Jurnal Balai Bahasa
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
TOKOH-TOKOH BERPERSPEKTIF FEMINISME DALAM NOVEL TWILIGHT KARYA STEPHENIE MEYER
. AbstrakLaki-laki maupun perempuan diciptakan sederajat, dan mereka disempurnakan oleh pencipta-Nya dengan diberi hak-hak yang melekat dalam dirinya, hak untuk hidup, kebebasan, dan pencapaian kebahagiaan. Oleh karena itu, penulis dalam makalah kali ini ingin menilik tokoh-tokoh yang berperspektif feminisme dalam novel Twilight karya Stephenie Meyer. Sehubungan dengan itu, masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimakah gambaran perspektif feminisme tokoh-tokoh dalam novel karya Stephenie Meyer. Makalah ini dikaji menggunakan metode deskriptif-tekstual dan pendekatan sosiologi sastra.
EKOLOGI PELESTARIAN DALAM CERPEN PENJAGA SAWAH KARYA ANTON DWI RETNO
This research is conducted to reveal the value of the preservation ecology and science preservation program in Penjaga Sawah Short Story by Anton Dwi Retno. This ecological aspect of preservation was revealed through the depiction of characters in the story and dialogue. The theory used in this study is the ecocritical theory. The method used in this research is qualitative descriptive method and data collection uses literary technique. The results obtained in this study is Penjaga Sawah short story namely the interaction of characterrs related to the environment and the use of nature in the form of rice plantin; and the meaning of ecology of preservation has a mutual need between humans and environment.
Keywords: religiosity values, Penjaga Sawah short story, qualitative descriptiv
MITOS MARTANDU: KECENDEKIAAN LOKAL SUKU MORONENE DI KABAENA DALAM POTENSI BANJIR DI SUNGAI LAKAMBULA
Mitos Martandu adalah kisah tentang satu makhluk mitologis (digambarkan sebagai makhluk serupa ular raksasa yang bertanduk) dalam suku Moronene di Pulau Kabaena, tepatnya di hulu Sungai Lakambula. Permasalahan yang diangkat dalam peneliutian ini adalah bagaimana mitos Martandu merepresentasikan kecendekiaan lokal suku Moronene di Kabaena dalam kaitannya dengan potensi banjir di Sungai Lakambula dan bagaimana relevansi Mitos Martandu dengan keadaan yang ada sekarang. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan representasi kecendikiaan lokal suku Moronene di Kabaena dalam Mitos Martandu dalam kaitannya dengan potensi banjir di Sungai Lakambula dan relevansinya dengan keadaan saat ini. Data berupa Mitos Martandu dan realitas kondisi sekarang di lokus penelitian diperoleh dari penelusuran pustaka dan wawancara dengan informan. Data dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan teknik analisis mitem, pembacaan, dan pemaknaan melalui perelasian. Hasil analisis menunjukkan bahwa Mitos Martandu merepresentasikan kecendekiaan lokal suku Moronene di Kabaena terkait potensi banjir di Sungai Lakambula dalam bentuk skenario berisi sejumlah peringatan berlapis apabila ada yang melakukan kesalahan melanggar aturan. Pada bagian terakhir, diskenariokan apabila datang pihak luar yang ingin menguasai kekayaan mereka, maka harus dicegah. Mitos ini memiliki relevansi dengan keadaan sekarang di manasaat arus modernitas mengubah pola berpikir manusianya menjadi lebih instan dan merasa seolah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kebaikan alam. Demikian pula skenario akhir martandu yang melawan hiu/martandu laut, relevan dengan kedatangan orang-orang dari luar yang hendak turut serta mengambil manfaat dari kakayaan alam bumi Moronene di Kabaena.
Kata kunci: Mitos Martandu, kecendekiaan lokal, suku Moronene, potensi banjir, Sungai Lakambul
PEMAKNAAN SIMILE OLEH MAHASISWA UIN RADEN INTAN LAMPUNG
Permasalahan dalam penelitian ini adalah sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap majas simile. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemaknaan dan bentuk-bentuk majas simile. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan data yang berdasarkan interpretasi majas simile oleh mahasiswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi. Teknik analisis data dengan cara mengklasifikasi data, menafsirkan data, menjelaskan data, menyimpulkan sementara, melakukan triangulasi internal dan eksternal, dan membuat simpulan akhir. Hasil penelitian menunjukkan tahap pertama mahasiswa memaknai masing-masing kata yang membentuk kata simile. Tahap selanjutnya mahasiswa memaknai kata simile secara utuh. Kata-kata simile yang dimaknai oleh mahasiswa dapat dibagi ke dalam tiga kategori simile. Ketiga kata simile tersebut, yaitu simile kategori alam, manusia, dan benda mati
KATA DAN ISTILAH DALAM TRADISI BELANGER, BULANGER, DAN PELANGERAN PADA MASYARAKAT LAMPUNG
This article aims to describe and explain the form, meaning, and use of terms in the belanger tradition in Lampung society. This research is a type of qualitative descriptive research. The research method is divided into three stages, namely (a) the stage of providing data; (b) data analysis stage; and (c) the data presentation stage. The stage of providing data used in this study is the referral method, which is listening to the conversation by interviewing informants in three regions. Then advanced techniques are used, namely recording techniques and note taking techniques. Then the required data is sorted. Once collected, the data is analyzed by being classified based on the form, meaning, and use. The terms belanger, bulanger, and pelangeran have the same meaning, which are both self-cleaning or purifying themselves. The term belanger is for traditional leaders and brides. Then, the term bulanger is intended for a pregnant mother, while the term pelangeran is intended for Muslims who will enter the month of Ramadan. During the belanger ceremony in Negara Aji Baru Village 12 supporting terms were found. While the bulanger tradition in Blambangan Umpu Subdistrict there are 12 supporting terms. Then, the pelangeran tradition in Olok Gading District Village has 3 supporting terms. Keywords: terms, belanger, bulanger, pelangera
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGIDENTIFIKASI UNSUR INTRINSIK NOVEL REMAJA ASLI ATAU TERJEMAHAN PADA SISWA KELAS VIII SEMESTER GENAP TAHUN 2015/2016DI SMP NEGERI 25 BANDARLAMPUNG
Secara umum rumusan masalah penelitian ini adalah Bagaimana meningkatkan kemampuan mengidentifikasikan unsur intrinsik novel remaja asli atau terjemahandengan mengimplementasikan model pembelajaran inkuiri pada siswa kelas VIII semester genap di SMP Negeri 25 Bandarlampung.Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan mengidentifikasikan unsur intrinsik novel remaja asli atau terjemahan dengan model pembelajaran inkuiri padasiswa kelas VIII SMP Negeri 25 Bandarlampung tahun pelajaran 2015/2016? Implementasi model pembelajaran inkuiri ternyata mampu meningkatkan kemampuan mengidentifikasikan unsur intrinsik novel remaja asli atau terjemahan. Hasil penelitian sebanyak 3 siklus, 6 kali pertemuan menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar. Hasi pembelajaran siklus kesatu dengan materi pembelajaran mengidentifikasi karakter tokoh novel remaja,siswa yang sudah tuntas KKM 72 sebanyak 30 atau 78,9 % dan 8 siswa atau 21% belum tuntas KKM. Melalui implementasi model pembelajaran inkuiri siklus dua materi pembelajaran menjelaskan tema dan latar novel remaja, siswa yang sudah tuntas KKM naik menjadi 32 siswa atau 84% sedangkan yang belum tuntas belajar turun menjadi 6 siswa atau 16%. Setelah melalui perbaikan bersama kolabolator, hasil pembelajaran siklus ketiga materi pembelajaran mendeskripsikan alur novel remaja, berhasil meningkatkan siswa tuntas belajar menjadi 36 atau 96 % sesuai dengan target penelitian ini 95 % siswa tuntas KKM. Sedangkan sisanya tinggal 2 siswa atau 5% belum tuntas KKMKata Kunci: Mengidentifikasi unsur intrinsik novel remaja dengan model pembelajaraninkuiri
PENDIDIKAN SASTRA ANAK PADA DONGENG SEMUT YANG SOMBONG DAN PERSAHABATAN SEMUT DAN MERPATI KARYA IHSAN FAUZI
Pada penelitian ini, dongeng menjadi objek penelitian yang dianalisis dan diinterprestasikan sesuai dengan keadaan dongeng tersebut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan nilai pendidikan sastra anak yang terdapat pada dongeng tersebut. Berdasarkan analisis pada dongeng Semut yang Sombong dan Persahabatan Semut dan Merpati karya Ihsan Fauzi dapat disimpulkan bahwa di dalam dongeng tersebut terdapat nilai pendidikan pada karya sastra anak, yaitu eksplorasi dan penemuan, perkembangan bahasa, pengembangan nilai keindahan, dan penanaman wawasan multikultural. Salah satu pendidikan sastra anak tentang budi pekerti mengajarkan moral dan sopan santun kepada anak. Nilai pendidikan sastra pada karya tersebut dapat menjadi contoh dan pelajaran dalam mendidik seorang anak, sehingga anak bertambah wawasanya melalui bacaan sastra yaitu dongeng
ABREVIASI BAHASA GAUL REMAJA
Makalah ini menganalisis abreviasi bahasa gaul. Metode penelitian ini adalah deskriptif, yakni membuat pencandraan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat data. Tujuannya adalah menemukan dan mendeskripsikan bentuk-bentuk abreviasi yang terdapat pada bahasa gaul remaja. Hasil analisis menunjukkan bahwa ditemukan abreviasi berupa singkatan, akronim, gabungan singkatan dan akronim, serta pemenggalan. Pada abreviasi berupa singkatan, ditemukan singkatan dari bahasa Indonesia, singkatan dari bahasa Inggris, dan gabungan singkatan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pada abreviasi berupa akronim, ditemukan akronim dari bahasa Indonesia dan akronim dari bahasa Inggris. Akronim dari bahasa Indonesia terdiri dari dua suku kata, tiga suku kata, empat suku kata, lima suku kata, dan dua kata. Akronim dari bahasa Inggris terdiri dari satu suku kata (gabungan huruf awal kata) dan dua suku kata. Pada abreviasi berupa pemenggalan ditemukan bagian akhir kata yang dipenggal atau dihilangkan.Kata kunci: abreviasi, bahasa gaul, singkatan, akronim, pemenggala
Membaca Perempuan dalam Celoteh Perempuan
Artikel berjudul “Membaca Perempuan dalam Celoteh Perempuan” merupakan penelitian terhadap kumpulan cerpen berjudul Celoteh Perempuan yang berkisah tentang perempuan dari sudut female gaze. Mayoritas kisahnya berkaitan dengan pembentukan eksistensi jati diri, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Masalah dalam artikel ini dibatasi pada kondisi penunjukan jati diri para perempuan dalam cerita, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kondisi tokoh perempuan dalam cerita pada saat mereka ingin menunjukkan jati diri, baik di ranah domestik maupun di ranah sosial, terutama ketika mereka mendapatkan pertentangan dari diri sendiri ataupun lingkungan sosial setempat—baik dari sesamanya maupun dari lawan jenis. Metode yang digunakan dalam penyusunan artikel ini adalah kualitatif dengan dasar analisis deskriptif komparatif. Konsep teoretis yang digunakan adalah feminisme eksistensialisme dari Simone de Beauvoir. Hasil analisis yang diperoleh adalah (a) empat tokoh perempuan dalam Celoteh Perempuan adalah perempuan yang mampu memupuk jati diri dan menunjukkan eksistensi pada diri sendiri maupun ranah sosial; dan (b) keputusan yang diambil oleh tokoh perempuan belum dapat berterima dengan pandangan ranah sosial