Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
    440 research outputs found

    The Vedic Religion In Nusantara*

    Get PDF
    Abstract. The seafaring traders from India as well as from Southeast Asia had an important role in spreading the Indian religions to Nusantara. The brahmins were invited by the local rulers to legitimize their new status and doing rituals for them. For instance, according to the yūpa-inscriptions from the 4th century AD, King Mūlavarman from Kutei, Muarakaman, East-Kalimantan was doing meritorious works (punya-), by giving donations in the sacrificial offerings (the yajñas) performed at a punyatama. ksetra known as Vaprakeśvara. These yajñas were done by the vipras (a kind of brahmins) who came to Kalimantan from many places. By comparing the archaeological data with the written sources, i.e. the Sanskrit inscriptions, we are able to formulate that the Vedic religion was the earliest Indian religion embraced by the rulers in Nusantara. At least 3 kings had invited the brahmins to do the Vedic–yajñas, i.e. king Mūlavarman (from the 4th century), king Pūrnavarman from Tārumanagara (in the 5th century), and King Gajayana from Kanjuruhan, East Java (in the 7th century). The last mentioned king, actually converted to Sivaism (the Hindu-Saiva), but he invited the Vedic priests to do the Vedic yajña. The Vedic rituals probably were also done in Kota Kapur, Bangka. The remains of the Vedic altars, fragments of Visnu statue and other finds were found at that site. Abstrak. Agama Weda di Nusantara. Pedagang-pedagang yang berlayar dari India dan Asia Tenggara berperanan penting dalam menyebarkan agama-agama India di Nusantara. Para brahmin diundang oleh penguasa-penguasa lokal untuk melegitimasi status baru mereka dan melaksanakan upacara-upacara bagi mereka. Misalnya, menurut sejumlah prasasti yūpa dari abad ke-4 Masehi, Raja Mūlavarman dari Kutai, Muarakaman, Kalimantan Timur, melakukan pekerjaan-pekerjaan mulia (punya-), dengan memberi sumbangan pada persembahan kurban (yajña) yang dilakukan di suatu punyatama. ksetra yang dikenal dengan nama Vaprakeśvara. Yajñas- yajña dilaksanakan oleh para vipra (semacam brahmin) yang datang ke Kalimantan dari berbagai tempat. Dengan membandingkan data arkeologis dan sumber-sumber tertulis, misalnya prasasti-prasasti berbahasa Sansekerta, kita dapat menyimpulkan bahwa agama Veda merupakan agama India pertama yang dianut oleh para penguasa di Nusantara. Setidaknya tiga raja telah mengundang para brahmin telah untuk melakukan yajña- yajña, misalnya Raja Mūlavarman (dari abad ke-4 Masehi), Raja Pūrnavarman dari Tārumanagara (pada abad ke-5 Masehi), dan Raja Gajayana dari Kanjuruhan, Jawa Timur (pada abad ke-7 Masehi). Raja yang disebutkan terakhir bahkan menganut Sivaisme (Hindu-Saiva), namun ia mengundang pendeta-pendeta Veda untuk melakukan yajña Veda. Ritual-ritual Veda mungkin dilakukan pula di Kota Kapur, Bangka. Tinggalan berupa altar-altar Veda, fragmen arca Visnu, dan temuan-temuan lain ditemukan di situs tersebut

    Perdagangan Cengkih Masa Kolonial dan Jejak Pengaruhnya di Kepulauan Lease

    Get PDF
    Abstrak. Jaringan perdagangan masa lampau menempatkan rempah-rempah sebagai komoditi utama. Dalam konteks ini, wilayah Maluku dikenal sebagai surga rempah-rempah, karena dua komoditi utama yang dihasilkan yaitu cengkih (Sysgium aromaticum; Eugenia aromaticum) dan pala (Myristica fragrans). Para pedagang Belanda melalui kongsi dagangnya yang dibentuk pada tahun 1602 yaitu Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) berhasil merebut hegemoni perdagangan rempah-rempah di Maluku. Topik tulisan ini adalah jejak jaringan perdagangan masa Kolonial terkait dengan kebijakan monopoli cengkih yang diterapkan oleh VOC sekitar pertengahan abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 di Maluku. Periode ini ditandai dengan pemusatan produksi cengkih di tiga gugus pulau yaitu Nusalaut, Saparua, dan Haruku atau sering disebut Kepulauan Lease. Aspek yang dikaji adalah jejak pengaruh perdagangan cengkih masa Kolonial di Kepulauan Lease. Abstract. Clove Trade during Dutch Colonization and its Influence in Lease Islands. Trade networks of the past have put the spices as primary commodities. In this context, the Moluccas region known as “heaven of spices” because the two main commodities produced are cloves (Sysgiumaromaticum; Eugenia aromaticum) and nutmeg (Myristicafragrans). Dutch traders through its trading partnership formed in 1602 that is Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) managed to seize hegemony spice trade in the Moluccas. Topic of this paper is The trace of Colonial era trade networks associated with the clove monopoly policies applied by the VOCs around the mid-17th century to the mid-19th century in the Moluccas. This period is characterized by the concentration of clove production in the three island groups namely Nusalaut, Saparua, and Haruku or often called the Lease Islands. The aspect of studies is the trace of cloves trading influence in colonial era in the Lease island

    Persebaran dan Bentuk-Bentuk Megalitik Indonesia: Sebuah Pendekatan Kawasan

    Get PDF
    Abstrak. Studi tentang arkeologi kawasan dilandasi oleh pemikiran bahwa ruang merupakan  bagian yang tidak terpisahkan dari hidup manusia. Demikian pula dengan kawasan Megalitik Indonesia, merupakan topik yang selalu menarik untuk dikaji. Hadirnya budaya megalitik di lingkup makro dengan berbagai jenisnya memberikan informasi yang sangat berharga sebagai titik tolak kajian arkeologi kawasan serta mata rantai kesinambungan budaya megalitik di Nusantara.Abstract. The Distribution and Forms of Megalithic in Indonesia: A Spatial Approach. Study on spatial archaeology is based on a notion that space is an integral aspect in human life. That is also the case with the megalithic regions in Indonesia, which are always interesting to investigate. The presence of megalithic culture in macro scope, with its various forms, provides valuable information as the starting point in the study of spatial archaeology and part of continuity sequence of megalithic culture in the Archipelag

    Preface Amerta Volume 31, nomor 1, tahun 2013

    No full text

    Appendix Amerta Volume 31, nomor 1, tahun 2013.

    No full text

    Preface Kalpataru Volume 22, nomor 1, tahun 2013

    No full text

    Wilayah Maluku Dalam Konteks Perdagangan Internasional

    Get PDF
    Abstrak. Kepulauan Maluku senantiasa melekat dengan peran sebagai kawasan sumber komoditi eksotik seperti cengkeh dan pala. Nilai tinggi rempah sebagai komoditi telah mendorong Maluku ke dalam kontak dan interaksi dengan dunia luar semenjak berabad silam dan membentuk suatu kawasan niaga yang dinamis pada masa itu. Kondisi ini mencapai puncaknya menyusul kedatangan orang-orang Eropa yang kemudian menetapkan hegemoni mereka atas aktivitas perdagangan rempah di wilayah ini sebagaimana tergambar dalam dominasi Belanda secara historis. Laut Banda dan Laut Arafura menjadi dua kawasan sentral dalam aktivitas niaga masa lalu di Kepulauan Maluku. Peran yang sama masih ditemukan hingga saat ini. Makalah ini mencoba meninjau peran wilayah Maluku dalam konteks perdagangan internasional di masa lalu dengan berpijak pada sumber-sumber historis yang menjelaskan tentang peran dua kawasan sentral Laut Banda dan Laut Arafura. Refleksi atas kondisi terkini dua wilayah niaga penting di Maluku ini, menunjukan peran Laut Banda dan Laut Arafura sebagai kawasan sumber, masih lestari hingga saat ini. Abstract. The Mollucas in Terms of International Commerce. The role as the regional source area for the exotic commodities such us nutmeg and clove has always been attached to the Moluccas Archipelago. The high values of spices as commodities have pushed Moluccas into the contact and interaction with the outside world since centuries ago. At the same time it has formed Moluccas as a vibrant commercial area. This condition reached its peak following the arrival of the Europeans who during the later period has established their hegemony over the spice trade activity in the region. The domination of the Netherlands for centuries in the spice trade has been historically known. The Banda and the Arufura Sea are the two central region in the commercial activity during the past. The same role is still found today. This paper tries to review the role of the Moluccas in the context of international trade during the past based on the historical sources that describe the role of the two central region: The Banda and Arafura Sea. Reflection on the current condition in these two main commercial region in the Moluccas has shown that the role of as the source area of the important commodities is still preserved to this day

    Studi Kewilayahan dalam Penelitian Peradaban Śriwijaya

    Get PDF
    Abstrak. Kerajaan Śriwijaya memiliki peradaban yang tersebar di seluruh wilayah yang berada di bawah kekuasaannya, tidak hanya di Sumatra bagian selatan, tetapi di seluruh wilayah Nusantara bahkan di wilayah Asia Tenggara. Hasil studi arkeologi mengenai peradaban Śriwijaya masih bersifat spatial, belum dapat menggambarkan posisi dan fungsi antara satu situs Śriwijaya dengan situs Śriwijaya lain, baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Studi atau penelitian Śriwijaya diperlukan secara integritas dalam suatu kawasan untuk mendapatkan hasil secara holistik, tidak terpisah-pisah oleh batasan wilayah, baik secara administratif maupun kewilayahan geografis. Dalam makalah ini akan dicoba untuk membahas mengenai penelitian berorientasi kawasan yang tidak dipisah-pisah baik secara geografis, administratif, maupun wilayah kerja.Abstract. Territorial Studies in Śrivijaya Civilization Research. The Great of Śrivijaya Kingdom must had a great civilization as well as its greatness. The civilization spread to the entire region under his control, not only in southern Sumatra, but also in all parts of the archipelago and even in Southeast Asia. Yet the archaeological study of the Śrivijaya civilization is still spatial, not able to describe the common thread between the position and function between one of Śrivijaya site to others, either nationally and regionally and internationally. Integrity in Śrivijaya study or research is necessary to get a holistic result, not separated by a region boundary either in administrative or territorial geographical. in this paper will try to discuss about the research orientated area that is not fragmented by separation either geographical, administrative, or work areas

    Nekara, Moko, dan Jati Diri Alor.

    Get PDF
    Moko merupakan benda unik yang memegang peran penting dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat Alor. Menariknya, walaupun benda ini tidak diproduksi di Alor, tetapi tetap dipertahankan secara turun-temurun, tidak sebatas benda pusaka tetapi juga sebagai lambang atau status sosial, mas kawin (belis), alat tukar, alat musik, alat-alat upacara dalam kematian, pendirian rumah, pesta panen, perkawinan, dll. Bahkan konon dahulu, moko memiliki fungsi yang jauh lebih kompleks. Selain sebagai pengganti nyawa manusia yang dibunuh atau karena kecelakaan, moko berfungsi sebagai benda religius-magis yang dapat memberi kemakmuran, keberhasilan bagi keluarga, merusak panen bagi yang melanggar ketentuan adat, termasuk sebagai alat untuk menyelesaikan masalah sosial secara adat. Singkatnya moko telah menempati peran yang sangat penting dalam berbagai kisi kehidupan masyarakat Alor sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Benda yang merupakan substitusi nekara ini menjadi jati diri Masyarakat Alor. Oleh sebab itu penggalian, pelestarian, dan aktualisasi nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsiknya menjadi sangat penting bagi penguatan jati diri lokal dalam pengembangan jati diri kebangsaan yang berlandaskan kebhinnekaan. Abstract. Kettledrums, Moko, and Self Identity of Alor. Moko is a unique type of objects that plays an important role in the socio-cultural life of Alor people. Interestingly, although mokos were not produced in Alor, they are being kept from generation to generation, not only as heirloom but also as a symbol of social status, dowry, currency, musical instrument, or instrument in rituals (in the events of death, house-building, harvest, marriage, etc.). In fact, moko used to have far more complex function in the past. Aside from being a substitute of the soul of people who was killed or died in accident, mokos were also functioned as religious-magic objects that can provide prosperity, success in families, destroy harvest if a traditional custom was violated, as well as a tool to traditionally-solved social problems. In short, mokos have played an important role in various aspects of life among the Alor people since hundreds or even thousands of years ago. The object, which was a substitute for kettledrum, is the identity of the Alor people. Therefore research, preservation, and actualization of its intrinsic and extrinsic values are very important to strengthen local identity in the attempt to develop national identity based on diversity

    Appendix Kalpataru Volume 21, nomor 2, tahun 2012

    No full text

    202

    full texts

    440

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇