Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
    440 research outputs found

    Peran Museum Majapahit Sebagai Mediator Pelestarian Warisan Budaya dan Industri Pembuatan Bata.

    Get PDF
    Abstract. The Role of Majapahit Museum as a Mediator between Heritage Preservation and Brick-Making Industry. Trowulan, the archaeological site which is believed as the former capital of theMajapahit Kingdom, currently suffers damages caused by the local brick-making industry. Majapahit Museum is one of the institutions which can suppress, or even stop, the growth and development of thebrick-making industry. The aim of this research is to provide a recommendation for the development of Majapahit Museum in the future in order to work as a mediator that can bridge both interestsbetween heritage preservation (government, archaeologists, academicians, and non-governmental organizations) and local citizens, especially the brick-makers. The methods used on this research is qualitative method through observation and literature study, followed by analysis based on new museology approach and cultural resources management approach. Based on the result, it is expected that the Majapahit Museum can play a key-role in raising the awareness of local citizens of the importance of the Trowulan site. The preserved site will provide benefits and positive impacts to three aspects in society, which are ideological, academic, and economic aspects. Abstrak. Trowulan, situs arkeologi yang diduga merupakan ibukota Kerajaan Majapahit, mengalami kerusakan yang semakin hari semakin parah seiring dengan perkembangan industri pembuatan bata oleh masyarakat setempat. Museum Majapahit adalah salah satu pihak yang dapat tampildalam upaya menekan, atau bahkan menghentikan, laju pertumbuhan dan perkembangan industri pembuatan bata tersebut. Penelitian dilakukan untuk memberikan suatu rekomendasi terhadap pengembangan Museum Majapahit pada masa mendatang agar dapat berperan sebagai mediator yangmenjembatani kepentingan pelestari budaya (baik pemerintah, arkeolog, akademisi, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat) dengan masyarakat Trowulan, khususnya para pembuat bata. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif melalui observasi dan studi literatur, disertaianalisis berdasarkan pendekatan new museology dan pendekatan cultural resources management. Berdasarkan hasil penelitian, Museum Majapahit diharapkan berperan sebagai media yang mampu menanamkan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat setempat mengenai pentingnya kelestarian Situs Trowulan. Situs yang lestari akan memberikan manfaat dan dampak positif terhadap tiga aspek di dalam kehidupan masyarakat, yaitu aspek ideologis, akademis, dan ekonomis

    Pusaka Budaya Kawasan Pesisir: Tinjauan Arkeologis Atas Potensi Di Kepulauan Maluku.

    Get PDF
    Kawasan pesisir sejak lama telah menjadi salah satu tema utama dalam tinjauan sejarah budaya dunia. Karakter geografisnya yang khas, membuat wilayah ini menjadi titik mula bagi proses kontak dan interaksi antar budaya. Hadir sebagai kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menjadi salah satu negara dengan garis pantai terpanjang. Suatu keadaan yang mencerminkan potensi kolosal kawasan pesisir di negeri ini. Termasuk potensi secara kultural. Sebagai salah satu kepulauan terluas di Indonesia, Maluku juga kaya dengan pusaka budaya kawasan pesisir. Makalah ini merupakan langkah awal untuk menemukan dan mengenali potensi pusaka budaya kawasan pesisir yang ada di Kepulauan Maluku dari sudut pandang studi arkeologi serta membuka ruang diskusi bagi arah pengelolaannya. Survei penjajakan dan studi pustaka dipilih sebagai pendekatan dalam kajian. Hasil penelitian menemukan bahwa wilayah Maluku memiliki potensi besar pusaka budaya kawasan pesisir yang perlu dikelola dengan pendekatan pengembangan berkelanjutan. Abstract. The coastal area has long been the major domain in the review of the world cultural history. The distinctive geographical character has made this region a starting point for the process of contact and interaction between cultures. As the world’s largest archipelago, Indonesia is one of the countries with the longest coast lines; a situation that reflects the colossal potential of the coastal region, not only politically and economically, but culturally as well. As one of the largest archipelagoes in Indonesia, the Moluccas also has the same potency. This paper tries to identify potential cultural heritage of coastal areas in the Maluku Archipelago from the archeological perspective and creates the discussion sphere to develop the management approach. Reconnaissance survey and literature study have been chosen as the approach in this research. This study found that the Maluku region has a great potency of cultural heritage of coastal areas that need to be managed with a sustainable development approach

    Lingkungan Vegetasi Situs Pesisir Samudera Pasai: Perlindungan dan Pelestarian.

    Get PDF
    Abstract. The site of Samudera Pasai was the first Islamic kingdom in Indonesia and is located at the coastal area of Aceh Utara (North Aceh) Regency. Due to various natural disasters, the remains of this kingdom are only ruins and only very few physical evidences left. The building remains at this area were perished because the vegetation that protected this coastal area had been damaged by waves, wind, and erosion. Thus far research on environment has not given enough attention, particularly about vegetation in an environment as an effort to protect the Samudera Pasai site. Thus the purpose of writing this article is to know about the condition of the vegetation environment that is one of biotic elements that support the protection and preservation of Samudera Pasai site. This can be known by conducting a vegetation environment survey on the site. Survey results show that the types plants at this area are so diverse, among others mangrove, Casuarina equisetifolia, and a variety of coastal plants. Tree vegetation is also found at the interior part of the site, which is useful to protect the site from physical damage due to the sun and also keep the humidity of the buildings.Abstrak. Situs Samudera Pasai merupakan bekas kerajaan Islam pertama di Indonesia berada di kawasan pesisir pantai Kabupaten Aceh Utara. Akibat dari berbagai bencana yang menimpa situs ini, maka bekas-bekas kerajaan ini hanya tinggal puing dan sangat sedikit bukti fisik yang tersisa. Hilangnya bekas-bekas bangunan di wilayah ini disebabkan oleh punahnya lingkungan vegetasi yang melindungi kawasan pantai dari berbagai bencana seperti deburan ombak, angin, dan erosi pantai. Penelitian tentang lingkungan kurang mendapat perhatian, terutama lingkungan vegetasi sebagai salah satu upaya pendukung perlindungan Situs Samudera Pasai. Oleh karena itu tujuan penulisan naskah ini adalah untuk mengetahui lingkungan vegetasi yang merupakan salah satu unsur biotik pendukung Situs Samudera Pasai untuk melindungi dan melestarikan situs. Hal ini dapat diketahui dengan cara melakukan survei lingkungan vegetasi di situs ini. Hasil survei menunjukkan bahwa berbagai jenis vegetasi tumbuh di sepanjang pantai, antara lain vegetasi bakau (mangrove), vegetasi tanaman cemara (Casuarina equisetifolia), serta vegetasi tanaman pantai dari jenis tumbuhan yang beraneka ragam. Jenis vegetasi pohon ditemukan pula di bagian pedalaman situs, yang bermanfaat untuk melindungi situs dari kehancuran faktor fisik seperti sengatan matahari dan menjaga kelembaban bangunan situs

    Pola Makan Masyarakat Pendukung Budaya Megalitik Besoa, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

    Get PDF
    Abstract. The Dietary Pattern of Megalithic People of Besoa, Poso District, Central Sulawesi. A dietary pattern is consisting of three fundamental elements, that is material feeding, nutrition, andeffect of consuming these foods. The dietary pattern can be seen in the presence of tartar (dental calculus) because there is a food deposit, which can be used to analyze the food material and nutrientcontent. The problem of this article is related to the dietary pattern and illness as a result of the foods being consumed. The purpose of this study is to reconstruct of megalithic people in Besoa, which livedin Poso, Central Sulawesi, based on human teeth found in kalamba No. 28 at the site of Wineki, Besoa Valley. Analysis was carried out to identify starch and nutrients (carbohydrates and proteins) fromthe residue of human teeth, and paleopathology from the teeth. The results indicate that Besoa society in the past consume rice and tubers in different diatery pattern. This differences of dietary patternresulted some dental diseases, such as dental calculus, dental caries, and attrition. Abstrak. Pola makan terdiri dari tiga hal yang mendasar, yaitu bahan makanan, nutrisi, dan efek jikamengkonsumsi makanan tersebut. Pola makan tersebut dapat dilihat pada keberadaan karang gigi (kalkulus) karena terdapat deposit makanan yang dapat digunakan untuk meneliti bahan makanan dan kandungan gizinya. Permasalahan dalam tulisan ini berkaitan dengan pola makan dan penyakit yang ditimbulkan dari bahan makanan yang dikonsumsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk merekonstruksi pola makan manusia pendukung budaya megalitik Besoa yang tinggal di wilayah Poso, Sulawesi Tengah berdasarkan temuan gigi di dalam kalamba nomor 28 di Situs Wineki, Lembah Besoa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis butir pati dan zat gizi dari residu gigi manusia, serta analisis paleopatologi, dari gigi manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Besoa pada masa lalu mengkonsumsi padi dan umbi-umbian sebagai bahan makanan dengan pola makan yang berbeda-beda. Perbedaan pola makan tersebut mengakibatkan terjadinya beberapa penyakit gigi, seperti karang gigi, karies gigi, dan atrisi

    Progres Penelitian Austronesia Di Nusantara.

    Get PDF
    Abstract. Progress of Austronesian Studies in the Indonesian Archipelago. Austronesian-speaking people in Indonesia, which are part of the global Austronesian-speakers, which is the most denselypopulated, have a strategic role in figuring out the global Austronesians, especially since Indonesia is located in the middle of the dispersal area. As the direct predecessors of recent Indonesian indigenous population, their emergence since ca. 4000 BP has become a highly important field of study in our nation’s life. The increasingly intensive researches within the last decade have resulted in significant progress in the Austronesian studies and have given us a better picture on the origin, dispersal, and development of the Austronesian speakers and their cultures, both synchronically and diachronically. Local evolution resulted from process of adaptation to the environment, as well as external influences, have created a cultural dynamics from the Neolithic to the Palaeometalic and historic periods, until now. Eventually the local evolution and external influences have generated unique local cultures that form a mosaic of diversity of Indonesian people and culture like we see today. The wide scopes of Austronesian studies and limited researches have left some unanswered questions, both in regionalglobal and national contexts. That is a challenge, which encourages us to carry out more intensiveresearches in the near future. Abstrak. Penutur Austronesia di Indonesia menempati posisi yang sangat strategis dalam pemahaman Austronesia global mengingat keletakannya di bagian tengah kawasan sebaran dengan populasi yang terbesar di antara negara-negara penutur Austronesia. Sebagai leluhur langsung populasi Indonesia asli sekarang, kemunculannya ca. 4000 BP menjadikan bidang studi yang sangat penting bagi kehidupanbangsa. Penelitian yang semakin intensif dalam dasawarsa terakhir telah memberikan banyak kemajuan tentang asal usul, persebaran, dan perkembangan secara sinkronis dan diakronis. Evolusi lokal sebagai hasil proses adaptasi lingkungan dan pengaruh luar menciptakan dinamika budaya dari Neolitik ke Paleometalik dan berlanjut ke masa sejarah hingga sekarang. Faktor evolusi lokal dan pengaruh luar itu lambat laun menciptakan kekhasan budaya-budaya lokal, hingga membentuk mozaik kebinekaan bangsa dan budaya Indonesia seperti yang kita lihat sekarang. Luasnya cakupan studi Austronesia dan masih terbatasnya penelitian menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab, baik dalam kaitannya dengan konteks regional-global maupun konteks nasional. Kondisi ini merupakan tantangan yang mendorong perlunya intensifikasi penelitian di masa datang

    Sistem Informasi Arkeologi: Pangkalan Data Berbasis Daring Untuk Perekaman Data Artefak Tembikar Dan Keramik di Kawasan Percandian Muarajambi.

    Get PDF
    Abstract. Archaeological Information System: Network-based Data Resource for Recording Pottery and Ceramic Artifacts Data in Muarajambi Temples. Archaeological data recording activitystill faces many problems related to the accessibility and availability of an integrated data recording system. Database system is one of the many other solutions to solve the problem. Data management and database content-making have shown integration between two different knowledge that created an instrument for data recording based on network, which is a way to communicate where messages are delivered online. For users, this application can be a media for doing research. As for the filler, this database system becomes a data recording instrument which works effectively and efficiently. Forstudents, this database system can also help to increase the analysis ability. This activity focuses on making a network-based database system for pottery and ceramic artifacts from Muarajambi temples. Abstrak. Kegiatan perekaman data arkeologi sampai sekarang masih menjadi permasalahan tersendiri baik dari segi keterbukaan informasi maupun ketersediaan sarana perekaman data yang terintegrasi. Sistem pangkalan data merupakan salah satu pemecahan mengenai permasalahantersebut. Manajemen data dan pembuatan konten pangkalan data menunjukan integrasi dari dua ilmu yang berbeda sehingga dapat menghasilkan suatu instrumen perekaman data berbasis dalam jaringan (daring), yaitu suatu cara berkomunikasi yang penyampaian dan penerimaan pesan dilakukan dengan atau melalui jaringan internet. Untuk pengguna, aplikasi ini dapat berfungsi sebagai wadah untukmelakukan penjajakan dalam rangka melakukan penelitian. Untuk pengisi, pangkalan data ini merupakan salah satu instrumen perekaman data yang dapat menghemat waktu dan tenaga. Untuk mahasiswa, pangkalan data ini juga merupakan sarana pembelajaran untuk mempertajam kemampuananalisis. Kegiatan ini berfokus pada pembuatan sistem pangkalan data berbasis daring untuk temuantemuantembikar dan keramik yang ditemukan di Kawasan Percandian Muarajambi

    Model Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Trowulan Berbasis Masyarakat.

    Get PDF
    Abstract. Community Based Model of Trowulan Cultural Heritage Region Utilization. Managing cultural heritage is not solely the responsibility of the government. However, local people must beinvited to play an active role too if preservation is to be successful, because utilizationof the site and its resources is directly related to the interaction of people’s lives with cultural heritage and if utilization is not managed properly then social conflict will arise. Trowulan is recognized as a national heritage area through Decree No. 260/M/2013 from the Ministry of Education and Culture, but its preservation needs to be properly managed. This study applied the qualitative approach: observation on sites used by people either controlled by the state or owned by the community; in-depth interviews to persons who have a role in public life, and of central and local government officials; discussion groups with researchers, academics, observers, officials of the central government; and the study of legislation. This study captured the essence of people’s aspirations in the utilization of Trowulan to create a model for community-based Trowulan utilization. Our model has produced benefits to social welfare and national identity. All aspects are related with each other to provide feedback (management board, legal aspect, blueprint, funding) so that it becomes strong and sustainable management. Abstrak. Penanganan cagar budaya diharapkan tidak semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah, masyarakat juga harus diajak berperan aktif. Utamanya, yang terkait langsung dengan kehidupan masyarakat dengan cagar budaya yaitu pemanfaatannya. Apabila pemanfaatan itu tidakdikelola secara baik maka yang timbul adalah konflik sosial. Trowulan ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional melalui SK Mendikbud No. 260/M/2013 namun penanganan puluhan ribu cagar budaya masih perlu dibenahi. Studi ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif: observasi di situs-situs yang dimanfaatkan oleh masyarakat baik dikuasai oleh negara maupun dimiliki masyarakat; wawancara mendalam kepada tokoh-tokoh yang berperan di dalam kehidupan masyarakat, pejabat pemerintah; diskusi kelompok bersama para peneliti, akademisi, pemerhati, pejabat pemerintah; dan kajian legislasi. Hasil studi ini menangkap esensi dari aspirasi masyarakat dalam pemanfaatan Trowulanberbasis masyarakat. Model tersebut bermuara pada manfaat identitas nasional dan kesejahteraan sosial. Semua aspek saling terkait dan memberi umpan balik (badan pengelola, legalitas, cetak biru, dana) sehingga menjadi majemen yang kuat dan berkesinambungan

    Situs Kesuben: Suatu Bukti Peradaban Hindu-Buddha di Pantai Utara Jawa Tengah.

    Get PDF
    Sejarah kuno Indonesia mencatat bahwa masa sejarah tertua di Jawa Tengah adalah Kerajaan Matarām Kuno (abad ke-8-10). Pada waktu yang sama di pantai timur Sumatera terdapat Kerajaan Sriwijaya. Di lain pihak, berita Cina menginformasikan bahwa kerajaan di Jawa sudah ada pada abad ke-5, yaitu Ho-ling (She-po). Penelitian mutakhir di pesisir pantai utara Jawa Barat dan timur Sumatera memberikan bukti adanya hubungan antara Indonesia dengan bangsa asing berupa artefak-artefak dari luar negeri, meskipun tidak didukung oleh data prasasti. Hal tersebut memberikan petunjuk untuk mencari bukti awal hubungan dengan bangsa lain di daerah pesisir pantai. Penelitian di pesisir pantai utara Jawa Tengah ini dilakukan dengan survei, ekskavasi, dan wawancara mendalam, metode penulisan menggunakan metode deskriptif komparatif. Penelitian ini berhasil menambahkan data baru berupa temuan candi di Desa Kesuben, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.Temuan yang dihasilkan berupa struktur bangunan candi dari bata, antefiks-antefiks, dan arca batu. Hingga saat ini dari penelitian ini belum diketahui latar keagamaan Candi Kesuben karena belum ditemukan artefak yang mendukung. Abstract. The Indonesian Ancient History has recorded that the oldest historical period in Central Java was the period of the Ancient Matarām Kingdom (8th – 10th centuries CE). At the same period there was the kingdom of Srivijaya on the east coast of Sumatera. On the other hand, according to Chinese chronicles, there had been a kingdom in Java in 5th century CE, namely Ho-ling (She-po). Recent investigations along the north coast of West Java and the east coast of Sumatera have yielded evidences of relations between Indonesia and foreign countries in forms of imported artifacts, although this is not supported by inscriptions. This indicates that evidences of international relations have to be searched in coastal areas because it was where the relations began. The research on the north coast of Central Java was carried out in forms of survey, excavation, and thorough interviews, and the writing method is descriptive-comparative. This research has provided new evidence in form of a candi (temple) at Kesuben Village in Lebaksiu District, Tegal Regency, Central Java. The finds include structure of candi made of bricks, antefixes, and stone statues. Unfortunately we have not been able to identify the religious background of the Candi Kesuben (Kesuben Temple) because there has not been any artifact that can support the identification

    Analisis Teknologi Laboratoris Tembikar dari Situs-Situs Das Bengawan Solo, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur

    Get PDF
    Abstrak. Tembikar merupakan salah satu sisa benda budaya yang paling sering ditemukan dalam penelitian arkeologi, yang terbuat dari tanah liat yang dibakar. Analisis teknologi laboratoris tembikar dari situs-situs di DAS Bengawan Solo Bojonegoro, bertujuan untuk memperoleh hasil yang akurat tentang sifat fisik dan sifat kimia. Melalui kajian analisis teknologi laboratoris dapat digambarkan kualitas tembikar yang dibuat oleh para pengrajin pada masa lampau. Berdasarkan hasil analisis teknologi laboratoris tembikar dari situs-situs DAS Bengawan Solo, Bojonegoro mempunyai kualitas sedang hingga kualitas baik. Tembikar-tembikar tersebut termasuk dalam kategori peralatan sehari-hari yang berfungsi untuk menampung air, mengolah makanan dan untuk penyajian makanan serta minuman. Tingkat pembakarannya mencapai 600°-800° Celcius, dan warna tembikar didominasi warna gelap (dark colors) dibanding dengan warna terang (light colors). Adanya perbedaan prosentase dari setiap unsur kimia pada tembikar tersebut, tidak terlepas dari daya tahan mineral terhadap pelapukan.Abstract. Pottery, which is made of fired clay, is the most frequently found cultural remains during archaeological researches. Technological Laboratory Analysis on pottery from sites along the Bengawan Solo (Solo River) in Bojonegoro aims at obtaining accurate results about the nature of the physical and chemical properties. Through the technological laboratory analysis can be described the quality of pottery made by craftsmen in the past. Based on the results of the analysis, pottery from the sites along the Bengawan Solo, Bojonegoro Regency, have moderate up to good qualities. The pottery belongs to a category of daily equipment that serves to store water, cook food and to serve food and drink. The rate of heat during firing was up to 600°-800° Celsius, and the color of pottery is predominantly dark colors (black colors) with only a few light colors (bright colors). The difference in the percentage of each chemical element in the pottery is due to the durability of the minerals to weathering

    Karakter Teknologi Litik Homo Erectus Progresif Berdasarkan Himpunan Artefak dari Situs Matar, Bojonegoro

    Get PDF
    Abstrak. Teras 20 meter Bengawan Solo yang diklaim berumur Pleistosen Atas seringkali dibahas sejak penemuan 14 spesimen Homo erectus beserta sejumlah artefak di Ngandong pada tahun 1931-1933. Namun demikian, artefak batu yang dianggap sebagai peralatan Homo erectus progresif tersebut jarang sekali dibahas secara khusus, sehingga karakter teknologi mereka masih belum jelas statusnya. Situs Matar di tepi timur Bengawan Solo dengan litologi dan posisi yang mirip dengan Ngandong memberikan data baru terkait artefak litik dengan taksiran umur yang sama. Analisis terhadap himpunan artefak litik Situs Matar bertujuan untuk mengetahui karakter bentuk dan teknologi artefak litik Homo erectus progresif. Analisis khusus berupa tinjauan tipologi dan dimensi artefak serpih menunjukkan ciri khusus. Pengukuran serpih menunjukkan produk débitage yang cenderung rektangular dan sedikit memanjang. Secara umum, himpunan artefak litik dari Matar menunjukkan kehadiran alat serpih bersama dengan artefak masif seperti bola, spheroidal, polihedron, serta kapak perimbas-penetak. Kehadiran alat masif bercirikan Oldowanian tersebut menunjukkan fungsi alat yang sepertinya tidak tergantikan oleh artefak serpih di dalam budaya Homo erectus progresif. Abstract. The 20 meter-high Solo terrace claimed to be Upper-Pleistocene deposit has often been discussed since the discovery of 14 Homo erectus specimens with numerous artifacts in Ngandong on 1931-1933. Nevertheless, the artifacts that have been baptized as implements of progressive Homo erectus is rarely discussed, especially the character of their technology, which remains unclear. Matar, a new site situated on the eastern banks of Solo River with similar lithology and position to those of Ngandong, provides new data related to lithic artifacts. Analysis on lithic assemblage from Matar locality was aimed at characterizing morphology and technology of the implements of progressive Homo erectus. Specified analysis consisting of typology and measurements of flake artifacts successfully shows its specific characteristics. Measurements on flakes show débitage products that tend to be rectangular and slightly elongated. In general, the lithic assemblage from Matar shows the presence of flakes together with massive tools such as bola, spheroidal, polyhedrons, and chopper-chopping tools. The presence Oldowanian massive tools might indicate their exceptional utility that could not be replaced by flakes in progressive Homo erectus culture.

    202

    full texts

    440

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇