Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
Pemanfaatan Sumber Daya Alam: Pendukung Aktivitas Budaya Megalitik di Situs Lolah, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa, Propinsi Sulawesi Utara
THE SUNDANESE ECO-RELIGION KAMPONG OF KASEPUHAN CIPTAGELAR INDIGENOUS LOCAL COMMUNITY: CASE STUDY KAMPONG CENGKUK, SUKABUMI REGENCY
Abstract. This research focused on eco-religion of indigenous Sundanese local community of Kasepuhan Ciptagelar at Southern Halimun Mountain on how to manage sustainable environment. The Kampong Cengkuk is one of several kampongs that still follow the tradition of indigenous local community of Kasepuhan Ciptagelar for hundred years. This descriptive qualitative research aims to reveal the internal and external factors led to deforestation of natural forests with average around 6-8% per year. The research shows that the kampong is still practicing eco-religion tradition by protecting forestland (leuweung tutupan) only for their subsistence. The hypothesis is that the social-culture changes had been occurred in the community not only to restrict outer island agriculture in the forest, but also, in wet rice cultivation activities, to manage sustainable environment. The reduction in process and ceremonial activities also happened, which was originally eight ceremonies of outer island agriculture rituals into five ceremonies of wet rice cultivation. The more profane activities were developing economic crops in home garden.
Keywords: Ecoreligion, Kampong, Environment, Forest, Tradition
Abstrak. Penelitian ini membahas tentang eko-religi masyarakat lokal Sunda Kampung Ciptagelar di Pegunungan Halimun Selatan bagaimana dalam pengelolaan lingkungan keberlanjutan saat ini. Kampung Cengkuk adalah salah satu dari kampung-kampung pengikut tradisi Kasepuhan Ciptagelar selama ratusan tahun. Penelitian dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif ini yang bertujuan untuk mengetahui faktor dari dalam dan luar kampung penyebab deforestasi hutan alam dengan rata-rata sekitar 6-8% per tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik ekoreligi masih dianut warga kampung dengan menjaga hutan tutupan (leuweung tutupan) untuk kegiatan subsistensi. Hipotesa yang dibangun adalah perubahan sosio-kultur terjadi pada masyarakat dengan membatasi kegiatan berladang di hutan tetapi lebih kepada kegiatan bertani di sawah ladang untuk mengelola lingkungan berkelanjutan. Pengurangan pada proses dan kegiatan upacara, yang semula delapan upacara daur ladang menjadi lima upacara daur sawah. Kegiatan profan lebih banyak pada pengembangan komoditas tanaman ekonomi di kebun-talun.
Kata kunci: Ekoreligi, Kampung, Lingkungan, Hutan, Tradis
Pengaruh Perkeretaapian Terhadap Perkembangan Struktur Tata Ruang Kota Cirebon Berdasarkan Tinggalan Arkeologis
Abstract.
Cirebon is a strategic city in the north of Java which, based on concentric theory, has a dynamic development process. This research used a qualitative approach and the descriptive method followed the pattern of inductive reasoning where data was collected through a) a literature study to documents from Indonesian National Archives (ANRI) and PT KAI Indonesia; b) field survey to observe the remains of the railroads; and c) interviews with the community leaders. Data were then analyzed spatially, using indicators from concentric theory, to see the effect of railroads on the development of the spatial structure of Cirebon. The result of the study reveals that the palace used to be the center of community activities during the kingdom reign, then shifted after the Dutch arrived and built the railroads. The center of the activities shifted to the ports, the stations, along the train stops, the plantation areas, the sugar factories, and the meeting points of the roads. The remains of the railroads today become a contextual proof of the development of the spatial structure of Cirebon which must be preserved as an archaeological value.
Keywords: Train Heritage, Spatial Structure, Cirebon
Abstrak.
Cirebon merupakan kota yang strategis di bagian utara Pulau Jawa. Jika didasarkan pada teori konsentris, kota ini memiliki proses perkembangan dinamis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode deskripstif mengikuti pola penalaran induktif. Data dikumpulkan melalui studi literatur, yakni dokumen dari Arsip Nasional Indonesia dan PT KAI Indonesia; survei untuk melihat sisa tinggalan perkeretaapian dari studi literasi; dan wawancara kepada tokoh masyarakat. Data dianalisis secara spasial dengan indikator dari teori konsentris untuk melihat pengaruh perkeretaapian terhadap perkembangan struktur tata ruang Kota Cirebon. Hasil penelitian tinggalan arkeologis perkeretaapian menunjukan bahwa pada masa kerajaan, pusat aktivitas masyarakat berada di sekitar keraton, kemudian bergeser setelah Belanda datang dan membangun perkeretaapian. Pusat aktivitas bergeser ke pelabuhan, stasiun, sepanjang perhentian kereta api, kawasan perkebunan, pabrik gula dan titik pertemuan jalan. Kondisi tinggalan tersebut menjadi bukti kontekstual perkembangan struktur tata ruang Kota Cirebon yang harus dilestarikan sebagai peninggalan bernilai arkeologis.
Kata kunci: Tinggalan Perkeretaapian, Struktur Tata Ruang, Cirebo