Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
    440 research outputs found

    Ragam Hias pada Makam di Komplek Mesjid Makam Turikale di Maros Sulawesi Selatan.

    No full text
    Ragam hias merupakan salah satu atribut pada makam Islam yang memiliki makna budaya dan menjadi objek kajian arkeologi Islam. Keberadaan ragam hias ditemukan juga pada makam di Komplek Mesjid Makam Turikale di Maros. Mesjid Turikale ini merupakan mesjid kuno dengan tipe mesjid makam, dimana arsitektur mesjid dengan arsitektur makam merupakan satu rangkaian bangunan secara utuh. Semua artefak kaligrafi pada makam di Komplek Mesjid Makam Turikale dapat digolongkan ke dalam aliran Tsulus atau Khat Tsulus. Tidak ada kaligrafi di komplek makam ini yang meniru atau memanipulasi bentuk makhluk hidup apalagi anthropomorphic. Gejala ini berbeda dengan beberapa komplek makam di Sulawesi Selatan. Adapun ragam hias pada bangunan makam, menganut paham representative art dan menghindari aktivitas pengkultusan pada sosok selain Allah. Sulur-suluran dan bunga ditampakkan sangat vulgar dengan kelopak bunga yang menengadah, yang dalam falsafah Bugis-Makassar, menyimbolkan pandangan hidup yang terbuka dan progressif. Abstract. Ornament is one of the attributes in the Islamic cemetery that has cultural significance and become the object of Islamic archaeological study. The existence of ornament were also found in the tomb at the Tomb Mosque Complex in Turikale in Maros. Mosque of Turikale is an ancient mosque by mosque-type tombs, where the architecture of the mosque with the tomb architecture is a series of buildings in their entirety. All artifacts calligraphy on a tomb in the Tomb Mosque Complex in Turikale can be classified into Khat Tsulus. No calligraphy in this tomb complex that mimics or manipulate living things especially anthropomorphic form. These symptoms differ with some graveyard in South Sulawesi. The ornaments on the tomb building, adopts representative art and avoid the cult activity on the figure besides Allah. Tendrils and flowers revealed a very vulgar with upturned petals, which in philosophy Bugis-Makassar, symbolizes a view of life that is open and progressive

    Penggunaan Ubin-ubin Enkaustik di Nusantara pada Abad Ke-19-20

    No full text
    AbstractTiles are an essential element of a design or architecture. As part of the work of architecture, the floor can be compacted soil, marble rocks, organic types such as wood, bamboo etc. Encaustic tiles is one of the products which are the elements to meet the needs and desires of man both in terms of technical, artistic or symbolic. This tile was first introduced in Europe in the 1800s. In fact there are several archaeological sites in Indonesia there are tiles of this type. How these tiles can get to the archipelago and how the use and function. The method used in this research is descriptive qualitative research method. It is by doing a search of facts with proper interpretation, by studying the problems of society in a particular situation or period including the relationships, attitudes and ongoing process and its influence on the phenomenon. The purpose of writing this article to give an overview on some of the facts about the existence of the tiles from Europe and its use in the archipelago. The results obtained showed enkaustik tiles are spread evenly from the eastern region to the western region of the archipelago and placed in various types of buildings and parts of architectural space. Keywords: tile, encaustic, architecture, decorative arts, symbol, identity AbstrakUbin merupakan elemen penting dari sebuah rancang bangun atau arsitektur. Sebagai bagian karya arsitektur lantai dapat berupa tanah yang dipadatkan, batuan marmer, jenis organik seperti kayu, bambu dan sebagainya. Ubin encaustic (enkaustik) merupakan salah satu produk yang merupakan elemen untuk memenuhi kebutuhan dan hasrat manusia baik dalam hal teknis, seni maupun simbolik. Ubin ini dikenalkan pertama kali di Eropa tahun 1800an. Faktanya ada beberapa situs arkeologi di Indonesia terdapat ubin-ubin jenis ini.  Bagaimana ubin ini dapat sampai ke Nusantara dan bagaimana penggunaan dan fungsinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Ini dengan melakukan pencarian fakta-fakta dengan interpretasi yang tepat, dengan mempelajari masalah masyarakat dalam situasi atau masa tertentu termasuk dengan hubungan, sikap dan proses yang sedang berlangsung dan pengaruhnya terhadap suatu fenomena. Tujuan penulisan artikel ini untuk memberikan gambaran atas beberapa fakta tentang keberadaan ubin-ubin yang berasal dari Eropa ini dan penggunaannya di Nusantara. Hasil yang diperoleh menunjukkan ubin-ubin enkaustik ini tersebar secara merata dari wilayah timur hingga wilayah barat Nusantara dan di tempatkan di berbagai jenis bangunan dan bagian ruang sebuah bangunan arsitektur. Kata kunci: ubin, encaustik, arsitektur, seni hias, simbol, identita

    Appendix Amerta Volume 33, Nomor 2, Tahun 2015

    No full text

    Back Cover Amerta Volume 35, Nomor 2, Tahun 2017

    No full text

    Geologi Situs Kosala, Kabupaten Lebak, Provinsi Jawa Barat.

    No full text

    Preface Kalpataru Volume 26, nomor 1, tahun 2017

    No full text

    Konsep Zonasi Pulau Penyengat: Sebuah Alternatif

    Get PDF
    Abstract. Zoning Concept of Pulau Penyengat: An Alternative. Pulau Penyengat in the Province of Riau Islands could considered as the only region that has an intact cultural heritage buildings with Malay colour characteristic. Pulau Penyengat is an island of 3.5 km². There are dozens of buildings and structures whose functions can still be identified and there are at least 16 which are still intact but neglected. The existence of these remains convinced us that the center of Malay culture is in Riau region. This study is to discuss the concept of zoning at each sites in Pulau Penyengat that can be used as reference when the island is designated as heritage area. Important values embodied in the cultural heritage is also studied. This multidisciplinary study uses qualitative approach. Data is obtained through field observation, identification of cultural heritage, indepth-interviews, focused group discussion (FGD), and zoning delineation for each site. The data is analyzed through architectural, historical, cultural, development zoning, and law analysis. The result of this study is concept of zoning for all sites in the region of Pulau Penyengat.  Pulau Penyengat di Provinsi Kepulauan Riau dapat dikatakan satu-satunya wilayah yang memiliki peninggalan budaya bangunan yang masih utuh dengan ciri warna kemelayuan. Pulau Penyengat berupa pulau seluas 3,5 km². Di dalamnya terdapat puluhan bangunan dan struktur yang masih dapat diidentifikasikan fungsinya dan sekurang-kurangnya ada 16 yang masih utuh meskipun tidak terurus. Keberadaan peninggalan tersebut itulah yang meyakinkan kita bahwa kebudayaan Melayu berpusat di wilayah Riau. Studi ini berkenaan dengan pembahasan konsep zonasi pada masing-masing situs di Pulau Penyengat yang dapat dijadikan acuan apabila ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya. Selain itu, digali nilai-nilai penting yang terkandung pada warisan budayanya. Dalam studi multidisiplin ini digunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi lapangan, identifikasi cagar budaya, indepth-interview, focused group discussion (FGD), dan delineasi untuk zonasi setiap situs. Data tersebut dikaji melalui analisis arsitektural, sejarah, budaya, pengembangan zonasi, dan hukum. Studi ini menghasilkan sebuah konsep zonasi semua situs di Kawasan Pulau Penyengat

    Back Cover Amerta Volume 33, Nomor 1, Tahun 2015

    No full text

    Back Cover Amerta Volume 32, Nomor 2, Tahun 2014

    No full text

    Perface Kalpataru Volume 21, nomor 1, tahun 2012

    No full text

    202

    full texts

    440

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇