Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
Foreign Figures in the Paintings of I Ketut Gede Singaraja
I Ketut Gede Singaraja always portrays figures adopted from the depiction of wayang pattern. It is similar to Wayang Kamasan but more expressive. Aside of painting the local figures, he also painted foreign figures such as Javanese-Muslims, Chinese people, and Europeans. They were narrated as the cultural actors in the life of Singaraja City at the end of the 19th Century. This paper compares those figures, especially their attributes and faces thorugh iconographic studies. The result shows some cultural diversity through figures painted by I Ketut Gede Singaraja. The diversity is a plurality that occurred as a result of cultural unification from the previous period, namely the spice route period. The purpose of this paper is to identify the ethnic foreign figures described by I Ketut Gede Singaraja in his paintings as part of the multicultural life in Singaraja city at the end of the 19th century.I Ketut Gede Singaraja selalu melukiskan figur dengan mengadopsi pola penggambaran wayang yang menyerupai penggambaran wayang Kamasan, akan tetapi lebih ekspresif. Hal yang menarik adalah penggambaran beberapa figur orang asing dalam dua karya lukisan I Ketut Gede Singaraja, yakni figur Muslim-Jawa, figur Tionghoa, figur Eropa dan tentu saja figur lokal yang digambarkan dalam narasi sebagai pelaku budaya di dalam kehidupan Kota Singaraja di akhir abad ke-19. Dalam tulisan ini, dilakukan perbandingan figur, terutama karakter atribut dan wajah melalui studi ikonografi. Hasilnya menunjukan keberagaman budaya melalui figur yang dilukiskan oleh I Ketut Gede Singaraja. Keberagaman tersebut merupakan pluralitas yang terjadi akibat penyatuan budaya pada masa sebelumnya, yaitu pada masa jalur rempah. Tujuannya adalah untuk mengetahui figur-figur asing dari etnis mana saja yang digambarkan oleh I Ketut Gede Singaraja sebagai bagian dari kehidupan multikultur di kota Singaraja
Perjalanan Panjang Paṭola Menjadi Jlamprang: Transformasi Motif Tenun Menjadi Motif Batik
The background of this research comes from the public's understanding that the jlamprang motif is a typical Pekalongan batik motif, besides that there are also those who state that this motif is an imitation of the paṭola motif. Therefore, this paper aims to determine the transformation process of the patola woven motif into the jlamprang batik motif, one of the characteristic batik motifs of Pekalongan. Why can the weaving motif turn into a batik motif? Why does the jlamprang batik motif become the hallmark of Pekalongan? The method used in this research is to trace the trade of paṭola motif cloth from India and its distribution in Java, both in the form of the distribution of decorative motifs on temples and on cloth. The search was carried out through literary texts, decorative motifs on temple walls, and motifs of cloth worn by statues. The results showed that in Java the paṭola motif has undergone a transformation from a woven motif to a decorative motif on the temple walls to a batik motif. Jlamprang became the signature batik motif of Pekalongan because it was in this city that the motif was first developed by Arab traders to overcome the scarcity of paṭola woven motifs from India. Thus, it can be concluded that the Javanese society is an adaptive society, with local genius capable of processing foreign decorative motifs into their own motifs and making them a local identity.Latar belakang penelitian ini berasal dari pemahaman masyarakat yang menyatakan bahwa motif jlamprang adalah motif batik khas Pekalongan. Selain itu, juga ada yang menyatakan bahwa motif ini adalah tiruan dari motif paṭola. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk mengetahui proses transformasi motif tenun paṭola menjadi motif batik jlamprang, salah satu motif batik ciri khas Pekalongan. Mengapa motif tenun bisa berubah menjadi motif batik? Mengapa motif batik jlamprang menjadi ciri khas Pekalongan? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melakukan penelusuran pada perdagangan kain motif paṭola dari India dan persebarannya di Jawa, baik dalam bentuk persebaran motif hias pada candi maupun pada kain. Penelusuran itu dilakukan melalui naskah-naskah kesusasteraan, motif hias dinding candi, dan motif kain yang dikenakan arca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Jawa motif paṭola telah mengalami transformasi dari motif tenun menjadi motif hias dinding candi kemudian menjadi motif batik. Jlamprang menjadi motif batik ciri khas Pekalongan karena di kota inilah motif itu pertama kali dikembangkan oleh pedagang Arab untuk mengatasi kelangkaan tenun motif paṭola dari India. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang adaptif, yang dengan lokal geniusnya mampu mengolah motif hias asing menjadi motifnya sendiri dan menjadikannya sebagai identitas lokal
Tipe Hunian dan Karakteristik Budaya Sampungian di Situs Gua Lawa, Ponorogo
Abstract. Settlement Type and Characteristic of ‘Sampung Culture’ at Lawa Cave Site, Ponorogo. Lawa Cave, located in Sampung (Ponorogo, East Java), is an eponym site for the Sampungian culture. Its status within the cultural framework of the Javanese prehistory remains unclear. This article aims to reveal the type and characteristic of settlement in Lawa Cave, including its position within the historical framework of cave habitation in the archipelago. The descriptive-explanative approach reveals that the distribution of artifacts in Lawa Cave shows a distinctive feature. The bifacial arrowhead reported by Callenfels is associated with bone and pebbles (milling stones) in a relatively thick unit of cultural layer. Based on the emergence of milling stones, the inhabitants of Lawa Cave may have known simple agricultural activities through processing wild plants as their food source. Based on this, Sampungian can be categorized as part of the Para-Neolithic culture, which is also found in several sites in Mainland Southeast Asia.
Abstrak. Gua Lawa yang berada di Sampung (Ponorogo, Jawa Timur) merupakan situs eponim bagi budaya Sampungian yang statusnya di dalam kerangka kebudayaan prasejarah Pulau Jawa masih belum jelas. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap tipe hunian dan karakteristik budaya Sampungian di Gua Lawa serta kaitannya dengan sejarah perkembangan hunian gua di Nusantara. Melalui pendekatan deskriptif-eksplanatif terlihat bahwasannya distribusi artefak di Gua Lawa menunjukkan suatu ciri khas tersendiri. Himpunan artefak mata panah bifasial, sebagaimana pertama kali dilaporkan oleh Callenfels, faktanya berasosiasi dengan artefak tulang dan kerakal pada suatu unit lapisan budaya yang cukup tebal. Berdasarkan kemunculan artefak kerakalpenggerus, diperkirakan masyarakat penghuni Gua Lawa telah mengenal aktivitas agrikultur sederhana melalui pengolahan tumbuhan liar tertentu sebagai sumber pangan mereka. Berdasarkan hal tersebut, Sampungian dapat dikategorikan sebagai bagian dari budaya Para-Neolitik yang juga dijumpai pada sejumlah situs di Asia Tenggara Daratan
Studi Arkeologi Eksperimental Teknik Pengeboran Gelang Batu dari Purbalingga
Abstract. The stone bracelet is a neolithic artifact crafted by drilling techniques. Traces of stone bracelet workshop activities in Central Java were found in Purbalingga, which is spread across the North Serayu Mountains between Kali Tungtunggunung and Kali Laban. This study is based on the previous research hypothesis, which states that the manufacture of stone bracelets is carried out by drilling techniques using bamboo wulung (Gigantochloa atroviolacea). This study aims to prove this hypothesis. An experimental archaeological approach by conducting drilling experiments using several drill bits: iron drills, masonry/concrete iron drills, iron drills for natural stone, and bamboo drills. Meanwhile, the abrasive materials used are water, river sand, and quartz sand. The analysis was carried out by comparing the morphological and morphometric traces of the workings between artifacts and experimental results, based on microscopic observations with a magnification of 20x to 200x. Compared to the other drilling bits and abrasive materials, the experimental study revealed that bamboo drill bits, with quartz-sand and water as additional gritty material, showed the closest similarity.Abstrak. Gelang batu merupakan artefak neolitik yang dibuat dengan teknik pengeboran. Jejak aktivitas perbengkelan gelang batu di Jawa Tengah ditemukan di Purbalingga yang tersebar di Pegunungan Serayu Utara antara Kali Tungtunggunung dan Kali Laban. Penelitian ini didasarkan pada hipotesis penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pembuatan gelang batu dilakukan dengan teknik pengeboran menggunakan bambu wulung (Gigantochloa atroviolacea). Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hipotesis tersebut. Melalui pendekatan arkeologi eksperimental dengan melakukan percobaan pengeboran menggunakan beberapa macam mata bor yaitu bor besi, bor besi untuk beton, bor besi untuk batu alam, dan bor bambu. Sementara itu, bahan pengikis yang digunakan adalah air, pasir kali, dan pasir kuarsa. Analisis dilakukan dengan cara komparasi morfologi dan morfometri jejak pengerjaan antara artefak dengan hasil eksperimen, berdasarkan pengamatan mikroskopik perbesaran 20x hingga 200x. Hasil eksperimen dengan menggunakan mata bor bambu dan bahan pengikis air dan pasir kuarsa menunjukkan tingkat kemiripan paling tinggi dibandingkan dengan mata bor dan bahan pengikis lainnya
Perkembangan Teknologi Tungku Lebur Logam Besi pada Zaman Kuno di Indonesia
Abstract. Technological knowledge of the use of metals is inseparable from human knowledge in the processing pyrotechnics of fire as a power in high temperature processes for producing objects. The fire is used for smelting and casting in melting furnaces. Metal smelting furnace is a heat production device, which is used to purify the metal, in this case iron. This paper aims to determine the development of ferrous metal smelting furnace technology in Indonesia with the library research method from the results of previous studies. Based on the results of the analysis, there are four technologies for smelting iron, namely pit kiln, bloomery furnace, blast furnace, and induction furnace. Of the four technologies, three are in use in Indonesia, namely bloomery furnace, blast furnace, and induction furnace.Abstrak. Pengetahuan teknologi penggunaan logam tidak terlepas dari pengetahuan manusia dalam memproses pyrotechnology api sebagai tenaga dalam proses suhu tinggi untuk produksi benda. Api digunakan dalam proses peleburan dan pengecoran logam dalam tungku peleburan. Tungku peleburan logam adalah alat untuk memproduksi panas yang digunakan untuk memurnikan logam, dalam hal ini besi. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan teknologi tungku lebur logam besi di Indonesia dengan metode library research dari hasil-hasil penelitian terdahulu. Berdasarkan hasil analisis, terdapat empat teknologi tungku lebur besi, yaitu pit kiln, bloomery furnace blast furnace serta induction furnace. Dari keempat teknologi tersebut, tiga teknologi tungku lebur digunakan di Indonesia, yaitu bloomery furnace, blast furnace serta induction furnace