Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
    440 research outputs found

    Pemanfaatan Fauna Vertebrata dan Kondisi Lingkungan Masa Okupasi 8.000 – 550 BP di Situs Leang Jarie, Maros, Sulawesi Selatan

    Full text link
    Abstract. Utilization Of Vertebrate Fauna And Environmental Conditions Of Occupational Period 8.000 – 550 BP On The Site Of Leang Jarie, Maros, South Sulawesi. Vertebrate Remains from Leang Jarie Site at 8.000-550 BP Occupation in Maros Karst Area, South Sulawesi. The purpose of this study is to provide an overview of vertebrate fauna in Maros Pangkep karstic area, as one of the occupation areas at 8.000 years ago, Specifically, the purpose of this study is to describe of faunal remains found in the 2018-2019 excavation at Leang Jarie Site, Maros, South Sulawesi. This goal is achieved by using the Number of Identified Specimens (NISP) and Minimum Number of Individuals (MNI) calculation methods. The results of the study then showed that the fauna lived alongside human at this site included: fish, lizards, snakes, birds, frogs/toad, small Sulawesi cuscus, microchiroptera, megachiroptera, Sulawesi monkeys, rats, weasel/ferrets, babirussa and sus celebensis, anoa, buffaloes, and dogs. The results of the analysis and identification show that the presence of fauna on the Leang Jarie site is strongly influenced by humans who inhabit this site, this can be seen from the variety of fauna that lives following the changes of humans who inhabit Leang Jarie Sites at 8.000 to 550 BP. This study is one of the references of fauna that have lived and used as a food source or as human life support in this area.   Abstrak. Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang fauna vertebrata di kawasan karst Maros Pangkep sebagai salah satu wilayah hunian sejak 8.000 tahun yang lampau, khususnya tentang jenis fauna pada ekskavasi 2018 dan 2019 di Situs Leang Jarie, Maros, Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan metode analisis penghitungan number of identified specimens dan penghitungan minimum number of individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fauna yang hidup berdampingan dengan manusia di situs itu, antara lain ikan, kadal/biawak, ular, burung, katak/kodok, kuskus kecil Sulawesi, kelelawar pemakan serangga, kelelawar pemakan buah, monyet sulawesi, tikus, musang, babi rusa dan babi Sulawesi, anoa, kerbau, dan anjing. Hasil analisis dan identifikasi menunjukkan bahwa keberadaan fauna di Situs Leang Jarie sangat dipengaruhi oleh manusia yang menghuni situs itu. Hal itu terlihat dari variasi fauna yang hidup mengikutiperubahan manusia yang mendiaminya pada 8.000 sampai 550 BP. Penelitian ini merupakan salah satu referensi informasi fauna yang pernah hidup dan dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan atau sisa fauna yang dimanfaatkan sebagai peralatan penunjang hidup manusia di wilayah tersebut

    The Medallion Design on Gravestones in Palembang

    Full text link
    The Islamic tombs in Palembang date from the 16th-20th century AD. Some of the tombs in Palembang are plain and some have decorations. Ornaments are affixed to the jirat and tombstones. The ornaments found on the headstones include medallions. The medallion ornaments vary in shape and are commonly found in temple buildings in Java in the 9th-16th centuries AD. The medallion decorative motifs in Palembang are found on Islamic tombs from the time of the Palembang Darussalam Sultanate. The medallion decorative motifs found are varied and interesting to study from the similarities and differences with those in Java, as well as the reasons for the emergence of these similarities and differences. Based on these two problems, this paper aims to identify the forms of medallion decoration, similarities, and differences, as well as the background to the similarities and differences in the medallion decorations in Palembang and Java. To answer these two problems, archaeological research methods were used by describing the ornamental variety and identifying its diversity. After that, it was analyzed qualitatively using symbolic theory. The results of the study show that the similarities in the decorations are due to the historical relationship between Palembang and the Majapahit and Demak kingdoms in Java. The difference in the medallion decoration is caused by the creativity factor of Palembang artists.Makam-makam Islam di Palembang berasal dari abad ke-16-20 M. Makam-makam di Palembang ada yang polos dan ada yang memiliki hiasan. Ragam hias diterakan pada bagian jirat dan nisan makam. Ragam hias yang terdapat pada nisan antara lain adalah medalion. Ragam hias medalion bentuknya bervariasi dan biasa ditemukan pada bangunan-bangunan candi di Jawa pada abad ke-9- 16 Masehi. Motif hias medalion di Palembang ditemukan pada nisan-nisan makam Islam dari masa Kesultanan Palembang Darussalam. Motif hias medalion yang ditemukan beragam dan menarik untuk dikaji dari persamaan dan perbedaannya dengan yang di Jawa, serta alasan munculnya persamaan dan perbedaan tersebut. Berdasarkan dua permasalahan tersebut, maka tulisan ini mempunyai tujuan untuk mengidentifikasi bentukbentuk ragam hias medalion, persamaan, dan perbedaannya, serta latar belakang persamaan dan perbedaan ragam hias medalion di Palembang dan di Jawa. Untuk menjawab kedua permasalahan tersebut digunakan metode penelitian arkeologi dengan cara mendeskripsikan ragam hias dan mengidentifikasikan keragamannya. Setelah itu dianalisis secara kualitatif menggunakan teori simbolis. Hasil penelitian menunjukkan persamaan ragam hias disebabkan adanya hubungan sejarah antara Palembang dengan Kerajaan Majapahit dan Demak di Jawa. Perbedaan ragam hias medalion disebabkan oleh faktor kreativitas seniman Palembang

    Studi Pendahuluan Bentuk Simbol Penyatuan dalam Tradisi India Kuno yang Ditemukan di Indonesia

    Full text link
    Abstract. Preliminary Study Of Unification Symbols Form From Ancient India Tradition Found In Indonesia. Humans and symbols have a bond that cannot be separated from each other because they always appear in a community group. During the Hindu-Buddhist period in Indonesia, various signs related to religion appeared. One of the religious practices that developed is the worship of the union of life. This study aims to identify the form of symbols and the meaning of the worship of the unification of life for the Hindu-Buddhist period. This study was conducted by collecting data on the worship of the union of life from various secondary sources in research reports, journals, and articles. Data collection is also focused on finding data on artifacts in Indonesia associated with symbols of the unification of life. The data collection results between mythology in India and artifacts in Indonesia are then synthesized to obtain a form of embodiment of the unification of life during the Hindu-Buddhist period in Indonesia. The study results show that the concept of the unification of life is symbolized in the linga-yoni, mudrā bodhyagrimudrā, and shatkona. Depictions of the yoni phallus and shatkona can be found in Indonesia. In Buddhism in Indonesia, the concept of the unification of life is symbolized in the mudrā bodhyagrimudrā found in the Mahavairocana Buddha statue. The gesture of the bodhyagrimudrā hand is a representation of the union of males and females. The depiction of the unification of life is more aimed at fulfilling religious needs, namely to achieve release (moksha) in Hinduism and achieve nirvana in Buddhism.   Abstrak. Manusia dan simbol memiliki ikatan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena selalu muncul dalam suatu kelompok masyarakat. Pada masa Hindu-Buddha di Indonesia  muncul berbagai simbol yang berkaitan dengan religi. Salah satu praktik religi yang berkembang adalah pemujaan penyatuan kehidupan. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk simbol dan makna pemujaan penyatuan kehidupan bagi masyarakat pada masa Hindu-Buddha. Kajian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data mengenai pemujaan terhadap penyatuan kehidupan dari berbagai sumber sekunder berupa laporan penelitian, jurnal, dan artikel. Pengumpulan data juga difokuskan untuk mencari data objek artefak di Indonesia yang berhubungan dengan simbol penyatuan kehidupan. Hasil dari pengumpulan data antara mitologi di India dan artefak di Indonesia kemudian disintesiskan untuk mendapatkan bentuk perwujudan penyatuan kehidupan pada masa Hindu-Buddha di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep penyatuan kehidupan disimbolkan dalam lingga-yoni, mudrā bodhyagrimudrā, dan shatkona. Penggambaran lingga yoni dan shatkona dapat ditemukan di Indonesia. Dalam agama Buddha di Indonesia konsep penyatuan kehidupan disimbolkan dalam mudrā bodhyagrimudrā yang dijumpai pada arca Buddha Mahavairocana. Sikap tangan bodhyagrimudrā merupakan representasi penyatuan laki-laki dan perempuan. Penggambaran penyatuan kehidupan lebih ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan religi, yaitu mencapai pelepasan (moksha) dalam agama Hindu dan mencapai nirwana dalam agama Buddha

    Lanskap Budaya Pacitan dan Korelasinya dengan Sebaran Hunian, Artefak, dan Bahan Baku di Kawasan Gunung Sewu

    Full text link
    Abstract, Pacitan Cultural Landscape and Correlation with The Distribution of Occupation, Artifacts, and Raw Materials in The Gunung Sewu Area. The results of archaeological research in the Gunung Sewu area provide an overview of the cultural landscape of space and time. During the Pleistocene, paleolithic remains were scattered mainly in the Baksoko watershed, Pacitan, and the Oyo River watershed, Gunungkidul. Traces of the cultural heritage of the Gunung Sewu area that last hundreds of thousands of years show a shift in choosing a place to work. An area is selected for activities based on the availability of basic human needs, both food sources (flora-fauna) and raw materials for making equipment. The need for raw materials equipment is an essential factor in describing the cultural landscape map because the choice of location as an activity is reflected in the human mind at that time. Applying paleolithic technology to Pacitan culture and neolithic technology generally uses rock materials that are easy to flake and chip. Therefore, selecting rock material with high hardness (silica content) will determine its sharpness. To reconstruct the cultural landscape in Pacitan in the dimensions of space and time, this aims to explain based on the hypothesis that if a culture is created in a particular natural environment, then the activity will occupy a particular natural environment. The approach used is landscape archeology. Based on this, it can be reconstructed that there are differences in stone raw materials for tool making between the upstream and downstream areas of the river with different technologies. In addition, there was a shift in an occupation that was initially centered around rivers during the Pleistocene, then shifted to karst hills in caves or niches during the Early Holocene.   Abstrak. Hasil penelitian arkeologi di Kawasan Gunung Sewu memberikan gambaran lanskap budaya ruang dan waktu. Pada kala Pleistosen tersebar tinggalan paleolitik, terutama di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Baksoko, Kabupaten Pacitan dan DAS Kali Oyo, Kabupaten Gunungkidul hingga tinggalan neolitik kala Holosen di Ngrijangan lengkap ditemukan di kawasan Gunung Sewu. Jejak tinggalan budaya Kawasan Gunung Sewu tersebut berlangsung ratusan ribu tahun yang menunjukkan adanya pergeseran dalam memilih tempat mereka beraktivitas. Suatu daerah dipilih untuk beraktivitas didasarkan pada tersedianya kebutuhan pokok manusia, baik sumber makanan (flora-fauna) maupun bahan baku untuk pembuatan peralatan. Kebutuhan bahan baku untuk peralatan merupakan faktor penting dalam menggambarkan peta lanskap budaya karena pilihan lokasi untuk beraktivitas tecermin bagaimana alam pikiran manusia pada waktu itu. Penerapan teknologi paleolitik pada budaya Pacitanian dan teknologi neolitik umumnya memakai bahan batuan yang mudah diserpih dan dipangkas. Oleh karena itu, pilihan material batuan dengan kekerasan tinggi (kandungan silikaan) sangat menentukan ketajamannya. Untuk merekonstruksi lanskap budaya di Pacitan dalam dimensi ruang dan waktu ini bertujuan menjelaskan yang didasarkan suatu hipotesis apabila suatu budaya tercipta pada lingkungan alam tertentu, Dengan demikian, suatu aktivitas akan menempati lingkungan alam tertentu. Pendekatan yang digunakan adalah arkeologi lanskap. Berdasarkan hal tersebut, dapat direkonstruksi adanya perbedaan bahan baku batu untuk pembuatan alat antara daerah hulu dengan  ilir sungai dengan teknologi yang berbeda. Selain itu, terjadi pergeseran hunian, pada awalnya berpusat di sekitar sungai pada masa Pleistosen, kemudian bergeser ke perbukitan karst di gua atau ceruk pada awal Holosen

    Interpretasi Fungsi Tembikar dari Sektor ABH Kawasan Percandian Muarajambi Berdasarkan Analisis Residu dengan Menggunakan Metode Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC/MS)

    Full text link
    Abstract. Interpretation Of The Pottery Function From The Abh Sector In Muarajambi Temple Based On Residual Analysis Using Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC/MS) Method. Pottery is one of the artifacts that found in most archaeological sites, and it found both in prehistoric and historic context. Even though mostly found in fragments, the availability of pottery can help archaeologists reconstruct culture in the past. There are many methods and attempts to analyze pottery from archaeological sites. One of the recent development is lipid analysis from the inner pores of pottery Selatan. By using Gas Chromatography-Mass Spectroscopy (GC/MS) methods, an archaeologist can identify and characterize lipid in pottery. This paper focuses on the preparation and residue analysis stage of pottery samples from Kawasan Percandian Muarajambi. Since sample preparation rarely describes in books, we try to present a small part of lipid analysis before the results can be used as a pottery function. The analysis showed that there were organic chemical compounds left in the pottery samples, among others are vegetable and animal fats. Initial information obtained from the results of the analysis is that there is an indication that the pottery fragments function as cooking containers, this is reinforced by the presence of combustion compounds found in pottery residues and the absence of traces of contamination on the residues. However, the results of this analysis are initial indications that still need to be strengthened by contextual analysis, and cannot be applied in general to other sites in Kawasan Percandian Muarajambi.   Abstrak. Tembikar merupakan salah satu artefak yang umum ditemukan pada situs arkeologi, baik situs masa prasejarah maupun masa sejarah. Walaupun sebagian besar dari temuan tembikar ditemukan dalam bentuk pecahan, keberadaan tembikar dalam satu situs arkeologi dapat membantu upaya rekonstruksi kehidupan manusia pada masa lalu. Rekonstruksi ini dilakukan melalui berbagai metode analisis dan pendekatan, di antaranya analisis residu untuk mengetahui fungsi tembikar tersebut. Melalui metode analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC/MS) dapat dideteksi keberadaan sisa organik residu dan memberikan penjelasan mengenai fungsi tembikar tersebut pada masa lalu. Tulisan ini berfokus pada tahap persiapan dan analisis residu beberapa sampel tembikar di Kawasan Percandian Muarajambi melalui metode GC/MS. Tahappenyiapan sampel menjadi penting karena hingga saat ini belum banyak tulisan yang menguraikan secara terperinci mengenai hal tersebut. Hasil analisis memperlihatkan adanya senyawa kimia organik yang tertinggal pada sampel tembikar di antaranya lemak nabati dan hewani. Informasi awal yang diperoleh adalah adanya indikasi bahwa fragmen tembikar tersebut berfungsi sebagai wadah memasak. Hal itu diperkuat oleh adanya senyawa hasil pembakaran pada residu tembikar dan tidak adanya jejak kontaminasi. Namun, hasil analisis ini adalah indikasi awal yang masih perlu diperkuat melalui analisis kontekstual, yang tidak dapat diberlakukan secara umum pada situs lain di Kawasan Percandian Muarajambi

    Gambar Cadas Antropomorfik di Kepulauan Maluku: Studi Kasus di Pulau Kaimear dan Kisar, Maluku

    Full text link
    Abstract. Anthropomorphic Images of Rock Art In Moluccas Archipelago, Indonesia (Case Study In Kaimear and Kisar Island, Maluku). The Maluku Islands Cluster consists of a group of large and small islands located horizontally and vertically between the equator. These geographical conditions make the Maluku Islands as one of the characters of archipelagic rock image sites in Indonesia. This paper presents the shape and distribution of anthropomorphic rock images in the Maluku Islands in the Wallacea Region. The research location covers the southeastern part of the Maluku Islands, namely Kaimear Island and Kisar Island, Maluku Province. The purpose of this paper is to determine the shape and distribution of anthropomorphic rock images in the Maluku Islands. This study used the descriptive qualitative method. The data used is a combination of data obtained from research in 2014 - 2019. The results show that there are eighty forms of human rock images scattered on sites on Kisar Island, which include the Here Sorot Entapa, Herku, Intutun, Irmula, Kulwasuru, Lenhorhorok, Liotitin, Salpuru,Wakurai, Hersorsorot, and one site on Kaimear Island, the Kel lein Site.   Abstrak. Gugusan Kepulauan Maluku terdiri atas gugusan pulau-pulau besar dan kecil terletak sejajar secara horizontal dan vertikal di antara garis khatulistiwa. Kondisi geografis tersebut menjadikan Kepulauan Maluku sebagai salah satu karakter situs gambar cadas kepulauan di Indonesia. Tulisan ini menyajikan bentuk dan sebaran gambar cadas motif antropomorfik di Kepulauan Maluku yang berada di Kawasan Wallacea. Lokasi penelitian mencakup wilayah gugusan Kepulauan Maluku bagian tenggara, yaitu Pulau Kaimear dan Pulau Kisar, Provinsi Maluku. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui bentuk dan sebaran gambar cadas antropormofik di Kepulauan Maluku. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang digunakan merupakan gabungan antara data yang diperoleh dari penelitian tahun 2014 - 2019. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat  delapan puluh bentuk gambar cadas manusia yang tersebar di situs di Pulau Kisar, yang meliputi Situs Here Sorot Entapa, Herku, Intutun, Irmula, Kulwasuru, Lenhorhorok, Liotitin, Salpuru, Wakurai, Hersorsorot, dan satu situs di Pulau Kaimear, yaitu Situs Kel lein

    Reinterpretasi Pertanggalan Relatif Empat Arca Batu Koleksi Museum Nasional Indonesia

    Full text link
    Abstract. Reinterpretation of The Relative Date of The Four Stone Sculptures Collection of The National Museum of Indonesia. The results of research on the art style of the Kāḍiri period statues in 2020 show that four statues have been identified as requiring renewal. The information in question is related to the relative dating of the statue. The information written on the museum's information label for the four statues comes from the XI-XII centuries AD. However, when examined based on the art style of the statues, the four have younger characteristics. Therefore, the question arises, what are the characteristics of the sculptures from the four statues in the collection of the National Museum of Indonesia, and when is the relative date indicated by the art style of the statues? This study aimed to determine the art style of the four statues from the collection of the Indonesian National Museum and provide new information on the chronology of the time of the statues. This study uses a qualitative approach based on the descriptive-explanative principle in conducting the analysis using the principles of iconography and ancient sculpture art styles. The results obtained indicate that the four statues have two sculpture characters, namely the Majapahit era and the late Majapahit period, with a relative date range of the XIV-XV centuries AD.   Abstrak. Hasil penelitian tentang gaya seni arca masa Kāḍiri tahun 2020 memperlihatkan ada empat arca yang teridentifikasi memerlukan pembaruan. Informasi yang dimaksud terkait dengan pertanggalan relatif arca. Keterangan yang tertulis pada label informasi museum keempat arca tersebut berasal dari abad XI--XII Masehi.  Namun, apabila dikaji berdasarkan gaya seni arcanya, keempatnya memiliki ciri yang lebih muda. Oleh karena itu, muncul pertanyaan apakah ciri seni arca dari empat arca koleksi Museum Nasional Indonesia tersebut dan kapan pertanggalan relatif yang ditunjukkan oleh gaya seni arca itu? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya seni arca keempat arca koleksi Museum Nasional Indonesia dan memberikan informasi baru terhadap kronologi waktu arca tersebut. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang didasarkan pada prinsip deksriptif-eksplanatif. Dalam melakukan analisis menggunakan prinsip ikonografi dan gaya seni arca kuno. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa keempat arca tersebut memiliki dua karakter seni arca, yaitu masa Majapahit dan masa akhir Majapahit dengan kisaran pertanggalan relatif abad XIV-XV Masehi

    Back Cover Amerta Volume 39, Nomor 2, Tahun 2021

    No full text

    Konstruksi Masyarakat Jawa Kuno terhadap Transgender Perempuan pada Abad ke 9-14 M

    Full text link
    Abstract. The Construction of Ancient Java Community Towards Transgender Women in The 9th-14th Centuries. Transwomen in Indonesia are easily recognized by one's physical appearance. The survey stated that 89.3% of LGBT (lesbian, gay, bisexual, and transgender) groups have experienced discrimination and violence. The views of the Indonesian people towards transgender women today are influenced by the perspectives and constructions of society in the past. This paper is to reconstruct how the perspective of the ancient Javanese society towards trans women. Thepurpose of this research is to find the origin of the current Indonesian people's view of transgender women from past references. This study uses a descriptive analysis approach through the stages of data collection, analysis, and interpretation. It can be seen that the construction of society during the Javanese era considered transgender people as a group of people with disabilities. In addition to these constructions, for the royal group, trans women are part of the king's servants who have magical and political powers. Thus, trans women had an important position and privileges in the ancient Javanese kingdom. The position of transgender women can also be understood as an archipelago tradition, which places transwomen as a link between the human world and the world of gods, as can be found in bissu in South Sulawesi. Abstrak. Golongan transpuan di Indonesia mudah dikenali melalui penampilan fisik seseorang. Survei menyebutkan bahwa 89,3% kelompok LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) telah mengalami diskriminasi dan kekerasan. Pandangan masyarakat Indonesia terhadap transpuan dewasa ini dipengaruhi oleh perspektif dan konstruksi masyarakat pada masa lalu. Tulisan ini dimaksudkan untuk merekonstruksi bagaimana perspektif masyarakat Jawa Kuno terhadap transpuan. Tujuan penelitian adalah untuk mencari permulaan pandangan masyarakat Indonesia saat ini terhadap transpuan dari referensi masa lampau. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskripsi analisis melalui tahap pengumpulan data, analisis, dan interpretasi. Dapat diketahui bahwa konstruksi masyarakat pada masa Jawa Kuno menganggap transpuan sebagai golongan disabilitas. Di samping konstruksi tersebut, bagi golongan kerajaan, transpuan merupakan bagian dari abdi raja yang memiliki kekuatan magis dan politis. Dengan demikian, transpuan memiliki posisi yang penting dan hak-hak istimewa dalam kerajaan zaman Jawa Kuno. Posisi transpuan tersebut juga dapat dipahami sebagai suatu tradisi khas Nusantara, yang menempatkan transpuan sebagai penghubung dunia manusia dan dunia dewa, sebagaimana dapat dijumpai pula pada bissu di Sulawesi Selatan

    Gaya Seni Relief Yeh Pulu di Kabupaten Gianyar, Bali

    Full text link
    The relationship between Indonesia and India manifested in various cultural forms that still survive today, one of which is in form of relief. Yeh Pulu is an archaeological site located in Banjar Batulumbang, Bedulu Village, Blahbatuh District, Gianyar Regency, Bali. To date, the relief in Yeh Pulu has not been studied intensely. The objective of this research is to reveal the characteristics of reliefs in Yeh Pulu Site. Data collection was carried out through direct observations in the field and also photographs. A comparative study was used for the analysis, by comparing Yeh Pulu Relief with the reliefs from temples in Java. The results showed that the Yeh Pulu Relief has nine scenes depicting various activities of past lives. One of the scenes depicted the story of Kresnayana, which perhaps was the inspiration for the reliefs. Yeh Pulu relief was developed around 14 – 15 AD or during late Majapahit era.Hubungan Indonesia dengan India melahirkan berbagai wujud budaya yang masih bertahan hingga sekarang, salah satunya relief. Relief merupakan salah satu wujud kebudayaan masa lalu yang menarik untuk diteliti. Selama ini, kajian terhadap Relief Yeh Pulu belum dilakukan secara mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengungkap ciri dan karakter seni relief yang terpahat di Situs Yeh Pulu. Situs Yeh Pulu terletak di Banjar Batulumbang, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan secara langsung di lapangan dan, melalui foto-foto. Kemudian, hasil pengamatan dan foto-foto tersebut dideskripsikan. Analisis dilakukan dengan studi komparasi, yaitu membandingkan Relief Yeh Pulu dengan relief candi yang berada di Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Relief Yeh Pulu memiliki sembilan adegan yang menggambarkan berbagai aktivitas kehidupan masa lalu. Salah satu acuan sumber cerita dari relief tersebut kemungkinan berasal dari kisah Kresnayana. Relief Yeh Pulu masuk dalam kategori gaya Akhir Majapahit yang berkembang pada abad XIV-XV Masehi

    202

    full texts

    440

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇