Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
Lanskap Hunian Prasejarah di Kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Karama, Mamuju, Sulawesi Barat
Abstract, Researches at Karama River Basin sites have been conducted for years which gave indication of intensive human occupation during Prehistoric period. Hence, it is necessary to reveal and to understand the reason behind this human occupation based on the correlation between morphology, site characteristics, and site distributions. Scientific method was applied to obtain data from the field and to conduct spatial analysis. Disturbance caused by erosion and morphologic changes led to archaeological data transformation and also affected physical environment of archaeological sites. However, that kind of disturbance did not reduce the the importance of physical environment as spatial analysis data. Spatial analysis of sites along the main stem of Karama River both in downstream region and upstream region indicates occupation landscape characteristics. These characteristics can be seen from the location of the occupation which was close to waterway alluvial morphology (hilltop, hill terrace, and river terrace), at relatively flat surface area, and along the riverside or river confluence. There are two highlighted factors from landscape characteristics to support human occupation: accessibility and protection. Accessibility means there is no difficulties to access natural resources and there is possible access to secure interaction between communities. Protection means the location is relatively safe or less affected by both natural and human hazards. Those factors were probably the main reasons to choose Karama River Basin for human settlement.Abstrak, Penelitian situs di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Karama, Sulawesi Barat, telah dilakukan selama bertahun-tahun dan menghasilkan indikasi aktivitas hunian yang intensif pada masa Prasejarah. Dengan demikian, perlu diupayakan mencari alasan di balik penghunian manusia di DAS Karama berdasarkan korelasi antara morfologi, karakteristik situs, dan distribusi situs. Metode saintifik diterapkan untuk mendapatkan data dari lapangan dan melakukan analisis spasial. Perubahan morfologi lokasi situs dan erosi di kawasan DAS Karama menyebabkan transformasi data arkeologi serta memengaruhi lingkungan fisik lokasi situs. Meskipun demikian, pengaruh tersebut tidak lantas mengurangi pentingnya komponen fisik lokasi situs sebagai data analisis spasial. Analisis korelasi data dari situs, baik di sepanjang aliran utama Sungai Karama di kawasan muara maupun di kawasan pedalaman, mengindikasikan karakteristik lanskap hunian. Karakteristik tersebut menunjukkan lokasi hunian berada pada morfologi aluvial sungai (puncak bukit, teras bukit, dan teras sungai), berada pada topografi lahan yang relatif datar dan berlokasi di tepi aliran utama sungai atau di tepi pertemuan sungai (confluence). Ada dua faktor utama yang mendukung kawasan DAS Karama sebagai lokasi hunian, yakni aksesibilitas dan keamanan. Faktor aksesibilitas meliputi kemudahan akses terhadap sumber daya alam dan akses yang memungkinkan terjadinya interaksi antarkomunitas. Faktor keamanan menunjukkan bahwa lokasi situs relatif terlindungi dari ancaman bencana alam dan manusia. Kedua faktor tersebut kemungkinan besar menjadi alasan utama manusia memilih kawasan DAS Karama sebagai lokasi hunian
Kehidupan Manusia Modern Awal di Indonesia: Sebuah Sintesa Awal
Abstract. The Life of Early Modern Human in Indonesia: A Preliminary Synthesis. The Late Pleistocene period or, in broader sense, the second half of the Upper Pleistocene, was in general related to the emergence and development of Early Modern Human (EMH) in Indonesia. Archaeological evidences have more or less confirmed their existence - with records of their unique behavior - within the period. In spite of the still obscure date of their initial occupation, the available radiometry dating reveals that this early Homo sapiens had inhabited Indonesia, and Southeast Asia in general, at least since ca. 45 kya up to the end of the Ice Age. Some of the most prominent behavior phenomena, which distinct modern human to early men's behavior who inhabited Indonesia since millions of years previously, are: (I) exploitation of wider geographical area within the archipelago; (2) change of activity orientation from open-air areas to natural niches, such as caves and rock shelters; (3) development of lithic technology that produced flake tools, replacing the chopper/chopping tool groups; and (4) more advanced and diverse systems of subsistence with more varied animals to hunt. The entire phenomena of behavior are the main focus of this paper. Abstrak. Rentang waktu Plestosen Akhir atau paruh kedua Plestosen Atas pada umumnya merupakan periode yang mengait dengan kemunculan dan perkembangan Manusia Modern Awal (MMA) di Indonesia. Bukti-bukti arkeologi sedikit banyaknya telah meyakinkan keberadaannya, berikut rekaman perilakunya yang khas, dalam periode tersebut. Terlepas dari pertanggalan kolonisasi awal yang belum diketahui pasti dari manusia modern awal ini, pertanggalan radiometri yang tersedia menampakkan bahwa mereka telah menghuni Indonesia, dan Asia Tenggara pada umumnya, paling tidak sejak sekitar 45 ribu tahun lalu hingga akhir kala Plestosen.Beberapa fenomena perilaku yang paling menonjol, yang membedakannya dari perilaku manusia purba yang mendiami Indonesia sejak jutaan tahun sebelumnya, adalah: (1) ekploitasi geografi yang semakin luas di kepulauan; (2) perubahan lokasi hunian dari bentang alam terbuka ke relung-relung alam seperti gua dan ceruk; (3) pengembangan teknologi litik yang menghasilkan alat-alat serpih menggantikan alat-alat yang tergolong kelompok kapak perimbas/penetak; dan (4) sistem mata pencaharian yang lebih maju dan beragam dengan eksploitasi lingkungan (flora dan fauna) yang lebih bervariasi. Keseluruhan fenomena perilaku tersebut akan menjadi pokok bahasan tulisan ini
DISONANSI MEMORI MONUMEN KOLONIAL: STUDI KASUS TUGU CORNELIS CHASTELEIN, DEPOK, JAWA BARAT
Abstract. Dissonant Memories of Colonial Monument: A Case Study of Cornelis Chastelein Monument, Depok Jawa Barat. Material remains from the colonial period are still marginalized from the development of archaeological research in Indonesia. In contrast, monuments, sites, or other material remains from this period are memory repository of identity struggle, development discourse, and social pattern that shaped the modern life of Indonesian society. This article examined how the Old Depok society commemorates Cornelis Chastelein, a VOC high-ranker, who liberated their ancestors and introduced Christianity to them in the form of monument. Contrary to the Old Depok society, the rebuilding of the monument of Cornelis Chastelein was opposed by the Depok government because it is considered as an act to bring back memories of colonialism. This study is using an oral history approach by interviewing Old Depok people, academics, and historical observers as key informants. The concept of dissonant memory is used to analyze interactions and negotiations in the case of the monument of Chastelein conflict. Based on this research, it is known that material remains from the colonial period have diverse values for each element of society and creates new social dynamics in the present. This article argues that archeology is not only useful for reconstructing past activity but it also can reflect present life to construct a better future.
Abstrak. Tinggalan materi yang berasal dari masa kolonial masih termarjinalkan dari perhatian perkembangan penelitian arkeologi di Indonesia. Perlu diketahui bahwa monumen, situs, atau tinggalan materi lainnya yang berasal dari masa itu menyimpan memori tentang perjuangan identitas, penentuan arah pembangunan, dan pola kehidupan sosial yang membentuk karakter masyarakat Indonesia masa kini. Artikel ini membahas bagaimana masyarakat Depok Lama mengabadikan memori sosok Cornelis Chastelein, salah seorang petinggi VOC, yang telah memerdekakan leluhur mereka dari perbudakan dan memperkenalkan ajaran agama Kristen dalam wujud sebuah monumen. Di sisi lain, pembangunan kembali Tugu Cornelis Chastelein pada 2014 mendapatkan pertentangan dari Pemerintah Kota Depok karena dianggap membawa kembali ingatan terhadap kejamnya penjajahan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah lisan dengan mewawancarai warga masyarakat Depok Lama, akademisi, dan pemerhati sejarah sebagai informan utama. Konsep disonansi memori dipakai untuk menganalisis interaksi dan negosiasi yang tercipta dalam kasus perseteruan pembangunan Tugu Cornelis Chastelein. Patut diketahui bahwa tinggalan budaya materi dari masa kolonial memiliki nilai yang beragam bagi setiap elemen masyarakat dan dapat menciptakan dinamika sosial yang baru pada masa kini. Artikel ini berargumen bahwa ilmu arkeologi tidak hanya berguna untuk keperluan merekonstruksi kehidupan masa lalu, tetapi juga merefleksikan kehidupan masa kini untuk mengonstruksi kehidupan yang akan datang
GUA MABITCE: DATA BARU SITUS HOABINH DI SUMATRA BAGIAN UTARA
Abstract. Gua Mabitce: New Evidence of Hoabinh Site in Northern Sumatra. Gua Mabitce Cave is one of the caves that have the potential for archaeological research on the western coast of Aceh. The surface archaeological data of Sumatralith and the shell layers indicated this location possibly occupied in the past. How occupation and cultural characteristics are found at this site? What questions can be answered by conducting excavations to collect the underground archaeological data? The excavation data are analyzed and interpreted to describe the occupation in Gua Mabitce Cave. Although the dating of this site chronology cannot be obtained because the samples have not been analyzed, the results of the analysis of stone artifacts showed the cultural character of Hoabinh with stone tools artifacts, Sumatralith and flakes as its main equipment. The use of direct percussion is a very dominant technique for making stone tools. The cultural and residential characteristics of the Mabitce Cave are similar to other pre-neolithic sites in northern Sumatra, such as open sites on the east coast of northern Sumatra and cave/rock-shelter sites in the Bukit Barisan Mountains in the Aceh and North Sumatra regions.
Abstrak. Gua Mabitce merupakan salah satu gua di Pesisir Barat Aceh yang memiliki potensi untuk diteliti secara arkeologis. Temuan kapak batu sumatralit dan fitur lapisan cangkang kerang di permukaan lantainya memberikan gambaran awal kemungkinan adanya hunian pada masa lalu. Bagaimana hunian dan karakter budaya yang ditemukan di lokasi ini? Jawaban pertanyaan itu perlu dilakukan ekskavasi di Gua Mabitce untuk memperoleh data arkeologi di bawah permukaan. Data artefak, ekofak, fitur, dan sebarannya dianalisis dan diinterpretasikan untuk menemukan gambaran kronologi dan penghunian di Gua Mabitce. Walaupun kronologi waktu situs belum dapat diperoleh karena sampel pertanggalan belum dapat dianalisis, hasil analisis artefak batu menunjukkan karakter budaya Hoabinh dengan artefak batu, sumatralith, dan serpih batu sebagai peralatan utamanya. Penggunaan kerakal yang dipangkas pada satu sisi sangat dominan ditemukan. Karakter budaya dan hunian di Gua Mabitce memiliki kesamaan dengan situs-situs pre-Neolitik lainnya di Sumatra bagian utara, seperti situs terbuka di pesisir timur Sumatra bagian utara dan situs gua/ceruk di Pegunungan Bukit Barisan di wilayah Aceh dan Sumatra Utara