Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
    440 research outputs found

    Preface Kalpataru Volume 29, nomor 2, tahun 2020

    No full text

    TRACING VISHNU THROUGH ARCHAEOLOGICAL REMAINS AT THE WESTERN SLOPE OF MOUNT LAWU

    Get PDF
    Abstract. To date, The West Slope area of Mount Lawu has quite a lot of archaeological remains originated from Prehistoric Period to Colonial Period. The number of religious shrines built on Mount Lawu had increased during the Late Majapahit period and were inhabited and used by high priests (rsi) and ascetics. The religious community was resigned to a quiet place, deserted, and placed far away on purpose to be closer to God. All religious activities were held to worship Gods. This study aims to trace Vishnu through archaeological remains. Archaeological methods used in this study are observation, description, and explanation. Result of this study shows that no statue has ever been identified as Vishnu. However, based on archeological data, the signs or symbols that indicated the existence of Vishnu had clearly been observed. The archeological evidences are the tortoise statue as a form of Vishnu Avatar, Garuda as the vehicle of Vishnu, a figure riding Garuda, a figure carrying cakra (the main weapon of Vishnu), and soles of his feet (trivikrama of Vishnu). Keyword: Mount Lawu, Symbols, Vishnu   Abstrak. Kawasan Lereng Barat Gunung Lawu hingga saat ini cukup banyak menyimpan tinggalan arkeologi, baik yang berasal dari Masa Prasejarah hingga Masa Kolonial. Jumlah bangunan suci keagamaan yang didirikan mengalami peningkatan ketika masa Majapahit Akhir, yang diyakini dibangun dan dihuni oleh kaum rsi dan pertapa. Kaum agamawan tersebut sengaja mengundurkan diri ke tempat yang sunyi, sepi, dan jauh dari keramaian untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sudah barang tentu kegiataan keagamaan yang dilakukan adalah pemujaan terhadap para dewa. Kajian ini ingin menelusuri jejak keberadaan Wisnu melalui tinggalan arkeologi yang ada. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut digunakan metode arkeologi yakni observasi, deskripsi, dan ekplanasi. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa hingga sekarang belum ditemukan adanya arca Wisnu, namun berdasarkan tanda dan simbol yang berkaitan dengan Wisnu jelas teramati. Bukti-bukti tersebut adalah arca kura-kura yang merupakan salah satu wujud dari avatara Wisnu, Garuda wahana dari Wisnu, tokoh menunggang garuda, tokoh membawa cakra (senjata utama dari Wisnu), dan telapak kaki (trivikrama Wisnu).  Kata kunci: Gunung Lawu, Simbol, Wisn

    GANESHA TANPA MAHKOTA DALAM PUSARAN RELIGI MASYARAKAT JAWA KUNA (SEBUAH KAJIAN PERMULAAN)

    Get PDF
    Abstract. The Ganesha statue without a crown is one of the unique depictions of archeological remains in Indonesia. These statues can be found in several areas such as Temanggung, Pekalongan, the National Museum, and Yogyakarta. This uniqueness is a reason to be appointed in an initial assessment. This is because no one has ever discussed this topic. Therefore, the challenge to be raised on this occasion is about the Ganesha in the community regarding their portrayal in the form without a crown? The objective to be achieved from this discussion is a discussion of Javanese society related to the previous discussion. In answering these questions, qualitative research methods are used by taking secondary data from a literature review. The approach used in this review discusses the iconology proposed to explain the background of phenomena that occur through related stories or mythologies. Through an analysis of the results, offering three initial responses to the crownless Ganesha statue, related to the story of Ganesh who prevented Ravana from bringing Atmalinga to Lanka, the spread of Gupta art in Southeast Asia, and related to traditions outside the palace. Keywords: Ganesha, Ancient Java, Brahmin   Abstrak. Arca Ganesha tanpa mahkota merupakan salah satu bentuk penggambaran unik dari tinggalan arkeologi di Indonesia. Keberadaannya diketahui terdapat di beberapa wilayah seperti Temanggung, Pekalongan, dan Museum Nasional. Keunikan tersebut menjadi alasan untuk diangkat dalam sebuah kajian permulaan. Hal ini dikarenakan belum pernah ada kajian yang membahas topik tersebut. Oleh karena itu, permasalahan yang coba diangkat pada kesempatan ini adalah bagaimana posisi dewa Ganesha di lingkungan masyarakat pada penggambarannya dalam wujud tanpa mahkota? Tujuan yang ingin dicapai adalah mengetahui pandangan masyarakat jawa Kuno terkait dengan keberadaan arca tersebut. Dalam upaya menjawab permasalahan tersebut, digunakan metode penelitian kualitatif dengan mengambil data sekunder dari kajian pustaka. Pendekatan yang digunakan pada kajian ini adalah pendekatan ikonologi, yang berusaha untuk menjelaskan latar belakang keberadaan fenomena tersebut melalui kisah atau mitologi yang terkait. Melalui hasil analisis, diperoleh tiga asumsi awal terhadap keberadaan arca Ganesha tanpa mahkota, yaitu terkait dengan kisah Ganesha yang mencegah Rahwana membawa Atmalinga ke Lanka, terkait dengan persebaran gaya seni Gupta di Asia Tenggara, dan terkait dengan tradisi luar keraton. Kata kunci: Ganesha, Jawa Kuna, Brahman

    Identifikasi Sumber-Sumber Obsidian Di Merangin Dan Sarolangun (Jambi, Sumatra) Berdasarkan Analisis Portable X-Ray Fluorescence Spectrometry (Pxrf)

    No full text
    Abstract. Prehistory of Sumatra well characterized by its abundant numbers of obsidian industry, one of which is in Jambi Province. However, determination on the geochemical characteristic of obsidian from Jambi is still lacking. Portable X-Ray Fluorescence analysis (pXRF) on obsidian samples from Merangin and Sarolangun proved the existence of three different obsidian sources in Jambi. It is obtained through the determination of pXRF on the particular trace elements: Rb, Sr, Zr, Y, Nb, Ti and Mn. The results are then analyzed by the Principal Component Analysis (PCA) to arrange the same obsidian sources. This result is then corroborated with the Independent Sample T-Test. This analysis reveals the similarity in trace-element concentration amongst the same source, as well as their differences within different sources. This study contributes to the identification of two new obsidian sources from Sarolangun that have never been reported before. As a result, there are five known-sources of obsidian in Southern Sumatra, in which three other sources were previously identified by Ambrose et al. (2009) and Reepmeyer et al. (2011).Abstrak. Prasejarah Sumatra terkenal dengan industri obsidiannya yang melimpah, salah satunya yaitu di wilayah Jambi. Namun demikian, determinasi karakteristik geokimia obsidian dari wilayah Jambi hingga saat ini masih sangat terbatas jumlahnya. Analisis Portable X-Ray Fluorescence (pXRF) pada sampel obsidian dari Merangin dan Sarolangun membuktikan adanya tiga sumber obsidian yang berbeda di wilayah Jambi. Perbedaan tersebut diperoleh melalui determinasi pXRF pada unsur-jejak Rb, Sr, Zr, Y, Nb, Ti dan Mn. Hasil determinasi kemudian dianalisis dengan metode Principal Component Analysis (PCA) untuk mengelompokkan sumber-sumber obsidian yang sama. Hasil analisis tersebut kemudian diperkuat oleh analisis Independent Sample T-Test yang menunjukkan kemiripan proporsi unsur-jejak pada sumber yang sama, sekaligus perbedaannya pada sumber yang berlainan. Studi memberikan kontribusi berupa identifikasi dua sumber obsidian baru dari Sarolangun (Batang Asai 1 dan 2) yang belum pernah dilaporkan sebelumnya. Dengan demikian terdapat lima sumber obsidian di Sumatra Bagian Selatan, dimana tiga sumber lainnya (i.e. Kerinci, OKU dan Tapus) telah berhasil diidentifikasi oleh Ambrose dkk. (2009) dan Reepmeyer dkk. (2011)

    Interpretasi Pemaknaan Relief Tokoh Gaja-Lakșmī Koleksi Museum Sonobudoyo, Yogyakarta

    Get PDF
    Abstract, The existence of Gaja-Lakșmī sculpture at Sonobudoyo Museum is interesting because it is rarely found in Indonesia. The figure of Gaja-Lakșmī is depicted in a sitting position. There are two elephants that carved on the right and left side of goddess. The elephants lift their trunks and showed that they are pouring water on the goddess. Certainly, the sculpture has a specific purpose, especially, because it was carved on media that indicated as the upper (dorpal) entrance of a temple building. The aim of disclosure of the sculpture is to find out the purpose and function of the depiction of the Gaja-Lakșmī  character in the past. Through the process of identifying iconography and literature studies, the purpose and function of the depiction of the Gaja-Lakșmī  figure is as a protector of people's welfare. Abstrak, Keberadaan relief tokoh Gaja-Lakșmī di Museum Sonobudoyo merupakan salah satu hal menarik mengingat gambaran ini sangat jarang ditemukan di Indonesia. Tokoh Gaja-Lakșmī tersebut digambarkan dalam posisi duduk yang pada sisi kanan dan kirinya terdapat dua ekor gajah yang mengangkat belalai seolah-olah menuangkan air kepada sang dewi. Tentunya penggambaran tokoh dewi ini memiliki maksud tertentu, terlebih, karena tokoh ini diletakkan di tempat yang diindikasikan sebagai bagian atas (dorpal) pintu masuk suatu bangunan candi. Pengungkapan makna penggambaran ini adalah untuk mengetahui tujuan dan fungsi tokoh Gaja-Lakșmī pada masa Matarām Kuno. Melalui proses identifikasi ikonografi dan kajian pustaka, diperoleh informasi bahwa tujuan dan fungsi penggambaran tokoh Gaja-Lakșmī adalah sebagai pelindung kesejahteraan masyarakat

    Back Cover Amerta Volume 26, Nomor 1, Tahun 2008

    No full text

    Periodisasi Candi Simangambat: Tinjauan Terhadap Beberapa Temuan Ragam Hias Candi

    Get PDF
    Abstract. Periodization of Simangambat Temple: A Review on Some Temple Ornaments. Simangambat Temple is the ruin of a temple which is located in the southern part of North Sumatra Province. Some artefacts found during ground surveys and excavations vary from kala-shaped stones, makara, guirlande reliefs, garia, pillars, and 'kertas tempel' motifs. These findings show similarities to the artefacts found in the temples from Old Mataram era; hence it can be concluded that Simangambat Temple might have been built in the same period as the temples of Old Mataram era. Abstrak. Candi Simangambat merupakan suatu candi yang terletak di bagian Selatan Provinsi Sumatera Utara yang kondisinya sudah runtuh. Beberapa artefak yang ditemukan baik dari hasil penggalian maupun yang sudah berada di permukaan tanah yaitu batu-batu berbentuk kala; makara; batu berelief guirlande, gapa, pilar dan motif kertas tempel; menunjukkan kemiripan dengan artefak dari candi-candi zaman Mataram Kuna. Berdasarkan hal itu maka diduga bahwa Candi Simangambat dibangun sezaman dengan candi-candi dari jaman Mataram Kuna

    Permukiman di Lingkungan Biaro (Studi Terhadap Biaro Mangaledang, Padang Lawas

    No full text

    Agta and Punan: Surviving Hunter-Gatherers in Southeast Asia

    No full text

    202

    full texts

    440

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇