Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
REKONSTRUKSI KEHIDUPAN INDIVIDU DARI TERJAN: SEBUAH HIPOTESIS
Abstract. Reconstruction of An Individual’s Life from Terjan, Central Java: A Hypotheses. This article discusses an individual from Terjan megalithic site in Central Java, Indonesia. The purpose of this research is to reconstruct the life of the individual in the past based on their bones. The skeleton is in a quite complete condition with eighty percent preservation level and curated in The Laboratory of Bioanthropology and Paleoanthropology, Gadjah Mada University. The methods that will be used for this research is macroscopical analysis without using any destructive methods. The results from this research show a male individual with age at death between 40 - 45 years old. This individual has osteophytes in some vertebrae. His right radius was fractured midshaft. Possibly caused by withholding his body when he fell. His dental condition showed heavy loss of teeth either maxilla and mandible. He had heavy attrition on the only 6 teeth which present, linear hypoplasia on right canine, and a sign of dental modification (pangur) on the right canine. Based on his burial goods and dental condition, there are possibilities that this individual had low-class status.
Abstrak. Artikel ini membahas tentang seorang individu dari Situs Megalitik Terjan, Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk merekonstruksi kehidupan individu tersebut pada masa lampau berdasarkan tinggalan tulang-belulangnya. Pada saat ini rangka tersebut berada dalam keadaan cukup lengkap dengan tingkat preservasi mencapai delapan puluh persen dan disimpan di Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi, Universitas Gadjah Mada. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis makroskopis tanpa menggunakan proses destruktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu ini adalah seorang laki-laki berumur sekitar 40-45 tahun ketika mati. Individu tersebut memiliki osteopit pada beberapa ruas tulang belakangnya. Radius kanannya patah pada bagian tengah yang kemungkinan terjadi ketika menahan beban tubuhnya saat jatuh. Kondisi gigi-geliginya menunjukkan bahwa dia telah kehilangan banyak gigi, baik di maksila maupun mandibula. Terdapat atrisi tingkat lanjut pada keenam giginya yang tersisa dan juga linear hypoplasia dan modifikasi gigi (pangur) pada gigi kaninus kanannya. Berdasarkan bekal kubur yang sederhana dan kondisi gigi-geliginya, ada kemungkinan bahwa individu ini berada pada tingkat sosial yang rendah
Pertimbangan Pemilihan Lokasi Kompleks Candi Dieng
Abstract, Dieng Plateau is a highland area with an elevation between 2.000-2.100 meters above sea levels and has been used by people since the Hindu Buddhist period to carry out religious rituals. Its location has extreme weather conditions, complicated accessibility, and the threat of eruption from its volcanic mountains. Nevertheless, the conditions do not deter people to build temple compounds in Dieng Plateau. This research conduct to determine the factors underlying the Dieng Plateau as an area to build temple compounds. This research uses locational analysis which emphasizes two aspects are physical landscape and religious conceptual data. Both data are analyzed and synthesized to get factors regarding sacred and profane spaces that have considered in site selection. The results showed that although the Dieng Plateau provides a variety of natural resources that can be used to people’s needs. The physical landscape of the Dieng plateau is an embodiment of the concept of tirtha or the journey from \profane to sacred space. A journey that has the meaning of self-purification to achieve moksha. Elevation of location is a symbol of the axis mundi or intersection between the human world and the world of god. Religious factors seem to be quite dominant in the consideration of choosing the location of the Dieng Temple Complex. Abstrak, Dataran tinggi Dieng merupakan kawasan dataran tinggi dengan elevasi antara 2.000-2100 m.dpl. dan telah digunakan oleh masyarakat sejak masa Hindu Buddha untuk melakukan ritual keagamaan. Kawasan ini memiliki kondisi cuaca ekstrim, aksesbilitas rumit, dan ancaman bencana erupsi dari pegunungan api Dieng. Meskipun demikian, kondisi alam tersebut tidak menghalangi masyarakat untuk mendirikan kompleks bangunan suci di dataran tinggi Dieng. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor–faktor yang melatarbelakangi dipilihnya dataran tinggi Dieng sebagai tempat untuk melakukan ritual keagamaan. pendekatan yang dipakai adalah analisis lokasional yang menekankan pada dua variabel, yaitu lanskap fisik dan konsep keagamaan. Kedua data dari variabel kemudian dianalisis dan disintesiskan untuk mendapat faktor yang dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dataran tinggi Dieng merupakan perwujudan dari konsep lokasi, ruang, dan tempat sakral dalam agama Hindu. Lanskap fisik dataran tinggi Dieng merupakan perwujudan dari konsep tirtha atau perjalanan dari dunia profan menuju dunia sakral. Perjalanan yang memiliki makna penyucian diri untuk mencapai moksha. Lokasinya yang tinggi merupakan lambang dari axis mundi atau persinggungan antara dunia manusia dan dunia kedewataan. Faktor keagamaan nampaknya menjadi faktor yang cukup dominan dalam pertimbangan pemilihan lokasi Kompleks Candi Dieng
Jejak-Jejak Persia di Barus
Abstract. Traces of Persian Culture at Barrus. From the middle of the first millenium C.E., or even before, Barus has been known as a trading mart for camphor and gold.Archaeological researches conducted in Barus from 1995 until 2005, as part of the cooperation program between The National Research and Development Centre of Archaeology, Indonesia and École française d'Extrême-Orient (EFEO), highlight the ancient relation between Persia and the Indonesia archipelago.A number of artefacts coming for Persia, made of stone and glass, as well as pottery, were collected during the excavations of the Lobu Tua site (mid-9th c.-end of the 11th c). Although analyses of the finds collected during the excavations at the Bukit Hasang site ( 12th c- beg. of the 16th c.) arenot completed yet, it is clear that at that time Barus experienced a great decline in the use of objects made of permanent material coming from the Middle East. But two inscribed tombstones, dating to the end of the 14th c. and to beginning of the 15th c, using Persian language or grammar prove that relation with Persia were not completely severed.Abstrak. Barus terkenal dari Asia Barat sampai Cina sebagai tempat perdagangan kuno untuk kamper dan emas sejak paling tidak pertengahan milenium pertama Masehi. Penelitian arkeologi yang telah dijalankan dari tahun 1995 hingga tahun 2005 di Barus, dalam rangka kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional dengan École française d'Extrême-Orient (EFEO), menunjukkan hubungan yang berlangsung lama antara Persia dan Nusantara.Ekskavasi di situs Lobu Tua khususnya menghasilkan sejumlah artefak asal Persia dari batu dan kaca, serta sejumlah pecahan tembikar yang dipakai di Barus antara pertengahan abad ke-9 M dan akhir abad ke-I 1. Walaupun analisis mengenai hasil penggalian di situs Bukit Hasang (abad ke-12 hingga awal abad ke-16) belum selesai, sudah jelas bahwa pemakaian benda-benda permanen asal wilayah Timur Tengah pada umumnya menurun drastis di situs tersebut dibandingkan dengan Lobu Tua. Tetapi dua batu nisan dari akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, yang bertuliskan bahasa Persia atau menggunakan tata bahasa Persia, merupakan bukti bahwa hubungan dengan Persia tidak putus sama sekali