkatan kesehatan kerja personel yang khususnya beraktifitas di sisi udara bandar udara. Dari hasil pengumpulan data dan pengamatan langsung yang dilakukan dapat diketahui secara garis besar kondisi kesehatan personel di area airside dan perlengkapan/peralatan pelindung bagi personel cukup baik. Dari hasil analisis dengan analisa faktor terbentuk 4 (empat) faktor dari 10 (sepuluh) indikator yang ada dan mampu menjelaskan 66,203% dari total varian. Angka ini cukup besar karena mampu menjelaskan lebih dari 50% varian dari 10 (sepuluh) indikator yang ada. Kata kunci: bandar udara, kesehatan personil, analisis faktor

    Penerapan Skema Badan Layanan Umum Dalam Pengelolaan Keuangan Bandar Udara Internasional Jawa Barat

    No full text
    Bandara Internasional Jawa barat (BIJB) merupakan salah satu bandar udara di provinsi Jawa Barat. Bandara ini dibangun dalam rangka mendorong pengembangan wilayah pembangunan Ciayumajakuning (Cirebon-Indramayu-Majalengka-Kuningan). Presiden Republik Indonesia menerbitkan kebijakan pengalihan pembangunan dan pengoperasian BIJB dari Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat ke Kementerian Perhubungan (pemerintah pusat). Kajian ini bertujuan untuk mengetahui apakah skema Badan Layanan Umum (BLU) dapat diterapkan pada pengelolaan keuangan Bandar Udara Internasional Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam pengkajian adalah analisis deskriptif kualitatif. Ditinjau dari persyaratan pengusulan BLU, BIJB telah memenuhi persyaratan substantif namun persyaratan teknis dan administratif belum terpenuhi. Jika persyaratan substantif dan teknis telah terpenuhi maka BIJB dapat diusulkan menjadi satuan kerja yang menerapkan PPK BLU bertahap. Aset BIJB masih terdiri dari 2 kepemilikan dimana lahan dan fasilitas sisi darat (terminal penumpang) merupakan aset milik Pemerintah Daerah Jawa Barat sedangkan fasilitas sisi udara (runway, apron, taxiway) merupakan aset milik Kementerian Perhubungan. Pengalihan kepemilikan aset dari Pemerintah Daerah Jawa Barat ke Kementerian Perhubungan harus diselesaikan sebelum BIJB diusulkan menjadi satuan kerja pemerintah yang menerapkan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (PPK BLU) [The Application of Badan Layanan Umum Scheme in The Financial Management of Jawa Barat International Airport] Jawa Barat International Airport (JBIA) is one of the airports in the West Java Province. This airport was built to boost the growth of Ciayumajakuning region (Cirebon, Indramayu, Majalengka and Kuningan). The President of Indonesia issued a policy that JBIA construction and operation transferred from the West Java Provincial Government to The Ministry of Transportation (as the Central Government). This research aims to determine whether the scheme of Badan Layanan Umum (BLU) can be applied in the financial management of JBIA. The method which is used in this research is qualitative descriptive analysis. Based on this research, JBIA has met the substantive requirement, but not yet in the technical and administrative requirements. If JBIA can fulfill the substantive and technical requirements, then JBIA can be proposed as government agency that applies BLU financial management gradually. JBIA assets are belong to two owners where the landside facilities (terminal building) are owned by the West Java Provincial Government while the airside facilities (runway, apron and taxiway) are owned by the Ministry Of Transportation. The transfer of the assets from the West Java Provincial Government to The Ministry of Transportation needs to be done before JBIA is proposed as government agency with BLU financial management

    Evaluasi Kinerja Infrastruktur Transportasi Udara di Ibukota Provinsi

    No full text
    Adanya penurunan kualitas infrastruktur transportasi di Indonesia menjadikan penelitian mengenai perbedaan kondisi antara kebutuhan dan kemampuan sektor transportasi udara perlu untuk dilaksanakan dalam rangka peningkatan kinerja infrastruktur transportasi udara. Artikel ini menitikberatkan pada analisa jumlah dan pertumbuhan penumpang, jumlah dan pertumbuhan kargo dan juga kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah terkait infrastruktur transportasi udara. Berdasarkan analisa multi kriteria yang didapatkan dari data primer dan sekunder, penelitian yang bersifat eksploratif ini akan memberikan gambaran kondisi infrastruktur transportasi udara berdasarkan lalu lintas udara di infrastruktur bandara dan beberapa sudut pandang pemangku kepentingan seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi dan praktisi. Peningkatan pertumbuhan penumpang merupakan indikator utama kinerja transportasi udara sedangkan pertumbuhan barang hanya sebagai indikator sekunder jika dinilai dari sudut pandang pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. [The Evaluation of Air Transportation Infrastructure Performance in Indonesian Capital Province] The research related to the difference between supply and demand of air transportation due to the decrease in the quality of the transportation infrastructure in Indonesia is needed in order to improve the performance of the air transportation infrastructure. This paper focuses on the analysis of the number and growth of passengers, the number and growth of cargos, and related government policies in air transportation sector. Based on multi-criteria analysis derived from primary and secondary data, this exploratory study will provide the condition of air transportation infrastructure based on the air traffic at the airport and several stakeholders perspectives such as central government, local government, academics and practitioners. The increase in passenger growth is the key indicator of air transportation performance while the cargo growth only serves as the secondary indicator if measured from the viewpoint of the central government and local government

    Pengaruh Kepadatan Lalu Lintas Penerbangan Pada Saat Taxi-Out Terhadap Konsumsi Bahan Bakar Pesawat Udara (Studi Kasus: Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta)

    No full text
    Dalam satu fase penerbangan dari bandar udara asal menuju bandar udara tujuan, pesawat udara akan mengalami beberapa fase terbang, salah satunya adalah fase taxi-out. Fase ini memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap konsumsi bahan bakar pesawat udara, terutama ketika terjadi kepadatan lalu lintas pesawat udara karena waktu yang dibutuhkan pesawat udara untuk taxi-out menjadi lebih lama dari yang seharusnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepadatan lalu lintas pesawat udara terhadap waktu taxi-out dan konsumsi bahan bakar di Bandar Udara Soekarno Hatta-Jakarta. Hasil perhitungan menunjukkan rata-rata 30% dari total jumlah penerbangan pada bulan Juli, Agustus dan September tahun 2014 mengalami keterlambatan keberangkatan karena terjadinya kepadatan lalu lintas pesawat udara pada saat taxi-out. Hal ini mengakibatkan kelebihan konsumsi bahan bakar pesawat udara sebesar 29% dibandingkan apabila pesawat udara dapat melakukan taxi-out dalam keadaan tanpa hambatan. [The Effect of Air Traffic Congestion on Taxi-out Time and Aircraft Fuel Consumption (Case Study: Soekarno-Hatta International Airport)] In a single flight, from the origin airport to the destination airport, the aircraft experiences several different flight phases, one of which is taxi-out phase. This taxi-out phase contributes significantly to aircraft fuel consumption particularly when air traffic congestion occurred due to the time needed in taxiing become much more longer than it should be. The aim of this research is to analyze the effect of air traffic congestion on taxi-out time and aircraft fuel consumption at Soekarno-Hatta International Airport. The results show that the average of 30% of the total number of flight in July, August, and September 2014 has been delayed due to air traffic congestion on taxi-out phase and it caused an increase of 29% on aircraft fuel consumption compared to uncongested taxi-out

    Perkiraan Kebutuhan Depo Pengisian Avtur Pesawat Udara di Indonesia

    No full text
    Purpose of the implementation of this work is to make a study of the readiness and the role of the regulator, Transport Company Flight Indonesia and PT Pertamina in order Estimated Needs Filling Fuel Depots and Development Aircraft (DPPU) to Increase Efficiency of Aircraft Operation. The aim of this work is to provide policy advice on estimates and Development Needs Filling Fuel Depots Aircraft (DPPU) to Increase Efficiency of Aircraft Operation Maksud pelaksanaan pekerjaan ini adalah membuat kajian tentang kesiapan dan peran Regulator, Perusahaan Angkutan Penerbangan Indonesia serta PT Pertamina dalam rangka Perkiraan Kebutuhan dan Pembangunan Depo Pengisian BBM Pesawat Udara (DPPU) Untuk Meningkatkan Efisiensi Pengoperasian Pesawat Udara.Tujuan pelaksanaan pekerjaan ini adalah untuk memberikan masukan kebijakan tentang Perkiraan Kebutuhan Dan Pembangunan Depo Pengisian BBM Pesawat Udara (DPPU) Untuk Meningkatkan Efisiensi Pengoperasian Pesawat Udara

    0

    full texts

    281

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Warta Adhia - Jurnal Perhubungan Udara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇