Jurnal Balai Bahasa
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
KEARIFAN BUDAYA DAN FUNGSI KEMASYARAKATAN DALAM SASTRA LISAN KAFOA (Local Wisdom and Communal Function in The Oral Literature of Kafoa)
Penelitian ini mengungkapkan dan mendeskripsikan kearifan budaya dan fungsi kemasyarakatan dalam sastra lisan Kafoa di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. Hasil penelitian menemukan enam judul sastra lisan yang memiliki kearifan budaya yang masih dipertahankan oleh masyarakat tersebut. Kearifan budaya tersebut meliputi fungsi dan nilai budaya sebagai media komunikasi lisan masyarakat setempat. Ada enam fungsi budaya kemasyarakatan dalam sastra lisan Kafoa, yaitu (1) fungsi hiburan, (2) fungsi estetis, (3) fungsi media pendidikan nonformal, (4) fungsi kepekaan batin dan sosial, (5) fungsi penambah wawasan, dan (6) fungsi pengembangan kepribadian. Sementara itu, ada juga enam nilai budaya masyarakat Kafoa yang terungkap dalam sastra lisannya, yaitu (1) religiusitas, (2) upaya belajar dari alam, (3) sportivitas dan kebersatuan, (4) semangat untuk menjaga persatuan dan kesatuan, (5) penghargaan terhadap yang muda dan berprestasi, dan (6) sifat tolong-menolong antarsesama. Kearifan budaya dan fungsi kemasyarakatan dalam sastra lisan tersebut menunjukkan adanya kesantunan berbahasa dan sikap menghormati orang lain sehingga menjadi penentu arah kebijaksanaan hidup yang mulia, luhur, dan bermartabat.Abstract:This study reveals and describes the cultural wisdom and social function in oral litera- ture Kafoa, Alor Island, Nusa Tenggara Timur. The study found six oral literature titles having cultural wisdom that is retained by the community. These include cultural wisdom and cultural values as a function of oral communication media in the community. There are six functions of civic culture in Kafoa oral literature, namely (1) entertainment function, (2) aesthetic function, (3) non-formal educational media function, (4) inner and social sensitivity function, (5)enhancer sight function, and (6) personality development function. In the meantime, there are also six Kafoa cultural values expressed in the oral literature, namely (1) religiosity, (2) effort to learn something from nature, (3) fairness and unity, (4) spirit to maintain the unity and integrity, (5) appreciating the young achievers, and (6) mutual assistance. Cultural wisdom and social function in oral literature shows the language of politeness and respect other people so that it determines the wisdom direction a glorious, noble, and dignified life
RESEPSI PEMBACA TERHADAP TJERITA NJAI DASIMA (Reader Reception toward Tjerita Njai Dasima)
Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan perubahan resepsi pembaca terhadap Tjerita Njai Dasima dengan teori resepsi sastra dan metode resepsi diakronis. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa sejak era kolonial hingga era reformasi Tjerita Njai Dasima telah mendapat tanggapan berupa karya-karya baru dalam bentuk puisi, prosa, teks drama, skenario film, film, sinetron, dan drama musikal. Perubahan resepsi terjadi dari generasi ke generasi seiring dengan perubahan zaman dan perubahan horison harapan pembacanya. Resepsi pada masa sebelum kemerdekaan menunjukkan ideologi prokolonial dan pada era awal kemerdekaan sebaliknya, antikolonial. Resepsi pembaca yang muncul di era Orde Baru berisi kritik sosial terhadap pembangunan dan di era reformasi memperlihatkan semangat pluralisme dan kebebasan.Abstract:This paper is aimed at describing the form and the change reader reception toward Tjerita Njai Dasima by using reception of literary theory and diachronic reception method. This research revealed that since colonial period until reformation period, Tjerita Njai Dasima got appreciation in the form of new literary works such as poem, prose, drama text, film scenario, film, series, and musical drama. The change of reception can be seen from generation to generation, together with the development and reader ’s horizon expectation. The reception before indepen- dence showed procolonial ideology. While, in the early independence period tended to be antico- lonial. Reader reception emerged in the new era period showed social critic toward development, while in the reformation period was in the form of spirit of pluralism and freedom
RELIGIOSITAS TOKOH UTAMA DALAM NOVEL NADZAR- NADZAR JIWA KARYA BUDI SULISTYO EN-NAFI (The Main Character’s Religiosity in Sulistyo En-Nafi’s Novel “Nadzar-Nadzar Jiwa”)
Novel Nadzar-Nadzar Jiwa karya Budi Sulistyo En-Nafi menggambarkan religiositas tokoh utamanya.Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi secara deskriptif sikap religiositas tokoh utama yang terdapat dalam novel Nadzar-Nadzar Jiwa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Metode ini dipandang sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian yang telah ditentukan. Metode ini berusaha mendeskripsikan sejumlah masalah religiositas dalam novel Nadzar-Nadzar Jiwa karya Budi Sulistyo En-Nafi.Sumber data penelitian ini adalah novel Nadzar-Nadzar Jiwa karya Budi Sulistyo En-Nafi yang diterbitkan pada tahun 2009. Dari hasil analisis yang dilakukan dapat diperoleh hasil penelitian, yaitu sikap religiositas tokoh utama yang digambarkan berupa hubungan tokoh utama dengan Tuhan, hubungan tokoh utama dengan sesama manusia, dan hubungan tokoh utama dengan hakikat hidup. Bertitik tolak dari hasil tersebut, disimpulkan bahwa novel Nadzar-Nadzar Jiwa karya Budi Sulistyo En-Nafi berisi kisahperjuangan sosok Anas dalam mencapai harapannya untuk sukses.Abstract:Budi Sulistyo En-Nafi’s Nadzar-Nadzar Jiwa describes main character’s religiosity. This study intends to gain information regarding main character’s religiosity depicted in the story. The study employs a descriptive method. The method is as considered suitable to the problem and the aim of the study. This method attempts to describe a number of religiosity problems in Budi Sulistyo En-Nafi’s Nadzar-Nadzar Jiwa. The data source of this study is Budi Sulistyo En-Nafi’s novel “Nadzar- Nadzar Jiwa” published in 2009.The result of the analysis reveals that the attitudes of main character’s religiosity were depicted in the form of God’s relationship with the main character, the relationship of main character with fellow human beings, and the relationship of main character with the essence of life. Based on the findings, it is concluded that Budi Sulistyo En-Nafi’s Nadzar- Nadzar Jiwa contains the story of Anas’ life struggle, as the main character, in his expectation to succeed in life
PROBLEMATIKA DUNIA KEPENGARANGAN SASTRA JAWA PERIODE 1980—1997: SEBUAH STUDI KASUS (Problems of Javanese Literary Authorship World in the Period of 1980—1997: A Case Study)
Dunia kepengarangan sastra Jawa periode 1980—1997 ditopang oleh media berbahasa Jawa (koran dan majalah). Kehadiran institusi itu ternyata mampu memberikan kontribusi yang sangat luas terhadap sistem kesastraan Jawa. Kenyataan ini menunjukkan bahwa institusi-institusi itu telah mampu menggeser peranan penerbit buku. Di tengah situasi seperti itu, pengarang Jawa menggunakan nama samaran perempuan untuk memertahankan eksistensinya (ekonomis dan popularitas). Usaha tersebut ternyata dapat memperteguh sikap para pengarang sastra Jawa dalam memertahankan sastra Jawa, walaupun keadaan ekonomi para pengarang sastra Jawa sangat kecil jumlahnya jika dibandingkan dengan pengarang sastra Indonesia. Sastra Jawa sebagai sastra daerah di Indonesia tetap dapat dipertahankan ekistensi oleh para para pengarang baru dan pengarang lama. Penelitian ini menggunakan teori makro sastra dari Ronald Tanaka. Dengan teori itu, penelitian ini dapat mengungkapkan dunia kepengarangan sastra Jawa pada periode 1980—1997. Adapun metode sosiologis dalam penelitian dipergunakan untuk memahami secara komprehensif persoalan di dalam dunia sastra Jawa periode 1980—1997.Abstract:Javanese literary authorship world in the period of 1980-1997 supported by Javanese media (newspaper and magazine). The presence of the instituation was able to give a broader contribution to Javanese literary system. The fact showed that the institutions had been able to shift the role of book’s publisher. In the midst of such a situation, the Javanese authors wrote under pseudonyms to maintain their existence (economic and popularity). The effort was able to rein- force the literary Javanese authors’ attitude in preserving the Javanese literature despite the economic condition in this period that made their payment for their works very small when com- pared to Indonesian literary authors’ payment. The existence of Javanese literature as regional literary works in Indonesia can still be maintained by new and old authors. The present study applies the Ronald Tanaka’s literary macro theory. By using the theory, the research tries to reveal the world of Javanese literary authorship in the period of 1980—1997. The sociological method of the research is used to understand problems comprehensively in Javanese literary world in the period of 1980—1997
MITOS DAN AKTIVITAS MELAUT MASYARAKAT BAJO DI BUTON (Myth and Sailing Activities of Bajo Community in Buton)
Mitos adalah salah satu sarana untuk mengingatkan anggota masyarakat agar tetap mematuhi pranata-pranata yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Masyarakat Bajo adalah masyarakat pelaut yang masih meyakini tentang suatu mitos terutama mitos melaut. Menjaga dan menghidupkan mitos-mitos yang berhubungan dengan laut merupakan jalan terbaik bagi masyarakat Bajo untuk menggeneralisasikan kehidupan mereka yang akrab dengan laut. Mitos pengibaratan ikan dan sampan yang kering adalah dua mitos Bajo yang dalam tulisan ini dikaji dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan memanfaatkan kritik mitis. Hasil analisis menunjukkan bahwa mitos tersebut merupakan manifestasi tekad dan semangat masyarakat Bajo untuk tetap eksis melaut.Abstract:Myth is a kind of instrument which used to remind the member of community in order to follow some norms there. Bajo community is a sailor community having a strong belief in myth, especially myth in sailing. Preserving and protecting myths related to sailing is the best way for Bajo community to generalize their close relation to the sea. Myth comparing fish to dry trash are two myths that will be discussed by using descriptive qualitative method. The discussion also uses mythical critic. The result of the discussion shows that myths are manifestation of resolve and spirit of Bajo community in sailing
PENGARUH KOLONIALISME TERHADAP PERUBAHAN PSIKOLOGIS WANITA PRIBUMI DALAM CERPEN “PEREMPUAN DALAM PERANG” KARYA CHINUA ACHEBE
Cerpen “Perempuan dalam Perang” merupakan salah satu cerpen yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Afrika: Kenapa Tidak Kau Pahat Binatang Lain. Kumpulan cerpen terbit tahun 2005 dan diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Cerpen ini menceritakan masa keterpurukan Negara Afrika yang menjadi sorotan para kolonialis untuk menjajahnya. Masyarakat Afrika diperlakukan sebagai golongan inferior di tanah mereka oleh pihak Barat, akibat konflik yang terjadi berkenaan dengan sosiologis dan psikologis penderitaan wanita pribumi dalam kolonialisme. Salah satu penderitaan psikologis yang dialami oleh masyarakat pribumi, yaitu perubahan ideologi yang menuju kemerosotan moral. Banyak dari mereka yang berpindah tempat, berpindah pola pikir, dan berubah dalam tindakan. Metode yang digunakan adalah close reading, dengan menggunakan pendekatan teori poskolonialisme yang akan dihubungkan dengan prespektif feminisme karena dalam cerita ini terkandung isu gender yang cukup kental. Yang terjadi dalam cerpen “Perempuan dalam Perang” adalah perubahan pola pikir seorang wanita yang berjuang melawan penjajah, berubah menjadi seorang yang berjuang untuk dirinya. Wanita itu berusaha memertahankan hidupnya dengan menjual harga dirinya. Isu gender juga melekat dalam cerpen ini. Dilihat dari sudut pandang feminisme, ada hal-hal yang dibenarkan dalam pola pikir feminis dan ada penyimpangan-penyimpangan yang mengakibatkan perspektif feminis tidak dihargai.Abstract:The short story of “Perempuan dalam Perang” is one of the short stories in Kumpulan Cerpen Afrika (A collection of African short stories) entitled Kenapa Tidak Kau Pahat Binatang Lain. The collection of the short stories published in 2005 and translated by Sapardi Djoko Damono. The story told us about the downturn of African countries that became the attraction of imperialism to colonize them. African society is treated as an inferior class of their own land by the West, due to the conflict regarding the sociological and psychological suffering of native women in colonialism. One of the psychological suffering experienced by the native is the change in ideology leading to moral degradation. Many of them change their mindset and action.The applied method is close reading, using a theoretical approach post-colonialism linked to the perspective of feminism because this story contained the strong gender issue. What happened in the story was a change in a woman mindset who fought against the colonialist, turned into a struggle for herself. She was trying to survive by selling her own esteem. The gender issues are also inherent in this short story. From feminism point of view, there are things justified in feminist mindset and there are deviations resulting in a feminist perspective that is not appreciated
FUNGSI WIRID DAN HIZIB DALAM SASTRA LISAN PESANTREN (Studi Kasus Wirid Asma’ul Husna dan Hizib Lathif di Brangsong Kendal) (The Function of Hizib and Wirid in Oral Literature of Pesantren [Case Study in Wirid Asma’ul Husna and Hizib Latif in Brangsong Kendal])
“Fungsi Wirid dan Hizib dalam Sastra Lisan Pesantren” menguraikan berbagai manfaat wirid dan hizib bagi orang yang membacakannya. Wirid dan hizib yang diuraikan di sini termasuk kategori sastra lisan atau lebih spesifik termasuk jenis sastra lisan pesantren. Fungsi wirid dan hizib yang ditampilkan di sini difokuskan pada studi kasus Wirid Asma’ul Husna dan Hizib Lathif yang terdapat di wilayah Brangsong Kendal. Di samping fungsi, makalah ini juga menampilkan deskripsi serta pemahaman Wirid Asma’ul Husna dan Hizib Lathif untuk menambah wawasan pembaca
PEMILIHAN CERPEN KONTEMPORER DALAM SURAT KABAR SEBAGAI BAHAN AJAR DAN DAMPAKNYA PADA HASIL PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (Selection of Contemporary Short Stories in The Newspaper as Teaching Materials and Learning Outcomes of Indonesian Language and Literature in The Secondary School)
Pembelajaran sastra cenderung kurang berani menggali teks dalam konteks yang lebih luas. Padahal sangatlah mungkin, guru mengajak siswa untuk masuk dan menyelami unsur pembangun sastra dari luar teks pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemilihan cerita pendek kontemporer dalam surat kabar untuk kepentingan alternatif bahan ajar dan peningkatan hasil pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis. Pendekatan penelitian untuk bahan ajar dan hasil pembelajaran adalah pendekatan deskriptif analitis. Data dalam penelitian ini adalah cerpen dalam surat kabar Kompas dan Republika periode Januari 2005--Desember 2009 dan hasil pembelajaran siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi. Teknik analisis meliputi proses pengorganisasian dan pengurutan data tentang bahan ajar ke dalam pola kategori dan satuan uraian. Hasil temuan dan analisis menunjukkan rata-rata nilai aspek pemilihan cerpen kontemporer sebagai bahan ajar sebesar 3,78 (layak dijadikan bahan ajar) dan aspek kesesuaian cerpen kontemporer dengan prinsip penyusunan bahan ajar sebesar 3,96 (layak dijadikan bahan ajar). Hasil pembelajaran untuk aspek pemahaman cerpen bervariasi pada kategori sangat baik, kategori baik, kategori cukup, kategori kurang, dan tidak ada siswa yang memperoleh nilai kategori gagal. Cerpen yang dapat digunakan dalam pembelajaran adalah cerpen apa saja. Namun, sebaiknya untuk tingkat SMA, cerpen yang digunakan adalah cerpen kontemporer dan isinya harus sesuai dengan karakteristik, pengalaman, dan kebutuhan siswa.Abstract: Learning literary texts tends to be less daring to dig up a broader context. However, it is possible that teachers invite students to trace builder element of literary text apart from teaching text material. This study aims to describe the selection of contemporary short stories in the newspa- pers for the benefit of alternative instructional materials and the improvement of learning out- comes of Indonesian Language and Literature in secondary school.The method used in this research is analytical descriptive method. The data in this study is short stories taken from Kompas and Republika on the period of January 2005--December 2009 as well as students’ works as learning outcomes. Data collection was done by using the documentation. Technical analysis involves the process of organizing and sorting data on instructional materials into the pattern of unit categories and descriptions.The finding and analysis show that an average value of the selection aspect of contemporary short stories is as instructional materials of 3.78 (worthy of teaching materials) and aspects of contemporary short stories conformity with the principles of the preparation of teaching materials of 3.96 (worthy of teaching materials). Results of learning for understanding aspects of the short story vary in some categories, namely, very good, good, fair, and poor. However, it is not found any students failing to obtain the category