Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
The Characteristics Linkage Among Austronesian Houses: The Traditional Houses in Luhak Agam, Rokan, and Mandailing
Abstrak. Hubungan Karakteristik Antara Rumah-Rumah Austronesia: Rumah-Rumah Tradisional di Luhak Agam, Rokan, dan Mandailing. Rumah Luhak Agam (termasuk Pasaman) yang berada di Sumatra Barat memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan dengan Rumah Gadang Minangkabau lainnya yang berada di Luhak Tanah Datar dan Luhak Limapuluh Koto. Lokasi Luhak Agam sangat dekat dengan wilayah Rokan Hulu di Riau dan dengan wilayah Tapanuli Selatan (Mandailing-Natal) di Sumatra Utara. Sepintas, rumah adat mereka terlihat mirip, terutama pada bentuk atapnya. Sangat mungkin, di daerah ini telah terjadi sebuah proses berbagi budaya pada zaman dahulu. Maka dari itu, penelitian ini berusaha untuk mengeksplorasi dan membandingkan karakteristik arsitektur antara ketiga wilayah tersebut. Bagaimana keterkaitan karakteristik rumah antara ketiga wilayah tersebut? Metode penelitian ini adalah metode kualitatif yang memilii maksud untuk melakukan perbandingan dan menggunakan sumber sejarah dan kebahasaan untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih komprehensif. Sehingga penelitian ini dapat menunjukkan keterkaitan antara ketiga wilayah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat proses berbagi sifat-sifat (traits) dan pengetahuan pada karakteristik antara variasi-variasi budaya austronesia pada masing-masing rumah-rumah mereka.
Abstract. The Luhak Agam house (including Pasaman) in West Sumatra has its own characteristics that distinguished from other Minangkabau's Rumah Gadang in Luhak Tanah Datar and Luhak Limapuluh Koto. The location of Luhak Agam is very close to the Rokan Hulu area in Riau and South Tapanuli (Mandailing-Natal) in North Sumatra. At a glance, their traditional houses look similar, especially in the shape of the roof. There may have been cultural sharing in this area in ancient times. Therefore, the research tried to explore and compare their architectural characteristics. How is the linkage of the characteristics of the house? The qualitative research method compares and uses historical and linguistic sources to get a more comprehensive conclusion. So, this research can show the linkage between them. The results showed a process of traits and knowledge sharing among the Austronesian cultures variations in each of their houses
Aktivitas Masa Lalu Masyarakat Pendukung Situs Doro Mpana, Dompu
Abstract, Research at Doro Mpana Site started with a report from the Head of Kandai Satu Village about the findings of a number of objects which are suspected of being archaeological remains in the form of earthenware fragments, ceramics, metal objects, human bone fragments, and Batu Dimpa. Batu Dimpa is a term given by the community for flat stones which are believed to be ancient grave markers. The purpose of this study was to determine the activities carried out by the community of Doro Mpana Site in the past. Data was collected through excavation, survey, and interview methods. Data were analyzed using specific analysis that focused on the physical characteristics of artifacts and contextual analysis related to the connection between archeological data. Three excavation squares were opened in this first phase of research. The results of excavation are earthenware fragments, foreign ceramic fragments, andesite stones, Batu Dimpa, brick structures, and human bone fragments. In the past, Doro Mpana site was once used for burial. Foreign ceramics findings show that the community in the past had been in contact with the outside world in trade relations. Utilization of Doro Mpana as a settlement in more recent time is supported by brick findings and some historical records. Abstrak, Penelitian di Situs Doro Mpana diawali dengan laporan Lurah Kandai Satu tentang temuan sejumlah benda yang diduga merupakan tinggalan arkeologi berupa fragmen gerabah, keramik, benda logam, fragmen rangka individu manusia, dan Batu Dimpa. Batu Dimpa adalah sebutan masyarakat untuk batu pipih yang dipercaya merupakan penanda kubur kuno. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas masyarakat pendukung Situs Doro Mpana pada masa lalu. Pengumpulan data dilakukan dengan metode ekskavasi, survei, dan wawancara. Data dianalisis dengan menggunakan analisis khusus yang menitikberatkan ciri fisik artefak dan analisis kontekstual yang berkaitan dengan hubungan antardata arkeologi. Tiga buah kotak ekskavasi dibuka dalam penelitian tahap pertama ini. Adapun hasil ekskavasi adalah berupa fragmen gerabah, fragmen keramik asing, batu andesit, Batu Dimpa, struktur bata, dan fragmen tulang individu manusia. Pada masa lalu Situs Doro Mpana pernah dimanfaatkan untuk penguburan. Temuan keramik asing menunjukkan bahwa masyarakat pada masa lalu telah mengadakan kontak dengan dunia luar dalam hubungan perdagangan. Pemanfaatan Doro Mpana sebagai permukiman pada masa yang lebih muda didukung temuan bata dan catatan sejarah