Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
    440 research outputs found

    Cover Amerta Volume 31, Nomor 2, Tahun 2013

    No full text

    Interaksi Regional dan Cikal Bakal Perdagangan Internasional di Maluku

    Get PDF
    Abstrak. Sejarah telah mencatat peran penting Kepulauan Maluku dalam jejaring perdagangan internasional setidaknya sejak awal abad Masehi. Beberapa sumber sejarah kuno memberikan kesaksian keberadaan cengkeh di tempat-tempat yang jauh dari sumber tanaman endemik Maluku ini. Naturalis Romawi, sejarah Dinasti Han (abad 2 SM – 2 M), menuliskan tentang adanya rempah-rempah (cengkeh, chi-shé, ting-hsiang) yang didatangkan dari Mo-wu atau Maluku (Wolters, 1967). Jejaring perdagangan yang melibatkan Maluku memuncak sekitar abad ke-16 tidak lama setelah orang-orang Eropa mulai menjelajahi lautan untuk mencari “emas hijau” ini di tempat asalnya. Peran penting Maluku dalam jejaring perdagangan dunia adalah salah satu puncak proses evolusi budaya yang berakar dari interaksi regional yang telah terjadi sejak ribuan tahun sebelumnya. Makalah ini mencoba menelusuri kembali cikal bakal dan perjalanan panjang sejarah terbentuknya jejaring perdagangan internasional di kawasan Maluku ini. Abstract. Regional Interaction and the Dawn of International Trade in Moluccas. History has recorded the important role of Moluccas Islands in international trade network at least since early century CE. A number of old historical sources reveal the existence of cloves at places far from the sources of these endemic plants of the Moluccas. Roman naturalist, the history of the Han Dynasty (2nd century BCE – 2nd century CE), wrote about spices (cloves, chi-shé, tinghsiang) sent from Mo-wuor Moluccas (Wolters, 1967). The trade network that involved Moluccas reached its peak around 16th century CE, not long after the Europeans began to roam across the oceans in search of this “green gold” in its places of origin. The important role of the Moluccas in the global trade network is one of the pinnacles of cultural evolution process, which was rooted in regional interactions that happened since thousands of years previously. This paper attempts to retrace the embryo and long journey of the establishment of international trade network in the Moluccas region

    Pelayaran dan Perdagangan Masa Lalu di Kepulauan Maluku Tenggara

    Get PDF
    Abstrak. Kepulauan Maluku Tenggara adalah wilayah yang membentang antara Timor hingga Papua. Karakteristik geografis yang kompleks telah membentuk profil budaya kawasan ini yang menjadi sedemikian raya. Sejak awal Masehi wilayah ini juga dikenal sebagai kawasan sumber komoditi eksotik seperti mutiara bulu burung cendrawasih, emas, tenun hingga budak. Hal mana yang membuat kontak dan interaksi niaga dengan dunia luar telah terbentuk sejak berabad silam dan menciptakan profil kompleks sejarah budaya kawasan. Lepas dari peran kunci dimaksud, studi-studi sejarah budaya belum banyak memberikan perhatian atas dinamika kontak dan interaksi niaga di wilayah ini pada masa lalu.Termasuk dalam aspek arkeologis. Makalah ini mencoba mengisi ruang dimaksud dengan mengamati karakteristik aktivitas pelayaran dan perdagangan masa lalu di Kepulauan Maluku Tenggara serta implikasinya atas profil sejarah budaya kawasan. Studi pustaka dilekatkan sebagai pendekatan menjawab permasalah yang diajukan dalam kajian mula ini. Hasil telaah menemukan bahwa Kepulauan Maluku Tenggara telah membentuk suatu sistem pelayaran dan perdagangag yang kompleks masa prasejarah terus berkembang hingga masa kolonial. Implikasi atas proses kompleks ini kiranya dapat diamati dari karakteristik budaya wilayah ini yang raya serta jejak budaya materi yang tersebar luas dalam lingkup kawasanAbstract. Past Voyage and Trade in Southeast Moluccas Islands. The Southeast Moluccas Islands is the region that stretches between Timor and Papua. This geographical characteristic has formed the complex cultural profile of the archipelago. Since the early historical period, the Southeast Moluccas Islands is also known as a source area of the exotic commodities such as bird of paradise, gold, woven products and slaves. A condition that in the later times has created interaction and contact between this region and outside world. Despite this key role of the area, proper attention has not been given to study this region in the cultural historical perspective. Included in the archaeological studies. This paper tries to bridge the gap by observing the characteristic of the ancient seafaring and trading activities in the Southeast Moluccas Archipelago and it’s implication for the cultural historical profile of the region. The referential study has been attached as the main approach in this research. This study found that the region of Southeast Moluccas has established the seafaring and trading system since the prehistoric times and continues to be developed until the colonial period. The implications of this complex process is also can be observed in the complex cultural profile of the region as well as through the traces of the material cultural widespread in this archipelago

    Prasasti Kusambyan: Identifikasi Lokasi Maḍaṇḍěr dan Kusambyan.

    Get PDF
    Abstract. Kusambyan inscription was engraved on andesitic stone using Kawi script and in Old Javanese language. Its top part was broken into 9 pieces. The numbers that indicate the date were missing, but based on paleography it is known to be from originated from the period of King Dharmmawangśa Airlangga Anantawikramotunggadewa (1019-1042 CE). This inscription mentions two important locations, which are Maḍaṇḍĕr Palace and Kusambyan Village that were appointed as freehold, which. Both places still played important roles during the reign of King Jayanagara, which was titled Śrī Sundarapāṇḍyadewadhiśwara Mahārājābhiseka Wikramotunggadewa (1309-1328 CE). In this paper those places will be tried to be identified. Abstrak: Prasasti Kusambyan dipahatkan pada batu andesit dengan aksara Kawi dan bahasa Jawa Kuna. Prasasti ini tidak utuh lagi karena bagian atasnya sudah pecah menjadi 9 bagian. Angka tahun prasasti sudah tidak ada, akan tetapi berdasarkan paleografi diketahui berasal dari masa RajaDharmmawangśa Airlangga Anantawikramotunggadewa (1019-1042 M.). Prasasti ini menyebut dua lokasi penting, yaitu Keraton Maḍaṇḍĕr dan Desa Kusambyan yang dikukuhkan menjadi daerah perdikan. Kedua tempat tersebut masih mempunyai peranan penting pada masa pemerintahan rajaJayanagara yang bergelar Śrī Sundarapāṇḍyadewadhiśwara Mahārājābhiseka Wikramotunggadewa (1309-1328 M.). Sehubungan dengan itu, dalam makalah ini akan dicoba pengidentifikasian kedua tempat tersebut

    Irigasi Tirtayasa: Teknik Pengelolaan Air Kesultanan Banten Pada Abad Ke-17 M

    Get PDF
    Abstract. Irrigation of Tirtayasa: Water Management Technique of the Sultanate of Banten in the 17th century. This paper presents the results of archaeological research that revealed the agricultural sideview of the Sultanate of Banten, based on the findings of the irrigation features of the 17th century. It has been recorded in history that an engineering done to build a water management system in a large scale for intensive agricultural purposes in the coastal region of Banten. The opening of the agricultural land was initiated by Sultan Ageng also known epithet of honor as Tirtayasa. Variety of finding features include former canals, artificial embankments, bridges, water gates and water control building. Human adaptation and environmental approaches used to describe the ability of the technology to build the water system, which is an actions and consequences of efforts to solve problems of the local environmental situation, then put it together in a large system. The hydraulics engineering, held in support of food security. All the evidence, showing toughness engineered water management system, at that time. Abstrak: Tulisan ini menyajikan hasil penelitian arkeologi yang mengungkap sisi agraris dari Kesultanan Banten, berdasarkan peninggalan irigasi dari abad ke 17. Tercatat dalam sejarah bahwa sebuah rekayasa dilakukan untuk membangun tata air dalam skala besar untuk pertanian intensif di pesisir Banten. Pembangunan itu diprakarsai Sultan Ageng yang bergelar Tirtayasa. Melalui pendekatan excavasi bukti-bukti jejak hidro-arkeologi ditemukan kembali, tersebar di antara SungaiCiujung, Sungai Cidurian dan Sungai Cipasilihan. Ragam peninggalan antara lain berupa bekas kanal-kanal, tanggul buatan, jembatan, pintu air, dan bangunan pengontrol air. Pendekatan adaptasi manusia dan lingkungan digunakan untuk menjelaskan kemampuan teknik membangun tata air, yang merupakan tindakan dan konsekuensi dari upaya mengatasi problem situasi lingkungan setempat, danmenyatukannya dalam sebuah sistem besar. Rekayasa teknologi hidrolika ini, diselenggarakan untuk mendukung kebutuhan pangan. Bukti-bukti itu, menunjukan ketangguhan rekayasa pengelolaan tata air, pada masa itu

    Muatan Intan Shipwreck Abad Ke-10: Variabilitas dan Kronologi.

    Get PDF
    Abstract. Intan Shipwreck Cargo from 10th Century CE: Variability and Chronology. In the past two decades, many shipwreck have been discover with various types of cargo in the Archipelago waters. Most shipwreck relics were found in the western part of the Archipelago waters (Sumatra- Java). It is a fact, that the Archipelago waters have very much shipwreck remains. One of the shipwreck found, is Intan Shipwreck. This article will discuss the variability and chronology of Intan is cargo, that was explored in 1997. Then the identification of the shipwreck cargo, compared with the archaeological remains discovered from the research. Most of the shipwreck cargo, it can be confirmed as a commodity item that will be distributed to the consumer. The pattern of distribution and equation shipwreck cargo at archaeological sites, strengthen the networking of shipping and commerce, both long distance and short distance, in the context of its time. Hence, through this discussion, it makes it possible to view the archipelago in the past in a broader perspective, such as in the form of networking. Abstrak. Dalam dua dasawarsa ini, banyak penemuan kapal karam dengan berbagai jenis muatannya di perairan Nusantara. Sebagian besar peninggalan kapal karam tersebut ditemukan di perairan Nusantara bagian barat (perairan Sumatra-Jawa). Ini suatu kenyataan, bahwa perairan laut Nusantara memiliki tinggalan kapal karam yang sangat banyak. Salah satu kapal karam yang ditemukan, ialah Intan Shipwreck. Artikel ini akan membahas variabilitas dan kronologi muatan kapal karam yang telah dieksplorasi pada tahun 1997. Kemudian hasil identifikasi muatan kapal itu, dibandingkan dengan tinggalan arkeologi yang ditemukan dari hasil penelitian di situs-situs arkeologi. Sebagian besar muatan kapal karam ini, dapat dipastikan sebagai barang komoditi yang akan didistribusikan ke negara konsumen. Pola persebaran dan persamaan muatan kapal karam di situs arkeologi memperkuat.adanya jaringan pelayaran dan perniagaan, baik jarak jauh maupun jarak dekat, dalam konteksjamannya

    Perniagaan dan Islamisasi Di Wilayah Maluku

    Get PDF
    Abstrak. Perdagangan dan Islamisasi di wilayah Maluku, merupakan kajian yang saling berkaitan, sebagaimana kajian Islam di wilayah Nusantara lainnya. Proses Islamisasi di wilayah Maluku selain karena perluasan kekuasaan, juga perluasan perdagangan akibat persaingan menguasasi jaringan ekonomi. Perluasan ekonomi melalui jaringan perniagaan, adalah salah satu strategi para mubaligh dalam memperluas atau menyebarkan Islam. Dalam berbagai literatur disebutkan, bahwa para mubaligh, juga didominasi oleh pedagang, artinya mubaligh sekaligus pedagang. Dalam konteks perdangan dan Islamisasi, perdagangan semakin berkembang ketika lembaga Islam terbentuk, selanjutnya terjalin jaringan niaga antar kerajaan. Melalui kajian studi pustaka, tulisan ini berusaha menjelaskan masalah tersebut. Wilayah yang menjadi fokus perhatian kajian ini adalah wilayah Maluku Tengah, hal ini mengingat wilayah ini merupakan wilayah penyebaran Islam terbesar yang berasal dari pusat kekuasaan Islam di Maluku Utara. Perjalanan panjang sejarah terbentuknya jejaring perdagangan internasional di kawasan Maluku ini.Abstract. Trade and Islamization in Moluccas. Trade and Islamization in Moluccas, a study of the interrelationship Islam studies in other parts of the archipelago. The process of Islamization in the Moluccas in addition to the expansion of the power of embarrassment, also dominate the expansion of trade due to the competition of economic network. Economic expansion through commercial networks, is also one of the preachers strategy in expanding or spreading Islam. Mentioned in the literature, that the preachers, which are also dominated by traders, meaning that traders preachers as well. In the context of Islamization and commerce, growing trade when Islamic institutions are formed, further established trade networks between the kingdom. Through the study of literature, this paper attempts to explain. The questions that are the focus of this study is a concern in the region of Central Moluccas, it is because the region is the area of greatest spread of Islam from the Muslim power center in North Moluccas.

    Preface Amerta Volume 31, Nomor 2, Tahun 2013

    No full text

    Back Cover Amerta Volume 31, Nomor 2, Tahun 2013

    No full text

    Materialisasi Identitas: Monumen-Monumen Perahu Batu di Kepulauan Tanimbar.

    Get PDF
    Abstract. Materialization of Identity: Stone Boat Monuments in The Tanimbar Islands. Boat theme is one of main symbolic elements in islands between Timor and New Guinea. Community in this region has attached the philosophical value of boat in various cultural products that ranged from architechture to statues. The stone boat monument of Sangliat Dol in Tanimbar is one of the most popular representation of such Phenomenom. Recent archaeological studies in the Tanimbar Islands found that this model of stone boat monument is surprisingly widely adopted in this region. The eksistence of sites with these specific monuments refelected this condition. This paper tries to discuss the recent pictures of stone boat monuments in the Tanimbar Islands and aspects behind thedevelopment of this particular cultural products in the region. The theory of materialization ideology by DeMarrais has been adopted to explain the phenomenom. This research found that the essence behind the construction of these stone boat monuments is serve as the identity materialization of traditional groups in Tanimbar Islands. Abstrak: Tema perahu merupakan salah satu elemen simbolik yang digunakan secara luas di pulau-pulau yang membentang antara Timor dan Papua. Masyarakat di kawasan ini memang menyematkan segenap nilai filosofis perahu pada berbagai produk budaya mereka mulai dari aristektur hingga patung dan objek pemujaan leluhur. Salah satu representasi yang paling terkenal adalah keberadaan monumen perahu batu di Sangliat Dol, Tanimbar. Studi arkeologis terkini di Kepulauan Tanimbarmenemukan bahwa model monumen untuk tema perahu sebagai simbol ini juga ternyata digunakan pada cakupan yang lebih luas di wilayah ini. Eksistensi situs-situs serupa di beberapa bagian lain kepulauan ini merupakan cermin atas kondisi tersebut. Tulisan ini mencoba mendiskusikan gambaranterkini sebaran representasi monumen perahu batu di wilayah Kepulauan Tanimbar serta aspek-aspek yang melatarbelakangi berkembangnya model budaya khas dimaksud di kawasan ini. Hasil penelitian menemukan bahwa hakekat monumen perahu batu ini merupakan wujud materialisasi identitas kelompok-kelompok masyarakat tradisional di Kepulauan Tanimbar

    202

    full texts

    440

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇