Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
Melacak Konsep Religi Lama dari Berbagai Folklor pada Masyarakat Nias
Abstract. Retracing Old Religion Concept from Various Folklores Among the People of Nias. In our attempt to reveal the secrets behind the abundant archaeological remains in Nias, we need to have good comprehension about old culture. One of the cultural elements, which is closely-related to the remains, is religion. Within religion there are concepts that are difficult to retrace because the Nias people do not have written tradition; furthermore, their old religion has changed. Retracing the religion concepts is conducted by studying verbal and non-verbal folklores that survive until now. Abstrak. Melimpahnya tinggalan arkeologis di Nias memerlukan pemahaman yang baik akan kebudayaan masa lalu. Salah satu unsur budaya yang erat berkaitan dengan tinggalan budaya dimaksud adalah unsur religi. Di dalam religi itu sendiri memiliki konsep-konsep yang sangat sulit di lacak lagi mengingat masyarakat Nias tidak memiliki budaya tulis dan sudah berubahnya religi masyarakat. Dalam upaya memahami tinggalan arkeologis yang ada tersebut maka diperlukan pengetahuan akan konsep-konsep religi yang akan dilacak melalui berbagai folklor yang ada hingga kini. Folklor dimaksud tidak hanya terbatas pada folklor lisan akan tetapi juga folklor bukan lisan (tinggalan materi).
Lingkungan Geologi Situs Hunian Gua Gede di Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali
Abstract. The Geological Environment Of The Habitation Site Of Gede Cave In Nusa Penida Island, Klungkung Regency, Bali Province. Gede Cave is one of the karst caves in the slopes of the hills of Banjar Pendem, Nusa Penida, Bali, with an environment that is suitable for a shelter. From results of research conducted by the Archaeological Research Office of Denpasar (Balai Arkeologi Denpasar), we learn that in the cave were discovered remains ofprehistoric settlements in forms of bone tools, stone tools, pottery, debris from mollusks (probably remains of food). Humans can survive in karst environment in this area during the prehistoric period because such area is supported by caves that are suitable for shelter, as well as the availability of natural resources. Both factors can be found at Gede Cave. Therefore it was used as a shelter in prehistoric period. What was the condition of Gede Cave and what were the environmental resources that support the life of prehistoric human community are the subject of this paper.Abstrak. Gua Gede adalah salah satu gua karst di lereng perbukitan Banjar Pendem, Nusa Penida dengan lingkungan yang memungkinkan sebagai tempat hunian. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Denpasar di gua ini ditemukan sisa-sisa pemukiman dari masa prasejarah berupa alat-alat dari tulang, alat batu, tembikar, dan sisa-sisa makanan dari moluska. Manusia dapat bertahan hidup di lingkungan karst pada masa prasejarah di daerah ini, didukung oleh kondisi gua yang memenuhi syarat sebagai tempat hunian dengan ketersediaan sumberdaya alam. Kedua faktor ini terpenuhi di Gua Gede sehingga menjadikannya sebagai tempat hunian di zaman prasejarah. Seperti apa kondisi Gua Gede dan sumberdaya lingkungan apa saja yang mendukung kehidupan manusia prasejarah didalamnya, menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini
PERTANGGALAN RELATIF CANDI RONGGENG DI KABUPATEN CIAMIS, JAWA BARAT
Abstract. The Relative Dating of Candi Ronggeng in Ciamis, West Java. Ronggeng temple is one of the Hindu temples in West Java. The temple was first discovered in 1976 and was excavated again in 1984, 1985, and 2016. The aim of excavations was to follow up on local government requests for zoning as an effort to preserve the temple. The early publication in 1984 placed the temple from the 8th -16th centuries whilst in the latest publication in 2011 placed the temple as a sacred ancient Sundanese building from the 13th-16 Th centuries. The purpose of this paper is to review the Ronggeng temple dating based on comparison with other temples in which the shapes and dates are known namely with Pananjung, Indihiang, and Bojongmenje temples. By comparing the excavations data and reviewing the historical context, the relative chronology of the Ronggeng temple was analyzed again. The results show that the Ronggeng temple is a Hindu temple built by a shallow foundation with tuff material. This temple is presumed to be originated from the 7 th-14th centuries according to the context of the time when Hinduism influenced Ciamis as seen in Tarumanagara and Kawali inscriptions. The range of this period is included in pre-Sunda or the times before the name of Sunda was first mentioned in the Rakryan Juru Pangambat inscription in 932 CE to Sunda period. At this time, the Hindu influence had already reached the hinterland of Sunda before the Buddha’s.
Abstrak. Candi Ronggeng merupakan salah satu candi Hindu di Jawa Barat. Candi itu pertama kali ditemukan pada 1976 dan digali kembali pada 1984, 1985, dan 2016. Penggalian bertujuan untuk menindaklanjuti permintaan pemerintah daerah untuk dilakukan zonasi sebagai upaya awal pelestarian. Publikasi awal yang dilakukan pada tahun 1984 menempatkan kronologi candi dari abad ke-8—16, sedangkan publikasi terakhir pada tahun 2011 menempatkan Candi Ronggeng sebagai bangunan suci Sunda Kuno berkurun waktu abad ke-13--16. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengkaji ulang pertanggalan Candi Ronggeng berdasarkan perbandingan dengan candi lain yang sudah diketahui bentuk dan kronologinya, yaitu dengan Candi Pananjung, Candi Indihiang, dan Candi Bojongmenje. Dengan melakukan perbandingan hasil ekskavasi dan tinjauan konteks kesejarahan, kronologi Candi Ronggeng dianalisis kembali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Candi Ronggeng adalah candi yang dibangun dengan konstruksi fondasi dangkal dengan material tufa. Candi itu diduga berasal dari kisaran masa abad ke-7--14 sesuai dengan konteks saat Ciamis mendapat pengaruh Hindu yang terlihat dari prasasti masa Tarumanagara dan Kawali. Kisaran masa ini termasuk ke dalam masa pra-Sunda atau masa sebelum nama Sunda disebut pertama kali dalam Prasasti Rakryan Juru Pangambat pada 932 hingga memasuki masa Sunda. Pada masa itu, pengaruh Hindu diduga sudah lebih dahulu memengaruhi wilayah pedalaman Sunda sebelum Buddha
TEMUAN ARKEOLOGI TERBARU DI BARAT LAUT-UTARA LEMBAH KERINCI, DATARAN TINGGI JAMBI: SEBUAH LAPORAN AWAL
Abstract. The Latest of Archaeological Finds in the Northwest-North of Kerinci Valley, Jambi Highland: A Preliminary Report. Last decade archeological research in Kerinci area, only focused on the south of Kerinci Lake. This region admittedly has archaeological finds richly and has been reported since the colonial era. The report was followed by research working comprehensively in that region eighty years after. The research revealed that archeological finds in the south of Kerinci Lake came from the neolithic to proto-historic era. However, the finds of earthenware fragments accidentally, have discovered the new information about archaeological finds in the north of Kerinci Lake or the northwest-north of Kerinci valley. The purpose of this research is to map the distribution and describing the character of archaeological finds in the northwest-north of Kerinci valley. This research utilizes a descriptive method worked in three stages, videlicet collecting, analyze, and interpreting data. In collecting the data stage collected the primary data and secondary data. In the analyzing stage, utilized qualitative analysis by noticing form, style, and technology attributes. This research revealed that the northwest-north of Kerinci valley area has artifact finds in the form of cord-marked earthenware, red slipped earthenware, and Chinese ceramics. Furthermore, found the carving-stones (petroglyph) too.
Abstrak. Penelitian arkeologi dekade terakhir di kawasan Kerinci hanya terfokus pada kawasan di selatan Danau Kerinci. Kawasan ini memang memiliki tinggalan arkeologis yang cukup padat dan telah dilaporkan sejak era kolonial. Laporan tersebut ditindaklanjuti dengan melakukan penelitian yang lebih komprehensif di kawasan tersebut puluhan tahun sesudahnya. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa tinggalan arkeologis di sebelah selatan Danau Kerinci berasal dari masa Neolitik hingga Protosejarah. Namun, temuan artefak tembikar secara tidak sengaja di situs Siulak Tenang pada 2010, telah membuka pengetahuan baru tentang adanya tinggalan arkeologis di bagian utara Danau Kerinci atau bagian barat laut-utara lembah Kerinci. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran dan mendeskripsikan tinggalan arkeologi di barat laut-utara Lembah Kerinci. Penelitian ini bersifat deskriptif yang dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu pengumpulan data, analisis data dan interpretasi. Pada tahap pengumpulan data, dilakukan pengumpulan data primer dan data sekuder. Pada tahap analisis data digunakan analisis kualitiatif dengan memperhatikan atribut bentuk, gaya, dan teknologi. Penelitian ini mengungkapkan bahwa kawasan baratlaut-utara Lembah Kerinci memiliki tinggalan artefak berupa tembikar tatap tali, tembikar slip merah, dan keramik Cina. Selain itu, juga ditemukan -batu bergores (petroglif)
Keterlibatan Komunitas Penggiat Budaya dalam Mengomunikasikan Nilai Srawung Berdasarkan Relief Candi
Abstract.
The value of srawung in Javanese society are slowly dying because of modernization. This value is related to harmony and respect to others, as can be seen in Ramayana reliefs from Candi Prambanan. Reliefs in the temple have been analysed by archaeologists through many researches and scientific books but at times, they are unable to deliver and communicate the value of srawung well. This research studied about how the heritage community conveys some research reports which contain important values to pursue a new relevant way of communicating its substantial value. The heritage community is partner to archaeologists, and also a part of society. So, with a role of heritage community, the value of srawung will be easily received by the people.
Keywords: Ramayana Relief, Srawung, Heritage Community
Abstrak.
Di era modern ini nilai-nilai srawung yang berkaitan dengan kerukunan dan sikap saling menghormati sudah mulai terkikis. Pada dasarnya, nilai ini merupakan nilai luhur dari masa lalu yang dapat ditelusuri, salah satunya melalui relief Ramayana di Candi Prambanan. Relief di Candi Prambanan sebenarnya sudah banyak dikaji oleh para peneliti Arkeologi, tetapi penyampaiannya kepada masyarakat masih belum maksimal. Karenanya, permasalahan yang dibahas dalam tulisan ini adalah bagaimana melibatkan komunitas untuk berperan menyampaikan hasil penelitian dari para peneliti yang mengandung salah satu nilai luhur yaitu srawung. Tujuannya adalah untuk mendapatkan cara baru dalam menyajikan hasil penelitian arkeologi dengan lebih relevan dan luwes sehingga mudah diterima masyarakat. Komunitas penggiat budaya dapat menjadi rekan bagi peneliti untuk menyampaikan hasil penelitian dengan cara-cara relevan dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Kata kunci: Relief Ramayana, Srawung, Komunitas Penggiat Buday