Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
Balung Buto dalam Persepsi Masyarakat Sangiran: Antara Mitos dan Fakta
Abstrak. Tulisan ini merupakan kajian tentang “balung buto”, sebuah mitos atau kepercayaan masyarakat yang menghuni wilayah penemuan fosil-fosil purba di Jawa. Penelitian ini difokuskan di Situs Sangiran sebagai Situs Warisan Dunia untuk memahami pola pikir dan persepsi masyarakat penghuni situs dalam memandang keberadaan fosil yang banyak ditemukan di sekitar lahan tegalan atau pekarangan mereka. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam pada masyarakat yang tinggal di Sangiran. Hasil penelitian menunjukkan walaupun saat ini sudah semakin ditinggalkan dan tidak lagi diturunkan pada generasi muda, namun mitos “balung buto” masih mempengaruhi pola pikir dan perilaku kalangan tertentu yang mempercayainya. Hal tersebut secara langsung ataupun tidak berdampak pada pencarian fosil dan pelestarian situs.Abstract. This article is a study on ‘balung buto’ (which means giant’s bone), a myth or belief shared by the communities that live in areas where prehistoric fossils are found in Java. The study is focused at the World Heritage Site of Sangiran to understand the way of thinking and perception of the inhabitants around the site in viewing the existence of fossils, which are found in abundance on their agricultural fields or house yards. The method used here is insightful interview with the people who live at Sangiran. The study reveals that although believed by less and less people and no longer inherited to the young generation, there are some people who still believe the myth. To them the myth of ‘balung buto’ still influences their pattern of thoughts and behaviour so that directly or indirectly it has impacts on fossil-collecting behaviour and site preservation.
Manik-Manik Kaca Salah Satu Indikator Kejayaan Dan Keruntuhan Perniagaan Pulau Kampai.
Salah satu jejak masa lalu di Pulau Kampai yang jumlah dan jenisnya berlimpah adalah manik-manik kaca. Permasalahan pada tulisan ini adalah keterkaitan antara keberlimpahan objek tersebut dengan refleksi kondisi tertentu pada masa lalu di Pulau Kampai. Keberlimpahan data kemudian dianalisis secara morfologi dan dilihat kuantitasnya, sehingga menghasilkan ragam jenis dan gambaran fluktuasi yang merupakan refleksi kejayaan dan keruntuhan perniagaan Pulau Kampai di masa lalu. Penjelasan tentang faktor penyebab fluktuasi dicapai melalui analogi sumber-sumber historis, baik lokal maupun mancanegara. Kajian ini bertujuan menggambarkan fluktuasi perniagaan di Pulau Kampai yang terefleksikan lewat fluktuasi kuantitas manik-manik kacanya, sekaligus menjelaskan faktor penyebab keruntuhan dan kejayaan perniagaan kuna di Pulau Kampai. Kejayaan perniagaan pulau ini berlangsung antara abad ke-11 hingga pertengahan abad ke-14, salah satunya didorong oleh permintaan terhadap produk alam Sumatera oleh pasar Tiongkok sejak masa Dinasti Sung. Keruntuhannya bermula sejak kekuasaan Dinasti Ming membatasi pengusaha swasta dalam perdagangan lintas samudera mulai abad ke-15, yang berakibat pada menurunnya permintaan terhadap produk alam Sumatera. Peran Kampai dalam perniagaan akhirnya mencapai titik terbawah pada abad ke-16 ketika bandar-bandar lain di Sumatera menjadi tempat dijualnya komoditi ekspor yang dihasilkan oleh Aru. Abstract. Kampai Island’s past traces include the abundant varied glass beads. Was such abundant glass beads reflects certain conditions on ancient Kampai Island? Such richness in number and variety have triggered a number of researches on their quantity and morphology which provide some information of categorization and trade fluctuation in the ancient Kampai Island. The factors contributing to the rise and fall of the island are explained through the analogy of local or international historical sources. Kampai’s heyday through AD 11 to the middle of AD 14 centuries was among others due to demand on Sumatera’s natural resources by the Chinese market since the Tang Dynasty’s period; on the other hand, the Ming Dynasty’s AD 15 century inter-ocean private trade quota limitation contributed to the decline of such resources demand. The declining demand finally brought Kampai’s commerce to collapse at AD 16 century when other Sumatera’s ports began to export Aru’s commodity
Prasasti Tlaŋ (904 m.): Desa Perdikan untuk Tempat Penyeberangan Masa Matarām Kuna
Abstrak. Prasasti Tlaŋ yang dikeluarkan oleh Śrī Mahārāja Rakai Watukura Dyah Balitung Śrī Dharmmodaya Mahāśambhu pada tanggal 6 parogelap bulan Posya tahun 825 Śaka (11 Januari 903M.) menyebutkan nama desa tempat penyeberangan di tepi Bengawan Solo, yaitu Desa Paparahuan. Untuk pembiayaannya, Desa Tlaŋ, Desa Mahe/Mahai, dan Desa Paparahuan dijadikan desa perdikan. Tulisan ini bertujuan untuk membaca ulang Prasasti Tlaŋ dan mengidentifikasi Prasasti Wonoboyo serta mengidentifikasi desa-desa yang disebutkan dalam prasasti. Adapun metode yang dipakai dalam makalah ini adalah metode deskriptif analitis dan metode komparatif. Dari hasil penelitian dapat diidentifikasi dua desa, yaitu Desa Teleng dan Desa Paparahuan. Sementara Desa Mahe/Mahai masih belum dapat diidentifikasi dimana lokasinya. Sebagai kesimpulan dapat disebutkan bahwa selain dapat mengidentifikasi dua desa yang disebutkan dalam Prasasti Tlaŋ I dan Tlaŋ II, juga dapat mengidentifikasi Prasasti Wonoboyo sebagai Prasasti Tlaŋ III.Abstract. Tlaŋ inscription, issued by Śrī Mahārāja Rakai Watukura Dyah Balitung Śrī Dharmmodaya Mahāśambhu on the sixth day of the dark half of the month of Posya in 825 Śaka (11th January 904 A.D.), mentions the name of village that served as a river crossing place on the banks of the Solo River, i.e. Paparahuan village. To finance it, the Tlaŋ village, the Mahe/Mahai village, and Paparahuan village, become free hold. This paper aims to re-read the inscription of Tlaŋ as well as identifying Wonoboyo inscription and the villages which were mentioned in the inscription. The methods used in this paper are descriptive analytical method and the comparative method. As a result of this study, two villages can be identified, i.e the Tlaŋ village and Paparahuan village, while the location of Mahe/Mahai village still cannot be identified. As a conclusion may be mentioned that in addition to identifying the two villages mentioned in the inscription Tlaŋ I and Tlaŋ II, the study can also identify the Wonoboyo Inscription as Tlaŋ III inscription
Gua Kidang, Hunian Gua Kala Holosen di Das Solo
Gua Kidang merupakan hunian manusia prasejarah yang diteliti Balai Arkeologi Yogyakarta sejak tahun 2005 dan masih berlanjut sampai sekarang. Berdasarkan survey permukaan di seluruh kawasan karst Blora, Gua Kidang adalah satu-satunya gua yang layak huni. Hal tersebut didasarkan pada morfologi lahan, sirkulasi sinar matahari, kemiringan, kelembaban, serta temuan permukaan. Tujuan penulisan ini adalah untuk menelusuri dan mengungkap jejak lokasi situs yang menjembatani kesinambungan antara kebudayaan Pleistosen dan Holosen yang masih gelap. Selain itu, menarik untuk dikaji lebih jauh adalah lokasi gua ini dikelilingi situssitus Pleistosen, yang pada hasil penelitian terakhir pada tahun 2013, memberikan titik terang. Metode yang digunakan adalah ekskavasi di Gua Kidang dan analisis terhadap temuan-temuan arkeologis, stratigrafi dan lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian selama tujuh kali, disimpulkan bahwa Gua Kidang merupakan gua yang intensif dihuni manusia prasejarah dengan tinggalan yang lengkap, berupa artefak, fitur, dan ekofak, serta rangka Homo sapiens.Abstract. Kidang Cave is a habitation of prehistoric people, which has been studied by the Yogyakarta Archaeological Centre since 2005 and still continues until now. A survey over the surface of the karst region of Blora reveals that Kidang Cave is the only habitable cave based on the morphology of the land, circulation of sunlight, slant, humidity, and surface finds. Thisarticle tries to explore and unveil traces of the site location that serves as a chronological bridge of continuity between the Pleistocene and the Holocene cultures, which is still obscure. In addition, it is interesting to note that further study is needed pertaining to the location of the cave, which is surrounded by Pleistocene sites that during the last research in 2013 has shed some light on that matter. The methods employed here are excavation at Kidang Cave and analyses on archaeological finds, stratigraphy, and the environment. Based on results of seven times of researches, it can be concluded that Kidang Cave had been intensively inhabited by prehistoric people and contains wide-ranging finds, which include artifacts, features, and ecofacts, as well as skeletons of Homo sapiens
Hunian “Pra-Sriwijaya” di Daerah Rawa Pantai Timur Sumatera.
Keberadaan Śrīwijaya di Sumatera ditandai oleh adanya prasasti-prasasti dari abad ke- 7 M. di Palembang, Jambi dan Lampung. Sebagian besar prasasti dan situs-situs arkeologi dari masa Śrīwijaya (abad ke-7-13 M.) terdapat di daerah lahan basah sebagai bagian dari wilayah pantai timur Sumatera. Penelitian arkeologi selama dua puluh tahun terakhir di daerah tersebut berhasil menemukan situs-situs arkeologi pada masa pra-Śrīwijaya antara lain berupa situs kubur tempayan dan situs hunian. Penemuan situs-situs masa pra-Śrīwijaya itu menunjukkan bahwa sebelum Śrīwijaya berkembang di Palembang dan Jambi, daerah rawa telah dimukimi oleh komuniti-komuniti kuno. Penelitian mengkaji lebih jauh pola hidup masyarakat kuno tersebut dalam berinteraksi dengan lingkungan rawa. Penelitian dilakukan dengan pendekatan “landscape archaeology”, survei dan ekskavasi untuk pengumpulan data, serta analisis carbon dating (C-14) dan tipologi artefak untuk mengetahui pertanggalan situs. Hasil penelitian memberikan gambaran mengenai pola persebaran situs antara situs kubur tempayan dan situs hunian di daerah rawa. Abstract. “Pre- Śrīvijaya” Settlements in The Swamp Area of The East Coast of Sumatera. The presence of Śrīvijaya in Sumatera was marked by the existence of inscriptions dated from 7th Century AD in Palembang, Jambi and Lampung. Most of the inscriptions and archaeological sites from Śrīvijaya era (7th – 13th Century) were located in the wetlands as part of the east coast region of Sumatera. The last two decades of archaeological researches in the region succeeded in finding archaeological sites from pre-Śrīvijaya era, among others jar burial and settlement sites. The discovery of pre-Śrīvijaya sites indicates that before Śrīvijaya was developed in Palembang and Jambi, the marshland area had already been inhabited by ancient communities. The research carried out further studies on the pattern of living of the ancient communities in interacting with marshy environment. The research was carried out using “landscape archaeology” approach, surveys and excavations in collecting data, as well as carbon dating (C-14) analysis and artifact typology to determine the age of the sites. The results of the research provide an illustration about the distribution pattern of the sites between the jar burial sites and the settlement sites in the wetland
Masyarakat Patalima di Teluk Elpaputih, Maluku*
Abstract. Patalima Community in Gulf of Elpaputih, Mollucas. This study aims to determine the patterns of Patalima community groups in the Gulf of Elpaputih, using a qualitative approach. The Patalima communities in the Gulf of Elpaputih consists of: Waraka, Tananahu, Liang, Soahuwey, Rumalait, Awaya, Hitalesia, Apisano. The results showed that each group of people in the Gulf of Elpaputih has different characteristic and background of grouping, but is an integral part of social and cultural unity sistem of Patalima community. The Grouping of people in the Gulf of Elpaputih is integrated in the soa structure but the basic structure is based on the autonomous nature of each group. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pengelompokan kelompok masyarakat Patalima di Teluk Elpaputih, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Masyarakat Patalima di Teluk Elpaputih terdiri dari: Waraka, Tananahu, Liang, Soahuwey, Rumalait, Awaya, Hitalesia,Apisano. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelompok-kelompok masyarakat di Teluk Elpaputih memiliki ciri khas dan latar belakang pengelompokan yang berbeda-beda, tetapi menjadi bagian integral kesatuan sistem sosial budaya masyarakat Patalima. Pengelompokan masyarakat Patalimadi Teluk Elpaputih terintegrasi dalam struktur soa1 tetapi sifatnya otonom berdasarkan struktur dasar masing-masing kelompok