Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
Bina Kawasan di Negeri Bawah Angin: Dalam Perniagaan Kesultanan Banten Abad ke-15--1
Abstrak. Tulisan ini memberi perhatian pada sebuah kawasan yang disebut “tanah di bawah angin”. Seperti sudah dipahami sejarawan, kawasan yang dimaksud merupakan jalinan niaga antar penduduk Asia Tenggara yang berhasil menandai pertumbuhan ekonomi dan peradaban di kawasan ini pada abad ke-15--17. Luasnya cakupan dan kejelasan wilayah ini menimbulkan soal untuk mencapainya. Ranah studi arkeologi sejarah dari masa ini, yang diharapkan dapat memaknai zaman ini, belum cukup diarahkan untuk mengungkapkannya, meskipun sudah cukup banyak penelitian situs dilakukan. Penelitian sintesis yang bertolak dari negeri para sultan sebagai bagian dari kawasan ini merupakan cara yang dipandang dapat digunakan untuk mencapainya. Negeri Kesultanan Banten yang sudah cukup banyak diteliti dari segi sejarah dan arkeologi digunakan sebagai kasus untuk melihat bagaimana kawasan niaga di negeri ini dibangun oleh para sultan melalui strategi politik ekonomi mereka. Upaya bina kawasan Kesultanan ini antara lain dilakukan mulai dari penguasaan wilayah, pemindahan ibu kota dari pedalaman ke pesisir, pengembangan kota pelabuhan Banten Lama, penguatan dan perluasan wilayah lada, pembangunan kota baru dan revitalisasi pertanian di wilayah Tirtayasa. Abstract. The Regional Development of the Land below the Wind: Trade in the Sultanate of Banten during 15th--17th centuries CE. This paper gives attention to an area called “the land below the wind”. As is well understood by historians, the area is part of a trade network between Southeast Asian population that successfully marked economic growth and civilization in the region in 15-17 centuries CE. The broadness of coverage and intelligibility of this area raises questions on how to achieve it. Realm of historical archaeological study of this period, which is expected to make sense of this era, has not really aimed revealing it, despite the considerable amount of research carried out on site. Research synthesis, which departed from the state of sultans as part of the region, is considered a way that can be used to achieve it. Affairs of the Sultanate of Banten, which has been studied quite a lot in terms of history and archeology, are used as a case to see how the commercial region in this country was built by the sultans through their economic-political strategy. Regional development strategy of the Sultanate was done through territorial conquest, relocation of the capital city from the interior to the coast, the development of the port city of Banten Lama, reinforcement and expansion of the area of pepper, a new urban development, and revitalization of agriculture in Tirtayasa regio
Kerusakan Situs Arkeologi di Kalimantan Selatan: Dampak Negatif Akibat Kegiatan Masyarakat dan Pemerintah Daerah.
Abstract. The Damage of Archaeological Sites in South Kalimantan: The Negative Impact due to Community and Local Government Activities. As in other areas in Indonesia, the number of archaeological sites in South Kalimantan region are quite a lot. There are two types of sites in South Kalimantan region, closed site and open site. Both types have already been investigated intensively and others only were surveyed with the aim to determine its potential. Some open sites have already designated as protected areas (as cultural property) and some others have not. The occurrence phenomenon is that looting of sites occur either at protected sites or not protected sites. These activities are carried out not only by the general public at surrounding the site but also by the discretion of local government. This paper aims to review the damage to archaeological sites in South Kalimantan due to the negative impact of human activity, and tries to work on strategies which will reduce the impacts. The research method used is descriptive with inductive approach. Data have been collected from the literature, from the report stored in the library of the Archaeological Institute of Banjarmasin, and from observations of the author while doing archaeological research. Based on the analysis of each case, it can be seen that the economic needs of society and development by local governments encouraging some damages of the sites. The activities were done because there is still lack of understanding how important the archaeological sites, and the weak application of sanctions for The Heritage Act. Abstrak. Seperti halnya di daerah lain di Indonesia, jumlah situs-situs arkeologi di wilayah Kalimantan Selatan terbilang cukup banyak. Ada dua jenis situs di wilayah Kalimantan Selatan ini, yaitu situs tertutup dan situs terbuka. Kedua jenis situs tersebut sudah ada yang diteliti secara intensif ada juga yang belum, dan sebagian sudah ditetapkan menjadi Benda Cagar Budaya (BCB). Fenomena yang terjadi pada saat ini adalah masih terjadi aktivitas yang merusak wilayah situs baik yang sudah dilindungi maupun yang belum. Kegiatan tersebut dilakukan baik oleh masyarakat umum di lingkungan situs maupun atas kebijakan pemerintah daerah setempat. Makalah ini bertujuan untuk melihat kembali kerusakan situs-situs arkeologi di wilayah Kalimantan Selatan akibat dampak negatif dari aktivitas masyarakat, dan berusaha mendapatkan strategi untuk mengurangi kegiatan yang merugikan. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan induktif. Data dikumpulkan dari hasil studi pustaka, yaitu dari laporan yang tersimpan di perpustakaan Balai Arkeologi Banjarmasin, dan dari hasil pengamatan penulis saat melakukan penelitian arkeologi. Berdasarkan hasil analisis dari masing-masing kasus, dapat diketahui bahwa kebutuhan ekonomi masyarakat dan pembangunan oleh pemerintah daerah yang banyak mendorong terjadinya kerusakan situs. Aktivitas yang merusak dilakukan karena masih rendahnya pemahaman akan pentingnya sebuah situs purbakala dan masih lemahnya penerapan sangsi terhadap pelanggaran Undang-undang Cagar Budaya
Persebaran Karst di Beberapa Pulau-Pulau Terluar Indonesia dan Prospeknya pada Penelitian Arkeologi Indonesia
Abstrak. Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 menetapkan adanya 92 pulau terluar yang berbatasan dengan Malaysia, Vietnam, Filipina, Palau, Australia, Timor Leste, India, Singapura, dan Papua Nugini. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa 12 di antaranya sebagai “karang”, “batu karang”, “terumbu karang”, tanpa gua-gua. Hanya sedikit pulau yang luas dan memiliki gua-gua karst. dan dinamakan pulau “batu kapur”, “batu gamping”, “gamping”. Beberapa pulau lainnya dilaporkan terdiri dari “batuan andesit’ dan “batuan sedimen”. Cukup banyak yang tidak dideskripsi segi geologi-petrologinya. Data flora dan faunanya sangat sedikit. Hanya beberapa pulau terluar yang berpenghuni. Apakah di antara pulau-pulau itu, yang berbatu gamping dan sudah mengalami proses karstifikasi dengan adanya gua-gua, bernilai arkeologi? Hal ini membutuhkan kajian yang lebih mendalam, terutama karena menyangkut waktu (time), ruang (space), perubahan (change), dan kesinambungan (continuity).Abstract. The Distribution of Karst on a Number of Outer Islands in Indonesia and Its Prospect to Indonesian Archaeological Research. The Presidential Decree No. 78 of the year 2005, which stipulates that there are 92 outer islands that are bordered by Malaysia, Vietnam, the Philippines, Palau, Australia, Timor Leste, India, Singapore, and Papua New Guinea. Identification shows that 12 of them are coral/coral reef islands with no caves. Only a few are wide enough and have karst caves and are named limestone islands. Some other islands are reported to be consists of andesitic and sedimentary rocks. Quite many have not been described in terms of their geologypetrology. The flora and fauna data are scarce. Only a number of the outer islands are inhabited. Are there among the islands, which consist of limestone and had gone through karstification process, that have archaeological value? To answer it, more thorough investigations are needed, particularly because time, space, change, and continuity are involved
Arkeologi Pulau Terluar Di Maluku: Survei Arkeologi Pulau Masela
Abstrak. Masela adalah satu di antara sembilan puluh dua pulau terluar yang ada di Indonesia. Terletak di ujung selatan Kepulauan Maluku, pulau ini merupakan bagian dari bentang luas pulaupulau yang berbatasan dengan daratan besar Australia. Memiliki nilai strategis secara geografis dan geohistoris, kajian arkeologis atas pulau ini belum pernah dilakukan.Tulisan ini adalah rekam hasil penelitian arkeologis perdana di Pulau Masela yang dilakukan pada paruh kedua tahun 2012. Tulisan ini merupakan upaya lebih jauh untuk memahami wajah sejarah budaya Masela dengan mengamati segenap potensi arkeologis di wilayah ini yang telah direkam melalui sudut pandang arkeologi pulau terluar. Survei penjajakan diadopsi sebagai pendekatan untuk merekam secara luas ragam bukti materi masa lalu yang tersebar di pulau ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pulau Masela menunjukan tiga karakter khas dalam kaitan dengan potensi arkeologis di wilayah ini: konstruksi dan distribusi pemukiman kuna; jejak penguburan tradisional; dan situssitus terkait sejarah lokal. Pengembangan tema penelitian terkait ketiga potensi, kiranya dapat diinisiasi melalui pendalaman kajian atas situs-situs pemukiman kuna di wilayah ini.Abstract. The Archaeology of The Outer Islands: Archeological Survey in Masela Island. Masela is one of the ninety-two outermost islands in Indonesia. Situated in the southern-end of the Maluku Islands, Masela is a part of the islands in the bordering region with Australia. Having a strategic value geographically and geohistorically, archaeological research in this island has not been done yet. This paper is the record of the first archaeological study in Masela which have been conducted at the second half of 2012. This research is a further attempt to understand the cultural history in Masela by observing archaeological potential in this island. The Reconnaissance survey has been adopted as an approach to record the past material culture in the coverage survey areas. The result of this study shows that Masela have three distinctive character in relation to the archaeological potential of the region that consist of: construction and distribution of ancient settlements; traces of traditional burials; and living traditions among local communities. In developing the research theme related to this three potentials, might be initiated through the study of ancient settlements in this island
Arca-Arca Berlanggam Śailendra Di Luar Tanah Jawa*
Abstract. The Style of Śailendra Statues Beyond the Jawa Island. A dynasty by the name Śailendra was known as a ruler dynasty in Jawa for about a century long (8th—9th CE). Its influence in politic, art, and religion (Buddha) was quite remarkable. From archaeological data, evidences of the dynasty’s influence are found in Sumatra, Malay Peninsula, and southern Thailand. Inscription evidences indicate the dynasty developed cooperation with the ruling kingdoms in Sumatra, Malay Peninsula, and North India (Nālanda) in politics and religion matters. The implications of this cooperation are reflected on statues’ art style. This paper is about the style of statues found outside their origin: the statues from Sumatra and Malay Peninsula. Information from inscriptions and monument ornamentations are used as supporting data. Abstrak: Dalam satu periode yang berlangsung sekitar satu abad lamanya (abad ke-8-9 Masehi), satu dinasti yang dikenal dengan nama Śailendra berkuasa di Jawa. Pengaruh dalam bidang politik, seni, dan ajaran (Buddha) cukup luas. Berdasarkan data arkeologi yang sampai kepada kita, buktibukti pengaruh dinasti ini ditemukan sampai di Sumatra, Semenanjung Tanah Melayu, dan Thailand Selatan. Sumber-sumber prasasti mengindikasikan bahwa dinasti ini telah menjalin kerjasama dibidang politik dan agama dengan kerajaan di Sumatra, Semenanjung Tanah Melayu, dan India Utara (Nālanda). Implikasi dari kerjasama tersebut tercermin dalam langgam arca-arca yang ditemukan. Makalah ini menguraikan tentang langgam arca-arca yang ditemukan di luar tempat asalnya dengan sampel arca-arca dari Sumatra dan Semenanjung Tanah Melayu. Sebagai data bantu untuk interpretasi adalah prasasti-prasasti dan ornamen dalam sebuah bangunan
Karakteristik Arsitektur Masjid Kuno dan Perkembangan Islam di Maluku.
Abstract. Characteristics of Ancient Mosque Architecture and Development of Islam in the Moluccas. The mosque is a product design, which marks how Islam is developing in a region. This is because the mosque is the main evidence of the existence of Islam in society. The architecture of the mosque can also give us an idea, where the influence of Islam came. This research is qualitative, whose main data is The Moluccas mosque architecture. I Use it to see the development of Islam in the Moluccas, and to the characteristics of the ancient mosque in the region, It can show specific traits of ancient mosques in the Moluccas, as well as the possibility of symbolic meaning.Abstrak: Masjid adalah produk rancang bangun, yang menandai bagaimana Islam bekembang disuatu wilayah. Hal ini karena masjid adalah penanda atau bukti utama keberadaan Islam di lingkungan masyarakat. Dari bentuk arsitektur masjid juga dapat memberikan gambaran, darimana pengaruh Islam berasal. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan data utama berupa deskripsi arsitektur masjid untuk melihat perkembangan Islam di wilayah Maluku.Selain itu juga melihat karakteristik masjid kuno di Maluku, yang dapat memperlihatkan ciri spesifik masjid kuno di Maluku, sekaliguskemungkinan makna simbolik dari karakteristik masjid itu sendiri
Permukiman Kuna di Kawasan Way Sekampung, Lampung, Pada Masa Śriwijaya.
Abstract. Old Settlement in Way Sekampung Area, Lampung, during The Śrivijaya Period. Lampung had a Śrivijaya Empire. The inscriptions of Palas Pasemah, Bungkuk, and Batu Bedil are an inscriptions of the Śrivijaya Kingdoms. Inscriptions, especially inscriptions warning, definitely placed at the residential location. In addition to the location of the inscription, the settlement can be traced through the distribution of archaeological remains which have the same background with the inscription. Through spatial archaeological approaches settlement and community life along the Way Sekampung can be determined. Along the river there are two regions upstream and downstream areas. Upstream region end to be the Hindu community while downstream is a Buddhist society. Both groups are still running religious megalithic culture. Abstrak. Lampung pernah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Śriwijaya. Hal ini ditandai oleh temuan Prasasti Palas Pasemah, Bungkuk, dan Batu Bedil yang merupakan prasasti dari masa Śriwijaya. Prasasti, terutama prasasti peringatan, pasti ditempatkan di areal permukiman. Selain lokasi prasasti, kawasan permukiman dapat dilacak melalui tinggalan arkeologis. Melalui pendekatan arkeologi keruangan dapat diperoleh gambaran tentang pola permukiman di sepanjang aliran Way Sekampung. Pada dasarnya kawasan di sepanjang sungai dapat dibedakan menjadi kawasan hulu dan hilir. Kawasan hulu cenderung merupakan kawasan masyarakat penganut Hindu, sedangkan di hilir merupakan masyarakat penganut Buddha. Pada kedua permukiman kelompok masyarakat tersebut juga terdapat jejak religi budaya megalitik
Situs Kapal Karam Gelasa di Selat Gaspar, Pulau Bangka, Indonesia.
Abstract. Gelasa Shipwreck Site at Gasper, Bangka Island, Indonesia. The territorial waters of the archipelago is a cultural, economic and political since hundreds of years ago. Archipelago waters serve as an interaction of various ethnic, traders and spread the influence of each other. Interaction-pass remains underwater archaeological remains scattered in various waters of the Archipelago. This discussion will inform the research to look underwater archaeological remains of the shipwreck in the waters of the Straits of Gaspar. This study produced evidence of archaeological remains of a ship using wood and copper, ceramics, bottles, bones, cannon, ship ballast, pegs and some artifacts that cannot be identified.Abstrak. Wilayah perairan Nusantara merupakan budaya, ekonomi dan politik sejak beratus tahun yang lalu. Perairan Nusantara berfungsi menjadi penghubung interaksi berbagai etnis, pedagang dan menyebarkan pengaruh satu sama lain. Interaksi itu mewariskan tinggalan-tinggalan arkeologi bawah air yang tersebar di perairan Nusantara. Pembahasan ini akan menginformasikan hasil penelitian untuk melihat tinggalan arkeologi bawah air, yaitu kapal karam di perairan Selat Gaspar. Penelitian ini menghasilkan bukti-bukti tinggalan arkeologi bawah air berupa kapal karam yang menggunakan bahan kayu dan tembaga, keramik, botol-botol, tulang, meriam, batu pemberat kapal (ballast) pasak, dan beberapa artefak yang belum dapat diidentifikasi