Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
    440 research outputs found

    THE SANGIRAN FOSSIL SHELL ASSEMBLAGES CATALOGUE

    Full text link
    Abstrak. Katalog Himpunan Fosil Kerang Sangiran. Makalah ini merupakan pemutakhiran himpunan fosil cangkang Sangiran di Jawa Tengah. Tujuannya untuk mendokumentasikan dan menyajikan  gastropoda dan kerang dari seri Kalibeng atas dan Pucangan Bawah Kubah Sangiran dari periode Plio-Pleistosen. Tercatat 61 taksa moluska hingga tingkat genus. Informasi yang dikumpulkan dari kumpulan moluska ditentukan oleh sejarah geologi dan lingkungan Sangiran. Mereka diasosiasikan dengan fasies yang berbeda: a) napal masif dan lempung biru, b) lapisan batugamping lempung, c) lempung kelabu berlumpur, d) breksi vulkanik dan lahar dan e) lempung hitam, dan terdiri dari sedimen yang merepresentasikan lingkungan laut hingga rawa yang mengarah ke perkembangan kontinental. Pola kuantitatif yang dicatat dalam kumpulan moluska menjelaskan palaeo-lingkungan dan hubungan antara kumpulan palaeodataset yang mapan dari analisis dan tingkat variabilitas dalam data paleontologi. Selain itu, cangkang yang teridentifikasi dapat digunakan sebagai referensi untuk perwakilan taksonomi Sangiran dan moluska di lapisan Kalibeng dan Pucangan Cekungan Solo di Jawa Tengah.   Abstract. This paper is an update of fossil shell assemblages of Sangiran in Central Java. It is aimed to document and present the gastropods and bivalves from the Upper Kalibeng and Lower Pucangan series of the Sangiran dome from the Plio-Pleistocene period. There are 61 mollusc taxa recorded up to the genus level. Information gathered from mollusc assemblages are determined by the geological and environmental history of the Sangiran. They are associated with different facies: a) massive marls and blue clays, b) layered clayey limestone, c) silty gray clay, d) volcanic breccia and lahars and e) black clays, and composed of sediments representing marine to swampy environments leading to continental development. The quantitative patterns recorded in mollusc assemblages elucidate the palaeoenvironment and the relationship between the established palaeodatasets of analysis and the levels of variability in palaeontological data. Moreover, the identified shells may be utilized as a reference for Sangiran and molluscan taxonomic representative in Kalibeng and Pucangan layers of Solo Basin in Central Java

    Benturan Kepentingan, Suatu Refleksi dalam Pengelolaan Warisan Budaya di Indonesia

    Full text link
    Abstract. Conflict in this study is interpreted as a perception of differences in interests. The basic concept of this study departs from the view that conflict is a natural reality in human life that requires interaction with society. In general, this study aims to reveal the community's knowledge system in interpreting cultural heritage and ways to act using the knowledge system. As a consequence of the study, specifically, the purpose of this study is to diclose how to reduce the conflicts that often occur at various sites in Indonesia. The method used is explanatory qualitative explanatory which is an effort to understand why a phenomena can occur and what causes it. The results of this study find that cultural heritage conflicts should not be connoted as a negative phenomenon. Cultural heritage conflict is a reflection of the weakness of the management system that will be part of the solution to a problem that leads to a better change. Keywords: Interaction, Society, Conflict, Heritage, Culture Abstrak. Konflik dalam nelitian ini diartikan sebagai persepsi mengenai perbedaan kepentingan. Konsep dasar penelitian ini berangkat dari pandangan, bahwa konflik merupakan realitas yang wajar dalam kehidupan manusia yang mengharuskan berinteraksi dengan masyarakat. Secara umum penelitian ini bertujuan mengungkapkan sistem pengetahuan masyarakat dalam memaknai warisan budaya dan cara-caranya bertindak menggunakan sistem pengetahuan tersebut. Sebagai konsekwensi atas kajian di atas, secara khusus tujuan penelitian ini mengungkapkn bagaimana upaya meredam konflik yang sering terjadi di berbagai situs di Indonesia. Metode yang digunakan adalah eksplanatif kualitatif eksplanatitif yakni upaya memahami mengapa fenomena dapat terjadi dan apa faktor penyebabnya. Hasil penelitian ini menyatakan konflik warisan budaya tidak harus dikonotasikan sebagai fenomena yang negatif. Konflik warisan budaya merupakan merupakan cermin lemahnya sistem pengelolaan yang akan menjadi bagian dari solusi atas suatu permasalahan yang mendorong ke arah perubahan yang lebih baik. Kata kunci: Interaksi, Masyarakat, Konflik, Warisan, Buday

    Peninggalan-peninggalan Purbakala Di Padang Lawas

    Full text link

    Laporan Singkat Dinas Purbakala Tahun 1952

    No full text

    Cover Amerta Volume 29, Nomor 2, Tahun 2011

    No full text

    Tradisi Pembiatan Kabit dari Kulit Kayu Pada Suku Mentawai, Sumatera Barat

    Full text link
    ABSTRACT. The Tradition of Bark Cloth Kabit (Loin Cloth) Making at Mentawai west Sumatera. Apart from tattoos that decorated the whole body, the loincloth made from a tree bark known as kabit, is one of strong identities of the tribe of Mentawai in West Sumatra. This kabit was formerly used to be their daily cloth, but recently, only a shaman (sikerey) or hunting people wearing this bark cloth. It is made of a bark of a big tree, beaten by a beater called panasalat, then used simplify when it is prepared. The existence of this kabit as a kind of bark cloth among the people of Mentawai is a long tradition from their prehistoric ancestor that still survives up to the present day. This bark cloth was never discovered from the Neolithic sites, certainly because of decaying process, but the occasionally discovery of its beaters, made from the stone in Minanga Sipakko (South Sulawesi) and some sites in Kalimantan, proved their utilization during the period of Neolithic. For this reason, the making of loincloth, kabit, among the Mentawai people is a window to look at how the prehistoric man made their bark cloth some 4,000 years ago. ABSTRAK. Selain tato yang menghiasi seluruh tubuh, cawat yang dibuat dari kulit kayu, yang dikenal dengan nama lokal kabit, merupakan salah satu identitas Suku Mentawai di Sumatra Barat. Kabit ini dahulu merupakan pakaian sehari-hari mereka, akan tetapi saat ini, hanya saman (sikerey) atau orang yang sedang berburu yang memakainya. Cawat ini dibuat dari kulit kayu pohon besar, yang dipukul-pukul dengan pemukul kayu (panasalat), kemudian digunakan setelah selesai disiapkan. Di kalangan Suku Mentawai, kabit sebagai pakaian kulit kayu telah menjadi tradisi panjang mereka sejak masa prasejarah hingga saat ini. Pakaian kulit kayu tidak pernah ditemukan dari situs-situs neolitik, tentu saja karena telah lapuk, tetapi melalui penemuan-penemuan pemukul kulit kayu yang dibuat dari batu di Situs Minanga Sipakko (Sulawesi Selatan) dan beberapa situs di Kalimantan, merupakan bukti dari pemakaian pakaian kulit kayu ini pada periode neolitik. Oleh karenanya, pembuatan cawat (kabit) di kalangan Suku Mentawai merupakan sebuah jendela masa lalu untuk melihat ke belakang, bagaimana manusia prasejarah membuat pakaian kulit kayu mereka pada sekitar 4.000 tahun yang lalu

    Lukisan Gua Sebagai Tanda Keberadaan dan Mata Pencaharian Penghuni Gua Prasejarah di Kabupaten Maros-Pangkep

    No full text

    Pola Persebaran Situs Megalitik Di Sulawesi Utara

    No full text

    Preface Amerta Volume 24, Nomor 1, Tahun 2006

    No full text

    Appendix Amerta Volume 24, Nomor 1, Tahun 2006

    No full text

    202

    full texts

    440

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇