Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
    440 research outputs found

    Appendix Kalpataru Volume 25, nomor 1, tahun 2016

    No full text

    Potensi Arkeologis Kepulauan Maluku: Penelitian dan Pemanfaatan*

    Get PDF
    Abstract. Archaeological Potency of Maluku Islands and Its Utilitations. Maluku islands is known to the world, especially European countries, as a producer, part of trade route, and destination of spices during the trade period in the past. Some countries such as Portugal, Spain, the Netherlands, and the United Kingdom have influenced the development of civilization in the Maluku islands. Several studies on the sites of the former kingdoms of Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo, and the former site of the local authority of the rich society in Banda has given an overview of cultural resource potential and importance of the sites for the history of the archipelago. Not all the information or data obtainedcan be utilized directly for the benefit of the wider community with diverse communication media. Therefore it is hoped that the available data and information can be utilized for various purposes by showing their important values of sites and their finds as well as the variety of proper uses, among others publications, issuance of regulations/policies, environmental management, tourism development, educational programs, development of new concepts, or establishing and improving museums. Regulations that provide more opportunity for public involvement in management and display of cultural heritage items – such as exhibitions, education, and events that are more community-oriented – also need to be made. Abstrak. Kepulauan Maluku dikenal dunia sebagai tempat produksi, jalur, dan tujuan pencarian rempah oleh negara-negara Eropa pada periode perdagangan masa lampau. Beberapa negara seperti Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris telah memberi pengaruh perkembangan peradabandi Kepulauan Maluku. Beberapa penelitian di situs-situs bekas kerajaan Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo, dan bekas tempat kekuasaan lokal Orang Kaya di Banda telah memberi gambaran potensi sumberdaya budaya dan arti penting situs-situs itu bagi sejarah Nusantara. Belum semua informasiatau data yang diperoleh langsung dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas dengan berbagai media komunikasi. Untuk itu diharapkan data dan informasi yang ada dapat dimanfaatkan untuk kepentingan berbagai hal. Metodenya dengan memperlihatkan nilai penting dari hasil penelitian situs dan tinggalannya serta memberikan berbagai bentuk pemanfaatannya. Hasil pemanfaatannya antara lain melalui media penyaluran informasi publikasi, pengeluaran peraturan/kebijakan, tata lingkungan, pengembangan wisata, program pendidikan, pengembangan konsep baru, pengembangan museum. Regulasi yang lebih membuka peluang peran publik dalam pengelolaan dan penyajian benda budaya juga masih perlu dikembangkan.Termasuk di dalamnya peningkatan berbagai bentuk program pameran, pendidikan, dan event yang lebih berorientasi kepada masyarakat

    Peran Magis-Religius Bengawan Solo dalam Pendirian Kota Surakarta Abad Ke-18

    Get PDF
    Abstrak. Peran magis religius Bengawan Solo adalah penting bagi pendirian Kota Surakarta. Peran ini berkaitan dengan kekuatan gaib, roh halus, dan atau roh-roh nenek moyang yang ada pada sungai khususnya di daerah pertemuan dua sungai. Kepercayaan terhadap kekuatan gaib merupakan hal mendasar dalam kehidupan orang Jawa, akan tetapi hal tersebut kurang mendapat perhatian dari para ahli sejarah maupun arkeologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperluas wawasan mengenai kepercayaan orang Jawa terhadap kekuatan gaib dan roh halus yang ada pada tempat tinggal mereka. Survei, fenomenologi, dan kajian pustaka adalah metode yang digunakan untuk mengungkap lebih dalam peran magis religius dari sungai tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah peran magis religius Bengawan Solo terhadap Kota Surakarta, yaitu daerah sekitar pertemuan dua sungai karena dianggap sakral dan kepercayaan terhadap konsep kosmologi Jawa, bahwa sungai merupakan bagian penting dalam pembentukan tata ruang kota. Penelitian ini sekaligus membuktikan adanya kontinuitas budaya yang hidup di masyarakat sekitar Bengawan Solo sejak dahulu hingga kini.Abstract. The magical-religious role of Bengawan Solo (Solo River) in the establishment of Surakarta was crucial. It was related to mystical power, ghosts, or spirits of ancestors, especially those that reside at a confluence of two rivers. Belief in mystical power was the foundation of Javanese life, but not enough attention has been paid by historians as well as archaeologists. The aim of this research is to widen people’s insight about the belief of the Javanese people to the supernatural power and spirits that inhabited their dwelling places. Survey, phenomenology, and bibliographical study are the methods used to reveal more about the magical-religious role of the river. Results of the research are an understanding of the magical-religious role of Bengawan Solo in the establishment of Surakarta city as shown in the location of the city, which is close to the confluence of two rivers because such location is conceived as sacred, and the other is a belief to the Javanese cosmological concept that rivers are important to the establishment of city layout. It also proves that there is a continuity among the Javanese people who live around the Bengawan Solo from the past until nowadays.

    Ragam Hias Ular-Naga di Tempat Sakral Periode Jawa Timur*

    Get PDF
    Abstract. Naga-Snake Ornaments at Sacred Places in East Java Period. Among those archaeological remains from Hindu-Buddhist in East Java period, dated from 8th to 16th centuries, was nagasnakeornament (snake with physical characteristic of a dragon) whether it stands alone or with a garuḍa figure. This ornament was found in temples, sacred bathing sites, and meditation caves. This ornament has not been found in earlier Hindu-Buddhist period in Central Java (early 6th to early 10th centuries). In order to understand the ideas behind this ornament selection, a historical-archaeology method was used based on artefactual and textual data, such as old manuscripts or inscriptions. East-Javanese śilpins used garuḍa and naga snake ornaments to manifest the story of Samudramanthana (Amŗtamanthana) and the story of Garudeya. Both stories tell the churning of the Ksirārnawa by the śura and aśura to get the amŗta (the holy water). This ornament can be found at Jalatunda bathingsite, Kidal temple, and Jabung temple. The preference to use Samudramanthana and Garudeya stories was related with the mythology of the mountain in Hinduism, which is believed as a “ladder” to Gods’ place. A temple is a miniature of Mahameru, the location of amŗta, guarded by the dragon-snake. Abstrak. Tinggalan Arkeologi dari masa Hindu-Buddha di Jawa Timur (abad ke-10-16), di antaranya berupa ragam hias ular-naga (ular dengan ciri-ciri fisik naga) yang digambarkan sendiri, maupun bersama tokoh garuḍa. Ragam hias ular-naga ini ditemukan di kompleks percandian, pemandian suci (patirthan), dan di gua-gua pertapaan. Menarik perhatian adalah, ragam hias jenis ini tidak ditemukan pada kepurbakalaan masa sebelumnya, yaitu masa Hindu-Buddha di Jawa Tengah (abad ke-6 sampai awal abad ke-10). Untuk mengetahui gagasan yang melatari dipilihnya artefak tersebut,akan diterapkan metode arkeologi-sejarah, yaitu metode yang menggunakan data artefaktual dan data tekstual, berupa naskah-naskah atau prasasti. Kemunculan garuḍa bersama ular-naga ini, dikemukakan bahwa para seniman Jawa Kuno menggunakan cerita Samudramanthana (Amŗtamanthana) dan cerita Garuḍeya. Kedua cerita tersebut menceritakan pengambilan dan perebutan air suci amŗta (air suci, air penghidupan) antara dewa (śura) dan aśura. Ragam hias ular-naga terdapat pada Pemandian Jalatunda, Candi Kidal dan Candi Jabung, Candi Panataran, Candi Kedaton dan sebagainya. Dipilihnya cerita Samudramanthana dan Garuḍeya terkait dengan mitologi gunung dalam agama Hindu, yangmerupakan “tangga naik” ke tempat dewa-dewa di puncaknya. Candi adalah bentuk miniatur dari Mahameru tersebut, tempat amŗta yang dijaga oleh ular-naga

    Tambang Batu Bara Oranje Nassau, Kalimantan Selatan, Dalam Pandangan Arkeologi Industri

    Get PDF
    Abstract. Oranje Nassau Coal Mine, South Kalimantan, in view Industrial Archaeology. Coal mining activities in Indonesia started in the 19th century. In the paper is presented archaeologicalremains on the site of the oldest coal mine in Indonesia, which is the Oranje Nassau coal mine. The site is located in the village of Pengaron, District Pengaron, Banjar regency, South Kalimantan. Thechronology of the site is 1849 (mid-19th century). Oranje Nassau is a coal mine operated by the Dutch government. When established, the mine occupied the territory of the Sultanate of Banjarmasin. Theintent of this paper is to provide an overview of the early industrial development in Indonesia through the oldest coal mine, Oranje Nassau, while the purpose is to identify the type, function, and therelationship between the remains of coal mines by using the approach of Industrial Archaeology. The method used is descriptive, historical and contextual analyses. The results have been obtained by theidentification of the relics of the ancient coal mine dating from the Dutch East India period. The relics of the coal mine are part of the coal mining activity facilities such as monumental building to put themachine, the coal pit wells, hallways, tunnels, floors made of brick, and iron wheels. Based on the survey results, it is revealed that coal mining is a technology that comes from outside, or technologyimported from Europe, not originated in Indonesia. Abstrak. Aktivitas pertambangan batu bara di Indonesia dimulai pada abad ke-19. Dalam tulisan ini dikemukakan tinggalan arkeologi dari situs tambang batu bara tertua di Indonesia, yakni tambang batu bara Oranje Nassau. Lokasi situs berada di Desa Pengaron, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Kronologi situs berasal dari tahun 1849 (abad ke-19). Oranje Nassau merupakan tambang batu bara yang diusahakan oleh pemerintah Hindia Belanda.Ketika didirikan, lokasi tambang itu menempati wilayah milik Kesultanan Banjarmasin. Tulisan ini bermaksud memberikan gambaran mengenai awal perkembangan industri di Indonesia melalui tambang batu bara tertua Oranje Nassau. Adapun tujuan tulisan ini adalah mengidentifikasi jenis, fungsi, dan hubungan antar tinggalan tambang batu bara dengan menggunakan pendekatan Arkeologi Industri (Industrial Archaeology). Metode yang digunakan adalah deskriptif, historis, dan analisis kontekstual. Hasil yang telah diperoleh yakni teridentifikasinya peninggalan-peninggalan tambangbatu bara kuno berasal dari masa Hindia Belanda. Peninggalan-peninggalan tersebut merupakan fasilitas kegiatan penambangan batu bara seperti bangunan monumental untuk menempatkan mesin, sumur lubang galian batu bara, lorong, terowongan, lantai dibuat dari bahan bata, dan roda besi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tambang batu bara merupakan teknologi yang berasaldari luar atau teknologi yang diimpor dari Eropa, bukan asli Indonesia

    Konflik dan Penyelesaian dalam Penelitian Arkeologi di Wilayah Kerja Balai Arkeologi Manado.

    Get PDF
    Abstract. Conflicts and Solutions in Archaeological Research at Archaeological Research Office of Manado Area. The conflict between local people and the research team of archaeology wastriggered because the people did not understand the importance of archaeological research, in addition to lacking of communication between the two parties. The conflicts in the research areasof Archaeological Research Office of Manado namely happened during the research at Loga Site, Pada Village, Poso, and Leang Tuo Mane’e site in Talaud. This research aimed at mapping the conflict occurring during archaeological researches in working areas of Archaeological Research Office of Manado and inventing the solution so that it is expected that such conflict may not appear in the future. To obtain the data used are observational and interview methods. The conflict mapping was made to see clearly the relations among many parties; therefore, it is possible to identify the beginning of the conflict as well as its solutions. Aside from conflict mapping, communication with the local people is no less important. The research model of archaeology should be changed into multiple perspective model or democratic model. Abstrak. Konflik antara masyarakat dengan tim penelitian arkeologi dikarenakan kurangnya pemahaman masyarakat akan nilai penting penelitian arkeologi dan komunikasi yang tidak terjalin dengan baik. Konflik yang pernah terjadi pada kegiatan penelitian di wilayah Kerja Balai Arkeologi Manado berupa penelitian Situs Loga Desa Pada, Kabupaten Poso dan Situs Leang Tuo Mane’e di Kabupaten Talaud. Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan konflik yang terjadi dalam penelitian arkeologi di wilayah kerja Balai Arkeologi Manado dan mencari jalan keluarnya sehingga dapat diselesaikan, serta tidak terjadi lagi pada masa mendatang. Metode yang digunakan untuk mendapatkan data adalah metode observasi (pengamatan) dan wawancara. Dalam mengurai konflik, penting dilakukan pemetaan, sehingga dapat terpecahkan dengan baik. Pemetaan konflik bertujuan untuk melihat hubungan di antara berbagai pihak secara lebih jelas, sehingga dapat diidentifikasi awal konflik dan tindakan yang akan dilakukan dalam memecahkan konflik. Selain pemetaan konflik, perlu menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat sekitar situs, sehingga tidak terjadi salah komunikasi dalam kegiatan penelitian. Model pendekatan yang digunakan dalam penelitian arkeologi ini perlu diganti dengan model multiple perspective model atau democratic model

    Karakteristik Situs Pesisir di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat.

    Get PDF
    Kabupaten Kotawaringin Barat yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah memiliki kawasan pesisir, tepatnya di sebelah selatan, yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Posisi yang strategis tampaknya sangat berpengaruh terhadap perkembangan kebudayaan di daerah tersebut. Kesempatan untuk dapat berinteraksi dengan dunia luar menjadi sangat mungkin. Keberadaan situs arkeologi di pesisir menjadi sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut. Tulisan ini ditujukan untuk mengetahui karakteristik situs tersebut. Metode penelitian bersifat deskriptif eksplanatif dengan penalaran induktif. Data arkeologi yang digunakan merupakan hasil survei arkeologi pada tahun 2014. Hasil survei menemukan adanya beberapa kelompok temuan yang berada di wilayah Desa Sebuai dan Desa Pendulangan, dengan keramik sebagai temuan terbanyak. Berdasarkan hasil analisis artefaktual dan lingkungan, sintesa dan interpretasi menunjukkan bahwa situs di pesisir tersebut, selain sebagai tempat hunian dari abad ke-13 - 14 hingga sekarang, juga memegang peranan penting dalam aktivitas perdagangan dengan daerah luar, serta mempunyai keterkaitan yang erat dengan situs arkeologi di daerah pedalaman. Abstract. The regency of West Kotawaringin, which is located in Central Kalimantan province, has coastal areas, precisely in the south, which is directly adjacent to the Java Sea. Its strategic position seems very influential on the development of culture in this area. The opportunity to interact with the outside world becomes very possible. The existence of archaeological sites on the coast became very interesting to be studied further. This article discusses the characteristics of the sites. The method used in this article is inductive reasoning and an explanatory descriptive. Archaeological data were obtained from archaeological survey in 2014. It can be concluded that the coastal sites were not only served as dwelling places from 13 - 14 AD to present, but also played an important role in trading activities with abroad, as well as having strong links with archaeological sites in the hinterland

    Kilas Balik Sejarah Budaya Semenanjung Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur.

    Get PDF
    Semenanjung Blambangan atau dikenal dengan Alas Purwo terletak di Kabupaten Banyuwangi. Alas Purwo yang dalam bahasa Jawa diartikan sebagai ‘hutan awal’ memiliki banyak potensi arkeologi. Hutan lebat Alas Purwo merupakan salah satu unsur penyusun bentang lahan karst yang memungkinkan mendukung kehidupan manusia masa Prasejarah. Data dari berbagai sumber menyebutkan, bahwa di Alas Purwo ditemukan tinggalan sisa budaya masa lalu lainnya. Selain itu, lokasiyang terisolasi memungkinkan diperolehnya data yang masih asli dan tidak banyak mengalami transformasi. Tujuan penelitian adalah pendataan potensi arkeologi dan etnohistori Alas Purwo dalam tiga dimensi, yaitu dimensi bentuk, ruang, dan waktu. Dengan demikian,dapat diperoleh kesimpulan sejarah budaya Semenanjung Blambangan. Metode penelitian bersifat eksploratif dengan tiga pendekatan, yaitu pendekatan arkeologi, pendekatan etnohistori, dan pendekatan geografi dengan perangkat Geographic Information System (GIS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Semenanjung Blambangan memiliki nilai sejarah budaya cukup panjang dan penting. Hal ini terbukti dari lengkapnya tinggalan arkeologi serta etnohistori yang berasal dari masa Prasejarah, Klasik (Hindu), Islam, dan Kolonial yang menyimpan isu lokal, nasional, dan internasional. Secara spasial, pola distribusi tinggalan arkeologi tersebut memperlihatkan variasi mendasar, seperti lokasi yang khas. Abstract. Blambangan peninsula, known as Alas Purwo located in Banyuwangi. Alas Purwo, also means “early forest” in Javanese language, has a lot of archaeological potential, moreover the dense forest which is one of the constituent elements of the karst landscape enables support for human life in prehistoric era. Data from various sources says that in the Alas Purwo found the remains of the other past culture. In addition, isolated location provide opportunities for data that is pristine and not much transformed. The purpose of this research is to collect data of archaeological and ethno-history potency of Alas Purwo in three dimensions, which is: the dimensions of form, space, and time, in order to obtain a conclusionon the cultural history Blambangan Peninsula. The research methods is explorative with three approaches, archaeological approach, ethno-historical approach and geographical approach with the Geographic Information System (GIS). The research proves that Blambangan Peninsula has cultural history value as well. This result can be proved from complete archaeological and ethno-historical remains dating from the Prehistoric, Classical, Islam, and the Colonial era with local, national, and international issues. Spatially, the distribution pattern of the archaeological remains show fundamental variations, such as locational characteristics

    Perkembangan Religi Prasejarah: Tradisi Masyarakat Gayo.

    Get PDF
    Abstract. Prehistoric Religion Development: Gayo Communities Tradition. Religion lived out by Gayo communities has been practiced since the prehistoric period. The religion of that period isevidenced from remains of activities, among others from burial remains at Loyang Mendale and Loyang Ujung Karang Sites. Burial patterns and funeral gifts are the most apparent evidences of theexistence of religion concept during the prehistoric period. The process shows a development from simple form to more complex ones, but some aspects of ancient religion can still be found in laterperiods. In an attempt to understand it, identification of archaeological remains in forms of burial remains such as human remains, artifacts, and features are used as the focus of study, and ethnoarchaeological approach will be employed in this study on the concept of religion. Thus, in general it can be said that this attempt to understand religion will use inductive flow, which is part of qualitative research method. Interviews will also be carried out to acquire concepts of ancient religions that are still recognized among the Gayo communities. This method will generate a comprehension on religions from the prehistoric period until nowadays, with ancient conceptions that are still known among contemporary communities. Abstrak. Keberadaan religi pada masyarakat Gayo sudah berlangsung sejak masa prasejarah. Pemahaman religi pada masa itu diketahui dari sisa aktivitas yang di antaranya masih dikenali dari sisa penguburan di Situs Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang. Pola penguburan dan bekal kubur di situs dimaksud merupakan hal yang paling jelas menunjukkan adanya konsep religi di masa Prasejarah. Di dalam prosesnya telah menunjukkan adanya perkembangan dari bentuk yang sederhana ke hal yang lebih kompleks, namun beberapa bagian dari religi lama tampaknya masih dianut hinggake masa-masa kemudian. Untuk memahami perkembangan religi tersebut, maka identifikasi tinggalan arkeologis, baik yang berupa sisa penguburan kerangka manusia, artefak ataupun fitur menjadi pusat kajian. Dalam konsep religi akan dilakukan pendekatan etnoarkeologi, sehingga secara umum dapat dikatakan bahwa pemahaman akan religi menggunakan alur induktif yang merupakan bagian dari metode penelitian kualitatif. Sejalan dengan itu dilakukan juga wawancara mendalam dalam upaya mendapatkan konsep-konsep religi lama yang masih dikenal oleh masyarakat Gayo. Metode tersebut akan menghasilkan pemahaman religi dari masa prasejarah hingga kini dan beberapa bagian dari konsepsi lama yang masih dikenal masyarakat dalam konteks religi di masa kini

    Preface Amerta Volume 33, nomor 2, tahun 2015

    No full text

    202

    full texts

    440

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇