Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
Sriwijaya for Our Nation*
Śrīwijaya Bagi Bangsa Kita. Kerajaan Śrīwijaya yang berpusat di Sumatera bagian selatan dan berkembang pada abad ke-7-13 M. merupakan salah satu puncak budaya Nusantara. Menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan Selat Sunda; menjalin hubungan dagang dengan Cina, India, Arab, Persia, dan Madagaskar; membangun kawasan-kawasan strategis sebagai pangkalan armada untuk kepentingan dagang dan menjaga wilayah kedaulatan; membangun pusat pendidikan agama Budha dan bahasa Sanskerta; serta membina toleransi beragama, merupakan capaian-capaian sekaligus nilai-nilai yang menjadikannya negara maritim yang besar dan sangat berpengaruh di kawasan regional Asia Tenggara pada zamannya. Śrīwijaya bukan sekedar pengetahuan masa lampau, tetapi hendaknya bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Aktualisasi semangat, kebesaran, serta nilai-nilai sejarah dan budaya yang dimilikinya hendaknya menjiwai, menginspirasi, dan memotivasi kita dalam membangun bangsa kepulauan yang besar. Caranya mewariskan pengetahuan tentang Śrīwijaya beserta nilai-nilai yang dimilikinya melalui pendidikan formal dan informal, berbagai kegiatan pemasyarakatan, kegiatan olah raga, seni, dan budaya. Cara lain yang sangat strategis adalah membangun “Rumah Peradaban Śrīwijaya”, sebuah kompleks yang mewadahi pusat penelitian dan informasi, museum sebagai sarana edukasi dan pemasyarakatan, serta ruang publik. Abstract. Śrīvijaya Kingdom that centered in South Sumatera is one of the highest peak of culture in the Indonesian Archipelago. The kingdom evolved from 7th to 13th Century AD. Several achievements that made Śrīvijaya Kingdom become a great maritime country and very influential in South East region are as follows, commanded the trade route in Malaka Strait and Sunda Strait; had a trade relations with China, India, Arab, Persia, and Madagascar; built a strategic area as a maritime base for commercial interest and sovereignty protection; built a Buddhist and Sanskrit center; and also built tolerance to religions in society. Śrīvijaya is not just a knowledge from the past, it should bring benefits to Indonesia as a nation. The spirit of actualization, the greatness, and the culture and historical values should inspire and motivate Indonesian people to build a great archipelagic nation. The knowledge of Śrīvijaya could be inherited through formal and informal education, and social activities such as sports activities, arts activities, and cultural activities. Another strategic way is to build “Rumah Peradaban Śrīwijaya” (House of Śrīvijaya Civilization). Rumah Peradaban Śrīvijaya is a building complex that embodies a research and information center, museum as an educational and social facility, and also public spac
Beberapa Aspek Biokultural Rangka Manusia dari Situs Kubur Kuna Leran, Rembang, Jawa Tengah
Abstract. Some Biocultural Aspects on Human Skeleton from Ancient Burial Site of Leran, Rembang, Central Java. Leran ancient burial site was informed by local people to the Center for Archaeological Research of Yogyakarta in 2012. Until 2013, we have found at least 17 individuals of human remains which were identified from Leran site. This paper tries to uncover biocultural aspects on human skeletal of Leran site through material data of remaining anatomy. The biological aspectsinclude sexes, age, stature, and race. The cultural aspects include premortem cultural practices and burial treatment. Hopefully this article could enrich our understanding of the biocultural aspects on the burial sites in Java in particular and Indonesia in general.Abstrak. Situs kubur kuna Leran dilaporkan oleh masyarakat kepada Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 2012. Hingga penelitian tahun 2013, setidaknya telah ditemukan sebanyak 17 individu yang berhasil diidentifikasi dari Situs Leran. Tulisan ini berusaha mengungkap aspek biokultural yang dimiliki oleh rangka manusia Situs Leran melalui data-data materi anatomi tersisa. Aspek biologis yang diungkap antara lain adalah jenis kelamin, usia, tinggi badan, dan ras. Aspek kultural yangdibahas meliputi kebiasaan si individu pada saat masih hidup, dan perlakuan penguburan. Semoga tulisan ini dapat memperkaya pandangan kita mengenai aspek biokultural pada situs-situs kubur di Jawa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya
Bencana Masa Lalu di Kepulauan Maluku: Pengetahuan dan Pengembangan Bagi Studi Arkeologi.
Abstract. Natural Disaster in The Past in The Islands of Moluccas: The Knowledge and Development For Archaeological Studies. Natural Disaster is a phenomenon that is a part of Indonesia’s regional characteristics. Earthquakes, volcanic activities, and floods are periodical experiences for the people living on these islands. The geographical characteristics of Indonesia that is located in the collision area of active plates, and is part of global volcanic chains are the natural factors that make this region vulnerable to natural disasters. Hence, during the last decade alone a number of major natural disasters have occurred. Cultural historical studies of the region also recorded natural disaster phenomena in the past. Most of the events might have minor impacts, but several natural disasters of the past have resulted in loss of civilizations. As part of the vast groups of islands at the corner of the Southeast Asia Archipelago, the Moluccas faces similar situation. This region is vulnerable to natural disasters. Geographically constructed as an archipelagic region, the Moluccas had witnessed a number of disaster events in the past. This article tries to discuss the natural disaster phenomena in the Moluccas by framing the issue in the archaeological and cultural historical perspectives. Bibliographical study has been adopted as an approach in this research. This study found that natural disasters have become an inherent element in the cultural historical development of the region. Furthermore, several past events have become the key factors in the cultural historical process of the islands. It is expected that this preliminary research will positively contribute to the development of natural disaster mitigationmodel in the Moluccas. Abstrak. Bencana alam adalah fenomena yang senantiasa melekat dengan Kepulauan Indonesia sebagai suatu kawasan. Gempa bumi, aktivitas vulkanik hingga banjir telah menjadi pengalaman periodik dalam kehidupan masyarakat di wilayah ini. Karakteristik geografis Indonesia yang berada pada pertemuan lempeng-lempeng aktif serta bagian dari mata rantai vulkanis global adalah faktor natural yang membuat kepulauan ini rentan bencana. Tak heran selama satu dekade terakhir saja beberapa bencana besar telah terjadi. Studi sejarah budaya juga mencatat tentang fenomena bencanaalam pada masa lalu di Nusantara. Ada yang memiliki dampak minim, namun ada juga yang berakibat hilangnya peradaban. Sebagai bagian dari himpunan luas pulau-pulau di sudut tenggara Asia, Kepulauan Maluku dihadapkan pada situasi serupa.Wilayah ini juga rentan terhadap bencana alam.Dengan karakteristik wilayah yang juga arsipelagik, Kepulauan Maluku menjadi saksi atas aktivitas alam yang terjadi di masa lalu. Tulisan ini mencoba mengamati fenomena bencana alam pada masa lalu di wilayah Kepulauan Maluku dari sudut pandang arkeologi dan kajian sejarah budaya. Studi pustaka dipilih sebagai pendekatan dalam kajian ini. Hasil penelitian menemukan bahwa bencana alam telah menjadi fenomena yang melekat dengan perkembangan sejarah budaya di Maluku. Beberapa di antara bencana masa lalu tersebut bahkan menjadi faktor kunci dalam proses sejarah budaya di wilayah ini. Diharapkan kajian pada tahap mula ini dapat menjadi sumbangan pemikiran arkeologi dan kajian sejarah budaya dalam pengembangan model mitigasi bencana alam di Maluku
Makara Pada Masa Śriwijaya
Śrīwijaya merupakan salah satu kerajaan besar di Indonesia pada abad ke-7-12 M. Tinggalan bangunan suci dari masa Śrīwijaya tersebar di beberapa kawasan, yaitu Muara Jambi di Jambi, Muara Takus di Riau, Bumiayu di Sumatera Selatan, hingga beberapa kelompok bangunan suci Padang Lawas di Sumatera Utara. Makara merupakan salah satu unsur bangunan candi yang biasanya berpasangan dengan kala. Tujuan penulisan ini adalah ingin mengetahui ciri-ciri makara dari masa Śrīwijaya dengan cara membandingkannya dengan makara-makara dari candi masa Matarām Kuno. Dari hasil penelitian selama ini diketahui bahwa makara Śrīwijaya mempunyai ciri tersendiri, meskipun tidak menafikan adanya beberapa kesamaan dengan makara dari masa Matarām Kuno tersebut. Abstract. Makaras During the Śrīvijaya Period. Śrīvijaya was one of the big kingdoms in Indonesia in 7th - 12th Centuries CE. Remains of temples from the Śrīvijaya period are distributed in several areas, from Muara Jambi in Jambi, Muara Takus in Riau, Bumiayu in South Sumatera, up to the several temple complexes of Padang Lawas in North Sumatera. Makara is one element of the temple which is usually paired with kala. This paper will discuss Makaras from Śrīvijaya period that have specific characteristics compared to Makaras at the ancient Matarām, although there are also some similarities to those in Java
Awal Pengaruh Hindu Buddha Di Nusantara.
Berbicara tentang awal pengaruh Hindu Buddha di Nusantara sejauh ini selalu dimulai pada sekitar abad ke-5 M. yang ditandai oleh kehadiran kerajaan Kutai dan Tarumanagara di Nusantara dan masih sedikit perhatian terhadap periode sebelum itu. Padahal periode awal sampai dengan abad ke-5 M. adalah periode krusial bagi munculnya kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Nusantara. Penelitian terhadap periode awal sejarah dimaksudkan untuk mengungkapkan dinamika sosial ekonomi yang terjadi di masyarakat Nusantara sehingga mampu menerima dan menyerap unsur-unsur budaya asing (India) yang pada puncaknya memunculkan sejumlah kerajaan bersifat Hindu-Buddha di Nusantara. Metode analisis yang dipakai adalah metode analisis tipologis dan kontekstual serta beberapa analisis C-14 atas temuan diharapkan dapat menjelaskan kondisi masyarakat Nusantara pada masa lalu. Hasil penelitian ini dapat mengidentifikasikan sejumlah tinggalan arkeologi seperti sisa tiang rumah, sisa perahu, keramik, tembikar, manik-manik, alat logam, dan sejumlah kubur yang diidentifikasi berasal dari periode awal sejarah. Berdasarkan tinggalan tersebut dapat direkonstruksi kondisi sosial-ekonomi masyarakat Nusantara dan peranannya di dunia internasional di Kawasan Asia Tenggara. Abstract. Early Hindu-Buddhist Influence in the Indonesian Nusantara. So far discussions about early Hindu-Buddhist influence in the Indonesian Archipelago (Nusantara) have always been started at around 5th Century AD, which is characterized by the presence of the kingdoms of Kutai and Tarumanagara in the archipelago, while the earlier period is barely noticed although the period between early and 5th century AD is a crucial period for the emergence of Hindu- Buddhist kingdoms in the archipelago. Research on the early period in history is intended to reveal the socio-economic dynamics among the communities in the Indonesian Archipelago so that they could accept and absorb elements of foreign (Indian) culture that ultimately gave rise to a number of Hindu-Buddhist kingdoms in the archipelago. The study collected data through surveys and excavation, and the methods of analyses used are typological and contextual analyses, as well as C-14 analyses on some finds that are expected reveal the conditions of the communities in the Indonesian Archipelago in the past. The results of this study are identification of a number of archaeological remains like remains of house poles, boat, ceramics, pottery, beads, metal tools, and several graves dating from the early period. The remains can be used to reconstruct the socio-economic condition of the archipelago and its role in the international world in Southeast Asia region
The Structure of Stupas at Muara Jambi.
Struktur Stūpa di Muara Jambi. Di Muara Jambi dan sekitarnya terdapat tinggalan arkeologi berupa bangunan-bangunan sakral, di antaranya Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Gedong I dan II, Candi Kedaton, dan Candi Astano yang dibuat dari bata. Tinggalan tersebut bersifat agama Buddha, karena banyak terdapat sisa-sisa bata dengan inskripsi “bija-mantra”, gambar-gambar bunga padmā, dan beberapa patung. Struktur bangunan-bangunan khususnya candi induk pada umumnya berdenah segiempat, dengan perpanjangan ke arah timur atau utara, perkecualian terdapat pada Candi Gumpung. Di atas candi induk tersebut kemungkinan diletakkan sebuah stūpa besar seperti Candi Tinggi. Struktur bangunan stūpa semacam itu dikenal sebagai “terrace-stūpa” yang pertama kali didapati di daerah Gandara pada masa pra-Kushana. Candi Gumpung berdenah hampir bujursangkar, tanpa tangga dan tanpa ruang dalam (garbhagŗha). Boechari pada tahun 1985 membaca inskripsi sebagai peripih candi dan berpendapat bahwa peripih berupa susunan dewa-dewa dalam Vajradhātu-maṇḍala, berarti Candi Gumpung bersifat agama Buddha Vajrayāna. Dengan demikian menurut penulis struktur pertama Candi Gumpung hanya berupa lapik dengan 5 buah stūpa di atasnya yang menggambarkan susunan Vajradhātu- maṇḍala. Dari berbagai data yang dilaporkan dan perbandingan dengan sisa-sisa bangunan di Muara Takus dan Biaro Bahal, penulis perkirakan bahwa tinggalan arkeologi di Muara Jambi adalah sisa-sisa bangunan stūpa, khususnya dalam bentuk “terrace-stūpa”. Abstract. In the vicinity of Muara Jambi are found a lot of archaeological remains, among others a group of brick monuments believed to date from the 9th to 13th Century AD, among others are Candi Tinggi, Candi Gumpung, Candi Gedong I and II, Candi Kedaton, Candi Astano. These monuments are Buddhist, because the majority of the finds in this area are Buddhist statues, many bricks with “bija mantra” inscriptions and drawing such as padmā motives on them. The structures of the main temple, except Candi Gumpung, are generally square in plan with projecting portico on the east or north, and terrace platform that may well served for the enthronement of the big stūpa like the one at Candi Tinggi. The type of this stūpa structure is called the terrace- stūpa, known for the first time in the Gandhāran regions from pre-Kushana period. In Indonesia terrace-stūpas are found at Muara Takus (Candi Tua) and also candi Borobudur in Central Jawa. Candi Gumpung has different structure, a square ground plan measuring 18 x 18 metres without any trace of an inner-room (garbhagŗha). Boechari in 1985 read the inscriptions found in the deposit boxes found inside the temple floor. He recognized the plan of Vajradhātu-maṇḍala found in the base of candi Gumpung. It means that candi Gumpung is a Vajrayāna temple and it embodies the maṇḍala of the five Tathāgath as with Wairocana in the centre. So I assume that the first candi Gumpung in the 9-10th Century was a square platform with five stūpas on it to form the Vajradhātu-maṇḍala. By studying the archaeological data from Muara Jambi and comparing them with the monuments from Muara Takus and Biaro Bahal, I consider the remains of brick monuments at Muara Jambi belonged to stūpas, especially the terrace-stūpas